Halo, ketemu lagi sama author yang kebanyakan nulis multi-chap! HAHAHA!
Bales review buat yg belum dibales :D
Korosaki Resta : Oke, ni udah update XD
Zanpaku-nee : Iya, masih baru tuh. XD Ichi kebawa semacam lorong waktu. Kalo koma dia kan harusnya udah tua! XD
Yuina Valkyrion : Wah, kaset saya juga agak error loh 8'D EEH? main ff 7,8,9 juga? aku juga main 8 sama 9, tapi yg 9 ga sampe tamat gara-gara hilang minat. (gue ga suka tokoh utamanya entah kenapa) Wahaha ternyata emang bener sama seiyuu-ny, baru denger di utube waktu itu :3 Iya hehe. XD
Thanks for all of your review!
Happy reading~
Listen to my story. This maybe our last chance.
This is Our Story
ariadneLacie
.
BLEACH by Tite Kubo
Final Fantasy X by Squaresoft (sekarang Square Enix)
.
Warning : AU, OOC, abal, geje, de el el.
Chapter III
"The New Miko."
"Aku berhasil menjadi seorang miko!"
Grimmjow dan Rangiku tampak lega. Sementara Renji bersorak gembira.
"Akhirnya kau keluar juga! Kami dari tadi khawatir menunggu tau!" seru Renji sambil mengacak-acak rambut Rukia.
"Hei hei, hentikan Renji!" kata Rukia sambil tertawa kecil.
"Yo, selamat ya, Rukia," kata Grimmjow sambil menepuk bahu Rukia.
"Ah, ya. Terima kasih, Grimmy," jawab Rukia sambil nyengir.
Sementara Ichigo hanya diam. Ia bingung mau mengatakan apa. Ia sama sekali tidak mengerti apa itu miko. Bahkan ia juga tidak mengenal gadis manis di depannya ini. Eh? manis?
"Umm... hei... siapa dia?" tanya Rukia pada Renji. Ichigo langsung tersadar dari lamunannya dan menengok.
"Orang yang berhasil menerobos masuk kesini," jawab Grimmjow sewot.
"Hei hei, sudahlah. Kenalkan Rukia, itu Ichigo. Hei Ichigo! Lebih baik kau juga kemari," kata Renji. Ichigo mau tak mau mendekati kerumunan orang itu.
"K-Kurosaki...Ichigo," kata Ichigo, agak canggung.
"Kuchiki Rukia," kata Rukia sambil tersenyum manis. Ichigo jadi agak blushing.
"Ya sudah sudah, ayo kita segera kembali ke desa!" seru Rangiku yang dari tadi ga kebagian ngomong. Ia pun segera memimpin jalan sambil merangkul Rukia. Grimmjow pun mengikuti. Renji dan Ichigo juga mengikuti di belakang.
"Hei, Renji, sebenarnya miko itu apa?" tanya Ichigo.
"Miko itu seorang pendeta," jawab Renji.
"Ya ya, aku juga tahu. Tapi..."
"Miko itu seorang pendeta yang memiliki kekuatan khusus. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi miko. Rukia salah satunya.
Tugas miko adalah melindungi dunia ini. Dan selagi mengemban tugasnya itu, miko juga akan pergi ke berbagai kuil untuk berdo'a. Dan akan ada kuil terakhir kelak. Disanalah perjalanan miko berakhir." Jelas Renji panjang lebar.
"Lalu, apa itu pelindung?" tanya Ichigo lagi.
"Pelindung hanya sebuah julukan. Julukan untuk orang yang melindungi miko dalam perjalanan miko ke kuil-kuil. Pelindung bisa saja hanya satu orang, atau lebih dari satu," jawab Renji. "Dan dalam hal ini, aku, Rangiku dan Grimmjow adalah pelindung Rukia!"
Ichigo pun hanya manggut-manggut saja. Dan akhirnya, mereka sampai lagi ke pintu yang pertama kali Ichigo masuki. Grimmjow segera membukakan pintu untuk Rukia.
Tiba-tiba kuil menjadi sangat ramai. Padahal tadi waktu Ichigo masuk sepi-sepi saja.
Di kuil banyak orang berkumpul. Ada yang berbisik-bisik, dan ada juga yang terlihat lega. Ada beberapa yang terlihat seperti sedang berdo'a.
"Hei hei, ayo beri jalan!" seru Grimmjow galak. Orang-orang tersebut pun sedikit menyingkir.
"Ada apa ini?" tanya Ichigo.
"Tentu saja penyambutan! Rukia kan baru saja menjadi miko!" jawab Renji. "Sudah, kau ikut saja! Tunggu sampai kau melihat yang satu ini."
Grimmjow memimpin jalan menelusuri desa. Rangiku masih sibuk berbincang dengan Rukia. Sementara Ichigo dan Renji hanya diam saja.
Akhirnya mereka pun sampai ke sebuah lapangan yang cukup luas. Grimmjow dan Rangiku diam di sisi lapangan, sementara Rukia berjalan ke tengah lapangan sendirian. Ichigo hendak mengikuti tetapi ditahan oleh Renji.
"Sst, kau diam disini dan lihat," kata Renji sambil menepuk bahu Ichigo. Ichigo pun nurut saja.
Lalu sekeliling lapangan menjadi sangat ramai. Sepertinya orang-orang yang berada di kuil tadi pindah ke lapangan ini.
Rukia menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia menengok ke arah Rangiku. Rangiku segera berlari kecil ke arah Rukia.
"Ah, maaf. Tongkatmu terbawa olehku, hehe," kata Rangiku sambil nyengir. Lalu ia pun menyerahkan tongkat panjang pada Rukia.
Tongkat tersebut berwarna putih bersih. Di pangkal tongkat tersebut terdapat pita panjang berwarna putih. Sementara di ujung yang satunya lagi terdapat bulan sabit tipis berwarna putih juga yang cukup besar.
Rangiku segera kembali ke tempatnya semula, dan Rukia memegang tongkatnya erat-erat di depannya.
Dan disinilah keajaiban dimulai.
Rukia mengayunkan pelan tongkatnya, lalu muncul lingkaran cahaya hitam di bawah Rukia. Lingkaran tersebut seperti rune-rune kuno, dan berwarna hitam. Lalu Rukia mengayunkan lagi tongkatnya, dan tiba-tiba muncul sesuatu dari langit.
'Sesuatu' itu terbang melesat cepat menuju Rukia, menimbulkan angin yang sangat besar. Mula-mulanya 'sesuatu' itu diselimuti bayangan-bayangan hitam, tetapi lama-lama wujudnya terlihat jelas.
'Sesuatu' itu ternyata adalah seorang manusia. Kulitnya pucat. Ia memiliki mata hijau yang indah. Ia memiliki sepasang sayap hitam kelelawar. Ia memakai jubah berwarna putih, dan membawa sabit besar berwarna hitam. Sebenarnya bisa dibilang ia cukup tampan, tetapi wajahnya sangat dingin dan penuh dengan keinginan membunuh.
"Waaah..." terdengar orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik kagum. Ichigo menatapnya dengan takjub.
"A-apakah itu manusia?" tanya Ichigo.
"Itu namanya zanpakuto. Setahuku itu roh dari masa lalu, yang menjelma menjadi sesuatu. Lalu zanpakuto itu akan melindungi sang miko. Yah, sang miko dapat memanggil zanpakuto itu untuk membantunya jika ia sudah berdo'a di kuil tempat zanpakuto itu berada," jelas Renji.
Setelah itu makhluk itu berlutut hormat pada Rukia, dan menghilang begitu saja. Disertai dengan angin yang berhembus kencang.
"Wah, ternyata Rukia-sama benar-benar menjadi seorang miko ya."
"Iya, hebat ya."
"Meskipun makhluk yang tadi terlihat seperti manusia, tapi auranya sangat menyeramkan..."
Terdengar orang-orang mulai berbisik-bisik setelah kejadian tadi. Lalu mereka semua bertepuk tangan. Rukia tersenyum lalu membungkuk hormat.
"Rukiaa! Kau berhasil!" seru Rangiku sambil berlari kecil ke arah Rukia.
"Ah, ya. Terima kasih, Rangiku-san!" jawab Rukia sambil tersenyum. Rangiku langsung memeluknyna erat.
"Kau benar-benar Rukia-chan ku! Aku sangat bangga padamu!" seru Rangiku.
"R-Rangiku-saan... u-udara..." kata Rukia yang sudah terlanjur berada di dalam pelukan maut Rangiku.
"Hoy hoy, Rangiku. Jangan siksa miko kita!" seru Renji sambil berlari mendekati Rukia dan Rangiku. Grimmjow juga mengikuti Renji. Sementara Ichigo tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ichigo's PoV
Hari sudah malam. Dari tadi aku hanya duduk diam di dekat api unggun.
Sedikit-sedikit aku memandangnya dari balik kobaran api unggun ini. Tetapi karena takut ketahuan aku pun memalingkan wajahku dan kembali melihat langit malam yang dipenuhi taburan bintang. Hhh...
Kau tahu? Kejadian tadi itu... sungguh menakjubkan. Aku tidak pernah melihat hal seperti itu seumur hidupku. Meskipun makhluk itu biasa saja, tapi cukup menyeramkan juga. Tapi aku dapat merasakan kehangatan juga darinya. Dia pasti sangat ingin melindungi Rukia. Yah, itu memang kewajibannya kan?
Hmm... setelah ini... apa yang akan terjadi ya?
End of Ichigo's PoV
Ichigo terus-terusan melirik Rukia yang sedang ngobrol santai dengan beberapa orang kakek-nenek di dekat api unggun. Tetapi tiba-tiba Rukia melihat ke arahnya. Lalu ia tersenyum. Ichigo langsung blushing.
"Hei! Apa yang kau lihat, anak nakal?" seru salah seorang nenek.
"Rukia-sama, jangan dekati anak itu! Dia sepertinya berbahaya," timpal salah seorang kakek. Rukia hanya tersenyum. Lalu ia pun berdiri dan mendekati Ichigo. Ichigo berdiri juga.
"Umm... terima kasih, ya," kata Rukia memulai pembicaraan.
"A-apa?" tanya Ichigo tidak terlalu mengerti.
"Ya... kau sudah menengokku di kuil tadi, hehe," kata Rukia sambil tersenyum manis. Ichigo jadi makin salah tingkah.
"Oh... ahaha, ya. Ahahah," jawab Ichigo canggung.
Lalu setelah itu mereka pun terdiam. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan lagi. Tetapi tidak ada yang berniat meninggalkan tempat mereka masing-masing. Akhirnya Ichigo memutuskan untuk bicara duluan.
"Hei, kau tadi sangat menakjubkan," kata Ichigo. Tiba-tiba mata Rukia langsung berbinar-binar.
"B-benarkah?" tanyanya memastikan.
"Ya, tentu!" jawab Ichigo.
"Waah... terima kasih ya. Hehe." Rukia tertawa kecil. Kelihatannya ia sangat senang. "Apa menurutmu aku bisa menjadi seorang miko yang hebat?"
"Tentu saja," jawab Ichigo sambil mengacungkan jempolnya. Rukia tersenyum lagi.
"Nah... besok... perjalananku dimulai. Tapi kudengar kita akan berada pada kapal yang sama kan?"
"Kapal yang sama? Aku tidak tahu hal itu."
"Ya. Jadi... kupikir... kita bisa berbicara lebih banyak lagi. Besok."
Ichigo terdiam. Hatinya sudah sangat senang sekarang. Jika Rukia berkata seperti itu... berarti pertanda baik kan? "Ya, tentu."
"Kalau begitu, sampai jumpa nanti," Rukia pun melambai dan kembali lagi ke tempatnya semula berbincang dengan kakek-nenek. Tetapi sebelum cukup jauh, ia melanjutkan, "kau juga bisa memberitahuku banyak hal tentang Karakura."
Ichigo menatapnya kaget. Ia berniat menjawab tetapi Rukia sudah keburu berbalik.
"Rukia cantik, ya?" tiba-tiba Renji muncul di belakang Ichigo sambil menyenggolnya. Ichigo hampir saja terlonjak kaget.
"Renji!" seru Ichigo kesal.
"Ya? Ya?" Renji masih saja mendesak Ichigo.
"Hmm... ah... ya..." jawab Ichigo pelan. Ia takut Rukia mendengarnya.
"Haha! Sudah kuduga. Tapi, jangan terlalu banyak berharap," kata Renji sambil menepuk bahu Ichigo.
"Apa? Kenapa? Kau menyukainya?" tanya Ichigo.
"Tidak," jawab Renji. "Oh, dan tentu saja Grimmjow juga tidak menyukainya," lanjut Renji. Seperti dapat membaca pikiran Ichigo.
"Lalu? Bagaimana jika ternyata Rukia jadi menyukaiku nanti?" kata Ichigo pede. Renji tertawa keras.
"Yah, apapun yang terjadi jangan terlalu berharap. Daripada itu, apa kau mau tidur? Kau bisa tidur di rumahku," kata Renji sambil menunjuk rumahnya yang berada tidak jauh dari sana.
"Tentu!" jawab Ichigo bersemangat. Lalu Renji pun segera mengantar Ichigo menuju rumahnya.
Rumah Renji juga berbentuk gubuk seperti yang lain. Rumah Renji juga kecil, tetapi nyaman. Ruangan depannya adalah gabungan dari ruang tamu, makan dan dapur. Sementara ada tiga pintu di belakang. Dua menuju kamar tidur, satu menuju kamar mandi.
"Nah, kau bisa tidur di kamar yang itu," kata Renji sambil menunjuk salah satu pintu. "Cepatlah tidur, besok kita berangkat pagi-pagi."
Ichigo pun mengangguk. Lalu ia masuk ke kamar.
Kamar tersebut hanya berisi satu ranjang dan juga satu meja kecil. Ichigo tidak peduli, yang penting ia mempunyai tempat tidur yang cukup nyaman. Ia pun segera tidur dan terlelap.
"Hei, kau benar-benar akan mengantarku ke Karakura?" tanya Rukia.
"Tentu!" jawab Ichigo.
"Hei! Kau tidak bisa!" tiba-tiba muncul seorang cewek dengan rambut ungu. Ia berlari ke arah Ichigo dan Rukia. "Kau akan pergi denganku!"
"S-Senna? Apa...?" Ichigo jadi bingung.
"Ha! Anak cengeng sepertimu akan pergi ke Karakura?" tiba-tiba ada suara lain yang menyahut. Ichigo berbalik dan melihat ayahnya, Isshin sedang berdiri memandanginya dengan tatapan menyebalkan. "Kau pasti akan menangis."
"Aku tidak!" seru Ichigo sewot. Tetapi tiba-tiba ia melihat sosok dirinya ketika masih kecil sedang menangis.
"Lihat, kau menangis kan?" sahut Isshin.
"Aku benci kau," Ichigo kecil tiba-tiba bangkit dan mengatakan itu.
"Apa? Aku tidak dapat mendengarnya?" sahut Isshin. Sepertinya ia memanas-manasi Ichigo.
"AKU BENCI KAU!"
"AKU BENCI KAU!"
Ichigo terbangun dan mendapat ayahnya, Rukia, dan Senna sudah menghilang. Ternyata cuma mimpi.
"Apa maksudnya tadi itu..." gumam Ichigo.
To be Continued
Selesai. Makin geje deh. Tapi makasih ya udah baca.
Eniwei, iklan lewat dong. Disini ada yg cerpenis ga? Yang suka ngirimin cerpen-nya ke majalah. Kalo ada, PM saya dong. Mau nanya-nanya nih. Hehe. Makasih ya XD
Oke, mind to review?
