Seo nyaris jatuh dari kursinya, tertawa terbahak-bahak akibat membaca chat yang baru saja masuk.
Hai, Blue Bird
Aku akan memberimu kebahagiaan
Seo sering sekali menerima chat yang aneh-aneh, seperti, "BB, aku akan memberimu seluruh dunia." "BB, aku memberikan jiwaku padamu." "BB, akan kuberikan aktris seksi Sharon Stone padamu." "BB, menikahlah denganku!" disamping chat-chat serius lain yang menawarinya pekerjaan.
Seo tersenyum menatap dua baris kalimat itu. Rupanya orang yang baru saja mengirim pesan chat itu tahu juga kisah tentang burung biru. Dongeng yang menurut Seo, sih, bodoh banget.
Seo secepat kilat menulis chat balasan. Mumpung sedang tidak ada kerjaan, tak ada salahnya bermain-main sedikit.
BB : "Hai, Dino-Rex. Burung Biru yang satu ini tidak membawa kebahagiaan."
Chat balasan dari Dino-Rex cepat sekali.
Dino-Rex : "Karena itulah, kali ini aku yang akan membuat burung biru bahagia"
Seo nyengir.
BB : "Hmm? Dengan cara seperti apa, Dinosaurus Biru? Membebaskan burung itu terbang di angkasa?"
Dino-Rex : "Tidak, aku ingin memasukkanmu ke dalam sangkarku."
Seo mengernyit, tak paham.
BB : "Bagaimana burung bisa bahagia kalau masuk ke dalam sangkar?"
Dino-Rex : "Burung di alam liar suatu saat akan mati jatuh ke tanah. Tapi burung di dalam sangkar akan mati di pelukan majikannya. Romantis, kan?"
Seo tersenyum. Rupanya orang ini bukan sekedar orang iseng. Orang ini pandai juga dalam berkata-kata.
Dino-Rex : "Aku menginginkanmu"
"Ingin kamu makan dari telapak tanganku"
"Merawat bulu birumu mu yang indah itu"
"Di dalam sangkarku, aku akan membuatmu bahagia"
Seo tertawa. Orang ini pasti gila.
BB : "Baiklah, aku suka caramu bicara, orang aneh. Kau ingin burung ini melakukan apa?"
BLUE BIRD
"Burung selalu terbang dengan batas ketinggian"
Katekyo Hitman Reborn by Amano Akira
Mata hitam Seo memperhatikan sekelompok gadis-gadis yang duduk di seberangnya. Gadis-gadis itu sepertinya anak-anak elit, dilihat dari seragam sekolah khatolik yang mereka kenakan. Sebenarnya, Seo ingin sekali masuk ke dalam kelompok itu dan ikut mengobrol. Selama ini, Seo kesepian karena teman ngobrolnya hanyalah para mafia psikopat yang membayarnya untuk membunuh orang.
Berbeda dengan toko-toko kebanyakan, Restoran keluarga ini buka nyaris sepanjang hari. Di siang hari, sekitar pukul 2 atau 3 di restoran ini selalu ramai dengan anak-anak yang baru pulang sekolah. Akibat situasi itu, Seo mengembangkan hobi aneh, yaitu menguping pembicaraan anak SMA.
Rasanya nyaman mendengarkan –atau menguping?- obrolan mereka tentang event di sekolah, orang dibenci, orang yang ditaksir, pacar-pacar mereka, maupun topik-topik lain yang terkadang tidak nyambung.
Mungkin obrolan itu kedengarannya sepele. Tapi percayalah, bagi orang yang hidup di dunia kegelapan macam Seo, mendengar obrolan itu terasa bagaikan mendengarkan sabda Tuhan di gereja atau kitab sutra dari Biksu suci. Begitu menenangkan hati.
Tapi seingin apapun Seo ikut-ikutan pembicaraan mereka, Seo tidak mungkin nyambung dengan apapun yang mereka bicarakan. Misalnya saja, tentang curhatan tembak menembak. "Kyaaaa! Tadi aku habis ditembak kakak kelas! Terima nggak ya?" itu adalah bentuk konotasi "menembak" yang umum bagi anak ABG. Nggak mungkin, kan, Seo curhat, "Kyaaa! Tadi aku habis ditembak mafia musuh! Untung aja nggak kena?"
Bisa-bisa Seo dianggap nggak waras.
"Aaah, besok bolos saja yuuuk, malas ikut pelajarannya si botak," sahut salah satu gadis yang kelihatannya pemimpin mereka.
"Bener, tuh! Ah, buat apa sih, fisika? Dasar guru botak!" sahut teman disebelahnya, disusul tawa serempak dari gadis-gadis lain.
Seo menyeruput milkshake-nya sedikit lebih keras. Entah mengapa, kalau sudah menyangkut obrolan sekolah, Seo jadi sangat kesal. Mau tak mau, dia merasa iri pada gadis-gadis itu. Mereka bisa bersekolah, tapi mereka masih saja terus mengeluh menjalaninya. Apa sulitnya duduk manis selama 5 jam di bangku, mendengarkan guru berceramah? Yah, mungkin memang membosankan. Tapi paling tidak jauh lebih baik daripada menghabiskan waktu 5 jam untuk merancang drama pembunuhan dan bagaimana cara melarikan diri dari TKP dengan baik.
Gadis-gadis SMA itu meninggalkan restoran setelah satu jam berlalu. Beberapa dari mereka menatap Seo sekilas, heran dengan gadis yang telah duduk lama tapi hanya memesan segelas parfait tanpa menunjukkan tanda-tanda akan pergi dari situ.
Seo sendiri hanya menatap parfaitnya yang sudah habis. Hanya menyisakan bongkahan-bongkahan kecil es batu yang sebentar lagi juga akan lenyap karena meleleh. Jari telunjuknya menyusuri permukaan gelas yang berembun, menuliskan dua huruf B di atasnya.
"Eh… Permisi?" Seorang lelaki mendekat kepada Seo.
Seo mengangkat wajahnya, mempertemukan pandangan mereka berdua. Sepersekian detik, Seo mengagumi ketampanan pria di hadapannya itu. Pria itu masih muda, dan sangat tampan. Rambutnya pirang, bergaya sedikit berantakan. Dan mata cokelat-nya yang cemerlang menatap Seo lurus. Pria itu seakan-akan baru saja keluar dari majalah mode, dengan pakaian barunya yang mengikuti tren masa kini. Simple namun modis.
Seo mengernyit. Setampan apapun, dia tidak suka didekati laki-laki misterius yang tidak jelas asal usulnya.
"Ya?"
"Uhh… Apakah kau… Blue Bird?"
"Gyaaaaaaaahhh!"
"Ngapain sih?"
"Setreeeeeeeeeeeeeees!"
Seorang polisi wanita muda berwajah Chinese, terkekeh menyaksikan kondisi abnormal sahabatnya.
"Itu! Si setan itu! Memangnya dia pikir dia siapa, hah? Komisaris Jenderal?"
"Inspektur."
"Whateverlah! Komisaris kek. Inspektur kek. Brigadir kek. Memangnya dia punya hak apa? Kita ini anak buah, bukan budak! Huuuaaaa, I-piiiiiiin, rasanya pengen mati aja waktu dimarahin sama diaaaaa," gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, nyaris menangis.
"Sudahlah, Haru. Memang sifatnya begitu. Sudah, sudah," I-pin memeluk Haru, menepuk-nepuk punggungnya lembut. I-pin, gadis berkebangsaan China yang baru saja lulus sebagai polisi termuda, adalah seorang wanita yang kuat dan tegar.
Berbeda dengan Haru, polwan manis berambut cokelat, yang memang feminin dan berhati sensitif.
"Habis… Habis… Sebel bangeet. Aku ingin sekali-"
"-Ingin apa herbivores?"
I-pin dan Haru langsung membeku di tempat duduk mereka.
"P-pak Hibari!"
"Enak sekali kalian santai-santai di sini. Dasar herbivora-herbivora lemah yang tidak berguna!"
Tanpa perlu dikomando, kedua polisi wanita itu langsung mundur teratur, melarikan diri dari atasan mereka yang sedang luar biasa marah.
Sang atasan berambut hitam menatap kepergian mereka dengan tatapan mata yang seakan bisa membunuh. Dia sedang kesal. Benar-benar kesal. Tapi sekesal apapun, rugi kalau dia melampiaskan kemarahannya pada salah satu anak buah. Pekerjaan sedang banyak, dan menghajar anak buahnya berarti sama saja dengan menambah kerjaan.
Tentu saja, hal yang membuat polisi tampan ini marah tak lain dan tak bukan adalah Blue Bird. Hibari tidak terima dan tak pernah mau berkompromi dengan kegagalan. Tapi kali ini dia terbentur tembok yang bernama Blue Bird. Kasus tak terpecahkan.
Penyelidikan apapun, tak pernah membuahkan hasil. Mencari informasi dari para cosa nostra juga mustahil, karena para mafia-mafia itu semakin garang saja merambah dan membuat kekacauan. Lagipula Hibari ragu. Kalaupun ada cosa nostra yang mengetahui identitas BB, pastilah hanya para petinggi mafia maupunpara consigliore –wakil- mereka.
Hah, walaupun Hibari mampu menangkap salah satu petinggi mafia, dia toh tetap tak akan mendapatkan apa-apa. Interogasi macam apapun tak akan mebuahkan hasil. Omerta. Hukum tutup mulut atau mati. Agama yang telah lama dianut oleh para mafia itu. Dan mereka tak main-main dengan hukum. Hukum yang telah sukses membuat kaum penghuni dunia kegelapan itu hidup langgeng di dunia ini.
Hibari kembali ke kantornya dan membanting dirinya sendiri duduk di atas kursi. Suasana kantor sempit yang kekurangan cahaya itu semakin bertambah suram saja.
Jika ada orang yang lewat di depan kantor Hibari, pastilah orang malang itu akan merasakan hawa pembunuh yang luar biasa menyesakkan.
"Chirp,"
Hibari tersentak mendengarkan bunyi kicau burung.
Oh, iya, dia hampir saja lupa.
Mata obsidian Hibari memperhatikan burung kecil berwarna kuning yang sedang berputar-putar riang di dalam sangkarnya.
Burung kuning yang diberikan oleh seorang gadis yang dia bahkan tak tahu namanya.
"Chirp chirp!" burung itu kembali berkicau riang.
Hibari tersenyum sekilas, mendekatkan jarinya ke teralis sangkar dan membiarkan burung itu mematukinya pelan.
"Chirp!"
"….Hibird,"
"Chirp!"
Yah, keimutan Hibird mampu meredakan kemarahan Hibari. Untuk beberapa saat, paling tidak.
"Siapa kau?" Seo bertanya tajam, tatapan matanya seakan menelanjangi pria di hadapannya.
Tentu saja, sang pria itu, tak lain dan tak bukan adalah boss mafia kita , Dino Cavallone.
"Ehh.. Uhm, aku Dino-Rex?"
Eeeeehhh? Orang di chat itu? Tapi orang itu bilang dia adalah boss mafia! Boss mafia! Boss mafia yang tampan dan masih muda? Yang benar saja! Yang seperti itu kan cuma ada di film-film! Roda gigi dalam otak Seo berputar keras.
"Aku tidak kenal," Seo berkata dingin. Kemampuan gadis itu untuk ber-poker face ria memang layak dianugerahi piala Oscar sebagai pemeran bermuka dua.
Dino langsung down. "Ta-tapi, Kemarin BB bilang untuk bertemu di tempat ini. Dan dia akan makan parfait…."
"…. Memangnya kenapa dengan parfait? Dan apa itu BB? Merk ponsel? Aku tak mau bicara dengan orang asing! Dasar aneh"
"A-aku.. H-hei! Aku bukan orang aneh! Hanya saja, aku janjian dengan seseorang di sini!"
Seo memperhatikan Dino. Dan Seo nyaris tak mempercayai matanya sendiri. Gadis itu menyusuri tato di tangan kiri pria itu yang jelas-jelas merupakan lambang Boss Cavallone. Kalau begitu… pria yang ada di hadapannya ini benar-benar boss mafia dari famiglia Cavallone, salah satu famiglia terkuat?
Yang benar saja! Jangan-jangan pria ini hanyalah kamuflase untuk menarik perhatian BB?
Seo memang sempat mendengar desas-desus bahwa pimpinan tertinggi Cavallone adalah pria yang masih muda. Tapi gossip itu hanya dianggap Seo sebagai hoax belaka.
Tapi… tak ada salahnya coba-coba sedikit…
"Alasan! Akhir-akhir ini banyak orang mesum yang mencoba cari-cari kesempatan!" Seo mengacungkan garpunya penuh ancaman, membuat Dino mundur selangkah ke belakang.
"A-aku bukan orang mesum!" teriak Dino dengan wajah memerah. "Mana ada orang mesum ngaku mesum!" balas Seo, dua oktaf lebih tinggi dari teriakan Dino.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian! Pergi atau aku teriak!"
"Tunggu du-"
"Toloooong! Orang ini mesuuum! Dia mencoba mengajakku pergi!" Seo berteriak sekuat tenaga, menarik perhatian seluruh restoran. Dino pucat pasi seketika.
"Apa?"
"Laki-laki rendahan!"
"Sampah masyarakat!"
"Tak bisa dimaafkan!"
Sang Don Cavallone langsung hengkang dari restoran itu sebelum diamuk massa, sementara Seo berjuang sekuat tenaga memasang wajah ketakutan untuk menyembunyikan gelak tawa yang telah ditahannya.
Hei, kapan lagi bisa mengerjai Boss Mafia?
"..."
"Boss..."
Romario bingung harus sedih atau tertawa.
Sedih karena Boss-nya gagal menjalin aliansi dengan Blue Bird. Tertawa karena menyaksikan boss-nya nyaris dirajam massa karena tertuduh sebagai orang mesum.
Yang manapun sebenarnya tidak penting. Karena sekarang, mafia tampan itu sedang tidur-tiduran di sofa ruangannya dengan wajah hopeless.
"Romario…"
"Ya, sir?"
"…. Maafkan aku."
"Kenapa anda minta maaf?"
"A-aku benar-benar tak berguna. Masa gagal bertemu BB hanya karena dikira orang mesum. Salahku juga sih, langsung mendekati anak itu. Habis cuma dia yang kelihatan makan parfait di restoran itu…" Dino bicara lambat-lambat dengan nada yang tak mampu menyembunyikan kekecewaan yang besar. Memang malang nian nasib si pirang itu.
Romario menutup mulutnya, berusaha untuk tidak menertawakan keadaan boss-nya, meminta ijin untuk keluar dari kantor Dino. Romario tak yakin bisa meredam tawa yang sudah siap meledak kapan saja.
Romario meninggalkan Dino yang masih berbaring, merenung. Otak Dino seakan memutar ulang rekaman peristiwa yang baru saja dialaminya.
Dituduh mesum oleh seorang gadis remaja benar-benar pengalaman tak terduga bagiya. Tetapi, Dino tak bisa melupakan sosok gadis itu. Gadis berambut cokelat hazel sebahu. Dengan mata hitam kelam yang seakan-akan menantang, berbalut mini dress putih. Sebenarnya sih, gadis itu tidak cantik-cantik amat. Tidak cantik sama sekali malah, menurut standar Dino.
Hanya saja, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang bisa membuatnya terpaku. Karena gadis itu mengingatkannya pada seseorang. Baik dari tatapan matanya maupun pembawaannya.
Dino mengerang, mengutuki pikirannya sendiri karena berpikiran seperti om-om pedofil.
…. Hei! Tunggu dulu, kenapa dia malah memikirkan gadis itu? Seharusnya dia memikirkan BB! Acara janjiannya dengan BB gagal total. Dan BB pastilah tidak mau lagi bertemu dengannya.
Dino melonjak bangun dan langsung duduk di depan laptop, setengah berdoa agar dia masih bisa menghubungi BB. Benar saja. Tidak ada chat masuk sama sekali. Pastilah BB tak sudi bertemu dengannya karena Dino sudah melanggar janji.
Dino mengacak-acak rambutnya, wajah tampan boss mafia itu seperti akan menangis.
DING!
Dino melirik layar laptop, melihat sebaris kalimat yang sama sekali tak diduganya
BB : "Hei, Dino-Rex. Aku tak tahu kamu ternyata tampan sekali."
Wajah Dino memerah. Dipuji oleh pembunuh bayaran yang tidak jelas identitasnya sebenarnya bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi bolehlah bangga sedikit akan ketampananannya itu. Dino dengan canggung mengetik balasan,
Dino-Rex : "Hai, BB. Kau ada di restoran itu?"
BB: "Dan aku tak tahu ternyata kamu orang mesum"
Dino-Rex : "Mesum? Siapa yang mesum?"
Dino nyaris jatuh dari kursi.
Dino-Rex : "Tidak! Gadis itu salah paham!"
BB: "Makanya, jangan asal mendekati perempuan hanya karena dia makan parfait."
Dino-Rex : "Aku tidak melihatmu…"
BB: "Cari lebih teliti, dong. Payah. "
Dino-Rex : "Mana kutahu T-T."
BB: "Aku tak menyangka, boss famiglia Cavallone masih sangat muda… Baiklah anak muda, kuberi kesempatan sekali lagi."
Dino-Rex : "Sungguh?"
BB: "Menurutmu?"
Dino-Rex : "Bagaimana kalau besok?"
BB : "Boleh"
Dino-Rex : "…. Semudah itu?"
BB : "Aku memang baik."
Dino-Rex : "Orang baik boleh membunuh orang?"
BB : "Mau ketemu atau tidak? Jam 2 besok, di tempat yang sama."
Dan tiba-tiba BB keluar dari chatroom.
Senyum lebar merekah di wajah Dino. Betapa beruntungnya dia karena BB masih mau bertemu dengannya lagi! Tapi Dino sedikit cemas karena pujian BB yang menyebutnya tampan tadi. Bukan tidak mungkin BB ada pria gay yang psikopat. BB mengajaknya ketemuan… Kemudian dia akan mencabik-cabiknya, memutilasinya setelah puas menyiksanya habis-habisan, lalu membuang mayatnya ke laut.
Dino merinding. Fantasinya berkelana terlalu jauh.
Tidak deh, terimakasih. Lebih baik membayangkan BB itu sebagai pembunuh bayaran cantik nan seksi ala wanita-wanita James Bond.
Dan jauh di seberang markas Dino berada, Ardine Oiseau pun juga tersenyum menatap layar laptop.
TO BE CONTINUE
Next Chapter :
Kebahagiaan. Itulah arti namamu.
.
Berikan saja satu dua alasan kenapa aku harus menerima tawaranmu.
.
Berharap mempunya kisah cinta, mungkin itulah jawabannya
.
"Selamat datang, Blue Bird,"
.
Akhirnya update setelah sekian lama! Terimakasih buat semua yang udah baca, ngreview, atau sekedar numpang lewat di fanfic ababil bin ajaib ini. Terimakasiiih!
Di kebanyakan fanart KHR, warna mata Dino jadi biru, padahal official-nya coklat. Yah, nggak begitu masalah sih. Mau mata cokelat, biru, apa pink toh Dino juga tetep cakep *dirajam*
Dino di sini agak OOC karena nggak ceroboh... tapi biarlah :)))
Hmmm... bisa dibilang setting di sini sekitar TYL deh. Tsuna dkk sekitar 25-an. Hibari sekitar 27-an, dan Dino 32-an... Reborn mungkin 40-an? (Percayalha, Aktor Italia umur 50 pun tetep ganteng.)
Seo mungkin 15-20? *gimana sih nggak tau OC nya sendiri* soalnya saya nggak suka terpatok pada angka yang tetap. Lebih asyik kalau reader dibiarkan menebak-nebak. (asal tebakannya nggak terlalu ekstrim)
