Jaemin berjalan lesu selama menuju kelasnya, perkara buku sketsanya yang hilang masih berdampak sepertinya.
Apa aku beli buku baru saja ya? Tapi mengingat eommanya akan marah kalau sampai ia minta lagi.
Haechan nepuk-nepuk bahu Jaemin saat dia lihat ada sesuatu yang ia kenal dan di bawa orang yang tidak ia kenal.
"Apa?" Tampangnya masih cemberut. Haechan menunjuk suatu arah dengan dagunya.
Sampai di depan mading Jaemin menarik bahu si pelaku yang membawa gambarnya sejak tadi.
"Dari mana kau dapatkan itu?"
"Wow ow, Kau tidak berhak menyentuhnya."
"Itu gambarku, darimananya aku tidak boleh menyentuhnya?" Haechan mengigit pipi dalamnya melihat Jaemin naik pitam.
"Jangan bercanda aku mendapatkan ini dari Haerin dan ia bilang ini miliknya." Bocah itu membuka kaca pelapis mading menempelkan gambar yang literaly milik Jaemin di sana, menutupnya menoleh dan menyeringai remeh pada Jaemin dan pergi berlalu tanpa berkata apapun.
Arrrghhh, bolehkah aku memutilasi seseorang saat ini. Jaemin menatap tajam siapapun bocah laki-laki kurang ajar tadi itu.
Ia paling tidak suka jika gambarnya di ketahui siapapun, sampai saat ini yang tahu hasil-hasil karanya hanya Haechan dan Hyung ter-menyebalkannya Jaehyun. Karna ia menorehkan semua karyanya bukan untuk siapapun apalagi uang dan popularitas, ia hanya melakukannya untuk dirinya.
Tangan Jaemin sepenuhnya terkepal. Ini menyebalkan, beneran deh.
Dengan kekesalan yang memuncak kakinya menghentak menuju kelas. Dan sepertinya belum
selesai hari sialnya dari kejauhan Jaemin mlihat seseorng yang ia benci.
Orang yang membuat hidungnya beradarah, orang yang membuat ia kesal seharia sampai hari ini, orang yang menghilangkan buku sketsanya. Jaemin melengos masuk ke dalam kelas tapi Jeno mengikutinya.
"Tunggu." Jeno berhasil meraih bahu Jaemin dan membuat bocah itu berbalik menghadapnya.
"..."
"Ini, aku minta maaf untuk yang kemarin." Jaemin tahu itu buku sketsa tapi buku itu bukan miliknya.
"Itu bukan milikku."
"Terimalah ini sebagai permintaan maaf karena ualahku kemarin." Eyesmile attack di depannya ini hampir membuat Jaemin luluh. Tanganya hampir terulur tapi dengan segera Jaemin menggeleng kuat-kuat.
"Aku tidak membutuhkannya."
Jaemin bisa mendengar bisikkan kata-kata 'Munafik', 'terima saja apa susahnya sih'. Ia menggertakkan rahangnya kseal.
"Aku terima permintaan maafmu, tapi aku tidak membutuhkannya. Jika kau sudah selesai kembalilah ke kelasmu." Jaemin berjalan acuh mnuju bangkunya dan Haechan.
Dengan tampang kecewa yang Hachan yakin bikin semua anak perempuan di kelasnya ingin membunuh Jaemin, Jeno menunndukkan wajahnya dan keluar dari kelas mereka.
"Kau melewatkan kesempatan Jaemin-ah."
"Aku tidak peduli, sekarang aku harus cari si Haerin-Haerin itu sebelum semua gambarku tersebar." Jaemin Hampir memasukkan Kimbab buatan Hyungnya sebelum di comot Haechan. Dan bocah itu memasang tampang tak berdosa sama sekali sambil mengunyah.
"Haerin? Maksudmu Seo Haerin?"
"Aku tidak tahu."
"Aaah, pantas saja kalau gambarmu di tempel di mading kalau gitu, dia kan ketua club mading pasti dia yang suruh."
"Tapi memangnya sampai harus di akui itu miliknya gitu? Bagaimana mading bisa bagus kalau mencuri ide seperti itu."
"Itu yang aku tidak tahu."
"Tapi kau tahu kan yang mana Seo Haerin itu?"
"Tuuuh, ia duduk tepat di belakangmu dan sedang menatap kita." Haechan terlalu santai sepertinya. Sampai tidak melihat jika Jaemin sudah beranjak ke si pencuri bukunya.
"Seo Haerin."
"A-ada apa Jaemin-ah?" Wajahnya tenang tapi kelakuannya mencurigakan.
"Di mana buku sketsaku?"
"Apa maksudmu?" Gadis itu menjawab pertanyaaan dengan pertanyaan lain.
"Beri tahu di mana bukuku sekarang apa susahnya sih." Tanpa sadar suarnaya meninggi dari yang ia maksud. Sampai semua orang di kantin memperhatikannya.
"Haduuuuh" Haechan mengusap wajahnya kasar, temannya ini tidak suka jadi pusat perhatian tapi kelakuannya malah begini.
"Aku tidak tahu." Bola mata Haerin bergerak acak dan Jaemin sudah pasti tahu anak ini berbohong.
Tidak ingin menambah keributan Jaemin menarik tangan si pencuri keluar dari kantin, ia tidak tahu ke mana tapi mereka berhenti di samping toilet dekat perpustakaan yang cukup sepi karena ini di ujung koridor.
"Jujurlah!" tatapannya tidak melunak sama sekali.
"A-aku, aku minta maaf Jaemin-ah. Sebenarnya, aku menyukaimu jadi aku melakukannya." Gadis itu menunduk takut.
"Dan dengan begini kau pikir aku akan melakukan apa?" Tidak ada intimidasi dalam suaranya, tapi nada datar itu membuat Haerin mengkerut seketika.
"Kembalikan bukuku." Jaemin mendekat dan mengukung Haerin dengan tangan kirinya di tembok.
"Hei, tidak pantas melukai seorang gadis begitu." Itu bukan Haechan, sekalipun bocah itu sejak tadi menonton Jaemin dan Haerin di sudut yang tidak terlihat sambil mengunyah sisa kimbap Jaemin, bocah itu tidak melakukan apa-apa selain menonton. Dan mengabaikan ponselnya bergetar sejak tadi. Pasti Mark hyung deh.
Itu suara Jeno.
"Kau harus berhenti."
Kening Jaemin mengkerut tak suka.
"Aku gak ngerti di mana urusanmu di sini, kenapa kau ikut campur?" Jeno menatap tatapan intimidasi Jaemin tanpa terganggu sedikitpun.
"Kau tidak boleh memukul seorang gadis seperti itu." Jaemin menghembuskan nafas kesal. Ia malah ingin memukul bocah ini sekarang.
"See? Tanganku masih bersih dari apapun yang ada di gadis itu, atau mau kau saja yang ku pukul hmm. Tuan ikut campur?" Jaemin menarik dasi lawannya yang lebih tinggi, hingga jarak wajah mereka sejajar dan cukup dekat.
Bocah itu malah tersenyum dan Jaemin melihat eyesmile attack untuk kedua kalinya hari ini, dan sialnya ekspresi itu membuat pipi Jaemin bersemu.
Jaemin mengalihkan rasa malunya dan agar jeno tidak melihat wajahnya yang memerah, bocah itu meninju wajah yang mirip dengan Lee Saem kecintaan para murid itu cukup keras.
Jeno tersungkur, dan refleks memegang pipinya. Anak yang tadi memukulnnya mematung air mukanya seperti baru di sihir atau semacamnya.
Jeno memandang Jaemin tak percaya. Bocah ini benar-benar memukulnya? Tapi rasa nyut-nyutan di pipinya menjelaskan semuanya.
"Kalian berdua, ikut aku." Entah datang dari mana ataumemang sudah keturunan keluarga itu. Lee Saem datang mengintrupsi merekaberdua.
