How Hard to Love Someone

Disclaimer: Original Vocaloid Character by Yamaha Corporation, Original FF by ME.

Warning: Gaje, typos. Di semua FF saya selalu ada OC saya, Yamako, Mama Gakuko (dan Gakupo).

Chapter 2 : Tik Tok

"Kau mengerti Megurine-san?" tanya ani-chan dengan wajah mengancam pada Luki-san.

Aku masih kaget tiga perempat mati mendengar ucapan ani-chan barusan. Apa telingaku yang salah? Atau otakku yang salah menerima sinyal? Atau memang otak ani-chan yang salah!? Mana yang benar?! Ani-chan masih merangkul bahuku dan menatap tajam ke arah Luki-san. Luki-san tampak terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa-apa, dia menggigit bibir bawahnya sedikit dan berusaha balas menatap tajam ke arah ani-chan. Hei, hei, aku tidak sakit, batinku, jadi kenapa suasananya jadi begini? Siapapun yang mengantarku aku tidak peduli,kok. Bahkan pulang sendirian aku juga tidak keberatan! Aku lalu kembali teringat dengan kejadian tadi pagi, ditambah kejadian sore ini. Yeah, mungkin lebih baik jangan pulang berdua dengan ani-chan saja. Aku melihat ke arah Luki-san yang masih terdiam tak tahu harus berbuat apa, aku sendiri tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, tapi ada satu hal yang aku tahu pasti. Suasananya semakin tegang dan mencengkeram.

"Pffffft," tiba-tiba ani-chan terkekeh sendiri, "wajahmu kenapa sampai sebegitunya Megurine-san? Apa akting-ku sebegitu bagusnya? Hem?"

Luki-san dan aku menatap ke arah ani-chan dengan cengo. Hah? Akting? batinku bingung, maksudnya, tadi ani-chan hanya berpura-pura? Bukan sungguhan? Dia hanya bercanda?

"Eh... Sensei," kata Luki-san lirih, dia masih tampak terkejut. Dia seperti berusaha mengucapkan sesuatu, tapi sulit sekali.

"Sudahlah, aku hanya bercanda tadi," kata ani-chan lagi sambil tertawa kecil, dia lalu melepaskan tangannya dari pundakku. "Jangan dimasukkan ke hati, aku memang suka menjahili Gakuko, senang rasanya melihat dia cenga cengo kaget seperti tadi. Nah, tolong antar dia pulang, ya, aku masih ada rapat guru."

Aku menatap tajam ke arah ani-chan dan tanda perempatan jalan sudah muncul empat buah di kepalaku. Cih, maksudnya dia hanya mempermainkanku tadi? Sudah kuduga, si psikopat satu itu memang minta dibunuh secepat mungkin. Aku lalu mengalihkan pandanganku pada Luki-san. Kasihan, dia pasti masih syok. Kalau aku, aku sudah terbiasa dikerjai seperti itu sih. Dan memang, agak lega juga rasanya mendengar ani-chan hanya bercanda, rasanya 'plong'.

"Eh... mau pulang sekarang?" tawarnya sambil tersenyum ramah. Hebat! Dia sama sekali tidak terlihat terkejut! Apa dia hanya pura-pura kuat, ya?

Aku hanya mengangguk pelan dan mulai jalan duluan. "Ehm, maaf, soal kelakuan ani-chan tadi. Dia memang iseng sekali, tapi tidak biasanya dia iseng pada muridnya juga. Aku benar-benar minta maaf," ujarku sedikit lirih sambil menunduk. Aku agak kurang berani menatap wajah Luki-san sekarang. Bukannya malu, yeah, memang malu juga sih, tapi... lebih ke arah... takut kalau dia marah dan membenciku. Atau beranggapan aku ini aneh. Hening. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara. Entah kenapa, hatiku jadi terasa kecut. Seluruh tubuhku seolah mengkerut dan tenagaku hilang entah ke mana. Setelah sekitar setengah menit berlalu, aku akhirnya memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Memang saat kepalaku diputar ke arah belakang, rasanya tulang-tulang retak seolah tidak ada sendi putar di leherku. Setelah menenangkan diri dan benar-benar menghadap ke belakang, aku mendapati sosok Luki-san yang sedang tersenyum lembut padaku. Tatapannya sangat lembut dan senyumannya tulus, benar-benar berbeda dengan ani-chan. Dia lalu terkekeh kecil dan tangannya mengepal berusaha menutupi bibirnya yang mulai menyungging membentuk cekungan yang semakin cekung.

"Aku sudah bilang tidak apa-apa, kan? Aku juga sudah biasa dikerjai seperti itu, kok, jangan khawatir," kata Luki-san setelah berdiam diri selama sekitar setengah menit. "Dari pada itu, lebih baik kita segera pulang, hari sudah semakin sore. Aku tidak mau Mama dan Papamu mencari-carimu."

"Hahaha," aku tertawa dibuat-buat, "tidak akan. Tapi aku memang ingin segera pulang, rasanya capek sekali. Sejarah sebagai dua jam pelajaran terakhir itu sama sekali bukan jadwal yang bagus. Rasanya kepalaku sudah mau pecah mendengar Hiyama Sensei menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume tentang masa lampau." Aku lalu kembali menatap iris azure milik Luki-san perlahan-lahan dan hati-hati.

"Kalau begitu, lebih baik kita pulang sekarang. Ini pertama kalinya kita pulang bersama, kan? Rasanya menyenangkan, ya. Biasanya aku selalu pulang 'sendiri', dan itu sangat sepi," kata Luki-san lagi sambil berjalan di sebelahku. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya yang berwarna hitam dan kepalanya agak menunduk menatap lantai.

Aku memperhatikan pemuda berambut merah muda di sebelahku ini. "Bukankah kau selalu pulang ramai-ramai bersama klub sepak bola-mu?"

"Iya," jawabnya pelan tapi tegas, "memang. Maksudku, kalau dilihat dengan mata seperti ini, aku memang tidak pernah sendirian. Tapi... pulang berasama mereka-pun rasanya tetap sepi, seolah ada gelembung pembatas di sekeliling diriku yang menarik diriku hingga tidak bisa membaur dengan baik bersama mereka. Terkadang, aku merasa sepi. Hati ini kadang rasanya gundah sekali, walaupun sudah tertawa dengan meriahnya, tersenyum dengan lebarnya, tetap saja.. aku merasa ada yang kurang. Hati ini tidak bahagia. Itu yang kutahu."

Aku tercekat mendengar perkataan Luki-san barusan. Ada sedikit rasa kaget di dalam diriku mengetahui pribadi Luki-san yang sesungguhnya. Dia kesepian. Dia ketakutan. Dia tidak pernah benar-benar tersenyum atau tertawa. Semua itu hanya dipaksa. Dia hanya ingin membaur dengan teman-teman dengan baik. Dia sebenarnya selalu kesepian. Aku kembali menatap lurus ke depan, kemudian sedikit menatap ke bawah. Dari yang kutahu, Luki-san selalu terlihat ceria dan dewasa di sekolah, dia selalu tenang tapi juga terkadang nakal. Dia digemari banyak orang. Tapi dia sebenarnya tidak benar-benar bahagia. Mendadak aku kembali teringat dengan ani-chan. Meski aku benci dengan si psikopat satu itu, tapi entah kenapa rasanya aku jadi ingin tahu isi hati ani-chan yang sebenarnya juga. Apa dia juga seperti Luki-san? Suasana di antara kami kemudian menjadi sunyi senyap, aku diam-diam kembali menatap wajah Luki-san yang masih menunduk. Tatapannya kali ini tidak disembunyikan lagi, tatapannya yang sebenarnya, tatapan yang menerawang. Aku menggigit pelan bibir bawahku, sementara tangan kananku bergerak ke arah tangan Luki-san dan hendak meraihnya. Tapi aku ragu, tanganku yang sudah hampir meraih tangan Luki-san, akhirnya kembali kutekuk perlahan karena ragu. Tapi di sisi lain, hatiku memaksa agar aku menggenggam tangannya. Di tengah kebimbanganku, tiba-tiba tanganku yang hendak meraih tangan Luki-san terasa hangat. Aku langsung menoleh ke arah Luki-san dan dia sedang tersenyum tipis padaku dengan tangan yang menggenggam lembut tanganku. Sejenak, aku terpaku bagaikan patung, tapi kemudian aku membalas senyumannya dengan tawa kecil. Aku lalu membalas genggaman tangannya.

"Terimakasih," ujar Luki-san tampak malu-malu, pipinya jadi sedikit berwarna merah jambu seperti rambutnya. Lucu sekali.

"Kembali," sahutku ringan. Lagi-lagi, perasaanku menjadi ringan dan nyaman. Aku senang berada di dekat Luki-san. Andai Luki-san yang menjadi kakakku, mungkin akan lebih menyenangkan. Dia lebih dewasa daripada ani-chan, padahal usianya sama denganku.

Sementara kakiku terus melangkah dengan ringanya, aku sesekali mendongak ke atas menatap langit. Biru. Terang. Berawan. Dingin. Kalau salju turun, mungkin akan cantik. Semakin aku banyak berpikir, entah kenapa hatiku semakin terasa menggelitik. Ada perasaan senang, bahagia, dan satu lagi perasaan yang tidak kukenal. Perasaan berdebar dan menyesakkan yang menyeruak ke dalam ruang-ruang hati mungilku ini. Aku sadar kalau bibirku mulai tertarik ke atas oleh suatu gaya gravitasi dan membentuk cekungan, tapi perasaan yang aneh ini terus meluap hingga membuat dadaku serasa akan meledak. Bahkan senyumanku yang paling lebar-pun sama sekali tidak mengurangi perasaanku yang terus meluap-luap ini. Aneh. Tapi menyenangkan. Aku meremas pelang tangan Luki-san yang menggenggam tanganku.

"Ada apa?" tanya Luki-san.

"Tidak apa-apa," jawabku sedikit bergetar, "hanya saja, tiba-tiba aku merasa sangat aneh. Ada perasaan menyesakkan yang terus menerus meluap di hatiku. Seperti perasaan bahagia. Semakin aku melihat langit yang cerah dan membayangkan turun salju, aku semakin senang. Aneh, ya?" Aku terkekeh pelan karena tidak tahan lagi, aku ingin segera mengekspresikan perasaan bahagia ini dan memeluk ani-chan selama mungkin.

... Ralat, aku sedang kacau. Aku tidak mungkin mau memeluk si psikopat satu itu. Tidak akan lagi (sebab sepertinya saat aku masih kecil aku suka memeluk ani-chan). Aku memain-mainkan kakiku dan kuayun-ayunkan perlahan (tidak terlalu tinggi, hanya diayunkan sedikit). Saat sedang asyik-asyiknya melamun sambil tersenyum, aku merasa kalau hidungku disentuh oleh sesuatu yang dingin seperti es, dan detik berikutnya hidungku terasa sedikit basah. Aku menjulingkan mataku untuk melihat ke arah hidungku san kulihat serpihan-serpihan berwarna putih mulai berterbangan turun perlahan. Mustahil. Yeah, sebenarnya tidak juga sih. Ini musim dingin. Aku segara mendongak ke langit dan kudapati salju-salju yang mulai turun perlahan. Senyumku langsung mengembang lebih besar lagi hingga aku bahkan tidak mampu tertawa saking senangnya. Hujan salju! Permohonanku terkabul, salju turun! Betapa menyenangkan dan betapa indahnya! Aku selalu suka hujan salju -asal bukan badai salju-. Aku menengadahkan tanganku yang masih bebas untuk merasakan salju-salju yang baru turun itu. Dingin, lembut, dan halus (menurutku). Beruntung juga aku tidak memakai sarung tangan, jadi aku bisa menyentuh salju secara langsung seperti ini. Mau mengatakan aku aneh lagi? Silahkan, silahkan... Aku memang aneh kok. Tapi, tidak seaneh ani-chan, aku masih aneh dalam batas 'normal'. Aku masih mendongakkan kepalaku sambil tetap berjalan, menengadahlan tangan menampung serpihan-serpihan salju yang putih bersih. Aku masih tetap tersenyum senang, aku jadi bisa melihat gumpalan udara yang kuhembuskan dengan semakin jelas.

"Kau senang kalau turun salju, ya?" tanya Luki-san.

"Ya," jawabku, "sangat. Menurutku, salju yang turun itu sangat cantik, seperti peri-peri suci yang turun ke bumi. Menari, menyanyi, betapa cantiknya..."

"Lebih cantik kamu," kata Luki-san dengan suara yang sangat kecil, tapi masih dapat kudengar dengan jelas. Aku langsung menoleh ke arah Luki-san dan dia hanya terkekeh pelan dan menggeleng. Dia kembali berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa, tapi tetap saja aku tidak tenang.

Jelas-jelas tadi dia bilang 'lebih cantik kamu', dia berkata begitu padaku? Salju yang turun yang sangat cantik itu masih kalah denganku? Apakah kau serius, Luki-san? Kau tidak bercanda? Aku ingin sekali menanyakan hal itu padanya, tetapi entah kenapa rasanya bibir jadi sangat kelu dan tenggorokanku kering. Aku memutuskan untuk diam saja dan tetap bersikap seperti biasa, walaupun perasaan aneh di dadaku semakin meluap-luap hingga rasanya dadaku sudah robek dan jantungku meledak. Wajahku jadi terasa sedikit lebih panas dari suhu normal, apa wajahku sekarang ini memerah?

"Ah, sudah sampai," kataku memecahkan keheningan di antara kami berdua saat aku mendongakkan kepalaku. "Terimakasih banyak," lanjutku dan tersenyum pada Luki-san.

"Sama-sama," sahut Luki-san, kali ini wajahnya tampak menegang. "Eh... Gakuko-chan...apa kau..." Luki-san menghentikan kata-katanya menutupi mulutnya dengan tangannya yang dikepalkan. Wajahnya tampak memerah seperti buah persik.

"Ya?" tanyaku tidak sabaran, "ada apa?"

"Eh... Tidak apa-apa, aku harus pulang. Sampai besok," ujar Luki-san akhirnya dan pergi sambil melambaikan tangannya beserta senyuman yang terpampang di wajahnya dengan setianya.

Aku membalas lambaian tangannya dan bergegas masuk ke rumah. Kutaruh syal dan jaket-ku di gantungan di atas rak sepatu seperti biasa, kemudian menuju ruang makan dan membuka kulkas untuk mencari-cari makanan atau minuman yang bisa kukonsumsi. Saat akan membuka kulkas, ada secarik kertas yang ditempel di pintu kulkas. Aku meraih secarik kertas itu dan membacanya. Setelah beberap detik berlalu, aku menaikkan sebelah alisku. Bagaimana tidak kalau isinya seperti ini; 'Papa Mama tahu begitu pulang kau akan langsung mengecek kulkas, karena itu pesan ini ditaruh di pintu kulkas. Papa Mama akan pergi selama dua sampai tiga hari untuk liburan, kau dan kakakmu rukun-rukun ya. Kalau butuh sesuatu, minta saja pada kakakmu, dia sudah Papa Mama beritahu tentang semuanya. Salam, Papa dan Mama.' Aku yakin kalian juga akan menaikkan sebelah alis kalian kalau melihat pesan semacam ini, terlebih setelah hendak dicium oleh kakakmu sendiri pada pagi harinya. Ewh... Tuhan, tadi pagi aku memang berkata dalam hati kalau lebih baik ani-chan tetap di rumah menemaniku, tapi... sekarang aku berubah pikiran seratus delapan puluh derajat. Bahkan lebih baik ani-chan ikut pergi saja, berada di rumah sendirian berdua dengan ani-chan sama sekali bukan hal yang bagus! Mama dan Papa tidak tahu seperti apa ani-chan sebenarnya, mereka juga tidak akan percaya kalau aku menceritakan yang sebenarnya. Apa lagi, Papa dan Mama pasti masih membiarkan parang untuk mencincang kaki sapi di laci penyimpanan pisau tanpa pengaman. Apa mereka tidak khawatir kalau begitu mereka pulang mereka menemukan hanya ada anak gadisnya yang menyambut dan anak laki-laki pertamanya tersungkur bersimbah darah di kamar mandi? Oh ho ho...aku tahu. Mama dan Papa ingin mengujiku. Menyebalkan. Aku lalu meremas pesan itu dan membuangnya segera ke tong sampah. Mengingatnya saja sudah cukup membuat ubun-ubunku senat senut.

Klek.

Aku menajamkan telinga dan seluruh ototku menegang. Jantungku perlahan-lahan mulai berdetak lebih cepat dan semakin cepat. Nafasku mulai saling memburu tidak beraturan.

"Tadaima," seru suara yang berat-ringan merdu tapi terdengar mengejek sekaligus mengancam di telingaku. Suara ani-chan.

"O...kaeri...," sahutku lirih sekaligus enggan tiga perempat mati. Aku bisa mendengar suara langkah ani-chan yang mulai melangkah masuk ke dalam rumah, membuka sepatunya, dan mencuci kakinya di kamar mandi depan, lalu keluar dan menutup pintu kamar mandi, hingga akhirnya dia berdiri di hadapanku yang masih menopang dagu sementara sikuku bertopang di atas meja makan. Aku langsung memasang tampak jutek dan menatap tajam ke arah ani-chan. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, terus hingga sampai sepuluh detik. Aku menaikkan sebelah alisku sementara ani-chan masih tetap berdiri mematung di hadapanku -lima puluh centi di depan meja makan, jadi, kalau dihitung dengan lebar meja makan juga, totalnya seratus dua puluh centi meter. Aku masih duduk di meja makan dengan jutek.

"Kau, mau berdiri di sana sampai kapan, hah?" tanyaku yang sudah tidak tahan melihat ani-chan yang masih berdiri diam seperti patung dan memandangiku.

"Sampai kau ikut berdiri, berjalan ke arahku, kemudian menciumku di sini," jawab ani-chan sambil menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya dengan tatapan nakalnya yang khas. Kalau boleh berbohong, dia manis dan sangat mempesona (sesekali kita juga harus memuji saudara walau berbohong, kan?)

"Tidak lucu," sahutku ketus lalu berdiri. Aku segera membetulkan letak kursi tempatku duduk dan berjalan melalui ani-chan. Saat aku naik ke atas tangga untuk ke kamarku, aku mendengar suara ani-chan yang terkekeh pelan. Hih, menyebalkan.

"Kalau di sini boleh, ya," tiba-tiba suara ani-chan sudah sangat dekat dengan telingaku dan kemudian bibirnya mendarat perlahan di pipiku. Aku memejamkan sebelah mataku yang jaraknya kini sangat dekat dengan wajah ani-chan dan berusaha melepaskan genggaman ani-chan pada lenganku.

"Apaan, sih!?" protesku dengan wajah yang mulai memerah, "tidak lucu tahu! Dan lepaskan bibirmu dari pipiku, ani-chan!"

"Hmph," hanya itu yang keluar dari mulut ani-chan dan dia masih mencium pipiku. Tuhan, berilah aku kesabaran yang cukup, Amin. Kalau tidak aku pasti sudah mengambil pisau lipat yang selalu kubawa di saku rok-ku itu dan merobek pertu ani-chan.

"Heeeiii!? Dengar tidak sih!? Lepasakan," kataku lagi, kali ini aku berusaha mendorong wajah ani-chan agar menjauh dari wajahku. Tapi posisinya yang berada di samping membuatku jadi sedikit lebih susah. Setelah meronta-ronta cukup lama, akhirnya ani-chan melepaskan ciumannya dengan sendirinya. Dia lalu menatapku dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya, jadi sulit kujelaskan. Hem... bingung? Atau cemas? Entahlah, tapi terkaanku yang terakhir agaknya mustahil.

"Kau tadi diantar pulang oleh Megurine-san?" tanyanya, dia lalu juga melepaskan genggaman tangannya dari lenganku.

"Memang kenapa? Ada masalah? Kau sendiri yang memintanya mengantarku pulang kan?"

"..."

"Kenapa diam saja?" tukasku yang masih merasa kesal.

"Kau... tertarik pada si bocah berambut merah jambu itu?"

"Hah?" Aku membelalakkan mataku saking kagetnya dengan ucapan ani-chan barusan, "tidak juga, hanya merasa aneh. Atau nyaman. Entah, aku tidak begitu ingat."

"Aku... serius," kata ani-chan lagi, nadanya sedikit lirih. Dia lalu menempelkan keningnya di keningku, matanya, untuk pertama kalinya menatap sendu dan lembut ke dalam iris crimson milikku. Perlahan-lahan ani-chan menggenggam lagi lenganku, tapi kali ini aku tidak memberontak. Aku tidak tahu kenapa. Jarak kami hanya terasa begitu dekat, sekeliling kami seolah-olah lenyap entah ke mana dan waktu terhenti.

Aku sedikit menunduk dan ani-chan masih menyandarkan keningnya di keningku, tangan ani-chan kali ini terasa lembut di lenganku. Entah, aku tidak tahu pasti, tapi... perasaan benci ini tiba-tiba lenyap entah ke mana. Apa ke planet Saturnus, Uranus, atau Venus. Aku hanya merasa... berdebar dan sesak. Ada apa ini? Bagaimana... rasa kesal dan benci yang luar biasa tadi… langsung hilang entah kemana? Aku masih menunduk dan bisa kurasakan kalau nafas ani-chan mulai menerpa wajahku. Harum. Aroma mint langsung menyelubungiku, perlahan, menyelimutiku, membuatku merasa di awang-awang. Dada ini semakin sesak, aku jadi sedikit sulit bernafas karenanya. Kupejamkan mataku perlahan dan membiarkan ani-chan menggenggam lembut lenganku. Auranya berbeda, dia berbeda, dia... Tiba-tiba terlintas di benakku akan sosok ani-chan pada kemarin malam. Sosoknya yang dewasa, yang tidak main-main, yang serius... dia menyembunyikan semua itu dariku. Kenapa? Kenapa dia harus menyembunyikannya? Belum sempat otak dan hatiku mencari jawabannya, aku sudah bisa merasakan kalau wajah ani-chan semakin dekat dengan wajahku. Aku tidak bisa bergerak, sekujur tubuhku menjadi kaku bagaikan patung, dadaku semakin sesak, aku semakin sulit bernafas, apa karena genggaman ani-chan yang terlalu kuat? Tidak, tidak... itu tidak ada hubungannya dengan saluran pernafasan. Aku lalu membuka mataku kembali perlahan-lahan dan mendapati wajah ani-chan yang mungkin hanya berjarak satu senti meter dari wajahku -mungkin-. Lagi-lagi, wajahku memanas. Otakku mulai berhenti bekerja. Dada ini semakin sesak. Aku jadi tidak tahu harus berbuat apa, aku tidak tahu kenapa aku tidak meronta seperti biasanya, dan yang lebih anehnya lagi... aku menikmati setiap detik ani-chan memandangiku dengan lembut. Sekilas, sekilas dan pertama kalinya sejak aku duduk di kelas berapa dan mulai membenci ani-chan, kini aku mulai mengaguminya dan kembali... menyayanginya. Aku menyayangi ani-chan... aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku senang dengan jarak kami yang dekat ini.

"Kau... Apa yang kau pikirkan tentangku?" tanya ani-chan perlahan, nafasnya yang lembut dan beraroma mint segar kembali menerpa pelan wajahku.

"Aku... tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir, aku... aku.. aku hanya merasa nyaman, itu saja, aku.. Aku sendiri bingung," jawabku lirih, "aku hanya berpikir... kalau aku tidak ingin dibenci oleh ani-chan.." Atau mungkin tepatnya tidak ingin membenci ani-chan.

"... Gakuko, aku serius...aku tidak ingin kau bersama Megurine-san atau orang lain selain aku... Aku menyayangimu dan aku tidak akan pernah membencimu, maaf, aku... maafkan aku kalau aku selama ini selalu menyakitimu.."

Aku memberanikan diri menatap iris violet tua milik ani-chan. Yang pertama kali kulihat adalah, bola berwarna violet tua menatap lembut dan dalam ke arahku. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, aku terlalu bingung untuk membuka mulutku. Rasanya aku mulai kesal lagi pada ani-chan, tapi mau marah juga rasanya tidak bisa. Ani-chan lalu mendekatkan wajahnya padaku lagi hingga kini hidung kami saling bersentuhan dan segalanya kini benar-benar terasa berhenti bergerak. Tubuhku menegang, dan dada ini semakin sesak saja.

"Gakuko," panggil ani-chan lagi, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, "aku... tidak akan membiarkan-"

TING TONG

Aku dan ani-chan sama-sama kaget dan langsung menjauh satu sama lain. Kami langsung sadar dari alam antah berantah kami yang sebelumnya dan sadar seratus persen dengan apa yang hampir kami lakukan sebelumnya. Wajahku memanas dan semakin memerah, aku tahu itu. Apa yang akan kulakukan tadi!? jeritku dalam hati tapi aku sadar kalau aku tidak bisa meneriakkannya. Satu hal yang paling kusadari, aku kembali pada diriku yang semula. Bagaimana aku yang tadi... tidak menolak perlakuan ani-chan!? Bagaimana bisa!? Apa dia tadi meracuniku!? Kenapa aku diam saja ketika dia mendekatkan wajahnya seperti itu!? Kalau saja bel rumah tidak dibunyikan, pasti tadi dia sudah merebut keperawanan bibirku ini! Hyaaaa! Racun apa yang merasuki tubuh dan hatiku, tadi? Mestinya tadi aku langsung merobek perutnya saja!

TING TONG

Aku langsung berlari ke arah pintu dan hendak membukanya, tapi ani-chan langsung menarik lenganku ke belakang.

"Biar aku saja," katanya datar, matanya menatap lurus ke arah pintu masuk, "itu pasti Nakjima-san, dia bilang dia akan ke rumahku hari ini sebab di sekolah dia tidak akan punya waktu ke ruang BP."

"Hah? Aneh, dia bisa ke ruang BP setelah pulang sekolah kan? Dasar maunya saja mendekati guru," tandasku mencibir kesal.

Ani-chan menatap datar ke arahku, kemudian dia tersenyum nakal seperti biasanya. Ralat, tersenyum kemenangan.

"Oh, kau tidak senang ada gadis lain yang datang ke rumah dan mendekatiku? Kau mulai menyukaiku? Heh? Pasti begitu, kan? Ternyata aku cukup mempesona juga, ya," ledek ani-chan bertubi-tubi sambil menyeringai padaku.

"Terserah," tukasku singkat, "aku tidak berminat untuk berdebat denganmu sekarang. Sambut saja sana muridmu yang centil genit itu. Menjengkelkan. Dan aneh namanya kalau aku tidak menyukai kakak kandungku sendiri, baka."

Aku lalu melepaskan lenganku dari genggaman ani-chan dengan kasar dan berjalan ke atas menuju kamarku sambil mendumel terus. Hah! Murid mendatangi rumah guru laki-lakinya untuk curhat? Jangan bercanda. Mana ada hal seperti itu, ruang BP-kan juga tetap dibuka walaupun sudah pulang sekolah. Kenapa tidak di sana saja, coba? Dasar Nakaji-apalah itu saja yang centil minta perhatian. Hiiih, menggelikan. Aku lalu membuka pintu kamarku dengan perlahan dan hati-hati kemudian membantingnya dengan kuat -untung saja rumah dan seluruh perabotanku kuat-. Aku segera ganti baju dan membanting tubuhku ke atas ranjang. Sesaat aku terdiam, tidak asyik kalau hanya di sini seperti ini saja. Aku lalu bangkit lagi dan mengecek agenda-ku. Hem, tidak ada PR, tidak ada tes, tidak ada tugas. Sempurna. Aku lalu membuka lembar berikutnya dan mataku langsung setengah terpejam. Di kotak pertama tertulis 'PR sejarah, kumpul besok'. Sejarah. Sejarah. Sejarah. Saking kesalnya aku dengan kata dan pelajaran itu, aku sampai tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Aku menutup agenda itu dan mengubek-ngubek isi tas sekolahku yang untungnya entah dari kapan sudah ada di kamarku. Aku mengambil buku PR dan catatanku lalu mulai membaca soal pertama. Hueeekk... Melihat soal pertama saja otakku sudah berhenti bekerja, mana bisa menyelesaikan PR kalau begini caranya? Aku membuka lembar demi lembar catatanku berusaha mencari jawabannya. Kalau boleh berbohong, sekarang ini aku belum mual dan muak sama sekali. Di tengah-tengah mencari jawaban, bayangan akan ani-chan dan si-gadis-tidak-jelas-yang-genit itu melintas di benakku, benar-benar mengejek.

"Hiiiiih," bentakku pada diriku sendiri, "buat apa aku memikirkan si 'psikopat' satu itu? Biar saja dia mau melakukan apa pada si-gadis-tidak-jelas-yang-genit itu. Apa urusanku, coba?" Aku masih terus memarahi diriku sendiri dan meremas-remas pena yang sedang kupegang ini. Tapi tetap saja banyangan ani-chan yang membuatku merasa jadi tidak jelas kembali melintas di benakku. Aku menggigit perlahan bibir bawahku dan mataku sama sekali tidak fokus pada buku pelajaranku. Apa si-gadis-tidak-jelas-yang-genit itu sudah merayu-rayu ani-chan untuk membantunya menaikkan nilai sikapnya di sekolah? Supaya dia bisa naik kelas (karena nilai sikap di sekolahku dinilai lebih penting). Hah!? Dia berani berbuat begitu!? Aku meremas penaku semakin kuat, berani benar gadis itu, ya..., gumamku yang amarahnya mulai memuncak. Bahkan aku adiknya sendiri saja tidak pernah mendapat hak istimewa seperti itu! Otomatis aku langsung bangkit dari kursiku dan menggebrak meja belajarku. Aku membalikkan badanku dan hendak keluar, tapi kakiku tersanding meja tamu-ku yang pendek dan hampir jatuh terjerembab kalau saja keseimbangan badanku jelek.

Setelah memastikan tidak ada bagian yang memar, aku segera keluar kamar dengan sangat amat perlahan-lahan dan hati-hati. Aku menuruni anak tangga dua perdua sekaligus namun tetap waspada, aku tidak ingin menimbulkan bunyi sekecil apapun. Setelah sampai di bawah, aku langsung mengendap-endap menuju ruang tamu dan bersembunyi di balik tembok agar bisa mengintip dan menguping (ini sebenarnya bukan kebiasaanku sih). Kulirik gadis berambut hijau yang sepertinya Nakaji-apalah yang ani-chan maksud tadi. Bukannya aku ini permal atau apa, tapi dari gaya bicaranya saja aku sudah tahu. Setiap kali ani-chan memanggilnya 'Nakajima' (akhirnya aku ingat juga namanya), dia bolak-balik mengatakan 'tolong panggil aku Gumi saja, Sensei' disertai dengan nada memelasnya yang huweeek... sangat teramat membuat perutku mual dan mulas. Lagipula, sepertinya aku pernah melihat Nakajima deh. Aku masih terus mengawasi mereka, sesekali gadis berambut hijau muda beriris hijau zamrud itu menepuk pelan lengan ani-chan. Aku menaikkan sebelah alisku dengan cepat. Ada yang tidak beres, ada perasaan aneh yang mulai merasuk ke dalam hatiku. Perasaan yang tidak nyaman. Aku berhenti mengintip dan masih bersembunyi, duduk di lantai dengan kaki ditekuk. Kudengar beberapa kali ani-chan tertawa dengan akrabnya dengan Nakajima-san, dan aku tidak menyukainya. Kuacak-acak rambutku tanpa suara hingga menjadi kusut dan berantakan, aku merasa aneh. Aku merasa benar-benar tidak senang melihat ani-chan akrab dengan gadis lain selain aku. Aku tidak senang kalau dia juga menjahili gadis lain. Walaupun menyebalkan, tapi aku ingin gadis yang ia buat kesal karena kejahilannya itu hanya aku seorang, tidak ada yang lain... Tunggu. Jangan bilang aku kena sindrom apalah itu, tapi intinya itu sindrom buat anak yang manja, atau anak bungsu, Soalnya aku tidak manja tapi aku anak bungsu, jadi mungkin saja. Tapi masa aku juga kena sindrom menggelikan seperti itu? Hanya karena kakakku akrab dengan gadis lain? Sindrom yang aneh-ralat-aku yang aneh.

"Ah, gadis berambut violet kemerahan panjang kira-kira sepunggung dengan iris crimson?" seru Nakajima-san tiba-tiba. Aku tidak terlalu mengikuti pembicaraan mereka, tapi mendengar namaku ralat, sesuatu yang menyangkut diriku disebut-sebut aku jadi sedikit tertarik.

"Ya," sahut ani-chan, "apa kau mengenalnya? Kalau tidak salah namanya... Ga.. Gaku.. Siapa, ya?"

"Kamui Gakuko?" terka Nakajima-san sedikit malas, "dia teman sekelasku, heran aku kenapa marganya bisa sama dengan Sensei. Dan lagi, ketika kutanya pada teman-teman yang lain, mereka hanya mengangkat bahu dan guru-guru yang lain tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku. Apa lagi, salah satu anak kelas sebelah yang sepertinya akrab dengan Gakuko, Kagamine Rin, mengatakan begini, 'entah. Mungkin mereka sudah menikah, makanya marganya sama'. Saat itu Gakuko tidak ada di kelas, kalau ada langsung ingin kutanya-tanyai, deh." Nakajima-san nyerocos panjang kali tinggi kali lebar sama dengan volume. Oh, memang beruntung aku tidak ada di kelas.

"Ahahaha, Kagamine-chan jangan dipedulikan, dia selalu berkata asal-asalan. Aku dan Gakuko tidak ada hubungan apa-apa, hanya kebetulan marga kami sama. Tenang saja," sahut ani-chan yang biar kutebak, dia mengatakan hal itu sambil tersenyum 'bisnis'.

Aku semakin mengacak-acak rambutku karena ani-chan mengatakan 'tidak ada hubungan apa-apa' dan 'hanya kebetulan marga kami sama'. Jadi dia tidak menganggap adiknya sendiri? Begitu? Berbohong pada murid-nya sendiri? Bagus, bagus... Sejenak aku ingin langsung ke ruang tamu dan menyapa Nakajima-san untuk menyusahkan ani-chan, tapi untung saja akal sehatku bekerja dengan kecepatan super. Kalau aku mengatakan hal yang tidak-tidak, malah akan membuatku susah sendiri. Dan kalau sampai ketahuan kalau kami kakak beradik, aku akan semakin susah karena bisa-bisa teman-temanku selama ini selalu menganggap nilai sikapku bagus karena aku adik ani-chan. Tidak, tidak... Yang tahu kalau aku dan ani-chan kakak beradik -kandung- hanya Rin dan Kaiko. Juga Luki. Tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Eh… harusnya ada beberapa lagi, tapi aku lupa. Saa, itu tidak perlu dibahas sekarang.

"Aaaah, Sensei tahu tidak? Gakuko-chan itu sok sekali di kelas. Masa dia langsung pura-pura cuek dan galak begitu pelajaran Sensei. Apa Sensei menyadarinya? Dia malah sengaja tidak mendengarkan! Dia melamun! Keterlaluan, pantas tabiatnya jelek, bagaimana tidak kalau sewaktu pelajaran bimbingan konseling malah melamun," cerocos Nakajima-san lagi. Tanda perempatan jalan langsung muncul enam biji sekaligus begitu mendengar kalimat si gadis berambut hijau itu.

"Ah, masa? Aku terlalu asyik mengajar jadi satu yang seperti itu tidak apa, toh dia tidak pernah membuat masalah," sahut ani-chan dengan nada santai. "Kalau dia berbuat masalah, baru akan kutegur dan selama pelajaran akan kuawasi baik-baik."

"Ah, Sensei terlalu baik! Oh ya, apa tipe perempuan yang Sensei sukai?"

Aku menaikkan sebelah alisku lagi setelah yang satunya kuturunkan. Nakajima-san ini datang ke sini untuk curhat, minta nasihat, atau membuat acara perjodohan sendiri sih?

"Ah? Tipe-ku? Yang bagaimana, ya? Kalau aku tidak ada patokan sih, kalau suka ya suka, kalau tidak ya tidak," jawab ani-chan diiringi tawa kecil.

Aku mulai mencibir kesal. Payah, si 'psikopat' itu memang pintar mengelak, padahal aku kan juga ingin tahu seperti apa tipe cewek ani-chan.

"Eh? Jangan begitu dong... Kalau yang sepertiku suka tidak?"

"Kau itu kan murid-ku, aku harus suka agar bisa mengajarmu dengan baik. Nah, bagaimana kalau kau pulang dulu. Aku punya tiga gunung tugas yang harus kuselesaikan, maaf karena tidak bisa menemanimu lebih dari ini."

"Tidak apa-apa. Apa perlu kubantu?"

"Tidak usah, aku lebih suka mengerjakannya sendiri. Mau kuantar pulang?"

"Jawabannya sama denganmu," kata Nakajima-san dengan nadanya yang centil huweek. Setelah itu, kudengar suara pintu dibuka kemudian ditutup dan langkah kaki yang menjauh.

Ani-chan menghela nafas singkat kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Aku masih terduduk di lantai, sampai otakku mengirimkan sinyal 'BAHAYA' dan aku segera mengendap-endap bersembunyi di sudut di belakang lemari. Tempatnya hanya memiliki sisa ruang kosong lima belas senti meter kalau aku masuk di celah sana. Tapi lumayan untuk bersembunyi sementara. Untungnya celah lemari ini selalu dibersihkan secara rutin dan teliti, hingga tidak ada setitik debu-pin di celah antara dinding dan lemari pajangan ini. Aku bernafas perlahan-lahan, posisiku menghadap ke lemari ini. Kalau menghadap depan, masih tersisa sekitar dua puluh centimeter. Kudengar langkah ani-chan yang mulai memasuki rumah bukan di ruang tamu lagi, kemudian suara langkah itu hilang. Heh? Hilang? Ke mana?

"Kau menguping, iya kan?" seru ani-chan yang tiba-tiba sudah berada di tempat perembunyianku. Dan dia menghalangi jalan keluarnya.

"Hah? Tidak sepenuhnya kok, aku hanya mendengar yang terakhir-terakhir saja, sungguh," kataku cepat.

"Aku bertanya kau menguping atau tidak, aku tidak bertanya dari mana sampai mana kau menguping," tandas ani-chan sambil berjalan ke arahku.

Mendadak, kejadian tidak lama sebelum ini kembali diputar ulang oleh memori otakku. Jantungku berdegup lebih kencang dan wajahku mulai memerah. Ani-chan terus berjalan ke arahku dan memaksaku untuk mundur hingga punggungku menyentuh dinding. Dia menatapku datar dan mulai menyentuh pipiku, lagi-lagi, aku tidak memberontak. Tapi tubuhku terasa lemas dan dadaku sesak sekali. Oke, aku tahu itu namanya takut. Otakku kini tidak dapat berpikir apa-apa lagi.

"Kita belum menyelesaikan yang tadi," ujar ani-chan dengan suara rendahnya, terdengar bisik-bisik.

"Apa... Kau bicara apa, hah? Lagipula, celah lemari ini sempit. Bagaimana kalau kita keluar dulu dan mengambil udara segar?" aku mengalihkan topik pembicaraan dan hendak melangkah keluar, tapi ani-chan bersikeras untuk menghalangiku. Maksudku, tidak mau bergerak dari tempatnya berdiri. Aku mulai takut sekarang, bahkan tengkukku sampai merinding.

"Kau cemburu pada Nakajima-san kan?" tanya ani-chan lagi, senyumnya mengembang sempurna di wajahnya.

"Hah?"

"Kau cemburu kan?"

"Jangan ngaco, aku tidak akan seperti itu. Kita ini kakak beradik kandung, ingat itu. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh lagi," aku berusaha menghindarkan pandanganku dari wajah ani-chan.

"Kenapa tidak? Kita bisa incest kan? Apa itu salah?"

"Baka! Sudah jelas itu salah! Sudahlah, aku mau keluar. Tolong minggir," tukasku yang mulai tidak tenang.

"Tidak," sergah ani-chan, "aku tidak akan membiarkanmu keluar atau pergi kemanapun sebelum aku yakin pasti aku yang akan merebut kesucian bibirmu itu."

Aku hanya membelalakkan mata mendengar perkataan ani-chan barusan. Apa dia sinting? Harusnya iya, ani-chan memang SINTING, kalau tidak, dia tidak akan mungkin mengatakan kalau incest itu tidak salah.

To Be Continued...

Minna… mind to review? '-'b