Mistery Solver
Disclaimer : I Don't Own Naruto But The Idea.
Warning : Author Masih Penulis Yang Amatir Dalam Menulis Cerita.
A/N : Special Thanks for Miyuko Namikaze karena telah member izin saya untuk mengambil ide dari ceritanya yang bertitle Hexagram.
Review Chapter 2 :
"Ini menunjukkan jika noda ini berasal dari pelaku pembunuhan yang mencoba memperkecil pergerakkan Ino – san yang melakukan pemberontakan sebelum pisau itu berhasil menusuk jantungnya." Jelas Naruto.
"Lalu siapa pelakunya Naruto – kun?." Tanya Iruka dengan tenang karena yakin jika pelakunya bukanlah dia.
"Pelakunya adalah…."
"Kau Sai – san." Kata Naruto sambil menunjuk muka Sai dengan jari telunjuknya.
"Kau salah Iruka – sensei, Sasuke – san tidak bunuh diri melainkan juga di bunuh." Jelas Naruto yang berhasil mengejutkan semua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu.
"Dibunuh?." Tanya Sai yang terkejut.
"Tapi siapa pelakunya?." Lanjut Iruka.
"Pelakunya adalah Sakura – san." Tunjuk Naruto pada Sakura yang kini menatap sekelilingnya dengan dengan wajah ketakutan.
Chapter 3 : Bloody Bimble.
'Sial.' Umpat Naruto dalam hati.
"Apa kakek benar – benar menyuruhku ikut BIMBEL di tempat seperti ini?." kata Naruto pada dirinya sendiri.
Kedua iris biru Naruto menatap gedung dua lantai di depannya dengan kedua iris yang tidak semangat, dan di setiap jendela di pasangi dengan besi penghalang. Bahkan letak sekolah ini pun tidak lazim kenapa tidak lazim itu karena letak sekolah ini di tengah – tengah hutan yang jauh dari kota dan mungkin saja di sekolah ini sinyal HP pun tidak sampai.
"Sial ternyata benar." Umpat Naruto untuk kedua kalinya dalam rentan waktu yang pendek ketika dia melihat di layar ponselnya yang ternyata tidak ada sinyal sama sekali.
Dengan berat hati Naruto melangkahkan kakinya mendekati gerbang sekolah yang akan menjadi tempatnya belajar selama tiga hari kedepan. Ya, dia akan belajar di sebuah tempat yang di namakan dengan tempat bimbingan belajar. Ini semua salah kakeknya, di saat teman – temannya menikmati liburan mereka selama tiga hari kedepan dia harus belajar di BIMBEL ini.
'Sial.' Umpat Naruto untuk yang ketiga kalinya.
Kedua iris biru miliknya bukannya melihat lurus kedepan agar tidak menabrak saat berjalan malah melihat keadaan sekitar BIMBEL ini yang menurutnya sedikit misterius.
"Brakk." Karena kedua matanya yang berlalu – lalang kesana kemari sampai – sampai dia tidak melihat jika di depannya ternyata ada seseorang yang mengakibatkannya menabrak orang itu sampai jatuh lain lagi dengan Naruto yang masih bisa menjaga tubuhnya agar tetap seimbang.
"Ittai." Kata orang itu kesakitan.
"Maaf!." Kata Naruto yang tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara orang yang di tabraknya.
Melihat orang yang di tabraknya masih jatuh ke tanah dan karena merasa bersalah Naruto mengulurka tangannya untuk membantu orang itu untuk berdiri.
"Terimakasih." Ucap orang itu setelah mampu berdiri.
Ketika orang itu sudah berdiri dari jatuhnya, kini kedua mata Naruto dapat melihat seperti apa orang yang di tabraknya. Orang yang di tabraknya itu ternyata seorang perempuan yang umurnya sekitar 1 tahun di atasnya. Perempuan itu memiliki rambut indigo yang lurus sampai pinggangnya dengan mata lavender tanpa pupil selayaknya orang buta tapi Naruto ragu jika perempuan yang di tabraknya adalah orang buta.
"Sekali lagi saya minta maaf!." Ucap Naruto.
"Ah, itu tidak apa – apa kok." Jawab perempuan itu.
"Oh ya, perkenalkan namaku Hyuuga Hinata." Kata perempuan itu sambil mengulurkan tangannya.
"Grabb." Uluran tangan gadis itu langsung di balas oleh Naruto dengan menerima uluran tangan perempuan itu.
"Aku Uzumaki Naruo senang bertemu denganmu Hinata – san." Kata Naruto yang sudah melepaskan tangan Hinata.
"Apa ini kali pertamamu mengikuti bimbingan belajar di sini Naruto – san?." Tanya Hinata pada Naruto.
"Ha'I, kalau kamu?." Tanya balik Naruto pada Hinata.
"Oh ini adalah kali keduaku untuk mengikuti bimbingan belajar di sini." Kata Hinata dengan sedikit tersenyum.
"Kali kedua?." Kata Naruto tidak percaya jika ada orang yang betah untuk ikut bimbingan belajar.
"Iya dan aku jamin kamu tidak akan menyesal setelah melihat hasil yang akan kamu petik setelah selesai mengikuti bimbel di sini Naruto – san." Timpal Hinata.
'Aku tidak yakin akan hal itu.' Batin Naruto yang pesimis jika dia tidak akan menyesal karena mengikuti bimbingan belajar ini.
"Sebaiknya kita segera masuk sekarang Hinata – san." Ajak Naruto pada Hinata yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Hinata.
…..
"Hai! Hinata – san." Panggil seseorang kepada Hinata ketika Hinata sudah memasuku area dalam sekolah.
Orang yang memanggil hinata adalah seorang lelaki yag umurnya dua tahun lebih tua dari Naruto, lelaki itu memiliki rambut pirang yang lurus dan pendek dengan kedua matanya yang berwarna cokelat.
"Eh, Takashi – san." Kata Hinata yang mengetahui jika orang yang memanggilnya itu adalah temannya di Bimbel ini.
"Siapa yang ada di sampingmu itu Hinata – san?." Tanya seseorang dengan lembut khas seorang perempuan yang berada di belakang Takashi.
Ketika mata biru Naruto menatap orang yang berada di belakang pemuda yang bernama Takashi itu, matanya menangkap sosok perempuan yang seumuran dengan Takashi. Dia memiliki rambut hitam yang tidak terlalu panjang dan juga mata yang berwarna senada dengan warna rambutnya. Perempuan itu bernama Akio Hana.
"Oh, dia adalah Uzumaki Naruto." Hinata langsung memperkenalkan Naruto pada Takashi dan Hana.
"Apakah mereka berdua temanmu di BIMBEL ini bulan lalu Hinata – san?." Tanya Naruto pada Hinata yang ternyata sudah memliki beberapa teman di bimbel ini.
"Mereka bisa kamu panggil sebagai kakak kelas Naruto – san karena mereka sudah mengikuti BIMBEL di sini kurang lebih sudah satu tahun terakhir ini." Jelas Hinata dengan senyuman di wajahnya ketika dia mendapati Naruto yang sedang emantapnya dengan wajah yang terkejut.
"Appppa?." Tanya Naruto dengan mulut yang terbuka lebar.
"Setelah melihat reaksimu itu aku yakin jika kamu Naruto –san adalah siswa yang paling bodoh yang aku temui." Kata Hana dengan ketus.
"Aku pun yakin jika kamu tidak akan sampai satu hari mengikuti BIMBLE ini kamu akan mengundurkan diri untuk segera pulang." Lanjut Hana dengan nada yang masih ketus.
'Sial belum genap satu jam aku ada di sini tapi aku sudah ingin pulang kerumah.' Runtuk Naruto dalam hati.
"Tenang saja Naruto – san, aku akan sangat senang sekali jika ada orang yang bodoh selain diriku di tempat seperti ini ha… ha … ha." Kata seorang lelaki yang mempuyai rambut pendek berwana hitam begitupun dengan kedua matanya yang berwarna hitam. Tetapi ada yang aneh dengan orang itu, entah itu adalah tanda lahir atau tato di kedua pipinya terdapat tanda segitiga merah yang terbalik. Dia adalah Inuzuka Kiba.
'Dan apa aku harus bangga karena aku di samakan dengan orang sepertimu.' Batin Naruto sembari menatap Kiba yang tengah berdiri di tangga yang tidak jauh dari posisinya berdiri.
"Tet …. Tet …. Tet …" Naruto yang lainnya begitu terkejut ketika kedua telinga mereka mendengar sebuah alaram pertanda kebakaran.
"Tap …. Tap …. Tap ." Dengan reflek mereka langsung berlari menuju asal suara alaram kebakaran itu muncul, setelah berlari sekitar lima menit akhirnya mereka menemukan sumber suara alaram pertanda kebakaran itu. Ternyata bukan hanya mereka saja yang tertarik dengan suara alaram tersebut buktinya di depan ruang yang dengan papan bertuliskan R.17 itu sudah berkumpul beberapa orang.
"Krieet." Bunyi pintu ruang 17 yang sudah di buka.
Ketika pintu sudah terbuka, semua pasang mata yang ada di sana begitu terkejut ketika menemuka salah satu siswa yang mengkuti program Bimbingan Belajar di temukan tidak bergerak dengan jarik telunjukknya menekan tombol yang berwarna merah yang Naruto sendiri percaya jika tombol tersebut adalah tombol untuk membunyikan alaram.
"Ao – san!." Panggil Kiba.
"Apa kamu tidak apa – apa?." Tanya Kiba yang masih berdiri di depan pintu seperti yang lainnya.
Tidak mendapat respon dari siswa yang bernama Ao itu dengan perlahan Kiba melangkahkan kakikanya untuk mendekati posisi Ao yang masih saja setia tidak bergerak sedikit pun seperti halnya saat dia pertama kali di temukan.
"Oi!." Kata Kiba sambil menggoncangkan pundak Ao.
"Brughh."sesuatu yang mengejutkan pun terjadi ketika Kiba menggoncangkan pundak dari Ao seketika itu juga tubuh Ao langsung terjatuh ke lantai.
"Hoi! Apa yang terjadi!." Teriak Kiba ketakutan ketika dia melihat tubuh Ao yang terkapar di lantai dengan tidak berdaya.
Mendengar teriakan Kiba, Naruto dan yang lainnya pun langsung mendekati Kiba. Mata biru Naruto langsung menganati tubuh Ao yang tergeletak di lantai. Dengan cekatan tangan Naruto langsung memeriksa apakah Ao masih bernapas atau tidak.
"Dia sudah mati." Kata Naruto yang mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan 17 itu.
"Apa maksudmu dia sudah mati?." Tanya Hinata yang sudah tubuhnya mulai bergemetar ketika dia mendengar jika perkataan Naruto.
"Yang aku bilang jelas kan jika Ao – san sudah mati beberapa menit yang lalu." Jelas Naruto.
"Lalu apa yang menyebabkan kematiannya?." Tanya seorang perempuan yang mungkin saja dia adalah siswi di Bimbel ini juga. Perempuan itu memiliki rambut pirang yang di kucir dua. Perempuan itu adalah Sabaku Temari.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?." Itulah yang keluar dari mulut semua orang yang ada di ruangan ini kecuali Naruto yang masih saja mengamati tubuh Ao.
"apa itu?." Tanya Naruto pada dirinya sendiri.
Tangan Naruto langsung mengambil sebuah buku yang ada di tangan Ao – san. Kertas itu memiliki judul ' Kunci Jawaban Untuk Ulangan Hari Ini. '. Saat kertas itu sudah ada di tangannya, mata birunya menangkap sejumlah jarum kecil yang terdapat di sisi kanan kertas itu dan di susun secara vertikal. Jarum itu di ujungna berwana merah akibat darah dan di pangkalnya berwana ungu.
"Dia mati karena berusaha mengambil kunci jawaban ini." jelas Naruto yang mempertontonkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu kertas yang di pegang oleh Ao.
"Apa kunci jawaban?." Tanya semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Mereka tidak percaya karena setaahu mereka pihak BIMBEL tidak pernah memberikan kunci jawaban setelah mereka melakukan ulangan.
"Tapi siapa yang memberikan hal semacam itu?." Kata seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahunan yang mempunyai rambut pirang panjang yang ia ikat dan juga mata yang berwana cokelat.
"Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk memberikan kunci jawaban kepada siswa setelah mereka selesai menyelesaikan tes hari ini." Kata wanita berambut pirang itu.
"Maaf anda siapa ya?." Tanya Naruto pada wanita berambut pirang itu.
"Aku adalah Senju Tsunade pimpinan di BIMBEL ini." Ucap wanita bernama Tsunade tersebut.
"Bolehkah aku melihat kunci jawabannya?." Tanya seorang wanita yang berumur sekitar 25 tahunan, dia memiliki rambut yang panjangnya sebahu dan berwarna hitam. Dia adalah Kato Shizune asisten pribadi dari Tsunade.
Mata hitam milik Shizune langsung melebar ketika dia mengamati kunci jawaban yang di berikan oleh Naruto.
"Ini adalah kunci jawaban yang palsu." Jelas Shizune.
"Apa?." Pekik Hana.
"Jadi bisa di simpulkan jika Ao – san adalah korban pembunuhan." Ucap seorang lelaki yang umurnya sama dengan Naruto, dia memiliki rambut berwarna merah pendek dengan mata berwana hitam dan juga tanda lahir dengan kanji 'Love.' Di jidatnya. Dia adalah Sabaku Gaara.
"Jika ini memang kasus pembunuhan lalu bagaimana cara pelaku membunuh Ao – san?." Tanya Hana.
"Bukankah itu mudah saja." Kata Takashi.
"Si pelaku pembunuhan dengan sengaja membuat kunci jawaban yang palsu dan memberitahukan kepada Ao – san letak kunci jawaban palsu tersebut." Jelas Takashi.
"Tapi bagaimana dengan kertas ini?." tanya Naruto yang menunjuka kertas dengan bertuliskan 'Bagi para siswa yang telah selesai mengikuti tes bisa mengambil kunci jawaban di ruang 17'.
"Itu…" balas Takashi yang nampak kebingungan.
"Kalau menurutku si pelaku sudah menargetkan Ao – san sejak awal." Jelas Naruto.
"Tapi bagaimana mungkin karena soal dan lembar jawab tes ini sudah ada di meja tes sebelum para siswa memasuki ruangan tes." Elak Tsunade yang tidak bisa menerima kesimpulan dari Naruto.
Semua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu pun langusng menatap Naruto seolah – olah mereka menanti jawaban yang akan dia berikan atas elakan dari Tsunade.
"Itu mudah saja, si pelaku dalam kasus ini menggunakan trik sulap pengambilan kartu." Kata Naruto yang berhasil mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"Trik sulap apanya! Jangan bercanda Naruto – san." Kata Takashi dengan nada mengejek yang sayangnya tidak di gubris sama sekali oleh Naruto.
"Trik sulap yang sering di tayangkan di televisi, dimana seorang pesulap menyuruh salah satu penonton untuk mengambil satu kartu yang nantinya sang pesulap akan mengeluarkan kartu yang sama persis diambil oleh penonton tadi." Jelas Naruto.
"Lalu bagaimana caranya si pelaku menyuruh Ao – san untuk mengambil tempat duduk sama persis dimana memo itu di letakkan?." Tanya Tsunade.
"Menurutku yang mengambil memo itu tidak hanya Ao – san saja tetapi semua peserta tes juga mengambil memo yang ada di meja mereka masing – masing tetapi di setiap memo itu menunjukan no ruang yang berbeda – beda dari satu memo dengan yang lainnya." Jelas Naruto.
"Penjelasan bohong apalagi yang kau bicarakan Naruto – san." Kata Takashi yang tidak mengerti dengan pembicaraan Naruto.
"Apa maksudmu seperti ini Naruto – san?." Tanya Hinata yang memperlihatkan secarik kertas kepada semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Darimana kamu mendapatkan kertas itu, Hinata – san?. Tanya Tsunade.
"Tadi ada seorang siswa yang menjatuhkannya." Kata Hinata.
Di secarik kertas itu ada tulisan yang sama seperti kertas yang ada di genggaman Ao – san tadi dan seperti dugaan Naruto ternyata di memo itu menunjukkan no ruang yang berbeda. Di kertas yang di pegang Hinata bertuliskan 'Bagi para siswa yang telah selesai mengikuti tes bisa mengambil kunci jawaban di ruang 03'.
"Lalu kalau memang benar di sini sudah terjadi pembunuhan kenapa tidak ada yang menelpon polisi?." Tanya Hana dengan wajah panik.
"Apa kamu lupa Hana – san jika sinyal telepon di sini tidak ada?." Celetuk Kiba.
"Bagaimana kalau kita pulang saja karena sepertinya tempat ini sudah tidak aman?." Tanya Hana lagi.
"Kamu mau jalan kaki hah, apa kamu lupa tempat ini jauh dari perkotaan dan bukankan kendaraan yang menjemput kita akan kesini tida hari lagi?. Kini giliran Gaarayang menomentari celetukan Hana.
"Bolehkah aku meminjam kunci jawaban tadi Shizune – sensei?." Pinta Naruto pada Shizune yang masih memegang kunci jawaban palsu itu dengan tangan yang bergetar.
Setelah menerima kunci jawaban yang di berikan oleh Shizune, Naruto secara hati – hati membuka agar tangannya tidak terkena racun yang ada di jarum – jarum tersebut,lembar demi lembar kunci jawaban tersebut. Tapi apa yang ia dapat mengejutkannya karena kunci jawaban itu kosong.
Tapi kedua matanya membeku ketika dia sampai di halaman terakhir, di halaman terakhir tersebut ada sebuah gambar bunga mawar, #FF0000, MM RM HM RM MR RW MA MM RA EA.
'Apa ini….' Batin Naruto.
To Be Continue.
…
Note :
Apa ada pembaca yang tahu maksud dari mawar, #FF0000, MM RM HM RM MR RW MA MM RA EA?.
Dan untuk kasus kedua cerita saya memang mendapat inspirasi dari cerita Hexagram by Miyuko Namikaze dan saya pun sudah mendapat izin darinya.
Dan tidak lelah saya meminta para pembaca yang belum fav, fol, review cerita saya untuk mereview, fav dan follow cerita saya ini.
Dan bagi yang udah fav atau fol tolong berikan Review kalian lagi.
I'm Out.
