Under the Mistletoe with Me
(Remake)
Chanbaek's fanfiction based of novel by Kristen Proby
Jadi, ini bukan murni ceritaku. Aku hanya me-remake dari novel karya Kristen Proby dan mengganti nama dalam cerita dengan nama anggota EXO dan lain-lain.
Cerita seluruhnya karangan Kristen Proby
GS, M rated.
*
Bab 2
"Apakah kau yakin tidak mau aku mengantar Jessie ke tempat ibuku?" tanyaku pada Chanyeol saat aku berkutat di sekitaran dapur, membereskan sisa sarapan.
"Tidak usah, kami akan baik-baik saja." Chanyeol meletakkan Jessie di dadanya, menimangnya perlahan kemudian tersenyum padaku.
"Bersenang-senanglah hari ini . jangan khawatirkan kami."
"Aku memang berniat untuk bersenang-senang. Dan berbelanja habis-habisan. Aku membawa kaus kai pengganti untuk menyegarkan kakiku di tengah belanja nanti."
Chanyeol menggelengkan kepalanya dan tertawa. "Aku tidak memahami Black Friday."
"Itu adalah tantangan yang dikemas dengan berbelanja. Itu bukan sesuatu yang kau pahami." Aku mengganti mode dering ponselku menjadi mode getar dan menyurukkannya kedalam sakuku, melemparkan kunci ke dalam tasku, kemudian menatap suamiku. "Hey, aku punya pertanyaan."
"Oke."
"Apa yang terjadi di rumah Sehun dan Luhan tadi malam?"
Chanyeol memberenggut dan menghela napas. "Baek, jangan khawatirkan hal itu. Bersenang-senanglah hari ini dan kita akan membicarakannya nanti."
"Kita tidak pernah saling menyimpan rahasia."
"Aku pun sedang tidak menyimpan satu rahasia pun sekarang. Aku hanya ingin kau bersenang-senang hari ini. Kita akan bicara nanti."
"Jika kau mau seperti itu."
Chanyeol mencondongkan tubuhnya dan menciumku penuh kasih sayang, lalu menggenggam daguku dengan tangannya dan memperdalam ciumannya, mengakibatkan jari kakiku keriting. Dia beraroma seperti kopi, sabun mandinya dan hanya Chanyeol, dan ketika ia menarik diri dan memberiku seringaian percaya dirinya dengan mata biru terangnya yang tersenyum padaku, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mendesah, walaupun setelah bersamanya selama bertahun-tahun.
"Sampai nanti," bisikku saat kudengar Kyungsoo membunyikan klakson di luar.
"Berhati-hatilah." Dia mengecup dahiku. Aku membungkuk untuk mencium pipi Jessie dan aku pun keluar melalui pintu.
Ada kalanya, kau membutuhkan satu hari brsama para teman perempuan, dan hari ini kusadari bahwa telah terlalu lama aku tidak menghabiskan waktu u tuk bersenang-senang bersama teman-temanku. Kami telah mengelilingi Seattle, mendatangi setiap promo, dan menikmati kebersamaan satu sama lain.
"Kau hebat bisa mendapatkan jam itu untuk Jongin di Macy's." Kyungsoo berkomentar sambil mengangkat sebuah sweater.
"Aku tahu, kuharap dia menyukainya."
Ponselku bergetar dalam sakuku dan aku menariknya keluar untuk membaca pesan teks yang diterima.
puting.
huh? Chanyeol telah mengirimkan sebuah pesan yang bertuliskan 'puting'? apakah maksudnya dot untuk botol susu Jessie?
"Oh, lihat! Bagian bayi. Ayo, semua, aku ingin melihatnya." Luhan mendahului kami menuju ke bagian bayi yang bercat cerah untuk melihat pakaian dan perlengkapan lainnya.
Ponselku bergetar lagi.
Aku menyukainya saat kau menunggangiku dan aku bisa bermain dengan milikmu.
Suamiku telah kehilangan akal sehatnya. Atau seseorang telah mencuri ponselnya dan mengirimiku pesan teks yang menjijikkan.
Samar-samar ku dengar Kyungsoo dan Luhan bercakap-cakap di sekitarku, namun aku tidak memperhatikan apa yang mereka perbincangkan atau bahkan apa yang mereka lihat. Aku hanya bergerak dengan pikiran kosong saat mengikuti mereka melewati rak-rak pakaian dan mengelilingi seorang Santa yang ribut dan peri-peri yang amat bising oleh teriakan anak-anak.
Disini amat sangat bising.
Dan aku orgasme dalam mulutmu.
Apa-apaan ini? Aku memandangi ponselku sambil merenggut.
"Oh, Baek, Jessie akan terlihat amat menggemaskan mengenakan ini!"
Aku menyimpan ponselku dalam sakuku dan memandang ke arah Kyungsoo yang sedang memegang sebuah rompi hitam yang imut. "Oh, itu sangat imut! Aku akan membelinya."
Ponselku bergetar lagi, jadi kutarik keluar dan membaca pesan teksnya.
Kau membuatku ereksi dengan sangat keras.
Chanyeol tidak pernah berbicara seperti ini lagi padaku selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun. Sebelum aku dapat menyimpan ponselku kembali ke dalam saku, ia bergetar lagi dan pesan teks lain dari Chanyeol muncul di layar.
Aku ingin kau berlutut di hadapanku mengulum ereksiku dengan bibir pinkmu yang indah. Aku akan menarik rambutmu.
Hanya itu. Akhir dari pesan teks itu terpotong lagi. Ini bukan suamiku. Aku tlah berhenti menggunakan kata-kata mesum semenjak Jessie belum lahir. Sial, semenjak sebelum mengandung Jessie.
"Baekhyun?" Aku dengar Luhan memanggil namaku, namun sebelum sempat aku menjawab, masuk lagi sebuah pesan teks.
Inilah yang akan kuberikan padamu malam ini. Bersiaplah. Dan... sebuah foto dari kejantanannya.
"Baekhyun?" Kyungsoo menyampirkan tangannya pada lenganku untuk mendapatkan perhatianku, dan mataku menangkap tatapan dari mata birunya yang menyiratkan kekhawatiran.
"Sialan, apa yang terjadi dengan kakakmu?"
"Apa maksudmu?" Kyungsoo bertanya.
"Dia telah mengirimkan pesan-pesan tesk yang tidak pantas, yang membuatku mulai berpikir bahwa itu semua bukan ditujukan untukku, mengingat dia tidak pernah mengatakan hal-hal nakal semacam itu bertahun-tahun, dan tadi malam di rumah Luhan dia menerima panggilan telepon pribadi yang ia tidak mau ceritakan padaku dan kemudian dia membicarakan tentang wanita dengan Jongdae. Kyungsoo, jika kakakmu mulai macam-macam denganku, maka demi Tuhan..."
Kyungsoo tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Baek, kau tahu dia tidak pernah macam-macam."
"Pada saat ini, aku tidak yakin."
Dan akibat dari ucapanku tadi melumpuhkanku. Aku menatap teman-temanku dan mengingat kembali kejadian semalam dan tadi pagi, cara dia menghindar, mengatakan padaku untuk menunda membicarakannya, namun kemudian menciumku untuk menutupi hal itu. Aku merasakan mataku makin melebar dan detak jantungku berdegup menjadi tiga kali lebih cepat.
"Sialan."
"Baek, aku yakin ada penjelasannya. Chanyeol tergila-gila padamu." Luhan mengusap lingkaran besar di punggungku, berusaha menenangkanku.
"Iya, Baek." Kyungsoo mengangguk menyetujui.
"Aku tahu dia mencintaimu dan Jessie lebih dari apapun."
"Namun bukan berarti dia tidak berselingkuh," bisikku.
"Mari kita pergi dari sini. Aku pikir kita telah cukup membuat kerusakan pada kartu kreditku dalam sehari."
Kyungsoo mengumpulkan beberapa barang yang telah kami pilih dari rak dan kami berjalan melintasi toko dan keluar menuju mobil.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi," aku berbisik.
"Well, langkah pertamamu adalah berbicara padanya. Tanya dia."
Kata Luhan yang duduk di belakang kursiku. Kyungsoo menyetir, ke arah
yang tidak kuketahui, dan aku duduk di sampingnya.
"Aku sudah menanyakan padanya. Dia bilang untuk menundanya. Pagi ini dia berkata padaku untuk bersenang-senang dan kami akan berbicara malam ini. Oh, Tuhan, dia akan mengatakan bahwa dia akan meninggalkanku." Perutku bergejolak dan aku mulai terengah-engah.
"Baek, jangan terlalu berlebihan." Kyungsoo memutar matanya dan berkonsentrasi pada lalu lintas, langsung menuju rumahku.
"Kita akan kemana?"
"Kita menuju rumahmu."
"Aku tidak mau bertemu Chanyeol dulu. Aku perlu menenangkan diri dan berpikir."
"Tidak, kau harus menghadapi kakakku dan mencari tahu apa yang sedang ia lakukan."
Aku memutar jari-jariku di atas pangkuanku dan menggigit bibirku hingga berdarah.
"Mungkin kau saja yang menghadapinya dan beritahu aku bagaimana hasilnya."
"Oh tidak, ini harus kau yang melakukan. Namun apabila kau menginginkan kami disana bersamamu, kami akan tinggal. Apakah kau takut padanya?" Kyungsoo menatapku dengan matanya yang menyipit.
"Tidak! Aku tidak takut padanya, aku hanya tidak tahu apakah dia akan menjawab pertanyaanku."
"Baek, kukatakan padamu," Luhan berkata dengan nada tegas. "Chanyeol tidak sedang macam-macam."
"Aku tidak pernah mengira dia akan melakukan hal itu." Tuhanku, kami telah melalui naik turunnya kehidupan berumah tangga, namun tidak pernah, tidak pernah sekalipun aku menyangka dia akan tega
berbuat seperti ini padaku.
"Mari kita mengulanginya lagi," Kyungsoo memulai saat menepi di pinggir jalan rumahku, "Tadi malam dia menerima sebuah telepon misterius di rumah Luhan yang tidak ingin ia bicarakan, dan hari ini dia mengirimimu pesan teks mesum."
"Iya."
"Itu tidak berarti di sedang berselingkuh, Baek."
"Aku tahu, namun ini tidak seperti Chanyeol."
"Tidak ada foto wanita telanjang, kau tidak pernah memergokinya di ranjang bersama siapapun..."
"Tidak."
Ya Tuhan, aku pasti akan mati jika memergokinya di ranjang bersama wanita lain. Koreksi: wanita lain itu yang akan mati. Kematian secara perlahan dan menyakitkan.
"Aku pikir ini hanya kesalahpahaman," kata Luhan lembut. "Namun berasal dari manakah perasaan ketidakamanan ini dalam pernikahanmu? Ini sama sekali bukan seperti dirimu, sayang? Kau tidak pernah merasa tidak aman seperti ini sebelumnya."
"Aku tahu." Aku menggigiti bibirku lagi sembari menahan airmataku. Aku tidak pernah merasa menjadi diriku sendiri sejak si bayi lahir. Pernikahan kami tidak terasa sama lagi.
"Sejak Jessie lahir, kehidupan seks kami biasa saja. Kami berdua selalu merasa kelelahan sepanjang waktu." Aku mengangkat bahu dan memandang kearah tanganku merasa malu. "Aku tahu pernikahan kami tidaklah sempurna, namun aku tidak pernah merasa tidak
terhubung seperti ini dengannya. Jika aku tidak dapat memuaskannya, orang lain akan melakukannya. Kau tahu bagaimana dia."
"Oh, Demi Tuhan, Baek, dengarkan dirimu sendiri. Kurasa kau membutuhkan seks yang panas dan liburan, nona," komentar Kyungsoo, membuatku tertawa.
"Yeah, sepertinya itu benar."
Truk Chanyeol terparkir di jalan masuk rumah dua tingkat kami yang indah. Nampaknya dia telah memasang lampu-lampu Natal hari ini, yang mana malah membuatku semakin emosional. Tahun ini merupakan Natal pertama Sophie. Bagaimana jika kami tidak sempat merayakannya sebagai keluarga di rumah kami?
Kyungsoo mematikan mesin mobil dan membuka bagasi.
"Mari kita bawa barang belanjaanmu ke dalam."
Kami mengangkut tas belanjaanku yang berjumlah sangat banyak yang penuh dengan hadiah untuk seluruh keluarga, dan lebih dari yang Jessie butuhkan atau akan dia ingat untuk Natal pertamanya, ke
dalam rumah. Chanyeol sedang mengemas sebuah tas popok dan telah
menaruh jok bayi di samping pintu.
"Ladies, kalian kembali lebih cepat dari dugaanku." Ia menyunggingkan senyum bahagia yang lebar, namun yang kulihat
hanya tas yang sedang ia persiapkan.
"Kau mau kemana?!" tanyaku. Aku mendengar nada putus asa dalam
suaraku, aku tahu aku terdengar seperti orang gila, tapi aku tak dapat menghentikannya.
"Uh," Wajahnya mengkerut padaku dan mendorong tangannya diantara rambut pirang gelapnya yang lembut.
"Tidak kemana-mana. Tadi aku akan meminta Kyungsoo untuk membawa pulang Jessie bersamanya untuk beberapa jam supaya kau dan aku memiliki waktu berdua saja."
"Tentu saja aku akan menjaga Jessie!" sahut Kyungsoo di belakangku. "Luhan, maukah kau membantu Chanyeol menyelesaikan mengepak perlengkapan Jessie ke dalam tas sementara aku akan membantu Baekhyun ke atas dengan belanjaannya?"
"Siap."
Chanyeol memandangi kami bertiga seolah-olah kami telah kehilangan akal. "Apa yang terjadi?"
Kyungsoo mendorongku menaiki tangga saat kudengar Luhan berkata, "Kalian berdua harus berbicara, bodoh."
TBC
*
AN:Haloooo berjumpa lagi hehe. Berhubung hari ini aku libur jadi aku publish sekarang hehe. Silahkan dinikmati chapter 2 nya. Aku sengaja bikin satu bab satu chapter biar kalian ga bosen bacanya hehe. By the way guys, kalian punya saran/ide nggak enaknya aku bikin remake novelnya siapa lagi, karena mau publish tulisan sendiri ga yakin wkwk. Kalo ada tulis di review yaa insyaallah aku usahain nge-remakenya:). Anyway kayaknya ini chapter terakhir yang aku publish minggu ini ya, mianhae yeorobun minggu depan diriku UN;.; doain ya semoga dapet nilai bagus huhu. Okay see you next chapter:)
