DANCING QUEEN
Chapter 2
Cast: Luhan, Sehun, Kai, Lay, Kyungsoo and other cast going on
Genre: Romance, Drama, School Life (GS)
Rate: T
.
.
Sehun memasuki sebuah mobil mewah berwarna hitam. Sang supir langsung menghampiri Sehun dan membantunya menaruh koper didalam bagasi. Tanpa banyak bicara Sehun dan supirnya langsung meninggalkan bandara. Didalam mobil Sehun hanya diam sambil memikirkan gadis yang baru beberapa menit bertemu tapi sudah membuat kesan pertemuan pertama mereka jauh dari kata baik. Luhan terlihat seperti gadis Asia lainnya, tapi kenapa dia tidak mengenal Sehun? Itu yang menjadi pertanyaan Sehun.
"Sehun-ssi, anda mendapat duapuluh pesan dari Tuan Park" Minjun, sang supir, menginterupsi Sehun. Sehun membenarkan duduknya lalu menerima sebuah smartphone yang disodorkan Minjun. Sehun membuka aplikasi e-mail dan menemukan duapuluh, tidak tigapuluh lima pesan."Minjun kau bilang tadi ada duapuluh pesan, tapi kenapa aku lihat ada tigapuluh lima?" Sehun bertanya tanpa melihat kearah Minjun. Minjun sendiri menjadi gugup. Pegangan tangan pada setirnya menguat. Merasa pertanyaannya tidak dijawab, Sehun melirik Minjun. "Kenapa tidak dijawab, Minjun?" Minjun smakin gugup.
"Itu…ada lima belas pesan dari nona…Kyungsoo" Minjun merendahkan suaranya saat menyebut nama Kyungsoo. Sehun menghentikan gerakannya yang sedang menyentuh layar smartphone saat mendengar Minjun menyebut nama Kyungsoo.
Kyungsoo.
Sehun sudah hampir melupakan wanita itu. Tapi saat Minjun menyebut nama Kyungsoo, ada sebagian hati Sehun yang sakit. Sakitnya seperti hati Sehun diambil paksa dari tempatnya, menyebabkan sebuah lubang menganga disana.
"Baiklah, terima kasih" Sehun menutup kembali e-mailnya. Ia sudah tidak berminat lagi pada apapun.
Kyungsoo telah membawa semua kesenangannya.
.
.
Luhan masih mencoba menyalakan iPadnya yang sudah hancur, tapi layar itu hanya menampilkan warna aurora. Luhan meringis. Kalau saja dia tidak menari di tengah jalan pasti peristiwa 'ditabrak pria dan iPadnya hancur' tidak akan terjadi. Luhan sudah merelakan iPadnya.
Luhan saat ini sedang meratapi nasibnya. Kata Xiumin, pelatih Luhan di China, ada yang akan menjemput Luhan setibanya ia di Korea. Tapi Luhan tidak melihat ada seorang, atau beberapa orang menjemputnya sejak tadi. Sejak Luhan keluar dari gerbang arrival. Sendirian di negara orang. Tidak ada yang Luhan kenal, dan tidak ada yang mengenal Luhan. Sungguh malang nasib Luhan di Korea.
Luhan memutuskan untuk menelepon Xiumin walaupun biaya telepon interlokal sangat mahal. Luhan tidak ingin nasibnya tidak jelas disini dan ia akan jadi gelandangan. Setelah nada tunggu ketiga, Xiumin mengangkat panggilan Luhan.
"Halo jie-jie" Luhan hampir menangis saat mendengar Xiumin.
"Luhan kau kah itu? Kenapa meneleponku? Kau belum sampai di Korea?" Xiumin memborong Luhan dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Xiumin-jie mana orang yang akan menjemputku disini seperti yang kau katakan?" Luhan menghentakkan kakinya. Xiumin terdengar menghela nafas di sebrang sana. "Sebenarnya orang itu datang tidak sih?" Luhan benar-benar kesal karena sudah dibuat menunggu. "Apa ChenTroll itu belum datang juga?" Luhan menyerngit, sepertinya ucapan itu ditujukan untuk Xiumin sendiri. Tapi Luhan tetap menjawab walaupun ia sendiri tidak tahu siapa itu ChenTroll. "Mana aku tahu! Jie-jie tolong sebutkan cirri-ciri orang itu lagi. Mungkin aku akan menemukannya"
Hening sesaat sebelum Xiumin berbicara panjang lebar. "Baiklah, pria itu tinggi tapi tidak terlalu tinggi. Mungkin tingginya sekitar 178cm. Bentuk wajahnya agak kotak. Bibirnya tipis tapi lebar, kalau ia tersenyum ia terlihat seperti Joker. Suaranya sangat merdu, apalagi jika ia sedang bernyanyi. Sungguh—"
"Xiumin-jie!"
Luhan menginterupsi perkataan Xiumin. Luhan memutar bola matanya, jie-jie nya yang satu ini kalau sudah membicarakan kekasihnya akan sangat bersemangat dan lupa dengan siapa ia berbicara.
"Ups, maafkan jie-jie. Jie-jie terlalu bersemangat" Luhan memutar bola matanya lagi. Saat Luhan tidak sengaja menengok ke samping, ia melihat seorang pria berdiri tidak jauh darinya dengan memegang sebuah banner kecil bertuliskan huruf hangul. Luhan tidak bisa membaca tulisan hangul itu karna posisi banner yang berada dibawah dan terbalik.
"—han, Luhan kau masih disana?" Suara cempreng Xiumin menyadarkan Luhan. "Jie-jie siapa nama Korea kekasihmu itu?"
"Nama Korea ChenTroll?" Xiumin mengulang pertanyaan Luhan. Luhan mengangguk. "Iya!" Luhan mendengar suara dengungan dibelakang Xiumin. "Kalau tidak salah Kim Jongdae, kenapa Luhan? Apa kau menemukan si Troll itu?" Luhan mengeratkan pegangan pada ponselnya. "Jie jangan tutup dulu telponnya. Sepertinya aku menemukan dia" Tanpa menunggu jawaban dari Xiumin, Luhan berjalan mendekati pria yang membawa banner itu. Yang Luhan lihat sepertinya pria itu sedang mencari seorang.
Luhan mengulurkan tangannya dan menepuk pelan pundak orang itu. Si pria terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah. Luhan meringis, dia kan hanya menepuk pundaknya pelan, tapi kenapa orang ini kaget sekali? Berlebihan.
"M-Maaf, apa kau tuan Kim Jongdae?" Luhan bersedekap. Berharap semoga Luhan tidak salah orang. Pria itu menatap Luhan dari atas kebawah lalu tersenyum senang. "Ah, kau Shi Luhan?" Jongdae, atau yang biasa dipanggil Chen, menunjuk Luhan. Luhan mendengus, ingin tertawa saat Chen melafalkan namanya dengan salah. "Maaf, bukan Shi, tapi Xi. Xi Luhan" Luhan membenarkan kosakata Chen. "Ah iya. Maaf aku tidak terlalu lancar berbahasa China-" Tidak lancar? Tapi kenapa panggilannya seperti nama orang China? Luhan membatin. "Kau Luhan yang dari China itu kan?" Luhan ingin menjawab perkataan Chen, tapi suara gemerisik dari ponselnya membuat Luhan diam. Luhan mendekatkan lagi ponselnya ke telinga. Ternyata benar, Xiumin daritadi berbicara dengan nada cemprengnya.
"Lu, kau disana? Apa kau sedang berbicara dengan Chen? Lu jawab—"
"Iya jie aku disini. Aku bersama Chen gege"
Luhan mendengar Xiumin menarik nafas lega. Luhan juga benafas lega. Akhirnya ia tidak sendirian di Korea. Setidaknya kekasih dari pelatihnya ini ada untuk Luhan. "Lu berikan ponselnya pada Chen! Aku ingin bicara padanya" Luhan mengangguk, pasti Xiumin ingin memarahi Chen. Nadanya sangat menyeramkan ketika berbicara tadi. Luhan memberikan ponselnya pada Chen. Chen tidak mengerti awalnya, tapi Luhan terus menggoyangkan ponseknya didepan wajah Chen. Akhirnya Chen mengambil ponsel itu. "Xiumin-jie ingin bicara padamu. Katanya ia ingin membunuhmu" Luhan membuat suaranya semenyeramkan mungkin, bermaksud untuk menggoda Chen. Chen menatap horror kearah Luhan.
"Halo—"
"Ya, Kim Jongdae!" Chen menjauhkan ponsel dari telinganya. Teriakan mahadahsyat Xiumin menulikan telinga Chen untuk beberapa saat. "Ha-halo sayang… ada apa?"
"Apa kau bodoh? Kau membiarkan Luhan menunggumu sangat lama. Sendirian. Kau sebenarnya dimana?"
"Aku juga menunggu Luhan disini. Sudah empatpuluh menit aku menunggunya"
Luhan membelalakan matanya. Empatpuluh menit juga dia menunggu Chen. Jadi dimana sebenarnya Chen menunggunya. Seharusnya Chen tahu kalau Luhan akan datang.
"Kau tidak becanda kan Troll?" Tanya Xiumin sarkatis. "Kau menunggu Luhan dimana sebenarnya?" Chen terlihat mencari papan pembritahuan. "Aku menunggu di gerbang kadatang—" Chen tidak melanjutkan ucapannya. Matanya melotot melihat papan pemberitahuan yang tertuliskan gerbang keberangkatan. Chen merutuki dirinya sendiri. Ia sangat buru-buru tadi ketika mendapat panggilan dari Xiumin bahwa muridnya dari China akan ke Korea untuk menandatangani kontrak di PH Entertainment. Saat itu Chen sedang berada di luar kota dan Xiumin berkata Luhan akan sampai dalam beberapa jam. Chen langsung saja meluncur ke Incheon. Sangat terburu-buru sampai ia tidak melihat sekelilingnya. Chen kira ia sudah menunggu Luhan di gerbang kedatangan.
"You did Chen! Aku sudah menduganya. Bodoh!" Xiumin menghela nafas. Kekasihnya itu memang sangat bodoh. Seharusnya Xiumin tidak menyuruh Chen untuk menjemput Luhan. "Maafkan aku Xiu" Chen meringis kearah Luhan yang dibalas dengan ringisan juga. "Cepat perbaiki kesalahanmu Stupid Troll. Aku tidak akan sungkan membunuhmu jika selama Luhan di Korea kau tidak memperlakukannya dengan baik. Camkan itu Chen!" Chen meneguk ludahnya dengan susah payah. Xiumin itu jika sedang marah bisa jadi seribu kali menyeramkan dari psikopat. "Baiklah Xiu"
"Berikan ponselnya pada Luhan aku akan mengucapkan sampai jumpa"
Chen memberikan ponsel Luhan kembali. Luhan sebisa mungkin tidak tertawa terbahak mendengar percakapan antara Xiumin dan Chen. Chen benar-benar seperti kerbau yang dicocok hidungnya saat Xiumin memarahinya.
"Halo jie…"
"Luhan hati-hati selama disana ya. Jangan telat makan dan minum vitaminmu. Jangan terlalu lelah, kau mudah sakit jika kelelahan. Bersikap ramahlah pada semua orang. Kau harus semangat dan berusaha dengan keras. Kau tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan mimipimu menjadi Dancing Queen, Luhan. Buatlah orang-orang yang menyayangimu bangga padamu. Kau mengerti?"
Luhan tidak bisa tidak menitikan airmatanya. Xiumin sudah seperti seorang kakak bagi Luhan. Luhan tersenyum dan mengangguk. Suara Xiumin berubah drastis saat bebicara pada Luhan. "Aku mengerti Xiumin-jie. Terima kasih, aku akan merindukanmu"
"Aku juga akan merindukanmu, Luhan-ku"
Luhan tersenyum sebelum mengakhiri pembicaraannya. Perasaan Luhan sedikit lebih lega. Berbeda dengan saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di negeri ini.
"Sebaiknya kita segera ke hotel. Kau butuh istirahat. Maafkan kesalahanku Luhan"
Chen segera membantu Luhan menarik kopernya menuju mobil mereka. Luhan diam sambil mengikuti langkah Chen. Luhan memang butuh istirahat saat ini. Perjalan udara China-Korea membuang banyak tenaga Luhan, walaupun Luhan hanya duduk manis selama di pesawat. Yang menjadikan Luhan lelah adalah pikirannya. Bagaimana kalau Luhan tidak jadi dikontrak oleh PH Entertainment? Atau jika Luhan tidak bisa memberikan yang terbaik untuk PH Entertainment? Semua itu menganggu pikiran Luhan.
Ia harus segera bertemu kasur dan bermimpi
.
.
Sehun memasuki ruangan produser PH Entertainment dengan Chanyeol—asisten sekaligus manager Sehun yang kata Sehun bodoh—di belakangnya. Kemarin selama sisa hari Sehun harus mengelus dadanya berulang kali karena Chanyeol—yang bodoh itu melakukan kesalahan lagi. Gara-gara salinan jadwal hilang, Sehun harus membatalkan beberapa syuting iklan dan wawancara. Dan itu semua karena Chanyeol.
Park Ho—produser PH Ent. menaikkan pandangannya dari layar komputer pada dua sosok pria yang baru datang ke ruangannya. Sehun dan Chanyeol duduk dimasing-masing bangku mereka. "Jadi, apa liburanmu menyenangkan Sehun?" Park Ho bertanya dengan nada datar. Sehun menyilangkan kakinya dan punggungnya bersandar di kursi.
"Menyenangkan. Jika saja kau tidak memberikanku manager yang bodoh" Sehun menjawab sama datarnya dengan Park Ho. Chanyeol mendelik ketika Sehun menyebutnya bodoh. "Aku tidak tahu kalau Chanyeol itu bodoh" Park Ho menimpali. "Iya aku memang bodoh" Chanyeol menjawab dengan malas.
Park Ho membenarkan duduknya. "Baiklah aku memanggilmu kemari bukan untuk membicarakan Chanyeol yang bodoh ini" Chanyeol lagi-lagi mendelik. "Aku memanggilmu karena kau punya kerjaan baru" Sehun menatap Park Ho dengan antusias dan menegakkan duduknya. "Kerjaan? Kerjaan apa?"
Park Ho tersenyum miring. Jelas sekali ia menyembunyikan sesuatu. "Ada seorang trainee baru. Dari China. Dia bisa menari dan bernyanyi. Tariannya indah dan suaranya menakjubkan" Sehun menyerngit, Park Ho terlalu berputar-putar. "Langsung ke intinya saja" Sehun mengibaskan tangannya. Terlalu malas mendengarkan ocehan produsernya itu.
"Kau lucu sekali Sehun-ah" Park Ho tertawa keras ketika mengatakan panggilan itu. Chanyeol ikut tertawa bersama Park Ho. Park Ho sangat tahu Sehun itu paling anti dipanggil dengan 'Sehun-ah'. Menggelikan, begitu katanya. Park Ho berdehem, kembali serius. "Aku ingin kau menjadi trainer untuknya. Aku tahu kau sibuk, tapi sepertinya hanya kau yang bisa melatihnya. Kau profesional Sehun" Park Ho menganggukkan kepalanya. Merasa yakin pilihannya untuk menjadikan Sehun trainer untuk 'sang artis baru'nya.
"Memangnya siapa dia? Aku belum mendengar ada trainee baru. Apalagi dari China" Sehun mengambil sebuah berkas yang terletak diatas meja Park Ho. Membukanya dan membolak-balik halamannya dengan malas. Tangan Sehun berhenti bekerja ketika matanya tidak sengaja melihat sebuah foto. Foto seorang gadis yang sepertinya pernah ia lihat. Sehun semakin mempertajam matanya.
"Tunggu, ini kan—"
"Permisi"
Sehun, Chanyeol dan Park Ho serentak menengokkan kepala mereka kearah pintu. Sebuah kepala menyembul dari balik pintu. "Permisi, benar ini ruangan Produser Park?" Tanya si empunya kepala itu. "Benar. Masuklah" Park Ho berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Park Ho membuka lebar pintu itu sehingga kini seluruh tubuh dari si pemilik kepala terlihat.
"Sehun, perkenalkan ini trainee baru. Xi Luhan" Park Ho sedikit menggeserkan tubuhnya. Akhirnya Sehun bisa melihat siapa trainee baru itu. Dan Sehun sukses membuka lebar mulutnya melihat Luhan.
Si remaja tanggung yang ditemuinya di bandara kemarin.
.
.
Sehun terus menatap tajam kearah Luhan. Membuat Luhan merasa terintimidasi. Sehun benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Sehun tidak percaya bahwa takdirnya membawa Sehun bertemu kembali dengan Luhan. Padahal ia sudah berdoa mati-matian agar tidak bertemu dengan gadis berisik dan menyebalkan ini lagi. Sehun merasa dunianya akan berhenti sekarang juga.
"Jadi kau si trainee baru itu? Yang dari China?" Sehun masih menatap lurus ke Luhan. Luhan mengangguk semangat." Cih, pantas saja dia tidak mengenalku" Sehun bekata lirih. Luhan ikut menatap Sehun dengan tajam. Luhan bersyukur takdir membawanya pada Sehun lagi. Setidaknya Sehun tidak mengingkari janjinya untuk mengganti iPad Luhan yang sudah dirusaknya. Dan Luhan juga bisa mengganggu manusia paling menyebalkan dan sok sibuk ini.
"Kenapa? Kau kaget ternyata aku dari China dan tidak mengenalimu, Tuan Rayban?" Luhan tersenyum menghina, ia mendengar perkataan Sehun tadi. Sehun memutar bolamatanya. Remaja tanggung ini dari awal memang tidak sopan.
"Sebaiknya kau belajar sopan santun dulu sebelum menjadi artis. Kau tahu, Korea sangat menghormati kesopanan" Sehun menekankan kata terakhirnya. Luhan mendengus mendengarnya. "Tuan Rayban, kau juga harus tahu. China juga menghormati kesopanan" Luhan membalasnya. Perang tatapan makin tak terhindarkan. Seolah ada aliran listrik yang keluar dari masing-masing mata mereka.
Chanyeol datang ketika Sehun dan Luhan masih saling menatap. Aura aneh terasa disekitar Chanyeol, membuat Chanyeol bergidik. "Aneh sekali". Chanyeol berusaha tak mengubrisnya walaupun ia tetap was-was. "Oh Sehun—" Chanyeol berhenti bicara melihat Sehun yang terus diam sambil menatap Luhan. Chanyeol mengkibaskan tangannya didepan wajah Sehun. "Hey Oh Sehun, sadarlah" Tapi Sehun tak bergeming. Chanyeol berbalik menatap Luhan. Luhan juga melakukan hal yang sama dengan Sehun. Ada apa dengan dua anak manusia ini?
"Biarkan sajalah. Paling mereka sedang mengagumi wajah lawan mereka" Chanyeol terkekeh dan meninggalkan Sehun dan Luhan. Luhan buru-buru memutus kontak matanya. Bukannya ia tidak kuat untuk menatap Sehun, tapi ia takut jika terus menatap Sehun, rasa bencinya semakin besar.
Luhan berdiri, merapikan bajunya yang sedikit kusut di bagian bawah. "Baiklah sunbae-nim aku rasa tidak ada yang ingin kau bicarakan. Aku permisi dulu" Luhan hendak berjalan menuju pintu, namun tangannya ditarik oleh Sehun sehingga ia langkahnya terhenti. Sehun menampilkan senyum liciknya.
"Kau tidak semudah itu lari dariku"
To be continued
.
.
Haiiii… nara is back
Nara kembali dengan DANCING QUEEN part 2
Nara mohon maaf jika part ini dan sebelumnya agak mengecewakan, maklum nara anak baru
Terima kasih yang sudah mau baca dan berkenan untuk me-review cerita nara
Di part ini sudah mulai bermunculan casting-casting lain
Dan di part selanjutnya akan banyak casting yang muncul
So, pantengin terus DANCING QUEEN-nya ya
Thanks to :
Ohristi95 exindira DwitaDwita HyunRa Peter Lu Éclair Oh lisnana1 luhan deer milkhunhan-yuri
Dan kalian semua yang membaca cerita ini
Terima kasih
