MIRROR

Chapter 3

.

.

Hallo semua! I'm comeback with new chapter for this FF.

Okeh! Kita langsung saja, ya!

Author : naunau01

Length : Chaptered

Genre : Family & crack

Rating : PG+14

Main Cast : EXO Member

Supporting Cast : Park Jungsoo (Leteeuk SuJu), Lee Taemin (Taemin ShiNEE), Kim Hyoyeon and Choi Sooyoung (SNSD), Lee Arang (OC).

WARNING: OOC, alur tidak terduga (menurutku), mengandung beberapa kata kasar, genre & rate ditiap chapter berbeda. Genre utama/dominan saya sebutkan lebih awal. Latar tempat dan waktu menggunakan tanggal, bulan, dan jam. SANGAT PENTING UNTUK LEBIH MEMPERHATIKAN & MENGINGAT-INGAT LATAR TEMPAT & WAKTU.

Kalau Anda tidak suka/jenuh/benci/apalah, Anda boleh keluar dari FF saya. Kalau suka, silahkan dilanjut. ^_^

.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.

*.*.*.*.*.*.*

.

.

.

.

.

The story is begin

.

.

.

.

.

MIRROR

Chapter 3

.

.

.

Last time in last chap : KaiMinSoo Sceane (Monday, 26th August)

Now : Friday, 30th August— 08.45 A.M

.

.

BUAGH!

Suho baru saja tergelincir di tangga depan rumahnya. Ia meringis kemudian bangkit sambil mengusap-usap bokongnya yang berdenyut-denyut. Dengan tertatih-tatih, dia memasuki Miatanya dan segera mengeluarkan mobilnya dari pekarangan rumah, lalu melaju ke utara, ke rumah sahabatnya—Kris.

Saat Suho sudah berada di jalan raya, yang itu berarti sudah keluar dari perumahannya, tiba-tiba, iPhone yang ia letakan di jok samping berbunyi. Suho berusaha menggapainya. Dan setelah berhasil, dia segera menjawab panggilan yang masuk tanpa melihat siapa yang menelepon.

" Yeoboseyyo?" kata Suho seramah mungkin.

" Yak, Suho-ah! Dimana kau?!"

Suho refleks menjauhkan iPhonennya dari telinga karena mendengar teriakan Leeteuk hyung, manajer pribadinya yang kini pasti sudah tiba di Incheon. Leeteuk hyung berusia hampir 30 tahun dan keluarganya tinggal di Thailand. Dia sudah bekerja pada Suho semenjak Suho meluncurkan novel pertamanya yang sangat mendunia dan mampu mengangkat namanya hingga disejajarkan oleh penulis terhebat yang pernah ada. Leeteuk adalah seorang mantan presiden sebuah percetakan yang sudah lama gulung tikar. Saat Suho sedang mencari manajer pribadi, Kris lah yang merekomendasikan Leeteuk. Ternyata Leeteuk memang orang yang tepat, walau agak menyebalkan.

" Ah, Leeteuk hyung mengagetkanku saja," kata Suho seraya membelokkan setir di persimpangan. " Aku sedang mengemudi menuju rumah Kris."

" Hah? Kris?" ulang Leeteuk yang sepertinya sudah tertular penyakit Kyuhyun (big boss manajemen tempat Suho bekerja), linglung. " Kris Wu? Kevin Wu maksudmu?"

" U-hum."

" Aduh, kenapa ribet sekali sih?"

Suho merasa ada yang tidak beres. " Ada apa hyung? Kau baik-baik saja kan? Apa perjalananmu tidak menyenangkan?"

" Kau ini. Bisa tidak bertanya pelan-pelan?!" Leeteuk sewot dan Suho terkekeh pelan. " Mianhae hyung."

" Yeah, lupakan saja. Tapi Joonmyunie, dengarkan baik-baik! Aku tak peduli apa yang perlu kau lakukan untuk membagi fokusmu antara mendengarkanku dan mengemudi. Pokoknya dengarkan saja, oke?"

Suho kembali membelokkan setir di persimpangan dan berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah. " Kau mendapatkan perhatianku, hyung."

" Kau dimana sekarang?"

Suho mendesah pelan. " Sudah kukatakan aku sedang menyetir."

" Apa kau bisa menjemputku?"

" Hah?" Suho memindahkan iPhonennya ke telinga sebelah kanan ketika dia mengoper gigi kemudian kembali melajukan mobil. " Incheon? Hyung, yang benar saja. Butuh satu jam perjalanan dari sini untuk menjemputmu."

" Iya juga," gumam Leeteuk yang ditanggapi oleh gelengan kepala Suho. " Mungkin kita bisa bertemu ditempat biasa. Ada yang perlu kubicarakan."

Suho menginjak rem mendadak ketika sebuah sepeda motor melintas tiba-tiba di depannya. Suho memaki pelan, kemudian kembali menginjak gas. " Sepertinya tidak hyung," katanya, " Kris dan aku ada janji. Mungkin besok?"

" Aku harus mengurus acara launching buku barumu," Leeteuk sewot, " ya sudahlah. Kuceritakan saja sekarang. Bagaimana?"

Tidak ada jawaban.

" Hel-looow…?" Leeteuk mulai lebay. " Yak, Joonmyunnie!"

" Ah, ne, ne hyung. Mian, tadi perhatianku agak terganggu. Kau tadi bilang apa?"

Leeteuk mendesah. " Ada yang harus kukatakan. Sekarang saja bagaimana?"

Kembali tidak ada jawaban. Dan Leeteuk pun mulai tidak sabar. Dia langsung bercerita tanpa mempedulikan Suho yang sedang berusaha berkonsentrasi karena sekarang perhatiannya terganggu.

" Kusingkat saja ya. Tadi di pesawat, ada seorang pria yang menanyakanmu. Dia bilang dia ada perlu denganmu dan dia tahu bahwa aku adalah menejer pribadimu. Dia memaksaku untuk mempertemukannya denganmu. Dia bilang, urusan ini sangat penting sehingga dia terus mendesak."

Suho tersenyum kecil. " Seorang….fanboy barangkali?"

" Kau terlalu percaya diri, Joonmyun!" Leeteuk kembali sewot. " Ini tak terdengar seperti yang kau duga. Pria itu sangat marah dan terus memaksa untuk bertemu denganmu. Dia bilang—ya, Joonmyun! Demi Tuhan, kau dengar tidak?"

" Ya, ya, aku dengar!" Perhatian Suho benar-benar terganggu sekarang. Sementara disebrang sana, Leeteuk semakin kesal karena lawan bicaranya sepertinya tidak mendengarkan. Padahal dia sudah capek-capek menelepon untuk…berapa menit sekarang? Pulsaku bisa ludes kalau begini, pikirnya.

Tapi Leeteuk langsung terdiam ketika mendengar suara klakson mobil atau apalah disebrang sana.

.

.

" Joonmyun, kau sepertinya benar-benar sedang menyetir…"

" Pernyataan macam apa itu?" Suho sewot. Wajahnya pias karena mulai kehilang kontrol pada setir. " Hyung, kalau kau mau mengatakan sesuatu katakan saja!"

" Ya baiklah! Laki-laki tadi sangat marah dan ingin bertemu langsung. Dia bilang, kau harus bertanggung jawab untuk NYAWA yang telah kau HILANGKAN!"

CITTTT…! BRAK!

" Halo?! Hei, Joonmyun! Kau baik-baik saja? Suara apa barusan? Halo? ….. Halo!?"

.

Continue

.

" Halo?! Hei, Joonmyun! Kau baik-baik saja? Suara apa barusan? Halo?...Halo!?"

TUT, TUT, TUT, TUT—

" Damn it!" Leeteuk memukul paha kakinya sendiri, namun sejurus kemudian dia mengusap-usap pahanya karena kesakitan. Bandara Incheon di pukul 9 pagi mulai dipadati pengunjung. Leeteuk memang baru saja cheek-in dan rencananya, sesampainya di Korea, dia ingin pergi ke rumah orang tuanya. Tapi dia urungkan karena ada urusan yang lebih penting.

Sayangnya, orang yang bersangkutan malah lost contact.

Kepala Leeteuk mulai dipenuhi beberapa kemungkinan. Suara ban terselip dan benturan keras yang didengarnya beberapa saat lalu masih terekam jelas. Perasaannya mulai tidak enak. Apa yang terjadi? pikirnya, apa Suho baik-baik saja? Sial! Jika terjadi sesuatu semuanya bisa kacau berantakan! Leeteuk mendesah keras, membuat seorang perempuan muda bersanggul yang duduk di sampingnya menoleh dan menatap heran. Leeteuk melemparkan senyuman 'maaf', kemudian memeriksa ponselnya lagi sebelum memakai ransel dan menarik koper kecilnya, pergi.

Sesampainya di pintu keluar, Leeteuk mendatangi sebuah taxi yang tengah kosong. Ia segera menyebutkan alamat yang dia tuju, lalu kembali memeriksa ponsel, mencoba menelepon Suho.

Ternyata benar, pikirnya, lima menit kemudian. Lost contact!

.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.

*.*.*.*.*.*

.

SM Tower Company

The next day : Saturday, 31st August—11.15 P.M

.

.

Kris mengembalikan gagang telepon ke tempatnya dengan suara benturan yang fantastis. Dia menyenderkan tubuhnya pada kursi kerja dan mendongakkan kepala. Sejurus kemudian, dia berteriak frustasi sambil meremas rambutnya hingga bentuknya menjadi tak beraturan.

Sakura Kibachi, salah satu asisten pribadinya, hanya bisa berdiri sambil menundukkan kepala takut. Dia berusaha membuat dirinya tak terlihat, tapi tetap saja Kris menatapnya dengan tatapan dingin dan bengis, yang mampu membuat siapa saja tersungkur dan tak bangun dalam waktu paling sebentar dua bulan.

.

.

.

" Dasar bodoh!" maki Kris. " Tak berguna! Untuk apa aku membayar mahal dirimu jika kau gagal mendapatkan kontrak itu?! Kau tahu betapa berharganya kontrak itu, hah?! Kontrak itu dapat menjalin kerjasama antara Korea Selatan dengan Rusia untuk membangun jalur kereta bawah air terpanjang di dunia! Aku tak membicarakan materi disini, tapi sebuah kerjasama yang menjanjikan bahwa Rusia tak akan berpihak pada Korea Utara lagi! Ini bukan tentang materi, tapi sesuatu yang lebih besar dan luas, idiot!"

Sakura menggigit bibir hingga berdarah. Tubuhnya gemetar hebat tapi dia terus berusaha menyembunyikannya. Bertahun-tahun dia bekerja keras, mati-matian mengambil hati Kris agar mau mepercayainya, kini selesai sudah karena kebodohannya sendiri. Padahal baru seminggu lalu Kris memujinya dan menaikkan gajinya karena berhasil menjalin kontrak dengan perusahaan Rusia yang memimpin proyek ini. Tapi karena kesalahan teknis yang sama sekali tak disadarinya, perusahaan Rusia itupun membatalkan kontrak dan Sakura mati-matian mempertahankannya sekaligus menyembunyikannya dari Kris. Tapi disembunyikan dimana atau bagaimanapun, bau busuk bakal tercium juga.

" Apa kau mau bertanggung jawab kepada pemerintah pusat yang telah mendungkung kita, hah?! Sejauh ini kita sudah hampir berhasil, tapi kau malah mengacaukannya! Idiot, tidak berguna!"

" Ma—maafkan saya—" Sungguh, apa hanya itu yang dapat dia katakan? Maaf? Setelah apa yang dilakukannya? Sejujurnya big boss-nya ini memang benar. Tapi persetan dengannya. Ini benar-benar di luar kendalinya.

Kris masih memandangi asistennya. Dia tampak tidak terima dan sangat marah. Rasanya seperti ingin melindas perempuan ini dengan tank dan membakar mayatnya yang sudah menjadi bubur daging. Walaupun begitu, seberapapun besarnya amarah Kris, dia masih punya hati nurani dan akal sehat.

.

.

" Tulis surat pengunduran dirimu sekarang," perintah Kris dingin, tegas, dan final. " Kau tak akan mendapat pesangon mulai sekarang, barang seperserpun."

Sakura mengepalkan tangan. Dadanya terasa sangat sesak.

" Dan jangan lupa," lanjut Kris, " karena kau telah mengacaukan proyek ini, semua tanggung jawab kuserahkan padamu. Jadi, sebelum kau mengundurkan diri, aku ingin masalah ini clear. Arraseo?!"

" Ne, algessemnida." Sakura menarik napas. Tepat saat itu, dia menitikkan air mata. Dengan kepala tertunduk, dia mengangguk dan segera keluar dengan tergesa-gesa. Setiap langkahnya terasa berat selagi dunia di sekelilingnya runtuh.

Sepeninggal Sakura, Kris melepas jas biru gelapnya dan melonggarkan dasi, kemudian meletakkan kedua kaki di atas meja dan mengatur tempat duduknya agar sedikit rebah sehingga dia bisa rileks. Ia terlalu lelah dan malas hanya untuk berjalan menuju sofa.

Namun, belum lama dia memejamkan mata, pintu kantornya kembali diketuk dan Kris merasa sangat terganggu. " Siapa?!" tanyanya gusar.

" Emm…Gege?" sebuah suara yang sangat dikenal Kris terdengar dari balik pintu.

" Masuklah Chanyeol."

Terdengar suara pintu yang dibuka pelan, beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu ditutup. Kris tetap memejamkan mata dengan sebelah tangan diletakan di kening. Napasnya memburu seperti habis berlari marathon.

" Gege baik-baik saja?" tanya Chanyeol yang sudah duduk di kursi tepat dihadapan Kris. Mendengar suara adiknya, Kris menurunkan kedua kaki dari meja dan menegakkan tubuh, segera mengatur kursinya ke posisi semula. Kris berusaha memperbaiki raut wajahnya, tangannya sibuk menata rambutnya yang acak-acakkan.

" Tidak. Tidak terlalu baik. Ada apa malam-malam begini kau kemari. Ini kan sudah jam—" Kris melirik jam "—well, hampir tengah malam dan kau masih keluyuran. Apa kau ada kelas?"

Chanyeol menunduk, dan Kris dapat langsung membaca situasi serta pikiran Chanyeol melalui body language-nya. Kris cukup ahli dalam hal ini, dan jangan lupa, Chanyeol itu adiknya. Tak heran jika Kris sangat mengenal Chanyeol. Karena itulah, setelah mengetahui terlebih dahulu, raut wajah Kris kembali mengeras dan tanpa sadar dia mencengkram pegangan kursi hingga kuku-kuku jarinya memutih.

" Ada apa, Chanyeol Wu?" tanya Kris diantara gigi-gigi yang terkatup. " Kau gagal ujian, huh?"

" Emm…bukan itu," sahut Chanyeol gugup. " A-aku…"

" Kau kenapa?" kejar Kris.

" …."

" Apa Chanyeol?!"

" …..."

" Chanyeol, demi tuhan! Cepat selesaikan atau kau kutendang dari kantor ini!" Kris berseru dan berdiri. Kesabarannya sudaah habis hingga ia tidak sadar telah bersumpah atas nama tuhan.

Chanyeol mendongak. Alisnya bertaut dan dia berdiri untuk menyaingi kakaknya yang kini siap 'berperang' dengannya. " Aku di DO! Kau dengar?! Aku di DO! D-O!"

Kris terdiam. Chanyeol tersengal-sengal dengan wajah merah padam. Sedangkan Kris mendadak menjadi patung, tampak sangat terkejut. Entah terkejut karena kabar itu atau terkejut karena mendengar bentakan Chanyeol. Selama ini, Chanyeol tak pernah membentaknya barang sedikitpun.

.

.

.

.

" Kau apa?" tanya Kris akhirnya, dengan suara pelan saking kaget, syok, dan marahnya hingga ia tak punya tenaga untuk membentak lagi.

" Aku tak perlu mengulangnya lagi. Aku yakin kau mendengarnya dengan jelas, ge," jawab Chanyeol ketus.

Kris menatap kosong, namun raut wajahnya terlihat sangat terkejut. Dan detik selanjutnya, ia terjatuh begitu saja. Chanyeol yang terkejut langsung menghampiri kakaknya dan menuntunnya untuk duduk di sofa.

.

.

.

" Bagaimana bisa Chanyeol?" tanya Kris dengan suara lemah. " Apa yang terjadi?"

" Ge, percayalah padaku untuk yang satu ini. Aku sama sekali tak melakukan apapun seperti yang mereka tuduhkan. Aku bersumpah!"

" Tuduhkan? Tuduhan apa Chanyeol? Cepat katakan!"

Chanyeol mendesah dan mengalihkan pandangan sejenak. Terlihat bulir-bulir air yang menumpuk di matanya, tapi tidak sampai jatuh. Tatapannya menyiratkan rasa sakit serta kecewa yang tak bisa dijelaskan. Seolah-olah ia kembali pada suatu masa dimana hanya ada rasa sakit. Dan ia tak berdaya untuk keluar.

Chanyeol menunduk. Dalam hati, ia merutuki sifat cengengnya yang kembali kambuh. Namun semua orang pastilah dapat memahami apabila Chanyeol menangis. Menangis meraung-raung.

Hanya saja, gengsinya terlalu tinggi sebagai laki-laki.

.

.

" Yeollie…?" panggil Kris lirih. Apapun yang sedang adiknya rasakan, Kris juga dapat merasakannya. Sebuah benang batin yang terjalin erat diantara mereka. " Yollie, ceritalah. Ada apa?"

" Kau janji tidak akan marah?" Chanyeol tercekat. Ia mengusap air matanya.

" Ya. Aku janji."

Chanyeol kembali menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya, sedangkan jemarinya sibuk bermain-main. Lama mereka terdiam.

.

.

.

" Ini semua ulah mereka…." ucap Chanyeol pelan, hampir seperti berbisik.

" Mereka?"

Chanyeol terisak kecil. " Ya, mereka…"

" Siapa, Yeol?"

"…."

" Yeol?"

"….."

Kris mendesah. " Kalau kau tidak cerita, bagaimana bisa aku membantumu?"

Chanyeol terkekeh pelan. Ia menarik napas kasar dan mendongak lagi. Kali ini, dia menatap mata Kris tajam. Seolah memberi tahu sesuatu lewat telepati. Dan Kris hanya bisa menatap balik Chanyeol dengan tatapan teduh menenangkan, berlainan dengan tatapan tajam dan dingin khas miliknya yang hampir setiap waktu terlihat.

" Musuhku," desis Chanyeol.

Kris terkejut. Mulutnya menganga. " A—apa?"

" Mereka…musuhku…"

" Kau—kau punya musuh?!" Tanpa diketahui Kris, Chanyeol tersenyum miris mendengarnya. Ia kembali menyembunyikan wajah. " Semua orang punya musuh, ge."

Hening…

.

.

.

" Ada sekelompok anak yang tidak senang padaku," Chanyeol tercekat lagi. Ia menelan ludah. " Mereka gangster."

Mendengar perkataan Chanyeol barusan, wajah Kris kembali mengeras. " Apa kau mencari masalah dengan mereka?" geramnya. " Bukankah gege pernah bilang bahwa kau harus mengendalikan emosimu? Kau—"

" Ge, kumohon dengarkan aku dulu!" gertak Chanyeol frustasi. Kris langsung diam. " Aku berani sumpah bahwa aku tidak bersalah!"

.

.

.

" Kau…mau cerita pada gege apa yang terjadi?" tanya Kris dengan suara pelan.

Chanyeol menunduk lagi untuk yang kesekian kali, menggigit bibir. Matanya memanas dan dadanya terasa sesak. Baru kali ini dia benar-benar merasa tersiksa.

.

.

" Chanyeol…?"

" Aku—entahlah, ge. Kejadiannya begitu cepat. Aku masih bingung harus menceritakannya darimana…"

.

.

.

" Jika kau mau menceritakannya sekarang, mungkin perasaanmu bisa sedikit tenang." Kris membelai kepala adiknya penuh sayang. Dan hanya dengan itu saja, Chanyeol mulai merasa tenang. Dia memejamkan mata, menimbang apakah dia ceritakan sekarang saja atau tidak. Akhirnya, setelah lama diam dengan belaian sayang Kris di kepalanya, Chanyeol membuka mata, memilih opsi pertama.

" Suatu hari—" Chanyeol memulai "—aku tidak sengaja berurusan dengan mereka. Aku sudah meminta maaf dan berusaha untuk tidak terpancing. Tapi mereka terus menerus membesar-besarkan masalah hingga menyebar keseluruh kampus dan didengar oleh beberapa dosen." Chanyeol berhenti, menatap Kris takut.

Tapi Kris hanya mendesah, tersenyum lembut, dan mengangguk.

Chanyeol menarik napas. Mendadak sekujur tubuhnya terasa dingin ketika akan mengucapkan kalimat selanjutnya. Chanyeol menelan ludah, takut. " Dan—dan suatu hari, mereka menjebakku, ge. Salah seorang dari mereka tewas karena overdosis, tapi mereka mengaturnya sedemikian rupa hingga tampak seperti pembunuhan. Dan entah bagaimana caranya, mereka—" suara Chanyeol makin memelan hingga Kris harus mendekatkan wajahnya. "—mereka menuduhku yang melakukannya."

Mulut Kris menganga, matanya memebelalak syok. Belaian tangannya terhenti begitu saja. Tapi Chanyeol masih belum selesai.

" Setelah penyelidikan yang cukup panjang, bukti-bukti yang ada memang sangat memberatkanku. Sekarang, aku sudah resmi di DO dan bahkan, terancam di penjara."

" SHENMA?!" Mandarin Kris refleks tersembur keluar. " Dipenjara atas kesalahan yang sama sekali tak kaulakukan?!"

Chanyeol menunduk. " Ottokhae? Aku bingung, ge. Please help me…"

Kris mengepalkan tangan. Ingin rasanya dia membunuh dan melempar orang tersebut ke neraka karena telah membuat adiknya seperti ini. Dadanya terasa sangat sesak. Dia ikut merasakan apa yang tengah dirasakan adiknya sekarang : marah, bingung, kecewa, sakit hati, sedih, serta takut. Hal itulah yang membuat Kris menjadi benar-benar marah hingga rasanya ingin membunuh seseorang. Sudah dua kali dalam sehari, dalam waktu yang berdekatan pula, dia dihujani bom tanpa ampun secara berurutan.

" Kurang ajar!" gertak Kris. " Mereka semua akan membayar mahal untuk ini."

Chanyeol tidak bisa lagi menahan tangis. Ia mulai tersengal-sengal. " Ma—maafkan aku ge... Aku—aku tidak menceritakannya dari awal… T—tadinya, hari—hari Senin yang lalu, a—aku kesini untuk memberi—memberi tahu gege. T—tapi…tapi—" Chanyeol tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya. Tangisnya makin keras.

Kris diam. Pikirannyaa kacau. Ingin rasanya dia membenturkan kepala ke tembok sekarang juga. Mengapa semuanya jadi seperti ini? Walau Chanyeol terkadang sangat menyebalkan, tapi sebenarnya dia adalah orang baik. Dan otak Kris secara otomatis mulai menganalisis berbagai kemungkinan yang ada serta memikirkan cara terbaik untuk mengatasinya. Seandainya dia percaya pada Tuhan, mungkin dia sudah sangat bersyukur karena dianugerahi otak cerdas dan matematis.

Sayangnya, Tuhan itu tidak nyata. Tuhan itu tidak ada.

Dalam dunianya.

.

.

.

Tiba-tiba telepon di atas meja kerja berdering. Chanyeol berhenti menangis, sedangkan Kris tersadar dari 'lamunannya'. Kedua bersaudara itu menoleh serempak. Yang satu dengan mata yang berkilat marah, sedangkan yang satu lagi tampak penasaran dan agak bingung. Setelah lama mendiamkan deringan telepon, akhirnya Chanyeol-lah yang bangkit untuk menjawabnya.

.

" Yeoboseyyo?" katanya seraya berusaha menyembunyikan suaranya yang serak karena habis menangis.

"….."

Kris memperhatikan. Hening.

.

.

" MWOYA?!" pekik Chanyeol yang membuat Kris kembali was-was. Apa lagi ini? pikirnya kalut.

.

.

" Ti—tidak mungkin! Bagaimana—?" Chanyeol merasa ada yang merebut teleponnya. Ternyata Kris, yang sekarang sudah berdiri di sampingnya. Chanyeol terpaku ditempat. Jantungnya benar-benar berhenti.

" Yeoboseyyo?" kata Kris, suaranya terdengar agak kasar.

Chanyeol terus memperhatikan dengan perasaan was-was. Ia melihat bagaimana ekspresi Kris yang tadinya marah dan tak sabar, berubah menjadi keterkejutan, disusul oleh kepanikan, kemudian berakhir dengan ekspresi dingin yang sulit dimengerti.

" Aku akan segera kesana," kata Kris mengakhiri percakapan. Kris segera mengambil jas dan tas kerjanya, tak lupa serenceng kunci mobil yang tergeletak di atas dispenser. Sedangkan Chanyeol langsung meraih jas kuliahnya serta ransel, kemudian mengejar Kris yang terus berjalan tergesa-gesa sambil sesekali berlari.

To Be Continue

.

.

.

Apakah alurnya terlalu cepat? Narasinya aneh? EYD yang buruk? Atau kebalikan dari semua yang aku sebutkan alias : sudah bagus? Ehehehe… Ini sudah aku buat lebih panjang dari chapter sebelumnya. Maaf ya kalau masih buruk. Mohon dimaklumi #bow!

Dan gimana nih keputusannya? Mau lanjut atau udahan? Aku harus mastiin dulu nih apakah FF ini LAYAK DITERUSKAN atau NGGAK? Kalo nggak, ya udah aku ganti FF yang lain. Review 5-10 oke deh dilanjut ;) Lebih dari 10 aku update cepet :D

AND BIG THANKS TO enchris.727 and liJunYi atas apresiasi dan komentar kalian yang SANGAT MEMBANGUN. Review kalian adalah apresiasi pertama yang kuterima, dan itu SANGAT BERARTI. Semoga kalian selalu sukses dan dimudahkan dalam segala hal. Amin…

.

So, delete or not?