"LAST ONE STANDING"

By eenychanpeceye

Disclaimer : The story is the result of my mind, but the character not be mine

Pair(s) :

Park Chanyeol x Byun Baekhyun

Kim Jongin x Do Kyungsoo

Oh Sehun x Xi Luhan

Genre : Romance, Crime, Action

WARNING !

Rate : M

Yaoi, Boys Love, Boy x Boy

OOC, Typo(s), Not According to EYD, etc.

Please, Don't Like Don't Read

Notes : No bashing, No copy, No plagiat, No War, Yes like and Review

~Just Enjoying~

~HAPPY READING GUYS^^~

.

.

PS : yang bercetak miring adalah flashback


Chapter 2

Gedung itu menjulang tinggi, berdiri sangat kokoh diantara gedung-gedung yang lain. Seperti induk dari anak-anaknya, Lion Gerz merupakan pemasuk utama memberikan sumbangan besar setiap perusahaan maupun negara. Kekuasaannya telah diakui oleh pihak pemerintah.

Sebuah mobil terparkir tepat beberapa meter di depan gedung tersebut, layaknya seorang 'secret agent 007' sang pengemudi mengawasi dengan waspada setiap gerak-gerik orang yang keluar masuk.

Pemuda itu mengeraskan rahangnya ketika mata tajamnya berhasil mengenali obyek incarannya selama ini. Walaupun langit terlihat gelap, dan pencahayaan kurang dengan jarak pandang jauh. Dia masih bisa mengenali laki-laki tua itu. instingnya kuat kau tau.

Laki-laki itu memasuki gedung perusahaanya dengan diikuti beberapa bodyguard berbadan besar dibelakangnya. Dia tau akan kalah melawan orang itu, karena bagaimanapun anak kucing tak akan menunjukan taringnya jika belum menemukan kelemahan mangsanya.

"Aku pasti mengalahkanmu, Han Gil Dong." Dia tersenyum remeh seolah apa yang dikatakannya akan menjadi kenyataan.

Sebelum hari itu tiba, bersenang-senanglah sepuasmu Pak Tua.

Setelah itu sang pengemudi menjalankan mobilnya pergi dengan amarah yang berkecamuk.

.

.

"Apa kalian merasakannya?" tanyanya pada orang-orang berjas hitam dibelakangnya.

Sedangkan para bodyguard itu hanya diam tak bergeming mendengar pertanyaan tersirat dari tuannya. Bukan bodoh melainkan rasa hormat sebagai bawahan mengharuskan mereka sebagai pendengar tanpa banyak komentar maupun protes.

"Seperti bau tikus terpanggang.." laki-laki itu mengenduskan hidungnya di udara malam yang terbuka mencari-cari asal datangnya bau yang menyengat tersebut. Meskipun diumur yang terbilang tua, hidungnya masih sangat sensitif. Lalu dia terkekeh setelah mengetahui bau itu menghilang saat matanya tepat memandang jalanan dengan mobil yang berlalu lalang.

"Aku menunggumu tikus kecil" seringainya mengejek.

.

#LOS^^

Luhan menyesap bubble teanya yang tinggal separuh, menikmati betapa kenyalnya bubble-bubble itu ketika lidah dan giginya berhasil menggigit dan mengunyahnya. Rasanya sangat pas mengisi dahaganya yang memberontak sejak tadi.

Sepulang dari kampus ia sempatkan untuk mampir ke kedai bubble tea langganannya. Malam ini cukup dingin juga. Kepalanya sangat pusing menghadapi mahasiswa-mahasiswanya yang bandel hari ini. Belum lagi kelakuan mereka yang masih kurang ajar padanya. Urrggkk~ ingin rasanya dia menendang pantat anak-anak nakal itu ketika menggodanya.

Inilah sisi ganas seorang Xi Luhan.

"Kurang ajar sekali mereka, belum tau apa tendanganku tak ada bedanya dengan Christiano Ronaldo" luhan mendumel sambil keluar kedai, berdiri beberapa meter dari pintu masuk. Niatnya ingin membuang bekas minumannya, tapi amarah yang ditahan sejak tadi sudah menumpuk di ubun-ubunnya sehingga dia menggunakan kaki mungilnya sebagai cara protesnya.

Satu tendangan dia siapkan untuk memulai aksinya. "Hya~ mati kalian.." tong sampah itu dia bayangkan sebagai sekumpulan bandit-mahasiswa-mesumnya. Walaupun hanya berjarak tujuh meter darinya, ia yakin tidak akan meleset. Hey, dia dulu di SHS tekenal sebagai pemain sepak bola yang handal okey.

Sebenarnya kelakuannya terbilang konyol dan kekanakan, tapi luhan sangat antusias menunggu botol minuman itu tepat memasuki tong sampah tersebut. Layaknya adegan di drama-drama yang dibuat sepelan mungkin botol itu mendarat secara slow emotion bersamaan senyum luhan yang perlahan melebar. Dan hasilnya...

"AWW.."/ "Ye..s-s.." muncul pekikan lain yaang lebih keras bersamaan pekikan luhan mencicit di akhir.

Oh Tidak. Kau malah yang akan mati Luhan.

.

.

#LOS^^

Tidak melakukan apapun memang sangat membosankan. Dan kebenaran atas pernyataan itu terjawab dengan tingkah laku jongin yang menggesek lantai bersih dengan salah satu sepatunya. Lagian ingin melakukan apa juga, toh ini dirumah sakit bukan rumahnya sendiri yang bisa dikuasai sesukanya.

"hhh.. kenapa appa lama sekali" kesalnya semakin terus menggesek lantai tersebut bergantian dengan kaki yang lainnya hingga menimbulkan decitan yang memekakkan telinga.

CTAK~

"Aww.."

"Anak nakal, sudah dibilang jangan buat keributan di rumah sakit nanti mengganggu pasien lain yang sedang beristirahat."

"Appa ini seorang dokter bagaimana bisa memukul putranya dengan tas, bagaimana kalau tulangku patah. Ah aku akan mengadukan appa kalau sudah menganiayaku."

Orang-orang duduk maupun yang lewat mulai memperhatikan pertengkaran absurd kedua hubungan sedarah anak-ayah ini. Tidak semestinya Dokter Kim yang terkenal ramah, baik dan penyabar tiba-tiba berbuat seanarkis itu didepan ruangan kerjanya. Ya walaupun di batas sangat-sangat wajar jika memiliki putra badung macam Kim Jongin. Mungkin kalau orang lain sudah pasti akan menendangnya seperti yang dilakukan seseorang sebelumnya. Akhem you know that lah^^

"Sudahlah, sekarang ayo kita pulang."

"Awk appa~ jangan menarik telingaku sakit." Untung saja tarikan itu segera terlepas setelah memasuki lift. Jongin mengusak telinganya untuk menghilangkan rasa panas dari hasil jepitan tangan sang pelaku disampingnya. Didalam lift hanya tinggal mereka berdua.

"Kau ini sudah kuliah masih saja kekanakan, orang-orang dirumah sakit ini banyak yang membicarakan kelakuanmu yang nakal. Appa malu jongin. Dewasalah." sepertinya dokter Kim sudah sangat lelah menghadapi putra satunya ini.

"Jadi karena itu appa mengadopsi Chanyeol hyung, untuk menutupi rasa malu appa selama ini. Malu karna mempunyai anak yang tidak bisa diatur sepertiku dan lebih membanggakan anak orang lain yang tidak jelas asal-usulnya itu. Lebih baik tidak usah anggap aku anak saja dan urusi saja anak baru kesayangan anda Dokter Kim"

PLAK~

"Jaga ucapanmu KIM JONGIN."

Hati jongin sangat sakit. Biasanya semarah apapun appanya dia tidak pernah menampar pipinya seperti ini. Matanya memerah dan panas menjadi satu seakan siap menumpahkan segalanya.

"Anda pasti menyesal memilih dia, karna dia bukan orang baik-baik. Ingatlah perkataanku DOKTER KIM YANG TERHORMAT" jongin mengakhiri kalimatnya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Dengan penuh amarah dia berlalu menabrak punggung orang-orang yang menghalangi jalannya.

Sedang dokter kim sendiri hanya mampu melihat punggung putranya dengan tatapan sedih. "Maafkan appamu jongin, tetapi yang kau katakan salah. Chanyeol bukan orang jahat, melainkan appamu ini." Lirih dokter kim yang jelas tidak akan didengar putranya karna sudah pergi entah kemana.

Memang dari awal hubungan mereka tidak begitu dekat ditambah semenjak istrinya pergi meninggalkan dunia. Maka dia berharap semenjak kedatangan chanyeol bisa merubah kelakuan jongin yang nakal. Tetapi apa sekarang...

.

"ARGKK.. SIAL" umpatnya pada langit yang gelap tanpa adanya bintang yang menghiasi malam ini. Seolah mengejek suasana hatinya yang kosong dan sakit. Jongin mengacak-acak rambutnya secara kasar. Orang-orang yang melewati jongin mulai menjauh karna ketakutan. Dipikiran mereka mungkin ada pasien gila yang keluar dan mengamuk saat ini. Jongin sudah tidak peduli lagi dengan tatapan itu, langsung saja dia berjalan cepat menuju mobilnya.

Sebenarnya tujuannya datang ke rumah sakit adalah menjemput appanya yang mengajak pulang bersama. Seharusnya bukan seperti ini yang diinginkannya, meninggalkan ayahnya dan pergi seenaknya. BRENGSEK KAU JONGIN. Ya kata itu pantas untuknya yang tega terhadap appanya sendiri.

Ini karna teringat kata-kata orang itu.

Seperti biasa jadwal malam Kim Jongin setiap hari selasa-kamis adalah pergi keluar bersama Jaehan ke game center tengah kota lalu mencari hiburan yang lain. Tapi semua itu harus gagal saat negara api menyerang(eh gak ding becanda) saat alat komunikasi satu-satunya di sakunya berdering. Oh ternyata appanya. Lalu dia menggeser ke tanda hijau.

"Yeoboseyo,"

"mm..,"

"appa aku sudah ada janji hari ini,"

"ne..ne.. aku berangkat sekarang." Lalu telpon terputus. Dengan segera dia menghubungi jaehan. Setelah beberapa saat terdengar suara diseberang yang menyahut.

"ayo batalkan acara kita hari ini," secara spontan jongin menjauhkan ponselnya ketika mendengar pekikan protes dari temannya itu. oh telinganya bisa tuli kalau terus-terusan.

"kalau begitu tinggal ganti baju saja"

"tidak bisa appaku pasti marah nanti"

"enak saja, aku juga ingin menjadi chanyeol hyung yang bisa dibanggakan. Sudah aku tutup telponnya, besok saja kita rekap ulang jadwal." Sepertinya belum sempat suara jaehan menjawab telpon sudah dimatikan secara sepihak. Dasar kim jongin seenaknya.

Saat hendak memasuki mobil, tiba-tiba seseorang memegang pundaknya dari belakang. Dengan gerakan gesit dia memutar badan dan memlintir tangan orang tersebut dibelakang punggungnya. Orang itu mengaduh kesakitan dan minta dilepaskan. Dirasa tidak berbahaya jongin melepaskan pegangannya dengan mendorong orang itu menjauh.

"katakan ada apa" tanyanya tanpa basa-basi dan rasa bersalah. Eh apa kau lupa jongin itu kurang ajar. Ingatkan itu pada setiap orang yang berurusan dengannya.

"tidak bisakah kau lebih sopan anak muda," jongin mendecih sebagai balasannya. Sepertinya memang susah bicara baik-baik dengan anak ini.

"aku hanya ingin bertanya tentang foto ini, tetapi kau malah memperlakukanku dengan kurang ajar."

"aku tidak suka bicara dengan orang asing, jadi pergilah" matanya malah melirik sekilas foto tersebut dan terkejut tapi dengan mudah dia menyembunyikannya.

"baiklah, aku pergi."

"Tunggu! Apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan." Orang itu menyerahkan selembar foto pada jongin. Dia menatap foto itu secara dalam seolah memastikan penglihatannya salah "apa kau mengenalnya, jika iya tolong beritahu kami. Orang ini sangat berbahaya."

Jongin menatap orang berjas hitam didepannya waspada. "tidak" hanya satu kata yang keluar dari bibir sexynya. Lalu dia menyerahkan kembali foto itu dan bergegas pergi menjalankan mobil. Dia mengklakson orang itu supaya minggir agar dia bisa lewat, supaya dia bisa pergi dan menjernihkan pikirannya yang kacau.

Foto itu adalah foto hyungnya, chanyeol. Ya dia tidak salah lagi meski dalam foto berpenampilan agak nerd dengan seragam sekolah, kacamata tebal, rambut keriting, dan terakhir senyum idiotnya sambil berpose V. Karna awal pertemuan mereka chanyeol berpenampilan seperti itu.

Jongin memang tidak terlalu tau pasti asal-usul chanyeol. Yang hanya dia tau kalau chanyeol baru saja kehilangan orang tuanya karena kecelakaan sehingga dia mengalami hilang ingatan. Mereka baru menjadi saudara tiri 2 tahun yang lalu.

Kenapa appanya mengadopsi anak yang sudah dewasa dibanding anak kecil. Ini aneh, apalagi dengan kata-kata orang itu yang menyebutkan kalau hyungnya berbahaya. Benarkah itu? lalu apa yang dirasakannya selama ini pada perhatian dan kesopanan chanyeol pada semua orang? Kebohongan sematakah? Tapi yang terpenting siapa chanyeol sebenarnya?

Kepala jongin terasa pusing. Ia harus menanyakannya secara langsung pada appanya. Ya itu benar. Dengan menambah kecepatan dia menjalankan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit.

Sedangkan orang itu menyeringai ketika sempat melihat wajah terkejut jongin sebelumnya. Dia tau meskipun seahli apa jongin menyembunyikannya, karna dia cuma memancing amarahnya saja.

"kena kau anak kecil sialan"

.

.

#LOS^^

Seharian bekerja di kantor dan bolak balik melakukan penyelidikan membuat Sehun hampir melupakan untuk meminum vitaminnya. Pasti kalian berpikir kalau sehun kurang darah, terkena penyakit atau semacamnya. Hey ayolah sehun masih muda dan sehat untuk hal-hal seperti itu, bahkan tadi siang dia sempat adu pukul dengan pelaku pembunuhan karna mengelak dibawa ke kantor polisi.

Keparat memang, sekarang wajah tampannya jadi ternodai seperti ini. Meski samar, tapi tetap saja berharga. Wajah adalah aset utama di negeri gingseng ini. Right.

Ok kembali pada vitamin seorang Oh Sehun. Bukan pil atau sirup, melainkan sebotol minuman dengan bola-bola kecil yang melayang di dalamnya, juga tersedia berbagai macam rasa. Tidak menimbulkan bau obat tetapi kecanduan bagi peminumnya. Kurasa alkohol tidak ada yang semacam itu.

Vitamin hidup seorang Oh Sehun adalah Bubble Tea. Titik. Itu saja tidak ada yang lain.

Tadinya sih mau mengajak atasannya 'Baekhyun' tetapi sepertinya lain kali saja. Masih ada banyak waktu. Bukan bermaksud apa hanya sekedar mencoba lebih dekat dan sekalian promosi vitaminnya. Ck -_-"

Mobilnya sudah sampai di parkiran kedai langganannya. Dia sudah akan membuka pintu masuk tetapi dari arah dalam seseorang membukanya lebih dulu. Sebelum pintu kembali tertutup dia menahannya, orang itu sudah berlalu keluar. Sehun acuh dan mulai masuk.

"Total semuanya 19,500 won Sehun oppa." Kata perempuan penjaga kasir tersebut, dia tersenyum genit pada sehun. Kenapa bisa kenal, ya tanyakan sehun sendiri yang keseringan mampir maupun memesan disitu. Apalagi pria tampan sepertinya merupakan sasaran empuk bagi yang mengincarnya. Sedangkan sehun sendiri risih dan ingin segera pergi dari situ. Lantas dia cepat-cepat mengeluarkan dompetnya. Tapi kok aneh ya, kenapa sakunya rata. Batinnya bertanya. Ah sial dompetnya tertinggal di mobil.

"Airene, sepertinya aku melupakan dompetku di mobil. Bisakah kau menyimpannya dulu untukku sementara aku mengambilnya."

"Tentu saja oppa, aku pasti menyimpan hatiku untukmu seorang" kedip airene pada sehun dengan jawaban yang tidak nyambung sama sekali. Sehun hanya menatap datar tanpa ekspresi, omong-omong dia sudah biasa dengan hal semacam ini. Setelah itu sehun bergegas keluar tanpa menoleh lagi.

"Oppa aku selalu menunggumu" teriaknya penuh cinta disetiap kata yang mungkin masih didengar sehun saat sudah keluar dari pintu. Bahkan orang yang mengantri dibelakang sehun tadi tidak digubris olehnya karna terlalu fokus dengan kepergian calon namjanya.

.

Sehun hanya menggelengkan kepalanya mendengar teriakan airene bersamaan sahutan-sahutan protes orang-orang yang mengantri. Baru beberapa langka dia berjalan, tiba-tiba..

"AWW.."/ "Ye..s-s.." Sehun memekik kesakitan pada pelipisnya yang berdenyut bersamaan pekikan orang lain. Sepertinya dia si penendang botol ini. Pikirnya.

Sehun mengambil bekas minuman tersebut dan bergegas menghampiri si pelaku. "apa kau yang menendang botol ini bocah" tanyanya menggebu penuh tuntutan. Tentu saja ini karna rasa nyeri yang ditimbulkan. Sebenarnya tendangannya lumayan dan tidak akan terlau sakit kalau saja tidak tepat mengenai lebam di pelipisnya. Sialan benar bocah ini. Hari ini sepertinya sehun banyak sekali mengumpat, tapi biarlah.

Kalian pasti tau siapa pelaku yang dianggap sialan oleh sehun. Dia Xi Luhan. 'Rusa cantik' begitu sebutan legenda dari para fansnya di kampus. Heol. Dia laki-laki okey. Dan dia benci dengan panggilan itu. SANGAT. TANPA TOLERANSI.

"Bocah kau bilang, Ya! Kau pikir kau siapa berani padaku tidak ada sopannya" jawabnya tanpa takut dan rasa bersalah. Seperti seseorang saja sifatnya. Hemm.

"Cih, jangan merasa sok dewasa ya. Cepat beritahu sekolahmu biar kuadukan pada gurumu kalau kau sudah berbuat kekerasan pada seseorang."

"Aku seorang Dosen asal kau tau,"

"hahaha.." sehun terpingkal memegangi perutnya, "..jangan becanda, badan sekecil itu kau sebut dirimu dosen, yang benar saja." Bahkan dia tidak berhenti tertawa disela bicaranya.

Luhan mencoba sabar terlebih dahulu. "kalau begitu kau yang bocah, mana seragammu kenapa tak kau pakai oh atau jangan-jangan kau salah satu mahasiswaku yang mencoba membuntuti dan menggodaku. Ayo mengaku"

"dalam mimpimu.." jawab sehun tersenyum remeh, "..kau tidak lihat aku memakai pakaian kantor bocah." Sehun bersendekap.

"siapa tau hanya untuk gaya kau meminjamnya dari ayahmu diam-diam. Bisa saja kan" timpal Luhan tak mau kalah.

"bocah kecil sepertimu memang perlu dihajar ya"

"Ayo siapa takut, kemari kau." luhan sudah memasang kuda-kuda untuk menangkis serangan sehun nantinya. Bukannya memulai sehun malah tertawa lagi melihat sifat arogansi luhan yang menggemaskan. "Yakin kuat memukulku, sebaiknya kau pulang saja aku mengampunimu kali ini." Sepertinya sehun mengartikan apapun bentuk luhan adalah kecil termasuk 'itu'. asal kau tau mata nakal sehun tidak berhenti menatapnya sejak tadi. Mesum.

Luhan geram, dia mulai melangkah dan mempersempit jarak diantara mereka. Lalu dengan cepat kaki itu menendang tepat didaerah privat sehun. Sehun langsung mengumpat begitu rasa nyeri yang sangat fatal berdenyut pada area pribadinya. Tendangannya kali ini tak main-main.

Ouww Man.. itu pasti sakit sekali. Sumber kenikmatan seorang sehun harus terluka dengan ketidak peri keburungan(?).

"KAU.." setelah menenangkan asetnya dan menahan perih ketika berjalan, kini dia sudah berdiri tepat didepan luhan. "..ikut aku" ucapnya sembari menarik paksa tangan mungil itu.

"Hey.. hey.. kau akan membawaku kemana?" tangannya dicekal erat oleh sehun hingga terasa sakit. Luhan sendiri tidak bisa memberontak karna sibuk mengikuti langkah laki-laki ini. "Ya. Aku membawa mobil sendiri, turunkan aku" sekarang luhan berada didalam mobil sehun, si pemilik sendiri sudah bersiap akan menjalankan mobilnya.

"Berisik" mobil sehun melesat keluar kedai menuju jalan besar.

"bagaimana dengan mobilku, ."

"..."

"kita mau kemana? aku ingin pulang.."

"..."

"turunkan aku ajjushi!"

Mobil berhenti seketika itu juga. Luhan mengekerut ketika sehun menatapnya tajam. Suasana jalan malam itu kenapa berubah menjadi sangat mencekam walaupun jam sudah 10.57, seharusnya masih ada kendaraan yang masih berkeliaran, dan seharusnya mobil ini tidak berhenti di jalanan sepi. Inner luhan menjerit.

"Mulutmu cerewet sekali" sehun perlahan bergeser mendekati kursi luhan, "apa yang ingin kau lakukan, menjauh" sementara si mungil terjebak pada pintu mobil.

"aku perlu membungkam ini" wajah sehun semakin mendekat meraih kepala luhan yang bersender pada kaca pintu mobil seraya tangannya mengusap lembut benda kenyal dibawah hidung si rusa cantik.

Luhan menatap horor mendengar perkataan sehun.

"Apa maksudm.. hmmmtth"

.

#LOS^^

Musik berdentang sangat pelan dan berirama merdu senada nyanyian gereja yang mengguncang kedamaian jiwa suci manusia.

Kyungsoo salah satu dari sekian ratus insan yang merasa terundang untuk mendatangi tempat karaoke yang bernuansa klasik ini. Not first time. Setiap kali kesulitan hinggap pada roda kehidupannya, menarik paksa untuk menjadi sosok yang kuat. Setiap itulah dia akan lemah dan terjatuh mengingat waktu tak akan bisa berputar kembali. Dia butuh tempat ini, bukan untuk mengaduh sebagai hamba Tuhan yang meminta pengampunan, bukan pula sebagai pasien yang mengeluh meminta kesembuhan ragawi.

Menyanyi itu sangat menyenangkan. Hanya sesimple itu.

Setelah seperempat jam lalu dia habiskan untuk berteriak, menjerit, marah bahkan menangis karena mengikuti alur sebuah lagu, kini hanya tinggal memejamkan mata saja menikmati alunan klasik yang tersaji sebagai penutup.

Lagu terus berputar, Pachelbel's Canon in D sebagai pilihan yang tepat menggambarkan perasaan kyungsoo yang diliputi kesedihan dan kegembiraan datang dalam waktu yang sama.

Selalu ini, dan kyungsoo tidak akan pernah bosan memutarnya. Sebuah kenyamanan sudah mulai merambati jalur pernapasan kyungsoo yang mulai berhembus secara teratur.

Detik-detik berlalu dan ketenagan itu berubah menjadi kegaduhan. Kyungsoo sangat terusik akan hal itu, belum sempat dia akan beranjak untuk melayangkan protes, tiba-tiba pintu terdobrak dengan keras.

"Tuan anda tidak bisa masuk kesini, ruangan ini sudah dipesan" begitulah kata sang pemilik tempat karaoke sedikit terengah menghadapi pemuda berkulit tan tersebut. Kim Jongin, pemuda yang suka cari masalah ini sepertinya menghiraukan larangan tersebut.

"Aku suka nomer ruangannya, kau mau apa.." tunjuknya pada angka 12 yang terukir paten pada kosen pintu. "..dan kau, bukannya sudah lama memakainya sekarang keluarlah." telunjuknya berputar arah pada kyungsoo dengan perintah penuh kekuasaan. Tidak sopan.

"Tuan, anda tidak bisa melakukan itu ruangan ini sudah disewa semalaman oleh tuan ini" si pemilik mencoba memberikan penjelasan. "anda bisa memesan ruangan lain yang kosong dan lebih bagus dari ini, mari saya tunjukkan" bujuknya lebih sabar atas kelakuan kasar jongin sebelumnya. Kalau bukan pelanggan sudah dia ringkus orang ini. Kesal pemilik dalam hati.

"Kau tidak dengar apa yang kukatakan eoh! Aku-Hanya-Ingin-Ruangan-Ini."

"Hentikan!"

Suara semerdu alunan seruling india(?) milik kyungsoo akhirnya keluar juga. Bagaimana tidak, jongin mulai akan bertindak kekerasan jika tidak segera diatasi.

"Tidak apa-apa, biarkan dia disini.." putus kyungsoo pada pemilik, "pakailah sepuasmu masih ada sisa banyak waktu untuk kau nikmati."

Begitu pemilik karaoke pergi, kyungsoo bergegas membereskan barangnya untuk pergi juga. Moodnya sedang berantakan, dan sekarang gara-gara pria ini dia harus menekannya.

Brakk~

Pintu ruangan tertutup dengan keras, jongin sebagai sang pelaku malah menyenderkan tubuhnya sambil bersendekap seakan menghalangi langkah kyungsoo yang mencoba mencari celah untuk keluar.

"Minggirlah, aku ingin keluar" jongin mengangkat sebelah alisnya ketika melihat ekspresi wajah kyungsoo.

"Aku tidak bisa"

"Apa maumu sebenarnya, aku sudah mengalah sekarang biarkan aku pergi."

"Apa kau yakin ingin melewatkan lagu ini?"

"Nde.." kyungsoo langsung cengo, dan tanpa permisi jongin langsung menyeret tangan kyungsoo duduk pada kursi kembali.

"Musik ini, apa kau menyukainya?" tanyanya kembali pada kyungsoo. Memang lagu penutup dari Pachelbel masih terus berputar mengisi udara kosong pada ruangan tersebut, raut muka kyungsoo sendiri sulit terbaca.

"Sudalah, aku hanya ingin kau menemaniku malam ini." Jongin menuangkan alkohol pada gelas kecil, lalu meminumnya satu kali tegukan.

What the...

"Kau pikir aku pelacur, yang bisa seenaknya kau suruh. Aku tidak mau."

"Aku tidak bilang begitu, jadi kau memang pelacur"

Darah mendidih sudah sangat panas di kepala kyungsoo, dia siap kalau malam ini harus mendekam di balik jeruji. Asal mulut pria kurang ajar satu ini bisa sobek ditangannya. "Keparat kau," tanpa basa basi kyungsoo berdiri di depan jongin yang duduk di sofa lalu memegang kerah bajuya tinggi-tinggi, satu kepalan tangannya siap meluncur tepat pada rahang jongin.

Slaps~ dan bagaikan secepat kilatan Blitz kamera, pukulannya ditahan oleh tangan kiri jongin yang menganggur. Tanpa menunggu detik berlalu tangannya tertarik maju, karena tidak adanya persiapan dan keseimbangan yang cukup kyungsoo jatuh terjembab pada pelukan jongin, dan..

Chu~

.

#LOS^^

TUHAN, KEJUTAN APA LAGI INI

Sudah sekitar 15 menit, tetapi tidak ada suara apapun yang muncul dari kedua belah bibir yang berbeda volume tersebut. Chanyeol hanya diam seperti patung meski tangannya masih memainkan stir kemudi taxi. Sedangkan baekhyun di kursi penumpang lebih suka menutup mulut dan jantungnya yang terus berdetak tak menentu.

Batinnya frustasi jika memikirkan semua hal yang mengejutkan hari ini. Air mata yang sejak tadi ditahannya harus bersabar untuk tidak mempermalukan pemilik bibir tebal yang sekarang masih berfokus memperhatikan jalan.

Malam hari itu hujan sangat deras mengusik ketenangan penghuni dunia, orang-orang lebih memilih berkumpul dengan keluarga untuk berbagi kehangatan dirumah masing-masing. Tetapi laki-laki kecil satu ini harus membuang jauh pikirannya untuk tidak mengharapkan moment manis seperti itu, dia sadar bukan waktunya berkhayal tetapi lebih pada kekhawatiran.

Orang tuanya belum juga kembali sejak 1 jam yang lalu ketika berbicara ditelpon. Tidak biasanya mereka telat dari jadwal pulang yang dijanjikannya. Kalaupun begitu pasti menelpon lagi jika ada masalah. tetapi sekarang tidak ada satupun panggilan masuk pada telpon rumahnya.

Chanyeol tidak bisa tidur makanya dia memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. Bocah umur 5 tahun itu berharap semoga tidak terjadi sesuatu, karena pikirannya yang dewasa sebelum waktunya membuat si kecil lebih memilih menghubungi nomer ayahnya daripada menangis malah bukan menyelesaikan masalah.

Tetapi belum sempat dia menekan tombol-tombol angka itu, terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumahnya. Segera dia letakkan gagang telpon itu secara sembarangan dan berlari keluar rumah menyambut appa dan eommanya.

Pintu utama terbuka. Matanya membulat mengetahui bagaimana penampilan orang tuanya yang bisa kotor dan basah padahal mereka menaiki mobil, dan siapa anak kecil diantara kedua orang tuanya? Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di kepala pintar chanyeol.

"chanyeol.." eommanya memanggilnya dengan nada paling lembut yang pernah didengarnya. "..sini sayang".

Perlahan tapi pasti chanyeol mendekati kedua orang tuanya, berdiri tepat didepan eommanya. Eommanya mengusap kepalanya dengan pelan sambil menyamakan tinggi badannya dengan chanyeol. Dia memegang tangan putranya dan tangan mungil anak kecil yang dibawanya untuk disatukan.

"Perkenalkan dia Byun Baekhyun, teman sekaligus hyung baru untukmu."

"eh.." mata kecilnya mengerjap-ngerjap pelan lalu menatap eommanya disamping kanannya. "..tapi eomma dia kan perempuan mana bisa disebut hyung"

Seketika itu terdengar tawa keras dari sang kepala keluarga dan senyuman lebar istrinya. Sedang anak yang dibicarakan pipinya memerah malu mendengar ucapan polos calon adik barunya.

Sang ayah mengikuti jejak istrinya untuk duduk bertumpu pada lutut guna menyamakan tinggi pada kedua anak kecil didepannya. "kau ini tau saja mana laki-laki cantik dan laki-laki tampan.." appanya masih saja terkekeh sambil menjahili putranya. "bukan sayang, dia ini laki-laki sama sepertimu bedanya umurnya lebih tua 5 tahun dari chanyeol dan panggil dia hyung."

Chanyeol mengerti dan dia lalu tersenyum pada baekhyun. "hyung.."

.

.

Suasana tetap hening, chanyeol melirik seseorang itu melalui kaca spion depan mobil tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan. Tetapi hatinya sangat kecewa ketika orang tersebut malah acuh dan menikmati dunianya sendiri. Permainan macam apa ini?

"Chanyeolie~ lihat aku bawa apa?" anak yang lebih muda tidak merespon, dia sibuk dengan buku yang dibacanya.

"kau mengacuhkanku lagi" bibir baekhyun mengerucut lucu. Dia baru pulang sekolah dan mampir membeli 'hwajeon' di pedagang kaki lima tapi apa yang didapatnya tidak sesuai dengan ekspetasinya.

Chanyeol tau hyungnya sedang merajuk, 4 tahun bersama sudah membuatnya hafal kelakuan ajaib baekhyun yang terkadang lebih kekanakan darinya. Si kecil meletakkan bukunya dengan tidak rela, dan beralih pada hyungnya yang duduk disampingnya enggan untuk menatapnya.

Si kecil mencoba menolehkan kepala hyungnya untuk menghadapnya, dia sempat melihat bungkusan kecil tergeletak di atas meja. Ternyata pesanannya kemarin baekhyun kabulkan.

"hyung.. lihat aku" mata sebening embun dipagi hari itu akhirnya menatapnya.

"Chup, maafkan chanyeol sudah mengabaikan hyung.. jangan marah" baekhyun akhirnya tersenyum setelah chanyeol menciumnya di dahi. Jika baekhyun itu kekanakan tapi penyayang maka chanyeol adalah dewasa yang polos.

"baiklah, jha kita makan ini.." ajaknya membuka jajanan yang dibelinya tadi. Mereka makan sambil bercanda bersama.

.

.

"apa yang eomma bicarakan, hyung akan pergi kemana.."teriaknya menuntut pada ibunya.

"tenanglah sayang, baekhyunnie hanya pergi untuk belajar"

"kenapa lama sekali.. hiks hyung jangan pergi jangan tinggalkan chanyeol, chanyeol janji tidak akan nakal dan jahil lagi, chanyeol akan menuruti semua keinginan hyung, chanyeol janji hyung.. jebal hiks jangan pergi" tubuh kecilnya menarik-narik kasar baju baekhyun.

Orang tuanya tidak tau, ternyata selama ini hubungan kedua anak ini sangat erat layaknya saudara kembar. Sang appa bermaksud menengahi permasalahan ini dengan memberikan pengertian pada si kecil. Tapi pikiran dewasanya sedang tidak mau bekerja sama dan rengekan itu semakin menjadi. Anak tertua yang sejak tadi menahan isakan mulai bergerak cepat menghentikan tangisan chanyeol.

Chu~

Mata sepasang orang dewasa disana melotot dengan mulut terbuka lebar melihat bagaimana baekhyun menenangkan chanyeol. Hanya 3 detik, tautan bibir itu terlepas bersamaan mulut chanyeol yang tertutup rapat.

"Chanyeolie mau kan menunggu hyung pulang.." seakan tersihir dengan senyuman indah itu chanyeol langsung menganggukkan kepalanya.

Dan semua berakhir disitu. Hari dimana tidak ada lagi kebahagian bagi mereka.

.

Tidak boleh seperti ini. Tidak lagi. Membiarkan semua berlalu tanpa ada kejelasan membuat chanyeol muak dengan semua permainan omong kosong ini. Dia menghentikan mobil secara tiba-tiba hingga menciptakan decitan pelan dan pekikan seseorang dibelakang yang baru tersadar.

Chanyeol keluar taxi, lalu mengeluarkan paksa sang penumpang. Baekhyun akan menjerit protes jika saja dia tidak sadar kala mata itu melihatnya terluka.

"KENAPA HYUNG BARU KEMBALI, KATAKAN.."

Panggilan itu. chanyeol kah.

"HYUNG, jangan diam saja katakan sesuatu." Lemasnya di akhir kalimat, tak kuasa menahan beban ini.

"Chanyeol.." lirihnya membalas ucapan orang di depannya. "chanyeol.. chanyeol.. hiks chanyeol.. hiks chanyeol.. hiks" baekhyun menubrukkan tubuhnya dengan keras pada badan tegap dan tinggi tersebut. mengalungkan kedua tangannya di leher dan menyembunyikan isakan tangisnya di bahu kokoh itu. baekhyun terus menyebut nama itu berulang kali seakan meyakinkan kalau ini benar chanyeolnya.

"Kenapa kau melakukan ini.. pura-pura tidak mengenalku, itu menyakitkan hyung"

Baekhyun malah semakin terisak mendengar pernyataan chanyeol dan semakin mengeratkan pelukannya. Tidak peduli jika ini akan membuatnya sesak napas atau membuat baju seragam chanyeol basah. Bukan chanyeol tidak mau berlama-lama, tapi dia butuh penjelasan dan segera melepaskan pelukan itu.

Rasa kesal dan kecewa yang sejak tadi ingin di lontarkan pada orang didepannya seketika hilang dan tergantikan dengan kekehan serak darinya karena melihat bagaimana air mata berharga itu menganak sungai pada pipi chabi tersebut sehingga menghancurkan make up cantik disekitar matanya. Ya ayelinernya luntur dengan tidak elitnya.

"Apa kau ingin aku menghentikan tangisanmu seperti yang kau lakukan padaku waktu itu hyung.."

Hidungnya memerah dan bibirnya masih mengeluarkan isakan lirih. Astaga betapa jelek penampilannya saat ini. Baekhyun tidak mengerti maksud dari perkataan chanyeol, karna dia sibuk menormalkan suaranya.

Tetapi sebuah benda kenyal dan hangat menghambat saluran pernapasan dan memompa jantung baekhyun bekerja dua kali lipat secara bersamaan.

Bibir yang di dambanya..

.

.

TBC


Akhirnya bisa update juga, wkwk mian ya chingu. Ini gegara epek Exoluxion kemarin.

Huweee~ siapa yang gak nonton angkat keteknya tinggi2, nih ane temenin bareng bang sooman nangis di pojokan.

.

Malam minggu COEG baper bukan karna JONESS tapi TERHURA LIHAT STREAMING EXOLUXION IN JAKARTA. :v

Hello apa kabar yang kemarin bisa lihat mereka secara langsung. Masih idupkah?Gue yang bisa menghirup udara di negara sama aja udah bahagia. ;)

.

DEMI APA! CHANBAEK MOMENT BERTERBANGAN KEMARIN.. Serius man gue ngakak lihat baek niru wajahnya sendiri saat chanyeol ngambil salah satu kipas dari fans dengan gambar baekhyun yang kayak sundel bolong itu. wkwkwk gk deng maksudnya nyai cabe seanteka jagad raya.

.

Eh gue rada' ngeh dec ama kelakuan cogan satu ini. Sehunieku yang paling sekseh dibawah lepel akang jojong tercinta, gue tekanin ya nak FREE WIFI DI INDONESIA ITU EMANG SUSAH NGEDAPETINNYA. *curcol*

Hhh~ pokoknya gitu dec nih gue sodorin updetan biar kalian gk baper lagi. Oh iya owe berharap ff ini masih ada yang minat. Karna ya gitu rada kurang percaya diri mau lanjutin. para copel udah pada ketemu tuc.. Buat seru2an coba ditebak ya kira2 siapa diantara ketiga kopel diatas yang ciuman dibibir beneran Klog ada yang bener hadiahnya NC mulai menunggu di chapter depan. :D *ketawa nista*

Mind to Riview?