Disclaimer : Masashi kishimoto

Pairing : Ino Yamanaka, Shikamaru Nara, Sasori

Warning : OOC, many typos.


Mikansei Communication

Part 3

Hari ini Ino mengikuti seluruh jam pelajaran disekolah tanpa
terkecuali, karna kemarin sudah membolos seharian bersama Shikamaru,
meski Ino bukan termasuk murid unggulan tapi dia tak pernah membiarkan
nilainya terlempar dari 10 besar.

Sebenarnya peringkat sepuluh besar itu sudah termasuk prestasi yg
membanggakan disekolah elite KHS yg bertaraf Internasional, tapi Ino
mempertahankan prestasi itu bukan karna bangga tapi lebih karna
untuk mempertahankan kebebasannya mengisi absensi,ada beberapa hak istimewa
bagi para murid berprestasi disekolah itu, bukan hanya beasiswa belajar
atau penghargaan-penghargaan khusus seperti kebanyakan sekolah tapi
juga dibebaskannya aturan absensi bagi murid-murid berprestasi
tersebut, namun semua hak Istimewa itu tak diberikan pada Siswa berprestasi
yang menginginkan beasiswa belajar penuh karna itu hanya hanya salah
satu trik untuk memotivasi anak-anak pemalas dan bandel agar tetap mau
belajar, itu sebabnya masuk telat ataupun tidur saat jam pelajaran tak
pernah jadi masalah bagi Shikamaru, begitupun banyaknya kekosongan di
buku absensi Ino, dan aturan inilah yg membuat Ino memilih sekolah ini
juga, ya karna dari awal Ino adalah org yang moody, dan dia menyadari
hal itu.

Lagi, kali ini pun Ino malas pulang cepat ke rumah dan dia memutuskan
untuk bermain dikolam renang sekolah untuk menunggu waktu senja.

Hinata sedang menangis diruang ganti saat Ino hendak mengganti pakaian
renangnya dengan seragam sekolahnya yg kering, dia melihat Hinata
memegang seragamnya yang basah semua termasuk yang sedang
dipakainya, Ino tahu ini kerjaan fans gila Uchiha yang cemburu melihat
Hinata sering mendapat perlakuan khusus dari sang Uchiha, sudah banyak
yang tahu tentang perlakuan 'berbeda' sang Uchiha itu tapi menurut
murid-murid yang lain Hinata terlalu polos untuk menyadarinya, namun
Ino tahu sebenarnya bukan Hinata tak menyadarinya hanya saja dia
terlalu fokus pada Naruto, pemuda dari kelas sebelah yang menaruh hati
pada Sakura, padahal sakura sendiri adalah fans berat Uchiha.

"Dibully lagi eh ?" tanya Ino dingin sambil mengganti pakaiannya,
Hinata hanya menoleh sebentar melihat Ino lantas kembali meratapi
nasibnya didepan baju-bajunya yg basah.

sebenarnya Ino bukan orang yg suka mencampuri urusan orang lain tapi tak tahu
kenapa dia selalu peka dengan urusan orang lain meski dia sudah
berusaha untuk tak mau tahu, dan Ino benci pada kepekaannya tersebut
karna membuatnya selalu ingin peduli dengan orang lain apalagi jika
orangnya dalam kondisi yg terlihat tak berdaya seperti Hinata saat
ini, tapi sayangnya dia terlalu payah untuk urusan mengungkapkan
kepeduliannya itu, jadilah orang lebih sering salah tanggap alih-alih
tersentuh dengan kepeduliannya. Poor Ino.

"Sebaiknya kau segera memutuskan pilihan, menerima perasaan Sasuke,
atau tetap menanti Naruto melihatmu ?"

Tak ada respon dari Hinata, tapi Ino tahu Hinata mendengar suaranya.

"Tapi keduanya tentu ada konsekuensinya,jika kau memilih Sasuke kau
haruslah merelakan perasaanmu pada Naruto setidaknya kau bisa
mengandalkan Sasuke untuk melindungimu dari orang-orang itu"

Hinata mulai menatapnya heran.

"Jika kau memilih tetap menunggu Naruto melihatmu maka kau harus bisa
melawan mereka sendiri kecuali kau berani menyatakan perasaanmu lebih
dulu pada Naruto mungkin dia akan menerimamu"

"Apa yang kau bicarakan ?" jawab Hinata pura-pura tak mengerti karna
dia tak suka cara Ino mencampuri urusannya.

"Jika aku jadi kau, aku akan memilih pilihan pertama setidaknya aku
tak perlu repot sendiri menghadapi fans-fans gila Uchiha" Ino menoleh

"Atau mungkin yang terakhir, itu terserah padamu" Ino melemparkan
pakaian keringnya pada Hinata dan beranjak dari tempat itu.

Hinata yg sempat kaget lalu mengucapkan trimakasih yang entah didengar
Ino atau tidak.

Ino mendecih mengingat ucapan trimakasih Hinata yg masih bisa dia
dengar setelah beranjak dari ruang ganti itu, dia menolong Hinata
bukan karna kasian apalagi untuk ucapan trimakasih dia hanya benci
melihat orang menangis terlebih karna kasus pembullyan, baginya
semakin seseorang terlihat lemah maka orang-orang akan semakin senang
dan berani membullynya, seperti yg sudah ia buktikan.
Dulunya, Ino juga pernah jadi korban pembullyan oleh teman dan
kakak-kakak kelasnya yang tak menyukainya karna mudah bergaul dengan
murid laki-laki, hanya saja memang tak banyak yang mengetahuinya,
hanya beberapa orang yang tahu namun Ino selalu melarang mereka untuk
ikut campur meski begitu Ino tak pernah segan untuk meminta bantuan
teman-temannya yang rata-rata murid laki-laki dalam melancarkan aksi
balas dendamnya, itulah yang membuat teman-temannya diam saat
melihatnya dibully, alih-alih dibela dan dilindungi seperti
tokoh-tokoh heroin diserial-serialgame yang sering dia mainkan Ino
memilih caranya sendiri untuk melawan mereka, tak jarang Ino membalas
perlakuan mereka dengan pembalasan yang lebih licik dan kejam, bahkan
beberapa musuhnya memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah
daripada terus-terusan menjadi musuh bebuyutannya, Ino bahkan tak
segan mempermalukan orang-orang yang pernah membullynya dulu.
Ino meski diluar terlihat apatis dan lebih suka menghindari masalah
namun sejatinya dia adalah orang yang selalu total bahkan perfeksionis
ketika sudah memutuskan untuk terlibat dalam suatu urusan termasuk
urusan dendam. Itulah sebabnya tak banyak orang yang mau berurusan
dengannya. Sebagian murid terutama murid perempuan yang mengenalnya
menganggapnya monster yang mengerikan, sebagian lagi hanya
menganggapnya menyebalkan, sebagian lagi menganggapnya biasa saja
namun lebih memilih menjaga jarak darinya. Itu juga yang menyebabkan
teman-temanya lebih banyak didominasi oleh laki-laki itupun tak bisa
dikatakan dekat hanya terlihat akrab karna sering bertegur sapa dan
sesekali bercanda dengannya, meski begitu tak sedikit lelaki yang
menaruh hati padanya dan mengaguminya dari jauh mengingat secara fisik
dan otak Ino yang bisa dibilang diatas rata-rata murid perempuan pada
umumnya ditambah wawasan dan hobinya bermain game yang membuatnya mudah
berbaur dengan murid laki-laki kebanyakan, tapi Ino memilih
mengabaikan semua itu karna dia tak suka terikat dengan suatu hubungan
khusus, berkaca dari hubungannya dengan Sasori dan kisah-kisah romansa
yang pernah dia saksikan baik itu secara live dari kehidupan
orang-orang disekelilingnya atau dari film yang pernah dia tonton
maupun buku-buku yg pernah dia baca membuatnya beranggapan bahwa
ikatan dalam suatu hubungan dekat apalagi dalam arti khusus adalah
sesuatu yang merepotkan dan menyusahkan.

Tapi Ino tak memungkiri bahwa ada rasa hampa didalam sudut hatinya
yang sering mengusik pikirannya, dia sadar bahwa dia butuh seseorang
selain keluarganya yang bisa dia percaya untuk mengisi kekosongan itu
tapi sampai saat ini dia tak mau ambil pusing soal itu karna dia yakin
dia hanya belum menemukannya saja.

"Tadaima" Ino mengucapkan salam lebih keras dari biasanya setelah
menyadari bahwa kakaknya datang lagi hari ini, dia bahkan terkejut
saat mendapati ayahnya juga sudah pulang dan keduanya terlihat tengah
menanti kedatangannya.

"Okaeri Ino-chan" jawab ayah dan kakaknya bersamaan, Ino terlihat agak
kaget namun juga sangat senang melihat ayah dan kakaknya duduk
bersama, sungguh pemandangan yang langka bagi Ino semenjak kakaknya
memutuskan meniti karirnya sebagai seniman di kota.

Ino terlihat sangat bersemangat dengan rencana makan malam diluar kali
ini. Bagaimana tidak ini adalah pertama kalinya setelah hampir tiga
tahun dia bisa makan bersama dengan ayah dan kakaknya lagi sebelum
kakaknya memutuskan untuk pindah ke kota. Ino sama sekali tak
memikirkan apa yg ingin dibicarakan ayah dan kakknya setelah ini. Ino
seperti kembali pada masa kanak-kanaknya,dia sama sekali tak malu
untuk bersikap manja pada kakak dan ayahnya seperti dulu meski berada
ditempat umum seperti saat ini.

"Nii-chan, setelah ini boleh aku pesan es krim?"

"Habiskan dulu makananmu Ino-chan" jawab Deidara.

"Boleh kan tou-san?" Ino mencoba meminta dukungan dari ayahnya.
ayahnya malah tersenyum haru melihat putrinya bisa kembali ceria,
pemandangan yg tergolong langka untuk orang-orang yang mengenal Ino.

"Memangnya perutmu masih muat?" tanya Deidara setengah tak percaya,
pasalnya Ino sudah makan begitu banyak makanan yang dihidangkan di
meja mereka, dia bahkan hampir menghabiskan separuhnya sendiri.

"Tentu saja" jawab Ino percaya diri.

"hhh...kau rakus sekali Ino" kata Deidara mengejek. Ino menggembungkan
pipinya tanda kesal.

"Sudahlah Deidara biarka dia memesan yang dia mau, lagipula tak setiap
hari dia mau makan banyak seperti ini" kata Inoichi kemudian. Ino
terlihat begitu senang mendengar pembelaan dari Ayahnya.

"Yaaay, terimakasih Tou-san" Ino lalu segera memanggil pelayan dan
memesan menu eskrim yg dia inginkan.
Ino terlihat begitu berbeda malam itu, bukan penampilannya tapi sikap
dan diri Inolah yang membuat Shikamaru enggan beranjak dari tempatnya
duduk nya di salah satu sudut restoran makanan cepat saji itu, meski
teman-temannya sudah mengajaknya beranjak dari sana dan pergi
meninggalkannyasejak tadi. Dia tak pernah tahu sisi lain Ino yang satu
ini, bahkan dia yakin orang-orang yang mengenal Ino pun tak banyak
yang tahu sisi kekanak-kanakanIno. Shikamaru semakin terpesona dengan
Ino meski Ino tak pernah mengetahuinya.

"Ino-chan, apa kau senag malam ini?" tanya ayahnya saat perjalanan
pulang ke rumah.

"Tentu saja, aku sangat senang Tou-san, ini pertama kalinya kita makan
bersama lagi semenjak nii-chan pindah" kata Ino seolah mengingatkan

"Oh iya, nii-chan malam ini akan menginap kan?" tanya Ino penuh harap.

"Tidak, aku akan segera pulang setelah menyampaikan sesuatu padamu Ino-chan"
aaah itu lagi, memangnya mau menyampaikan apa sih, apakah itu sangat
penting?" tanya Ino dengan ekspresi malas.

"Ini memang sangat penting" terang Deidara.

"Memangnya apa yg ingin kau sampaikan?"

"Nanti saja setelah sampai dirumah" tambah Deidara.

"Aaaahh, kau sama sekali tidak asik nii-chan" seketika Ino kembali
pada perangainya yang semula.
Deidara terlihat serius dengan kemudi mobilnya, tapi siapa yang tahu
bahwa sebenarnya Deidara sedang cemas memikirkan reaksi Ino terhadap
rencananya nanti. Ayah Ino lebih banyak diam, menyembunyikan kesedihan
yang kembali menyeruak ketika mendengar Deidara akan menyampaikan
rencananya pada Ino.
.

.

.

"Tidak nii-chan, aku tak bisa meninggalkan Tou-san" terdengar Ino
menolak dengan keras ajakan Deidara untuk pindah dari rumah ayahnya.

"Ino-chan, ayolah jangan mempersulit keadaan. Nii-chan mohon"

"Kheh, mempersulit keadaan? Bukankah itu yang sering nii-chan lakukan?"

"Apa maksudmu? Aku hanya khawatir padamu mengingat ayah jarang ada
untukmu di rumah, sebagai seorang kakak aku ingin mencoba membantu
dengan menjagamu itu saja. Apa itu berlebihan?"

"Kalau kau memang begitu khawatir padaku kenapa tidak kau saja yang
pindah kesini, kita bisa tinggal bersama seperti dulu?" kata Ino
dingin.

"Kau tahu sendiri aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku, tapi kalau
kau tinggal bersamaku setidaknya aku akan selalu berada dirumah saat kau membutuhkanku"

Pekerjaan Deidara sebagai seniman memang membuatnya lebih banyak
bekerja dirumah daripada pekerjaan ayahnya sebagai seorang detektif
kepolisian. Itulah sebabnya Deidara bersikeras ingin mengajak Ino
pindah ke rumahnya.

"Lihat kan, kau sendiri juga sama tak bisa meninggalkan pekerjaanmu"

"Tapi setidaknya aku - . . ."

"Sudahlah nii chan kurasa pembicaraan ini sudah selesai, sebaiknya
nii-chan keluar dari kamarku, aku mau tidur" Ino membuka pintu untuk
mengusir deidara dari kamarnya, dia bahkan tak membiarkan kakaknya itu
menyelesaikan kalimatnya.

Tbc...


Sekalian publish part ke 3 mumpung sempat, mohon koreksinya lagi.

RnR please...

arigatou.^^