Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
OCs © Author Sia Leysritt
Summary
"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."
Other Author OCs:
Shizen Areleous: Shimmer Caca
Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29
Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29
Sia Leysritt Present:
Halfbloods: Titan's War
Oblivion – II
Penyerangan Dadakan
"If you are in difficulties with a book, try the element of surprise: attack it at an hour when it isn't expecting it."
—H. G. Wells
"Kau yakin kita bisa mempercayai mereka?"
Mereka terus berdebat dan Kallisto sudah lelah mendengarnya. Jarinya memutar-mutar gelang yang ia lepas dari pergelangan tangannya. Gelang tersebut ia gunakan sebagai penghilang rasa bosan karena perdebatan yang tak kunjung berhenti ini. Kallisto pribadi, tidak terlalu suka perdebatan semacam ini. Kedua belah pihak punya poin yang valid. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, baik sisi Pro maupun Kontra, dua-duanya punya poin dan alasan yang bagus dan Kallisto tidak terlalu suka mengikuti perdebatan yang terlihat seri dan tak ada penyelesaian macam ini.
Ia mengabaikan Rio yang berdiri di belakangnya dan tengah melemparkannya tatapan yang menyerukan 'Lakukanlah sesuatu!' dan terus memainkan gelangnya.
"Kau harus mengakui bahwa kali ini kita tak bisa bergerak sendiri," Seorang pria bertudung merah putih yang duduk di ujung meja kayu panjang yang memuat 42 kursi – yang semuanya terisi penuh – berbicara dengan nada yang tak terdengar berwibawa sedikitpun. Suaranya terdengar malas dan tak tertarik untuk membahas permasalahan ini lebih lanjut, namun juga tersirat penekanan yang menyatakan bahwa keputusannya sudah bulat dan tak bisa di ganggu gugat. "Dari semua Dewa yang ada, hanya Athena yang setidaknya bisa kita percayai dibandingkan dewa-dewi lain."
Seorang pria berkerudung merah mendengus. "Oh ya, tentu, mari kita percayai apra Dewa-Dewi yang sudah menerlantarkan dan membiarkan kita mati bertahun-tahun yang lalu." Cemoohnya. "Aku tidak percaya satupun dari mereka dan sejujurnya? Aku tidak perduli kalau para Titan mau menghancurkan mereka. Good riddence actually."
Marina menopang dagunya, tampak bosan dengan perdebatan yang penuh dengan perkataan dan caci maki yang sama. Dia tidak ikut ambil bagian tentu saja, ayahnya orang yang baik dan dia tidak punya satupun alasan untuk membenci ayahnya. Ia melirik Maria, adik kembarnya yang sedaritadi diam saja dan mendengarkan. Marina mendengus, heran kenapa Maria bisa tahan berdiri berlama-lama mendengarkan perdebatan tak berujung ini. Ia menarik ujung baju Maria, membuat sang adik melirik ke arahnya.
Mau tukaran? Katanya tanpa suara, hanya sekedar menggerakkan bibir. Maria tersenyum kecil dan menggeleng. Marina kembali berbalik dan kembali – pura-pura – memperhatikan rapat. Sekali-kali ia menerawang keluar jendela.
"Ah... Aku ingin main dengan Nasha..."
Nasha mendadak bersin tanpa alasan.
"Dingin?" Tanya Milo sembari memberikan apel padanya. Nasha menerima apel itu setelah menggosok hidungnya yang sebenarnya tidak gatal.
"Tidak. Sepertinya ada yang membicarakanku." Jawabnya.
"Pasti tentang hal yang jelek." Kata Ingvalt sambil terkekeh, mengacak-acak rambut adiknya yang memang sudah berantakan itu. Nasha merengut tak suka. Rambutnya sudah berantakan, Ingvalt tak perlu membuat rambutnya lebih berantakan lagi.
"Oh, diamlah." Kata Nasha sambil menggembungkan pipi. Ingvalt terkekeh dan menjauhkan tangannya.
"Dasar anak kecil."
"Biarkan saja, memang masih kecil kan?" balas Nasha sambil menjulurkan lidah.
Milo hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku kakak beradik itu. Kelakuan kakak beradik normal pada umumnya, memang, tapi menarik untuk ja laki-laki berambut cokelat itu duduk di bangku kayu, adiknya duduk di sebelahnya. Keduanya memakan apel pemberian sang Kalajengking Emas. Milo sendiri, duduk menikmati apelnya sambil menceritakan misinya dan Camus kemarin.
"Keren. Ular itu pasti lincah sekali." Kata Ingvalt.
"Ia tidak punya tulang belakang." Kata Milo sambil menggigit apelnya. "Lebih tepatnya, ketimbang lincah, dia fleksibel."
"Apa bedanya lincah dan fleksibel?" Tanya Nasha penasaran.
"Itu, sulit di jelaskan." Jawab Milo. "Kau akan tahu saat kau sudah cukup besar."
Ingvalt mencibir. "Semua orang dewasa selalu bilang begitu saat anak-anak menanyakan hal yang sulit di jawab."
Milo hanya tertawa mendengar pernyataan jujur Ingvalt. Mereka hanya selisih satu tahun dan hubungan mereka cukup baik. Masalahnya Ingvalt orang yang sarkastik. Terkadang tentu saja. Biasanya remaja berambut coklat itu lebih banyak diam dan mengurusi urusannya sendiri, tapi jika ia di usik atau kau melakukan sesuatu yang membuatnya kesal maka mulut tajamnya akan menusuk hatimu dengan puluhan bahkan ratusan sarkasme yang mampu membuatmu mati kutu. Karena itulah, walau mereka akrab, Milo lebih nyaman dengan Camus. Dengan Ingvalt, Milo harus hati-hati dengan perkataannya. Dengan Camus ia tenang-tenang saja.
"Itu taktik orang dewasa untuk menghindari percakapan yang tak boleh di dengar oleh anak di bawah umur."
Lagi-lagi Ingvalt mencibir. "Kau berbicara seolah jarak umur kita jauh."
"Aku berbicara pada adikmu. Lagipula harus kau akui bahwa kata-kataku benar."
"Ya? Taktik itu murahan."
Milo menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memutuskan untuk berhenti mengusik Ingvalt, tidak mau mendengar sindiran menusuk dari remaja satu ini. Serius. Dia hanya ramah pada orang-orang yang ia anggap dekat, seperti keluarganya. Sisanya? Kalau bukan didiamkan atau di anggap patung, berarti sindiran habis-habisan.
"Tapi jujur, aku iri." Kata Ingvalt tiba-tiba. "Aku ingin bisa melakukan aksi-aksi seperti kalian." Suara temannya itu terdengar datar. Pelan. Milo tahu ia berkata jujur.
"Kau sedang tidak sehat." Kata Milo. "Utamakan dulu kesehatanmu."
Ingvalt memutar bola matanya. "Kau mulai terdengar seperti Lana."
"Hei, aku hanya peduli." Kata Milo sambil mengangkat bahu. "Lana juga begitu."
"Ya, ya, aku tahu." Kata Ingvalt acuh tak acuh. "Omong-omong, kau bilang kau harus kembali ke Sanctuary bukan?"
"Ah benar." Milo lantas berdiri, menghabiskan apel dalam genggamannya.
"Sudah mau pergi?" Tanya Nasha.
"Begitulah. Aku akan mengunjungi kalian lagi." Kata Milo dan ia pergi.
"Ia tampak sibuk." Kata Nasha yang sejak tadi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sibuk memakan apelnya dan ia tak terbiasa bersuara saat sedang melahap makanannya. Walaupun itu hanyalah sebuah apel.
"Kita juga akan sibuk." Jawab Ingvalt. Apel di tangannya sudah habis daritadi. Ia duduk menemani adiknya.
"Apa keadaannya seburuk itu?" Tanya Nasha, menghabiskan apelnya.
"Entah." Jawab Ingvalt. "Tapi aku tahu salah satu dari petinggi akan menyerahkan gulungan pada salah satu Saint."
"Gulungan?"
"Penawaran." Ralat Ingvalt. "Pihak kita sudah memutuskan untuk membentuk aliansi. Walau terpaksa."
Milo melewati desa Rodorio. Desa itu ramai seperti biasa. Perempuan-perempuan paruh baya atau yang sudah berkeluarga sibuk di pasar membeli bahan untuk makan siang nanti – atau makan malam – sekelompok anak laki-laki sedang bermain lempar bola dan ada sepasang anak perempuan yang tengah menggambar pada tembok dengan wajah tanpa dosa. Singkat kata, desa itu damai dan itu membuatnya bangga sebagai Saint Athena karena itu berarti dia telah melakukan tugasnya dengan baik.
Ia terdiam. Kejadian kemarin masih membekas di otaknya, terutama gundukan mayat yang mereka temukan. Ia tidak bisa tidak berpikir bahwa itu disebabkan oleh kelalaian mereka. Walaupun Camus berkata bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik tapi ia tidak bisa tidak merasa bersalah. Tapi, itu semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang terjadi tak bia diapa-apakan lagi.
Milo menggaruk kepalanya, frustasi. Perasaan yang berhasil ia sembunyikan dari dua kakak beradik tadi. Tidak tahan, ia memutuskan untuk pratoli beberapa saat sebelum kembali ke Sanctuary. Namun, tak memperhatikan kemana ia pergi, ia menabrak seseorang. Orang itu, pembaca sekalian, bertudung. Wajahnya tak kelihatan, di tutupi oleh tudung merah dari jubah berwarna merahnya.
"Maaf." Kata sosok bertudung itu. Milo hendak berkata bahwa itu tidak masalah namun, dengan cepat dan cekatan, sosok bertudung itu melewatinya dan – entah bagaimana – menyelipkan sebuah gulungan pada tangan sang Kalajengking Emas dan, sebelum pergi, ia membisikkan pesan. Suara yang rendah dan tak bernada juga lirih terdengar jelas oleh Milo.
"Berikan itu pada pemimpinmu."
Dan begitu saja, sosok itu berbaur dan menghilang dalam kerumunan, bahkan sebelum Milo sempat berbalik untuk menghentikannya.
"Apa-apaan—"
Milo melirik gulungan dalam genggamannya. Kertas gulungan itu tampak tua. Sudah berwarna kekuningan dengan bercak-bercak cokelat dan terikat oleh pita merah. Kertas itu lusuh dan terlihat mudah robek.
"Gulungan apa ini...? Siapa yang tadi itu...?
Dan masih banyak pertanyaan lagi yang memenuhi pikiran Milo. Sangat banyak lebih tepatnya, sayangnya, sosok yang menyebabkan munculnya pertanyaan itu sudah menghilang dan Milo tahu ia tak akan mendapatkan jawaban apa-apa.
Setidaknya tidak hingga ia memberikan gulungan itu pada Sri Paus.
Di sisi lain, sosok barusan telah menghilang ke dalam sebuah gang sempit yang tidak jauh dari pasar. Gang itu gelap dan tampak angker sehingga tak banyak orang berlalu lalang di situ. Sosok itu membuka tudungnya. Rambut cokelat susu panjang tergerai hingga lututnya. Poninya panjang dan hampir menutupi mata namun sosok itu – yang adalah seorang gadis remaja – tampak tak peduli. Mata hijaunya setengah tertutup. Dia mengantuk. Tapi memang hanya ekspresi mengantuk dan bosan lah yang selalu terlihat pada wajah chubby itu. Ia menggosok mata lalu menguap.
"Ck. Kau jangan lengah begitu."
Gadis itu mengerjapkan mata lalu melihat sosok lain bertudung. Ia mengenakan tudung berwarna merah muda. Rambutnya abu dan pendek seleher. Wajahnya cantik tapi ekspresinya yang tengah merengut itu membuatnya tampak seperti anak kecil yang siap dicubit pipinya. Bibirnya kemerah-merahan, warna alami dari sananya. Kulitnya putih seperti boneka porselen dan matanya berwarna amber. Kalau saja ekspresi wajahnya dan gerakan tubuhnya anggun, pasti banyak yang akan mengira ia seorang putri.
"Scarlett." Jawab gadis berambut cokelat tadi.
"Kau lengah. Bersyukurlah aku tidak berniat untuk main-main dan jatuh di atas badanmu." Sindirnya. "Jadi, bagaimana perkejaanmu, Atlanta?"
Gadis bermata emerald,Atlanta, hanya diam. Memandangi rekannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Apa?" Sergah Scarlett.
"... Kau pakai juga jubah itu."
Wajah Scarlett sontak memerah karena amarah dan rasa malu. Atlanta memang blak-blakan dan suka menyebutka fakta tidak penting di saat yang tidak pas. Dan dari semua hal yang harus ia sebutkan kenapa harus ia singgung jubah merah muda yang membuatnya terlihat tolol ini?
"Tutup mulutmu! Demi Tartarus..." Scarlett berusaha menahan amarah. "Aku kalah taruhan dengan Daniel."
"Ah. Taruhan tentang Marina yang tidak akan kabur dari hukumannya kemarin? Harusnya kau tahu gadis itu tidak bisa tenang."
Scarlett menggertakkan gigi. Cara bicara Atlanta sangatlah lambat dan rasanya sudah sejam lalu ia mengucapkan kata awal kalimat itu dan jujur, caranya berbicara membuat Scarlett ikut mengantuk. Nada monoton tanpa nada dan lemas itu? Siapapun akan ikut lemas dan ngantuk mendengarnya.
"Lagian..." Atlanta terdiam lama. "..."
"Apa? Jangan membuang waktuku."
"Kau terlihat... Seperti boneka porselen. Jubah itu cocok untukmu."
Oh Demi Hades bisakah ia tampar gadis lemah ini sekarang? Oho, tapi pembaca, Atlanta jauh dari kata lemah. Sangat jauh.
"Diam. Aku bersumpah jika kau tidak diam..."
Atlanta mengangkat kedua tangan. "Tugas sudah beres, terima kasih kembali. Ayo pulang. Aku mengantuk." Dan Atlanta pergi begitu saja. Scarlett menggerutu.
"Demi Tuhan kenapa ia hanya sigap saat menyangkut tidur?"
Nasha menyesali keputusannya. Tidak, ia berharap ia bukanlah orang yang cepat bosan, atau berharap markas utama tidak membuat dirinya bosan. Tapi nyatanya itulah yang terjadi. Ia berpisah jalan dengan ketiga kakaknya karena ingin mencari buku di perpustakaan terdekat. Kakaknya membiarkannya, toh, mereka tak pernah memperlakukan Nasha seperti anak kecil dan Nasha sudah cukup besar untuk tahu bahwa ia harus pulang sebelum senja.
Namun, jalan-jalannya yang awalnya aman-aman saja berujung menjadi medan pertempuran. Saat ia sedang berjalan ke arah perpustakaan, melewati desa yang masih ramai dengan orang-orang yang melakukan berbagai kegiatan, ia mendengar ledekan.
Ledakan itu tak jauh dari tempatnya berdiri kini, tidak jauh dari pusat kota. Matanya melebar, terbelalak, namun ia tidak diberi kesempatan untuk mengetahui apa yang terjadi karena tak lama tiga sosok raksasa muncul tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ketiga mahkluk itu, menurut Nasha, jelek. Sangat jelek dan tampak menjijikkan. Tiga raksasa berbadan besar denga mata yang hanya satu mengenakan pakaian lusuh penuh lendir – menjijikkan, aku tahu – dan mengayunkan pentungan sebesar gunung di tangan mereka.
Cyclops.
Mahkluk dalam mitologi Yunani. Raksasa bermata satu yang dahulu merupakan keturunan Kronos sang titan waktu. Mereka membuat senjata Zeus saat Zeus menjanijkan kebebasan bagi mereka dari Tartarus. Oh tapi ini bukan waktunya untuk pelajaran Mitologi Yunani.
Nasha memekik tertahan. Ini semua terlalu tiba-tiba. Mengikuti insting, ia bergerak menjauh dari kerumunan, tahu dalam waktu dekat angin akan meniup aroma tubuhnya dan ketiga Cyclops itu akan mengikutinya begitu aromanya – yang mungkin tercium seperti wangi stik panggang bagi mereka – tercium oleh mereka.
Dan terkaannya terbukti, tidak sampai satu menit.
Milo tiba di ruangan Sri Paus. Ia telah memberikan gulungan tersebut dan masih berlutut satu kata, menunggu sang Petinggi Sanctuary untuk membaca gulungan tersebut sampai selesai. Tak lama kemudian, pria besar berjubah putih dengan helm emas itu menutup gulungannya. Milo tak bisa menebak ekspresinya di balik topeng itu, beliau juga tidak bergerak banyak untuk membiarkan Milo membaca gerak-geriknya.
Sebenarnya, ia sudah agak lama tiba di kuilnya namun ia masih ragu. Haruskah ia menyerahkan gulungan itu? Dan tentu saja saat bingung, Camus lah tempatnya berdiskusi. Mereka tak membuka gulungan itu tentu saja, karena gulungan tersebut ditujukkan langsung kepada Sri Paus. Milo nekat mencoba membukanya namun entah kenapa pita tersebut tak bisa dibuka.
"Pasti sihir."
Dan begitulah. Gulungan itu tak bisa dibuka oleh mereka dan mereka mengkhawatirkan jebakan dan khawatir jebakan itu membahayakan Sri Paus. Tetapi mengikuti kata Si Bijak Camus, Milo memberikan gulungan itu dengan pikiran jika itu jebakan ia dan Saint Emas lain akan langsung bertindak.
Gulungan itu, tak bisa dibuka oleh Milo dan Camus, namun Sri Paus dengan mudahnya membuka gulungan itu.
Tidak terjadi apa-apa sejauh ini dan beliau sudah selesai membaca gulungan itu. Milo sama sekali tidak bisa menebak entah isi gulungan itu baik atau buruk.
"Sri Paus, boleh saya tahu apa isi gulungan itu?" Tanya Milo yang akhirnya melontarkan pertanyaan yang telah berada di ujung lidahnya.
Sri Paus terdiam sejenak, menatap Milo yang tengah berlutut di hadapannya. Ia mendesah sejenak sebelum bangkit dari singgasananya.
"Milo, kumpulkan semua Saint Emas di sini. Ada hal penting yang harus kuberitahu kepada kalian."
Milo mengerutkan kening tapi tidak membantah.
"Baik."
Ia berdiri, hendak berbalik untuk melakukan sesuai perintah Sang Paus, namun tiba-tiba, pintu masuk Papacy terbuka dan seorang prajurit Sanctuary masuk. Ia tampak panik. Milo merasakan firasat buruk.
"S-S-Sri Paus!" Prajurit itu berlutut dengan ceroboh di hadapan sang Paus, ia tampak kehabisan napas, seakan ia sudah berlari beribu-ribu mil untuk menemui Sri Paus. "G-Gawat! D-Desa—Desa—"
Oke, firasat buruk Milo semakin menjadi-jadi saja. Ia berbalik untuk menatap prajurit yang tengah berlutut dan panik itu. Air muka prajurit itu tidak menandakan sesuatu yang bagus.
"Ada apa? Bicara yang jelas." Desak Milo.
"Desa Rodorio, Tuan! Desa itu di serang monster!"
"Apa?!" Milo tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia merasa seperti dihantam sesuatu yang keras saat sang prajurit memberitahunya berita itu, karena ia baru saja dari desa itu beberapa menit yang lalu.
"Monster?" Sri Paus sendiri menegang, ia – walau tak terlihat jelas karena topeng yang menutupi wajahnya itu – menatap sang prajurit.
"Iya Tuan! Monster—Cyclops—"
Sri Paus mengangkat tangannya, memberi isyarat agar prajurit itu berhenti berbicara. Sedikit banyak, ia mengerti apa yang terjadi dan sepertinya sang Sri Paus harus menunda penjelasan yang ingin ia berikan kepada sembilan Saint terkuatnya. Karena keselamatan orang-orang awam jauh lebih mendesak.
"Milo, amankan Desa Rodorio! Bawa Camus, Aiolia dan Shura bersamamu!"
Milo tak perlu berpikir dua kali.
"Siap!"
Sementara itu, pahlawan kecil kita, pembaca, sedang berusaha menjauhkan para Cyclops dari desa. Gadis kecil bersurai biru itu berlari sekencang mungkin, sejauh kakinya bisa membawanya dan setidaknya, ia berhasil berlari hingga hutan sebelah utara desa. Gadis itu berhenti, memegang batang pohon terdekat dan menarik napas. Jantungnya berdegup kencang karena berlari dan itu sama sekali bukan hal yang bagus. Cyclops itu sudah kehilangannnya, namun Nasha tahu tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukannya karena baunya pasti akan memancing mereka ke sini.
Nasha melihat sekelilingnya. Ia mengutuk dirinya karena tak membawa senjata, karena ia tak menyangka bahwa monster akan masuk ke area ini. Lagipula, senjata untuknya belum selesai dibuatkan oleh Fana dan dia juga tidak melihat perlunya membawa pisau kecil atau semacamnya karena ia tadinya hanya berniat untuk jalan-jalan.
"...Sekarang apa?" Gumamnya. Hutan sepi dan tidak ada senjata atau apapun yang bisa dijadikan senjata, buruknya lagi, Nasha sudah lelah dan kakinya gemetaran karena berlari dengan jarak yang cukup jauh. Nasha berpikir untuk mencari tempat persembunyian, setidaknya sampai dirinya aman, lagipula para Cyclops itu tidak akan kembali ke desa karena dirinya masih di sekitar sini.
Sembunyi dulu, baru pikirkan selanjutnya nanti. Pikirnya begitu, namun sayangnya, para Cyclops tidak membiarkan itu terjadi.
Mendadak, Nasha merasakan tanah yang dipijaknya bergetar, begitu juga pepohonan di sekitarnya.
"Oh, sial." Umpatnya. Ia berbalik dan melihat tiga raksasa bermata satu yang sangat jelek itu berlari ke arahnya, masing-masing membawa pentungan yang mirip pemukul bisbol dari besi yang pastinya akan sakit jika benda berbahaya itu menghantam seseorang. Nasha mencoba tenang. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia ingat penglihatan Cyclops tidak begitu bagus karena matanya hanya satu, tapi pendengaran mereka sangat tajam, begitu juga indera penciuman mereka. Perlahan, Nasha mundur dan menempel pada pohon, meninggalkan baunya di sana lalu ia berlari kecil – berusaha tak mengeluarkan suara – dan pindah ke pohon lain untuk meninggalkan baunya.
"Ke sini!" Teriak satu Cyclops dengan suara menggelegar. Nasha menelan ludah, entah karena takut atau jijik melihat saat berbicara, mulut Cyclops itu penuh air liur. Menjijikkan. "Demigod di sini!"
Nasha melihat para Cyclops berkumpul di pohon yang dipegangnya tadi dan mereka mengendus-endus macam anjing polisi yang mencium bau pelaku dari Tempat Kejadian Perkara.
"Hah? Bukan bodoh! Baunya ada di sana!"
Nasha bersusah payah menahan pekikkannya saat salah satu Cyclops – satu-satunya yang punya rambut diantara mereka bertiga – menunjuk ke tempatnya tengah berdiri.
"Bukan bodoh! Di sana!"
Satu Cyclops lagi – yang mengenakan helm macam helm tentara di kepalanya – menunjuk pada pohon kedua yang tadi ditandainya. Ya, bahkan anak kecil seperti Nasha tahu bahwa Cyclops itu tidak punya otak dalam kepala yang kelewat besar itu, pembaca. Kalian setuju denganku kan? Kan?
Baiklah, mari kita lanjutkan.
Sadar bahwa rencananya untuk mengecoh mereka lumayan sukses, Nasha perlahan mundur. Mundur. Mencoba menjauh dari mereka. Namun sayang, sepertinya alam semesta punya hobi untuk membuat segalanya sulit bagi gadis Pluviophile kita ini. Nasha lupa bahwa kakinya masih gemetaran dan sedang tak bertenaga jadi saat ia berniat berbalik untuk melarikan diri, ia terjatuh – entah karena tanah yang licin atau karena kakinya yang tak bertenaga – dan mengeluarkan suara pekikan yang cukup keras untuk di dengar ketiga Cyclops itu.
Serentak, ketiga Cyclops yang tadinya berkelahi, bertengkar seperti anak kecil yang memperebutkan permen, menoleh ke arah Nasha dan serentak, mereka berteriak.
"Di sana!"
Kali ini, Nasha berpikir, tamat sudah riwayatnya. Kakinya tidak bertenaga untuk berdiri apalagi berlari dan merangkakpun, tidak akan bisa membawanya kabur dari tiga raksasa yang kelaparan itu. Saat ia merasa akhirnya sudah dekatlah alam semesta memutuskan untuk menolong gadis malang itu.
Semua terjadi begitu cepat. Dua senjata tajam kecil pendekat yang tampak seperti jarum, melesat cepat dan tertancap pada mata dua Cyclops itu.
"AARRGH!"
"Ap—!"
Belum sempat Cyclops botak yang tak berambut atau berhelm itu bereaksi, sesuatu – atau lebih tepatnya seseorang, mendarat di atas kepalanya. Tanpa menunggu reaksi apapun lagi dari Cyclops botak itu seseorang itu menancapkan pisau kecil pada mata besar sang Cyclops, membuatnya mengerang kesakitan dan sosok itu turun dari kepala mahkluk malang itu.
"Hampir saja."
Nasha mendongak. Seorang gadis bertubuh tinggi dan langsing berdiri di hadapannya. Kulit gadis itu pucat, hampir sepucat mayat, membuatnya tampak seperti orang penyakitan. Matanya berwarna hijau dengan sedikit biru dan tampak begitu dalam dan tenang, entah apa yang tersembunyi di balik kedua mata mistis itu. Rambut hitamnya tergerai hingga pinggangnya dan gadis itu mengenakan jubah berwarna hitam. Ia berjongkok agar tingginya setara dengan Nasha.
"Baik-baik saja?"
Nasha mengangguk pelan. Masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Hanya satu hal yang langsung dicernanya, setidaknya.
Ia masih hidup.
"Baguslah, Nasha. Duh, kau ini memang magnetnya masalah yah?"
Nasha tersenyum kecil.
"Terima kasih, Ixy." Gadis yang Nasha panggil Ixy itu, nama lengkapnya Ixpellia. Ia mengulurkan tangannya dan Nasha menyambut bantuan itu dan dia berdiri.
"Nah, sekarang..."
Ixy berbalik, menatap tiga Cyclops yang masih menggeram, entah itu geraman murka atau kesakitan, yang jelas mereka tidak sedang dalam mood untuk beramah-tamah atau memaafkan Ixy karena membutakan mata mereka. Ixy menyeringai.
"Saatnya pesta pora."
To be Continued...
Pojok Rant
Update XD wkwkwk akhirnya Chapter dua jadi juga~ Walau gak sepanjang chapter sebelumnya. Soalnya di draft yang author bikin juga pendek sih. Cuman lima scene (yang sebelumnya ada tujuh dengan beberapa perubahan). Jadi, kita berkenalan dengan karakter baru lagi, dan ada hint bagi yang belum pernah membaca versi sebelumnya tentang mahkluk apa Nasha dkk itu XD #plak ah dan maaf para Saint tercinta kita munculnya dikit =_=" soalnya adegan action mereka baru ada di chapter berikutnya sih. Lagipula ini sebenarnya cuman chapter penuh dengan perkenalan dan agak santai (Santai?!) Eniwei, terima kasih untuk para pembaca dan juga untuk yang sudah review :3
Pojok Monster
Cyclops
Cyclops adalah mahkluk/raksasa bermata satu. Ada beberapa versi kisah yang memasukkan Cyclops sebagai salah satu tokohnya. Penulis Hesiod mengatakan bahwa Cyclops itu merupakan tiga putra Uranus dan Gaea. Mereka dilemparkan ke Tartarus tapi dilepaskan oleh Zeus selama penggulingan Kronos. Ketiga Cyclops tersebut bernama Bronter, Steropes dan Arges (tapi tiga Cyclops dalam chapter ini bukanlah mereka). Mereka juga yang membuat petir dan guntur Zeus, helm Hades dan trisula Poseidon. Ada juga kisah yang menyatakan Cyclops melayani Hephaestus di bengkel tempanya. Dalam versi ini, Cyclops merupakan pandai besi yang menyalakan api vulkanik dimana Hephaestus membuat baju besi untuk para dewa dan dewi, contohnya panah dan busur Artemis yang diberikan oleh Zeus merupakan hasil tempaan Cyclops. Tradisi lain menganggap Cyclops merupakn sebuah suku dari Thrace yang dinamakan sesuai nama raja mereka yang membangun tembok Cyclopean, tapi tentu saja versi paling terkenal adala dari kisah Odyssey tentang Cyclops bernama Polyphemus. (Sumber: Amazine)
Pojok Senjata
Emei Piercers/Emeici
Yak, ini adalah penjelasan tentang dua buah senjata yang mirip jarum yang digunakan oleh Ixy. Emei Piercers/Belati Emei atau Emeici adalah senjata berupa batang besi dengan bilah tajam kecil pada kedua ujungnya (makanya author bilang mirip jarum XD ). Senjata ini dilengkapi cincin pada bagian tengahnya supaya lebih mudah dipegang. Senjata ini merupakan senjata tusuk yang mudah disembunyikan dalam lengan baju karena ukurannya kecil. (Sumber: id . m . wikibooks . org)
Pojok Reply
#Neo TsukiRin Marsushima29
Gianti: Yay! *nari2 gak jelas*
Nasha: ... *malu lihat kelakuan authornya*
Milo: Oh jelas dong gue keren! *nyengir PD*
Gianti: Makasih atas dukungannya Rin XD kami akan selalu semangat! *semangat 45*
Nasha: Err... terima kasih atas reviewnya... ^^;
Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan
Maaf jika ada kesalahan penulisan/typo yang mengganggu
