Suara langkah kaki menderap begitu cepat di tengah hiruk piruk halaman depan rumah sakit terbesar di Seoul, Korea Selatan. Terdengar sirine ambulance saling bersahutan membuat detak jantung pria yang tengah terengah-engah itu meradang, bagai trauma pasca hampir kehilangan sang belahan jiwa, pria itu seakan enggan kembali menginjakkan kaki di gedung penuh aroma obat dan bercat putih itu. Berulangkali lantunan doa penuh harapan terucap di bibir merah itu. Surai abu-abu bercampur hijau itu pun tampak berantakan ketika sang pemilik kembali menderapkan langkah kakinya yang sempat berhenti hanya untuk sekedar menanyakan dimanakah kakinya harus melangkah kembali.

"Kumohon, berjuanglah."

Alunan serak sirat kekhawatiran mendalam terlontar begitu tulus. Inilah yang ia takutkan ketika ia melangkah jauh dari sang belahan jiwa. Perasaan tidak nyaman inilah yang selalu menggelayuti dirinya ketika mengemban tugas yang membuatnya berjauhan dari sang belahan jiwa.

Dalam langkah berlarinya, pria itu hanya mampu merapalkan doa demi keselamatan belahan jiwanya, kekasih hatinya, hidupnya, nafasnya, istrinya.

"Presdir." Chanyeol berhenti sejenak dari aktivitasnya memperhatikan presentasi yang tengah disajikan tim advertising perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan miliknya. Chanyeol mengingat jika ia memberi izin kepada Sekretaris Jang untuk menerima telephone yang berdering berulang kali itu, namun lelaki tampan itu tak menyangka jika sekretaris pribadinya itu akan kembali dengan keadaan tergesa dan terlihat panik. Sempat rasa khawatir terselip dihati Chanyeol akan berita buruk seperti apa yang akan disampaikan sekretarisnya itu mengingat sekretarisnya ini selalu berwajah tenang dan penuh pertimbangan.

"Apa yang ter—"

"Nyonya Park, Presdir. Nyonya Kim mengatakan jika Nyonya Park dilarikan ke rumah sakit saat ini."

Brak

Chanyeol berdiri dengan cepat dari tempat duduknya hingga membuat siapapun yang berada diruangan berjengit kaget. Napas Chanyeol tercekat seakan kedua paru-parunya berhenti untuk memompa oksigen ke seluruh tubunya hingga tubuh tegap Chanyeol menegang hebat. Bagai bumi seakan meruntuh ketika Sekretaris Jang menyelesaikan pemberitahuan yang membuat Chanyeol limbung. Detak jantung miliknya berdetak tak menentu, seakan kinerja otaknya saling beradu hingga membuat keadaan pria pemilik perusahaan besar itu kelimpungan tak tentu arah.

Takut?

Tentu saja

Siapa yang tak takut setengah mati ketika belahan jiwanya dilarikan kembali ke rumah sakit? Dia takut jika Baekhyun—

"Ambil alih segala urusan disini. Tolong, pesankan tiket pesawat ke Seoul secepatnya."

"Saya telah memesankan tiket pesawat, Presdir."

Langkah Chanyeol mulai menapak pelan ketika ia melihat kedua orangtuanya bersama adik dan para sahabatnya duduk dengan raut cemas yang kentara

"Kak Chanyeol." Getar suara Kyungsoo membuat desir darah Chanyeol kembali meradang seakan alirannya berputar arah, pikiran-pikiran negative mulai merayap memenuhi pikiran dan benaknya.

"Istriku.. b..bagaimana istriku?" serak parau Chanyeol lontarkan dengan denyut kekhawatiran yang semakin membuncah. Namun belum sempat Chanyeol kembali berucap, jemari lembut namun terasa keriput menyapa tangan Chanyeol penuh kehangatan, "Tenang, nak. Baekhyun akan baik-baik saja. Menantuku itu sedang berjuang demi cucuku."

"Ta..tapi bukankah ini terlalu lama? Bahkan hingga aku sampai disini." Senyum lembut kembali terukir diparas cantik wanita paruh baya penuh kasih sayang itu, "Bukaan akhir Baekhyun ternyata cukup lama, sedari tadi ia masih mengalami kontraksi dari bukaan yang lain untuk jalan keluar cucuku, nak."

"Tapi, Ibu aku…"

Belum sempat Chanyeol menyelesaikan ucapan kekhawatiran ketika suara baru penuh protes akan dinginnya dunia baru yang menyapa itu menggema, "Oekkk…. Oekkk"

Tangisan bayi terdengar begitu kuat hingga membuat Chanyeol berjengit kaget. Dengan tatapan penuh takjub mengarah pada pintu kupu kembar yang saat ini masih tertutup rapat, Chanyeol mulai melangkah mendekat. Rasa haru bercampur rasa lega teramat sangat menrambat dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Rasa puas penuh cinta membuncah dari lubuk hatinya yang saat ini berbunga-bunga.

Buah hatinya

Jagoan kecilnya

Napas barunya saat ini telah menghirup udara di dunia fana penuh euphoria ini.

Chanyeol tak sabar untuk melihat bagaimana keadaan istri dan jagoan kecilnya. Chanyeol tak sabar menatap wajah baru keluarga mungilnya. Apakah ia akan seperti dirinya ataukah cantic seperti ibunya? Ohh, sungguh Chanyeol amat sangat tidak sabar.

Namun sepertinya Chanyeol membutuhkan kesabaran lebih lama untuk bertemu jagoan kecil dan istri tercintanya itu ketika kedua telinganya kembali mendengar teriakan penuh perjuangan terlontar lantang dan penuh kekuatan. Chanyeol tergagap, tanpa sadar ia menolehkan kepalanya untuk menatap keluarga dan para sahabatnya dengan kekakuan yang sangat kentara.

"Kembar?"

END