Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Trouble maker 2

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Trouble maker2 by author03

Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 3

.

.

.

.

Sasori yang beranjak dari tempatnya dan menghampiri Hinata yang masih menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya diatas meja begitu dengan Karin yang beranjak dari tempatnya dan menghampiri Naruto yang masih terududuk di bangku, disebelahnya dengan punggungnya yang di sandarkan di sandaran kursi.

"Hinata, apakah aku boleh mengantar mu pulang?" tanya Sasori dengan senyum manisnya ketika Hinata menatapnya.

"Naruto? Apakah kau bisa mengantarku pulang?" pinta Karin dengan senyum manisnya pada Naruto yang masih menatap kosong kedepan.

...

.

.

.

Satu tangan Hinata yang sedikit terangkat dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke arah Naruto.

"Pacarku sedang terduduk manis disana, menunggu ku dari tadi. Apakah kau ingin dia menguburmu hidup-hidup karena telah berani ingin mengantarku pulang?" jawab Hinata lantang dan tak perduli yang berhasil membuat Sasori terdiam.

"Sepertinya kau sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu." jawab Naruto tak perduli yang kemudian menatap dingin mata Karin yang juga membuatnya terdiam.

"Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum aku menghajar kalian." ucap Hinata malas yang kemudian kembali menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya di atas meja.

Mau tak mau Sasori dan Karin pun melangkah keluar dari kelas itu.

.

"Sudah kubilang, ini tak akan mudah. Mengapa kau berbicara saja padanya? Mengapa kau harus melakukan hal seperti ini?" Tanya Sasori ketika mereka telah jauh dari kelas, ruangan dimana Naruto dan Hinata berada.

"Aku lebih mengenal nya dari padamu. Berbicara padanya adalah rencana yang paling bodoh yang pernah kau berikan dan aku tak akan menyerah. Aku akan tetap membuat Naruto meninggalkannya." jawab Karin yang masih pada pendirian nya.

"Baiklah."

.

.

.

.

Matahari yang kembali meninggi, jam yang telah menunjuk pada pukul 10.00 tepatnya sekarang adalah waktunya istirahat. Perbustakan, kantin dan lapangan yang telah di penuhi oleh murid-murid.

Terlihat seorang gadis berambut merah yang baru saja keluar dari kelasnya dengan banyaknya tumpukan buku ditangannya, banyaknya tumpukan buku itu yang hampir mencapai matanya.

Matanya yang masih terfokus pada seorang lelaki berambut kuning yang tengah berjalan dan hampir melewatinya.

"Aaaakkkhh." teriak gadis berambut merah yang ternyata Karin yang dengan sengaja terpeleset, terjatuh, terduduk dilantai hingga tumpukan buku-buku di tangannya tadi berhamburan jatuh dan terus menghantamnya.

Matanya yang melirik sekilas lelaki berambut kuning tadi yang terlihat santai seolah tak melihat apapun dan terus saja melangkah melewatinya.

"Hei! Naruto! Apakah kau tak berniat membantu sedikitpun?!" tanya Karin kesal ketika ia membalikkan badannya dengan posisinya yang masih terduduk dilantai.

Naruto yang membalikkan badannya dan menatap Karin sejenak dengan kedua tangannya yang masih menempel di saku celananya. "Berani sekali meneriakiku?" ucap Naruto dingin dan terdengar sangat mengerikan untuk Karin, ia yang melangkah menghampiri Karin yang membuat Karin menelan ludahnya. "Ma-ma-ma-ma-a-afkan a-a-aku." ucap Karin dengan suara bergetar. Lelaki ini sungguh seram.

Naruto yang menghentikan langkah kakinya ketika ia berdiri tepat di hadapan Karin yang masih tak bergerak sedikitpun dari posisinya.

"Terserah." Naruto yang perlahan menurunkan badannya hingga posisinya yang kini berlutut.

Kedua tangannya yang terus memungut satu persatu buku-buku yang berserakan dilantai tadi dan terus menumpukannya menjadi satu.

Karin yang akhirnya tersadar dari acara membekunya pun membantu mengumpulkan menjadi satu buku-buku itu dengan posisinya yang juga ikut berlutut.

Naruto yang akhirnya berdiri dengan tumpukan buku-buku yang baru saja terbereskan yang langsung diikuti oleh Karin. Naruto yang menyodorkan tumpukan buku ke arah Karin dan Karin langsung mengambil nya dengan cepat.

"Te-terima-

-Kasih?" tatapan tajam yang kembali diberikan Naruto untuk Karin. Bagaimana tidak. Tumpukan buku yang telah Naruto kumpulkan tak sengaja dijatuhkan lagi oleh Karin.

"Maa-maafkan aku. Ka-ka-kau tak u-usah membantuku. Aku bisa sendiri." ucap Karin panik, ia yang kembali berlutut dan mengumpulkan buku-buku yang berserakan tadi.

"Haah~" Naruto yang menghela nafasnya dan kembali mengumpulkan buku-buku yang berserakan dilantai itu.

.

.

"Ka-kaau tak usah membantuku." ucap Karin gugup pada Naruto disebalahnya dan dengan tumpukan buku di tangannya. Mereka yang tengah berjalan dari kelas mereka dilantai tiga menuju kantor guru dilantai dasar.

"Kau akan menjatuhkan bukunya lagi." jawab Naruto tak perduli.

"Te-terima kasih." ucap Karin sambil menundukkan kepalanya yang masih melangkah menuruni tangga yang diikuti oleh Naruto. Bagaimana bisa ia melaksanakan rencananya jika ia begitu takut didekat lelaki ini? Lelaki ini memang sangat mengerikan tapi mengapa disatu sisi ia terlihat sangat keren ... gentle ...?

Ah! Tidak tidak.. Tidak boleh memikirkan hal itu.

...

Pembicaraan? Pembicaraan? Buatlah suatu percakapan agar suasananya lebih cair.

"Ah, Naruto? Apakah kau sudah lama bersekolah disini?" tanya Karin yang berusaha mencairkan rasa tegangnya.

"Hm." jawaban singkat yang diberikan Naruto yang kembali membuat Karin berpikir keras.

"Ah..? Aku dengar jika Hinata selalu mengerjai temannya. Apakah itu benar?" aaaaa! Pertanyaan apa ini?

"Tidak. Ia hanya bermain dengan mereka." jawab Naruto dingin sambil menanatap dingin mata Karin yang membuat Karin menundukkan kepalanya.

.

.

"Terima kasih telah membantuku Naruto." ucap Karin ketika Naruto meletakkan tumpukan buku-buku tadi ke meja Yamato.

"Hm." jawab Naruto tak perduli yang kembali memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan melangkah pergi.

"Ah, Naruto?" panggil Karin yang membuat Naruto membalikkan badannya dan menatapnya dari ambang pintu kantor.

"Sebagai rasa terima kasihku, bagaimana jika aku mentraktirmu makan. Hmm.. Ramen?" tawar Karin dengan senyumnya hingga matanya menyipit. Berusaha sekuat mungkin agar mereka terlibat lebih akrab.

"Tidak." jawab Naruto singkat yang kemudian kembali membalikkan badannya dan melangkah pergi.

.

.

.

Disebuah shower room di ruangan kolam renang pribadi Hyuuga. Kolam renang di dalam ruangan yang dibuat Tsunade untuk Hinata.

Ccttt... Air yang berasal dari shower yang membasahi seorang gadis berambut indigo. ia yang masih berdiri, menghadap ke dinding dengan matanya yang terpejam. Ia baru selesai berenang.

Air itu yang tiba-tiba mati yang membuat Hinata membalikkan badannya.

"Naruto? Untuk apa kau disini?" tanya Hinata pada Naruto yang mematikan air showernya tadi.

"Aku terus mengatakannya padamu, mengapa kau masih memakai pakaian dalam itu ketika kau berenang? Pakailah baju renang Hinata." ucap Naruto ketika ia melihat Hinata yang hanya mengenakan celana dalam dan bh.

"Naruto... tak akan ada yang berani masuk kesini tanpa izinku." jawab Hinata mengingatkan.

"Sepertinya aku masuk tanpa izinmu?" ucp Naruto yang membuat Hinata tersenyum geli.

"Kecuali kau." sambung Hinata cepat.

"Hei, nanti seragammu basah Naruto." ucap Hinata terkejut ketika Naruto kembali menghidupkan keran shower tadi.

"Bukankah ini romantis? Hm?" tanya Naruto ketika ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Hinata dengan dahinya yang menempel di dahi Hinata.

Hinata yang langsung mengalungkan kedua tangannya keleher Naruto. "Tadi dia mengajakmu makan.. Mengapa kau menolaknya?" tanya Hinata, oh... Ruang ini hanya bersebelahan dengan kantor yang di singgahi Naruto dan Karin tadi. Jadi ia mendengar jelas ajakkan Karin tadi.

"Apakah aku harus menerimanya? Hm?" tanya Naruto basa-basi.

"Terserah padamu. Dia terlihat seperti sangat baik jadi kau juga harus berbaik hati padanya." jawab Hinata.

"Baiklah." jawab Naruto singkat, ia yang kemudian menempelkan bibirnya di bibir Hinata dan mengulum lembut bibir mungil itu.

.

Hinata yang melepaskan ciumannya itu dan kembali menatap Naruto. "Apakah kau mengunci pintunya?" tanya Hinata yang sebenarnya tak perduli.

"Tidak akan ada yang berani masuk kesini." jawab Naruto yang membuat Hinata tertawa singkat. "Kau sungguh nakal."

Naruto yang kembali mengulum bibir mungil itu dan dibalas oleh Hinata. Hinata yang membuka sedikit mulutnya, membiarkan lidah Naruto masuk dan mengabsen setiap giginya.

Air shower yang terus membasahi seluruh badan mereka, jari-jari tangan dan kaki mereka yang mulai berkeriput tapi sayangnya mereka tak perduli.

"Ahh.. Naruto.." Hinata yang mendesah ketika Naruto terus menjilati lehernya, ia yang terkadang terus-menerus menciumi leher putih itu hingga meninggalkan beberapa kissmark. Ah.. Sesuatu yang terlupakan. Hmm..

Bukankah Hinata sudah tak perawan lagi?

Hinata yang kehilangan keperawannya di kamarnya sendiri dan pelaku nya adalah kekasihnya ini!

Kedua bibir itu yang kembali bertemu dan saling melahap dengan tamak.

"Hhmmpp.."

.

.

.

.

sementara di kantin.

Sebuah tatapan aneh dari seorang lelaki berambut merah yang diberikan oleh gadis yang terduduk di seberang nya ini yang dipisahkan oleh meja panjang di kantin.

"Mengapa kau tiba-tiba tersenyum dan tiba-tiba terlihat kecewa lagi? Kau tidak kesurupan bukan?" tanya lelaki berambut merah yang ternyata Sasori pada temannya yang bernama Karin.

"Tidak, aku hanya berpikir. Ternyata Naruto tidaklah sejahat itu. Tadi dia membantuku membawa setumpuk buku ke kantor, bahkan membantu memungut tumpukan buku itu dua kali tapi mengapa ia menolak ajakan makanku?" ucap Karin yang kembali menampakkan wajah murungnya.

"Ooo.. Tadi Hinata juga bersama ku disini, dia pergi dan beberapa detik kemudian kau datang. Ia menyuruh ku menyuapi nya makan dan ketika aku mengajaknya pergi ke cefe, ia menolaknya." ucap Sasori.

"Kau menyuapinya makan? Bagaimana jika Naruto menghajarmu?" tanya Karin memastikan.

"Tidak, dia mengatakan ia mau makan dikantin jika ada yang menyuapinya dan ia mengatakan sudah banyak teman lelaki nya yang selalu menyuapinya makan. Jadi itu tak masalah." jawab Sasori apa adanya.

"Mereka berdua sangat aneh." ucap Karin aneh.

"Aku tahu. Emosi Hinata selalu berubah dengan cepat, sebentar-sebentar ia akan baik hati dan tiba-tiba ia akan menjadi kejam. Terkadang ia menjadi seperti anak kecil dan menjadi sangat dingin. Terkadang ia mendekatiku dan terkadang ia menjauhiku. Dia membuatku bingung." jelas Sasori bingung. Ia yang semakin bingung ketika ia menjelaskan hal ini.

"Seperti Naruto, meskipun ia terlihat mengerikan tapi ia tetaplah baik hati. Ia terlihat dingin tapi sebenarnya ia sangat perduli. Ini juga membuatku bingung." jelas Karin bingung.

"Jika terus begini, rencana kita tak akan berhasil. Kita tak mengerti apa-apa tentang mereka." ucap Sasori.

"Untuk sekarang yang bisa kita melakukan hanyalah mencari sebuah alasan yang tepat agar kita bisa selalu didekat mereka. Kita harus mengerti tentang mereka, baru kita bisa mendekati mereka dan membuat jarak antara mereka."

.

.

.

.

"Baiklah kerana pelajaran sudah mau selesai jadi kalian sensei beri tugas kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang dan pasangan kalian adalah orang yang duduk disebelah kalian. Buku ipa halaman 56" ucap Yamato yang dibalas anggukan mengerti dan malas oleh murid-murid didalam kelasnya.

"Naruto? Kita satu kelompok." ucap Karin ketika ia menatap Naruto yang terduduk disebelahnya.

.

"Sasori, jam 2 datang ke rumahku. Kita kerjakan dirumahku saja karena ayahku sedang diluar negeri. Nanti akan aku kirimkan alamat rumahku." ucap Hinata yang dibalas anggukan oleh Sasori.

.

"Apakah kau bisa datang kerumahku?" tanya Naruto tak perduli.

"Biasanya Sasori yang mengantarku tapi hari ini sepertinya ia ada janji dengan Hinata. Jadi kurasa tak bisa." jawab Karin.

"Kirimkan alamat rumahmu, aku akan menjemputmu sebelum jam dua." ucap Naruto yang membuat Karin menahan senyumnya. Apakah hari ini hari keberuntungannya? Jika ia berduaan dengan Naruto dirumah nya, maka ia bisa memanfaatkan suasananya. Hmm.. Mengambil foto ketika ia bermersaraan dengan Naruto.. Hahahahahaha..

.

.

.

.

.

13.48

Karin yang sudah berdiri di depan gerbang rumahnya dua menit lalu, matanya yang menatap ke kanan dan kiri.

Sebuah senyuman yang langsung menghiasi bibirnya ketika ia melihat seorang lelaki dengan motor ninja berwarna merah yang melaju mendekatinya.

"Naiklah." ucap lelaki yang ternyata Naruto.

"Baiklah." jawab Karin yang langsung menaiki motor tersebut. Kedua tangannya yang menempel di kedua pundak Naruto dan sedetik kemudian motor itu pun kembali melaju.

.

.

.

"Apa rencanaku nanti? Hmm.. Kurasa aku akan mengambil foto ketika dia tidur? atau atau tak sengaja terjatuh dan dia menangkapku? Atau ketika kami sedang berlajar? Atau apapun yang jelas aku ingin Hinata cemburu dan marah." pikir Karin yang sudah kemana-mana dengan senyum yang masih tertahan.

"Bagaimana ini.? Apa yang harus aku lakukan? Aku tak boleh membuang kesempatan ini."

"Mungkin aku akan menyebarkan gossip ke sekolah jika aku berduaan di rumah Naruto?"

.

"Turunlah." ucap Naruto yang menyadarkan Karin dari lamuannya.

"Ah! Baiklah." jawab Karin cepat yang kemudian menuruni motor Naruto, matanya yang menatap kesana-sini rumah besar nan mewah di hadapannya.

"Bag~"

"Kemarilah." ucap Naruto yang langsung melangkah menghampiri pintu masuk yang langsung diikuti oleh Karin.

.

Tok tok tok..

"Apakah ia harus mengetuk pintu ketika ia ingin masuk rumahnya sendiri? Hmm? Mungkin ia lupa bawa kunci rumahnya." Karin membatin sambil terus menggangukkan kepalanya.

Ceklik..Pintu yang terbuka dari dalam "Ne, Naruto? Masuklah." ucap seorang gadis bersurai indigo dengan senyumnya yang membuat Karin menatapnya terkejut.

"Hinata? Ini rumahmu bukannya rumah Naruto?" tanya Karin memastikan.

"Hei, rumahku adalah rumah Naruto dan rumah Naruto adalah rumahku." jawab Hinata dengan senyum lucunya.

...

"Masuklah." ucap Hinata ketika Karin terlihat membeku.

.

"Sasori, temanmu datang." ucap Hinata ketika ia tiba diruang tamu bersama Karin dan Naruto.

Karin yang langsung berlari dan mendudukan dirinya disebelah Sasori yang baru saja mengalihkan pandangannya dari buku-buku dihadapannya.

"Mengapa kau disini?" tanya Sasori dengan suara berbisik.

"Naruto membawaku kesini, kukira kami akan kerumahnya." jawab Karin cepat.

Naruto dan Hinata yang mendudukan dirinya sofa diseberang Karin dan Sasori yang dipisahkan oleh meja kaca.

"Kalian boleh berkelompok jika kalian mau. Kalian terlihat akrab." ucap Hinata tak perduli.

"Tapi bukankah kelompoknya sudah di atur?" tanya Karin seolah tak terima.

"Itu tak masalah, Yamato-sensei tak akan protes." jawab Hinata santai.

"Baiklah jika begitu." jawab Sasori pasrah.

"Hei, kerjakan secepat mungkin agar kita bisa segera pergi." bisik Karin yang langsung sibuk dengan buku-bukunya. Orang ini! Jika ia ingin menganti kelompoknya dari awal mengapa ia menyuruh kami kesini? Ia sungguh sengaja.

.

.

.

"Hm.. Hinata? Apa kau tak mengerjakan tugasmu?" tanya Karin yang sudah lelah melihat kedua manusia itu terus bermesraan di hadapannya.

"Aku bisa kerjaan kapanpun aku mau." jawab Hinata tak perduli.

"Bukankah ini harus dikerjaankan secara berkelompok?" ucap Karin lagi.

"Asal kau tahu. Otakku dan otak Naruto ini sudah menjadi satu. Aku bahkan tahu apa yang ia pikiran saat ini. Hahaha" jawab Hinata melebih-lebihkan yang dibalas anggukan oleh Naruto.

"Baiklah." jawab Karin yang kembali sibuk dengan buku-bukunya.

.

.

.

.

.

"Hinata, katakan sejujurnya. Ini kau yang kerjakan bukan?" tanya Yamato pada Hinata yang terduduk di bangkunya di sebelah Sasori.

"Karena aku tak pernah berbohong maka aku jawab iya." jawab Hinata tak perduli yang membuat Yamato menghela nafasnya.

"Setidaknya jawablah yang benar."

"No 3. Aku mecintai Naruto meskipun sang ibu Nina memiliki lima anak. No 5. Aku menyayangi Naruto meskipun Tomi menyanyangi adik-adiknya. No6. Yamato akan marah ketika ia membaca ini karena ia tak memiliki Kekasih, ah! Sebagai bonus. aku dan Naruto saling mencintai, maafkan aku sensei tapi jangan iri." ucap Yamato lantang yang berhasil membuat murid-muridnya menahan tawa mereka.

...

"Hinata jawabanmu sama sekali tak ada hubungannya dengan pertanyaan disini." sambung Yamato yang semakin naik darah. Ternyata ia baru saja termakan rencana sialan Hinata.

"Sensei, katakan berapa nilaiku itu?" tanya Hinata santai.

"70"

"Berapa standar nilai mata pelajaran ipa?" tanya Hinata lagi.

"70" jawab Yamato lagi.

"Jadi? Apakah apa masalahnya? Aku dapat nilai standar? Aku tetap lulus. Bukan?" ucap Hinata tak perduli yang berhasil membungkam Yamato.

Dia benar. Ini bukan pertama kalinya ia begini. "Kau benar. Tapi karena jawaban asalan mu ini, aku mengurangi nilaimu menjadi 50" ucap Yamato mengancam.

"Aku tak perduli. Hanya satu nilai 50 tak akan menyebabkan aku tak lulus dari sekolah ini." jawab Hinata yang kembali membungkam Yamato.

...

"Neh...! Perhatian semuanya!" teriak Hinata yang membuat semua murid didalam kelas menatapnya.

"Karena ayahku sedang tak ada dirumah. Malam ini kalian semua harus menginap dirumahku. Kita akan meraton bersama pagi-pagi dan bersama-sama berangkat ke sekolah. Bagaimana? Ah.. Aku juga sudah menyiapkan pesta." ucap Hinata dengan senyumnya yang membuat semua dikelas tersenyum lebar.

"Sungguh?"

"Aku aku akan datang."

"Aku juga mau."

"Kalian semua harus datang. Datanglah nanti malam. Rumahku terbuka lebar untuk kelian semua." ucap Hinata yang diiringi sorakan bahagia.

Hohoho..

.

.

.

.

22.35

"Kalah! Minum lagi! Lagi! Lagi" teriak Hinata sambil bertepuk tangan.

.

.

.

23.52

"Hinata, kami semua sudah benar-benar pusing, bisakah kita berhenti?"

"Satu putaran lagi!"

.

.

.

.

.

01.34

Bukkk.. Seorang lelaki yang akhirnya tak sadarkan diri. Sofa diruang tamu Hinata yang dipenuhi sekitar 20manusia yang tertidur tak sadarkan diri.

"Naruto, sebaiknya kita tidur, aku telah membuat kejutan special untuk Yamato-sensei besok." ucap Hinata yang sudah mengantuk sedari tadi. Ia yang langsung membaringkan dirinya disofa panjang yang diikuti oleh Naruto.

"Hm.. Dia akan sangat terkejut." jawab Naruto yang langsung memeluk erat Hinata.

.

.

.

.

.

.

08.11

"Hinata? Naruto? Dimana murid lainnya?" tanya Yamato aneh ketika ia masuk kekelas dan hanya melihat Hinata dan Naruto di bangku mereka.

"Ah! Aku meracuni mereka jadi hari ini mereka akan terlambat." jawab Hinata jujur.

"Oo.." jawab Yamato singkat. Yang penting mereka datang.

.

.

.

"Naruto? Bukankah ini lucu? Sensei hanya mengajar kita berdua? Hehe.." ucap Hinata yang terdengar seperti ejekan oleh Yamato.

"Jangan berbicara dikelas, Hinata." tegur Yamato.

.

.

.

.

11.23

Suara banyaknya pasang sepatu yang terus berlari menghampiri kelas Yamato yang membuat Yamato menghentikan aksi mengajarnya.

"Apa itu?" tanya Yamato aneh sambil menatap ke arah pintu dari posisinya, menunggu apa yang akan datang.

Hinata yang beranjak dari tempatnya dan berdiri tepat di tengah-tegah pintu kelas, tak lupa dengan senyum diwajahnya yang langsung diikuti oleh Naruto.

.

.

"Selamat ulang tahun sensei!/selamat ulang tahun sensei!" ucap Hinata yang pas dengan kehadiran segerombolan manusia dan juga dengan ucapan selamat dari mereka.

Yamato yang menatap tak percaya satu persatu murid-muridnya yang masih berdiri diambang pintu itu. Mata mereka yang terlihat mengantuk dan memerah, tangan-tangan mereka yang memegang balon-balon, ada kertas bertuliskan selamat ulang tahun dan ada sekantong merah entah berisi apa dan kue ulang tahun.

.

"Selamat ulang tahun. Sensei." Hinata mengulangi ucapannya dengan senyumnya yang masih belum luntur.

.

"Ne.. Para maid ku. Jangan lupa dengan semua rencanaku. Aku ingin mereka semua tiba disekolah sebelum jam pelajaran habis. Dan jangan lupa dengan balon, kue, ucapan selamat dan hal lainnya mengerti?"

.

.

"Kalian semua..." Ucap Yamato entah ingin senang atau terharu.

"Sensei, kami tak akan melupakan hari ulang tahunmu." ucap Hinata dengan senyum bahagianya.

...

"Terima kasih." ucap Yamato pelan.

"Neh, kalian cepat pasang balon-balonnya. Waktunya tiup kue ulang tahun." ucap Hinata dan para temannya pun langsung bergerak meskipun mereka benar-benar ngantuk saat ini. Hinata yang membuat mereka tumbang semalam, dan tiba-tiba para maidnya memaksa mereka ke sekolah dengan semua barang-barang ini terus jangan lupa mengucapkan selamat ulang tahun ketika kami tiba dikelas dan parahnya para maid itu menyuruh kami berlari ke sini.

.

Kami terkejut hingga tak bisa memikirkan apapun. Tapi ketika mendengar Hinata menyanyikan lagu ulang tahun serta melihat Yamato-sensei meniup lilin ulang tahunnya, tak lupa senyum yang tak memudar sedikit pun dari bibir mereka membuat kami ikut tersenyum.

Rencana nya sangat tiba-tiba dan menyusahkan kami. Dia masih tak berubah tapi dia tahu bagaimana caranya membuat kami tersenyum...

Hinata yang langsung menempelkan kek ukuran sedang itu ke wajah Yamato.

"Hahaha.."

"Makan itu!"

"Hahahaha...!"

"Rasakan sensei!"

"Hahahahahaa..!"

"Selamat ulang tahun sensei!"

"Hinata? Kuenya cuma ada satu dan kau menempelkan nya di wajah sensei? Jadi apa yang akan kita makan?"

...

"Tenang saja, aku telah menyiapkan lima kue lagi dibelakang sana. Cepat ambil dan kita buat sensei dipenuhi oleh kue!"

Dia penuh rencana dan persiapan...

"Yoshh.. Serang!"

"Hei! Menjauhlah dari ku!"

"Kemarilah sensei! Aku akan membuatmu selalu mengingat hari ini.!"

"Hahahahaha."

.

Dia selalu membuat masalah, selalu membuat rencana mendadak, selalu menyusahkan kami tapi pada akhirnya itu semua untuk kami, membuat kami tersenyum dan bahagia. Dia memang begitu dan akan selalu begitu. Kalian akan membencinya jika kalian tak mengenalnya tapi jika kalian mengerti tentangnya.

.

.

.

.

Kalian akan menyayanginya.

.

.

.

.

To be continue..

.

.

.

.

Hehe..

Moga kalian suka.. Bye.. Byee..