Foodie
.
.
.
Disclaimer : semua hanya punya tuhan, termasuk storylinenya.
.
.
.
Pair : Various pairings (or you can request too) ((only for bap, bts, toppdogg, and got7))
Genre bisa berubah di setiap update.
.
.
.
Inspired by food, ofc. ((authornya doyan makan))
.
.
.
Chapter 3, Jimin X Jungkook : Sandwich (1.252 words)
Rating : K
Genre : Friendship, a bit Romance
"Aku lebih memilih makan bekal di kelas bersamamu dibanding makan bersama teman-temanku di kantin yg padat itu..."
.
.
.
Happy reading, readers!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Park Jimin menemukan Jeon Jungkook terduduk di pojok kelas sendiri, di hari pertamanya belajar di sekolah ini. Di tangannya tergenggam sebuah kotak makan berwarna merah marun polos. Park Jimin tentu saja tak akan mengacuhkannya—memangnya siapa yg bisa mengacuhkan Jeon Jungkook si anak baru?
"Jungkook." Suara khas Jimin menyapa telinga si bocah Jeon itu.
"Ah, halo hyung." ucapnya.
"Kenapa disini? Tidak ke kantin? Memangnya tidak lapar?" tanya Jimin berurutan.
"Kantinnya ramai, hyung. Lagipula lebih nyaman makan di kelas." Jungkook tersenyum lembut.
Ah, Jimin hampir lupa, bocah besar ini diganggu oleh para kakak kelas—atau lebih tepatnya para fansnya tadi saat bel masuk. Baru masuk hari pertama saja sudah populer, ya.
"Hyung sendiri tidak ke kantin?" tanya Jungkook.
"Aku membawa bekal." Jimin tersenyum sembari menunjuk pada kotak makan berwarna biru di genggamannya.
"Makan bersamaku, hyung." Ucap Jungkook sembari mengisyaratkan Jimin untuk duduk di sebelahnya.
Jimin menuruti. Jimin memang bertekad untuk menjadi teman Jungkook yg selalu menuruti keinginan Jungkook seperti seorang kakak menuruti keinginan si adik. Bahkan sejak 3 jam lalu pertama kali Jungkook masuk di kelasnya, Jimin sudah bersumpah dia menganggap Jungkook adalah adiknya sendiri. Karena yg Jimin tahu, bocah jenius itu ikut program percepatan 2 tahun, makanya dia sekarang sekelas dengannya. Dan Jimin berasumsi bahwa Jungkook lebih muda darinya, dan memang fakta.
Jimin memperhatikan Jungkook yg membuka kotak makannya penasaran,
"Ah, sandwich!" gumam si bocah besar.
Jimin menatap tak percaya, menunya sama dengan menu bekal yg dia bawa hari ini. Karena dia ingat betul tadi pagi Sehyuk menyiapkan sandwich untuk bekalnya.
"Aku juga." Jimin membuka kotak makannya, dan tersenyum.
"Kebetulan ya." Jungkook melirik kotak makan biru itu, dengan pandangan senang.
"Hyung buat sendiri?" tanya Jungkook.
"Tidak, kakakku yg membuatnya." Jawab Jimin.
"Ah, enak sekali pasti..." nada bicara Jungkook berubah sedih.
"Hei, kenapa?"
"Hyung tidak keberatan aku bercerita?"
"Nope." Dan Jimin mendengarkan cerita Jungkook dengan seksama.
.
Kini Jimin sedikit menyesal karena membuat Jungkook bercerita. Pasalnya, sekarang si bocah besar itu matanya berair, dan sedikit merah. Jimin mengeluarkan sapu tangan putih yg selalu dia bawa di saku celana sekolahnya, kemudian memberikannya pada Jungkook. Dan Jungkook mengambil sapu tangan itu, kemudian mengelap matanya yg berair.
Jimin heran, bagaimana bisa si bocah besar yg dikenal ramah dan murah senyum itu ternyata menyimpan kesedihan sendiri. Dia tinggal di rumah yg besar bersama pembantunya, karena walaupun orang tuanya juga tinggal disana, mereka jarang sekali pulang kerumah, mengurusi pekerjaan. Jimin benci fakta bahwa Jungkook adalah anak tunggal, karena dia tahu pasti akan sangat kesepian dirumah besar hanya dengan para pembantu. Jimin mengutuk orang tua Jungkook, dan juga berterima kasih kepada para pembantu Jungkook yg selalu menemani si bocah besar itu.
"Tak apa, kamu masih punya aku sebagai temanmu di sekolah." Tapi aku menganggapmu lebih dari teman, batin Jimin.
Jungkook menatap Jimin yg kini mengusap-usap punggungnya, tepat di manik hitamnya, lalu menghembuskan nafasnya.
"Terima kasih, hyung." Jungkook tersenyum.
Dan mereka melanjutkan makan bekal sandwich mereka, sebelum bel tanda istirahat telah berakhir berbunyi.
.
Esok harinya, Jimin baru saja akan keluar dari pintu kelas untuk menyusul teman-temannya di kantin jika saja ekor matanya tidak menangkap sosok Jeon Jungkook duduk diam memakan sandwich di pojok kelas lagi.
Jimin pun menghampiri bocah besar itu, kemudian duduk di kursi depannya, namun menghadap ke si bocah besar.
"Sandwich lagi?" tanya Jimin.
"Hanya ini makanan yg bisa kubuat dengan tanganku sendiri selain roti selai kacang." Jawab Jungkook.
"Sayang sekali aku lupa bawa bekal." Ucap Jimin.
"Kamu mau, hyung?" Jungkook menggeser kotak makan merah marunnya ke hadapan Jimin, menawarkan 3 potongan sandwich yg tersisa.
"Tidak, aku belum lapar." Jimin tersenyum, kemudian menggeser kotak makan itu kembali ke hadapan Jungkook.
Jungkook balas tersenyum, lalu menutup kotak makannya.
"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Jimin.
"Aku sudah kenyang."
.
Jimin memegangi perutnya. Mengutuk sedikit kepada pencernaannya yg kini menjerit karena lapar. Sedikit menyesal karena tidak menerima tawaran Jungkook tadi. Dan sekarang adalah pelajaran Kim-seonsaengnim, tidak mungkin dia akan berbohong pada sang guru mengingat dia adalah murid kepercayaannya.
Jungkook yg duduk di sebelah Jimin memperhatikannya. Tidak, Jimin tidak menyadarinya, tentu saja. Jungkook tersenyum lalu mengeluarkan kotak makannya dari laci mejanya, memasukkan entah apa itu kedalam kotak makan itu lalu kembali menutupnya, kemudian berbisik pada Jimin.
"Hyung." Tangannya mengulur dan menaruh kotak makan itu ke dalam laci meja Jimin.
"Makanlah." Lanjutnya, kemudian kembali memperhatikan Kim-seonsaengnim yg sedang menjelaskan materi di depan kelas.
Jimin bersumpah perutnya langsung sunyi saat Jungkook menaruh kotak makan itu di laci mejanya. Jimin tersenyum pada Jungkook yg kini tak menatapnya, seolah senyumnya mewakili rasa terima kasihnya pada si bocah besar.
Dan Jimin membuka kotak makan itu, menemukan 3 potong sandwich yg masih utuh dan secarik kertas kecil.
'Mulutmu bisa berbohong padaku, tapi perutmu tidak, hyung.'
Dan Jimin tersenyum saat rasa hangat menjalar ke dadanya setelah membaca tulisan itu.
.
Jimin menemukan dirinya yg rutin menemani Jungkook makan bekal di kelas akhir-akhir ini. Beberapa temannya seperti Taehyung, Sangwon, dan Jongup bahkan mengeluhkan perubahan sikapnya. Ya, selama ini Jimin dikenal sebagai anak yg populer karena kemampuannya bernyanyi yg suka sekali menghabiskan waktu bersama teman-temannya di kantin sekolah. Namun sejak mengenal Jungkook 3 bulan yg lalu (waktu berjalan cepat sekali), Jimin mulai melupakan kepopulerannya dan menjadikan kelas sebagai tempatnya menghabiskan waktu di sekolah. Jimin yg selama ini dikenal berwatak keras kepala, kini menjadi lebih lembut sejak mengenal Jungkook. Beberapa teman sekelasnya bersyukur, dan beberapa tidak. Tapi Jimin tidak peduli. Karena Jungkook mengambil perhatiannya.
"Jimin, ayolah, sudah hampir 3 bulan kamu tidak melangkahkan kakimu di kantin! Bahkan ahjumma pengurus kantin menanyakanmu, tahu!" ucap Taehyun sembari tangannya menarik lengan Jimin.
"Taehyung, aku tidak mau. Lagipula aku bawa bekal, untuk apa makan makanan kantin lagi."
Bibir Taehyung membentuk pout sempurna.
"Andai saja si Jungkook itu tidak masuk kelas kita." Cibirnya sembari menatap sinis pada Jungkook yg duduk di samping Jimin, menunduk sedih.
"Taehyung, apa masalahnya denganmu? Jungkook tidak membuat masalah apapun padamu." Ucap Jimin datar, namun terdengar jelas Jimin menahan emosinya.
"Kalau saja tidak ada dia, kamu tidak akan jadi seperti ini. Bahkan dia merebutmu dariku. Kamu kan sahabatku, Jimin!" balas Taehyung.
"Sahabat? Taehyung berhenti mengatakan kebohongan. Kamu hanya datang kepadaku saat kamu butuh. Kamu berteman denganku hanya agar kamu juga populer dan Seokjin si kakak kelas yg kamu suka itu akan melirikmu, bukan?"
Dan Taehyung terdiam.
Jungkook masih menunduk, tetapi sedikit mendongak saat mendengar langkah kaki Taehyun yg menjauh.
"Hyung, kenapa berkata seperti itu pada sahabatmu?" ucap Jungkook.
"Aku berbicara fakta, Jungkook." Balas Jimin.
Jungkook menunduk lagi. Tidak, Jungkook tidak mau merusak persahabatan siapapun.
.
Jimin terkejut saat keesokan harinya Jungkook menolaknya untuk makan bekal bersama.
"Makanlah di kantin bersama teman-temanmu hyung. Jangan disini, kita berbeda."
"Kamu ini bicara apa?" Jimin menatap Jungkook dengan tatapan bingung.
"Hyung, kumohon. Aku tidak mau dicap sebagai perusak persahabatan. Tolong jangan makan bekal bersamaku lagi. Kita berbeda, hyung. Kamu populer dan punya banyak teman sementara aku kebalikanmu."
Jimin berdiri terdiam. Tangannya menggenggam kotak makan birunya dengan keras, menyalurkan amarahnya pada kotak makan tak berdosa itu.
"Tidak. Tidak karena aku memilihmu sebagai teman."
"Aku lebih memilih makan bekal di kelas bersamamu dibanding makan bersama teman-temanku di kantin yg padat itu...
...Karena kamu teman yg berharga."
Jungkook menatap Jimin, terkejut.
"Kamu berharga karena kamu tidak seperti mereka, kamu berbeda, Jungkook."
"Aku bahkan rela bawa bekal setiap hari karena makan di kelas bersamamu terasa lebih menyenangkan dibanding bersama mereka di kantin."
Jungkook tak bisa menahan senyumnya, dia pun menarik Jimin untuk duduk di sebelahnya, lalu memeluknya.
"Terima kasih, hyung." Dan Jimin membalas pelukan itu.
Setelah mereka melepaskan pelukannya, Jimin membuka kotak makannya.
"Bawa bekal apa, hyung?"
"Sandwich. Kamu?"
"Sama."
Dan keduanya menghabiskan bekal mereka dengan senyum terukir di bibir masing-masing.
.
.
.
End
Waaaaaaa maaf ya update kilat. Niatnya mau kasih jarak beberapa hari haha. Tapi mumpung ide lagi mengalir ya gak apa deh. Oh iya, di chapter lalu saya gak nulis apapun di kolom author's note. Sekarang nulis nih /ya. Buat yg request Kidoh x Seogoong tunggu di chapter 4 ya^^ dan maaf kalo readers mereview tapi saya gak respon, maaf bgt, I'm a bit males balesin review but thanks for reviewing T-T
Mau nyampein banyak makasih sama soo-iceu aka dayen yg selalu baca, review, dan support ff saya (don't know how many times I'm saying thank you to her). Dan bagi readers yg mau request biar pairnya dibikinin fict, jangan di review box ya, karena saya juga jarang ngeliatin review hehe'-')v bisa request di twitter, mention aja saya di instagyeom :)
Terima kasih banyak sudah mantengin dan nungguin ff ini update ya, terima kasih sudah baca, bahkan mereview. Terima kasih banyak :* Dan maaf kalo saya ada/banyak salah sama readers, minal aidzin wal faidzin ya, mohon maaf lahir dan bathin muah :** (sebentar lagi kan lebaran hahaha).
Xoxo, Dhana.
