Mark milik Jeno, Jeno milik Mark
Rating : T
Genre : Romance, humor /?
Pairing : MarkNo
Warning : OOC, typo, BL/boys love/shonen ai/slash, alur datar, garing.
DLDR!
Drabble Collection : MarkNo
— A collection of drabbles about MarkNo.—
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Kamera
Siyeon mengerutkan dahi. Otaknya berpikir keras tentang Koeun. Untuk apa gadis itu membawa kamera?
"Untuk apa benda itu?" Siyeon bertanya. Koeun mengangkat benda yang dibawanya sambil menjawab, "Tentu saja kamera gunanya untuk memotret."
Siyeon mengerang. "Aku tahu! Maksudku, untuk apa kau membawa benda itu?!"
Koeun membentuk huruf 'o' dengan bibirnya. "Oh! Kenapa kau tidak menanyakan itu dari tadi?"
Siyeon memasang wajah datar.
"Untuk memotret," Koeun tersenyum dengan imut, "mereka."
Siyeon menatap objek yang ditunjuk Koeun. Beberapa anak laki-laki sedang duduk bersama, bermain game. Tidak menarik sama sekali. Lalu, untuk apa Koeun memotret mereka?
Siyeon kembali menatap Koeun. Ia sedang sibuk memotret dua objek. Siyeon mencoba mencari objek yang dipotret.
Mark sedang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Jeno fokus membaca novel. Satu-satunya hal yang menarik perhatiannya adalah, Jeno duduk di pangkuan Mark.
Entah sudah berapa banyak foto yang diambil Koeun. Gadis itu pasti sudah panen banyak.
"Argh! Aku kalah lagi!" seru Mark. Ia menjatuhkan kepalanya di bahu Jeno, sedangkan tangannya melingkari perutnya. Jeno hanya tersenyum tipis —bermaksud menghibur—sambil jemarinya mengelus lengan Mark.
"Manisnya!" Koeun menjerit tertahan. "Mereka itu OTP-ku!"
Siyeon terbelalak. "Koeun! Kau tidak menceritakan padaku kalau kau sering memotret mereka berdua!"
Koeun membentuk peace dengan kedua jarinya.
Siyeon merebut kamera yang dipegang Koeun. "Lain kali, jangan lupa ajak aku jika kau mau panen foto Mark dan Jeno!"
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Dongeng
Anggota NCT Dream sedang berkumpul hari ini. Mereka sibuk membicarakan banyak hal, hingga tiba-tiba Chenle berseru dengan suara lumba-lumbanya.
"Hei, hei! Aku baru ingat, kemarin aku membuat dongeng!"
"Dongeng apa?" tanya Renjun.
"Dongeng kerajaan." Chenle berlari ke kamarnya. Ia kembali ke ruang tengah sambil memegang sebuah buku.
"Ini dongeng yang keren," ujar Chenle. "Jadi kalian harus mendengarkannya baik-baik!"
Yang lainnya mengiyakan. Maka, Chenle pun membacakan dongeng ciptaannya keras-keras.
"Alkisah, hiduplah seorang pangeran bernama Mark Lee. Suatu hari, dia bertemu dengan seorang putri dari kerajaan seberang, namanya Lee Jeno. Mereka saling jatuh cinta, kemudian mereka memutuskan untuk menikah. Dan merekapun hidup bahagia selamanya! Tamat."
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Bulan Juni
"Mark, kau tahu tidak?" tanya Lucas ketika mereka dalam perjalanan pulang dari sekolah. Mark meliriknya tak tertarik. "Tahu apa?"
"Kemarin, Jeno bercerita padaku. Katanya, dia suka padamu."
Mark langsung menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar senang dan antusias. Ekspresi wajahnya tampak terlalu bahagia. "Benarkah?" Ia mengguncang-guncang tubuh Lucas. "Kemarin dia bercerita padamu kalau dia suka padaku? Jadi dia suka padaku? Jadi perasaanku terbalas?!"
"April mop!" Lucas tertawa puas. Tapi melihat wajah Mark yang sedatar triplek membuatnya menghentikan tawanya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Ini bulan Juni, sialan."
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Idol Tercantik di SM
Saat ini, anggota NCT sedang berkumpul sambil mengobrol. Atau lebih tepatnya, bergosip tentang siapa-yang-paling-cantik-di-SM.
"Kalian tahu Irene Noona, kan? Wajahnya cantik sekali."
"Krystal Noona juga sangat cantik."
"Idol di SM memang semuanya cantik, kan?"
"Tapi, kataku Joy itu yang paling cantik."
"Menurutku sih lebih cantik Taeyeon Noona. Aku suka sekali memperhatikan wajahnya."
"Aku lebih suka Yoona Noona. Cantiknya kelihatan alami."
Mark yang sedari tadi hanya menyimak angkat suara. "Kalau menurutku, yang paling cantik di SM itu Jeno! Dia tidak kalah dari Yoona Noona."
Sontak, semuanya menatap ke arah Mark. Bengong, terlebih yang namanya disebut oleh pemuda Kanada itu.
"Kau kehabisan obat, ya?"
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Lepas
Mark hampir menjerit ketika membuka pintu kamarnya dan mendapati Jeno berada di sana. Tidur dengan santainya di ranjang Mark. Ketika si pemilik kamar menghampirinya, Jeno segera bangkit.
"Jeno... " Mark menggigit bibirnya gugup. Jeno hanya tersenyum manis. Manis sekali, sampai Mark merasa tegang.
"Hyung," Jeno menatap Mark lekat. Tangannya meraih kemeja miliknya, membuka satu kancing teratas.
"Hei!" Mark menarik tangan Jeno. "Jangan kau lepas!"
Jeno masih tersenyum. "Kalau aku tidak boleh melepasnnya, maka Hyung yang harus melepaskannya."
"Hah?" Mark memasang wajah bodoh. Jeno hanya memainkan jarinya di atas kemeja miliknya.
"Lepaskan, Hyung."
Mark tertawa dengan gugup. "Kau yakin? Maksudku ㅡ"
"Lepas saja sekarang." Nada bicara Jeno terdengar menuntut. Dan Mark tidak punya pilihan selain melakukan apa yang Jeno perintahkan.
Jari-jari Mark dengan gemetar melepas satu per satu kancing kemeja Jeno. Duh, ia gugup sekali. Wajahnya pasti memerah sekarang.
Seluruh kancing kemeja Jeno telah terlepas. Mark menarik kemeja itu. Kini, potongan kain itu telah lepas dan jatuh ke lantai.
"Sekarang, lepaskan celanaku."
Mark hampir menjerit panik. "Tidak!" serunya menolak.
"Lepas, Hyung!"
"Itu memalukan, Jeno!"
"Lepaskan saja! Atau aku yang akan melepasnya." Karena didesak Jeno, mau tak mau, Mark melepaskan celana Jeno.
Jeno tersenyum kecil melihat wajah Mark yang semerah tomat ketika menjatuhkan celananya ke lantai. Lucu sekali! Jika saja suasananya sedang tidak serius seperti ini, maka Jeno sudah mencubit pipi Mark gemas dan memeluknya.
"Ini sangat memalukan." ujar Mark sambil menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
Jeno meraih pakaian miliknya yang tergeletak di lantai. "Makanya, jangan memakai pakaianku!" Ia berjalan ke luar kamar. Sebelum menutup pintu, Jeno berkata,
"Jika lain kali aku melihat Hyung memakai pakaianku lagi, aku tidak akan segan menyuruh Hyung untuk melepas underwear juga!"
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Panjang
Wow. Dia tampan sekali.
Jeno bersyukur ia tidak menolak ajakan Haechan untuk pergi bersama kenalannya. Haechan bilang, kenalannya itu sangat tampan. Dan setelah melihatnya secara langsung, ternyata ia memang sangat tampan.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja di restoran. Jeno duduk di sebelah Haechan, dan Mark duduk di depan Haechan. Tidak, Jeno tidak mungkin duduk di sebelah Mark. Bisa-bisa ia kena serangan jantung.
Mark dan Haechan sedang mengobrol, sedangkan Jeno sibuk memerhatikan Mark. Kedua tangan Jeno menyangga dagunya, menahan mulutnya agar tidak menganga lebar.
Kata Haechan, Mark sangat populer. Dan Jeno memercayainya. Manusia setampan Mark mana mungkin tidak populer, kan?
"Jeno-ah, kenapa diam saja? Kau tidak nyaman denganku?" tanya Mark lembut.
Astaga! Ia tidak tahu kalau Mark memiliki suara yang seksi. Ia benar-benar paket lengkap. Tampan, sopan, bertubuh bagus, tampan, bersuara seksi, baik, dan yang paling penting : t a m p a n.
"Aku ingin ke toilet," kata Mark. "Di mana toiletnya?"
Haechan mendorong Jeno. "Jeno tahu. Biar dia mengantarmu."
Jeno bangkit. Ia berjalan menuju toilet, Mark mengikuti di belakang.
Jeno memutuskan menunggu Mark selesai sambil bercermin.
"Aku rasa kau terus memerhatikanku." ujar Mark ketika ia mencuci tangan. Jeno tertawa malu. "Yaa, habisnya aku pikir kau sangat tampan."
Jeno bukannya tidak pernah melihat laki-laki tampan. Tapi, Mark Lee itu berbeda. Rambut cokelatnya, mata hitamnya, ototnya yang bagus. Mark laki-laki tampan yang seksi.
"Apa kau juga berpikir bahwa aku ini seksi?"
Jeno hampir tersedak liurnya sendiri. Hei, apa Mark bisa membaca pikiran?
"Tidak, kau hanya tampan, keren, dan BUKAN, bukan seksi, hanya menggairahkan —YAAH!" Jeno menutup wajahnya. Mark mendekatinya, ujung sepatu mereka bersentuhan.
"Begitu? Jadi, kau menganggap aku... menggairahkan?" Mark berbisik di telinga Jeno. Suaranya benar-benar seksi! Jeno penasaran bagaimana suara Mark saat menggeram penuh gairah di atasnya —YA! Sejak kapan Jeno bisa berpikir mesum?!
Jeno mengangkat wajahnya —sial. Mark dekat sekali dengannya. Jeno harus mencatat di kepalanya. Laki-laki tampan semacam Mark tidak pernah sopan. Mereka selalu playboy.
Mark tersenyum miring. Ia kembali mendekat, tubuh mereka bergesekan. Jeno sedikit terkejut.
Tadi tubuhnya bergesekan dengan Mark! Oh, astaga, tubuh Mark benar-benar seksi —bukan, maksud Jeno terasa nikmat —ARGH!
Mark menunduk, kemudian tanpa aba-aba mendaratkan kecupan ringan di perpotongan leher dan bahu Jeno.
Jeno menutup mata. Tampaknya, ratingnya harus diubah jadi M.
Ah, kalau dipikir-pikir, Mark tinggi juga. Ia membungkuk ketika meletakkan kepalanya di bahu Jeno. Jeno mungkin hanya setinggi telinganya. Pasti Mark memiliki kaki yang panjang.
"Mark, panjangmu berapa?" tanya Jeno tanpa berpikir. Mark terkejut san menegakkan tubuhnya.
"Untuk apa kau menanyakan panjangku?! Kau sungguh menginginkanku untuk melakukan itu!"
"Aku tidak menginginkanmu untuk melakukan itu denganku!" Jeno balas berteriak.
"Kau iya! Tidak mungkin kau menanyakan panjangku hanya karena iseng!"
"Aku hanya berpikir kau tinggi sekali, jadi aku penasaran dengan panjang kakimu!" teriak Jeno. "Apakah pertanyaanku seaneh itu?!"
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Domba
"Jeno, coba tebak. Hewan apa yang membingungkan?"
Jeno berpikir sebentar. "Mmm... burung hantu?"
"Salah."
"Jerapah?"
"Bukan."
"Nyamuk?"
Mark menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri.
"Nggg, apa ya?" Jeno berpikir. Hewan yang membingungkan? Apa, ya kira-kira?
"Kelelawar?"
Mark menggeleng. Ia tersenyum lebar, yakin bahwa Jeno tidak akan bisa menjawabnya.
"Aku menyerah!" seru Jeno. "memang jawabannya apa?"
"Domba!"
Jeno mengernyit bingung. Domba? Hewan paling membingungkan?
"Kok domba...?"
"Bingung, kan?" Mark tertawa terbahak-bahak. Jeno hanya memandangnya datar.
"Tidak lucu, Hyung."
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Hujan
"Ah, hujan." Mark menatap rintikan air dari langit. Ia segera menarik Jeno yang sedang berjalan di sisinya untuk berteduh. Tepat ketika mereka sampai di depan sebuah minimarket, hujan menjadi deras.
"Kapan hujan ini akan berakhir?" tanya Mark sambil mengusap rambutnya yang sedikit basah. Ia menatap langit gelap yang terus menjatuhkan rintik air.
"Mana aku tahu."
Mark mengalihkan atensinya kepada adik kelasnya yang sibuk menggosok tangannya sendiri. Pemuda itu menggigil, tampak kedinginan. Seragamnya basah, dan hembusan angin yang dingin semakin memperburuk. Jeno menggigit bibirnya agar tidak kelihatan bahwa giginya sedang bergemeletuk. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha memberikan kehangatan pada tubuhnya.
Tanpa harus berpikir dua kali, Mark memeluk Jeno dan meletakkan dagu di bahunya. "Merasa lebih baik?"
Mark bisa melihat telinga Jeno memerah. Ah, ia jadi penasaran apakah wajah adik kelasnya ini juga memerah. Pasti Jeno sedang merona. Manis sekali.
"Y-ya." Jeno menggigit bibirnya lebih kuat. Darah seakan naik ke wajahnya, dan Jeno yakin kini ia tengah merona. Dingin yang sempat ia rasakan telah menghilang sepenuhnya, tergantikan oleh rasa hangat. Di wajahnya, di punggungnya, ...
...lebih dari itu, di hatinya.
Mark menenggelamkan wajahnya di bahu Jeno. Ia baru menyadari, betapa mungil tubuh Jeno jika dibandingkan dengannya. Pemuda itu sampai tenggelam dalam rengkuhannya. Mark mencoba meraih tangan Jeno, kemudian menggenggamnya di perut Jeno.
Tangan Jeno sangat mungil dan lentik jika dibandingkan dengannya. Ia bisa menggenggam tangan itu dengan mudah. Lalu, perbedaan tinggi mereka. Jika Mark berdiri tegak, ia bisa melihat dengan jelas pucuk kepala Jeno. Bahkan saat ia menyenderkan kepala di bahu Jeno, ia harus sedikit membungkukkan tubuh dan menekuk kakinya.
Di saat itu, Mark menyadari bahwa Jeno tampak begitu kecil dan rapuh. Ia kelihatan mudah diserang, maka ia membutuhkan seseorang untuk melindunginya.
Dan Mark berharap bahwa dirinyalah yang akan menjadi pelindung bagi Jeno.
Mereka terdiam dalam posisi itu selama beberapa saat. Hingga Jeno merasa tidak dapat menahan rasa malu dan gugupnya, ia mulai bergerak melepaskan tangan Mark.
"Hyung, aku merasa jauh lebih baik. Terima kasih."
Kalimat itu secara tidak langaung memerintahkan Mark untuk segera melepas pelukannya. Sang kakak kelas perlahan menjauhkan tubuhnya. Jeno menarik nafas lega.
"Hujannya deras sekali," Jeno menatap hujan yang belum juga berhenti. Mark tidak merespon, justru ia sibuk mengamati tubuh Jeno. Seragam Jeno basah hingga dalam, sehingga Jeno memilih melepas blazernya. Hal itu membuat lekukan tubuh Jeno kelihatan jelas karena kemeja putihnya melekat erat.
Sebagai seorang remaja laki-laki yang memiliki hormon, Mark mengamati tubuh Jeno dari atas ke bawah.
Tadi, ia sempat berpikir bahwa Jeno memiliki tubuh yang mungil dan sangat kurus. Ternyata Jeno tidak sekurus itu. Ia lebih kepada... ramping? Dan Mark suka melihatnya. Jika diberi nilai dari 1 sampai 10, mungkin Jeno mendapatkan 9, 3. Selain bertubuh ramping, Jeno memiliki kulit putih dan wajah yang manis. Dan... bokongnya bagus.
Beruntung karena yang berteduh di minimarket ini hanya mereka berdua, jadi hanya dirinya yang bisa memperhatikan tubuh ramping Jeno. (Karena, ia yakin akan meninju siapapun yang dengan berani-beraninya ikut menikmati pemandangan tubuh Jeno.)
"Jeno,"
"Ya?" Jeno menoleh kepada Mark yang masih berdiri di belakangnya, "kenapa, Hyung?"
"Awalnya, aku berpikir bahwa kau sangat kurus. Tapi setelah kuperhatikan, ternyata tubuhmu itu ramping dan indah."
Setelah mengucapkan itu, Mark harus menunggu hujan reda sambil menahan sakit di kepalanya akibat pukulan penuh cinta dari Jeno.
ㅡ*ㅡ*ㅡ
Note :
Aku gak dikasih THR ㅠ_ㅠ Yang udah dapet mau bagi-bagi ke aku gak? /g
Isinya gaje semua ya? Wkwkwk. Makasih yang udah baca, fav, follow, dan review fanfic ini.
Mind to review?
ㅡ062317
