Warning : BANYAK OOC, Human Names Used, Blood, Suicide, Lovino's potty mouth, SICK!LOVINO, DARK!ALFRED

Note :

(Kata-kata di dalam kurung yang dimiringkan adalah kenangan si pelaku)

Hati-hati dengan perbedaan antara Al dan Alfred saat di deskripsi atau narasi.

Al dan Alfred berbeda walaupun di kutipan langsung, terkadang Al juga sering dipanggil Alfred.

Al : Alfred yang satu kelas dengan Ryan dan Lovino, Alfred yang muncul dari awal cerita

Alfred : Alfred yang datang dari masa depan dan lebih dewasa dari Al walaupun sebenarnya Al dan Alfred adalah orang yang sama

OC Indonesia : Ryan Satya Nugroho : Raja gombal, fans berat penyanyi Francis Bonnefoy (pasti sudah tau seberapa pervert om Francis ini~), tapi bisa menjadi pribadi yang luar biasa dewasa

Don't Like, Don't Read^^


"Ibu! Itu bunga apa ya bu?"

Seorang wanita berambut pirang ikal itu tersenyum kepada laki-laki kecil yang ada di hadapannya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sebuah pot bunga yang berisikan bunga berwarna putih kemudian tersenyum. "Oh, ini... Leontopodium alpinum."

"Eh? Apa itu?"

"Itu Edelweis, Alfred." Ucap seorang anak kecil beralis tebal yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

"Wah! Arthur hebat~ Ini memang Edelweis." Sang wanita tersenyum kepada anak beralis tebal yang merupakan anak sulungnya itu kemudian mengisyaratkannya untuk ikut bergabung bersama di halaman belakang rumah mereka.

Anak yang bernama Arthur itu berlari ke arah adik dan ibunya kemudian ikut mengamati keindahan bunga Edelweis di hadapan mereka.

"Indah bu!" seru Al girang.

"Haha... Tentu saja~ Ini adalah Edelweis hasil pengembangan dari Institut Agroscope Swiss. Teman ayah ada yang bekerja disana lalu ayah meminta salah satu Edelweis yang berusaha di budidayakan di sana dan memberikannya pada ibu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami."

Arthur memiringkan kepalanya kemudian menatap ibunya yang tersenyum ke arahnya. "Ibu suka Edelweis?"

Sang ibu terkekeh pelan kemudian memeluk kedua anaknya itu. "Suka sekali... Habis kalau melihat Edelweis, ibu jadi selalu terbayang kebahagiaan abadi bersama kalian. Seolah Ibu selalu bisa hidup lebih dan lebih lama lagi..."

Sang ibu tersenyum pilu menatap Edelweis di hadapannya kemudian menundukkan kepala. Baginya, hidup selama waktu yang ia bayangkan itu... tidak mungkin... sekuat apapun ia memohon...

.

"HUWAAA! Bunganya cantik!" ucap Ryan kegirangan begitu melihat buket bunga yang berisikan bunga berwarna putih di tangan Al.

Al terkekeh pelan kemudian tersenyum. "Ini Leontopodium alpinum, bunga keabadian."

"Mau kau berikan pada siapa? Tumben seorang pelumat junk food yang hobi berteriak bahwa dirinya hero berubah sangat romantis seperti ini hahaha..." ucap Lovino yang diselingi gelak tawa mengejek.

"Ah bukan, ini untuk ibu~ Ibu suka sekali bunga ini." Al melihat ke arah jam tangannya kemudian menatap kedua temannya bergantian. "Umm, aku harus pulang nih! Duluan ya! Hero tak boleh membuat ibu khawatir!" Dan dengan itu Al berlari, meninggalkan kedua temannya sambil melambaikan tangan.

Ia sesekali menatap buket bunga yang ada di hadapannya kemudian tersenyum pilu, "Kalau menanam Edelweis yang banyak, ibu pasti bisa bangun kan? Ibu pasti akan sadar kan? Iya kan?"


.

. .

Code of Eternity © KensyEcho

Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya

.

"It's easy to cry when you realize that everyone you love will reject you or die."

.

Inspired by

Vocaloid : Kokoro X Kiseki by Kagamine Twins

. .

.


"Yoo~! Maaf ada sedikit masalah dengan kak Arthie. Sudah lama menunggu?" panggil Al dari dalam sebuah mobil hitam yang berhenti di hadapanku.

"Geez. Brengsek kau! Membuatku menunggu satu jam di tempat ini, shit!" seruku kesal.

Bagaimana tidak! Aku dan Al sudah berjanji bertemu di taman Trivio pukul 2 sore tapi ia baru datang jam 3 sore.

Al tertawa kecil kemudian membukkan pintu mobil itu untukku. "Ayo masuk~"

Dan aku pun masuk ke dalam mobil itu dengan ragu-ragu. Aku mendekap tas hitamku yang berisi 'And' kuat. Sepanjang jalan, Al hanya bersiul riang, selebihnya, kami tak berbicara satu sama lain sedikit pun.

Kami dalam perjalanan menuju laboratorium ayah Al. Perjalanan yang cukup panjang dan...membuatku gelisah. Pasalnya, sepanjang jalan, kami tidak bertemu dengan satu orang pun bahkan tak ada kendaraan lain yang melintas kecuali kendaraan kami. Di sekeliling kami hanya ada pepohonan yang rindang dan tebing. Sungguh. Tak terlihat ada satu rumah pun yang berdiri disekitar jalan itu. Sepertinya kami sudah sangat jauh dari pusat kota Roma. Aneh sekali. Perasaanku tidak nyaman.

("Aku berpikir, kalau yang membuat virus itu adalah manusia itu sendiri, mungkin saja...")

Aku menoleh ke arah Al yang sedang memandang jalanan sambil terus bersiul. Aku mengernyitkan dahiku.

Al sepertinya tahu sesuatu tentang penyakit Feliciana. Aku harus menyelidikinya.

"Tuan Alfred, masuk atau tidak?" tanya supir mobil itu pada Al.

"Masuk saja~" jawab Al singkat.

Aku melihat keluar jendela mobil tersebut. Sebuah pagar berkawat yang sangat tinggi terlihat dari kejauhan melingkari sebuah bangunan berwarna putih yang cukup luas tetapi tidak terlalu tinggi. Mungkin hanya ada dua tingkat disana.

Ketika kami sampai di depan pintu dari pagar berkawat itu, mobil tersebut berhenti sejenak untuk berbicara kepada dua orang yang berjaga disana. Aku tak dapat mendengar apa yang supir itu dan kedua penjaga itu bicarakan. Seolah sengaja agar aku tidak mendengar.

Tak berapa lama kemudian, mobil tersebut pun melaju menuju bangunan utama. Aku melihat ke arah jam tanganku. Pukul 5.30 sore. Wow! Lama sekali perjalanannya!

"Nah~! Lovi sudah sampai~!" ucap Al girang yang membuat tubuhku tersentak seketika. Al membukakan pintu mobil yang tanpa sadar sudah terparkir di sebuah garasi yang sangat luas tetapi sangat gelap kemudian mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

"Hello Alfred~!"

"Hi, little Alfred~!"

Setiap orang berjas putih yang berpapasan dengan kami menyapa Al dengan ramah dan Al membalasnya hanya dengan sebuah lambaian tangan.

Aku menatap ke sekitar ketika mulai memasuki gedung itu dan mataku terbelalak tidak percaya dengan apa yang ada disana. Banyak sekali alat-alat canggih yang tak pernah kulihat sebelumnya. Semua orang di dalam bangunan itu memakai jas putih dan sepertinya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Bangunan itu memang ternyata jauh lebih luas dari yang aku bayangkan. Semua dinding bangunan itu dilapisi metal dan pastinya dipenuhi oleh para ilmuwan hebat. Walaupun jumlah orang di dalam bangunan itu sedikit. Sangat sedikit.

Al kemudian berhenti tiba-tiba yang membuat kepalaku menabrak punggungnya.

"Aww!" erangku pelan.

Al berbalik menghadapku kemudian tersenyum. "Lovino, silakan menunggu disini dulu, nanti aku panggilkan ayah~" ucap Al sambil menunjukkan sebuah ruangan yang seperti ruang tamu di hadapan kami.

Aku mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam ruangan itu.

"Nah Lovino~ Jangan kemana-mana ya~!"

Dan dengan itu, Al menutup pintu ruangan itu dan pergi meninggalkanku.

Aku duduk di sebuah sofa panjang yang ada di sana kemudian mengeluarkan 'And' dari dalam tasku.

Aku menyalakan laptop hitamku itu kemudian membuka sebuah program yang berfungsi sebagai receiver, penangkap radar yang dapat langsung memproses data dan menampilkannya di layar monitor dari sebuah alat kecil yang sudah kuselipkan sebelumnya pada baju Al yang akan mengirimkan gelombang sinyal pada laptopku sehingga aku bisa mengetahui lokasi orang tersebut.

Darimana aku bisa mendapatkannya? Itu adalah teknologi sederhana yang kubuat dari barang-barang elektronik yang sudah tak terpakai. Aku hanya mencontoh barang yang sudah ada.

Aku menatap layar laptopku lekat-lekat dan baru menyadari bahwa anehnya, alat tersebut menunjukkan lokasi yang sama yaitu...

Aku bangkit dari sofa tersebut kemudian melangkah ke arah pintu ruangan itu. Aku merendahkan tubuhku dan mataku memfokuskan setiap sudut tempat di depan pintu itu. Dan benar saja, aku menemukan apa yang kucari. Benda pemancar radar yang kuselipkan pada baju Al kutemukan disana.

Aku menelan ludahku sendiri ketika keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitku.

Dia sudah tahu bahwa aku berniat menyimpan data lokasi dari setiap tempat yang ia lewati di laboratorium ini dengan alat ini. Aku langsung bergegas bangkit kemudian mencoba membuka pintu ruangan tersebut. Dikunci. Sudah kuduga. Laboratorium ini aneh sekali. Mulai dari lokasinya, keadaannya, bahkan para pegawai yang bekerja di dalamnya.

Aku kembali ke sofa panjang tersebut untuk kemudian memasukkan 'And' ke dalam tasku kembali . Kakiku melangkah ke arah pintu tersebut dan kukeluarkan sebuah obeng kecil untuk membuka pintu berwarna jingga itu.

CKLEK– dan pintu itu pun terbuka.

"Kau mau kemana?"

Mataku terbelalak kaget ketika menyadari seseorang tengah berdiri di depan pintu tersebut. Aku mendongakkan kepalaku perlahan dan mataku tak bisa berpaling dari iris emerald yang dimiliki pemuda berambut pirang dan beralis tebal itu. Sekujur tubuhku kaku dibuatnya. Tak bisa bergerak. Bola mata yang menyiratkan kebencian.

Pria itu mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam saku celananya dan mengacungkannya ke arahku untuk kemudian kakiku sontak melarikan diri darinya.

Apa-apaan sorot mata itu!

Kakiku terus berlari dan berlari dan sesekali aku memutar kepalaku ke belakang dan kulihat disana, pria itu masih mengejarku. Anehnya, orang-orang yang kami lewati sama sekali tidak peduli. Sama sekali tak terusik denganku dan pria itu yang terus kejar-kejaran di dalam laboratorium tersebut. Mataku menangkap sebuah ruangan gelap dengan pintu sedikit terbuka di hadapanku dan langsung saja aku menerobos ke dalam dan menahan pintu tersebut kuat-kuat agar pria GILA itu tidak bisa masuk. Pria itu terus menggedor pintu dari ruangan gelap itu tetapi tak kunjung berhasil ia dobrak.

Aku terfokus untuk menahan pintu itu ketika sebuah genangan cairan merembes ke dalam sepatuku, membuatku terusik. Cairan yang sangat kental dan berbau amis.

Jangan-jangan...

Aku mendongakkan kepalaku perlahan dan kedua bola mataku menatap horror ketika menyadari isi ruangan tersebut...

"...AH...HH..." napasku tercekat dan tubuhku hanya bisa berdiri kaku disana.

Mayat yang saling bertumpukan.

Organ tubuh berceceran dimana-mana.

Usus. Jantung. Ginjal.

Bau amis yang memabukkan pikiranku.

"T-Tolong..."

Aku terbangun dari lamunanku ketika aku mendengar suara seseorang yang sangat rapuh dari gelapnya ruangan itu. Kepalaku menoleh perlahan ke arah sumber suara itu ketika kudapati seorang gadis dengan tubuh tercabik-cabik mencoba menggapai tubuhku dengan jari-jari tangannya yang hanya tersisa dua jari.

"..KH..."

Mataku membulat dan kakiku gemetar ketika aku melihat bahwa kedua kaki gadis itu telah terpotong hingga tulang dan dagingnya terlihat, begitu juga dengan mata kanan gadis tersebut yang tertusuk oleh sebilah kayu dan mengeluarkan darah. Darah yang terus mengalir dari mata dan sekujur tubuhnya.

"...T-Tolong aku..."

(...Pada akhirnya, hanya warna merah yang akan kau ingat di dalam ingatanmu. Warna merah yang kau lukis sendiri...)

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA–"


"Ya ampun Lovino~ Aku kira ada apa sampai kau berteriak seperti itu~ Hahaha ternyata..."

Aku menundukkan kepalaku masih dengan napas tersengal dan mata terbelalak.

Aku tak begitu ingat dengan apa yang terjadi setelah aku melihat isi ruangan gelap itu dan berteriak kencang sekali. Saat aku sadar, aku sudah berada di ruangan dengan sofa panjang dimana Al menyuruhku menunggu di sana sebelumnya. Ruangan dengan satu-satunya pintu berwarna jingga.

Pria berambut pirang dengan tangan kanan terbuat dari mesin mendongakkan kepalaku hingga lautan biru laut miliknya bertemu dengan hazel milikku.

"Kau sudah lihat ya~? Apa yang ada dalam ruangan itu~? Indah kan?"

Pria tersebut mendekatkan bibirnya ke telinga kananku yang sensitif hingga aku bisa merasakan napasnya yang hangat menyentuh telinga dan leherku.

"...Lautan darah..."

Sontak aku mendorong tubuhnya dengan kedua tanganku yang diborgol kemudian bangkit dari sofa panjang tempatku duduk itu.

"APA. YANG. KALIAN. MAU. DARIKU!" teriakku marah hingga wajahku berubah merah padam.

Pria berambut pirang itu tertawa. Tertawa kelas sekali. Tawa yang membuat perutku ingin muntah. Aku kembali duduk di sofa itu dan sesekali menarik napas panjang kemudian mengehembuskannya, mencoba menenangkan diri.

Aku harus tenang. Pikiranku harus tetap jernih dalam situasi seperti ini.

Aku menatap dingin pada pria berambut pirang tadi yang masih tertawa dengan puasnya. "Untuk apa kau menghadangku dan Antonio di gang itu beberapa waktu lalu?" aku mengehentikan ucapanku sejenak untuk mengontrol napasku. "...Alfred. Kalau itu memang benar namamu..." lanjutku.

Pria berambut pirang yang sangat mirip dengan Al hanya saja ia terlihat lebih dewasa dengan wajah om-om-nya itu menghentikan tawanya kemudian tersenyum picik ke arahku. "Kenapa tidak memanggilku 'Al' seperti nama panggilan yang kau berikan padanya?" ucapnya seraya menunjuk pria seumuran denganku yang hanya bisa menunduk kaku di tempatnya berdiri dan memiliki wajah identik dengan om-om itu. Al.

"Cih! Persetan aku memanggilmu begitu!"

Pria bernama Alfred itu mengalihkan pandangannya ke arahku kemudian tersenyum. "Kenapa? Apa bedanya aku dan dia? Kami mirip. Sangat mirip kan~? Atau... pria yang disana itu istimewa bagimu ya~?"

"TAK ADA YANG BOLEH MENGANGGAP ALFRED ISTIMEWA KECUALI AKU! HANYA AKU!" seru pria beralis tebal yang sebelumnya mengejarku dengan pisau ditangannya.

Alfred menoleh ke arah pria itu dan menunjukkan senyuman psikopatnya. "Aku sedang berbicara dengannya, jangan menggangguku Arthie~!"

Ar-Arthie? Berarti pria gila beralis tebal itu adalah kakak Al?

Alfred langsung berbalik menatapku lagi dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. "Benar yang baru saja aku katakan ya Lovi–"

"TIDAK USAH BUANG-BUANG WAKTU! JAWAB SAJA PERTANYAANKU!"

Alfred terlihat kaget dengan teriakanku yang tiba-tiba tapi kemudian ia malah terkekeh pelan. "Sebelumnya, perkenalkan dulu. Aku Profesor Alfred F. Jones~! Bedanya aku dengan 'Al' temanmu itu adalah aku merupakan 'Al' yang datang dari masa depan..."

Mataku terbelalak tidak percaya. Apa maksudnya dengan datang dari masa depan?

"Haha.. Kau kira aku anak SD yang dengan mudahnya kau bohongi hah? JAWAB DENGAN SERIUS BRENGSEK!"

"Lovino galak ya~~!" ucapnya diselingi tawa kecil. "Aku serius Lovino~" Alfred berjalan menjauhiku ke arah sofa besar yang ada di hadapanku kemudian duduk di sana dengan kepala bersangga pada tangan kanannya. "Mau bukti? Aku ingat, dulu, kau pernah terpeleset di depan gadis yang kau taksir hingga gadis dan orang-orang disekelilingmu menertawakanmu."

"J-JANGAN INGATKAN AKU TENTANG HAL MEMALUKAN ITU LAGI!" wajahku memerah karena malu ketika Alfred mengingatkanku kembali akan peristiwa MEMALUKAN itu.

Alfred tertawa kecil kemudian tersenyum. "Kau percaya padaku kan sekarang, Lovino?"

Aku tersentak kemudian menundukkan wajahku. Tidak menjawab.

"Ah~ Okay Okay~ Terserah padamu mau percaya atau tidak~ Nah Lovino~ Aku ini datang dari masa yang sama dengan masa dimana AND-01 Zero berasal..."

"Lagi-lagi soal Antonio..." Aku menghela napas panjang kemudian menatap Alfred dengan tatapan serius.

"Sebenarnya siapa kalian dan kenapa kau ingin sekali mendapatkan Antonio..."

Alfred memiringkan kepalanya, "Kau bilang... Antonio? Jadi nama Android itu Antonio? Antonio? Hahaha Kau yakin namanya Antonio!" Alfred tertawa lagi. Kali ini benar-benar tertawa padahal tak ada satupun dari kami yang membuat lelucon. "Aku tidak heran sih kalau ia menamai Android itu Antonio~" lanjutnya.

Apa yang salah dengan nama Antonio?

"Yah Lovi~ Sebenarnya aku jauh-jauh datang dari masa depan untuk mengambil kembali Android itu. Android itu milik temanku~ Temanku sedih sekali karena tiba-tiba Androidnya menghilang dan menyuruhku untuk membawanya pu–"

"Pembohong. Kau sama saja dengan Al. Pembohong."

Al tersentak ketika ia mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan.

"Aku tahu, ada yang tidak beres dengan Al akhir-akhir ini. Hari ini juga. Aku tahu dari awal, dia memang hanya 'mengundangku' untuk datang ke laboratorium aneh ini karena saat ia bertanya pada Ryan, dia bukannya bertanya, 'Ryan, apakah kau ada acara sepulang sekolah nanti?' seperti yang dia tanyakan padaku sebelumnya tapi Al malah bertanya, 'Kalau Ryan? Ada kencan lagi dengan Bella?'" Aku berhenti sejenak kemudian melanjutkan, "Cih. Aku tak sebodoh itu. Android sialan. Sejak dia muncul, orang-orang aneh jadi berdatangan!"

Alfred tersenyum picik, "Kau memang benar. Aku hanya ingin bertemu denganmu~! Aku tak peduli dengan teman-temanmu. Jadi, kau mau berbisnis denganku? Kau sepertinya tidak suka dengan kedatangan AND-01 Zero ya?"

"Memang tidak."

"Jadi... Kalau kau mau memberikan AND-01 Zero dan bekerja sama dengan kami, maka... kami akan memberikan obat dari penyakit adik kesayanganmu itu."

Aku tersentak kaget dan mataku terbelalak hebat mendengar kalimat terakhir yang baru saja dia ucapkan.

"M-Maksud–"

"Kami yang membuat virus itu, mana mungkin kami tidak membuat obatnya... Kalau virus itu menyebar sampai ke lingkungan kami, kan kami juga yang repot nantinya..."

Kepalaku... tak dapat berpikir jernih...

Apa... Apa maksudnya... ini...

("Aku berpikir, kalau yang membuat virus itu adalah manusia itu sendiri, mungkin saja...")

Tubuhku gemetar, keringat dingin mulai mengucur dari sekujur tubuhku.

"...pa...hh..."

("Atau... memang hanya perusahaan yang menciptakannyalah yang tahu obatnya?")

Aku mendongakkan kepalaku perlahan masih dengan kedua mata membelalak.

"...kenapa...?"

"Gampang saja. Untuk memusnahakan manusia tidak berguna. Khususnya ras kulit hitam. Orang miskin yang sangat menyusahkan dan kelompok-kelompok manusia yang hanya bisa menjadi sarang penyakit bagi era modern seperti ini dimana sumber daya alam sangat terbatas." jawab Alfred dengan nada tenang dan seenaknya.

"Tapi Feli sama sekali tidak ada dalam kriteria yang telah kau sebutkan! Tapi kenapa!" seruku kesal, marah, sekaligus... kecewa.

"Kalau sasarannya terlalu sesuai dengan yang kami harapkan, dunia bisa tahu kalau memang virus itu sengaja dibuat untuk memusnahkan kelompok tertentu. Jadi... Maaf ya... Feliciana jadi korban untuk menutupi tujuan kami itu."

"BRENGSEK! KALIAN JAHAT! KUBUNUH KALIAN! KUBUNUH KALIAN!"

Alfred menatap tingkahku yang sudah membabi buta dengan tatapan dingin. "Pegangi dia."

Dan dengan itu, dua orang ilmuwan yang ada di dalam ruangan itu memegangi kedua tanganku hingga aku tak bisa bergerak.

"LEPASKAN! LEPASKAN BASTARD!"

Alfred bangkit dari kursinya kemudian berjalan ke arahku. Ia merendahkan tubuhnya hingga mata kami saling bertemu.

"Hey, kuberi waktu kau 3 hari untuk menjawab permintaanku tadi. Kalau dalam waktu 3 hari kau tidak juga menjawabnya atau malah menolaknya, kami tidak segan-segan untuk mengambil Feli dan menjadikan Feli sebagai kelinci percobaan kami sama seperti kumpulan mayat yang kau lihat di ruangan gelap tadi." Alfred menghentikan sejenak kalimatnya kemudian melanjutkan, "Dan... kalau kau sampai membocorkan semua yang telah aku ucapkan tadi, virus kami yang lebih mematikan lagi akan masuk ke dalam tubuhmu, tubuh semua anggota keluargamu, bahkan teman-temanmu... atau... kami akan langsung membunuhmu. Mudah kan?"

Aku mulai mencoba menenangkan diri dan mulai mendengarkan kata-katanya. "...Kenapa mau bekerja sama denganku? Aku tak punya apa-apa..."

Alfred tersenyum, "Kau punya Lovi..." Alfred mengangkat tangannya kemudian mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada kepalanya. "Kau punya otak yang hebat. Kau masih SMP dan sudah bisa membuat teknologi sederhana. Bagaimana kalau kau sudah dewasa? Lagipula, kami mendapatkanmu karena kau sudah tahu rahasia kami."

Aku menghela naps berat dan menundukkan kepalaku. "...Dan apa yang Antonio punya sehingga kalian begitu menginginkannya..?"

Alfred pun tertawa mendengar pertanyaanku, "Hahaha... Lovi~ Mana mungkin kami katakan~!" Alfred terus tertawa dan berangsur-angsur semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa. Hingga kedua telingaku hanya terisi oleh tawa mereka.

"Oh iya, Lovi~ VS-Detector-nya untuk kami ya~? Kau membuat VS-Detector bersama Al kan? Jadi Al punya hak untuk memintanya dong~ Ah bukan, sebenarnya itu permintaan organisasi untuk dibantu membuatkan alat itu~ Rancangannya dari organisasi dan kau yang membuatnya..."

"Terserah. Aku tak peduli." ucapku dingin.

"Wah~ Lovi baik sekali yaa~" ucap Alfred riang.

Aku menundukkan kepala dan menatap kosong pada ujung sepatuku...

Aku... mau pulang.


"AKH–"

"Kau katakan pada mereka?"

Aku membuka sebelah mataku yang tidak dialiri darah. Mencoba mengintip ekspresi pria di depanku yang mengangkatku ke atas dengan sebelah tangannya yang mengangkat kerah bajuku dan tangan yang lain yang mengepal, terangkat tinggi di udara.

"HAHAHAHAHA!" Tawaku keras dengan nada mengejeknya dan dengan itu, dia memukulku lagi dan melemparkanku ke dinding yang berlawanan.

Suara benturan keras sekali terdengar ketika kepalu membentur dinding yang ada di belakangku. Aku tersenyum lagi. "...pukul saja. BUNUH SAJA AKU SEKALIAN!"

Dan dengan itu, pria itu menendang perutku beberapa kali kemudian meninggalkanku terkulai tak berdaya disana.

Aku membiarkan tubuhku terlentang seperti itu di lantai. Dan menatap kosong pada jendela yang menyajikan langit hitam.

Setelah itu, Alfred membiarkanku meninggalkan laboratorium itu, bahkan mobil Al mengantarku sampai depan rumah. Belum sempat aku mendinginkan kepala, mencoba memproses kenyataan yang benar-benar menyesakkan, pria itu sudah lebih dulu menghantamku di kamarku yang dibiarkan gelap, tanpa lampu menyala. Pukulan kali ini lebih parah dari biasanya hingga kepalaku berdarah. Darah yang menetes melewati mataku.

Darah...

("Tolong...")

Aku tertawa kecil mengingat gadis malang yang kutemui di ruangan gelap laboratorium itu. Kata-kata yang terus terngiang di kepalaku, ingatan yang takkan pernah bisa kulupakan bagaikan roll film yang terus berputar di kepalaku. Kata-katanya. Semuanya.

Aku terus tertawa seperti itu. Terus tertawa dan tersenyum. Berarti aku senang kan? Ya kan?

Tapi kenapa, air mataku terus tumpah membasahi wajahku yang sudah terkotori oleh darah segarku sendiri. Kenapa? Kenapa!

Oh mungkin karena sebenarnya aku takut. Karena sebenarnya aku itu pengecut. Aku berusaha kuat disana, berusaha agar tidak terlihat takut sedikit pun. Berusaha sedingin es. Berusaha tegar walau apapun yang terjadi dengan hidupku, dengan diriku. Seperti halnya selama ini. Di setiap detik kehidupan yang kujalani. Aku berusaha tegar.

Tapi sebenarnya...

Aku takut...

Aku takut sekali...

Kakiku tak mau berhenti bergetar...

Dan air mataku, tak mau berhenti mengalir...


"Jarang sekali lho Lovi tidak masuk sekolah~ Ada apa ya~?" ucap Ryan sambil membereskan buku-bukunya yang tergeletak di atas meja.

Al tersenyum kaku sambil ikut membereskan buku-bukunya. "...Ahaha, aku tidak tahu~"

Ryan mengangguk pelan. "Coba kutanyakan pada Antonio ya?" Ryan mengalihkan pandangannya pada Al. "Kau mau ikut? Menemui Antonio~?"

"Aku ada urusan sepulang sekolah, jadi harus cepat-sepat pulang~ Tolong sampaikan salamku pada Antonio dan Lovi saja ya~" ucap Al sambil bergegas pergi dari kelas itu.

Al baru saja akan meninggalkan kelas ketika tangan Ryan tiba-tiba menyentuh pundaknya yang membuat tubuh Al tersentak. Al membalikkan badannya ketika ia dapati tatapan serius dari wajah Ryan yang sangat langka ia lihat.

"Kau... tidak bertengkar dengannya kan? Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?"

Alfred menggeleng cepat. "Tentu saja tidak! Mana mungkin! Akhir-akhir ini, aku memang sibuk membantu ayah. Maaf ya..."

Ryan tersenyum lebar, "Tak apa... Kalau begitu sampai jumpa~"

Al membalas senyuman itu dengan sebuah senyuman yang menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Sampai jumpa...

...teman..."


Begitu masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dalam laboratorium itu, ia langsung membanting tas sekolahnya dan berjalan ke arah Alfred yang sedang sibuk di depan komputer hologram miliknya.

"Ada apa Al?" tanya Alfred dengan nada malas.

Al menghentikan langkahnya ketika sudah berjarak dua meter di belakang Alfred. Al menatap dingin pada punggung Alfred yang berbalutkan jas putih. "Kenapa kau membuat kesepakatan seperti itu dengan Lovino?"

"Hmm? Kau tidak suka?" tanya Alfred tanpa menghentikan pekerjaannya.

"Aku tak suka kau datang kesini."

Kali ini Alfred menghentikan pekerjaannya kemudian membalikkan tubuh dan menatap Alfred dengan tatapan hangat. "Tapi ayahmu senang sekali lho kau dari masa depan datang berkunjung~!"

Al mengernyitkan dahinya. "Kau terlalu ikut campur dengan organisasi. Walaupun kau datang dari masa depan dan juga ikut dalam proyek organisasi yang sama denganku."

"Kenapa kau Al, kau takut? Bukannya awalnya kau memang sengaja mendekati Lovino agar bisa menyebarkan virus itu pada tubuh seorang bocah yang selalu duduk di pojokan tapi malah memasukkan virus itu pada tubuh adiknya, Feliciana?"

Al tersentak dengan semua kenyataan yang diucapkan Alfred.

"Atau.. jangan-jangan, kau sudah lupa dengan tujuan awalmu mau mengotori tanganmu dengan darah manusia setiap harinya dan ikut dalam proyek ini?"

Al menundukkan kepalanya, kedua matanya membulat menatap ujung sepatunya.

Senyum di wajah Alfred sirna seketika. "Jadi benar? Kau terlalu keasyikan bermain dengan hal tidak berguna macam pertemanan dengan mereka berdua."

Al hanya berdiri kaku disana. Tidak menjawab. Bukan, ia tidak sanggup untuk menjawab.

"Leontopodium alpinum"

Kali ini Al berani untuk menatap wajah Alfred yang menunjukkan senyum hangat pada Al.

"Kalau kau lupa, ingat saja kata itu. Aku juga begitu. Dulu aku juga terlalu menyayangi pertemananku dengan Lovi dan Ryan. Tapi itu dulu lho~ Semakin dewasa, aku semakin mengerti bahwa hal seperti itu sangat tidak penting~!"

Al menghela napas panjang kemudian menatap dingin pada Alfred. "Tetap saja, kau kelewatan dengan Lovino!"

"Ya ampun... Al, kau hidup untuk dirimu sendiri, untuk apa mengkhawatirkan teman? Manfaatkanlah apa yang bisa kau manfaatkan sebanyak mungkin untuk hidupmu! Ketika kau sudah dewasa nanti, kau akan mengerti dengan kata-kataku ini dan kau akan berterima kasih padaku karena telah mengingatkanmu~"

Al menendang sebuah meja kecil yang ada di sampingnya hingga vas bunga yang ada di atasnya jatuh dan pecah.

"Aku tidak akan pernah setuju dengan rencanamu. Aku akan terus mengawasimu."

Al bergegas untuk keluar dari ruangan itu ketika ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu keluar. "Dan satu hal lagi. Jangan pernah memanggilku 'Al'. Hanya mereka berdua saja yang boleh memanggilku begitu"

Dan dengan itu, Al pergi meninggalkan ruangan itu.

Alfred terdiam kaku di kursinya sambil mengerjapkan matanya berulang kali.

"Hahaha..." tawanya pelan. "Aku tak menyangka diriku yang dulu sangat lemah begitu. Untung saja aku cepat-cepat menyadari bahwa kenyataannya, tak ada satu pun yang abadi..."

Alfred menundukkan kepalanya. "Bahkan mereka yang awalnya kupercayai..."


"Master? Master sakit? Master sakit?"

Aku menggeratakkan gigi-gigiku sambil menutup kedua telingaku dengan telapak tanganku.

"Berisik kau pergi sana!" seruku geram.

Dari pagi, Antonio tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk pintu kamarku yang kukunci. Dia juga terus meneriakkan kata-kata yang sama. Membuat kepalaku makin penat dibuatnya.

Aku menyembunyikan seluruh badanku di bawah selimut. Dari sejak aku bangun, aku langsung mengobati lukaku dan terus meringkuk disana. Kepalaku sakit sekali dan kedua mataku bengkak karena aku terus-menerus menangis sepanjang malam.

Oiya, hari ini aku tidak sekolah. Bukan hanya karena wajahku yang mungkin terlihat seperti zombie saat ini, tapi juga karena aku malas kalau harus bertemu dengan si brengsek Al.

Ketika kudengar Antonio berhenti memanggil-manggil dari luar pintu, aku langsung berusaha bangkit dari tempat tidurku. Aku mengalihkan pandanganku perlahan pada tas hitamku yang berisi 'And'. Sejak aku meninggalkan laboratorium itu, aku tak juga membuka 'And'.

Aku mencoba meraih tas hitam yang ada di atas sebuah meja kecil di samping tempat tidurku.

Ku keluarkan 'And' dari sana dan kunyalakan 'dia'.

Mataku terbelalak tidak percaya ketika aku melihat monitor laptopku. Hanya ada beberapa shorcut utama. Tapi... kemana semua shorcut programku?

Aku terus menelusuri semua folder yang tersimpan disana tapi tak kunjung menemukan simpanan file programku atau file-file lain.

Kegelisahan mulai menjalari seluruh tubuhku ketika aku menyadari hal terburuk dari yang terburuk yang terjadi.

Saat aku berbicara dengan Alfred, mungkin ada yang mengacak-acak dan menghapus seisi laptopku.

"...Ah! Sial!"

Benar-benar tidak tersisa satu pun.

Tubuhku langsung lemas seketika di depan laptopku. Bodohnya, kenapa juga aku membawa 'And' kesana!

-You Got A Mail-

Aku mengerjapkan mataku ketika aku melihat monitor laptopku yang menampilkan sebuah icon pesan. Aku mengernyitkan dahiku, ragu-ragu untuk membuka.

Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya kubuka juga e-mail itu.

.

Alfred Fucking Jones

Subject : Warning

One Day Left.

.

"Brengsek! Aku tahu itu..."

Aku memeluk kedua lututku di depan dada dan menyembunyikan wajahku.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

(...One Day Left...)

Aku tak bisa semudah itu mengikuti permintaan mereka, menyerahkan Antonio dan bekerja sama dengan mereka. Atau, aku membiarkan Feliciana dibawa oleh mereka.

Mereka serius. Aku tahu itu.

Tujuan utama Alfred sebenarnya hanyalah Antonio. Entah apa yang dimiliki android idiot itu hingga Alfred bersikeras mendapatkannya. Tapi Antonio menganggapku sebagai masternya yang artinya, aku adalah pemilik Antonio. Mereka tidak mau mengambil resiko. Antonio itu android. Tidak mungkin tidak dilengkapi sesuatu yang bisa melindungi diri. Makanya dia menjebakku untuk ikut dalam permainan mereka yang kebetulan juga, salah satu korban dari virus mereka adalah adikku sendiri. Ingin bekerja sama denganku hanyalah alasan belaka agar mereka bisa dengan mudah mengawasiku. Kalau pun aku menuruti permintaan mereka, bukan mustahil mereka melanggar janji dan langsung membunuhku, membuatnya seolah itu bukanlah kasus pembunuhan. Organisasi seperti mereka pasti dilindungi oleh organisasi lain yang memiliki wewenang lebih...

Aku menghela napas panjang kemudian mengakses internet dari laptopku. Aku mulai mengetikkan sebuah alamat situs yang mengantarkanku pada sebuah website berita yang mencakup berita dari seluruh dunia. Aku terbiasa melakukan ini setiap hari. Aku lebih suka membaca berita dari website internet, daripada dari televisi.

Di halaman utama website itu, terpampang besar judul yang berhasil membuatku tercengang.

.

Buruh Tani Nairobi Meninggal Akibat Penyakit Aneh

Nairobi, Kenya –Tabansi, seorang pria berumur 32 tahun yang sehari-harinya berprofesi sebagai buruh tani ditemukan terkulai tak berdaya di rumahnya di Nairobi, Kenya, Senin, 15 Maret 2089, setelah sebelumnya diketahui bahwa dirinya sudah lama mengidap sebuah penyakit aneh. Menurut kesaksian istri Tabansi, Kanika Judith, Tabansi mulai diketahui mengidap sebuah penyakit aneh dua tahun yang lalu. Awalnya memang hanya batuk-batuk ringan sampai akhirnya batuk itu semakin parah dan berubah menjadi batuk berdarah dan kulit Tabansi semakin membiru. Tabansi pernah memeriksakan penyakitnya itu ke dokter dan menurut dokter, sebuah virus jenis baru telah menyerang tubuh Tabansi. "Saya belum pernah menemukan virus jenis ini sebelumnya. Ini adalah penyakit langka." Kata dokter Mablevi Paco yang pernah memeriksa Tabansi.

.

Aku mengernyitkan dahiku ketika membaca tiap kata yang tertulis dalam berita itu.

Tidak salah lagi. Ciri-cirinya sama seperti penyakit yang diderita Feliciana.

Aku menghela napas berat untuk kemudian menutup laptop hitamku dan meletakkannya di atas meja.

TOK TOK– "Lovi~"

Aku tersentak ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku berjalan ke arah pintu itu kemudian berhenti tepat di depan pintu itu.

"Untuk apa kau datang Ryan?" ucapku dengan nada setenang mungkin kepada seseorang yang kukenali suaranya di balik pintu itu. Ryan.

"Boleh aku masuk Lovi~? Ayah Lovi sedang tak ada disini jadi tak apa kalau kau buka pintunya~! Aku takkan mengganggu~ Aku janji~"

Aku terdiam sejenak di tempatku berdiri untuk kemudian membuka pintu itu sedikit untuk mendapati tatapan horror dari wajah Ryan. "Masuklah." ucapku lirih.

"E-EH! Kenapa dengan kepalamu itu Lovi! Dan wajahmu! Kusut seka–"

"Cepat masuk atau tidak sama sekali." seruku dingin.

Ryan mengangguk cepat kemudian menahan gagang pintu kamarku agar aku tidak menutupnya kembali. "O-Ok Lovi~! A-Aku masuk!"

Aku langsung bergegas menutup pintu dan menguncinya segera setelah Ryan masuk ke kamarku.

Ryan menatap ke sekeliling kamarku. Entah apa yang dia cari atau perhatikan. Aku duduk di sebuah kursi di depan laptopku dan hanya memperhatikan gelagat Ryan dari sana.

"E-E, ini pertama kalinya aku masuk ke kamarmu lho Lovi~ Kamarmu benar-benar rapi! Tidak seperti kamar anak laki-laki~!" ucap Ryan sambil terus melemparkan pandangan ke sekitar kamar kecilku itu.

"Hmm? Memangnya semua kamar anak laki-laki harus berantakan?"

"Kali ini Ryan menoleh ke arahku, "Ee... Ti-Tidak begitu juga..." Ryan mengambil tempat di atas tempat tidurku untuk duduk tetapi kedua matanya masih tetap menerawang ke sekitar. "Banyak barang-barang aneh disini~!"

"Namanya teknologi, bodoh. Kau hidup di jaman kapan? Bahkan anak SD pun sudah mempunyai komputer hologram jaman sekarang! Anak SD pun sudah diajari teknik elektro sederhana, dude."

Ryan hanya tersenyum mendengar pernyataanku. "Di Eropa mungkin iya, tapi di negara asalku, masih belum. Maksudku, belum se-modern di sini~!"

Aku memiringkan kepalaku kemudian tersenyum ke arah Ryan yeng terlihat sangat terkesan dengan berbagai teknologi sederhana yang kupajang di kamarku dan kubuat sendiri.

"Jadi... Lovi~"

Suara Ryan membuatku tersadar dari lamunanku.

"Kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini? Aku dan Al, juga Antonio sangat khawatir. Kata Tonio, kau terus mengurung diri di kamar sepanjang hari." Ucap Ryan dengan menampilkan wajah simpatik.

Aku menghela napas panjang dan mengalihkan pandanganku ke arah yang lain. "Aku tidak apa-apa."

"Jangan bohong Lovi~! Kau lebih diam dari biasanya."

"Memangnya tidak boleh?"

Ryan terlihat tersentak dengan kata-kataku kemudian mengehela napas sambil terus tersenyum ke arahku. Sesaat hanya sunyi yang mengisi ruangan kecil itu. Tak ada dari kami yang berbicara.

"Master sakit?"

Aku tersentak kemudian menoleh ke arah Ryan.

"Antonio bertanya begitu padaku. Dia itu lucu sekali~! Sangat perhatian padamu Lovi~" ucap Ryan sambil terkekeh pelan.

Aku menundukkan kepalaku. Teringat akan suatu kalimat yang ditanyakan Alfred padaku...

("...Kau sepertinya tidak suka dengan kedatangan AND-01 Zero ya?")

Aku memejamkan kedua mataku sejenak.

("Memang tidak.")

"Kau tahu Lovi~ Antonio belajar banyak hal. Dia berubah menjadi seseorang yang bisa membuatmu tersenyum. Hanya untuk Lovi lho~"

Aku membuka mataku seketika kemudian menatap kedua bola mata coklat milik Ryan. "Oh ya?"

Apapun yang dibilang Al tentang android error-super idiot itu, pemikiranku tentang Antonio takkan pernah berubah.

Walaupun awalnya aku senang bisa bertemu sebuah android asli bahkan bisa menelitinya sesukaku. Tapi, kalau akhirnya seperti ini, Antonio tak lebih hanya sebagai robot yang menyusahkan saja...

"Jadi Lovi~ Kau harus bersikap lebih baik pada Antonio~ Ok~?"

Aku mengangguk pelan. Tapi sebenarnya aku berbohong.

"Ah~ Anak pintar~!"

Kali ini pikiranku benar-benar telah sadar sepenuhnya ketika Ryan bangkit dan mengacak-acak rambutku.

"KAU KIRA AKU ANAK KE–"

Kalimatku berhenti seketika ketika aku merasakan getaran hebat dari pijakanku. Semua benda yang ada di dalam ruangan itu bergetar.

Gempa?

"Lovi~! Lihat kesini!"

Aku mengalihkan pandanganku ke arah balkon tempat Ryan berada saat ini. Aku berusaha berdiri ketika kekuatan getarannya sudah mulai berkurang. Aku berjalan ke arah Ryan dan melihat ke arah yang dilihat oleh mata Ryan. Sebuah bangunan tinggi berjajar yang tak jauh dari rumahku.

"...Lovi~ Aku yang sedang pusing atau bangunannya–"

"Aku juga lihat. Bangunannya, seperti bengkok-bengkok tak beraturan begitu kan? Seolah Bangunannya bergoyang."

Apa ini?

"Ada apa ya Lovi~?"

Aku terus terdiam terpaku di tempat itu sampai bangunan itu terlihat berbentuk tegak lurus kembali dan getarannya hilang, mencoba memikirkan penyebab terjadinya fenomena langka itu.


Hari ini akhirnya aku memutuskan untuk masuk sekolah. Aku tidak mau dibilang pengecut yang tidak sekolah hanya gara-gara kejadian di laboratorium Al.

Kemarin, akhirnya aku dan Ryan pergi berkunjung ke rumah sakit tempat Feliciana dirawat. Antonio aku suruh untuk menjaga rumah. Aku khawatir bila android sepertinya sering berkeliaran di kota. Mungkin, setelah ini pun aku akan mengunjungi Feliciana sesering mungkin. Aku khawatir, Alfred akan melakukan sesuatu pada Feliciana, tapi ternyata tidak, ya, setidaknya belum. Feliciana baik-baik saja dan terlihat senang dengan kedatanganku dan Ryan. Ketika aku datang, pria itu ada disana dan langsung saja ia beralasan untuk pergi keluar. Jadi, aku punya waktu bertiga saja dengan Ryan dan Feliciana.

Nah, sepanjang jalanku di lorong 'Hetalia Academy', semua orang disekelilingku menatapku seperti aku ini alien dari planet mana. Aku tak peduli dengan tatapan mereka. Aku sudah berusaha menjadi Lovino yang biasanya.

"Lovi~! Akhirnya kau masuk sekolah!" Ketika aku melangkahkan kakiku ke dalam kelas, tiba-tiba aku sudah disambut oleh pelukan Ryan.

"Le-Lepaskan aku pervert!"

"Ah!" Ryan melepaskan pelukannya perlahan kemudian menatapku dengan puppy face-nya. "Lovi, jahat sekali mengatakan aku pervert~~!"

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat 'penyakit' Ryan yang sepertinya kambuh lagi.

"Eh Lovi~ Cita-citamu ingin menjadi dokter ya~?"

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, "Si-Siapa juga yang–"

"Bilang saja iya~~"

Aku menghela napas sebelum akhirnya aku katakan juga, "Iya, memangnya kenapa?"

"Karena Lovi~ Telah mengobati kerinduan hatiku~!"

Aku merasakan seluruh wajahku memerah saat ini, "R-RYAN!" teriakku di depan wajah Ryan yang hanya ia balas dengan tawa.

"Yo~! Good Morning All~! Apakah aku ketinggalan sesuatu?" ucap Al yang tiba-tiba datang dari balik pintu kelas.

"Yo Al~! Sini-sini~! Lihat! Lovi sudah masuk sekolah!" seru Ryan girang sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Al.

Duh...

Aku terus menghadap ke arah Ryan. Aku malas harus berpapasan wajah dengan Al.

Aku merasakan langkah kaki Al semakin mendekat dan tubuhku bergetar seketika ketika aku merasakan sebuah tangan menyentuh bahuku.

"Jangan sentuh!" Aku sontak langsung menampis tangan tersebut dan memberikan death glare-ku pada Al yang saat itu terkejut dengan aksiku yang tiba-tiba.

"H-Hei Lovi–"

"Jangan sentuh! Kau dengar aku bastard!"

Dan dengan itu, aku langsung pergi ke bangkuku yang berada di pojokan dan langsung menyibukkan diri dengan sebuah buku Fisika tebal.

Al menundukkan kepalanya kemudian memukul dahinya pelan. "Ah..."

"Ada apa sih? Lovi sepertinya marah denganmu!" ucap Ryan menebak-nebak.

Al mengalihkan pandangannya dan hanya terdiam terpaku disana.

Saat itu aku tahu. Pertemanan atau mungkin persahabatan kami takkan pernah sama seperti dulu lagi. Takkan pernah.


Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit tempat Feliciana dirawat dengan kepala tertunduk dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celanaku. Aku bingung harus bagaimana. Ketika pulang sekolah tadi, orang-orang utusan laboratorium Al sudah berkeliaran dimana-mana, disekitar jalan yang kususuri. Semuanya benar-benar jadi gawat. Sebentar lagi hari yang ditentukan pun tiba...

Apa, sebaiknya turuti ikuti kata-kata mereka saja ya?

Aku tersadar dari alam pikiranku sendiri ketika aku mendengar suara rusuh datang dari para perawat yang baru saja keluar dari kamar... Feliciana?

Aku langsung bergegas mengikuti para perawat tersebut yang membawa Feliciana ke dalam ruangan yang lain bertuliskan 'Emergency Room'. Saat aku hendak masuk ke dalam ruangan itu, pintu ruangan itu langsung tertutup dan seorang perawat langsung meraih tanganku. Aku menoleh ke arah perawat itu yang menampilkan wajah khawatir.

"A-Apa yang terjadi dengan Feli!" seruku panik.

Perawat itu menahan berat tubuhku dan berusaha menenangkanku. "Nona Feliciana tiba-tiba saja sesak napas dan denyut jantungnya makin melemah lalu, nona Feliciana tak sadarkan diri."

Tubuhku serasa mati rasa saat itu.

(..."Kata dokter pagi ini, hidupku... takkan bertahan sampai bulan depan...")

"Fe..li...hh..."

Mataku menatap kosong pada perawat itu sampai akhirnya kegelapan mulai merasuki pikiranku.


Alfred Fucking Jones

Subject : Warning

Two Days Left.


Ruangan itu berisi buku-buku yang banyak sekali. Tidak hanya berisi buku-buku tentang Virologi, ada juga buku tentang Ekologi, dan masih banyak lagi. Baginya, perpustakaan di 'VA-07 Laboratory' adalah yang terbaik. 'VA-07 Laboratory' yang berarti 'Virology Analitical no. 7 Laboratory' adalah sebuah laboratorium ilegal milik sebuah organisasi ternama di dunia yang dibentuk untuk meneliti dan menciptakan virus baru untuk manusia. Laboratorium dimana keluarga Al bekerja.

Al sangat suka berlama-lama berada di laboratorium itu, apalagi di perpustakaannya. Al lebih banyak belajar dari sana dari pada dari sekolah. Ia bisa menghabiskan waktu seharian untuk membaca buku disana.

Al mengambil sebuah buku tanpa judul yang menarik perhatiannya dari deretan buku tentang Virologi. Anehnya, hanya buku itu yang tidak berjudul dan ber-cover polos.

Rasa penasaran yang menyeruak ke sekujur tubuhnya membuatnya memutuskan untuk membuka lembaran demi lembaran buku tersebut.

"Buku apa ini?" ucapnya pada diri sendiri.

Matanya berhenti pada sebuah halaman yang berada di tengah-tengah buku yang berisikan nama, umur, dan tanggal tersebut. Seperti sebuah dokumen kalau Al bisa bilang. Ia awalnya hanya membaca sepintas deretan nama itu sampai akhirnya ia menemukan sebuah nama yang ia kenal di sana, yang membuatnya bertanya-tanya.

Dan membuat tubuhnya kaku seketika.

.

07. Rosetta Kirkland (LAV-01)

Born : February 15th 2049

Age : 39

Date Start : 15/07/2078

Date End : 12/11/2088

.

"...Kenapa...?"

Al merasakan seluruh tubuhnya gemetar hingga buku yang ada di tangannya itu jatuh ke depan kakinya. Napasnya tercekat dan tubuhnya melemas mengingat apa yang baru saja ia baca dalam buku itu hingga tubuhnya terjatuh di sebuah sofa tua di perpustakaan itu.

"Kenapa... nama ibu, tanggal kelahiran, bahkan tanggal kematian ibu ada di situ...? ...Di buku... tentang virologi..."

Al menghela napas berat sambil berusaha menenangkan diri. Ia beberapa kali menelan ludahnya sendiri ketika ia mencoba untuk menatap halaman yang terbuka dari buku yang ia jatuhkan. Halaman berbeda dari bahasan yang sama. Ketika ia menemukan nama lain dari orang yang ia kenal.

.

57. Feliciana Vargas (LAV-06)

Born : March 17th 2078

Age :

Date Start : 25/05/2085

Date End :

58. Tabansi (LAV-08)

Born : January 23th 2057

Age : 32

Date Start : 17/01/2087

Date End : 15/03/2089

.

Tanpa berpikir panjang, Al langsung berlari ke luar perpustakaan itu sambil membawa buku tanpa judul itu di tangannya. Ia berlari menerobos orang-orang yang ada di sekitar jalan yang ia lewati. Walaupun orang-orang itu menyapanya, ia tak memperdulikannya.

Ia berhenti di sebuah pintu yang tak berbeda dengan pintu lainnya. Ia mengatur napasnya sejenak sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruangan itu.

"Alfred, ketuk pintu dulu baru–"

Al membanting buku itu ke atas meja di hadapan seorang pria berambut pirang yang mempunyai wajah mirip dengan Al, hingga pria tersebut tersentak.

"Apa maksudnya catatan ini?" seru Al dengan nada setenang mungkin walaupun terdengar jelas dari nadanya bahwa dia marah.

Pria itu mengalihkan pandangannya pada halaman yang dibuka oleh Al. Tanpa harus ia baca isinya, ia sudah tahu, apa yang tertulis di halaman itu.

"LAV..." Al menghentikan kalimatnya sejenak untuk mengatur napas dan kemudian ia lanjutkan. "LAV ITU VIRUS YANG DIBUAT OLEH VA-07 LABORATORY KAN! DAN DISINI TERTULIS NAMA FELICIANA BERSERTA TIPE VIRUS DAN TANGGAL DI MASUKKANNYA VIRUS TERSEBUT! AKU TAHU ITU KARENA AKU SENDIRI YANG MERENCANAKAN PEMASUKKAN VIRUS ITU KE DALAM TUBUHNYA DAN..." Wajah Al memerah seketika dan air mata sudah menumpuk di pelupuk kedua matanya tapi ia berusaha untuk menahannya.

"KENAPA ADA NAMA IBU DI CATATAN INI!" Kali ini Al berteriak lebih keras dari sebelumnya hingga air matanya akhirnya membanjir keluar.

Pria itu hanya terdiam mendengar kalimat Al dan mencoba sebisa mungkin mengalihkan pandangannya dari Al.

"Ayah... AYAH JAWAB AKU–"

"Alfred."

Al mengalihkan pandangannya ke arah Alfred yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menyiratkan ekspresi sedih dari wajahnya.

"Jangan mengganggu tuan Jones disini... Biar aku yang jelaskan." Ucap Alfred dengan nada setenang mungkin.

"Hey... I'M NOT TALKING WITH YOU BUT WITH THIS GUY! JUST GO AWAY!" seru Al sambil mengisyaratkan tangan kanannya agar Alfred pergi.

Setelah mengatakan itu, Al kembali menatap ayahnya. "Jadi... IBU MENINGGAL KARENA VIRUS YANG DIBUAT OLEH ORGANISASI SENDIRI! KAU MAU BILANG ITU KAN! IYA–"

"ALFRED F. JONES!"

Al belum sempat merespon panggilan itu ketika tiba-tiba tangan Alfred sudah menarik tangannya keluar dari ruangan itu. Al sama sekali tidak meronta ketika tangannya ditarik oleh Alfred. Ia hanya menatap punggung Alfred dengan mata membulat.

Alfred menarik Al ke dalam sebuah ruangan yang merupakan ruangan tempat Alfred menetap untuk beberapa waktu. Alfred mengisyaratkan Al untuk duduk di sebuah sofa disana sementara Alfred duduk di dekat jendela.

Al mendekap kedua lututnya di depan dada dan mulai mencoba menenangkan diri.

"...Alfred..." ucap Al lemah.

"Hn?"

"Apa yang kau lakukan saat pertama kali kau tahu tentang kenyataan ini?"

Alfred membalikkan tubuhnya menghadap Al. "...waktu itu aku marah sekali. Aku benar-benar marah pada ayah hingga ayah menamparku karena aku terus berteriak-teriak di depan wajahnya. Makanya tadi aku langsung buru-buru menarikmu supaya kau... tidak mendapatkan tamparan seperti yang aku dapatkan darinya waktu itu... Tapi, sebenarnya ayah juga sangat sedih lho..." kata Alfred sambil tersenyum ke arah Al.

Al memberanikan diri untuk menatap iris biru laut yang sama dengannya itu. "Bagaimana bisa ibu..."

"Yaah... Sedikit rumit sih ceritanya... Intinya, ayah juga baru tahu kalau penyakit ibu itu akibat virus yang dibuat oleh organisasi ini... Sampai ibu meninggal, sebenarnya organisasi belum membuat 'pelemah' virus itu dan belum membuat obat untuk menyembuhkan dampak yang ditimbulkan oleh virus itu. Kalau hanya membuat obat bagi infeksi sekunder yang diakibatkan virus itu sih mungkin mudah, tapi untuk membuat 'pelemah' itu atau sesuatu yang bisa menghambat kinerja si virus, tak semudah itu... Makanya, pembuatan obat dan 'pelemah' itu baru selesai baru-baru ini..."

Al menundukkan kepala kemudian ia hapus bekas air mata yang ada di wajahnya dengan punggung tangannya. "Lalu... Kenapa kau masih ikut dalam proyek organisasi?"

Alfred mengalihkan pandangannya keluar jendela yang terbuka, menatap lurus ke arah perpaduan warna langit senja. "Karena aku sudah terlanjur terjerumus terlalu jauh... Aku tak bisa kembali... Lagipula, kalau aku kembali, takkan mengubah apa-apa makanya sampai sekarang aku masih loyal dengan organisasi... Masih mencoba mewujudkan tujuanku dulu..."

Al tersentak ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Alfred. Ia ingin bertanya tentang apa yang ada di dalam benaknya tapi ragu-ragu untuk menanyakannya. Setelah beberapa lama ia berpikir, ia pun memberanikan diri untuk bertanya...

"Tujuanmu itu..."

Alfred berbalik menatap Al dengan ekspresi bertanya-tanya.

Al mengukir senyum simpul di wajahnya, "...Memangnya, sebanyak apa Leontopodium alpinum yang ada di masa depan?"

"Wah, banyak sekali! Lebih banyak dari jumlah yang kau bayangkan!" ucap Alfred girang.

"Sungguh...?"

Alfred menundukkan kepalanya kemudian berjalan mendekati Al. Ia dekatkan bibirnya ke telinga Al sambil menunjukkan senyuman psikopatnya. "...tapi sayang sekali... semuanya dibumi hanguskan oleh 'dia'. Karena dia sangat sangat sangat sangat membenci kita..."

Mata Al membelalak seketika dan ia merasakan hanya kemarahan yang mengisi pikirannya saat itu. "Di-Dia... Lo..vi..no...?"

Alfred mendorong tubuhnya sedikit kebelakang hingga ia dapat menatap mata Al yang menampilkan ekspresi marah dan terkejut.

"Ah sudahlah... Coba lupakan dulu tentang itu Alfred, hari ini kau terlalu banyak mendapatkan kejutan..."

Mata Al kembali seperti semula setelah ia menghela napas panjang sebelumnya. Al mengangguk. "Hari ini ada orang yang akan mengambil 'organ-organ' itu, tapi belum semua aku 'selesaikan'. Kak Arthie sepertinya sedang marah padaku, makanya dia tak mau membantu..."

Alfred mengerjapkan matanya, "Jadi, organisasi masih menjual organ manusia ya? Hebat!"

Al bangkit dari sofa tersebut kemudian mendongakkan kepalanya ke arah Alfred yang jauh lebih tinggi darinya. "Kau mau ikut 'memotong-motong', Alfred?" ucap Al tenang sambil menyiratkan senyum psikonya ke arah Alfred. Biru laut Al sontak berubah menjadi merah darah.

"Ahaha, I like your style, Alfred~! Di masaku, Lovino lho yang biasanya asyik 'memotong-motong'~! Sampai-sampai waktu itu orang-orang marah sekali sampai memenggal kepala Antonio~! Seru sekali! Kau harus melihatnya Alfred!"

Al hanya terdiam kaku di tempatnya. Mendengarkan, tapi tak tertarik untuk memahami.


"Tuan Lovino Vargas, Anda sudah sadar?"

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, berusaha memfokuskan penglihatanku. Hal pertama yang kulihat saat itu adalah seorang dokter wanita berambut merah yang tersenyum padaku. Aku berusaha duduk dengan bersangga pada bantal putih di sampingku dengan dibantu oleh sang dokter.

Sakit sekali kepalaku... Apa yang terjadi...?

"Tuan Vargas, tadi Anda pingsan di depan Emergency Room lalu para perawat membawa Anda ke ruangan ini." Ucap sang dokter sambil tersenyum tulus ke arahku.

Tubuhku terperanjat ketika mengingat hal terakhir yang terjadi sebelum aku pingsan. "Feli! Bagaimana keadaan Feli?"

Ekspresi sang dokter berubah seketika menjadi ekspresi sedih yang menandakan bahwa jawaban dari pertanyaannya adalah sebuah kabar buruk.

"Nona Feliciana... tidak kunjung sadar sampai saat ini. Kemungkinan terburuknya adalah... dia mengalami koma."

Aku menundukkan kepalaku sambil memegang kepalaku frustasi dengan telapak tangan kananku.

Memang sebaiknya aku menerima tawaran mereka untuk menyelamatkan sorella...

"E... Tuan Vargas. Saya tahu Anda dan keluarga Anda sedang dalam masa sulit saat ini tapi..."

Aku mengangkat wajahku dan menatap wajah sang dokter dengan ekspresi lesu.

"Tapi keluarga Anda harus segera melunasi biaya rumah sakit yang sudah menunggak. Keadaan nona Feliciana tak kunjung membaik, malah semakin memburuk. Sedangkan itu berarti akan lebih banyak lagi alat-alat rumah sakit yang harus disediakan. Kami mohon maaf tapi, kami tak bisa memberikan perawatan yang terbaik bila biaya rumah sakit nona Feliciana tak kunjung dilunasi..."

Tubuhku melemas seketika setelah mendengar perkataan sang dokter. Keringat dingin menyeruak keluar dari pori-pori kulitku dan aku tak bisa memungkiri bahwa pikiranku berteriak-teriak di dalam kepalaku.

Harus dilunasi dengan apa biaya rumah sakit Feli...?

"...kapan... kapan paling lambat biaya rumah sakit tersebut harus dilunasi...?"

"Besok."

Aku menatap horror pada dokter tersebut yang memaksakan seulas senyum.

"...be-besok?"

"Ya..." ucap sang dokter singkat sambil menganggukkan kepalanya pelan.

Dammit! Aku... harus cari dimana uang untuk membayar biaya rumah sakit Feli!


Kakiku terus berlari dan berlari secepat mungkin dengan sisa tenaga yang kumiliki sambil terus menyumpah dalam bahasa Italia. Walaupun kepalaku masih penat, walaupun langkahku sudah sempoyongan karena aku terus berlari sepanjang jalan dari rumah sakit Feliciana...menuju sekolah.

Akhirnya aku memutuskan untuk meminjam uang pada Ryan. Aku benar-benar tak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa untuk mendapatkan uang. Hanya Ryan. Ya. Hanya Ryan satu-satunya orang yang saat ini dapat kuharapkan!

Kalau Ryan, saat ini pasti masih ada di sekolah. Kalau kami–Aku, Ryan, dan Al– tidak janjian untuk pergi ke suatu tempat bersama, ia biasanya nongkrong di UKS sampai sekolah ditutup.

Aku berlari sekuat tenaga di sepanjang lorong 'Hetalia Academy'. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Sekolah sudah sangat sepi pada jam-jam segini. Hanya ada beberapa anak yang mengikuti ekstrakurikuler yang masih berkeliaran dengan klubnya pada jam-jam segini sampai sekolah ditutup.

"A-Apa maksudnya kau..."

Suara Ryan.

Aku mempercepat langkahku menuju sumber suara Ryan yang ada di balik sebuah dinding di hadapanku.

"Maaf aku tidak bisa pacaran dengan Ryan karena aku... Aku menyukai Lovino...!"

Aku menghentikan langkahku tepat dibalik dinding yang membatasiku dengan Ryan ketika namaku disebut oleh... Bella. Ya. Kalau tidak salah itu adalah suara Bella. Sepertinya Ryan sedang menyatakan perasaannya pada Bella!

"Hah? Lovino yang itu? Lovino Vargas maksudmu?"

Aku memutuskan untuk menunggu di balik dinding itu sampai Ryan selesai berurusan dengan Bella baru nanti aku menampakkan diri. Aku tidak bisa mengganggu Ryan pada saat-saat yang penting bagi hidupnya seperti ini.

"Bagaimana bisa kau menyukai orang seperti Lovi, huh! Hahaha... konyol!"

Aku tersentak ketika mendengar kalimat yang diucapkan Ryan dengan nada marah.

Kenapa dia berbicara seperti itu?

"E-Eh?"

"Lovino itu pemarah dan sering berkata-kata kasar! Tidak peduli kepada siapapun dia berbicara, dia senang sekali menyumpah dan benar-benar emosian! Aku dan Al saja sampai pusing kalau dia sudah emosi dan ngambek! Dia juga tidak jelas! Paling tidak bisa bergaul dengan yang lain, hobinya duduk di pojokan sambil membaca buku Fisika seperti anak cupu!"

Ah–

Mataku membelalak. Dadaku sakit. Sakit sekali. Sampai air mataku mengalir tak tertahankan lagi.

Aku menutup mulutku agar isakku tak terdengar oleh mereka.

Benar-benar...

"Ryan! Kenapa kau bicara begi–"

Aku berlari dan terus berlari. Berlari secepat mungkin. Keluar dari lingkungan sekolah yang selalu memuakkan. Tak peduli walau aku mendengar suara Ryan yang terus berteriak memanggil namaku...

Aku tetap saja berlari tanpa melihat ke belakang, tanpa memperlambat langkahku...

Padahal... Aku percaya pada Ryan... Padahal hanya mereka yang benar-benar aku percaya sampai sekarang. Al dan Ryan.

Tapi... Kenapa...

Ketika aku berada pada saat-saat ter-down-ku, kalian malah menampakkan wujud kalian yang sesungguhnya...

("...Nanti biar aku dan Al yang menjadi temanmu, ya kan Al?")

Pembohong!

("...Kalau diucapkan bersama, kemungkinan permohonan kita akan terkabul menjadi lebih besar! Ayo! Satukan kekuatan dan ucapkan bersama mantra itu! Biar hero yang memandu kalian wahai prajurit setiaku!")

KALIAN BERDUA PEMBOHONG!

("Semoga... kami akan terus berteman...!")

"BULLSHIT KALIAN BRENGSEK!"

("Selamanya...")


"Wah, kalau laptop seperti ini sih, cuma bisa dihargai sedikit." Ucap seorang pria berambut spiky di hadapanku yang sedang melihat-lihat 'And' milikku.

Kupikir, jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang dengan instan adalah menggadaikan barang paling berharga yang kupunya dan kubawa saat itu. Laptopku.

Awalnya aku ragu karena 'And' adalah milikku yang paling kusayang. Tapi mau bagaimana lagi...

"Saya mohon! Saya sedang butuh uang untuk biaya rumah sakit adik saya!"

Memang sih, laptopku itu termasuk tipe lama. Hampir semua orang sekarang beralih ke mini-computer hologram yang bisa di bawa kemana-mana dan sangat praktis. Tapi, harganya mahal sekali...

Pria itu mengerutkan dahinya, seperti sedang berpikir keras. Ia melihat-lihat laptopku beberapa saat sampai akhirnya ia memberikan beberapa lembar Euro padaku.

Mataku berbinar-binar seketika ketika melihat lembaran-lembaran Euro itu diserahkan padaku. Aku tersenyum spontan pada pria berambut spiky itu kemudian beranjak dari kursiku.

"G-Grazie!"

Pria itu tersenyum dan mengangguk-angguk pelan. "Kau boleh menebus laptopmu ini kapan saja. Semoga adikmu cepat sembuh~!"

Aku tersenyum untuk terakhir kalinya pada pria itu kemudian bergegas untuk pergi ketika aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu keluar. Aku menoleh ke belakang, ke arah 'And' yang sekarang bersama pria itu.

("...Aku bermimpi bahwa suatu saat nanti, aku bisa membuat sebuah android dari bahan baku laptop ini...")

Aku tersenyum ke arah 'And' untuk terakhir kalinya kemudian berlari meninggalkan bangunan itu.

Arrivederci 'And'! dan Terima Kasih!


Ryan hanya duduk di bangku kelas yang sudah kosong itu sambil terus menggumamkan kata-kata penyesalan dari bibirnya ketika pintu kelas itu terbuka dan tubuh Antonio mencuat dari balik pintu.

Ryan mencoba mengukir seulas senyum di bibirnya kepada Antonio dan mengisyaratkan Antonio untuk masuk dan duduk di kursi di depan bangku Ryan.

"A-Ada apa Antonio~?" ucap Ryan dengan nada seceria mungkin.

Antonio menatap Ryan dengan tatapan datar kemudian menundukkan kepala. "Aku...mencari master. Apakah Ryan tahu master dimana?"

"Tadi memang dia baru saja dari sini, tapi tidak tahu lagi. Aku tak tahu dia pergi ke mana. Memangnya Lovi belum pulang~?"

Antonio menggelengkan kepalanya pelan. "Belum. Apa master sakit? Akhir-akhir ini, master aneh sekali. Terlihat tidak bersemangat. Aku...khawatir."

Ekspresi wajah Ryan berubah seiring dengan kalimat yang baru saja diucapkan Antonio. Ia mengernyitkan dahinya dan mengalihkan pandangannya dari Antonio. "...Lovi... memang sedang sedih akhir-akhir ini..."

Antonio memiringkan kepalanya. "Sedih? Apa itu? Apakah sakit?"

Ryan tersentak kaget untuk kemudian membelalakkan kedua matanya ke arah Antonio. "Ja-Jadi benar ya. Kau itu, robot?"

Antonio mengangguk pelan. "Aku android. Lebih canggih daripada hanya sekedar robot. Tapi tolong rahasiakan dari yang lain. Master tidak ingin ada yang tahu bahwa aku ini android."

Ryan tersenyum kaku. "Ja-Jadi, kau android buatan Lovi?"

Antonio menggelengkan kepalanya. "Aku buatan seorang profesor dari masa depan yang aku tak tahu nama maupun wajahnya."

"Tak tahu?"

Antonio mengangguk pelan.

"Kau kehilangan memorimu?"

"Sepertinya. Aku bahkan tak ingat kenapa aku diciptakan oleh profesor."

Ryan menggenggam tangan Antonio yang membuat Antonio tersentak. Ryan tersenyum lebar ke arah Antonio tetapi seperti ingin menangis. "Lovi pasti senang sekali kau datang!"

Antonio melepaskan genggaman tangan Ryan dan menundukkan kepalanya lagi. "Ah, tidak. Kehadiranku, hanya menyusahkan master." ucap Antonio lirih.

"Aku juga, baru saja membuat Lovi marah."

Antonio menatap kedua iris coklat Ryan dengan mata membelalak. "Kenapa?"

Ryan mengalihkan pandangannya. "Aku..." Ia benamkan wajahnya pada tasnya yang ada di atas meja. "...sudah berkata bodoh tentang Lovi... Aku benar-benar tidak berguna, gagal menjadi temannya..."

Sejenak suasana hening seketika. Hanya ada suara orang-orang dari klub sepak bola yang berteriak-teriak dari lapangan.

"Tapi pasti master memaafkan."

Ryan mengangkat wajahnya perlahan dan menatap Antonio untuk menemukan seulas senyum terpancar dari bibir Antonio.

"Karena Ryan dan Al itu temannya master. Karena kalau berhubungan soal Ryan dan Al, master akan tersenyum seperti ini. Senyuman yang sangat cocok dengan master. Aku ingin, master selalu tersenyum seperti itu bila bersama Ryan dan Al. Karena hanya– Ry-Ryan? Kenapa menangis!"

Ryan menundukkan kepalanya tapi tak bisa menyembunyikan air mata yang menyeruak keluar dari pelupuk kedua matanya.

"...padahal, kau android." ucap Ryan dengan isaknya yang mulai terdengar. "Tapi kau bisa sepeka itu lebih dari manusia seperti kami... Aku..."

Antonio bangkit dari kursinya kemudian mengelus-elus punggung Ryan. "Jangan menangis Ryan... Nanti..."

Ryan tersentak ketika merasakan belaian hangat tangan Antonio yang ia rasakan di punggungnya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap wajah Antonio dan merasakan tangan Antonio bergetar di punggungnya.

"...nanti... aku juga ikut menangis..."

Ketika air itu jatuh setetes demi setetes menuruni pipi Antonio.

(Ya, pikirannya pasti telah membutakan pandangannya...)

Ryan mendekap tubuh Antonio yang lebih besar dari tubuhnya itu kuat. Ia berusaha menahan air matanya untuk terus mengalir dari kedua matanya.

"Antonio baik ya..."

(...karena ia melihat air mata mengalir dari kedua mata androidnya.)

"Antonio... mau menangis demi orang lain..."

Ryan melepaskan dekapannya dari tubuh Antonio kemudian menghapus jejak air mata yang membekas di kedua pipi Antonio dengan jari telunjuknya.

"Aku kaget sekali melihat Antonio bisa menangis... Karena yang kutahu, robot itu tidak memiliki perasaan yang dimiliki oleh manusia seperti kami. Tapi..." Ryan mencoba mengukir seulas senyum di bibirnya ke arah Antonio. "...pasti tersampaikan... perasaan Antonio pada Lovino..."

Antonio tersenyum kemudian menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan.

"Oiya! 17 Maret! Besok Lovi ulang tahun lho! Kita buat pesta kejutan untuk Lovino yuk! Yang besar! Yang hebat! Tapi sebelumnya kita kerjai dia sampai dia marah! Pasti menyenangkan! Akan kuajak Al juga~! Kau ikut kan Antonio?" seru Ryan sambil terkekeh pelan.

Antonio mengangguk girang. "Nanti master tersenyum!"

"Ya! Hahaha... Aku tidak bisa membayangkan wajah Lovino bila tahu teman-temannya ini membuat pesta kejutan untuknya~~!" ucap Ryan girang sambil mengusap bekas air mata yang membekas di pipinya.

Memikirkannya saja, Ryan sudah ingin menangis lagi.

"O-Oh iya Antonio~! Aku punya gombalan paling hebatdari semua gombalan yang kupunya."

Antonio mengerjapkan matanya tanda dirinya bingung dengan kata-kata Ryan.

"Begini Antonio, 'Kuberikan 14 mawar merah sebagai hadiah ulang tahunmu. 13 mawar itu adalah mawar asli sedangkan yang satunya lagi adalah mawar palsu. Aku... akan berhenti mencintaimu sampai mawar yang terakhir layu.' Tapi mawar yang terakhir adalah mawar palsu. Mawar palsu takkan pernah layu..."

Mata Antonio langsung berbina-binar mendengarkan gombalan Ryan.

"...yang berarti, cintanya itu abadi..."

"Abadi? Itu lama sekali?" kata Antonio polos.

Ryan mengangguk. "Lamaaa sekali sampai-sampai manusia tak sanggup untuk mengukurnya! Bagus kan~? Kenapa kau tidak coba saja memberikan 14 mawar sebagai hadiah ulang tahun Lovi~?"

Antonio memiringkan kepalanya lagi.

"...pasti Lovino senang sekali lho!"

Antonio menundukkan kepalanya. Rona merah membekas di kedua pipinya. Ia tersenyum.

Senyuman yang tulus dari sebuah android.


Aku memutuskan untuk pulang ke rumah dulu untuk mengambil uang yang kusimpan dalam tabunganku. Memang isinya tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk menambah agar bisa melunasi biaya rumah sakit Feli.

Hari sudah gelap saat itu dan bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam. Waktu menunjukkan pukul 7 malam ketika aku sampai di depan rumah dan melihat sekelompok pria berpakaian seperti preman dan bertubuh kekar sedang berbicara dengan pria itu, maksudku... dengan ayahku...

Ketika aku menghentikan langkahku tepat di depan pagar rumahku, sekelompok pria itu langsung berbalik menatapku.

Aku mengernyitkan dahiku dan menunjukkan death stare-ku pada mereka.

"Ada urusan apa kalian ke rumahku, bunch of bastard?"

Aku tahu, dari penampilan mereka, mereka bukanlah orang orang-orang yang baik.

Salah satu pria dengan tubuh paling besar di antara mereka berjalan ke arahku dan langsung saja menarik tanganku dengan kasar.

"Hei Filipo, jadi ini dia anak yang kau bilang itu, huh?" ucap pria bertubuh besar itu sambil menatap ke arah ayahku.

Ayahku mengangguk kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. "Bawa saja. Aku tak butuh." Dan dengan itu, ayahku langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkanku dengan sekelompok pria aneh itu disana.

Kakiku melemas seketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh ayahku.

A-Apa maksud–

"Hey bocah manis~! Kau dengar itu? Ayahmu berhutang kalah judi padaku dan bilang bahwa sebagai bayarannya, ia akan memberimu."

Mataku membelalak tak percaya menatap pria bertubuh besar yang masih memegangi tanganku itu.

"Ayahmu sendiri lho HAHAHAHA!"

Aku menatap sekali lagi ke arah pintu rumahku.

Aku...dan ayah memang sering bertengkar. Aku tahu, ayah sangat, sangat membenciku. Tapi... Kenapa dia rela menjadikanku, anaknya sendiri sebagai alat pembayar hutang judinya?

"Nah ayo nak! Kau memang masih kecil tapi kamu juga masih segar!" ucap pria bertubuh besar itu seraya menarik tanganku dengan kasar.

Aku mencoba meronta. Dengan sisa tenaga yang kupunya. "ARRRGGGHH! LEPASKAN BRENGSEK!"

BUK–

Tubuhku mendarat di aspal kasar yang membuat lenganku tersayat dan mengeluarkan darah. Aku menatap horror pada pria bertubuh besar yang baru saja...menonjok perutku...

Ia menarik tanganku kasar lagi dan untuk kesekian kalinya kucoba untuk meronta.

"Hey bocah sialan! Kau dengar tadi, kau dengar! Ayahmu sudah menjualmu pada kami! MENJUALMU! Selanjutnya, rumahmu adalah tempat prostitusi! HAHAHAHA..."
Pr-Prosti–

Aku mencoba melepaskan genggaman tangan kasar pria itu sekuat tenaga.

Tetanggaku mulai keluar dari rumah untuk melihat keributan yang terjadi di depan rumahku. Mereka berbisik-bisik sebentar, entah membicarakan apa kemudian masuk lagi ke dalam rumah mereka.

Jahat.

Pria itu berusaha menarik-narik tubuhku dan aku berusaha meronta hingga tubuhku terpental lagi dan tasku terjatuh di depan mereka.

Kali ini kepalakulah yang menghantam aspal kasar itu.

Pria bertubuh besar itu merendahkan tubuhnya dan mengambil tas hitam milikku. "Kira-kira, apa ya isi dari tas ini?"

Tubuhku serasa dialiri listrik ketika mataku menangkap mereka tertawa-tawa sambil merogoh-rogoh isi tasku.

Tidak. Di dalam sana, ada uang untuk membayar rumah sakit Feli.

"JA-JANGAN SENTUH GODDAMMIT!"

Aku berlari ke arah pria bertubuh besar itu tetapi kemudian orang-orang yang bersamanya langsung menahan tubuhku.

"Wah! Uang yang banyak sekali ya~! Lumayan nih~" Pria bertebuh besar itu tersenyum picik sambil mengibas-ngibaskan lembaran Euro itu di depan mukanya.

Aku berteriak.

"JANGAN!"

Aku meronta, berusaha menggapai lembaran Euro yang di pegang oleh pria bertubuh besar itu. Tapi tak tergapai.

Hingga air mataku membanjir, menuruni pipiku yang tergoreskan luka akibat gesekan dengan aspal tadi. Aku tak peduli kalau aku menangis di depan kumpulan shit brengsek seperti mereka.

Satu yang kupikirkan saat itu.

Uang untuk Feli...

BUK–

Pria bertubuh besar itu memukul perutku lagi hingga aku merasakan darah menyeruak dari tenggorokanku, menetes keluar dari mulutku.

"DIAM KAU BOCAH! BAHKAN UANG INI PUN TAK CUKUP UNTUK MEMBAYAR HUTANG AYAHMU!"

Napasku memburu. Aku merasa mual. Tapi...

"Makanya, kau tetap harus ikut dengan–"

Aku harus lari dari mereka!

"Eh dia kabur!"

Aku berlari ke arah rumahku dan membuka paksa pintu yang tidak dikunci itu kemudian menahannya erat dengan tubuhku yang gemetar.

Pria bertubuh besar itu tersenyum. "Biarkan saja, ayo kita pergi. Uang ini, sudah lebih dari cukup sebenarnya dengan jumlah hutang Filipo."

Dan dengan itu sekelompok pria berpenampilan preman itu pergi meninggalkan rumahku.

"Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?"

Aku baru saja berniat untuk menghela napas lega ketika sebuah tonjokkan mendarat di pipiku yang sudah lecet.

"AKH–" erangku tak berdaya.

Aku mencoba bangkit. Mencoba menatap kedua bola mata hazel yang sama dengan milikku dari pria yang mendaratkan tonjokannya padaku tadi. "KENAPA KAU MENJUALKU PADA MEREKA! KENAPA! KAU JAHAT!"

Dan kali ini sebuah tendangan diarahkan pada perutku yang sudah memar, membuat tubuhku terpental. Dan lagi-lagi aku mengerang tak berdaya. Lemah. Aku lemah!

Pria itu menarik kerah bajuku hingga aku bertatapan muka dengannya. "Coba kau katakan sekali lagi?"

Aku menatap kedua hazel milik pria itu sejenak dan dengan seluruh tenaga yang tersisa, aku berteriak, "KAU JAHAT!"

Langsung saja, ia lemparkan tubuhku yang sudah tak berdaya ke dinding yang ada di sampingku hingga membentur kepalaku, membuka kembali luka di kepalaku yang belum sembuh.

Lagi-lagi.

Darah itu mengalir sampai kemataku.

Pandanganku buram, tubuhku tak bisa digerakkan. Kaku.

Sial! Kenapa aku selemah ini! Kenapa...?

"...kenapa... kenapa dunia sangat benci padaku..." bisikku pada diri sendiri sebenarnya.

Aku berusaha menggerakkan tubuhku walau berat sekali rasanya. Mencoba bangkit. Masih mencoba kuat di sisa-sisa terakhir tenagaku.

Sakit.

Sakit.

Semua tubuhku sakit.

"...padahal... tadi aku membawa uang untuk biaya rumah sakit Feli sampai aku menggadaikan 'And'... Aku mencoba... Aku selalu mencoba untuk menjadi yang kalian inginkan...Tapi kenapa..!"

Air mata itu lagi-lagi terus saja jatuh menuruni kedua wajahku. Tak mau berhenti.

Aku takut untuk mengatakannya. Aku takut untuk menanyakannya. Karena aku takut dengan jawaban yang akan dia berikan.

Perasaanku terus saja meluap. Meledak-ledak di hatiku yang rapuh saat ini.

Sakit.

Sakit sekali.

Tapi harus kukatakan. Harus kutanyakan.

"...kenapa...?"

Aku mencoba berdiri dengan kedua kakiku. Walau awalnya tubuhku terhuyung, tapi akhirnya ku bisa berdiri dengan tegak. Menatap ke depan.

Seperti seorang hero kata Al.

Duh. Lagi-lagi pikiran tentang Al melintas dalam benakku.

Tambah sakit. Semuanya sakit.

"...KENAPA KAU MASIH SAJA MEMBENCIKU... AYAH... !"

Aku langsung berlari. Berlari secepat mungkin meninggalkan pria itu hanya berdiri membatu di sana.

Akhirnya kukatakan. Akhirnya kukatakan!

"MASTER–"

"JANGAN IKUTI AKU BLOODY HELL!" teriakku pada Antonio yang mengikutiku dari belakang.

Aku masuk, menerobos ke dalam kamarku dan langsung menguncinya dalam sekali gerakan.

"Haaah...Haaah..."

Akhirnya, aku sendirian lagi di dalam ruang kecilku. Yang gelap. Yang sunyi. Hanya ada aku. Dan beban di pikiranku...

. .

Bagaimana? Bagaimana dengan Feli! Uangnya diambil oleh orang-orang brengsek itu! Kalau tidak ada itu, Feli bisa mati!

. .

Tubuhku merosot tak berdaya di bawah jendela kamarku. Bersamaan dengan itu, sebuah pesawat kertas dari luar jendela, 'mendarat' di atas kepalaku. Entah diterbangkan oleh siapa. Aku mengambil pesawat kertas itu dengan tanganku yang gemetar.

Dan aku pun membukanya. Membaca tiap kata yang tertulis di dalamnya.

.

Hmm, aku berubah pikiran tentang waktu tiga hari itu. Jadi, Feliciana kuambil ya, Lovino?

Kalau kau mau mencegahnya pun tak ada gunanya, saat kau menerima surat ini, di rumah sakit tempat Feliciana dirawat itu sedang heboh lho! Karena... salah satu pasiennya hilang.

Salam BAHAGIA,

Alfred F. Jones

.

Sakit.

Semua tubuhku sakit.

"ARRGGGGHHHH! BRENGSEK! ALFRED BRENGSEK!"

Sampai aku tak bisa berpikir jernih.

Terus saja mengamuk bak singa yang pintu kandangnya dibiarkan -acak apapun yang ada di sekitarnya.

Bahkan aku tak dibiarkan untuk bernapas barang sedetik. Semuanya menghantam bertubi-tubi. Tanpa ampun.

Aku membanting semua benda yang ada di sekitarku. Apapun. Dan mengeluarkan sumpah-serapah yang lebih banyak dari biasanya.

("...Hah? Lovino yang itu? Lovino Vargas maksudmu?")

"ARRRRGGGHHH! SIAL! DAMMIT! SHIT!"

("...Lovino itu pemarah dan sering berkata-kata kasar! Tidak peduli kepada siapapun dia berbicara, dia senang sekali menyumpah dan benar-benar emosian! Aku dan Al saja sampai pusing kalau dia sudah emosi dan ngambek!")

"Ma-Master–"

"JUST GO TO THE DAMN HELL FUCKING USELESS ANDROID! INI SEMUA GARA-GARA KAU DATANG! SEMUA JADI BEGINI!" seruku sambil melempari pintu yang terkunci itu dengan berbagai benda yang ada di dekatku.

Benar.

Semua gara-gara android sialan itu.

Salahkan dia.

Salahkan dia!

Sakit.

Semuanya sakit.

Tapi...

("Bawa saja. Aku tak butuh.")

Dada ini jauh lebih sakit.

"ARRRGGGHHH!"

. . .

. .

Tubuhku berhenti mengamuk ketika aku melihat sebuah benda kecil tajam di atas meja. Pisau yang mengkilap di bawah cahaya bulan. Kilauan cahaya surga.

Kalau dengan ini, berakhir sudah...

Aku melemparkan sebuah kursi yang tadinya kugenggam erat dengan kedua tanganku ke sampingku seraya aku berjalan ke arah pisau itu dengan napas terengah dan senyum mengembang di wajahku.

Aku mengambil pisau itu dan menatapnya lekat-lekat sebelum kuhujamkan pisau itu ke pergelangan tanganku hingga cairan merah pekat itu memancar dan terus mengalir deras seperti air terjun tiada henti seiring dengan benda tajam itu kutekan semakin dalam.

"HAHAHAHAHA!"

Tawaku membahana tak tertahankan menggantikan rasa sakit yang semakin menjadi.

Ya ampun! Aku ternyata bukan pengecut! Aku pemberani! Bahkan lebih pemberani dari si perfect Feli... Aku melakukan sesuatu yang bahkan tak dapat dilakukan olehnya...

Eurofia yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

("Merah itu... indah, Lovino...")

Ya.

Ya, Al, untuk yang satu itu aku mengakui kalau kau memang benar...

("Merah itu... indah. Warna yang paling indah. Seperti halnya kak Arthie yang sangat menyukai warna merah...")

BUK–

Tubuhku akhirnya roboh seiring dengan lautan merah yang semakin membanjir, mewarnai lantai kamarku.

"MASTER! BUKA PINTUNYA MASTER!"

Suara Antonio yang semakin menjadi-jadi menggedor pintu terdengar samar di telingaku yang semakin mengaku.

Yah, maaf Feliciana, aku gagal menolongmu.

"MASTER!"

Tapi...

"LOVINO!"

Biar dengan ini, aku yang menggantikan tempatmu untuk mati.

Hahaha...

Konyol kan? Silakan kalian tertawa sepuasnya. Memang semua ini untuk ditertawakan kok...

( "Merah yang membuat manusia hidup...")

Jadi untuk terakhir kalinya, tolong kabulkan permintaanku...

Aku... hanya ingin tidur tenang sekali ini saja...

("...juga yang membuatnya mati...")

"LOVINO–"

Aku menutup mataku perlahan. Tak lupa mengukir seulas senyum bahagia yang sekian lama tak pernah kutunjukkan, ketika kegelapan tak berujung itu akhirnya menjemputku.


A/N:

Yosh! Happy New Year untuk para Readers semua~!

Chapter ini lebih panjang dari 2 chapter sebelumnya dan semoga lebih memuaskan~

Nah, atas saran seorang reviewer, akhirnya tentang VS-Detector di chapter 2 saya edit.

Untuk pemakaian tanda (~) oleh Ryan dan Al, sebenarnya saya gunakan supaya menegaskan bahwa mereka berdua berbicara dengan nada ceria. Saya mohon maaf karena saya tidak tahu kalau penggunaan tanda (~) yang biasanya digunakan oleh Antonio itu juga menandakan aksen spanish Antonio.

Buat gaya 'hero' nya Alfred, baru bisa muncul di chapter ini karena memang benar, di chapter sebelumnya saya buru-buru jadi lupa kalau Alfred suka ngomong' hero' gitu...

Juga buat olimpiade, hehe sebenarnya saya juga belum pernah ikut olimpiade asli (?). Pernah ikut tapi waktu SD dan seleksinya pun ga jelas (malah kayaknya ga ada seleksi, langsung pilih). Seleksi olimpiade disini itu asli karangan saya tapi tetap saja dibuat dengan dasar :D

Maaf Sick!Lovino nya juga yang kalau dirasa berlebihan #plak. Saya saking semangatnya membuat Sick!Lovino sampai jadi panjang begini. LOL.

Oiya, untuk pengetahuan tentang virus yang beberapa kali dibahas di fic ini, maaf bila ada yang salah karena saya juga masih belajar.

Nah, ada bagian kenangan pelaku yang sebenarnya tidak pernah muncul di chapter-chapter sebelumnya. Tapi nantinya kenangan itu akan muncul di chapter berikutnya. Anggap saja sebagai spoiler hehe~

Terima Kasih untuk para reader dan reviewer yang masih setia membaca fanfic sci-fic abal ini *bow* Fic ini takkan jadi tanpa adanya dukungan, kritik, dan saran dari teman-teman reader dan reviewer~

Sampai jumpa di chapter berikutnya~!

Salam Hangat,

KensyEcho