Disclaimer
© Masahsi Kishimoto
Pairing
SasuNaru
Warning
Yaoi Boy's Love Sho-ai Romance/Tragedy/Hurt/Comfort
Itachi : 18, 21
Sasuke : 12, 15, 17
Summary
Uchiha Sasuke yang hadir dalam kehidupan Uzumaki Naruto yang hancur.
Namun takdir berbicara lain.
Crying Blood
© Kanami Aya
Chapter 3
Pendekatan
.
.
.
Hidden Story (Kematian Itachi)
Seperti yang lainnya dalam marga Uchiha, Itachi juga memiliki paras yang menawan. Namun perbedaan yang Itachi miliki ketimbang otoutonya adalah, Itachi memiliki wajah lebih sweat, cenderung kearah manis untuk ukuran laki-laki. Bahkan rambutnya pun terurai panjang.
Itachi memiliki bulu mata yang lentik secara alamai. Bahkan caranya mengedipkan mata terlihat sangat anggun. Sasuke selalu heran. kenapa onii-sannya itu tidak merasa terganggu diperhatikan orang lain dimanapun ia berada. Oleh karena itu, Itachi selalu meletikkan kedua jarinya di dahi Sasuke saat dilihatnya sang otouto mulai heran.
Dulu kehidupan Sasuke terlihat normal dan bahagia. Fukagu yang bekerja sebagai Kapolres Konoha sukses membuat keluarganya merasakan hidup mewah. Di tambah Mikoto sebagai pemilik butik semakin menggembungkan tabungan keluarga Uchiha tersebut.
Itachi anak yang cerdas, ia bisa menyelesaikan pendidikan Sarjananya di umur 18. Akselerasi di Junior Highs School, High School, dan skripsi cepat di bangku kuliah. Tak heran kini Itachi langsung berani ambil magister.
"Ne Nii-san? kenapa sekarang okaa-san jarang memasak makanan untuk kita?" Tanya Sasuke kecil kala itu, ia begitu heran atas perubahan sikap ibunya yang mendadak jarang pulang dan hampir tidak pernah lagi mengurusi rumah. Bahkan untuk memasak sekalipun.
"Hemm?" Itachi membelai lembut rambut Sasuke, "Apakah kau merindukannya?"
"Iya. Bawalah aku bertemu dengannya Nii-san. Aku sudah jarang bertemu dengannya." Sasuke tau, Itachi mengetahui dimana ibunya sekarang.
"Yuruse Sasuke… Mata kondo da (Maafkan aku Sasuke... mungkin, lain kali), mungkin okaa-san sedang sibuk." Itachi selalu berkata demikian saat adiknya memaksa untuk bertemu dengan ibunya.
"Nii-san selalu berkata seperti itu, tapi tidak pernah terbukti. Lain kali kaa-san diluar negeri, lain kali kaa-san rapat, lain kali kaa-san sibuk. Mungkin kaa-san punya anak lagi?" Sasuke protes dan menggembungkan pipinya.
Itachi meletikkan kedua jarinya di dahi Sasuke "Haha. Mana mungkin? Oka-san sangat sayang pada kita." Itachi memeluk adiknya sayang.
Mungkin yang terbaik sekarang memang menyembunyikannya. Ibunya tidak ingin anak bungsunya yang masih kecil terlalu hawatir dan berpengaruh pada pelajaran. Bukan tanpa alasan Itachi menuruti keingina ibunya itu. Namun karena tak ingin masa kecil Sasuke yang bahagia ikut terenggut bersama semakin parahnya penyakit sang ibu.
Mikoto sadar, pengangkatan rahim adalah jalan yang baik untuk kesembuhannya. Namun ia melok dan berdalih. Ingin mati sebagai wanita utuh. Tanpa ada yang hilang darinya.
"Pulanglah! Sasuke selalu menanyakanmu." Bujuk Itachi agar ibunya pulang "Sudah habis alasanku menjawabnya, saat ia mencarimu."
Mikoto tersenyum, tangannya terangkat membelai lembut pipi Itachi "Dengan keadaan seperti ini? Sasuke itu anak yang lincah namun tenpramental. Kau mau keluguannya berganti jadi sosok yang pemurung?"
"Sasuke pasti bisa menerimanya dengan baik. Apakah kaa-san tidak merindukannya?"
"Kau lihat perubahan tou-san mu?" Itachi mengangguk
"Aku tau Fukagu juga sedih melihat keadaanku. Tapi saat kupilih tidak ingin operasi, dia malah menjahuiku. Aku tak mau Sasuke seperti itu juga."
"Apakah sepenting itu arti sebuah rahim bagi wanita?" Itachi merasa bingung dengan pilihan ibunya.
"Entahlah Itachi. Kalau pengangkatan rahim hanya memerpanjang sedikit usiaku, aku memilih tidak mengangkatnya." Itachi hanya diam, membiarkan pilihan ibunya mengambil satu-satunya wannita yang dicintainya.
Supaya tidak curiga, Mikoto menyempatkan pulang kerumah setiap hari sabtu dan minggu. Kemudian satu bulan dua kali. Satu bulan sekali. Tapi lama kelamaan Mikoto semakin acak kapan ia pulang kerumah. Hingga akhirnya tidak pernah pulang sama sekali.
Hal ini telah terjadi selama tiga tahun. Dan sasuke semakin bisa membaca situasi. Sasuke selalu berusaha menguak dimana keberadaan ibunya. Ia sering bertanya pada ayahnya Fukagu, namun selalu ketidakpedulian yang ia terima. Dan perlahan Sasuke mulai menjauhi ayahnya.
Mengikuti kakaknya secara diam-diampun percuma. Manusia satu itu sangat pintar bahkan peka keadaan. Dengan mudah Itachi menghilang dari pandangan saat diketahuinya Sasuke mengikuti secara diam-diam.
Dan yang tidak ingin terjadipun akhirnya terjadi. Saat itu Itachi tiba-tiba pulang kerumah dengan wajah lesu. Sasuke menghampiri dengan rasa heran.
"Ada apa onii-san?" Tanya Sasuke seraya mengangkat wajah kakaknya yang tertunduk.
"Kau mungkin akan membenciku kali ini." Itachi menatap adiknya. Sasuke hanya terkejut dan sedikit memundurkan wajahnya.
"Kau dan aku adalah saudara. Aku akan selalu berada di sini untukmu. Bahkan jika aku menjadi hambatan bagimu. Untuk membahagiakanmu. Dan bahkan jika kau membenciku, itulah arti saudara." Papar Itachi
Sasuke semakin tidak mengerti maksud kakaknya.
"Oka-san meninggal." Hanya itu. Sepenggal kalimat. Dua kata. Namun cukup mampu menjawab semua pertayaan selama tiga tahun ini. Sasuke jatuh terduduk, tak mampu menahan berat badannya.
Sasuke marah. Sedih. Kecewa. Terpukul. Merasa dungu telah dibohongi selama ini. Ia bangkit hendak menghajar Itachi dan pasti berhasil kalau saja Fukagu tak datang untuk melerai. Di kuncinya Sasuke didalam kamar. Fukagu juga mengetahui keadaan Mikoto. Namun ia diam agar melupakan kenyataan.
Keesokan harinya saat pemakaman Mikoto, barulah Fukagu membuka kamar anak bungsunya tersebut. Sasuke sangat kacau kala itu. Dengan perhatian, di ubahnya pakaian Sasuke dengan celana hitam dan baju hitam. Fukagu sengaja menyuruh Itachi berangkat dulu ke pemakaman mencoba menghindari kemarahan Sasuke. Namun Fukagu salah.
Membiarkan Sasuke menahan amarah adalah pilihan yang salah. Setelah pemakaman, dengan kasar Sasuke menarik Itachi dan berhenti di sebuah lapangan Baseball. Di Hentakkannya tubuh sang kakak hingga jatuh terduduk. Itachi tak membantah, seakan membiarkan kemarahan sang adik agar tersalurkan.
Dan Sasuke memukul wajah Itachi. Cukup keras. Itachi sadar kini Sasuke telah tumbuh semakin besar. Yang artinya pukulannyapun akan semakin menyakitkan. Tak seperti dulu kala saat mereka bermain ninja-ninjaan.
Sasuke seperti orang tak sadarkan diri. Dia duduk di perut Itachi dan terus-menerus memukul kakaknya. Darah keluar dari pelipis kiri Itachi, sudut bibir, dan hidung. Itachi merasa telinganya berdengung. Matanya berkunang hebat, memaksanya menutup mata rapat-rapat .Ia tidak meronta. Hanya diam, dan sedikit erangan jika pukulan Sasuke benar-benar sakit.
"Hanya satu pertanyaanku Nii-san?" Sasuke mengangkat kerah baju Itachi. "Apa alasanmu menyembunyikannya.?"
Itachi bergeming. Meskipun sakit ia berusaha mengalihkan pandangannya. "Kau hanya menambah beban kaa-san jika mengetahuinya." Sasuke tersenyum sinis
"Hanya itu?"
"Kau tak penah bisa jadi dewasa saat menghadapi masalah." Itachi tersenyum. "Lihat bagaimana reaksimu saat dengan sukses aku membohongi." Sasuke terpancing dengan tenaga penuh dihantamnya dada Itachi dengan tangnnya.
"Ukh." Itachi mengerang. Darah keluar dari mulutnya.
"Dimana yang sakit?" Tanya sasuke. Meskipun heran Itachi menunjuk dada kirinya.
"Kalau gitu... Maaf." Sasuke kembali menghantam hebat bagian yang ditunjuk Itachi. Walau pelan masih sempat Sasuke mendengar perkataan Itachi.
"Yuruse Sasuke… …Kore desaigo da. (Maafkan aku Sasuke ini, yang terakhir kali *mengecewakan Sasuke maksudnya)" Dan akhirnya Itachipun pingsan.
Itachi dibawa ke rumah sakit tempat ibunya dirawat. Meskipun kalap, Sasuke masih sadar ingin kakaknya selamat. Setelah dinyatakan koma, Itachi dinyatakan meninggal tiga hari berikutnya. Jantungnya dinyatakan gagal berfungsi akibat penyempitan otot jantung.
Sasuke terpukul, ia tak sengaja membunuhnya. Maksudnya hanya ingin melampiaskan kemarahannya, namun ia lepas kendali. Fukagu tak ingin memperdalam masalah. Ia masih sadar betul Sasuke adalah anaknya. Andai kala itu Sasuke sadar maksud Itachi.
Pertumbuhan terjadi ketika salah satu melampaui batas seseorang yang lain.
Menyadarinya juga merupakan bagian dari pelatihan.
Menuju kedewasaan.
Dan Itachi berhasil. Kini Sasuke tumbuh menjadi sosok yang lebih tegar dan mandiri.
End of Hidden Story
.
.
.
High School (keesokan harinya)
Sasuke melihat sosok di sampinya sambil memangku dagu dengan tangannya. Melihat sosok Naruto yang kini mengalihkan pandangannya.
'Kali ini akan ku buktikan aku bisa menjaga seseorang yang aku sayangi, Nii-san' batin Sasuke. Merasa ada yang terus memandanginya, Naruto menolehkan ke arah sasuke.
"Apa?" Tanya Naruto heran dengan suara pelan. Ia tak ingin pembicaraanya terdenagar oleh sang sensei.
Sasuke hanya mengedipkan sebelah matanya genit. Naruto cengo. Tidak tau harus berepresi seperti apa?
"Ap-apa yang barusan kau lakukan TEME?" Naruto kelepasan meninggikan suaranya
"NARUTO. Apa yang kau bicarakan." Hardik Iruka kesal pelajarannya di ganggu.
"Etto. Ano..." Naruto kehabisan kata-kata.
"Lihat papan. Jangan lihat Sasuke. Sekarang pelajaran sastra. Bukan shounen-ai." Krik-krik Authornya juga bingung. Seisi kelas tertawa, termasuk Sasuke.
"Dobe?" Panggil Sasuke pelan. Naruto hanya melirik, masih kesal.
"Apa?"
"Aku ingin main dirumahmu. Ajaklah aku kerumahmu."
Naruto terdiam. Mukanya terlihat tidak senang dengan pertanyaan Sasuke. "Rumahku bukan tempat bermain." Jawab Naruto asal. Sasuke tertawa.
"Ayolah Dobe." Bujuk Sasuke.
"Tidak mau."
"Dobe imut deh." Goda Sasuke garing. Asli. Naruto hanya terbelalak cengo. Ini anak minta di gapok, apa di tonjok ya? batin Naruto.
"Dooo-beee.?" Baca kayak anak kecil manja. Sasuke bertahan.
"T-i-d-a-k m-a-u." Naruto melafalkalkan dengan bibir yang mencucu.
"Kalau gitu aku akan diam-diam mengikutimu."
"KALAU MAU MENGIKUTIKU DIAM-DIAM. YA GAK USAH NGOMONG DONG. TEME NO BAKA." Heran naruto sama perilaku Sasuke. Sedetik kemudian dia sadar. Di tolehnya muka Iruka yang kesal.
"KELUARRRRRRRR." Sentak Iruka.
.
.
.
Sepulang sekolah
Sasuke terbahak-bahak mendapati muka Naruto cemberut total. Dipegangnya bahu Naruto yang tengah sibuk memberesi buku-bukunya.
"Apa salahnya sih membawaku krumahmu Dobe?"
"Aku hanya tidak mau TEME." Naruto menatap Sasuke.
"Mengertilah." Pinta Naruto. Dilepaskannya tangan Sasuke dibahunya, dan ia beranjak keluar kelas.
Sasuke tidak mengikutinya. 'Kalau aku tidak tau rumahmu dengan bertanya. Akan kucari sendiri. Aku hanya berusaha melindungimu Dobe. Mengertilah.' Batin Sasuke.
Tidaklah sulit mencari tahu dimana rumah Naruto. Dan sekarang Sasuke tau. Naruto hampir tidak punya teman dekat. Oleh karena itu ia bertanya pada bagian TU. Namun penjaga menolak dengan alasan keamanan.
"Pilihan terakhir. Aku harus minta bantuan tou-san." Dan Sasuke berangkat menuju rumah Ayahnya. Dengan jabatan sebagai Kapolres. Mencari alamat rumah seseorang tidaklah susah. Dan Sasuke ingin langsung bergegas kerumah Naruto. Namun disana semua terjawab.
.
.
.
To Be Continued
Aduh aduh...
apa ya kira-kira di chap selanjutnya?
Terus ikutin ya?
RnR
Thengkyuu buat yg review. Kalian adalah dopingku
