"Ada berita untukmu."
"...Berita? Berita apa?"
"Anak anjingnya hilang."
"APAAA??!"
-.-.-.-.-.-.-
Naruto © Kishimoto Masashi
5 Steps In a Relationship © Yonchan The Yaoi Hunter & BloominPoppies
Step #3: Oral sex
-.-.-.-.-.-.-
BRAK!!
Pintu ruang tamu kediaman keluarga Uchiha dibuka paksa dengan tanpa perikemanusiaan oleh sesosok pemuda berambut pirang yang kemudian berhambur ke dalam.
"Teme!! Kok bisa hilang sih??" ujar Naruto histeris sambil menggoncang-goncangkan tubuh Sasuke. "Kasihan Maiku-chan, kehidupan di luar sana terlalu kejam bagi seekor anjing kecil seperti dirinya."
"Ah, sabar Do—"
"Sabar apanya?! Bagaimana kalau nanti malam ia kedinginan sampai masuk angin?? Kurang gizi karena makan sampah busuk?? Dijahati anjing lain sampai luka-luka??" kata Naruto berapi-api. "Please, Sasuke..." Bulir-bulir air mata terlihat dari sudut mata Naruto. Mirip anak anjing yang memohon iba dari pemiliknya.
Sebagai pacar yang baik, Sasuke tentu saja tak tahan melihatnya. Dengan enggan ia menjawab, "Baiklah, ayo kita cari bersama."
Air muka Naruto berubah menjadi cerah seketika. "Huaa, Teme!! Kau baik sekali~" katanya sambil memeluk Sasuke dengan amat erat sampai-sampai Uchiha yang satu itu tak bisa bernafas.
xoxoxox
"Yosh! Kita mulai penyelidikan kita. Teme, terakhir kali kau lihat Maiku-chan di mana?" tanya Naruto belagak jadi detektif.
"Umm, semalam waktu terakhir aku kasih makan masih ada. Mungkin sekarang masih belum jauh dari sini,"
"Baiklah! Teme, kita berpencar mencari Maiku-chan. Aku ke Utara dan kau ke Selatan ya!" perintah Naruto.
"Hn."
"Oh, jangan lupa panggil namanya,"
"Hn."
"Yang keras sekalian, biar dia dengar,"
"Hn," Sasuke mengangguk. "Tapi aku tak yakin dia bakal menyahut bila dipanggil. Soalnya dari kemarin aku sama sekali tidak memanggilnya dengan nama itu," batin Sasuke.
xoxoxox
Sasuke berpikir bila ia menuruti perkataan Naruto maka usahanya akan sia-sia. Sebagai keturunan Uchiha yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata, ia mengerti hal pertama yang akan ia lakukan bila kehilangan salah satu anggota keluarga—maksudnya anjing— adalah melapor pada pihak berwajib.
"Maaf Pak, lihat anjing kecil berwarna coklat yang memakai pita pink?" tanya Sasuke pada seorang polisi yang sedang duduk-duduk di teras kantor polisi.
"Ah, bisa kau tunjukkan fotonya?"
"Hm, tidak ada. Dia anjing yang baru aku ambil beberapa hari yang lalu,"
"Maaf, saya tidak bisa banyak membantu bila tanpa foto. Di kota ini ada banyak anjing dengan ciri-ciri yang kau sebut tadi," ujar polisi malas-malasan.
"Sayang sekali ya," Sasuke menghela nafas. "padahal ada imbalan buat Pak polisi kalau bersedia membantu," gumam Sasuke seraya berpura-pura membuka dompetnya. Isi dompetnya yang berisi beberapa lembar uang seribu Yen terpampang dengan jelas. Spontan lelaki tua itu menelan ludahnya sendiri akibat melihat isi dompet Sasuke.
"Cih! Dasar polisi matre!! Sudah kuduga cara ini bakal berhasil," pikir Sasuke setelah melihat reaksi Pak polisi.
xoxoxox
"Maikuu!! Hoi, Maikuu!! DI MANA KAMU??" teriak Naruto sekencang-kencangnya. Ia berharap anjing kecil itu segera menghampirinya ketika mendengar namanya dipanggil.
"Maiku—"
PRANG!!
Sebuah wajan rombeng melayang dari balik tembok. Hampir saja kena kepala Naruto bila reflek tubuhnya tak bekerja dengan baik.
"BERISIK!! Ganggu orang tidur aja!!" sembur suara dari balik tembok itu.
"Aah—gomenasai," Naruto membungkuk meminta maaf.
xoxoxox
"Woi Itachi, katanya kemarin pulang kok tiba-tiba tadi malam tidur di sini, un?" tanya pemuda berambut pirang panjang pada Itachi yang asyik membaca koran.
"Aku kan sudah bilang kalau hanya pulang sebentar untuk mengambil perlengkapan tidur. Lagipula tugas kita tidak akan selesai bila kita semua tidak lembur semalam,"
"Betul itu, berterima kasihlah pada teman kita si jenius Uchiha Itachi," sambung Kisame seraya menyeringai. "Kalau tanpa dia pasti sekarang kita bakal sibuk. Orang seperti kau kan tidak bisa tidur terlalu malam, Deidara."
"Cih! Gaya tidurmu itu jelek sekali. Pipiku sakit gara-gara kau cubiti terus, un!" keluh Deidara sambil mencibir pada Itachi. Kisame hanya tertawa mendengarnya.
"Kalau pipi Senpai dicubiti terus, berarti tandanya Senpai manis," goda Tobi yang akhirnya berakhir dengan beberapa jitakan di kepalanya akibat membuat pemuda pirang itu naik pitam.
"Hmph, kenapa semua orang suka menggodaku? Menyebalkan!! Hanya Sasori saja yang tidak seperti itu, un," gumam Deidara.
Lebih tepatnya, hanya Sasori yang mengacuhkan Deidara karena sibuk berkonsentrasi memainkan video game. Namun konsentrasinya terpecah karena ia merasakan sensasi jilatan pada ujung kakinya...
xoxoxox
"Maaf Bu, lihat anjing kecil jantan berwarna coklat dan memakai kalung pink berkeliaran di sekitar sini?" tanya lelaki tua berseragam polisi itu pada ibu-ibu penjaga kios daging. Asumsi Pak polisi, seekor anjing yang kelaparan pasti akan menghampiri toko daging untuk meminta sisa-sisa daging sebagai pengisi perut.
"Err, dari kemarin aku belum lihat seekor anjing pun di sekitar toko," jawab Ibu itu.
"Ayo kita cari ke tempat lain," perintah Sasuke. Sepeda motor yang dikendarai Pak polisi dan Sasuke pun melesat meninggalkan tempat semula.
xoxoxox
"Maikuu!!" Naruto tak jemu-jemu memanggil nama anjing kecil itu. Omelan tetangga yang terganggu rupanya tidak membuatnya kapok. Naruto terus berjalan tanpa peduli arah.
"MEOW!! HISS!!"
"Aw!" seekor kucing mencakar betis Naruto hingga berdarah. Ekornya tak sengaja terinjak pemuda itu. Kucing yang malang...
xoxoxox
"Brengsek! Siapa yang menghabiskan sosisku? Padahal hanya ditinggal sebentar ke kamar mandi, tiba-tiba sudah raib," rutuk Hidan kesal.
"Bilang saja kau minta kubelikan makanan lagi. Dasar rakus!" kata Kakuzu sok tahu.
"Sialan, emang gue rakus banget sampai sosis satu kaleng ludes dalam lima menit?? Mikir pakai otak, bukan pakai penis!" sembur Hidan sambil menunjukkan jari tengahnya di depan muka Kakuzu.
Mendengar umpatan Hidan, Kakuzu langsung emosi dan mencekik leher pemuda berambut perak itu. Hidan berusaha melawan tapi tidak bisa. Oksigen di paru-parunya hampir habis.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya Itachi yang hendak mengambil cemilan di kulkas dapur.
"Ada orang rakus," jawab Kakuzu santai. Hidan sweatdropped mendengarnya.
xoxoxox
"Anjing kecil? Dari kemarin yang mondar-mandir di sini cuma Herder dan Bulldog. Tidak ada yang lebih kecil dari itu,"
"Yah, berarti tidak ada di sini ya?" tanya Pak polisi.
"Hn, bagaimana kalau ke taman? Siapa tahu ia mengikuti anjing betina yang sedang jalan-jalan di sana sampai tersesat dan tak tahu jalan pulang," saran Sasuke.
xoxoxox
"Maikuu..." Sudah empat jam ia berkeliling kompleks sambil berteriak memanggil nama anjing kecil itu. Suaranya pun makin lama makin serak.
JDUK!!
Kaki Naruto terantuk batu lalu tersandung. "Aduh sakit," keluh Naruto. "Hiks, Maiku-chan, kamu dimana?? Jangan buat Papa menderita karena sedih memikirkan kamu," batin Naruto.
xoxoxox
"Hoek! Kok kamarku bau pesing sih? Ini pasti ulah si topeng lolipop autis, un," ujar Deidara seraya menyerngitkan hidungnya. "Tobi! Kalau pipis ya di kamar mandi! Jangan di kamar gue!! Udah gede masih ngompol! Memalukan, un," hardik Deidara tepat di telinga makhluk autis itu.
Tobi yang sedang tidur-tiduran langsung bangkit berdiri. "A—aah, gomenasai, Senpai. Tapi Tobi—"
"Nggak ada maaf-maaf-an. Buruan bersihin kamar gue, un! Kalau nggak," Deidara mengacungkan ujung cutter ke arah Tobi seraya melancarkan teror 'death glare', "Gue cincang lo sampai jadi kornet, un," seketika Tobi bergidik ngeri.
Sementara di luar rumah Deidara, Kisame yang ingin pergi ke luar sedang berduka, menatap sandal kesayangannya. "Hiks, sandalku... Me—mengapa ini bisa terjadi??" Kisame meraih sandal malang yang telah rusak itu dengan hati-hati. Hatinya tercabik-cabik seperti kondisi sandalnya saat ini.
Sasori yang kebetulan hendak berjalan-jalan di taman karena jenuh bermain game menghampiri Kisame yang sedang sedih. "Ada apa Kisame?" tanya Sasori.
"A—ahh!" Kisame terkejut melihat sesosok mungil yang menyeruak di balik sosok pemuda berambut marun itu.
xoxoxox
"Maikuu!" Naruto terus memanggil nama itu tanpa henti. Walaupun kondisi tubuhnya sangat menyedihkan saat ini. Penuh dengan luka-luka akibat dicakar kucing, tersandung batu, tertimpuk bola baseball dan digigit anjing—yang untungnya bukan anjing gila.
Di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Sasuke yang menumpang sepeda motor milik polisi.
"Na—Naruto!! Pak, berhenti di sini. Terima kasih," Sasuke menyelipkan uang tanda terima kasih di saku baju Pak polisi lalu segera turun dari sepeda motor yang ditumpanginya dan berlari ke arah Naruto. "Kenapa kamu?"
"Sa—Sasuke!"
BRUK!!
Pemuda bermata biru itu ambruk. Dengan sigap Sasuke menopang tubuh pacarnya sebelum kepalanya menyentuh tanah.
"Naruto, bertahanlah!" pinta Sasuke.
"Sa—su—ke, aku... Sudah tak sanggup lagi..." tak lama Naruto memejamkan matanya.
"Naruto!! Jangan pergi!!"
"Aku letih Sasuke," gumam Naruto. "Zzzzz..."
Doeng!! Sasuke pikir kekasihnya sekarat. Ternyata hanya kecapekan.
Sasuke kini butuh tempat yang nyaman untuk membaringkan Naruto. Kediaman Uchiha letaknya jauh dari sini. Pak polisi yang mengantarnya ke sini sudah menghilang entah ke mana. Mustahil untuk membopongnya sendirian hingga ke tempat tujuan.
Sasuke teringat tentang kakaknya yang menginap di rumah temannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Kalau tidak salah kakaknya menginap di rumah Deidara—yang tak jauh dari sini. Ia berharap teman kuliah kakaknya—yang sudah dianggap seperti kakak kandung— mau menolongnya. Paling tidak sampai Naruto terjaga.
xoxoxox
Ting tong.
Akhirnya Sasuke sampai di rumah Deidara. Sang penghuni rumah menyambut Sasuke dan Naruto dengan pandangan heran. Ia bertanya, "Kalian kenapa? Kok dia bisa sampai seperti itu, un?"
"Ceritanya panjang, Deidara-niichan. Boleh aku meminjam kamarmu sebentar? Naruto butuh tempat untuk beristirahat. Ia kecapekan," kata Sasuke panjang lebar.
"Silahkan, un. Maaf kamarku berantakan. Baru saja dibersihkan," ujar Deidara seraya tersenyum ramah.
Sasuke membaringkan Naruto di ranjang empuk milik Deidara. Dengan dibantu teman kuliah kakaknya, ia membersihkan luka-luka di sekujur tubuh Naruto.
"Lukanya ringan namun bila tak segera ditolong bisa infeksi, un." ujar Deidara seraya memperhatikan lebam-lebam dan luka kecil di kaki, tangan dan muka Naruto. "Dia habis berkelahi, un?"
"Entahlah. Aniki mana?"
"Itachi sedang memasak bersama Hidan dan Kakuzu di dapur, un." jawab Deidara sambil mengolesi luka-luka Naruto dengan antiseptik lalu membungkusnya dengan perban. "Voila! Selesai. Oh, kau sudah makan, un?"
Sasuke menggeleng, "Tak usah repot-repot, Deidara-niichan,"
"Tak apa. Lagi pula ini masakan Itachi kok," ujar Deidara santai seraya beranjak ke luar kamar meninggalkan Sasuke dan Naruto.
Wajah Sasuke memucat. "Justru itu yang aku takutkan. Masakan buatan Aniki kan tak layak untuk dikonsumsi manusia," kata Sasuke dalam hati.
Sasuke tersenyum menatap wajah terlelap Naruto. Wajah itu terlihat damai, sangat berbeda ketika sedang terjaga. Sepasang mata yang menutup bagaikan bulan sabit, kulit kecoklatan karena terbakar sinar mentari, hidung yang berukuran sedang dan bibir mungil berwarna merah muda. Memori tentang ciuman pertama kali dengan Naruto selalu menyeruak bila ia memandang bibir yang indah itu. Rasanya ingin sekali ia melumat bibir kekasihnya sekali lagi.
Tangan Sasuke membelai pipi Naruto. Merasakan sensasi kehalusan kulit pemuda itu melalui indera perabanya. Telapak tangan itu kemudian menjelajah. Menelusuri setiap lekukan wajah Naruto. Dahi, kelopak mata, telinga, hidung, dagu dan bibir. Sasuke terfokus pada yang terakhir. Ia menekan-nekan bibir lembut Naruto. Dan tanpa sadar wajahnya terus mendekat hingga bibir mereka saling bersentuhan...
Naruto adalah putri tidur, Sasuke adalah pangerannya. Naruto yang terlelap akhirnya terjaga karena sensasi bibir lumatan Sasuke yang ia rasakan di bibirnya.
"Umh! T—teme,"
"Sssh!" Sasuke menenangkan Naruto. Ia lanjut melumat bibir kekasihnya itu. Makin lama makin mengganas. Tubuhnya kini berada di atas tubuh kekasihnya. Tangannya menyelinap masuk ke dalam baju yang menutupi tubuh Naruto. Meresapi keindahan lekuk-lekuk tubuh kekasihnya melalui indera peraba.
Semakin berani, Sasuke menyuruh lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Naruto. Menari-nari dan beradu dengan lidah Naruto yang tak kalah aktifnya.
Acara saling menikmati bibir satu sama lain berhenti. Mereka memutuskan untuk istirahat sejenak menghirup nafas sebanyak-banyaknya setelah berciuman dalam waktu lama.
"Ah, Dobe..."
"A—apa Teme?"
"Aku. Ingin. Kau. Jadi. Milikku. Selamanya..."
"Aku juga. Berjanjilah Sasuke,"
Sasuke mengecup bibir Naruto sekali lagi. Setelah itu ia berdiri dan melepas celana panjangnya.
"K—kenapa dibuka Teme? Panas ya? AC-nya hidup kok,"
Sasuke tertawa karena kepolosan Naruto. "Bukan, aku seperti ini karena ingin kau melakukan sesuatu."
"Sesuatu? Apa itu?"
"Lakukan hal yang aku mau, Na. Ru. To," desah Sasuke di telinga pacarnya.
Perlahan Sasuke melepaskan celana dalamnya. Menyodorkan kejantanannya yang telah menegang ke hadapan Naruto.
"Naruto, buktikan perkataanmu padaku. Hisap ini. Tandai bahwa aku milikmu di sini,"
"Ta—tapi Sasuke,"
"Ssshh," Sasuke menempelkan jari telunjuknya di bibir Naruto. "Tak ada kata 'tapi', kau sudah janji, kan?"
Naruto mengangguk. Sebagai seorang lelaki, bila ia sudah berjanji maka ia tak akan mengingkari janjinya. Walaupun janjinya itu sulit untuk dilaksanakan.
Naruto menggenggam penis Sasuke. Mendekatkan bibirnya dengan ujung kejantanan Sasuke yang telah memerah hingga akhirnya saling bertemu. Sasuke merasakan sensasi menggelitik-namun-nikmat saat itu.
"Kau tak apa-apa kan Sasuke?"
"Umm, lanjutkan saja,"
Naruto pun menurut pada kekasihnya. Ia kembali memasukkan kejantanan Sasuke ke mulutnya. Menggelitiknya dengan lidah, menghisapnya bagai kupu-kupu menghisap sari bunga bahkan menggigitnya perlahan karena gemas.
Pipi Sasuke memerah bagai tomat ranum. Nafasnya makin memburu. Detak jantungnya makin lama makin cepat sejalan dengan kejantanannya keluar-masuk di mulut Naruto. Pengalaman ini adalah pengalaman yang pertama kali bagi Naruto dan yang pertama kali juga bagi Sasuke. Baru kali ini Naruto mengabdikan cintanya sejauh ini. Baru kali ini pula Sasuke bersedia menyerahkan tubuhnya untuk ditandai sebagai milik seseorang.
"Naruto!" Sasuke melenguh. Seketika cairan putih itu menyembur keluar, memenuhi mulut Naruto dan bergabung dengan salivanya. Naruto tersedak, Sasuke memberikan minuman untuk mengobati kekasihnya.
"Uhuk! Rasanya aneh, Teme!!" keluh Naruto.
"Haha! Kalau kau mau, aku bersedia gantian,"
"He? Kau serius?" tanya Naruto heran.
"Ya, kalau kau bersedia,"
"Tentu saja, Teme," ujar Naruto bahagia. Ia segera melepaskan bawahannya hingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Sasuke tertawa geli melihat kejantanan Naruto. Dalam benaknya ia berpikir bahwa ukuran kekasihnya itu tak sesuai dengan ukuran pemuda yang sebaya dengannya. Memang kenyataan bila Naruto lebih kecil dari pada Sasuke.
"Cih! Kenapa tertawa Teme?" cibir Naruto.
"Haha, tak apa," gumam Sasuke. Ia memasukkan kejantanan Naruto ke dalam mulutnya.
"Ah!! Geli, Teme..."
Sasuke menghiraukan ucapan Naruto. Ia makin semangat memuaskan kekasihnya. Kali ini ia yang menorehkan tanda di tubuh Naruto. Membuat Naruto merasakan sensasi nikmat yang telah ia rasakan. Melayani Naruto dengan sepenuh hati.
"Jangan kencang-kencang," pekik Naruto ketika ia kejantanannya dimainkan Sasuke dengan tempo cepat. Sasuke sadar itu kurang nyaman, namun ia suka melihat reaksi Naruto yang ekspresif ketika protes karena merasa tak nyaman.
"Ah, Sasuke... Ngh!" akhirnya Naruto mencapai puncak kenikmatan. Cairan putih kental menyembur ke dalam mulut Sasuke. Sasuke pun menelannya hingga habis tanpa rasa jengah.
"Kau puas, Dobe?"
"Iya,"
"Mau merasakan yang lebih dari ini?" tanya Sasuke dengan pandangan menggoda.
"Umm—"
TOK! TOK!
Suara ketukan pintu menginterupsi acara mereka. Seketika mereka sadar bahwa dunia sudah bukan milik mereka berdua lagi. Bergegas mereka segera berpakaian.
"Masuk," kata Sasuke.
"Baka-otouto! Ke sini kok tidak bilang dulu?" kata Itachi.
"Err, tadinya aku tidak berencana ke sini. Kalau saja Naruto tidak pingsan di jalan—,"
"Sudah kubilang, adikmu ke sini karena bocah yang bersama adikmu itu tadi pingsan dan adikmu tak tahu harus ke mana, un." sela Deidara.
"Kau ini juga sama saja, Deidara. Adikku ke sini kenapa tidak memberi tahu aku?"
"Ah, banyak yang harus dia lakukan di sini. Lagipula adikmu itu kan sudah dewasa. Iya kan Sasuke, un?" ujar Deidara seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Sasuke.
Sasuke kebingungan, "Jangan-jangan Deidara-niichan tahu apa yang aku lakukan bersama Naruto,"
"Guk! Guk!"
Sesosok mungil muncul di antara Itachi dan Deidara. Sesosok anjing kecil berbulu cokelat yang memakai pita pink. Tak salah lagi, itu Maiku!!
"Pochi! Jangan sembarangan masuk kamar!" kata suara pemuda dari kejauhan. "Ah, sedang apa kalian kumpul-kumpul di sini?" tanya Sasori, pemilik suara itu.
"Maiku-chan?! Kenapa dia bisa di sini?" tanya Sasuke dan Naruto bersamaan.
"Lho? Kalian kenal anjing ini? Semalam dia mengajakku bermain. Makanya aku bawa menginap di sini. Kukira tidak ada yang punya," ujar Itachi santai.
Siiing!! Ternyata usaha Sasuke dan Naruto sia-sia. Anjing kesayangan—yang sudah dianggap anak—mereka ternyata tidak raib, melainkan dibawa pergi Itachi. Dua orang itu kemudian menjeduk-jedukkan kepalanya ke tembok seraya bergumam, "Baka. Baka. Baka. Baka!"
"Gomen, ne. Aku kira dia anjing liar, jadinya mau aku adopsi," kata Sasori.
"Hahahaha... Tak apa..." ujar Naruto lemas. Pengorbanan yang sudah ia lakukan sampai babak belur ternyata sia-sia. Begitu pula dengan Sasuke, kalau tahu begitu ia tadi langsung menghubungi Itachi. Tidak usah bersusah payah mencari ke sana ke mari sampai membuang-buang uang demi menyogok polisi.
"Oh, jadi dia pelaku pencurian sosis-sosis di dapur?" ujar Hidan yang datang tiba-tiba.
"Yang juga merusak sandal kesayanganku, huhuhu..." kata Kisame yang matanya masih sembab karena menangisi sandal kesayangannya.
"Ya, maafkan saja. Hanya seekor anjing kecil," kata Itachi.
"Betul," ujar Sasori.
"Semuanya pasti ada hikmahnya kan?" kata Sasuke seraya mengelus kepala mungil Maiku. "Setidaknya ada kemajuan berarti dalam hubungan kami,"
xXxXxXx
Please review this chapter before reading the next chapter!
