Langkah kaki menggema dilorong panjang dengan nuansa putih. Beberapa pintu dilewati oleh seorang pria yang melangkah dengan perlahan tapi pasti. Pria itu sudah tidak asing lagi dengan tempat ini. Beberapa kali Ia mengunjungi tempat ini dan menemui orang yang sama. Berhenti didepan pintu dengan sebuah nama yang tertulis di pintu tersebut 'Dr. Lee Taeyong'

Pria tersebut mengetuk pintunya dua kali, setelah mendengar suara dari dalam yang mempersilahkannya untuk masuk Ia membuka pintunya. Pria tersebut disambut oleh wajah yang seakan bosan melihat dirinya. Dan Ia hanya tersenyum. Orang dihadapannya ini, sangat tampan dengan kaca mata yang membingkai kedua mata bulat dan indah, juga rambut hitam legam, dan hidung yang terbentuk sempurna. Tidak ada kata lain yang bisa mendeskripsikan orang ini selain kata Tampan.

"Aku sudah tau itu pasti kau, aku bosan melihat dirimu Kim Doyoung" sapaan khas terdengar oleh Doyoung. Orang yang baru saja memasuki ruangan yang bernuansa putih. Taeyong, orang yang didatanginya mungkin terlihat tidak senang dengan kedatangannya, namun Doyoung tau itu hanyalah cirri khas orang tersebut untuk menyambutnya.

Doyoung duduk di kursi yang berhadapan dengan Taeyong, mereka berdua dipisahkan oleh meja yang diatasnya terdapat monitor dan juga beberapa tumpukan kertas. Taeyong adalah orang yang rapi, jadi sebanyak apapun tumpukan kertas dan barang-barang yang terdapat diatas mejanya tetap saja tertata dan tersusun dengan rapi.

"Kau mau kopi?"

"Teh lebih baik"

Taeyong mendecih namun Ia tetap melayani orang yang baru saja datang mengunjunginya ini. Ia meraih pesawat telepon yang tidak jauh dari jangkauannya. Mendial nomer ekstensi "Tolong bawakan dua cangkir Teh ke ruangan ku" usai berucap begitu Ia menutup teleponnya.

"Ku tebak, pasti ini tentang dia lagi kan?"

Doyoung mengangguk. Satu alasan yang paling kuat untuk mengunjungi teman lamanya yang merupakan seorang psikiater ini tidak lain tidak bukan adalah masalah itu. Doyoung selalu menceritakan semua masalahnya kepada teman lamanya dan juga merupakan teman bertengkarnya jaman sekolah menengah dulu. Doyoung tidak punya tempat lain untuk mencurahkan segala masalahnya, atau mungkin lebih tepatnya masalah orang lain kepada temannya ini.

"Pasien yang sesungguhnya bukan dirimu. Jika kau ingin masalah ini selesai maka kau harus membawa dua orang itu kepadaku agar aku bisa mencoba menyelsaikan masalahnya. Aku harus berhadapan dengan mereka. Jika seperti ini terus bagaimana aku bisa membantu?"

Taeyong memang benar. Seberapa sering Doyoung datang kesini tidak akan dapat menyelsaikan masalah. Karena orang yang sesungguhnya memiliki masalah adalah mereka, bukan dirinya. Tapi Doyoung tidak bisa melakukan lebih. Doyoung tidak punya kuasa, Ia masih lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mampu melihat, memperhatikan, mengamati setelah itu mencurahkannya kepada temannya ini. Doyoung sadar, sebenarnya Ia tidak melakukan apapun selama ini, yang dilakukannya hanya diam mengamati. Bagaimana Ia bisa merubah segalanya jika hanya ini yang mampu Ia lakukan.

"Jika saja membawa mereka kehadapanmu adalah hal yang mudah. Aku sudah melakukannya dari dulu Lee Taeyong"

Suara pintu diketuk menginterupsi keduanya. Taeyong mempersilahkan orang yang baru saja mengetuk pintu ruangannya. Seorang wanita dengan nampan yang diatasnya terdapat dua cangkir Teh menghampiri keduanya. Taeyong mengucapkan terimakasih dan setelahnya wanita yang mengantarkan Teh tersebut keluar, meninggalkan Taeyong dan Doyoung kembali berdua. Taeyong menyeruput Teh nya, Ia juga membiarkan Doyoung meminum suguhan tersebut.

"Aku tidak tau lagi apa yang harus ku lakukan"

"Sudah sejauh mana?"

"Kau tidak akan bisa membayangkannya"

Taeyong hanya menghembuskan napasnya. Ia melihat raut wajah Doyoung yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jika diibaratkan bagaikan raut benang yang kusut, sangat sulit untuk diluruskan kembali. Doyoung menyimpan beban yang bahkan menurut Taeyong seharusnya tidak perlu Doyoung pikirkan. Hidup Doyoung baik-baik saja, yang bermasalah adalah hidup orang yang menjadi cinta bagi Doyoung. Taeyong ingin menolong, tapi dirinya juga tak bisa berbuat apapun.

"Tinggalkan saja dia. Kau menyiksa dirimu Doyoung"

Doyoung menggeleng pelan. Sejujurnya dia pernah memikirkan hal itu juga. Tapi Ia tidak bisa. Doyoung masih menggenggam cangkir Teh nya. Telunjuknya berputar pada cangkir tersebut, Ia menatap air Teh yang tenang di dalam cangkir tersebut. Air Teh yang tenang tidak seperti pikirannya yang bahkan sedetik saja tidak bisa berhenti memikirkan apa yang harus dia lakukan. Hanya Doyoung yang tersiksa disini, dan Doyoung yakin mereka bahkan tidak menyadari dan merasakannya.

"Jika memang aku harus meninggalkannya. Aku ingin meninggalkan dirinya dengan keadaan normal. Dia bisa mencintai siapa saja, aku rela. tapi tidak dengan adiknya!" Doyoung menegaskan kalimat terakhirnya "Itu gila, dan aku tidak ingin meninggalkannya seperti itu"


IN TIED BLOOD

Johnny

Jaehyun

Doyoung


Happy Reading


Suara pemanas air yang bersiul memenuhi ruang dapur sebuah flat dipagi hari. Salah seorang penghuninya mondar-mandir sana sini. Fokus pada sebuah bubur yang sedang dimasaknya, mengaduknya dan mencicipinya sedikit. Ia berjengit saat merasakan lidahnya yang mengecap rasa yang aneh. Suara siulan berhenti kala orang tersebut mematikan kompor yang mendidihkan air. Ia mengacak rambutnya frustasi, dapur bukanlah tempatnya, dirinya tidak mempunyai keahlian ditempat ini. Ia melihat sekelilingnya. Kacau, begitulah dapur nya sekarang yang benar-benar kacau seperti habis di guncang oleh gempa bumi. Ia menghembuskan napas menyerah. Smartphone canggih yang terletak diatas meja Ia raih, mendial sebuah nomer yang akan membantunya.

"Mom, bantu aku" ucapnya saat suara di seberang sana menyapanya "Jaehyun sakit dan aku tidak bisa membuatkan bubur untuknya"

Bukannya mendapat jawaban yang diinginkannya sambungan langsung terputus setelah suara wanita diseberang sana mengatakan "Eomma akan kesana sekarang juga, berikan saja dia segelas susu"

Johnny menyerah. Ia sudah melakukan yang terbaik, dan Ia tidak ingin meracuni Jaehyun dengan masakannya. Mungkin bubur buatan ibunya akan jauh seratus kali lebih baik. Ia menuangkan susu kedalam gelas dan kembali ke kamar Jaehyun. Urusan dapur yang berantakan bisa dipikirkan nanti.

Johnny dengan perlahan membuka pintu kamar Jaehyun. Adiknya masih tertidur pulas, dengan handuk di dahi yang Johnny gunakan untuk mengkompres nya. Semalam demam Jaehyun semakin tinggi, bahkan Johnny hampir tidak tidur karena Jaehyun terus merintih didalam tidurnya. Ia meletakkan gelas susu yang dibawanya di meja nakas. Menyingkirkan handuk dari dahi Jaehyun dan memeriksa suhu tubuh adiknya. Masih panas walau tidak separah malam tadi. Johnny tidak tega membangunkan Jaehyun, Ia merapatkan selimut adiknya dan mengelus pelan pipi adiknya. Sudah pucat kulit adiknya itu dan sekarang semakin pucat saja dia.

"Cepat sembuh"

Johnny tidak beranjak dari tempatnya. Masih terus memperhatikan adiknya, sesekali Ia mengelap keringat di dahi adiknya. Ia juga mengatur suhu kamar dengan baik. Ia sudah mengabarkan teman kantornya dan juga atasannya jika Ia tidak akan masuk hari ini. Dia tidak mungkin meninggalkan Jaehyun sendirian dengan keadaan seperti ini. Doyoung juga sudah menghubunginya tadi, dan mengatakan akan mampir usai pekerjaannya selesai. Sudah satu jam dan Johnny masih setia menemani adiknya. Ia bahkan sudah berbaring disamping Jaehyun dan menunggu adiknya itu sampai terbangun. Johnny kurang tidur karena semalaman menjaga Jaehyun. matanya terasa berat dan Ia hampir saja tertidur namun sebuah suara menyapa pendengarannya.

"Hyung"

Johnny tersenyum kepada adiknya. Suara serak Jaehyun membuatnya prihatin kepada adiknya ini. Ia dengan lembut mengelus rambut kecoklatan itu, sedikit basah karena peluh yang membasahi akibat demamnya. Ia juga menyentuh kening Jaehyun guna memeriksa suhu tubuhnya. Jaehyun merapatkan dirinya kepada Johnny dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang kakak nya itu. Elusan pelan yang diberikan Johnny dipunggungnya benar-benar membuatnya merasa nyaman.

"Eomma akan kesini nanti. Aku tidak bisa membuatkan bubur untukmu, maaf yah"

Jaehyun bergumam menanggapi kakaknya.

"Jaehyun, duduk dulu sebentar, aku sudah sediakan susu"

Jaehyun menggelengkan kepalanya dan menarik kaos yang digunakan Johnny agar Johnny semakin mendekat kepada dirinya. Ia tidak memiliki hasrat untuk makan atau minum, kepalanya terasa pusing dan untuk bangkit saja rasanya berat sekali.

"Kau belum makan dari kemarin"

"Aku tidak mau Hyung, nanti saja"

"Seo Jaehyun!" Johnny memanggil Jaehyun dengan penuh penegasan. Ia hanya khawatir jika adiknya ini semakin parah saja nantinya. Jika di ingat-ingat Jaehyun belum makan apapun sejak kemarin sore, dan sekarang dirinya sedang sakit, perutnya harus diisi sebelum Ia minum obat nanti.

Jaehyun hanya diam sedikit menekuk bibirnya kebawah tanda bahwa Ia protes dengan pemaksaan Johnny yang menyuruhnya minum susu. Jaehyun memang menggemaskan saat ini, namun Johnny tidak ingin terhanyut oleh Jaehyun yang sedang merajuk begitu. Ia membantu Jaehyun untuk duduk dan memberikan gelas berisi susu yang sudah disiapkannya tadi. Dengan perlahan Jaehyun meneguk sedikit demi sedikit susu yang diberikan, dahinya sedikit berkerut karena rasa susunya yang aneh, mungkin karena memang lidahnya yang sedang tidak enak. Jaehyun tidak sanggup menghabiskan semua, dirinya bisa muntah karena mual jika dipaksa untuk menghabiskan segelas penuh.

"Sudah Hyung, aku tidak mau lagi" Jaehyun memberikan gelas yang setengah isinya sudah Ia minum. Johnny tidak ingin memaksa, setidaknya Jaehyun sudah mengisi perut kosongnya.

"Tunggu Eomma datang, nanti dia akan memberikanmu bubur" Johnny meraih gelas dari tangan Jaehyun, Ia merapikan rambut adiknya yang sedikit berantakan karena terus menerus berbaring di tempat tidur "Tadi ada temanmu yang menghubungimu, Mingyu namanya. Ia menanyakanmu kenapa kau tidak hadir kuliah. Jadi ku bilang padanya jika kau sakit"

"Apa Mingyu tidak mengatakan hal lain? Tugas atau kuis misalnya"

"Tidak"

"Syukurlah" Jaehyun menghembuskan napasnya lega. Ia kini menatap kakaknya yang masih merapikan rambutnya, kini tangan kakaknya meraih topi hoodie yang Ia kenakan dan menariknya, menutupi kepala Jaehyun dengan topi hoodie tersebut. Melihat mata dengan warna madu yang indah milik kakak nya itu membuat Jaehyun jadi teringat hal semalam. Yang semalam tadi adalah first kiss nya. Jaehyun tidak menyangka jika kakak nya lah yang akan mencuri ciuman pertamanya. Semburat merah muncul di kedua pipinya kala Ia kembali teringat dengan hal tersebut. Tentu saja hal itu disadari oleh Johnny.

"Kau kenapa? Apa demam mu kambuh lagi?" Johnny menyentuh kening adiknya dan memeriksa suhu tubuhnya. Masih demam hanya saja tidak separah itu.

"Hyung"

"Hm?"

Jaehyun memilin ujung hoodie yang Ia kenakan, nampak ragu dengan apa yang ingin Ia katakan kepada Johnny. Ia menunduk tidak berani menatap mata indah milik sang kakak. Melihat mata dan terutama bibir milik sang kakak benar-benar membuatnya mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam.

"Ada apa Jaehyun? Apa kau butuh sesuatu? Kau mau ku ambilkan minum?"

Jaehyun menggeleng pelan. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah karena apa yang ingin Ia katakan ini seakan tersangkut di tenggorokannya.

"Ng...soal yang semalam...Itu..." Jaehyun semakin meremas hoodie nya. Semburat merah di pipinya menjalar ke kedua telinganya. Ia benar-benar malu mengatakan hal ini. Johnny tersenyum melihatnya. Ia senang Jaehyun tidak melupakan begitu saja tentang ciuman mereka semalam.

"Apa?" Ia meraih dagu Jaehyun dan mengangkat wajah adiknya yang terus menunduk. Memaksa adiknya untuk menatap dirinya ketika berbicara. Sedikit menggoda Jaehyun yang sedang sakit mungkin akan sangat menyenangkan.

"Hyung...kau...mencuri ciuman pertamaku" Jahyun berkata pelan sekali, namun Johnny dapat dengan jelas mendengarnya.

"Benarkah?" Johnny mendekatkan dirinya kepada Jaehyun, membuat Jaehyun sedikit memundurkan wajahnya kala kakak nya semakin mendekat "Bagus, memang harus aku yang mencurinya bukan orang lain"

"Tapi..."

"Jaehyun, kau menikmatinya?" Johnny menarik Jaehyun yang semakin menjauh. Ia menatap dengan lekat kedua manik mata milik adiknya ini. "Aku tanya padamu apa kau menikmatinya? Yang semalam" Ia mendekatkan wajahnya kepada Jaehyun, dirinya dapat merasakan napas Jaehyun yang panas karena suhu tubuhnya. Hidung mereka sudah bersentuhan. Johnny memberikan sedikit kecupan di bibir Jaehyun, membuat adiknya itu sedikit terkejut dibuatnya.

"Hyung..." Jaehyun ingin menjauhkan diri. Ia bisa terkena serangan jantung jika seperti ini. Bahkan sedaritadi dadanya bergemuruh karena perlakuan Johnny. Namun kakak nya ini tidak membiarkannya. Johnny menahan belakang kepalanya, mengurangi pergerakan Jaehyun.

"Bahkan semalam kau takut menularkan demam mu padaku"

"Tapi Hyung, kita..."

"Ku tanya, apa kau menikmatinya?"

Jaehyun dengan pelan menganggukkan kepalanya. Bohong jika Ia tidak menikmatinya. Semalam itu adalah ciuman pertamanya. Dan Johnny memberikannya dengan sangat baik dan menghanyutkan. Jaehyun tentu saja sangat menikmati dan menyukainya, dan Ia tidak akan melupakannya.

"Kau menikmatinya, begitu juga dengan ku. Itu sudah cukup"

"Apakah boleh? Kita ini..."

"Boleh!" Johnny menjawab pertanyaan Jaehyun dengan tegas. "Kau dan aku sama-sama menyukainya. Jadi lupakan saja hal yang lain"

"Bagaimana jika...hhmp"

Johnny membungkam Jaehyun dengan bibirnya. Johnny mengerti dan paham betul apa yang ingin Jaehyun katakan. Dan Ia tidak ingin mendengarnya, Ia tidak ingin mempedulikannya. Dan Johnny ingin Jaehyun juga begitu. Johnny menekan belakang kepala adiknya, semakin memperdalam ciumannya. Ia merasakan Jaehyun yang meremas pergelangan tangannya. Jaehyun sudah menutup matanya, begitu pula dengan Johnny. Mereka berdua terlarut dengan kegiatan mereka. Bahkan Jaehyun sampai melupakan keraguan dalam hatinya berkat sentuhan yang diberikan oleh kakaknya ini. Tanpa Ia sadari Johnny sudah mendorongnya untuk berbaring.

"Hyunghh.." Jaehyun mendorong dada bidang Johnny. Ia butuh bernapas, posisi kakak nya sudah sempurna menindih tubuhnya. Johnny menatap adiknya yang sedang mengatur napasnya, Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Suhu ruangan ini memanas seketika karena apa yang baru saja mereka lakukan. Darah mengalir dengan cepat ditubuh kedua kakak beradik ini, karena napsu yang mulai menyelimuti.

"Lihat, kau menyukainya Seo Jaehyun" Johnny mengecup kening adiknya "Kau juga menikmatinya" kecupan lembut itu kini turun di pipi yang merona merah dihiasi dengan dimple yang cantik ketika Jaehyun tersenyum.

"Jadi lupakan apa yang menjadi keraguan mu itu, kau mengerti?" Johnny kini menatap Jaehyun dan memberikannya keyakinan. Jaehyun menganggukan kepalanya. Mencoba menepis segala keraguannya. Mencoba membenarkan apa yang seharusnya terlarang. Sama seperti apa yang dikatakan Johnny.

Jaehyun menutup kedua matanya kala Ia melihat Johnny yang semakin mendekatkan wajahnya. Tinggal beberapa centi lagi jarak mereka terhapus, namun...

Ting...Tong...

Suara bell berbunyi menghentikan mereka berdua. Johnny merutuk dalam hati. Tinggal sedikit lagi Ia bisa menyentuh bibir manis milik adiknya ini.

"Itu pasti Eomma" Johnny mengecup singkat pipi Jaehyun sebelum Ia bangkit dari posisinya "Aku akan buka pintunya" Ia bergegas keluar untuk menyambut sang ibu.

Sepeninggalan kakak nya, Jaehyun mengatur napasnya agar debaran di jantungnya ini kembali normal. Ia tidak mungkin berhadapan dengan ibunya dalam keadaan seperti ini. Apalagi penyebab dibalik semuanya. Jaehyun tidak mau membuat ibunya terkena serangan jantung karena apa yang telah mereka lakukan.

"My baby boy" Jaehyun menoleh dan melihat ibunya yang masuk kedalam kamarnya. Dibelakangnya ada Johnny yang menenteng barang bawaan sang ibu. Jaehyun tersenyum saat sang ibu memeluknya "Lihat, baru beberapa hari kalian tinggal sendiri seperti ini dan kau sudah sakit. Apa kau pusing? Demam mu tinggi?" wanita cantik itu memeriksa Jaehyun, menyentuh pipi dan juga keningnya, Jaehyun hanya terkekeh pelan dengan perlakuan ibunya ini.

"Aku tidak apa-apa Eomma, hanya demam biasa"

"Sudah minum obat?"

Jaehyun mengangguk menjawab pertanyaan ibunya. Sementara sang ibu hanya mengerutkan keningnya mengetahui anaknya yang sangat sulit menelan sebutir obat ini dengan mudah menjawab pertanyaannnya. Ia pikir Jaehyun akan menggelengkan kepala, atau merengek karena Ia tidak bisa. Apa kebiasaannya itu sudah hilang?

"Bagaimana caranya?"

"Huh?"

"John, kau apakan adikmu ini sehingga dia bisa menelan obatnya?"

Kini sang ibu melirik anak sulung nya yang daritadi hanya berdiri diambang pintu. Johnny langsung menegakkan badannya, sedikit berdeham menanggapi pertanyaan ibunya. Jaehyun memperhatikan kakak nya dengan cemas, berharap sang kakak tidak mengatakan hal yang tidak-tidak.

"Ng...seperti apa yang Eomma lakukan hehe" Johnny terkekeh pelan, agar ibunya tidak melihat atau menyadari kebohongannya sesuatu yang disembunyikannya, sebuah kenyataan.

Sang ibu kini kembali menatap Jaehyun dengan mata yang memicing, membuat Jaehyun tersentak kaget karena ibunya yang langsung menoleh dan menatapnya seperti itu "Kau merepotkan kakak mu, dia bahkan sampai tidak kerja karena dirimu"

"Maaf"

"Sudah makan?"

"Dia bahkan harus kupaksa untuk minum susu" Johnny menggantikan Jaehyun untuk menjawab pertanyaan ibunya. Membuat sang ibu semakin menatap anak bungsunya dengan tajam.

"Seo Jaehyun..."

"Mulutku tidak enak, ingin muntah saja rasanya ketika memasukan makanan"

"Kau sedang sakit jelas saja tidak enak. Eomma bawakan bubur, John tolong panaskan buburnya sebentar yah, agar adikmu ini makan dan minum obatnya setelah itu"

Johnny mengangguk dan bergegas ke dapur untuk melaksanakan apa yang diperintahkan ibunya. Setelah cukup hangat bubur buatan ibu nya ini, Ia meletakannya ke dalam mangkuk, Johnny juga menyediakan segelas air, juga obat yang akan diminum setelahnya nanti. Semua yang telah Ia sediakan Ia letakan diatas nampan dan membawanya ke kamar Jaehyun. Ibu nya menanyakan kepada Jaehyun ingin disuapi atau tidak. Namun Jaehyun bersikeras untuk memakan makanannya sendiri, Ia cukup malu untuk disuapi ibunya diumurnya sekarang. Jaehyun menelan dengan paksa apa yang dimakannya, seenak apapun masakan ibunya, tetap saja lidahnya sekarang sedang tidak berfungis seperti biasanya. Ia bahkan lebih sering meneguk air daripada menyuap buburnya.

Jaehyun menyerahkan mangkuk buburnya yang isinya masih sisa setengah "Sudah"

"Belum habis"

"Aku tidak sanggup menghabiskannya Eomma"

"Yasudah tidak apa, sekarang minum obatnya"

Wanita cantik itu mengambil alih mangkuk ditangan Jaehyun, kini Ia memberikan segelas air dan satu kapsul obat yang akan di minum oleh anak bungsunya ini. Jaehyun menerimanya dengan ragu, Ia melirik sang kakak yang masih memperhatikannya di belakang ibunya. Ibu nya memandangnya, menunggunya, karena Ia sangat penasaran apakah anak bungsunya ini sudah menghilangkan kebiasaan lamanya. Dipandang seperti itu membuat Jaehyun mau tidak mau memasukan kapsul obat ini kedalam mulutnya dan meneguk segelas air. Dengan susah payah Ia mencoba untuk menelannya.

"Sudah tertelan?"

Jaehyun mengangguk menjawab pertanyaan ibunya.

"Sungguh?" mendapat anggukan dari Jaehyun lagi membuat ibunya tersenyum "Bagus kalau begitu, Eomma akan bereskan ini" ibunya bangkit dan membersihkan sisa makan Jaehyun, meninggalkan kedua anaknya didalam kamar.

Johnny yang masih berdiri bersandar di tembok memperhatikan adiknya tersenyum menyeringai kepada sang adik, membuat Jaehyun menunduk tidak berani menatap Johnny.

"Coba buka mulutmu Seo Jaehyun"

Jaehyun sudah duga, kakak nya itu pasti mengetahuinya, Ia berbohong. Jaehyun dengan perlahan membuka mulutnya,terlihatlah kapsul yang belum di telannya. Ia berbohong pada ibunya tadi. Johnny tertawa kecil melihatnya, Ia sudah tau itu, bagaimana bisa ibunya tertipu oleh anggukan Jaehyun. Johnny bergegas menutup pintu kamar dan menguncinya, Ia tidak ingin ambil resiko jika tiba-tiba ibunya membuka pintu kamar ini dan melihat apa yang akan Ia lakukan. Kini Ia meneguk segelas air yang masih tersisa menyimpan air itu didalam mulutnya, berdiri dihadapan Jaehyun yang terduduk di kasurnya. Jaehyun mendongak kala sang kakak menarik paksa dagunya dan membuka mulutnya kala ibu jari dan telunjuk kakak nya itu menekannya.

Johnny melakukannya seperti apa yang telah Ia lakukan semalam. Ia memindahkan air yang ada di dalam mulutnya ke dalam mulut Jaehyun. Membantu adiknya untuk mendorong obat yang susah di telannya, mengunci mulut sang adik dengan bibirnya agar tidak dimuntahkan obatnya. Dorongan yang diberikan oleh Johnny benar-benar membantu Jaehyun untuk menelan obatnya. Johnny kembali menggunakan lidahnya, mengeksplorasi mulut adiknya untuk memastikan jika obat itu sudah tertelan. Bergidik seluruh tubuh Jaehyun kala sang kakak menyentuh lidahnya. Tautan mereka terlepas, Johnny mengusap ujung bibir Jaehyun dengan ibu jarinya.

"Cepat sembuh Jaehyun, sekarang istirahat, aku akan bantu Eomma di dapur" Johnny mengecup sekilas pipi adiknya, membuatnya merona sebelum Ia meninggalkan Jaehyun untuk membantu ibunya di dapur sana.

Jaehyun terdiam dikamarnya. Ia tidak tau jika ini benar atau salah, debaran di jantungnya membuatnya tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bolehkah dia seperti ini dengan kakak kandungnya sendiri? Tapi Ia menyukainya, Jaehyun tidak pernah merasakan hal seperti ini ketika bersama orang lain. Jaehyun tidak tau apakah jika orang lain yang melakukannya akan terasa sama? Mata berwarna senada dengan madu milik kakak nya itu benar-benar menghanyutkannya, membutakannya, membuatnya lupa dengan segalanya, dengan status mereka. Haruskah Jaehyun mendengarkan kakak nya? Untuk melupakan segala keraguannya dan tidak mempedulikan semuanya. Seketika Jaehyun tersadar, Ia bukan hanya melupakan statusnya dengan sang kakak, Ia melupakan seseorang, sebuah nama muncul didalam benaknya, Kim Doyoung.

Jaehyun membenamkan wajahnya ke dalam bantal, dan menggeram rendah. Ini gila, dia tau ini gila tapi Ia tidak bisa menghindarinya. Jaehyun tau dia berdosa, tapi Ia tidak bisa lepas, perasaannya seperti merantainya, membuatnya tidak bisa melepaskan diri. Perasaannya ini mengendalikan tubuh dan pikirannya.

'Kau menyukainya, kau juga menikmatinya. Lupakan semua yang menjadi keraguanmu'

Perkataan kakak nya terngiang di benaknya. Jaehyun tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai. Benar, Ia menikmatinya untuk apa mempedulikan keraguannya. Bahkan kakaknya juga merasakan hal yang sama dengannya, Jaehyun tidak perlu meragukannya lagi.

.

.

.

Jaehyun bersandar di bahu lebar Johnny, tubuhnya terbungkus oleh selimut. Mereka berdua kini tengah duduk diruang tengah melihat acara TV yang menayangkan tayangan animasi untuk anak-anak dengan tokoh ulat berwarna kuning dan merah. Jaehyun dan Johnny sesekali tertawa disaat melihat adegan lucu. Johnny juga sibuk mengupas buah apel ditangannya, buah yang dibawa ibunya tadi saat berkunjung. Ibu nya sudah pulang sejak tadi siang saat Jaehyun tertidur. Johnny menyerahkan apel yang telah Ia kupas kepada Jaehyun, namun di tolak olehnya, biasanya Jaehyun tidak pernah menolak makanan. Jaehyun masih belum berselera makan. Tidak menyerah, Johnny memasukan dengan paksa potongan apel tersebut kedalam mulut Jaehyun saat adiknya itu tertawa.

"Hyung..." Jaehyun merajuk dengan mulutnya yang dibenuhi buah apel didalamnya. Ia melirik kakak nya kesal.

"Kau hanya makan bubur seharian, apa salahnya makan buah. Tidak akan terasa pahit di lidahmu"

Jaehyun mau tidak mau mengunyah apa yang ada di mulutnya ini. Johnny juga tidak henti memberikan Jaehyun buah-buahan segar yang sudah di kupasnya. Adiknya masih dengan nyaman bersandar di bahunya dengan selimut yang menutupi tubuhnya membuatnya merasa hangat. Kegiatan mereka terus seperti itu, sampai Jaehyun menolak disuapi buah terus menerus oleh Johnny karena dirinya sudah kenyang. Mereka mendengar suara tombol interkom flat mereka yang ditekan. Sudah bisa menebak siapa yang datang. Pintu terbuka, orang yang baru saja memasuki flat besar ini melepas sepatu dan mantelnya, meletakkannya di tempat yang sudah disediakan. Doyoung, orang yang baru saja datang kini melangkah masuk. Dirinya disambut oleh pemandangan Johnny dan Jaehyun yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Ia tesenyum dan menghampiri dua kakak beradik tersebut.

"Bagaimana kabarmu Jaehyun? aku dengar kau sakit" Doyoung meletakkan barang bawaannya diatas meja. Ia berlutut dan memegang kening Jaehyun untuk memeriksa suhu tubuhnya. Jujur saja, Doyoung sedikit khawatir saat Johnny mengabari bahwa Jaehyun sakit, karena Jaehyun sudah dianggap seperti adiknya sendiri.

"Sudah lebih baik Hyung"

"Apa yang kau bawa?" Johnny melirik barang bawaan Doyoung. Bawaannya tidak sedikit, Doyoung membawa beberapa bungkusan plastik yang tidak Johnny ketahui apa isinya. Kecuali paper bag yang bertuliskan merek toko roti.

"Itu aku bawa beberapa buah dan beberapa makanan kesukaan Jaehyun"

"Percuma saja, dia daritadi juga tidak napsu makan"

"Benarkah?"

Johnny bergumam dan mengangguk menjawab pertanyaan Doyoung.

"Yasudah, bisa disimpan di kulkas dan dimakan nanti" Doyoung berdiri dan mengacak pelan rambut Jaehyun "Get well soon" Ia mengambil makanan yang dibawanya dan beranjak ke dapur untuk meletakkannya di kulkas. Sesekali melirik kedua kakak beradik yang masih terduduk di sofa. Ia jadi mengingat pertemuannya dengan Taeyong tadi siang. Entahlah, jika melihat dua kakak beradik itu Doyoung selalu saja diliputi rasa gusar, dan pertanyaan seperti 'Aku harus bagaimana?' 'Apa yang harus aku lakukan?' 'Harus seperti apa lagi aku menghadapinya?' selalu terngiang di kepalanya. Ia sebenarnya lelah dengan semua ini, Ia lelah tersenyum didepan kedua kakak beradik itu sementara didalam hatinya selalu berteriak 'Berhentilah, kalian berdua salah' apa yang dikatakan Taeyong padanya sebenarnya sangatlah benar, Ia hanya menyiksa dirinya sendiri, tapi di sisi lain Ia tidak ingin menyerah begitu saja, Ia tidak ingin berhenti sebelum semuanya lurus dan benar. Doyoung menghembuskan napasnya berat, mencoba mengurangi beban dipikirannya, Ia meneguk air dingin yang mungkin dapat membantu mendinginkan hatinya.

"Doyoung"

"Ya?" Doyoung menyahuti panggilan Johnny, dirinya yang sedang terduduk di kursi meja makan ini kini menoleh kearah Johnny yang masih terduduk di sofa dengan Jaehyun yang sudah tertidur bersandar dibahunya.

"Bagaimana pekerjaanmu? Kenapa kau baru pulang? Setelah dipikir-pikir ini terlalu sore untuk jadwal kerjamu selsai"

"Ya begitulah, tadi ada sesuatu sedikit sehingga aku harus pulang terlambat" Doyoung berjalan ke arah ruang tengah, dan menghampiri Johnny. Ia duduk disamping Jaehyun yang tengah tertidur "Kau pasti kurang tidur"

"Hm.." Johnny mengangguk.

"Terlihat sekali dari kantong matamu"

"Aku hampir tidak tidur, karena harus menjaga Jaehyun semalaman"

"Bagaimana dengannya? Kau bilang Ia sulit untuk minum obat. Apakah Ia bisa menelan obatnya?"

Johnny terdiam. Mata yang tadi menatap lawan bicaranya kini beralih memandang layar kaca didepan sana, dengan pandangan kosong. Sebenarnya Ia juga sedikit terkejut saat ibunya menanyakan hal yang sama. Namun ada perasaan lebih aneh saat Doyoung yang menanyakan hal tersebut. Johnny tau Ia sudah melakukan kesalahan, atau mungkin dosa besar. Dia hampir melupakan hubungannya dengan Doyoung. Kedatangan Doyoung ini kembali menyadarkannya akan hubungan dirinya dengan kekasihnya itu. Sekarang lihat apa yang telah Ia lakukan, diam-diam menyakiti orang yang sudah berbaik hati dengannya, yang mau memulai hubungan tanpa perasaan terbalas darinya. Johnny ingin sekali menyudahi semuanya, Ia tidak ingin Doyoung semakin tersakiti, apalagi jika mengetahui kebusukannya ini, Johnny tidak bisa membayangkan akan seperti apa Doyoung memandangnya nanti. Jika saja Doyoung tau segalanya, Doyoung pasti akan sangat membencinya.

"Dia baik-baik saja" Johnny menjawab pertanyaan Doyoung pelan. Tanpa menatap lawan bicaranya. Dirinya masih setia memandang layar kaca dengan tatapan kosong.

Doyoung tersenyum miris. Johnny tidak tau, jika apa yang Ia takuti, tentang semua dosanya, semua yang Ia tutupi, Doyoung mengetahui semuanya. Johnny dan Jaehyun hanya tidak pandai menutupi segalanya. Johnny dan Jaehyun hanya tidak mengethaui jika perilaku mereka, sikap mereka, tatapan mereka, semuanya sangat jelas membuat Doyoung mengerti. Doyoung tau segalanya dan Johnny tidak menyadari itu.

"Aku tadi bertemu dengan Taeyong" Doyoung mengelus pelan rambut Jaehyun yang sedang tertidur, rambut halus kesukaannya, di elus pelan dan berusaha agar pemiliknya tidak terbangun "Aku banyak menceritakan masalahku dengannya"

"Masalah? Kau punya masalah apa? Cukup serius sampai harus bertemu dengan Taeyong?" Johnny mengenal Taeyong, teman seangkatan Doyoung waktu sekolah yang sangat terkenal seantero kampus karena ketampanannya, Johnny juga mengenal secara pribadi Lee Taeyong itu, seorang psikiater muda. Mendengar Doyoung yang menceritakan masalah kepada Taeyong yang seorang psikiater membuatnya sedikit khawatir.

"Hm..cukup serius, bahkan Taeyong sangat pusing mendengarnya" Doyoung merapatkan selimut yang menutupi tubuh Jaehyun, Ia bisa merasakan hangat suhu tubuh Jaehyun saat tidak sengaja menyentuh keningnya tadi "Dia bilang cukup sulit membantu menyelsaikan masalahku"

"Kenapa?"

"Karena masalah sesungguhnya adalah bukan diriku"

Johnny mengerutkan keningnya tidak mengerti "Maksudmu?"

Doyoung tidak menjawab dan hanya tersenyum singkat sambil kembali mengelus pelan rambut Jaehyun. Jaehyun sepertinya tidak terganggu dengan apa yang dilakukannya ini, karena dirinya malah semakin terlihat pulas dan nyaman.

"Ceritakan padaku jika kau memiliki masalah. Aku akan membantumu"

"Aku yang seharusnya berkata begitu" Doyoung menatap Johnny yang juga memandangnya 'Karena sesungguhnya yang bermasalah adalah kau, bukan aku' lanjutnya dalam hati, tidak terdengar oleh Johnny. Selalu seperti ini, Doyoung selalu tidak bisa berbuat apapun, atau lebih tepatnya tidak berani. Ia belum berani memulai, Ia takut, takut Johnny akan membencinya, dan tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Ia ingin memulainya dengan perlahan, secara bertahap. Tidak ingin dengan begitu saja menunjuk kedua kakak beradik ini jika perasaan mereka adalah suatu hal yang salah dan gila. Doyoung ingin menunjukkannya secara perlahan, agar mereka menyadarinya sendiri, menyadari kegilaan mereka sendiri.

.

.

.

Musim dingin mengantarkan salju putih yang indah. Jalan yang tertutup salju, sungai yang membeku, pohon-pohon hijau yang berpaduan dengan putihnya salju menjadi pemandangan yang biasa disaat musim dingin tiba. Asap yang mengepul dari setiap hembusan napas karena dinginnya udara, membuat siapa saja yang berada diluar sana merapatkan mantel mereka guna menghangatkan diri. Disaat seperti ini hanya rumah yang menjadi tempat paling hangat untuk berteduh dari dinginnya udara diluar sana. Sudah seminggu berlalu, seminggu lamanya dua kakak-beradik ini menjalani kehidupan mereka yang terlepas dari orang tua mereka, tinggal di tempat mereka sendiri, menjalani hidup mandiri, mencoba untuk mengatur diri mereka sendiri tanpa pantauan orang tua mereka lagi. Sudah seminggu ini, flat besar yang menjadi tempat tinggal mereka, menjadi tempat yang mereka sebut rumah untuk kembali, dan menjadi tempat untuk bersembunyi. Ya, bersembunyi dari apa yang mereka lakukan, menyembunyikan perasaan mereka agar orang lain tidak melihat, menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. hanya mereka yang tau, hanya mereka yang merasakan, tidak boleh ada yang melihat dan mendengar apa yang sebenarnya mereka lakukan, apa yang sebenarnya mereka rasakan. Ketika mereka masuk kedalam tempat yang mereka sebut rumah, ketika pintu itu tertutup dan terkunci rapat disaat itulah mereka bisa mencurahkan segalanya, sentuhan dan bisikan sayang akan selalu mereka lakukan. Jika bell berbunyi, saat itulah mereka harus berhenti, mereka harus kembali terlihat seperti dua bersaudara lagi, ya sampai batas itu mereka menjaganya sehingga semua orang tidak ada dan tidak boleh ada yang tau.

Jaehyun sudah tidak asing lagi dengan sentuhan yang diberikan oleh sang kakak, perlakuan manja dan bisikan sayang itu sudah tidak asing lagi baginya. Canggung sekali awalnya, karena Johnny adalah kakak kandungnya, namun waktu yang bergulir membuat dirinya menikmati dan mengikuti segala permainan yang melibatkan saudara kandungnya itu. Ia memang menyukai bagaimana kakaknya selalu menyayanginya, menjaga dan menemaninya saat Ia kecil dulu, kakak nya ini adalah role model nya, panutannya, Ia sangat mengagumi kakaknya. Ia tidak pernah menyangka jika akan seperti ini jadinya, perasaannya akan sejauh ini tidak pernah disangka oleh Jaehyun sebelumnya. Jaehyun pikir ini salah, sangat salah dan tidak boleh dilakukan tetapi Jaehyun tidak bisa menghindarinya, Johnny juga meresponnya, membalasnya semakin membuat Jaehyun melupakan semua hal terlarang yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan.

Johnny dan Jaehyun tidak mengerti dengan hubungan mereka ini, terlalu berlebihan untuk saudara kandung. Bahkan Johnny memiliki seorang kekasih. Tetapi mereka tidak bisa berhenti, kehadiran Doyoung tidak mempengaruhi mereka. Jaehyun akan tersenyum ketika melihat Doyoung datang, melihat kebersamaan Doyoung dengan kakaknya namun dalam hatinya ingin menjadi penengah diantara mereka, Jaehyun tidak suka bagaimana kakak nya tersenyum kepada Doyoung, Ia tidak suka bagaimana Doyoung memandang kakak nya, Ia ingin menghentikannya tetapi Ia tidak bisa. Ia tidak ingin menghancurkan semuanya, semua yang telah dirinya dan kakaknya tutupi selama ini. Jaehyun tidak boleh bodoh dan membuat Doyoung menyadarinya. Walau tanpa Jaehyun dan Johnny sadari Doyoung tau segalanya. Mereka bertiga akan terlihat seperti biasa, seperti sepasang kekasih dengan seorang adik, tetap tertawa bersama, tersenyum bersama, berbagi pengalaman bersama hanya saja mereka memiliki rahasia masing-masing. Mereka memiliki dinding transparan yang membatasi. Kebersamaan mereka saat ini, terlihat sangat palsu namun tidak ada satupun diantara mereka yang mau memulai untuk menghancurkan segala kepalsuan ini, mereka punya tujuan masing-masing, dua diantaranya untuk menutupi segala sesuatu yang mereka lakukan dan satu orang lagi mencoba mengungkapkan segalanya dan menghentikan. Ya, seperti itulah mereka, terlihat damai namun pada dasarnya sangat keruh dan gelap, seperti lautan yang terlihat damai dan indah diluar namun akan sangat mengerikan dan menakutkan didasarnya.

.

.

.

Johnny sudah duduk dengan kaki yang Ia silangkan, ditaman yang sepi karena dinginnya udara, coat tebal dan panjang lengkap dengan syal yang melingkar di leher miliknya bahkan tidak bisa menghalangi dinginnya udara. Kedua tangannya menangkup satu cup kopi hangat yang masih mengepul asapnya. Sudah lima menit Ia duduk menunggu disini. Menunggu seseorang yang sudah memintanya untuk meluangkan waktunya bersama. Suara langkah kaki dari kejauhan yang masuk kedalam indera pendengarannya membuatnya menoleh dan tersenyum ketika melihat siapa yang sedang melangkah untuk menghampirinya itu.

"Kau menunggu lama? Udara dingin sekali, kenapa tidak menunggu didalam mobil mu saja?"

Johnny berdiri dihadapan orang yang baru saja menghampirinya ini. Merapikan rambut hitam legam milik kekasihnya yang tertiup angin. Ia menyerahkan cup kopi yang dipegangnya kepada orang tersebut yang tentu saja langsung diterima dan diseruput isinya.

"Tidak apa, hanya sebentar, kopi itu sudah cukup menghangatkan, bagaimana pekerjaanmu?"

"Biasa saja tidak ada yang spesial. kau harus menemaniku hari ini. Seharian, aku tidak mau tau"

Johnny tertawa dengan hangat kepada kekasihnya ini "Iya...iya seharian, aku akan temani. Kau mau kemana?"

"Pertama, kau harus menemaniku membeli sesuatu untuk Hyung ku, besok adalah hari ulang tahunnya"

"Baiklah"

Johnny menautkan jari jemarinya dengan milik kekasihnya, berharap dengan seperti ini mereka akan merasakan hangat. Melangkah mengikuti kemana pun Doyoung mau. Seperti janjinya untuk menemani kekasihnya itu seharian ini. Mereka menghabiskan waktu mereka bersama, mampir ke tempat dimana mereka bisa membeli sesuatu untuk dihadiahkan kepada kakak nya Doyoung. Berhenti ditempat-tempat menyenangkan. Seperti sepasang kekasih pada umumnya. Walau udara yang dingin tidak mengurangi rasa senang mereka menghabiskan waktu bersama. Mereka berhenti di sebuah cafe untuk beristirahat dan menghangatkan diri.

"Duduklah aku akan memesan" Johnny membiarkan Doyoung untuk duduk sementara dirinya pergi menuju kasir untuk memesan. Ia kembali dengan tangannya membawa nampan yang penuh dengan pesanannya. Hanya dua gelas kopi dan coklat hangat beserta dua potong cake. Kini mereka duduk berhadapan dan menikmati hidangan mereka masing-masing. Doyoung seketika mengingat sesuatu, Ia mengambil satu paper bag hasil dari seharian menghabiskan waktu di shopping mall untuk mencari hadiah yang akan diberikan kepada kakaknya. Ia menyerahkan paper bag itu kepada Johnny.

"Apa ini?" Johnny mengintip isi dari paper bag yang baru saja diberikan. Sebuah sweater yang sangat hangat. Johnny tau sweater ini karena memang Doyoung membelinya bersamanya tadi, tapi Johnny tidak tau kenapa Doyoung memberikan sweater yang baru saja dibelinya ini kepadanya.

"Berikan itu kepada Jaehyun. Aku memang sengaja membeli itu untuknya"

"Untuk Jaehyun?"

"Hm.." Doyoung mengangguk "Itulah sebabnya kenapa aku minta saranmu saat ku pilih sweater itu, karena ku tau seleramu dan Jaehyun itu tidak jauh berbeda"

Johnny tersenyum dan menyimpan paper bag itu di kursi yang ada disampingnya "Aku mewakili Jaehyun untuk mengucapkan terimakasih"

"Sama-sama"

"Aku yang menemanimu tapi Jaehyun yang mendapatkan hadiah" ucap Johnny dengan nada kecewa, walau Ia tidak sesungguhnya kecewa.

Doyoung mendecih dan terkekh pelan "Apa kau iri?"

"Tentu saja"

"Karena aku teringat Jaehyun saat aku melihat sweater itu jadi aku membelinya untuknya, pasti akan sangat pantas jika dikenakan olehnya. Tidak usah iri"

Ponsel yang bergetar diatas meja mengalihkan dua orang tersebut. keduanya melihat kearah ponsel yang bergetar, ponsel milik Johnny. Nama Jaehyun yang sedang mereka bicarakan terpampang disana. Johnny meraih benda persegi tersebut untuk menjawab panggilannya.

'Hyung~' suara Jaehyun yang terdengar di seberang sana mampu membuat Johnny tersenyum.

"Ya kenapa?"

'Apa Hyung sudah ada dirumah?'

"Kenapa bertanya begitu? Kau belum pulang?" Johnny melirik jam tangannya, sudah jam delapan malam dan Jaehyun belum pulang, seharusnya di jam segini Jaehyun sudah ada dirumah mereka.

'Belum, tadi ada tugas yang harus ku selsaikan hari ini, jadi aku pulang sedikit terlambat, kau belum dirumah kan Hyung?'

"Belum, aku masih ada diluar"

'Hyung bisa menjemputku?'

"Tentu saja"

Doyoung yang tadinya hanya mendengarkan sambil mengaduk coklat panasnya kini memandang Johnny yang masih berbicara dengan Jaehyun di seberang sana. Tangannya berhenti mengaduk isi gelasnya. Kini Ia menunggu Johnny menyelsaikan panggilannya.

"Baiklah" Johnny mengakhiri panggilannya dan kembali meletakan ponselnya diatas meja. "Doyoung aku rasa aku harus pergi Jaehyun memintaku untuk..."

"Tidak" Doyoung memotong ucapan Johnny, dia sudah tau apa yang akan Johnny katakan selanjutnya, ini bukan kali pertama baginya "Tetaplah disini, kau sudah berjanji akan menemaniku seharian ini"

"Tapi Jaehyun menungguku"

"Aku yang membuat janji lebih dulu daripada Jaehyun"

"Maafkan aku Doyoung" Johnny berdiri bangkit dari tempatnya, ingin pergi dari tempat ini namun tangan Doyoung mencegahnya, tangan itu menggengam lengannya yang sudah berdiri ini, Ia melirik Doyoung yang masih duduk ditempatnya, masih tidak ingin melepaskan tangannya dan tidak ingin memandangnya juga.

"Aku akan panggil taxi untukmu"

"Tidak, tetaplah disini"

"Tapi..."

"Kau sudah berjanji padaku!" Doyoung tidak bisa lagi menahannya, dengan seketika Ia berdiri dan menatap Johnny dengan tegas tepat dimatanya "Kau bilang tadi akan menghabiskan waktu denganku kan?"

Doyoung merebut ponsel yang digenggam oleh Johnny. Tanpa ijin pemiliknya, Ia mendial nomer yang baru saja memanggil kekasihnya ini. Mendengarkan nada sambung dan menunggu orang di seberang sana untuk menjawab panggilannya.

'Halo Hyung? Kau sudah dimana?'

"Jaehyun ini aku, Johnny sedang bersamaku, jadi dia tidak bisa menjemputmu, kau bisa pulang sendiri kan?"

'Ah Doyoung Hyung. Johnny Hyung sedang bersamamu? Baiklah'

Doyoung memutus panggilannya dan mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya "Jaehyun sudah besar, Ia bisa pulang sendiri atau bersama dengan temannya kau tidak perlu mengkhawatirkannya" Doyoung mengambil seluruh barang bawaannya. Sebelah tangannya yang kosong Ia gunakan untuk menggenggam pergelangan tangan Johnny "Ayo kita ketempat lain" Ia menarik Johnny keluar dari tempat ini, tidak ada penolakan atau bantahan dari kekasihnya itu, hanya diam dan mengikuti, Doyoung tidak tau apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu dan Ia tidak mau mempedulikannya. Ia mengeratkan tautannya, seakan tidak ingin melepasnya. Doyoung ingin egois, dia tidak ingin seperti ini terus, Ia tidak ingin membiarkan mereka seperti itu terus. Biarkan untuk kali ini dia egois, dan mulai saat ini Ia tidak akan diam saja, Ia tidak akan hanya diam memperhatikan saja, Ia ingin bertindak dan disini lah awalnya.

.

.

.

Sementara disisi lain

'Jaehyun ini aku, Johnny sedang bersamaku, jadi dia tidak bisa menjemputmu, kau bisa pulang sendiri kan?'

"Ah Doyoung Hyung. Johnny Hyung sedang bersamamu? Baiklah" Jaehyun dengan susah payah mencoba membuat suaranya terdengar semenyenangkan mungkin. Setelah itu terputus sambungannya. Jaehyun menggenggam dengan erat ponsel ditangannya ini, karena kedua tangannya yang terkepal kuat, dengan rahangnya yang mengeras.

Ia menyeringai, terlihat dimple di pipinya namun mengerikan. Pandangannya menatap langit gelap diatas sana. Pandangan yang dipenuhi rasa amarah di kedua matanya. Ini yang paling Jaehyun tidak suka, Ia membenci bagaimana dirinya tidak bisa sepenuhnya memiliki, namun disisi lain Ia tidak bisa mengehentikannya juga, Ia hanya bisa membiarkan saja.

Ia tidak membenci Doyoung, Ia hanya membenci dirinya, Ia membenci kenapa dirinya terlahir dengan ikatan darah bersama kakaknya. Jaehyun menyalahkan takdirnya. Takdir yang membuatnya terikat dengan ikatan darah yang sangat kental. Ia memiliki namun tidak sepenuhnya, dan baru kali ini Jaehyun sangat benci terlahir sebagai adik dari orang yang dia sayangi.

.

.

.

TBC


Haiiiiiii...

Apa kabar semua? masih ingat cerita ini? hahaha

kalau tidak ingat silahkan baca chapter sebelumnya. ini sudah lama sekali tidak di update yah, maklum karena ada urusan lain yang lebih penting.

sejujurnya seharusnya ini tidak di update sekarang, tapi diriku ini yang sedang menghadapi skriphit stress berat dan rasanya ingin teriak saja dan menghilang dari muka bumi hahaha lebay. ini sebenarnya udah jadi setengah cerita dari kapan tau dan malam ini aku selsaikan, sekalian melepaskan rasa stress ku

jikalau cerita ini makin aneh, mohon maaf yah, mungkin karena lama gak di update juga jadi sediki aneh lah yah

heeeey kaliaaaaaan daunlontar dan Emerald Sunday yang selalu menerorku dengan moment moment Johndo, tanggung jawab kalian! jangan sampai johndo menjadi kelemahanku juga, aku sudah cukup lelah dengan johnjae.

btw, aku sudah sempatkan untuk update ditengah stress nih jadi kasihlah review kalian siapa tau bisa menghibur diriku ini hahaha...(ngemis review)

seperti biasa Star mau ucapkan terimakasih untuk kalian yang sudah membaca, terutama kalian yang sudah follow dan fav dan tamu spesial Star yang memberikan review, terimakasih banyak atas reviewnya. mohon maaf jika chapter ini kurang memuaskan, berilah saran jika kalian tidak puas, agar dichapter depan bisa diperbaiki lagi.

cukup sekian cuap-cuap dari Star sampai jumpa di chapter berikutnya (mau hiatus lagi sampai selsai skripshit mungkin) bye..bye...

-100BrightStars-