:: TUAN MUDA ::
Disclaimer: Mbah Masashi K
Pairing: Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuuga
Rated: T
Genre: Romance
A/N: Typo(s). OOC, Bold (Flashback), umur chara disesuaikan, dan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja lainnya
.
.
Neng Nia Present
.
.
Naruto Uzumaki memasuki kelasnya di SMA Konoha di kota Tokyo itu, semenjak kecelakaan orangtuanya seminggu yang lalu, ini pertama kalinya dia kembali ke sekolah. Naruto adalah siswa kelas dua di SMA tersebut, dia merupakan siswa yang jago dalam olahraga namun, tidak terlalu pintar dalam mata pelajaran. Hei, tapi dia tidak bodoh lho.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Naruto menolehkan wajahnya pada sumber suara yang berada dibelakangnya, dia melihat teman dekatnya yang juga baru datang dan dengan keadaan yang selalu terlihat mengantuk itu. "Sudah baik, kau merindukanku ya Shika?"
"Ck, merepotkan," ucap shikamaru Nara seraya menghampiri tempat duduknya.
"Terima kasih ya atas email-nya, kiriman mata pelajaran yang tertinggal," kata Naruto sambil mengekor pada teman dekatnya itu. Pemuda itu pun duduk, bangku nya terletak di depan bangku Shikamaru, dan di samping kiri ada bangku seorang pemuda berkulit pucat yang selalu menutup matanya jika tersenyum, lalu disebelah kanannya hanya ada jendela kelas yang menghubungkannya ke taman sekolah.
"Naruto, tiga hari yang lalu Gaara-nii ke rumahku, mencarimu. Kau pergi ke mana saat itu?" Tanya pemuda yang bernama Sai pada temannya yang sudah seminggu ini tak dilihatnya.
"Iya, aku tahu. Saat itu aku pergi ke taman kota. Hanya ingin menghirup udara seg—" Naruto menghentikan kalimatnya, hal itu membuat temannya mengerutkan dahinya. Iya, Naruto baru ingat, siapa yang menolongnya saat dia sedang sekarat di Taman waktu itu. Seorang gadis yang kira-kira berusia 18-19 tahunan, seorang gadis berambut pink. Saat itu Naruto dibawa ke sebuah taksi, dan Naruto ingat dengan jelas kalau si gadis menyuruh si sopir taksi untuk membawanya ke sebuah Rumah Sakit terdekat.
"Hei, kau baik-baik saja?" Tanya Sai mulai cemas, karena temannya langsung terdiam lama. Terlihat pemuda bermata biru itu seperti sedang berpikir. "Woi Naruto?"
Naruto menghembuskan napas, "maaf Sai, aku hanya teringat seseorang yang menolongku saat itu."
"Ck, merepotkan. Kau baru ingat setelah tiga hari berlalu dari kejadian kau kabur hm?"
"Hehehe," hanya sebuah cengiran yang diberikan Naruto pada dua temannya itu.
Murid-murid langsung tenang, ketika pintu kelas terbuka, seorang guru dengan rambut sebahu menyapa murid-muridnya. Guru perempuan yang bernama Mitarashi Anko tersenyum pada muridnya yang sudah absen lama, "ok, teman kalian sudah kembali ke kelas ini, dan kalian akan mendapat teman baru hari ini," ucap Anko sambil menaruh beberapa buku di meja gurunya. Setelah itu, Anko mendekati pintu kelasnya. Mempersilahkan sang murid baru untuk memasuki kelas.
Naruto yang sedari tadi hanya menunduk, menulis sesuatu dibukunya, melirik ke sebelah kirinya karena Sai melemparkan sebuah penghapus padanya. Terlihat Sai memberikan kode pada Naruto untuk melihat lurus ke depan kelas, saat pemuda bermata biru itu mengalihkan perhatiannya ke depan kelas, mata biru nya melebar. "Hinata?" Serunya tanpa sadar, hal itu membuat teman sekelasnya melirik ke arah Naruto dan murid baru di depan kelas secara bergantian. Padahal murid baru tersebut belum mengenalkan siapa namanya.
.
.
Naruto membereskan bukunya, lalu pemuda itu beranjak dari kursinya. Dia melirik ke sebuah bangku yang kini tengah dikerumuni oleh beberapa murid, menghelanapas pemuda berambut pirang itu berjalan keluar kelas tanpa dia sadari sepasang mata lavender memperhatikannya.
"Kau kenal gadis Hyuuga itu?" Tanya Sai yang menunggu temannya di dekat pintu kelas. Mereka akan pergi ke kantin untuk membeli makanan, lalu setelah dari kantin mereka menuju markas mereka selama jam istirahat, yaitu atap gedung sekolah. Shikamaru sudah menunggu di sana, sambil tidur.
"Ya, aku mengenalnya."
.
.
Naruto dengan pakaian formalnya menatap gadis berambut indigo di depannya. Gadis tersebut mengenakan gaun pesta yang cantik, dan hal itu menambah kecantikan pada sang gadis. Naruto mengalihkan perhatiannya ke arah lain, dia melihat sang ayah tengah mengacungkan jempol padanya. Di samping sang ayah, ada ibunya yang begitu cantik dengan gaun merah maroon-nya, sang ibu tengah tersenyum padanya. Mau tidak mau, pemuda berkulit tan itu balik tersenyum pada kedua orangtuanya. Ya, dia tidak mau mengecewakan orangtuanya. Naruto kembali menatap gadis yang sedang menunduk malu di depannya, dengan tenang pemuda keturunan Namikaze itu meraih tangan kiri sang gadis. Hali itu membuat gadis di depannya tersentak, namun tidak menolak saat tangannya dipegang oleh Naruto. Mata lavender sang gadis menatap lemut mata biru milik Naruto.
Menghembuskan napas, Naruto tersenyum pada gadis di depannya, dan memakaikan sebuah cincin di jari manis sang gadis. Detik berikutnya, terdengar suara tepukan di ballroom tersebut, ya malam itu juga Naruto Namikaze telah bertunangan dengan Hinata Hyuuga.
.
.
"Tu-tunanganmu?" Seru Sai kaget, dan Shikamaru yang nyaris tersedak saat minum jusnya.
Naruto mengangguk santai, pemuda itu melahap roti yang dibelinya di kantin beberapa menit yang lalu.
"Kapan kau tunangan? Kenapa kami tidak tahu?" Tanya Sai penasaran.
"Saat aku kelas satu, setahun yang lalu. Itu dilakukan karena Otousan dan Paman Hiashi adalah teman lama, dan mengingat kerjasama dua perusahaan. Ya, ditambah Paman Hiashi menyukaiku, itu saja," jelas Naruto panjang lebar. Naruto menaruh sisa rotinya, lalu tangannya meraih jus jeruk kesukaannya, "ini rahasia, jadi kalian tidak aku beritahu," lanjut Naruto santai.
"Merepotkan, " kata Shikamaru menanggapi cerita temannya itu. "Kau menyukainya?" Tanya pemuda keturunan Nara itu.
"Biasa saja."
"Hinata-chan itu cantik, Naruto" ungkap Sai lalu melempar sampah makanan mereka ke tong sampah yang memang sudah disediakan di sana.
Naruto hanya tersenyum. Gadis Hyuuga itu memang cantik, dan juga lembut. Mereka pernah dua kali bertemu sebelumnya, dan Naruto kagum pada gadis seperti Hinata. Hanya saja, untuk perasaan... Naruto belum yakin. Belum ada rasa suka atau cinta di hatinya untuk Hinata, tapi untuk melindungi gadis itu, Naruto harus melakukannya. Bagaimanapun juga, Hinata adalah Tunangannya,
.
.
Jam pulangpun tiba, Naruto meraih ranselnya. Baru saja Naruto akan menepuk bahu Shikamaru yang tidur selama jam pelajaran terakhir, ketika HP putihnya berbunyi. Naruto mengambil HP-nya yang berada di saku celananya. Ada chat dari sang kakak.
"Pulanglah dengan gadismu, otouto."
Naruto melirik ke bangku Hinata, gadis itu masih membereskan buku-bukunya. Memasukan kembali HP-nya, Naruto berjalan mendekati Hinata. "Kita pulang bersama," ajak Naruto tanpa memperdulikan tatapan-tatapan yang mengarah padanya. Ayolah, semenjak kejadian tadi pagi. Kini gerak gerik si jago olahraga dan sang murid baru ini sangat diperhatikan oleh teman-temannya. Ada hubungan apakah diantara mereka? Itulah yang ada dipikiran mereka.
.
.
Naruto dan Hinata berjalan keluar gerbang sekolah, tadinya pemuda keturunan Namikaze/Uzumaki itu ingin nebeng pada Shikamaru. Tapi, setelah dia mendapat chat dari kakaknya, ya.. lebih pantas disebut perintah sih, Naruto pun memutuskan pulang bersama sang Tunangan. "Apa kau dijemput?" Tanya Naruto.
"Ti-tidak, tadi Neji-san menyuruhku pulang bersamamu, Naruto-kun," jawab Hinata malu-malu.
Naruto mengangguk, "baiklah, karena aku tidak bawa mobil atau motor, jadi kita pulang naik bis saja," kata Naruto tenang.
"Ng... Naruto-kun sudah tidak apa-apa?"
"Kau pasti tahu dari Neji-san ya? Aku tidak apa-apa, tenang saja."
"Aku turut berduka untuk Paman dan Bibi... " Ucap Hinata lirih, matanya menatap lurus pada jalanan yang dipijaknya saat ini. "Ma-maaf, aku tidak datang ke pemakaman saat itu," lanjut Hinata.
Naruto tersenyum, pemuda itu melirik gadis disampingnya yang menunduk. Kedua tangan gadis itu memegang erat tas sekolahnya. "Tidak apa, Hinata."
Tanpa mereka ketahui, dari kejauhan dari dalam sebuah mobil. Ada yang memperhatikan mereka. Mereka adalah kepala bodyguard Hinata, Yuuhi Kurenai dan kepala Bodyguard sang Tuan Muda, Hatake Kakashi.
"Mereka serasi sekali ya, Kakashi," ujar Kurenai dengan mata berbinar.
.
.
To be continue
.
.
RnR ya...
Thanks ^o^
