Halo, Miu melanjutkan chapter 3-nya. Ya ampun, nggak bosan-bosannya Miu mengetik setiap hari seperti ini. Mumpung masih liburan semester, Miu teruskan saja buat fanfic ini.
Kali ini di chapter 3 ini, Kurapika yang berprofesi sebagai polisi waktu dari masa depan akan muncul dan menangkap Killua kembali. Kenapa begitu? Kalau para reader yang baru membaca fanfic ini merasa bingung. Baca aja fanfic pertamanya yang berjudul "PERSAHABATAN ANTAR WAKTU CHAPTER 6". Ntar nanti para reader mengerti sendiri.
Tambahan note-nya, dalam fanfic ini Kurapika Kuruta seorang cowok. Profesinya polisi waktu dan berumur 17 tahun.
Killua Zoldyck dan Gon Freech berumur 13 tahun. Retz juga berumur 13 tahun. Nah, semuanya sudah jelaskan tentang fanfic buatan Miu ini.
Tentang Leorio, dalam fanfic ini, Leorio seorang dokter yang bertugas di desa tempat Gon tinggal. Umurnya 25 tahun. Dia bakal muncul juga di chapter kali ini.
Baiklah penjelasannya sudah Miu buat di atas. Jadi, semuanya sudah mengertikan? Bila masih ada yang kurang puas dengan cerita ini dan ingin bertanya, silakan direview saja. Miu akan menjawabnya dengan senang hati.
Sekarang kita mulai ceritanya. Duduk yang baik-baik ya.. Buka kedua matamu lebar-lebar. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan. Selamat membaca ya…
DISCLAIMER: TOGASHI YOSHIHIRO SENSEI
HAK CIPTA SEPENUHNYA MILIK TOGASHI YOSHIHIRO SENSEI
AUTHOR: SYARAH MIU
HUNTER X HUNTER
GENRE: CINTA, PERSAHABATAN, HUMOR DAN FIKSI ILMIAH
PERSAHABATAN DAN CINTA ANTAR WAKTU CHAPTER 3
REVIEW
Retz akhirnya menjadi sahabat buat Killua dan Gon. Ia merasa senang sekali. Kini semuanya berjalan dengan baik. Tapi, diam-diam ada perasaan aneh yang tumbuh di hati Killua dan Gon terhadap Retz. Apa yang terjadi selanjutnya?
Siang itu, di hutan yang sangat lebat. Matahari mulai naik perlahan-lahan ke atas langit. Udara masih terasa segar. Padahal hari sudah tidak pagi lagi. Masih saja terdengar suara burung-burung yang bernyanyi. Ditambah suara berisik dari langkah kaki yang sangat tergesa-gesa. Terlihat kedua anak laki-laki sedang mengejar seekor ayam yang sangat ketakutan. Apa? Masa ada ayam di tengah hutan?
Rupanya Gon dan Killua. Mereka sedang memburu ayam tersebut. Lalu Gon melepaskan anak panah dari busur yang ia bawa dari rumah. Anak panah tersebut meluncur tepat ke arah ayam yang terus berlari.
JLEEEBB!
Anak panah tersebut mengenai si ayam. Seketika si ayam ambruk ke tanah.
"HOREE, BERHASIL!" seru Gon tertawa lebar sambil mengepalkan tangannya ke udara.
"Bagus, Gon. Kamu berhasil membuat ayam itu tidak kemana-mana lagi," sahut Killua tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
Gon segera mengambil ayam yang telah mati itu. Lalu ayam tersebut, ia masukkan ke dalam keranjang yang dibawa oleh Killua.
"Hasil buruan kita hari ini lumayan banyak ya.. Bibi Mito pasti senang," kata Killua sambil menjinjing keranjang yang berisi hasil buruan.
"Iya, kamu betul, Killua. Hm.. aku jadi lapar nih. Ayo, kita kembali ke rumah dan memberikan hasil buruan ini kepada Bibi," Gon merasakan perutnya sudah tidak kompromi lagi.
"Baiklah.. Ayo, kita pergi!"
Killua mengangguk. Mereka pun berjalan meninggalkan hutan. Sejenak Killua merasakan sesuatu. Ia berhenti sebentar untuk melihat ke belakang. Si Gon pun heran melihat Killua berhenti berjalan.
"Kenapa kamu, Killua?"
"Ng.. aku merasakan kalau ada seseorang yang mengikuti kita dari tadi."
"Mana..?"
Gon menolehkan kepalanya ke belakang. Tapi, tidak ada seseorang pun di belakang mereka. Semuanya tampak kosong.
"Nggak ada apa-apa, tuh. Apa perasaanmu saja?" Gon mengerutkan keningnya.
"Tapi, aku merasakannya," Killua memegang dagunya untuk mengasah indera keenamnya. Eh, sejak kapan Killua mempunyai indera keenam?
"Mungkin perasaanmu saja. Lebih baik kita segera pulang. Bibi Mito pasti marah kalau kita tidak pulang sebelum tengah hari."
"Ya.. mungkin saja ya. Cuma perasaanku saja."
Gon menarik tangan Killua. Killua pun terseret oleh langkah Gon. Mereka kembali berjalan menuju rumah. Tapi, perasaan Killua benar-benar tidak enak. Sesekali ia memperhatikan keadaan sekitarnya selama dalam perjalanan pulang ke rumah.
Tibalah waktu makan siang, terlihat Retz membantu Bibi Mito dan nenek menyiapkan makanan ke atas meja. Sementara Killua dan Gon sedang duduk di belakang meja makan sambil memperhatikan Retz yang sedang menyiapkan makanan. Kedua mata mereka berdua tidak pernah lepas menatap Retz.
Sejenak Bibi Mito memperhatikan tingkah Killua dan Gon yang mematung itu. Ia pun tersenyum simpul melihat mereka berdua.
"EHEEEM..," Bibi Mito berdehem keras sehingga membuyarkan semua lamunan Killua dan Gon.
"APAA? APA YANG TERJADI?'" sahut Killua dan Gon bersamaan.
Bibi Mito dan Retz tertawa kecil. Nenek Gon sedang berada di dapur.
"Bibi perhatikan dari tadi kalau kalian berdua menatap Retz dengan aneh. Sampai nggak bergerak sama sekali. Apa kalian berdua sedang jatuh cinta sama Retz ya?" goda Bibi Mito.
Seketika wajah Killua dan Gon memerah padam. Mereka kaget setengah mati. Ternyata Bibi Mito tahu gelagat mereka berdua. Mereka pun saling pandang antara satu sama lainnya. Retz pun juga memerah mukanya karena perkataan Bibi Mito tadi.
"Ha… siapa yang sedang jatuh cinta sih, Bi. Aku nggak jatuh cinta," kata Killua mengalihkan perhatian agar Bibi Mito tidak menggodanya lagi.
"Aku juga, Bi. Aku nggak memperhatikan Retz kok. Aku cuma memperhatikan makanan yang Bibi hidangkan," Gon juga ikutan mengalihkan perhatian.
"Alaah, jangan bohong. Mata Bibi tidak mungkin salah."
"Kami nggak bohong, Bi!" sahut mereka bersamaan.
"Kompak sekali kalian berdua menjawabnya," tukas nenek yang baru saja dari dapur. Ia membawa sebuah mangkuk besar yang berisi nasi."Ayo, semuanya segera makan."
Killua dan Gon masih berwajah merah padam. Retz memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil.
"Kalian berdua lucu sekali!" bisik hati Retz yang paling dalam.
"Sebelum kita mulai makan siang, ayo kita berdoa dulu," kata nenek segera bersiap untuk berdoa.
"Baik.." sahut mereka bersama.
Maka mengheningkan cipta dimulai. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Lho, memangnya ini upacara bendera apa? Hehehe..
Setelah berdoa, mereka pun mulai makan siang. Gon yang biasanya duluan mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Tapi, tiba-tiba semua itu terbalik, Gon dengan manisnya mengambilkan nasi untuk piring Retz. Sejenak semuanya melongo habis kecuali Retz.
"Nah, silakan Retz. Dimakan ya.." kata Gon memberikan sepiring nasi buat Retz.
"Ah, terima kasih Gon," jawab Retz dengan malu-malu.
Gon mengangguk cepat sambil tersenyum manis ke arah Retz. Melihat tingkah mendadak dari Gon yang aneh ini, membuat Killua tidak senang. Lalu ia pun melakukan yang sama. Ia pun memberikan sepotong ayam goreng ke atas piring Retz.
"Ini Retz, ayam gorengnya. Kamu pasti suka deh.." kata Killua tersenyum manis.
"Ma-makasih, Killua.." Retz pun tersenyum malu-malu melihat Killua yang mendadak lembut begitu.
Semuanya kembali melongo. Killua melirik Gon dengan tampang yang tak berdosa. Gon menatapnya dengan sewot juga. Lalu Killua menggerakkan kakinya untuk menyenggol kaki Gon. Gon pun membalasnya dengan menyenggolkan kakinya ke arah kaki Killua. Terjadilah aksi menyenggol kaki cukup lama dan membuat Bibi Mito naik pitam melihatnya.
"BERHENTI, KALIAN BERDUA INI KENAPA SIH? KENAPA BERTINGKAH ANEH BEGINI?"
Killua dan Gon kaget setengah mati mendengar suara keras Bibi Mito yang sangat menggelegar. Sehingga mereka pun berhenti bertengkar. Mereka menjadi menciut ketika melihat Bibi Mito memasang wajah yang seram.
"Kalian berdua bisa tenang sedikit tidak? Kita ini sedang makan siang. Sudah Bibi bilangkan kalau sedang makan tidak boleh ribut. Kalian berdua mengerti?"
"Kami mengerti, Bi!" mereka menunduk ketakutan sambil mengangguk-angguk kepala masing-masing.
"Sudah.. Sudah, Mito.." nenek Gon menepuk pundak Bibi Mito dengan halus.
"Ayo, segera lanjutkan makan siang kalian," pinta Bibi Mito mulai meredakan emosinya.
"Baiklah, Bi!"
Killua dan Gon mengangguk pelan. Retz terdiam melihat mereka menjadi lesu begitu. Diam-diam dia tersenyum simpul.
"Gon.. Killua. Kalian memang sahabat yang sangat lucu," bisik Retz dengan lembut.
Makan siang pun berlanjut dengan tertib dan tenang. Killua dan Gon makan sambil membuang muka masing-masing.
"Apa maksudmu menyenggol kakiku tadi, Killua?" tanya Gon mengerutkan keningnya ketika makan siang sudah selesai.
Killua menoleh ke arah Gon dengan cuek. Mereka berdua berdiri kini berdiri terpaku di halaman depan rumah Gon yang luas dan penuh dengan rumput hijau yang bermekaran
"Tidak ada.." Killua menggeleng dan menekukkan kedua tangannya lalu disanggahkannya di belakang lehernya.
"Apa benar begitu?" tanya Gon kembali.
"Iya.." kini Killua menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan meninggalkan Gon.
"Kamu mau kemana, Killua?"
"Aku mau jalan-jalan sebentar."
"Aku boleh ikut."
"Nggak boleh. Aku ingin jalan sendirian. Sebaiknya kamu di rumah saja. Kan, Bibi Mito menyuruh kamu memotong kayu untuk persediaan kayu bakar tuh."
"Ya, baiklah!" Gon mengangguk polos.
Killua pun segera berlalu dari hadapan Gon. Gon pun tersenyum melihat kepergian Killua. Mendadak dia teringat sesuatu.
"Tunggu dulu.. Bibi Mito menyuruh aku dan Killua untuk sama-sama membantunya memotong kayu siang ini. Lalu aku sendiri yang melakukannya dan Killua pergi begitu saja tanpa membantuku sama sekali…. Lhooo.."
Gon terperanjat. Ia merasa dibodohi oleh Killua. Segera saja ia mengejar Killua yang sudah berjalan jauh.
"KILLUAAAAAAAA, KAU TIDAK BERTANGGUNG JAWAB. SEENAKNYA SAJA KAMU PERGI MENINGGALKAN PEKERJAANMU…."
Teriakan Gon membahana dan mengguncang bumi. Seketika terjadilah gempa bumi yang dahsyat.
Sementara itu, Killua sedang berjalan dengan santai menyusuri jalan setapak desa yang di kedua sisinya dipenuhi pohon-pohon akasia. Ia terus berjalan dengan cueknya. Tiba-tiba nalurinya menangkap sesuatu yang bergerak dari arah atas pohon akasia. Killua menghentikan langkah kakinya sejenak dan memperhatikan dengan seksama sesuatu yang bergerak di atas pohon akasia tersebut.
"Siapa itu?" kata Killua hati-hati.
Tapi, keadaan di atas pohon akasia tersebut kembali tenang. Tidak ada yang menjawab. Hening sekali. Killua penasaran dan membungkukkan setengah badannya untuk mengambil sebuah batu bata besar. Apa? Dari mana datangnya batu bata itu? Memangnya ada tukang bangunan yang lewat di sana dan menjatuhkan batu bata di jalan tersebut? Aneh sekali.
"Hei, jika kau tidak turun juga. Aku akan melemparkan batu bata besar ini ke arahmu. Memangnya aku nggak tahu kalau kau bersembunyi di atas pohon itu, HEI, KURAPIKA KURUTA…" ancam Killua bersuara keras sambil mengambil ancang-ancang untuk bersiap melemparkan batu bata besar tersebut.
Mendengar ancaman yang dilakukan Killua tersebut, seseorang yang ternyata Kurapika Kuruta yang sedang berada di atas pohon akasia itu, melambai-lambaikan tangan tanda menyerah. Killua dapat melihatnya dengan jelas.
"JANGAAAN..LEMPAR BATU BATA ITU KE ARAHKU. KAMU MAU MEMBUNUHKU YA!" teriak Kurapika panik.
"Kalau begitu, KAU MELOMPAT DARI ATAS POHON ITU SEKARANG JUGA. ATAU AKU AKAN SEGERA MELEMPARMU…" ancam Killua sekali lagi.
"JANGAAAN… AKU AKAN MELOMPAT NIH.." kata Kurapika bodoh mau juga menuruti permintaan Killua. Ya, dari pada kepalanya kena hantaman batu bata besar tersebut.
HUUP! SYUUUUUT! GEDUBRAAAAK!
Terjadi gempa bumi melanda tempat itu. Kurapika terjatuh dengan sukses dan mencium tanah. Killua pun tertawa ngakak melihat tingkah bodoh si Kurapika tersebut.
"HAHAHAHA, Kurapika bodoh, memangnya enak aku tipu sekali lagi.."
"APAA?" Kurapika memerah mukanya.
Ia menyadari kalau itu semua adalah tipuan dari Killua agar dia menunjukkan jati dirinya. Ternyata dia sudah kena jebakan tiga kali. Ia merasa harga dirinya sebagai polisi waktu semakin terinjak-injak. Wibawanya hilang seketika.
Kurapika berusaha berdiri dan merasakan badannya sakit semuanya. Si Killua masih tertawa ngakak. Kurapika pun menjadi geram dan mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya.
"Killua, kau keterlaluan," kata Kurapika sambil melepaskan tembakan ke arah Killua.
Killua menghentikan tawanya. Ia pun menyadari sebuah peluru meluncur ke arahnya. Ia pun panik setengah mati.
"APAAA?"
Peluru itu pun dengan cepat berubah bentuk menjadi sebuah benda yang mirip dengan ikat pinggang. Killua berusaha menghindar, tapi…
GREP!
Tubuh Killua berhasil dibelit oleh benda canggih itu. Killua kaget setengah mati. Benda ini adalah benda yang pernah digunakan oleh Kurapika untuk mengikat dirinya waktu itu. Akhirnya tubuhnya lemas seketika karena benda itu bergerak cepat membelit dirinya. Killua merasa napasnya sesak kemudian. Ia pun terjatuh dan terkapar tidak berdaya di atas tanah.
"Hosh.. hosh.. hosh.. APA YANG KAU LAKUKAN, KURAPIKA?" bentak Killua dengan keras.
"Hehehe, aku berhasil juga menangkapmu lagi, hei pencuri kecil!" sahut Kurapika tertawa kecil dengan sikap wibawanya yang tiba-tiba muncul."Kau akan aku bawa kembali ke masa depan karena telah bersalah mencuri pesawat waktu milikku."
"HEI, AKU TIDAK MENCURINYA. AKU CUMA MEMINJAMNYA SEBENTAR UNTUK PERGI KE TAHUN 2014 INI…" sekali lagi Killua membentaknya.
Kurapika berjalan dengan cepat ke arah Killua. Lalu mengacungkan pistolnya ke depan wajah Killua.
"Pencuri tetaplah pencuri. Selain itu, kau telah membuatku seperti orang bodoh. Kau menipuku tiga kali. Sebagai polisi waktu, aku takkan memaafkanmu. Aku akan menjebloskanmu ke penjara…"
Killua menatap tajam ke arah Kurapika. Mendadak Kurapika menjadi dingin dan tidak berperasaan. Killua geram melihatnya.
"SILAKAN.. AKU TIDAK TAKUT DENGAN ANCAMANMU!" Killua berteriak sangat keras.
"Dasar anak yang menyebalkan!"
Kurapika melayangkan tangan kirinya untuk menampar Killua.
GREP!
Tiba-tiba tangan Kurapika ditangkap oleh seseorang. Kurapika dan Killua kaget setengah mati melihat seseorang itu.
"Dokter Liolio.." seru Killua tertawa senang.
Dokter Leorio pun sewot mendengar namanya salah disebut oleh Killua. Ia pun marah sejadi-jadinya.
"KILLUA, NAMAKU BUKAN LIOLIO. TAPI LEORIO.. KENAPA SIH KAMU SUKA MEMANGGIL NAMAKU SESUKA HATIMU? MENYEBAAAALKAN!"
Mereka berdua melongo habis mendengarkan ocehan Dokter Leorio yang yang panjang tanpa memperhatikan titik dan koma dalam setiap kalimat yang dia ucapkan. Entah sampai kapan ceramah panjang ini akan berakhir. Sehingga membuat mereka berdua sangat emosi melihatnya. Terjadilah ledakan emosi yang tak disangka-sangka.
"HENTIKAAAAAN…" seru Kurapika dan Killua bersamaan sehingga membuat tubuh Dokter Leorio menjadi kerdil. Lho..?!
"Hoooh..," Kurapika dan Killua menghembuskan napasnya bersamaan juga.
Dokter leorio kembali ke bentuk tubuhnya semula. Ia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum cengengesan.
"Maaf ya, aku terlalu bawel.." kata Dokter Leorio. Eh, sejak kapan Dokter Leorio mendadak menjadi cerewet seperti tadi ya? Aneh sekali.
Dokter Leorio pun melirik ke arah Kurapika. Kurapika pun melirik ke arah Dokter Leorio. Mereka berdua mengerutkan keningnya masing-masing.
"Ah, si tua genit!" tunjuk Kurapika.
"Ah, si cowok cantik!" tunjuk Dokter Leorio juga.
Terjadilah aksi saling tunjuk-menunjuk antara satu sama lainnya. Killua yang masih terikat pun dibuatnya bingung. Bersamaan itu muncul Gon yang menghampiri mereka bertiga.
"Killua.." panggil Gon mendekati Killua.
"Gon.." panggil Killua tertawa senang menoleh ke arah Gon yang terheran-heran melihat Killua yang menelungkup di atas tanah dalam keadaan terikat.
"Kurapika," kata Dokter Leorio berwajah senang.
"Leorio," sahut Kurapika juga berwajah senang.
"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…"
Gon dan Killua kaget setengah mati melihat teriakan keras dari Kurapika dan Dokter Leorio. Mereka berdua saling bertangis-tangisan sambil saling memeluk antara satu sama lainnya. Killua dan Gon menganga melihat mereka yang bertingkah aneh seperti gay begitu.
"HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN BERDUA!" Killua langsung berdiri dan menendang Kurapika dan Leorio begitu saja.
DUAAAAK! BRAK! GEDUBRAAAAK!
Kurapika dan Dokter Leorio terjatuh tersungkur. Killua tampak menghela napasnya karena emosi melihat mereka berpelukan begitu. Gon menganga lebar seperti ikan yang kehabisan napas.
"KILLUAAA, KENAPA KAU MENENDANG KAMI!" sembur Kurapika dengan marah yang berapi-api.
"Kenapa kalian berpelukan kayak begitu? Seperti sepasang kekasih saja. aku nggak suka melihatnya," jawab Killua merah padam.
"HEIII, KAMI BUKAN SEPERTI YANG KAU BAYANGKAN. LEORIO ITU SAHABAT LAMAKU, TAHU…!"
"Sahabat lama?" Killua mengubah wajahnya seperti biasa.
"Itu benar, Killua," sambung Dokter Leorio berdiri kembali." Kami sudah berpisah sejak lama. Sudah tiga belas tahun yang lalu."
"Salah, sudah lima tahun tahun kita tidak bertemu," tukas Kurapika tegas.
"Bodoh, sudah jelas sudah tiga belas tahun kita tidak bertemu."
"Jangan sebut aku bodoh…"
Mereka pun bertengkar adu mulut. Gon dan Killua dibuatnya melongo kembali. Kini kesabaran Killua sudah mencapai puncaknya. Ia segera melompat dan menendang mereka berdua kembali.
DUAAAK! BRAK! GEDUBRAAAK!
Mereka jatuh tersungkur lagi. Gon semakin bingung dibuatnya. Kenapa ceritanya jadi jungkir balik begini?!
"BISA DIAM NGGAK KALIAN BERDUA? AKU PUSING DIBUATNYA.." Killua marah besar dan asap pun mengepul dari kedua telinganya.
"Ba-baiklah, kami berdua diam.." Kurapika dan Dokter Leorio menutup mulut mereka.
"Baguslah.." Killua masih berwajah merah padam.
"Hei.. Killua, apa yang sebenarnya terjadi?" Gon menarik-narik baju kaus Killua.
"Aku sendiri bingung, Gon. Kenapa ceritanya jadi begini?" Killua malah balik bertanya. Dia sendiri juga pusing kenapa arah ceritanya jadi membelok tak tentu arah begini.
"Ha… aku harus segera pergi. Ada pasien yang ingin operasi, aku harus segera ke rumah sakit," Dokter Leorio segera bangkit dan mulai berlari-lari cepat.
"Leorio, aku ikuuut ya.. aku mau membantumu," pinta Kurapika ikut bangkit dan mengejar Dokter Leorio.
"Boleh, setelah tugasku selesai. Bagaimana nanti kita pergi makan malam bersama untuk merayakan pertemuan kembali kita?"
"Mauuuu.." Kurapika mengangguk setuju seperti anak kecil begitu.
Pergilah mereka berdua meninggalkan Killua dan Gon yang terbengong-bengong melihat tingkah mereka berdua. Sungguh aneh.
"Tadi mereka bertengkar. Sekarang sudah baikan secepat itu," kata Gon menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seraya tertawa kecil."Sama seperti kita ya.."
"Ya.. kamu betul, Gon!" Killua mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Lalu kenapa kamu diikat seperti ini?" tunjuk Gon.
Killua kaget setengah mati dan tiba-tiba ia menyadari kalau benda yang mirip ikat pinggang ini masih membelit tubuhnya. Kurapika belum melepaskan ikatannya. Sejenak Killua menjadi emosi sejadi-jadinya.
"KURAPIKA BODOOOOH! LEPAAAASKAAAAAN AKUUUUUU!"
Killua mengamuk sejadi-jadinya. Ia berusaha melepaskan ikatan yang membelitnya. Tapi, ikatan itu semakin bergerak cepat membelit tubuhnya sehingga Killua merasa sesak napas. Ia semakin lemas dan napasnya semakin sesak setiap kali bergerak untuk berusaha melepaskan ikatan itu. Ia pun kehabisan tenaganya dan tumbang begitu saja. Untung, Gon berhasil menangkap tubuh Killua.
"Killua.. kau kenapa?" Gon cemas melihat keadaan sahabatnya ini.
"Gon, to-to-tolong a-aku. Na-na-na-napasku sesak. Hosh.. hosh.." Killua merasa lemas sekali."Ce-ce-cepat ca-cari Kurapika. I-i-ia yang bisa me-me-lepaskan i-katan yang mem-membelitku i-ini.."
Killua tak sadarkan diri lagi. Ikatan itu semakin kuat membelit tubuhnya sehingga Killua kehabisan napasnya. Gon pun panik melihat Killua yang pingsan begini.
"KILLUAAAAAAAAAAAAAAAA…"
Gon berteriak sangat kencang sambil memeluk erat sahabatnya. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Lho..?!
Bagaimana nasib Killua selanjutnya? Tunggu di chapter berikutnya..
BERSAMBUNG….
Akhirnya chapter kali ini selesai sampai di sini. Hahaha, kenapa ceritanya jadi melompat kayak gini ya.. jadi aneh. Ternyata Kurapika dan Leorio bersahabat dan berbeda masa seperti halnya Killua dan Gon.
Penasarankan bagaimana kelanjutan chapter berikutnya? Oke, tunggu saja ya..
Terima kasih sudah membaca fanfic ini. Arigato.
Ditunggu review dari para reader semuanya.
Jika ada review yang terkirim. Maaf, jika Miu terlambat membalasnya karena kedepannya Miu akan sibuk. Sibuk apaan sih?
Kirim saran, kritik dan pendapat para reader semuanya. Akan Miu terima dengan senang hati.
Sampai jumpa ya di chapter berikutnya…
Salam Miu…
Meong.. meoong… meooong.. ( itu suara kucing milik Miu yang bernama Kitty )* Sejak kapan Miu punya kucing yang bernama Kitty? *Hehehehehe…
ARIGATO… THANK YOU..
