FF BAP OT6 / YAOI / OASIS / Part 3

Title: Oasis

Author: Bang Young Ran

Rating: T *sementara*

Genre: Yaoi/Violence/Romance/Crime/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Him Chan

Bang Yong Guk as Jepp *akhirnya nongol*

Support Cast:

DaeJae (Dae Hyun + Young Jae) *blom nongol*

JongLo (Jong Up + Zelo) *cuma Baby Jello yg nongol*

Kim Da Hyun (TWICE) as Hime's Twin Sister

Kim Hee Chul (SuJu) as Hime's Mom

Kevin Lee/Kris Wu as The C.A.R.T Department's President

Rex (OC)

June (Junhoe IKON)

Nyusul...

Disclaimer: BAP is their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachh...*kechup basah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! VIOLENCE! NC! NO PLAGIARISM! NO BASHING!

Author's Note: Selamat membaca, BABYZ, My Readers~\(=^o^=)/

Summary: Umumnya rasa takut yang menyerang manusia akan menenggelamkan mereka. Tapi bagiku, ketakutan yang menyerang, membuatku tersadar. Aku berbeda. Aku Kim Him Chan. Oasis.

.

.

.

Oasis

3

"Di sini kalian tidak memerlukan formalitas."

Sudut mata Him Chan berkedut dikala Rex dengan sengaja melirik ke arahnya. Oh, silahkan. Tunjukkan kepada seluruh dunia betapa 'kaku'nya si Orang Kaku. Baru dua hari di sini, namun Him Chan sudah dapat membiasakan dirinya akan penindasan. Terima kasih untuk Rex—terkadang Jepp juga.

Mungkin ini yang terbaik, pikir Him Chan.

Jika kau terjatuh dan dihantam dengan keras berkali-kali, lambat laun kau tidak akan lagi merasakan sakitnya, bukan? Ibarat hukum alam; menyakitkan. Kau bisa belajar membiasakan diri, atau tidak sama sekali. Dan membiarkan alam bekerja secara magis. Menyeleksimu.

Sayangnya, Him Chan bukanlah tipe yang akan menyerah begitu saja oleh seleksi alam.

"Kalian boleh memanggil nama orang lain tanpa embel-embel 'khusus' di Flames. Kalian boleh mengumpat. Bahkan kepadaku, ataupun Jepp."

Huh? Benarkah?

"Tapi ingat, lakukanlah saat kalian sudah merasa bisa mengalahkan salah satu dari kami. Kalau tidak..." Rex menggantung kata, menyeringai dengan mata menyipit. Terlihat seperti psikopat yang tengah menatap mangsanya. "... kalian tahu sendiri akibatnya."

Siiiiiiiiiiiiiiinnnnnggggg...

Glup~

Oke. Itu menakutkan.

"Mengalahkan kalian dalam hal apa?"

Seseorang bertanya. Him Chan menoleh dan langsung bertemu tatap dengan wajah seseorang yang puncak batang hidungnya diplester. Namja yang mencari masalah dengannya. Siapa namanya? 'June', ne?

Err, nama yang aneh.

Dan wae? Apa June ingin membuat perhitungan dengannya? Ayo. Him Chan sama sekali tidak takut. Paling tidak, dia hanya menderita dahi lebam dari perkelahian mereka. Sementara June? Kkkk... Him Chan sukses membuatnya jatuh pingsan dengan hidung berdarah. Never thought the-so-called 'Stiff Ass' gonna knocking your stupid ass down, huh!?

"Bertarung." Rex menjawab lantang. Menatap puncak hidung June yang terplester, seolah mencemoohnya. "Dan sebagai motivasi," Dia beralih menatap Jepp, menyeringai. "Aku dan General Jepp akan bertarung di sini."

Cara Rex menambahkan title gelar milik Jepp, begitu kental akan nada remeh. Siapapun dapat menyimpulkan, keduanya tidak sejalan, terlibat dalam suatu persaingan. Paling tidak, dari pihak Rex. Karena Jepp sendiri tampak cuek, tidak menghiraukan apapun itu pergolakan yang tengah Rex coba perjelas di antara mereka.

"Kau siap kupermalukan, Jepp?"

Keduanya telah berada di ring tinju. Tangan yang dibalut kain ala kadarnya, terkepal dalam posisi bersiap. Semua orang di gym tersebut tidak kaget, seolah telah menduga kalau Rex akan langsung beraksi. Ia bergerak dengan lincah, mengelilingi Jepp bak seorang petinju profesional. Berpikir bahwa gerakan tersebut akan mengintimidasi lawan.

Pamer, menurut Him Chan.

"Pertanyaannya, apa kau siap kupermalukan, Rex?"

Seolah tidak kehilangan irama, Jepp balas melemparkan pertanyaan yang sama. Salah satu sudut bibirnya terangkat; menyeringai. Oh, gerakan 'mengintimidasi' Rex serasa tidak ada apa-apanya. Faktanya, orang tenanglah yang patut diwaspadai. Terlebih ketika 'orang tenang' tersebut mulai menampakkan sikap mengintimidasi.

Dalam gerakan cepat, Rex menyongsong, bermaksud melayangkan pukulan ke rahang Jepp. Namun namja itu mengelak—oh, dengan begitu mudahnya—dan balik menyerang, menghantamkan lututnya yang ditekuk ke perut Rex.

Brugh!

Rex terjatuh.

Namja itu meringkuk di lantai ring sembari memeluk perut. Erangan yang terdengar seperti geraman lolos dari dasar tenggorokannya. Wajah Rex tampak terpilin menahan sakit.

Siiiiiiiiiinnnnggg...

Semua terpana.

Kejadian yang begitu cepat. Semua termangu, di antara takjub dan tidak percaya, kalau Jepp menjatuhkan Rex hanya dalam sekali serangan. Well, serangan telak yang luar biasa menyakitkan, tentu saja.

"You okay?" Jepp bertanya sembari tersenyum cheeky. Dia mengulurkan tangan, bermaksud membantu Rex berdiri hanya untuk ditepis oleh namja itu.

"I don't need your f*ckin' help!" salak Rex geram, kesusahan membawa dirinya sendiri berdiri. Ringisan sakit dengan nyata mati-matian ia tahan. Meski usaha tersebut tidak membuahkan hasil berarti, toh, kedua alis Rex menyatu keras. Sementara giginya terkatup rapat. Dia kesakitan.

Jepp semakin menyeringai dibuatnya. Bibirnya yang penuh terpilin erat, berusaha menahan tawa. Sadis, eoh? Ah, tidak. Seperti halnya pepatah, Siapa yang menuai, dia yang menanam. Rex hanya menerima konsekuensi dari perbuatannya. Tidak lebih.

"Latihan hari ini selesai. Kembali ke kamar kalian." Perintah Jepp, menggunakan suaranya yang membahana untuk didengar oleh semua anak baru yang tenah berkumpul di ruang training; gym.

Kerumunan yang diberi perintah seketika menurut patuh. Tentu saja. Setelah melihat 'adegan' tadi, rasa takut mereka semakin bertambah beberapa kali lipat. Bagai sebuah pembuktian kalau Jepp bukanlah orang biasa. Dia berbahaya. The type of people that you wouldn't wish to mess around with.

Baru saja Him Chan hendak mengikuti Zelo, saat suara suara berat dan dalam milik Jepp menghentikannya.

"Tats. Kau tentu tidak lupa dengan detensimu, bukan?"

Oh. shoot.

Ya, dia lupa.

"Ikut aku."

Dan seperti biasa. Setelah memberi perintah, Jepp akan pergi begitu saja. Meninggalkan siapapun yang diberi titah untuk mengumpulkan pikiran secepat mungkin, lalu menurut. Argumen pastinya tidak berlaku dalam kamus namja itu.

"I hope you'll learn your lesson, Stiff Ass."

Nyut.

Pelipis Him Chan sontak berkedut. Ia mendelik jengkel ke arah June yang baru saja berbisik begitu dekat dengan telinga kanannya. Entah sejak kapan namja itu berada di sana. "I wish you'll mind your own f*ckin' lil' bussiness, Jerk."

Berbicara sopan tidak akan menjadi prioritas utama Si Cantik saat berhadapan dengan June. Menurutnya, namja itu sama sekali tidak pantas mendapatkannya. He's such a pain in the ass anyway.

"You..." menggeram, June berniat menyongsong Him Chan jika saja suara dalam yang dipenuhi authority tersebut tidak menyela.

"I said, FOLLOW ME! Apa kau ingin perpanjangan detensi, Anak Baru!?"

Jepp kembali. Marah.

Untuk beberapa saat Him Chan mempertahankan 'pertarungan' saling menatap sinisnya bersama June, sebelum akhirnya ia memutuskan berbalik, berjalan menuju Jepp di pintu gym.

"Dan kau," Kali ini tatapan Sang General beralih ke June. "... jangan berlagak menjadi jagoan kalau belum menunjukkan bukti apa-apa di sini. Big mouth never loved in Flames. And I hate big mouth."

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

"Aaaaaakkhhh... Tell me! Why I – hh... have to do this be – aaaaaa! Before my detention?! I seehh... HYAAA! No point! AWHH!"

Teriakan namja cantik itu akan memekakkan telinga siapapun yang mendengar. Sayang, hanya dia dan Jepp di ruangan... apa tadi namanya? 'Isolation', ne? Memangnya dia ini mengidap penyakit, apa, sampai diisolasi segala?!

"Kau banyak mengeluh. Kami tidak mengeluh di Flames." Jepp menegur, wajahnya datar tanpa emosi saat meluruskan salah satu kaki Him Chan ke samping, membuat makhluk cantik tersebut seketika berteriak kesakitan. "Dan kau juga berisik."

"Hiks! Ini sangat menyakitkan! Aku bukan pesenam! How do you expect me to stretching so much?!" teriakan serta tangis frustasi Him Chan bercampur menjadi satu. Dia tidak ingin menangis, terlebih di hadapan Jepp, hanya saja rasa sakit luar biasa saat melakukan stretching menyengat ruang matanya dalam genangan air hangat.

"Itulah intinya."

"What?"

Bisakah sebentaaaaar saja, Jepp berhenti berbicara 'ala kadar'nya?

"Kau merasakan sakit luar biasa sebelum melakukan detensi. Itulah intinya."

What the...

JADI ITULAH INTINYA KEGIATAN KONYOL INI?! Membuatnya menderita sebelum melakukan detensi, begitu?! Benar-benar tidak berpera—

"Ini Flames. Perasaan tidak begitu diprioritaskan di sini. Kecuali kalau kita sedang berada di faksi lain." Jepp menyela seolah dirinya bisa membaca pikiran Him Chan.

Dan itu menakutkan.

Akan tetapi sebelum Him Chan sempat melayangkan protes lainnya, tangan Jepp yang lain, yang tidak memegangi pergelangan kaki kirinya, mendorong tengkuk namja cantik itu ke depan, membuatnya nyaris menciumi lantai kayu. Bunyi 'krak' dari tulang punggung Him Chan yang dipaksa meregang terdengar begitu nyaring, menyayat gendang telinga jika saja Sang Pemilik tidak berteriak histeris duluan.

"AAAAKKKHH!"

Ah, paling tidak, teriakan Him Chan berpengaruh besar terhadap gendang telinga Jepp. Namja itu mengerinyit hingga satu matanya tertutup oleh kerutan. Oh, oh, dan dia juga mendesis. "Yah. Jangan berlebihan. Tubuhmu benar-benar kaku, eoh!? Apa kau bahkan pernah berolah raga sebelumnya?"

"Tentu saja pernah!" pekik Him Chan geram di antara ringisan.

"Benarkah? Olah raga apa?"

"Lari. Di treadmile." Him Chan berbisik pada kata terakhir. Entah kenapa dia merasa malu. Ya, di Ozon, olah raga ringan seperti itulah yang biasanya mereka lakukan. Berbeda dengan peralatan olah raga yang ditemukannya di gym Flames. Semuanya serba keras dan... err, 'macho'.

Well, Him Chan tidak salah merasa malu. Karena tangan yang memegangi—kalau tidak ingin disebut 'menjoroki'—tengkuknya, saat ini bergetar. Secara tidak langsung juga ikut membawa tubuh atasnya bergetar.

Jepp...

"Buahahaha, I can't believe this! Kau sebut itu olah raga?!"

... tertawa.

Benar-benar memalukan. Ingin rasanya Him Chan menenggelamkan diri ke dalam tanah. Jepp menertawainya.

"Nah. Selamat. Mulai dari sekarang kau tidak akan sulit lagi melakukan peregangan."

Eh?

"W-wae?" Him Chan mencoba bertanya, sebisa mungkin tidak menyentuh lantai dengan bibirnya saat berbicara. Entah berapa banyak keringat yang pernah menetes di sana. Ewh.

"Apa kau tidak melihat posisimu sekarang?"

"You kind of... suffocated me in here."

Memutar bola mata, Jepp akhirnya menjauhkan tangannya dari tengkuk Him Chan. "Aku sudah melepaskan tanganku, kau sudah bisa—"

"Hiks!"

Now what?!

"Kau ini kenapa lagi, eoh?!" bentak Jepp jengkel. Menjadi 'mentor' bagi Him Chan terus terang membuatnya stress. Maksudnya, kenapa seseorang sepertinya, begitu gegabah mengambil keputusan?! Flames? Apa dia ingin bunuh diri?! Benar-benar merepotkan.

"Hiks, aku tidak bisa me-mengangkat tubuhku. Hiks..."

O-ow... apa Jepp mendorong tubuh Him Chan terlalu keras hingga membuat persendiannya mengalami shock?

'Goddamn...'

Di dalam hati Sang General mengutuk. Rasa bersalah membuatnya sesegera mungkin membantu Him Chan. Secara perlahan ia mendekat tubuh ke belakang namja cantik itu, kedua kaki saling meregang ke samping dalam posisi horizontal, membayangi kaki Him Chan yang juga tengah membentuk posisi yang sama.

"A – hiks! apa yang kau lakukan?" tanya Him Chan tidak mengerti saat dirasakannya tubuh Jepp menempelinya dari belakang. Tangan namja itu juga menyelinap ke pinggangnya, terus bergerak ke atas hingga berhenti di kedua bahunya, dan mencengkeraminya pasti.

"Ini akan sedikit sakit."

Hanya bisikan lirih itu yang Him Chan terima sebelum akhirnya ia berteriak. Seperti saat Jepp menjorokinya, kali ini namja itu dengan cepat membawa tubuh membungkuknya duduk lurus diiringi oleh bunyi 'krak' yang sama.

"AAAAAAAKKKKHHHH!"

Ah, tentu saja. Teriakan histeris melengking yang sama dari Si Cantik.

Cklek~

"Hyung, aku ingin menyam – ah, maaf, aku akan kembali lagi nanti."

Namja berbibir penuh yang baru saja menerobos pintu ruang Isolation, langsung mengundurkan diri begitu melihat posisi... 'intim' dua insan di dalamnya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, pikirnya.

"Ya, Dae Hyun! Comeback here!" panggil Jepp jengkel. Dia tidak akan membiarkan bawahannya yang bermulut besar—all on literally means—ini, menyebarkan gosip yang pastinya tidak akan menguntungkannya sama sekali. "Ada apa?"

Dae Hyun, Si Mulut Besar, berbalik dengan seringai penuh arti terpatri. "Bukan hal penting, Hyung. Kalian... bisa melanjutkan apapun itu yang sedang kalian lakukan~"

Him Chan mendengar desisan sebelum tubuh yang tanpa sadar tengah ia senderi, bangkit, membuatnya sedikit limbung walau hanya sekejap.

"Kami tidak sedang melakukan apa-apa. Cepat katakan, ada apa?"

Alih-alih menjawab, Dae Hyun menggaruk sudut alisnya dengan telunjuk. "Err... aku tadi bertemu Young Jae..." gumamnya ragu-ragu.

Jepp mengangkat sebelah alisnya. Sikap Dae Hyun yang canggung, dan juga kenyataan bahwa nama 'Young Jae' disebut-sebut... ini mencurigakan. "Lalu?"

Dae Hyun membuka mulut, hanya untuk menutupnya kembali. Ia menggigit bibir bawahnya keras. "Umm, I kind of... pissing him off...?"

"Goddamnit, Dae Hyun! What the h*ll is wrong with you?! Kenapa kau suka sekali mengganggunya? Will you ever stop trying to get into his pants!?"

"Never."

Omelan berapi-api Sang General hanya bersambut sahutan datar.

"I'm not a pussy, Hyung. Aku sudah mengejarnya nyaris tujuh tahun! Bagaimana bisa kau menyuruhku berhenti begitu saja?!"

"Aku tidak menyuruhmu berhenti. Aku menyuruhmu untuk sadar. Dia sudah menolakmu jutaan kali. Itu adalah bukti nyata kalau dia tidak tertarik sedikitpun padamu. Take. That!"

Namja berbibir penuh yang dikatai melarikan tangannya menangkup jantung, seolah terluka. "Auch~ You're so thoughtful, General. Thank you, Bestfriend," gerutunya sarkastis. Tatapannya kemudian beralih ke balik bahu Jepp, dalam sekejap tersenyum saat ia bertemu mata dengan marbel hitam pekat yang balas menatapnya nanar. "Hi, aku Dae Hyun! Salam kenal~"

Sapaan ramah pertamanya dari penduduk Flames. Him Chan tidak akan berdiam diri begitu saja melewatkannya. Ia pun balas melambaikan satu tangan, "Tats. Nice to meet you, Dae Hyun," balasnya bersahabat.

Siapa tahu ini merupakan kejadian pertama dan untuk terakhir kalinya, 'kan?! Sejauh ini, Him Chan hanya bertemu orang-orang seperti Rex. Beberapa juga bersikap seperti Jepp. Dan yang paling banyak jumlahnya, bersikap seperti serigala yang tengah dilanda heat. Dia dapat membayangkan berbagai 'lolongan' menyebalkan tersebut saat ia berada di sekitar mereka.

"Tats?" Dae Hyun mengamati keseluruhan tubuh makhluk cantik yang tengah mematung dalam posisi stretching split di lantai. "Err... aku tidak melihat satupun di tubuhmu."

Eh?

Apa yang Dae Hyun bicarakan?

"Ah! Apa kau mengukir tatomu di tempat tersembunyi...? Kkkk~"

Oh.

Tats, sama dengan 'tato'.

Oh.

"Hahaha, Tats hanya nama. I don't have any of that... things?"

Tato? Kata yang begitu sederhana untuk sebuah alasan menyakiti dirimu, eoh? Mengukir kulit dengan jarum dan tinta? Well, tidak pernah terlintas di benak Him Chan.

"Sepertinya kau harus merubah pandanganmu, Tats. Kami semua memilikinya." Dae Hyun berkata, dengan sengaja menurunkan lengan jaket untuk memperlihatkan sebuah tato kepala elang yang besar di lengan bawah bagian dalamnya. "Yang lainnya... berada di tempat yang tidak akan pernah kau bayangkan. Kkkk~"

Sikap Dae Hyun yang easy going cukup mengagetkan. Dia begitu bersahabat, membicarakan hal semacam itu kepada orang asing seolah mereka sudah saling mengenal lama. Entah Him Chan harus menerimanya dengan kening berjengit, atau kikikan yang terdengar begitu canggung?

Apapun itu, dia tidak berkesempatan untuk mencari tahu. Toh, Jepp menyela, mengomeli Dae Hyun yang menginterupsi detensi Him Chan dan segera mengusirnya pergi setelah berjanji akan menyelesaikan apapun itu permasalahan yang namja berbibir penuh itu miliki terhadap seseorang bernama 'Young Jae'.

"Berikan tanganmu. Aku akan membantumu berdiri."

Tanpa membantah Him Chan mengulurkan kedua tangannya yang langsung disambut oleh Jepp. Namja itu menyentaknya ke atas, membuat kakinya yang kaku dipaksa untuk tegak lurus. Butuh beberapa detik baginya hingga bisa berdiri normal. Terima kasih pada pegangan erat dari kedua tangan kokoh Jepp.

"Thanks." Him Chan bukanlah seeseorang yang tidak tahu berterima kasih. Meski yang membuatnya seperti ini juga orang yang bersangkutan. "Boleh aku bertanya?"

"Hmm."

Hanya sahutan berupa dengungan singkat yang mengiyakan. Aish...

"Apakah kita diwajibkan memiliki tato?"

"Tidak. Kalau kau ingin dipandang lemah."

Jleb.

Jepp dan kalimat entengnya yang menusuk. Bagaimana seseorang bisa memasang wajah sedatar itu saat menyindir orang lain, eoh?!

"Ah, ne, sedikit saran dariku, jauhi Dae Hyun."

Mwo?

Sekarang Jepp ingin mengatur-ngaturnya dalam hal bergaul?!

"Wae? Dia terlihat ramah bagiku."

"Itulah masalahnya. Dia. Sangat. Ramah." Jepp menjeda kata-per-kata. Sejenak menatap Him Chan dari ujung kaki hingga ke ujung kepala sebelum berkata, "berhati-hatilah."

Hanya itu.

Namja bertubuh atletis yang Him Chan tatap tidak lagi memberikan keterangan lebih jauh dan pergi, meninggalkannya sendiri di ruang Isolation; menyelesaikan detensi.

Memindahkan puluhan kardus peralatan bukanlah pekerjaan berat, 'kan?

~~~~~~~~\(=^0^)/\(0o0=)/~~~~~~~~

"Himchanie, you lookin' horrible." Zelo berkomentar saat dilihatnya teman yang bersebelahan ranjang dengannya tersebut memasuki 'kamar' mereka. Bahu namja cantik itu turun. Matanya tampak sayu dan lesu. Dan rambut strawberry blond-nya yang lembut, sekarang terlihat lepek, menempel di pelipis karena keringat.

Hanya senyuman mengerinyit yang mampu Si Cantik berikan, sebelum menjatuhkan tubuh ke ranjang dengan wajah duluan menghantam bantal. "I'm not just lookin' horrible, Zelo. I'm totally death," sahutnya dengan suara teredam.

"Apa yang terjadi, eoh?"

"Kardus... peralatan... berat." Him Chan meracau.

Zelo tidak begitu menangkap apa yang namja cantik itu katakan. Dia ingin bertanya lebih jauh, namun suara dengkuran halus yang teredam bantal menghentikannya. Him Chan tertidur. Dalam posisi tertelungkup yang akan membuatnya tidak nyaman.

"Dia baik-baik saja?"

Seseorang bertanya saat Zelo membantu memperbaiki posisi tidur Him Chan hingga membuatnya tidak mendengkur lagi. Ia tersenyum dan berbalik, tahu dengan pasti suara lembut nan ramah milik siapa itu. "Hi, Hyung. Ne, Himc – Tats, baik-baik saja. Hanya kelelahan, kurasa."

Zelo merasa perlu mengoreksi panggilan Him Chan. Di Flames namja cantik itu telah memilih nama 'Tats'. Itu berarti dia ingin orang-orang di Flames mengenalinya dengan nama tersebut. Cukup Zelo saja yang memanggilnya berbeda.

"Tidak heran. Jepp Hyung menyuruhnya memindahkan semua kardus peralatan."

Damai.

Hangat.

Saat melihat senyuman namja tampan di depannya ini, hal itulah yang selalu Zelo rasakan. Namanya Jong Up. Namja atletis luar biasa tangguh yang merangkap sebagai tangan kanan General Jepp. Zelo hanya bisa mengaguminya secara sembunyi-sembunyi. Dari jauh. Atau dari dekat seperti ini dalam diam.

"A, I see. Jadi itu detensinya, ne? Pantas saja Tats kelelahan seperti ini. Kau tahu, Hyung? Dia langsung tidur begitu berbaring."

Jong Up mengangguk tanpa arti. Bibir tipis yang sebelumnya tertarik membentuk senyuman, sekarang digigit belahan bawahnya oleh Si Pemilik. "Zelo," panggilnya ragu.

Eh?

Kenapa Jong Up terlihat... gugup?

"Ne, Hyung?"

"Kau... eum..."

Oke, ini aneh.

Ini pertama kalinya Zelo melihat Jong Up seperti ini. Waegeure, eoh? Dia ingin mengatakan sesuatu padanya? Apa?

"Hyung, katakan saja. Ada apa? Kau ingin memberiku tugas? Aku tidak keberatan. Lagipula, ini masih belum begitu larut." Zelo mencoba menenangkan kepanikan yang sepertinya mulai melanda namja tampan di depannya ini. Ekspresi kalut tidak seharusnya menghiasi wajah Jong Up. Ia seharusnya tersenyum dengan ramah. Seperti biasa.

"Huft... lupakan. Kau segeralah tidur. Besok kalian akan melakukan latihan tanding. Selamat malam, Zelo."

Pada akhirnya, Jong Up hanya mengucapkan selamat malam dan pergi. Ekspresi terganggu di wajahnya semakin terpilin tidak nyaman. Ada apa sebenarnya, eoh?

Apa yang ingin Jong Up katakan?

TBC

NB: My wifi... IT'S OFFICIALLY BROKEN! T^T Now I have 2 tryin 2 make it works by posting through my phone. I hope the update not gonna be a mess up. Bagi BABYz INA silahkan ikuti (Twitter: BABYs_DAY_OUT / Line: BABY4BAP) Di sana kalian akan mendapat info serta event2 yang akan dilangsungkan buat Babyz INA semua^0^)/ HIDUP BANGHIM! BANGHIM! BANGHIM! BANGHIIIIIIIIMM!\(=^0)/\(0^=)/