"Siapa kau?" Rasa takutku mulai mereda,

"Aku?" Ia tersenyum, "Aku pelindungmu..."

.

.

THE NIGHT

Disclaimer: Animonsta studio

Warning: Fanfic dari autor newbie, Typo, jelek, OC, OOC, alur ga jelas dll

.

.

Selamat Membaca~~

.

.

.

O-o-O

"Pelindungku?" tangannya terulur, terlihat bahwa ia ingin membantuku berdiri. Dengan ragu, kuraih tangan itu.

Hey, Tangannya hangat! Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya.

Ya, aku merasa tenang untuk sekarang.

Aku coba bangkit tapi Ah sial, kakiku sakit, sepertinya terkilir.

Kurasa potongan tangan itu terlalu kuat menggenggam pergelangan kakiku, kakiku memar.

"Kau terluka?" tanyanya, aku hanya menangguk sebagai jawaban. Dan untuk kesekian kalinya ia tersenyum. Ya itu sebuah senyuman dan bukan seringaian..

Ia merendahkan tubuhnya. Mataku terpejam.

Aku rasakan pemuda itu mengangkat tubuhku dan membawaku kedalam dekapannya,

"Bolehkah aku menggendongmu seperti ini?"

Benarkah pemuda ini adalah pemuda yang menemuiku hari itu? Kenapa ia sangat berbeda?

"Akanku jelaskan itu nanti," sebentar, apa tadi ia baru saja membaca pikiranku? "Sudahku bilang akan aku jelaskan semuanya nanti, termasuk tentang kenapa aku bisa membaca pikiranmu" ia berancang-ancang, "sekarang berpegangan!" aku merasakan adrenalinku terpacu, tubuhku seperti melayang saat pemuda itu melompat dengan menjadikan rak-rak buku itu sebagai tumpuan kakinya.

"Kau akan membawaku kemana?" tanyaku.

"Tentu saja pulang" Pulang? Bukankah pintu diperpustakaan ini hanya ada satu?

Matanya terfokus pada 1 titik, mata itu kembali berubah warna seperti saat pertama kali aku berjumpa dengannya. Merah.

Mau kemana sebenarnya ia membawaku? Berlahan aku melihat ke arah tujuannya. APA?

DINDING?! Dia gila? Dia akan menabrakan tubuhku kedinding? Dan oh, seringaian itu lagi.

.

Bagus Yaya, kau mempercayai orang yang salah.

.

Boboiboy POV

Aku melihat gadis itu terpejam dalam gendonganku, sungguh aku mati-matian menahan tawa melihat wajahnya yang bodoh itu terlihat ketakutan. Dasar bodoh!

Dinding itu semakin dekat, gadis itu semakin mencengkramku, entah mengapa aku merasa bahwa Yaya berbakat menjadi seorang pembunuh berantai.

Ah aku sangat menyukai saat-saat seperti ini. Saatnya melompat, Ya sekarang saatnya

.

.

Yaya POV

Aku membuka mataku, pemuda gila ini benar benar gila, ia benar-benar akan menabrakan tubuhku kedinding. Kurasakan ia melompat sedikit lagi tubuh kami akan menabrak.

"TIDAK!"

.

.

NORMAL POV

sebuah cahaya putih muncul, mata pemuda itu terpejam menyusul Yaya yang sudah terlebih dulu memejamkan mata.

Berlahan namun pasti, tubuh pemuda itu menerobos dinding dengan mudah.

Secepat kilat ia berpindah kesebuah cabang pohon besar yang berada tepat dihadapan dinding yang ditembusnya. Dilihatnya gadis dalam gendongannya yang masih menutup matanya kuat-kuat. "Hey.." suara lembut itu memancing Yaya untuk membuka matanya.

"Kita belum mati?" kedua alis pemuda itu menaut mendengar pertanyaan Yaya yang menurutnya terdengar konyol, "Apa kau merasa berhenti bernafas? Aku yakin tidak!" Yaya terdiam. Dalam hati ia membenarkan perkataan pemuda itu.

"Lalu kenapa kau tidak lewat pintu tadi?" Boboiboy terdiam sejenak, "Ada hantu tanpa kepala menunggu kita di depan pintu, aku sedang malas berurusan dengan mereka"

Hantu tanpa kepala..? Astaga.. Dan apa katanya tadi..? Mereka? Mereka siapa?

"Sudahlah, ayo kita pergi" tanpa menunggu jawaban dari Yaya pemuda itu melompat dari cabang pohon ke atap-atap sekolah.

"Hey.. Aku belum tau namamu.."

langkah pemuda itu terhenti.

"Boboiboy" 'Boboiboy? Nama yang aneh' pikir Yaya

"Kau fikir namamu itu bagus hah?" mata Boboiboy menatap Yaya tajam, "Cih. Tidakku sangka ternyata gadis manis sepertimu sangat suka mengkritik"

Yaya merasakan wajahnya mulai memanas. Dan satu hal yang dapat disimpulkan oleh Yaya, pemuda yang menggendongnya ini sangat menyebalkan.

Boboiboy mulai bergerak dengan cepat ia berpindah, kedua mata itu penuh kewaspadaan. Seakan akan siap membunuh siapapun yang menghalangi jalannya, tentunya dengan Yaya yang masih ada dalam gendongannya.

"Kenapa kau selalu membaca pikiranku?" tanya Yaya.

"Kenapa kau tidak membaca pikiranku?" Boboiboy balik bertanya?

"Ternyata kau belum menyadari siapa dirimu" lanjut Boboiboy.

Yaya benar-benar tidak mengerti perkataan pemuda ini. Wajar, mengingat, perkataan pemuda itu yang selalu ambigu.

"Benarkah? Lalu siapa dirimu?" Boboiboy menyeringai mendengar pertanyaan Yaya. Seakan-akan perkataannya hanya suatu bentuk lelucon.

"Menurutmu, siapa aku?" Emosi Yaya sudah benar-benar di ujung tanduk, sepertinya ia benar-benar ingin memukul pemuda ini.

"KATAKAN SAJA!" Boboiboy tertawa, Yaya mengerenyitkan dahi Ya rasanya dugaannya benar, pemuda ini benar-benar sakit jiwa.

"Dengan berjalannya waktu, kau akan tau,"

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Hingga tanpa sadar Yaya telah sampai dirumahnya.

Boboiboy menurunkan Yaya.

Yaya berjalan dengan masih papah oleh Boboiboy. Yaya bersyukur, tentu hal ini bisa mempermudah dirinya untuk membuka pintu rumahnya.

Dan ya, sepi seperti biasa.

Yaya menatap hampa kearah ruang tamu, ia merindukan keluarganya, mendapatkan beasiswa membuatnya harus tinggal jauh dari keluarganya itu. namun ia menyadari akan satu hal bahwa ia harus bertahan di pulau ini, meski banyak tantangan yang menunggu untuk di hadapi.

Mata Yaya beralih kepada Boboiboy. Boboiboy memandangi kakinya yang membiru itu.

Berlahan Boboiboy mendekat, di keluarkanya pisau kecil dari sakunya, disentuhnya luka memar itu dengan ujung pisaunya, dan menenggelamkan sebagian belati itu kedalam daging pergelangan kaki Yaya.

Yaya terdiam, tubuhnya tidak sedikitpun bergerak. darah mulai mengalir...

Apa.. Apa yang dia lakukan..? Dia menusukan pisau itu ke kakiku, kulitku terkoyak, ia memutarnya.., rasa ngilu dan perih menyatu.

Aku ingin menjerit namun mulutku seperti terkunci, tubuhku tidak bisa digerakan sedikitpun, Oh ini buruk!

Kulihat darah mulai membasahi tempat tidurku.

Suasana dingin mulai terasa, tirai-tirai tertutup. gelap.

aku hanya bisa melihat dua titik kemerahan yang aku tau itu asalnya dari kedua mata Boboiboy. sebenarnya siapa dia?

Suara jeritan terdengar, benda-benda di kamarku semuanya seperti berjatuhan,

tiba tiba aku merasa ada yang menarikku.

lolongan anjing terdengar.

Dan kini aku merasa sesak, aku benar-benar kesulitan bernafas.

Cahaya kemerahan muncul dari kedua lengan Boboiboy.

Cahaya itu membuatku bisa melihat untaian rambut membelit leherku.

Dari kakiku keluar sosok yang amat mengerikan, seorang wanita tanpa lengan dengan muka hancur merayapi tubuhku. Aku menahan nafas saat wajah hancur itu tepat berada di depan wajahku, bau busuk menyengat.

Wanita itu menyeringai kuku-kukunya yang tajam ia arahkan ke dadaku, dibawah tulang leherku ia menekan kukunya.

Aku melihat Boboiboy bangkit ia mencengkram wanita itu dan menempelkannya kedinding, wanita itu menjerit-jerit.

"Kau-" Mata Boboiboy menyala. Boboiboy menyeringai "Tidak pernah menyerah rupannya"

Jeritan wanita itu semakin terdengar ketika Boboiboy meremas tubuh itu hingga hancur, menyisakan onggokan daging berserakan.

Tirai-tirai tersingkap menampilkan langit gelap yang menunjukan ini sudah larut malam.

Onggokan daging itu menghilang, bersamaan dengan itu aku melihat mata Boboiboy yang kembali berwarna kecoklatan.

Ia mengambil belati yang menancap di kakiku, menariknya cepat, seakan ingin mengurangi sakit yang aku rasakan.

Dan ya, tubuhku sudah bisa digerakan seperti semula.

Kulihat ia mendekatkan wajahnya kepergelangan kakiku. Ia menyeka tetesan darah itu dengan lidahnya, dan luka itu menghilang.

Ia tersenyum disatukannya dahiku dan dahinya.

"Kau akan baik-baik saja, mereka tidak akan mampu mengganggumu selama masih ada aku"

Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat matanya, aku mampu melihat senyum tulusnya, dan aku mampu melihat kehangatan di sana.

"Aku tau kau.." Berlahan ia memberi jarak dari wajahku.

"Siapa?" Tanyanya.

"Kau malaikat pelindungku" Ia kembali tersenyum dan menepuk kepalaku.

"Jika kau berfikiran begitu.. maka tetaplah berfikiran begitu"

Dan ia pun menghilang..

Yaya terdiam, ia masih merasakan kehangatan itu.

Meski Boboiboy telah pergi namun ia yakin, Boboiboy akan selalu melindunginya.

Boboiboy memasuki ruangan kelas bekas reruntuhan itu, lolongan anjing penjaga sekolah terdengar melengking.

Tiba dihadapannya seorang pria berpakaian serba hitam. Boboiboy merunduk memberi hormat.

"Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?"

"Sesuai seperti yang anda inginkan.." ujar Boboiboy.

Pria berpakaian hitam itu tertawa memecah kesunyian malam.

O-o-O

TBC

.

.

.

yaaaahh kependekan :'( #nangis

Terimakasih untuk semua yg sudah memfollow,mem-fav, dan mereview fanfic hana :D

Mohon maaf atas keterlambatan hehe laptop hana rusak huhuhu :'(

dan setelah ini hana usahakan dua hari sekali update :D

dan jg maaf atas segala kekurangan fanfic ini *Bungkuk2*

dan ini genre Supernatural horornya jadi ngga berasa..

dah hana sekarang kelas 12 hehe tapi anggap ajah masih 5 tahun hahahaha

sekali lagi terimakasih :D

.

.

.

review ya review?