Summer Journal

Disclaimer : Hiro Mashima

Genre : Romance, Drama

Warning : typo(s), OOC, abal, gaje, ide pasaran, for #NaLuDayEvent


3 Juli.

Pagi ini Lucy sudah antisipasi untuk kedatangan Natsu yang mendadak. Lucy mandi pagi-pagi, membereskan kamar sambil mendengarkan suara musik dari handphonenya dengan volume yang tak begitu kencang, lalu sarapan pagi bersama. Cukup lama Lucy menunggu Natsu dengan menonton televisi di ruangan tengah bersama Michelle, namun tak dipungkiri, ia takut Natsu tidak datang hari ini. Ini sudah pukul 9 pagi.

Lucy tidak tahu kapan perasaannya mulai seperti ini.. Mulai menunggu Natsu, cemas Natsu tidak datang, khawatir karena tidak punya satupun kontak Natsu, dan semuanya. Semua tentang Natsu.

Tapi.. Mereka hanya teman sementara kan? Paling-paling pada akhirnya, pada hari ke tujuh, seperti adegan novel tragis yang sering dibacanya, kalimat yang akan diucapkan Natsu tak akan jauh dari 'apa yang kita lakukan di sini biarlah kita tinggalkan di sini.' Lucy hanya bisa ber-facepalm.

Hal bodoh apa yang dipikirkannya? Mereka hanyalah 2 orang yang bertemu dan berkenalan secara tak sengaja karena es krim yang terjatuh. Dan juga karena mereka sama-sama sendirian saat itu. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari itu. Tanpa sadar, Lucy menampar pipinya pelan.

"Nee-san, kau kenapa?" pertanyaan Michelle menginterupsi lamunan panjang Lucy.

"Ng?"

"Kau. Kau menampar pipimu sendiri, nee-san," Michelle menunjuk pipi putih Lucy yang untungnya tak menunjukkan bekas tamparan sedikitpun.

Lucy malu. Ia hanya diam, menatap ke arah televisi dengan grogi.

"Enak saja kau, mau bawa-bawa himeku pergi!" suara Loke yang agak samar tiba-tiba terdengar dari luar sana. Disusul suara seseorang yang mungkin sudah tak asing bagi Lucy. "Hime? Hime apaan?! Aku gak mau ngajak si hime-hime itu pergi kok, aku kan nanya Lucy ada tidak?"

Suara ngotot kedua pria itu memancing Lucy dan Michelle untuk keluar ke pekarangan rumah itu.

Dan Lucy tak akan pernah sadar, ia menghembuskan nafas lega ketika melihat pemuda pinkish yang tengah saling lempar makian dengan Loke detik itu juga.


"Hehe, maaf, Loke memang begitu."

"Kakak sepupumu itu aneh, aku mencarimu, malah ngomongin hime-hime, gak nyambung sekali kan?" rutuk Natsu dengan suara cukup kencang.

Lucy hanya tertawa kecil mendengar cacian Natsu yang sedari tadi tak reda-reda. Lucy menghentikan kekehannya dan mengajak Natsu mempercepat langkahnya ke tempat yang membuatnya selalu penasaran dan senyam-senyum sejak semalam ia ingat Natsu.

Ingat Natsu? Ups.

Lucy menatap senang papan di gerbang masuk wahana bermain yang bertuliskan Duf*n. *Ecie, di Magnolia juga ada loh*.

"Aku kangen tempat ini, tapi aku juga benci tempat ini," Natsu menatap jengkel antrian panjang di loket masuk.

"Kenapa?"

"Idih, kalau bukan karena mau menemanimu jalan-jalan di Magnolia, aku ogah deh ke sini!"

"Hah?"

"Tempat ini selalu sukses membuat aku mual! Untung kali ini aku sudah antisipasi bawa obat ant*mo!"

Lucy sweatdrop menatap beberapa bungkus obat sponsor (?) yang tengah dipegang Natsu. "Jadi kau ini motion-sickness?"

"Whoa, Luce! Kau peramal ya? Dari mana kau tahu?" mulut Natsu membentuk huruf 'o' sambil menunjuk-nunjuk Lucy dengan telunjuknya.

Lucy hanya memasang pokerface. "Kau yang bilang tadi."

"Bilang apa?"

"Kau mual kalau ke sini, berarti kau mabuk kan."

"Loh? Memang iya aku bilang begitu?"

Lucy sudah tak mampu berkata-kata. "Lupakan."

"Lupakan apa?"

Lucy menarik tangan Natsu, membawanya ke gerbang masuk tanpa harus ke loket dan membeli tiket lebih dulu. Kan sudah ada tiket pemberian Sting.


Lucy kembali turun dari wahana ketiga yang mereka naiki, rollercoaster, dengan memapah Natsu yang memutih. Minum obat pun tak berefek. Sepertinya ini yang dinamakan mabuk kronis (?). Rasanya Lucy akan segera terbiasa. Hal ini juga terjadi saat mereka turun dari wahana pertama dan wahana kedua.

Bayangan adegan romantis seperti di novel-novel, dimana si pria akan menenangkan kekasihnya yang ketakutan dan histeris menaiki wahana yang memancing adrenalin, lenyap sudah. Lucy juga sempat kaget dan terkejut menemukan dirinya sendiri membayangkan adegan yang tidak-tidak dengan Natsu. Ah, Lucy merasa aneh.

"Sudah, ayo, kita duduk dulu," Lucy mengajak Natsu duduk di kursi terdekat. Tenaganya sudah tak cukup kuat untuk menopang tubuh Natsu yang lebih berat darinya. "Ah, kau ini membuatku repot saja," rengut Lucy sambil menggembungkan pipinya.

"Hehe, gomen," Natsu memegangi perutnya yang masih terasa agak tak enak.

"Mau pulang saja?"

"Tidak, selama kau belum puas main."

"Tapi kau sudah muntah-muntah begitu, kau malah sakit nanti," tanpa terasa, mimik Lucy berganti khawatir. Tangannya bergerak sendiri tanpa dikomando, menghapus tetesan keringat di pelipis Natsu.

Natsu menerbitkan grinsnya yang manis. "Mau muntah berapa kali pun, tak masalah bagiku, asal kau tak menyesal jalan-jalan denganku."

Lucy menundukkan wajahnya yang khawatir dengan malu. Semburat merah menjalari pipinya.

"Luce, kau kenapa?"

Ups. Lucy tak bisa beralasan kalau ini hanya pantulan kemerahan dari langit senja kan?


Mereka sudah keluar dari wahana rekreasi yang katanya sih, wahana rekreasi terbesar ke 2 di Fiore itu. Langit sudah berubah jadi hitam. Kilauan indah permata langit juga tak luput dari kanvas hitam di atas mereka.

"Hehe, terima kasih untuk hari ini," Lucy tidak tahu apa yang bisa ia berikan untuk membayar tiket Natsu, pengorbanan Natsu, semuanya. Oh, ada perasaan membuncah di dada Lucy, menahan ledakan kebahagiaan barangkali. Lebay banget kan?

"Hehe, sama-sama Luce!"

"Oh iya, boleh aku minta nomor teleponmu? Sungguh susah menebak-nebak kau akan datang jam berapa," dengus Lucy sebal, berhenti dan mengeluarkan handphone nya.

"Tentu," Natsu menyebutkan digit-digit angka, lalu bergantian dengan Lucy.

"Berarti kita bisa tetap berkomunikasi walaupun kembali ke kota masing-masing!" sahut Natsu girang. Namun wajah Lucy tak secerah dirinya.

"Gomen.." jawab Lucy pelan.

"Kenapa, Luce?"

"Handphoneku biasanya dipegang papa, aku hanya pegang saat liburan seperti ini.."

"Ya sudahlah. Bisa berkomunikasi untuk beberapa hari ini pun sudah bagus," balas Natsu sambil mengalihkan pandangannya.

Mereka berjalan lagi dalam diam. Natsu sibuk menatap jalan yang mereka lalui, sedangkan Lucy berjalan sambil menunduk gugup.

Lucy terus berjalan, padahal Natsu sudah berhenti berjalan.

"Luce?"

Lucy menengok, dengan wajah memerah, membayangkan imajinasi yang tengah berada di pikirannya menjadi kenyataan. "I-Iya?"

"Kau mau kemana?"

"Pu-Pulang lah."

"Ini rumahmu kan?" tunjuk Natsu pada rumah yang cukup besar. Lucy salting lalu berlari cepat ke arah rumah yang ditunjuk Natsu. "Eh, iya."

Lucy berlari pelan, lalu–

.

.

.

.

.

CUP

.

.

–ia mengecup pipi Natsu singkat. Secepat cahaya ia berlari masuk ke dalam rumah itu.

Natsu hanya bisa diam terpaku, tak mengerti apapun. Semua terjadi begitu cepat, tak satu pun patahan gerakan Lucy yang terekam dalam penglihatan matanya. Dia bisa melihat kepulan asap yang keluar dari kepala Lucy yang tengah berlari menjauh.

Natsu yang tak mengerti hanya bisa menyeringai sedikit sambil mengedikkan bahunya, lalu berjalan ke arah rumahnya.


Lucy berusaha amat keras, berlari sekencang yang ia mampu, menghindari Michelle dan Loke yang tengah duduk santai sambil menonton televisi. Ia tak mau wajah merahnya dilihat mereka.

Lucy malu.

Lucy rasa, ini yang sering dideskripsikan di beberapa adegan novel. Lucy tak mengerti.

Lucy tak akan pernah mengerti. Semua keberaniannya melakukan hal semacam itu, segala kegilaannya, kenekatannya, semuanya. Dan yang lebih ia takutkan..

Hanya Natsu yang bisa membuatnya merasakan semua perasaan itu. Hanya Natsu yang bisa membuatnya membayangkan adegan-adegan novel secara sia-sia. Hanya Natsu yang mampu membuatnya senang hingga rasanya begitu sesak akan kebahagiaan. Hanya ketika bertemu Natsu kebetulan terasa seperti benang takdir tak terputus.

Hanya Natsu. Hanya ketika ia bersama Natsu. Hanya ketika ia di sisi Natsu.

Lucy tahu ini terlalu cepat. Lucy tahu ia tak bisa, atau tak boleh.

Karena, kalimat seperti 'biarkan semua kita tinggal di sini' bisa terlontar dari mulut polos Natsu kapanpun.


"Kau baru pulang?" suara Grandine terdengar dari arah dapur ketika Natsu meneriakkan kepulangannya.

"Ya, bu." Natsu segera masuk ke kamarnya, lalu berbaring dan menatap ke langit-langit kamar.

Ia menutup matanya sebentar, lalu mengguman pelan.

"Waktu kami hanya tinggal 4 hari."

TBC


Hai~ Maaf baru update.. Oh ya.. Maaf aku belum membalas review dari chapter 1 :/ Aku balas habis ini yaa :3 Yosh! Review yaa :)