13

"turunlah, jika kau masih haus."ucapnya lalu melangkah keluar, sementara ino masih terdiam. kepalanya perlahan tertunduk, namun tak lama ia mendongak saat mendengar suara pintu yang kembali terbuka, ia terdiam saat melihat seorang gadis yang sangat ia kenal, kini tengah berdiri diambang pintu dengan sebuah kaos hitam berlengan panjang dengan kata 'peace' dibagian dadanya, dan sebuah celana jeans hitam. Wanita itu juga tengah menatapnya.

"ino?"

Vampir kingdom chapter 3

Pairing:

Ino yamanaka.

Sabaku no gaara.

Sasuke uchiha.

Other cast:

Cari sendiri ^_^

Yo, minna. Selamat malam, ini dia vampir kingdom chapter tiganya-ttebayo, semoga kalian suka nee. Happy reading. Hati-hati ranjau(typo)bertebaran.

"M-matsuri? J-jadi kau...vampir? jadi kau membohongiku? jadi selama ini aku berteman dengan...vampir?"tanya ino beruntun, sementara matsuri yang berdiri sekitar dua langkah kaki dari ino terlihat berpikir untuk menjawab semua pertanyaan ino.

"I-ino dengarkan dulu, aku tidak bermaksud membohongimu, aku juga tidak tahu jika 'mangsa' yang dibawa gaara-niisan itu kau, aku tidak memiliki niat jahat padamu, kumohon percayalah padaku."jelas matsuri panjang lebar dengan wajah memelas, gadis berambut coklat pendek itu memang selalu pandai meluluhkan hati ino.

"Sulit, tapi aku akan percaya padamu, asalkan kau mau membantuku keluar dari sini."terdiam itulah yang kini tengah matsuri lakukan.

Bagaimana ini?

"Aku tidak bisa...jika aku membantumu, aku akan dihukum. Aku akan diasingkan selama seribu tahun dari dunia vampir, jika aku membantu tawanan kabur. Lagi pula selain disini dimana lagi ada tempat tinggal untukmu?"ucap dan tanya matsuri pada ino.

"Tentu saja ada! Aku memiliki keluarga."ucap ino tegas. Tangannya mengepal kesal karena merasa matsuri seolah berpikir ino adalah gelandangan yang telah diusir dari rumahnya.

"Apa kau pikir mereka akan menerimamu? Setelah mereka tahu jika kau telah menjadi seorang vampir."ucapan matsuri berhasil membuat ino membeku, tangan yang tadi mengepal itu kini perlahan mengendur. Ino menunduk dengan wajah sendu.

"T-tapi aku keluarga mereka juga."ucapan ino terdengar ragu, itulah yang ditangkap telinga matsuri.

"Ya, dan kau akan membuat derajat kaum werewolf semakin buruk dimata makhluk lain. Apa yang akan dikatakan makhluk lain? Mereka pasti berpikir werewolf itu tidak memiliki prinsip, bagaimana mungkin hanya karena orang yang mereka sayangi diubah menjadi musuh bebuyutan mereka, mereka mau bertoleransi akan hal itu? kau hanya akan jadi biang masalah jika tetap memaksa tinggal dalam lingkungan mereka. Terima saja jalan takdirmu ini, dan jalani dengan baik."ucap hanabi yang tiba-tiba berdiri diambang pintu. nada suaranya datar dan dingin. kontras dengan wajah lucunya. ucapan hanabi itu benar-benar menusuk ulu hati ino. Hingga membuat ino terdiam seribu bahasa.

Hentikan...hentikan aku mohon.

"Lalu, apa yang akan kalian lakukan padaku? Kenapa kalian menyekapku?"tanya ino dan memberanikan diri untuk menatap kedua saudara dengan warna rambut serupa tersebut.

"Kami akan menggunakanmu sebagai tameng."jawab hanabi cepat dan tegas tanpa ada keraguan dalam suaranya, dan tanpa rasa bersalah.

"Apa?! A-apa maksudnya itu?"tanya ino makin bingung, ia merasa tengah tersesat disebuah labirin, dengan jawaban hanabi yang berhasil membuat otaknya serasa diremas itu.

"Ayahmu dan kaumnya berniat melakukan serangan terhadap kaum vampir, karena itu kami menyekapmu, jadi kami akan membuat mereka diharuskan memilih; tetap menyerang kami dan mengorbankanmu, atau mundur dan kami akan memastikan kau aman. Ayahmu jelas akan memilih perdamaian, demi menyelamatkan nyawamu."kali ini matsuri yang menjawab, matsuri sangat berbeda dengan hanabi. Jika hanabi lebih condong ke-sifat cuek, kasar, dan dingin. sangat jauh berbeda degan sifat matsuri yang jauh lebih bersahabat.

"apa gunanya? aku sekarang adalah vampir, dan apa pengaruhnya?"ucap ino makin frustasi, bahkan ia merasakan beban berat menimpa kepalanya. Kepalanya terasa berdenyut ngilu.

"ayahmu adalah pemimpin para werewolf, mau tidak mau mereka akan menuruti perintah ayahmu untuk membatalkan penyerangan. Dan nilai tambahnya adalah, kau kesayangan kaum werewolf. jadi tidak akan sulit membujuk mereka." ucap hanabi santai lalu berjalan pergi meninggalkan kamar itu.

"lalu, setelah itu aku akan dibebaskan?"tanya ino menoleh kearah matsuri. Matsuri menunduk.

"tentu saja...tidak."jawab matsuri sendu.

"k-kenapa?"ucap ino kesal.

Kenapa mereka seolah tengah mempermainkan perasaanku?

"kenapa pemikiranmu pendek sekali? karena kau sekarang adalah bagian dari kami."jawab matsuri. Ino terdiam, masih sulit untuk menerima hal ini. matsuri menghembuskan nafas pelan lalu melangkah mendekati ranjang yang kini nampak terkoyak-koyak, seperti baru dicakar-cakar harimau.

"pakai ini, lalu turunlah untuk sarapan. kamar ini jelas butuh perbaikan...cepatlah."ucap matsuri setelah meletakan baju yang ia bawa keatas ranjang milik kakaknya tersebut. ino hanya mampu mengangguk lemah dan pasrah. Ia menoleh kekanan kekiri mencari tempat untuk mengganti bajunya.

dimana aku bisa berganti baju?

"pintu coklat yang berada disebelah kananmu."ucap matsuri yang mampu membuat ino terperangah.

"bagaimana bisa?"tanya ino pelan.

"pembaca pikiran, ingat?"ucap matsuri santai.

"ah, ya."gumam ino, setelah ingat bahwa matsuri yang dikiranya manusia itu sebenarnya adalah vampir.

Tunggu! Pembaca pikiran? Ber-arti selama ini matsuri mendengar isi pikiranku?termasuk...

"perasaanmu pada shikamaru. tentu saja."ucap matsuri jahil. Hingga membuat wajah ino memerah.

Tidak mungkin!

Setelah mandi dan berganti baju, ino memutuskan untuk keluar. ino meraih gagang pintu, namun hampir selama satu menit tangannya hanya terdiam. pikirannya menerawang jauh, jauh dari akal normalnya.

Bagaimana jika mereka telah memasang perangkap? Bagaimana jika mereka membunuhku setibanya dibawah? Ah bodoh akukan memang sudah terjebak dan...mati.

Dengan ragu ino memutar knop pintu tersebut, kepala pirangnya ia condongkan kedepan, menoleh kekanan kekiri, menganalisa keadaan.

Sepi.

Itulah kata yang ada dipikiran ino melihat betapa sepinya koridor ruangan itu. dengan hati-hati ino keluar lalu menutup pintu kamar yang ia tempati sejak semalam itu. ia berjalan menelusuri koridor yang tidak bisa dibilang pendek tersebut, koridor itu sangat panjang. Dinding koridor yang bernuansa merah dan hitam itu memberikan kesan seram. Ditambah lagi lukisan-lukisan yang terpajang disepanjang dinding. Lukisan itu bergambar manusia yang jelas tak dikenalnya. Mereka seolah menatap setiap langkah kaki ino. Saat melewati sebuah lemari kecil dahi Ino menyerngit melihat lilin yang berada diatas lemari kecil tersebut. Lilin itu berwarna hitam dengan api berwarna merah.

Lilin yang aneh. dimana mereka membelinya?

Ino melangkah makin jauh lagi. dan tak lama senyumnya merekah kala melihat cahaya dari ujung koridor.

Akhirnya aku melihat cahaya.

Setibanya didekat anak tangga, Ino terdiam. saat kakinya sudah hampir menuruni anak tangga yang ditutupi karpet berwarna merah dan sedikit sentuhan warna emas tersebut. Otaknya menyuruhnya untuk tetap turun, namun tubuhnya seolah menolak perintah otaknya tersebut, namun ino akhirnya memilih untuk menuruni tangga tersebut, tangga yang akan membawanya menuju lantai bawah. dengan perasaan berkecamuk kakinya ia paksakan untuk berjalan. Dia takut bertemu dengan vampir lain, tapi dia juga penasaran dengan apa yang ada dilantai bawah.

Kenapa hening sekali?

Pikir ino bingung saat ia tak mendengar kebisingan sedikitpun dari bawah.

Ini rumah, apa kuburan? Ini terlalu hening.

"Halo."ino tersentak dan langkahnya terhenti dianak tangga ke-duabelas, lalu ia dengan segera menoleh kearah kirinya, namun ia tidak mendapati satu orangpun disampingnya.

Hanya halusinasiku.

Ia kembali menoleh kedepan, namun...

"Boo!"

"Akh!"ino hampir terjatuh saat seorang pria tiba-tiba muncul dihadapannya. Jika saja pria itu tidak sigap meraih pinggang ino, dan menahan ino agar tidak terjatuh, sudah dapat dipastikan ino akan jatuh menggelinding, seperti didrama-drama langganan ibunya. Ino mendongak dan mendapati seorang pria bersurai perak klimis dengan mata berwarna ungu. Ia memakai celana jeans longgar berwarna hitam dan kemeja hitam polos, dan beberapa kancingnya sengaja dilepas, membuat dada bidangnya terekspos. Wajah ino sedikit merona, namun innernya langsung berteriak menyadarkannya.

"Maafkan aku, karena telah mengejutkanmu."ucap pria itu pelan. Namun ino merasa pria itu tidak benar-benar tulus meminta maaf, saat dilihatnya sebuah seringai terbentuk dibibir tipis pria itu. tubuh ino bergerak gelisah saat melihat wajah pria itu, yang kini sangat dekat dengan wajahnya.

"T-tidak apa-apa, sekarang lepaskan aku."ino merasa begitu risih berdekatan dengan pria itu, pria itu melihatnya seolah-olah dirinya adalah sepotong daging segar yang menunggu untuk disantap.

"Baiklah, nona cantik."ucapan pria itu berhasil membuat ino merinding hebat, dengan cepat ino menjaga jarak saat pria itu sudah melepas rangkulannya.

"Kenalkan namaku, hidan, akasuna no hidan. Kau bisa memanggilku hi-chan yang tampan."ucap pria bernama hidan itu percaya diri. Sementara ino kini sudah sweatdropp melihatnya.

Apa-apaan pria ini? kapan coba aku menanyakan namanya?

"aku hanya ingin mengenalkan diri. Bukankah itu langkah yang bagus untuk menjadi 'manusia' yang baik?"ucap hidan santai lalu memamerkan senyuman menawan, yang justru membuat ino mual. Ino sedikit tersentak saat ingat ucapan hidan yang seolah menjawab isi pikirannya. Namun ia segera menepis niatnya untuk bertanya saat ingat ucapan matsuri tadi.

'pembaca pikiran, ingat?'

"that's right, honey."seru hidan lalu memberikan ino sebuah wink.

"jujur saja, aku kurang suka tindakanmu yang dengan lancangnya membaca pikiranku. Jika kau ingin bersikap baik, maka jangan sekali-kali kau lakukan itu lagi, mengerti?"ini dia sifat keras kepala dan tukang perintah ino yang tadi hilang kini muncul kembali.

"aku tidak bisa, karena semua isi pikiranmu terdengar jelas ditelingaku. Mereka berputar-putar dikepalaku seperti ngengat sakit gigi. oh jashin, itu sangat mengganggu."ucap hidan ber-ackting layaknya orang yang sedang dilanda stress berat.

"kalau begitu cobalah untuk menyembunyikan fakta, bahwa kau melihat semua isi pikiranku. Baka."ucap ino kesal, alis kirinya mulai berkendut kesal.

Kenapa tuhan membuat makhluk sejenis ini?

"semoga saja aku bisa...omong-omong namamu ino-kan? Salam kenal ino-chan. kau sudah tahu namakukan?"ucap hidan mengulurkan tangan kearah ino.

"ya...bagaimana kau bisa tahu?"ucap ino membalas uluran tangan hidan, namun tak sampai berapa detik, ino langsung melepaskan tangannya dari tangan hidan.

Dingin, aku seperti memasukan tanganku ke freezer.

Hidan tahu itu, namun ia hanya mengabaikannya."semua vampir tahu namamu. Dan kuharap kau bisa berbaur karena saat ini semua keluarga vampir sedang ada di kediaman sabaku ini."ino nampak curiga dengan tingkah aneh pria dihadapannya ini, namun ia hanya mengabaikannya saja.

Aku tak akan takut dengan ancaman jenis itu. memang siapa keluarga sabaku itu? keluarga kerajaan, huh!konyol.

"hei orang sesat, apa yang kau lakukan padanya?"ino kembali tersentak saat tiba-tiba pria yang semalam menculiknya dan mencuri ciuman pertamanya itu kini tengah berdiri disampingnya. Mengingat itu membuat wajahnya kembali merona.

Bisa-bisa aku terkena serangan jantung jika begini.

Serangan jantung? huh konyol sekali. sebuah suara menyahuti pikiran ino.

"tidak ada, aku hanya ingin menemui wanita yang katanya renkarnasi dari hotaru. Dan setelah kulihat...dia benar-benar mirip dengannya. Dan sekali lagi pangeran namaku hidan, bukan orang sesat."ucap hidan sembari menatap ino penuh penilaian, dan tak lupa lirikan mata tak suka saat mengingat ucapan terakhir gaara.

"lebih baik kau pergi dari sini."suruh gaara, ia menggerakkan tangannya dengan gerakan mengusir.

"baiklah jika itu maumu, pangeran gaara. dan...kuharap kita bisa bertemu lagi, cantik. Sampai jumpa."ucap hidan melambaikan tangannya pada ino, lalu berbalik meninggalkan mereka berdua.

"apa yang kau lakukan?"tanya gaara saat sosok hidan sudah benar-benar tak terlihat lagi.

"aku? Apanya?"tanya ino bingung.

"lupakan saja, lebih baik kau jaga jarak dengannya."suruh gaara tak berperasaan.

"tapi ke─"bantahan ino terpotong oleh bentakan gaara.

"lakukan saja!"ino tersentak, namun selang dua detik bibirnya mengerucut tak suka.

"kau tidak berhak mengaturku!"teriak ino kesal, tangannya sudah tersilang didepan dadanya.

"jelas aku berhak, karena aku pangeran."ucap gaara dengan menekankan kata pangeran.

"itu berlaku bagi kaum-mu, bukan aku."ino masih tak mau menyerah.

"apa kau tidak sadar? sekarang kau bagian dari kami, sekarang kau adalah vampir. Dan kau harus tunduk padaku."desis gaara. ino hanya mengacuhkannya atau lebih tepatnya menjauhkan bibir gaara dari jangkauan matanya, karena melihatnya dapat membuat wajah ino memerah seperti kepiting rebus. lalu ino mulai melangkah pergi meninggalkan gaara yang masih terdiam di anak tangga ke-duabelas itu.

Namun ino membatalkan niatnya untuk turun, saat matanya menangkap para vampir yang kini tengah menatap kearahnya. Mata ino membelalak manakala matanya menatap gigi-gigi taring mereka memanjang hingga mencuat keluar. mata mereka juga ikut berubah menjadi merah darah, tatapan mereka begitu liar dan...kelaparan.

Pria itu tidak berbohong! Sial!

Ino mundur secara teratur, tangan dan kakinya sudah bergetar hebat. Ino berhenti saat merasakan punggungnya menubruk sesuatu, ino menoleh dan mendapati gaara tengah berdiri dibelakangnya.

"kau mau kemana?"tanya gaara datar.

"t-tentu saja kekamar."balas ino cepat, bola matanya sesekali melirik cemas kearah kerumunan vampir tersebut.

"kau takut?"ino terdiam saat pertanyaan itu terlontar dari bibir tipis gaara. "kau tidak perlu takut, kau sekarang vampir."ucap gaara yang kini tangannya tengah mengelus rambut pirang platinum milik ino.

"tap─"

"ayo."gaara menarik tangan ino sebelum gadis itu sempat melontarkan sebuah protes, tarikan gaara terlampau kuat hingga membuat ino hampir jatuh terjerembab.

Sialan, apa dia pikir aku anjing?

"jangan kau biasakan untuk mengumpat. Seorang wanita tidak cocok bertingkah seperti itu."ucap gaara datar, kepalanya tetap ia hadapkan kedepan. Sementara para vampir yang dilewati gaara, menyingkir dan menunduk hormat padanya.

"ck, dan jangan kau biasakan untuk membaca pikiran orang lain, cobalah untuk mengabaikannya."desis ino. Memalingkan muka dari gaara dengan bibir mengerucut. tanpa diketahui ino gaara tengah tersenyum. dan tanpa gaara ketahui sasori tengah menatap dirinya dengan tatapan khawatir.

"niisan, apa yang sedang kau pikirkan?"sasori menoleh saat mendengar suara datar adiknya, hanabi.

"tidak ada."

"bohong. Jika niisan memang tidak sedang memikirkan apa-apa, lalu kenapa niisan menutup pikiran? hingga membuatku tidak bisa menembusnya."tanya hanabi serius. Namun sasori tetap diam. "niisan mengkhawatirkan, gaara?"tanya hanabi lagi.

"cobalah untuk menyebut nama gaara dengan sebutan niisan."nasehat sasori. Adiknya yang satu ini memang selalu memanggil gaara dengan namanya, dan tanpa embel-embel niisan. Dan itu benar-benar membuatnya jengah. Adiknya ini jelas butuh diajari sopan santun, mengingat status gaara yang seorang pangeran mahkota. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa gaara? padahal sasori adalah kakak tertua. ya itu karena sasori menolak menjadi seorang pangeran mahkota, karena pangeran mahkota kelak akan menjadi raja, menurutnya menjadi raja itu membosankan, yang ada hanya bekerja, bekerja dan bekerja. memastikan rakyat aman dan sejahtera, inilah, itulah. Bahkan memikirkannya saja sudah mampu membuat kepalanya berdenyut nyeri. Dan dia cukup beruntung karena ayah dan kakeknya tidak terlalu mempermasalahkannya, hanya saja nenek dan ibunya yang masih menyayangkan keputusan sasori itu.

"jangan mengalihkan pembicaraan, sasori-nii."jawab hanabi ketus.

"ya, aku takut apa yang terjadi pada kankurou kembali terulang. Gadis itu benar-benar memiliki daya tarik kuat, bahkan melebihi hotaru."gumam sasori. Setelah itu mereka berdua terdiam, sambil menatap gerak-gerik gaara dan ino.

Sementara ditempat gaara dan ino, nampak ino yang berusaha keras menolak tawaran gaara untuk meminum darah.

"minum."suruh gaara bersikeras.

"tidak mau!"balas ino dengan melipat kedua tangan didadanya, dan memalingkan mukanya.

"kau ingin aku melakukannya seperti tadi?"skak mat. Wajah ino langsung memerah.

"apa?! T-tentu saja tidak! K-kemarikan."ino langsung meraih gelas yang ada digenggaman gaara, hingga membuat pria itu tersenyum, beberapa vampir wanita menatap senyuman gaara itu dengan takjub. Merasa dirinya ditatap gaara langsung memasang wajah datarnya kembali.

"gaara kita harus bicara."ucap sasori yang tiba-tiba saja berdiri disamping gaara. Sasori memang berbicara pada gaara, namun matanya ter-arah kepada ino. Ino yang merasa tidak enak itu berniat pergi namun tangan gaara menahannya.

"aku akan mengantar gadis ini kekamarnya dulu."ucap gaara.

"biarkan matsuri yang mengantarnya."

"sudah kukatakan, aku yang akan mengantarnya!"desis gaara.

"baiklah."sasori menyerah dengan sikap arogan gaara.

sifat aroganmu bahkan melebihi ayah.

"terimakasih pujiannya, Sasori-nii. Ayo, aku antar kau kekamarmu."ucap gaara menyeret tangan ino, meninggalkan ruang ballroom, yang kini dipenuhi oleh para petinggi kerajaan vampir.

"aku bisa pergi sen─"ino ingin menolak, namun ucapannya sudah kembali gaara potong.

"apa kau bisa sekali saja tidak usah membantahku?"tanya gaara kesal.

"dan bisakah kau berhenti memotong ucapan orang lain?"balas ino sengit. gaara menghela nafas, lalu menarik tangan ino. Menyeret gadis itu untuk mengikutinya, sekalipun disepanjang perjalanan menuju kamarnya ino terus-menerus memberontak.

Gaara membuka pintu kamarnya dan mendorong ino untuk masuk. Awalnya ino ingin berteriak memprotes tindakan gaara yang terbilang kasar itu. namun ucapannya hanya mampu menyangkut ditenggorokannya, wajah kesal ino kini berganti dengan wajah takjub. Ino terpana, seingatnya sebelum ia keluar, kamar ini masih dalam keadaan berantakan, tapi sekarang kamar ini bahkan tak terlihat memiliki cacat apapun.

"kau tetap disini, aku akan kembali."ucapan gaara berhasil membuat ino menoleh. dan yang benar-benar tak terduga adalah gaara memeluk ino singkat, kemudian tersenyum dan mengelus rambut ino lembut. lalu melangkah pergi.

"ada apa sebenarnya? Apakah dia punya dua kepribadian?"ino bergidik mengingat tingkah gaara yang terkadang baik, namun sewaktu-waktu bisa berubah jadi pria yang arogan dan kasar.

'menemui gadis yang katanya renkarnasi hotaru.'

Tiba-tiba kata pria bernama hidan itu terngiang dikepalanya.

"renkarnasi?"bisik ino.

Sementara itu dikediaman keluarga yamanaka. kiba tengah mencoba menenangkan ibunya yang masih shock akibat hilangnya ino.

"bu...tenanglah. aku sudah menghubungi pihak kepolisian, ayah juga sedang berusaha mencari keberadaannya. jadi ibu tenang saja."ucap kiba mencoba menenangkan ibunya.

"tenang?! kau pikir ibu bisa tenang? Ino hilang kiba! Hilang!"teriak ibunya kesal.

Glek. Kiba menelan ludahnya takut.

"aku tau, bu. Tapi yang perlu kita lakukan sekarang adalah tenang dan berdoa agar ino-chan selamat."kiba tetap berusaha menenangkan ibunya, walau resikonya ia harus menerima semprotan pedas dari sang ibu.

"ini semua salahmu dan ayahmu. Ibu mempercayaimu untuk menjaga adikmu, kiba. Tapi...kau. harusnya kau mendengarkan ucapan ibu. berhentilah bersikap keras kepala. Adikmu itu perempuan kiba. Dia perempuan...dia pasti ketakutan."

"ino-chan bukan tipe perempuan yang seperti itu, bu."

"tahu apa kau! Aku ibunya, dan aku juga perempuan. Aku mengerti perasaannya sekarang. Dia ketakutan."teriak ibunya kesal. Hingga membuat nyali kiba makin menciut.

"tap─"

"Cukup! Percuma saja aku bicara padamu. Kau sama saja dengan ayahmu. Keras kepala."itulah ucapan terakhir ibunya sebelum wanita paruh baya itu melangkah pergi menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan kiba yang diliputi perasaan bersalah.

"kiba. Bagaimana?"tanya inoichi yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya. Kiba menoleh dan menatap sang ayah dengan pandangan sendu. Membuat helaan nafas inoichi terdengar.

Aku jelas akan tidur di sofa malam ini.

"biarkan saja dulu. Ibumu masih shock."ucap inoichi mencoba menghibur kiba, dan untuk menghibur dirinya sendiri.

"tapi, ayah...bagaimana dengan ino-chan?"tanya kiba cemas.

"kita bicarakan dibelakang rumah."ucap ayahnya lalu melangkah meninggalkan kiba. Kiba terdiam sejenak sebelum akhirnya bangkit dari acara duduknya lalu mengikuti sang ayah.

Setibanya dibelakang rumah, inoichi dan kiba terdiam.

seandainya saja aku mengikuti ucapan ibu.

"apa maksudmu?"tanya inoichi tiba-tiba.

"sebelum berangkat tadi malam. Ibu membujukku agar tidak perlu membawa ino-chan. ibu mendapat firasat jika hal yang buruk akan menimpa ino-chan. Tapi aku...aku menolak untuk mempercayainya...ini semua salahku."ucap kiba menunduk.

"ini bukan sepenuhnya salahmu kiba. Ini juga salah ayah karena telah membiarkannya pergi sendiri."ucap inoichi sambil menengadahkan kepalanya menatap langit cerah.

Ketua. Kami butuh bantuanmu.

inoichi tersentak dan dengan cepat ia berlari kearah garasi. Dimana mobil jeep milik kiba terparkir.

"kiba, cepat!"panggil sang ayah. tanpa banyak pertanyaan kiba segera berlari dan duduk dikursi kemudi.

Mobil jeep kiba melaju dengan kecepatan 120 km perjam. Kiba mengerem mobilnya secara tiba-tiba hingga membuat ban mobilnya bergesekan dengan aspal dan menimbulkan suara berdecit yang keras. Kiba memarkirkan mobil jeepnya dipinggir hutan. Sementara ayahnya langsung keluar. disusul oleh kiba.

inoichi berlari kencang memasuki hutan, dan saat merasa keadaan sudah aman tubuhnya berubah menjadi serigala berbulu abu-abu. Sementara kiba dibelakangnya berubah menjadi serigala berbulu putih.

Semak-semak yang menghalangi jalan mereka tak dihiraukan sama sekali, semak-semak itu hanya bisa berakhir hancur dan terinjak-injak. Bahkan sebuah sungai juga tak bisa menahan langkah cepat inoichi dan kiba.

Mereka berubah kembali menjadi manusia, saat tiba di tempat dimana delapan orang pria dewasa dengan coretan-coretan aneh ditubuh mereka, berdiri mengelilingi sebuah batu besar. dimana seorang pria berambut kuning mencolok yang seumuran dengan kiba, diikat kedua tangan dan kakinya dengan sebuah tali besar yang dipegang oleh empat orang lainnya.

"ada apa ini?"tanya kiba bingung melihat temannya─naruto─bertelanjang dada dalam keadaan di ikat.

"semalam ia mengejar adikmu, hingga membuat adikmu panik, dan lari kedalam sisi hutan lainnya."jelas kakashi. Pelatih para werewolf muda sekaligus anggota kyra.

"apa maksudmu, kakashi? Bukankah naruto sudah pernah dilatih?"tanya inoichi bingung.

"waktu itu hanya pelatihan menyatukan perasaan, itu juga tidak sempurna. Sementara tadi malam, aku melatih indra kepekaan naruto mengingat ia adalah werewolf baru dan masih muda. Namun sayangnya naruto kehilangan kendali, saat mencium bau manusia. Serigala yang melakukan perjanjian dengannya terlampau liar dan sulit dijinakan, dan serigala itu juga mempunyai trauma mendalam pada manusia. Karena itulah ia mengejar ino."jelas kakashi panjang lebar.

"tapi kenapa naruto harus dihukum?"tanya kiba bingung.

"ini bukan dihukum kiba. kami akan melakukan ritual untuk membatalkan perjanjian naruto dengan serigala itu. serigala itu melampaui batas kemampuan naruto. Dan jika tidak cepat serigala itu akan menguasai pikirannya dan mengambil alih pikiran naruto, dan itu bukanlah hal yang bagus."jelas hiruzen tetua werewolf, sekaligus ayah inoichi.

"tapi...jika naruto mengejar ino. Lalu dimana ino sekarang?"tanya inoichi.

"kami tidak tahu. Karena saat aku menyusul, ino sudah tidak ada, dan baunya menghilang, nampaknya ia sengaja menghilangkan baunya untuk bersembunyi dari naruto. Dan saat aku tanya naruto. Dia bilang tidak mengingat apapun."jelas minato, ayah naruto sekaligus penjinak serigala. Dan juga werewolf tercepat.

inoichi berjalan kearah batu besar, dimana naruto kini terbaring dengan tubuh penuh dengan keringat.

"naruto. Apa kau sungguh tidak mengingat apapun?"tanya inoichi.

"samar...yang kuingat hanya saat aku melihat ino-chan berlari panik. Dan setelah itu aku tidak tahu lagi. paman...aku minta maaf, aku sungguh sangat menyesal."jelas dan ucap naruto sendu.

"tidak apa-apa, ini bukan salahmu."inoichi tersenyum maklum.

"ketua!"ke-sepuluh orang pria itu menoleh tak terkecuali naruto. Saat mendengar panggilan dari arah belakang inoichi.

"ada apa, sasuke?"tanya inoichi.

"tadi aku menyelidiki disepanjang jalan yang dilalui oleh ino-chan. Dan limaratus meter dari tempat ditangkapnya kyubi─serigala yang membuat perjanjian dengan naruto─aku mencium bau ino-chan. Dan juga terdapat bau vampir. Dan bau itu berasal dari keluarga sabaku."

"vampir?"ulang inoichi yang mendapat anggukan dari sasuke.

Sial!

Tepat tengah malam ritual untuk naruto dilaksanakan. Sedikit cerita tentang ritual ini. ritual ini dinamakan ritual pemisah. mereka para werewolf yang berniat membatalkan perjanjian dengan serigala, mereka harus di ikat di batu yang dijuluki sebagai 'rock soul' kedua tangan dan kaki mereka akan diikat lalu empat orang kyra akan menariknya berlawanan arah. Mereka akan seperti itu selama dua belas jam, dan malamnya saat werewolf yang berniat membatalkan perjanjian itu sudah tak sadarkan diri para kyra akan mengambil setetes dari darah dan air liur mereka dan juga serigala yang sudah membuat perjanjian. Lalu darah dan liur itu akan diteteskan dalam api. Lalu setelah api itu padam, abu dari bekas pembakaran itu akan dioleskan diperut sang werewolf, dimana lambang perjanjian itu terletak. Lambang itu berbentuk kepala serigala yang dikelilingi oleh coretan-coretan. Dan ditengah kepala serigala itu terdapat sebuah huruf kanji yang jika diartikan akan menjadi sebuah kalimat yaitu 'satu'

Pengikatan itu sendiri berguna untuk mengeluarkan sebagian dari roh serigala itu sendiri. Dan mengembalikan setengah roh dari si-manusia yang masih ada dalam serigalanya. Sehingga ini sama dengan penyucian. Jadi saat mereka sadar, mereka sudah lepas dari belenggu perjanjian. Dan mereka bisa mencari serigala yang sesuai dengan mereka. Biasanya ritual ini dilakukan jika si-werewolf merasa serigala dalam tubuh mereka terlalu liar dan kuat, hingga mereka tidak bisa menjinakannya. Ataupun karena serigala yang membuat perjanjian dengan mereka mati, atau sebaliknya. Jika tidak secepatnya dilaksanakan maka mereka akan ikut mati karena mereka harus hidup dalam satu tubuh.

Kembali ke-ritual itu, naruto kini terbaring lemah diatas rock soul sementara serigala yang membuat perjanjian dengannya tengah meringkuk, dengan sebuah tali terikat dilehernya, salah seorang kyra bernama yamato berjalan kearah serigala itu mengambil air liur dan juga darahnya. Ia menyerahkannya pada inoichi selaku pemimpin ritual, inoichi duduk bersama tiga orang kyra. fugaku, hiashi dan shukaku. Selaku pembaca mantra. lalu yamato berjalan kearah naruto dan mengambil darah dan juga air liurnya. Lalu kembali ia serahkan pada inoichi.

Lalu inoichi menyatukan darah dan juga air liur itu lalu meneteskannya kearah api, seketika itu asap hitam dan putih muncul. Asap hitam itu terbang dan masuk kedalam mulut serigala yang sudah dibuka oleh kyra bernama chouza. Lalu asap putih terbang kearah naruto dan memasuki mulutnya yang juga sudah dibuka oleh salah seorang kyra bernama hayate.

Dan tak lama kyubi terbangun ia melolong, sementara naruto membuka mata dan mulutnya. Dan saat itu juga cahaya merah muncul dari mulut dan matanya dan menghilang dalam kurun waktu lima detik. Lalu naruto kembali menutup mata dan tak sadarkan diri. Api itu dipadamkan, lalu inoichi mengambil abu sisa pembakarannya dan mencampurnya dengan ramuan yang sudah terlebih dahulu disiapkan. inoichi memerintahkan yamato untuk mengoleskannya keperut naruto.

"ritual selesai, sekarang bawa kyubi ketempat penjinakan, dan latih dia. Sementara naruto bawa keatas."suruh inoichi. Mereka menuruti perintah inoichi dan membawa naruto keatas atau lebih tepatnya kerumah pohon. Hampir disetiap pohon disekeliling mereka terdapat rumah dimana rumah-rumah itu ditempati bagi para tetua werewolf yang tidak lagi memiliki keluarga.

Saat inoichi hendak berbalik lima orang pria berjubah muncul. inoichi mengkerutkan hidungnya saat mengenali bau mereka.

Vampir.

Yo, minna! Chapter 3 sudah selesai. Hehe gomen-nee yang udah nunggu-nunggu si-sasuke, tapi disini si-sasuke scene-nya se-iprit banget. Tapi aku bakalan usahain di-chapter 4 scene sasuke bakalan aku banyakin.

Sf: itu harus thor.

A:iye, iye.

Oke sekian cuap-cuapnya. Author mau ngilang dulu, jaa ne.

Vampir kingdom