Cukup lama Naruto berdiam diri di ruangan Sasuke. Merasa tidak enak karena dari tadi di tatap dengan tajam oleh sepasang mata onix yang berada di belakangnya, Naruto pun berbalik. Melihat mata itu dengan sinis, lalu bertanya, "Kenapa kau memandangiku terus?" tanya Naruto sinis.

Sasuke mendengus. Pernyataan-pernyataan aneh dari Sasuke sudah berterbangan di kepala Naruto. Dengan sigap Naruto menyiapkan jawaban yang pas untuk menghalaunya, tapi kalau jawaban aneh bin nista alias dua huruf yang biasa keluar, Naruto hanya akan diam tidak akan menjawab. Hingga cukup beberapa menit menunggu Sasuke hanya tersenyum dengan nistanya, dan menjawab, "Karena kau terlihat sangat cantik." Jawab Sasuke.

Naruto membulatkan matanya. Dia tidak tau bahwa itu yang akan keluar dari kedua belah bibir tipis nan sexy milik Uchiha di depannya. Wajah Naruto memerah dengan jantung yang berdegup lebih kencang seperti habis lari maraton. "Kau kira aku perempuan. Entah matamu katarak atau apa Teme, tapi aku perjelas, Aku-Ini-Laki-Laki!" bentak Naruto sambil berdiri dari tempatnya duduk. Menatap sengit Sasuke.

"Aku tau kau laki-laki, Dobe. Jika bukan mana mungkin kau punya tonjolan seperti itu di depan celanamu." Ucap Sasuke datar sambil menunjuk 'barang' Naruto yang sedikit menonjol karena celana levis yang ketat.

Wajah Naruto memerah luar biasa sambil sedikit menutupi bagian sangat pribadinya dengan mangapitkan kakinya. Membuat posenya terlihat sangat manis. "DASAR TEME MESUM!"

Teriakan Naruto bahkan membuat beberapa lantai sedikit mengalami polusi suara.

Sekarang kita tau, Naruto yang nakal bisa di imbangi dengan Sasuke yang mesum. Poor Naruto!

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuNaru

Rated: T

Warning: OOC, Typos, Naughty Naru, Boy x Boy, Yaoi, Alur berantakan, AU, EYD berantakan, dll

.

Chapter3

.

"Apa kau mendengar sesuatu, Iruka-san?" tanya Itachi yang sedang melangkahkan kakinya di koridor dengan Iruka di sampingnya. Iruka sedikit mengangguk, membuat Itachi yakit bahwa suara tadi memang sebuah polusi suara yang jaman sekarang begitu banyak ditemui di berbagai tempat. "Ternyata memang bukan salah telingaku." Gumam Itachi tersenyum.

Iruka sweatdrop mendengar gumaman Itachi. Dengan tanpa diketahui Itachi, Iruka menajamkan pendengarannya kembali. 'Aku yakin itu bukan hanya polusi suara.' Pikir Iruka. Menggidikkan bahunya lalu kembali berjalan seperti biasa.

.

Naruto sedang terduduk sambil menstabilkan nafasnya. Berteriak begitu kencang membuat Naruto kehabisan nafas dengan tiba-tiba. "Dasar Teme kurang ajar." Gumam Naruto sengit melirik Sasuke. Wajahnya kembali memerah menyadari bahwa Sasuke masih melihatnya, "Apa!?" tanyanya dengan bentakkan. Baru Sasuke akan menjawab Naruto sudah terlebih dulu menyela. "Cukup jangan jawab, aku tau jawabanmu hanya akan membuat kepalaku pusing dan mual bersamaan." Ucap Naruto kesal.

Sasuke mendengus lalu menyeringai.

Hening.

'Kenapa aniki itu belum kembali juga?' pikir Sasuke melihat jam tangannya. Sudah seharusnya setengah jam tadi Itachi sampai disini tapi sampai jam segini Itachi belum datang juga. Sasuke menghela nafas. 'Dasar aniki merepotkan.' Runtuk Sasuke dalam hati.

Tik tok tik tok

"Heh, Teme." Panggil Naruto melirik ke arah Sasuke. Sasuke melihat ke arah Naruto. "Sebenarnya apa yang kau inginkan kalau aku tidak bisa membujuk Itachi?" tanya Naruto sedikit enggan. Tapi jika dipikir Naruto hanya tahu satu saja permintaan Sasuke, sedangkan Sasuke tadi bilang ada banyak permintaan yang akan diberikan pada Naruto.

Sasuke menyeringai membuat Naruto menelan ludah. "Kau penasaran, heh?" ledeknya. Naruto memalingkan wajahnya kesisi lain, tidak ingin melihat ekspresi wajah yang begitu menggoda dari orang yang tidak pernah menunjukkan ekspresi itu.

"Terserah, jika ti—"

"3!"

"Heh?" Naruto menaikkan alisnya sambil melihat Sasuke.

"3. Aku punya 3 permintaan padamu, Dobe." Ucap Sasuke.

"Lalu apa permintaanmu?" tanya Naruto.

"Pertama, aku ingin kau menjadi kekasihku saat wawancara 1 minggu lagi. Kedua, aku ingin kau menjadi lawan mainku di serial terbaru. Sedangkan yang ketiga, kau akan tau setelah wawancara nanti." Jelas Sasuke.

Naruto membuat ekpresi muka yang sangat aneh melihat Sasuke. Dengan polos Naruto bicara, "Aku tidak tau kau bisa bicara sepanjang itu, Teme."

Ctak

Persimpangan yang terpampang nyata terlihat di dahi Sasuke. Sekarang dia menyesal sudah susah-susah menjelaskan pada pujaan hatinya ini. Menenyampingkan tadermark Uchiha-nya dan berbicara panjang lebar seperti itu. 'Dasar Dobe!' runtuk Sasuke kesal juga pada makluk manis di depannya.

"Hn!" Cukup sudah, Sasuke akhirnya beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah Naruto. Memandang sepasang shappire cantik di depannya. Menampilkan seringaian lebar yang membuat bulu kuduk Naruto seketika itu berdiri menantang di lehernya.

"Mau apa kau, Teme? Apa-apaan seringaianmua itu? Serangaianmu itu sama sekali tidak keren tau!" ucap sambil sedikit menggeser tubuhnya menjauh sedikit demi sedikit.

Sasuke akhirnya duduk di samping Naruto, "Oh, ya? Kita lihat kau akan bilang apa setelah ini? aku yakin kau malah akan memujaku." Ucap Sasuke percaya diri. "—dan lagi, aku sudah keren tanpa seringanku, Dobe." Lanjut Sasuke narsis.

Bibir Naruto bergerak tidak nyaman dengan mata yang malas melihat Sasuke. Dia tidak salah dengar kan? Sasuke, Uchiha Sasuke yang satu ini narsis? Ternyata menjadi orang terkenal itu bisa membuat otak yang tadinya utuh menjadi seperti otak ayam! (Apa hubungannya!?)

Naruto yang memikirkan hal aneh itu hanya bisa menggeleng-geleng miris—kasihan pada orang di depannya.

Tapi karena sedikit ingin bermain, akhirnya Naruto sedikit meluncurkan racunnya. Bosan juga dari tadi menunggu orang yang bernama Itachi itu datang.

"Oh, ya? Kau yakin bisa membuatku memujamu?" tanya Naruto sambil menampilkan wajah menggoda. Duduk mendekat ke arah Sasuke, dan mengelus dada bidang yang terlapisi kaos itu. Meletakkan kepalanya dengan seenak hati di dada bidang itu. Mengelus-eluskan kepalanya seperti anak kucing yang minta di manja. Memainkan jarinya di dada bidang Sasuke, dan menengadahkan kepalanya untuk melihat ekspresi muka yang ingin dilihatnya.

Dan,

Crap!

Sasuke sama sekali tidak menunjukan ekspresi yang dicarinya. Hanya melihatnya dengan tatapan datar lalu menyeringai.

"Apa yang kau harapkan, Dobe? Ingin melihat ekpresiku dengan wajah memerah?" tanya Sasuke tepat pada sasaran. "Kau tidak akan melihatnya selagi kau bukan memilikku," ucap Sasuke berbisik dengan rendah. Membuat jantung Naruto berdetak dengan kencang. Sasuke pun mulai menggoda Naruto dengan mengecup cuping telinga yang memerah itu. "Membuatmu harus menunggu lama, Dobe. Tapi, jika kau memang sudah tidak sabar... kita buat kau menjadi milikku seutuhnya."

Grap

"TEME! Menyingkir dariku!"

Ternyata Sasuke langsung memeluk dan menindih tubuh Naruto—membuat Naruto tidak bisa berkutik lagi. Memang tidak menindih secara langsung tapi cukup untuk memerangkap tubuh yang lebih kecil darinya.

"Aku bilang kau akan memujaku setelah ini." goda Sasuke. Seringaiannya lebih lebar lagi saat melihat wajah Naruto memerah sempurnya—mungkin marah, mungkin juga malu. Yang pasti sekarang Naruto benar-benar dalam keadaan bahaya.

Andai saja...

Clek

"Otouto, aku dengar ka—"

"!"

"?"

"..."

Hening

"Sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat," ucap Itachi.

Blam

...andai saja, Itachi tidak datang di saat yang tidak tepat.

Sasuke dan Naruto melihat kepergiaan Itachi dalam diam. Saling melihat satu sama lain. Sepertinya mereka sama-sama sedang meloding kejadian yang sedang terjadi sekarang. Bahkan mereka lupa dengan posisi mereka yang membuat setiap orang pastinya berpikir hal yang dipikirkan author.

"Apa?" tanya Sasuke saat Naruto dari tadi melihatnya dengan alis yang terangkat.

"Yang tadi itu Uchiha Itachi kan, Teme? Kenapa dia pergi lagi?" tanya Naruto lola.

Sasuke mendengus karena kebodohan orang yang ada di bawahnya. Kenapa dia bisa jatuh cinta pada pemuda bodoh seperti ini? Bahkan Sasuke saja bingung jika di tanya seperti itu. Jadi dari pada di pikirkan, Sasuke lebih suka menggodanya karena kebodohannya. Salahkan Naruto yang terlalu bodoh dan lucu di saat bersamaan jika di goda. Sasuke menyeringai, semakin mendekatkan kepalanya pada Naruto hingga hidung mereka bersentuhan, "Sepertinya kau lupa posisi kita, Dobe." Ucap Sasuke mendesah, membuat nafas segarnya langsung tercium penciuman Naruto.

Kedip

Kedip

Naruto mengedipkan matanya, hingga..

"Kenapa kau tidak masuk! Memang Sasuke sedang ap—!?"

Iruka termenung di depan pintu yang terbuka dengan mulut yang menganga melihat artisnya dengan seorang pemuda manis sedang dalam posisi mencurigakan.

Untuk yang kedua kalinya, Sasuke dan Naruto mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka. Itachi yang berada di belakang Iruka menepuk keningnya, dia gagal menghalau Iruka yang menerobos masuk.

Hening

"Ah, maaf... silahkan lanjutkan."

Blam

Lagi-lagi Iruka pergi dengan terburu-buru, meninggalkan kedua orang yang lagi-lagi saling melihat. Naruto menatap Sasuke tajam, sepertinya otak Dobe-nya baru saja sadar dengan apa yang terjadi tadi.

"Menyingkir Teme!" Teriak Naruto dengan sangat kencang.

Bruk

Sasuke pun terjerebab jatuh dari sofa—eh, maksudnya dari tubuh Naruto. Dengan pantat terlebih dulu yang mendarat di lantai dan kaki yang masih mengangkang di atas sofa, Sasuke terlihat tidak Uchiha-ish banget. Membuat Naruto yang melihatnya harus menahan tawa.

"Rasakan itu, Teme. Itu pembalasan karena kau sudah berbuat tidak senonoh padaku!" ucap Naruto sambil berkacak pinggang di depan Sasuke. Senang juga melihat ayam yang sedang terduduk di lantai—yang melihatnya dengan tajam. Oh, andai saja Naruto punya waktu lebih lama untuk melihat situasi ini.

Tapi semua itu terhenti saat Naruto ingat tujuannya kesini bukan untuk melihat aktor ayam terduduk di lantai dengan posisi yang uh. Jadi dengan cepat Naruto melangkahkan kakinya menuju pintu untuk mengejar Itachi—meninggalkan Sasuke.

"Hei, Dobe!" teriak Sasuke kesakitan di bagian pantatnya. Oh, semoga saja pantatnya tidak akan penyok, lebam atau ambeyen. Entah dari mana Sasuke berpikir seperti itu.

Sasuke mengerang saat perlahan dirinya berdiri. Lalu tanpa memperdulikan rasa sakitnya Sasuke pun mengejar Naruto. Melihat kanan dan kiri lorong, ternyata Naruto sedang berbicara dengan manajer dan Itachi di ujung lorong sebelah kanan. Naruto terlihat sedang berusaha meyakinkan Itachi dengan sangat sungguh-sungguh, sampai Sasuke berpikir begitu pentingnya 'kah urusan Naruto itu?

Dengan langkah yang di buat sekeren mungkin dengan menahan rasa sakit di bawah tubuhnya, Sasuke berjalan menghampiri ketiga orang itu.

Tap

Sasuke berhenti. Iruka, Itachi dan Naruto melihat ke arahnya. Dan, Naruto langsung memalingkan muka, dan melihat Itachi kembali.

"Itachi-san, bagaimana? Kau setuju?" tanya Naruto mengalihkan perhatian ketiga orang di depannya.

Itachi terlihat berpikir sebentar, lalu melirik ke arah Sasuke yang menggumamkan kata favoritenya. Itachi pun melihat ke arah Naruto, "Kau sudah mendapatkan persetujuan dari otoutoku ini?" tanya Itachi menggidikkan kepalanya ke arah Sasuke.

Naruto menghela nafas, 'Ternyata kakak adik sama-sama menyebalkan.' Runtuk hati Naruto kesal. Jelas dia belum mendapatkan persetujuan Sasuke, dan malah bertaruh dengannya. dan sialnya ternyata kedua kakak adik ini begitu kompak sampai akhirnya Naruto tidak tau harus berbuat apa lagi. Sesudah sedikit berbicara dengan Itachi, Naruto tau, Itachi bukanlah sosok laki-laki yang gampang di goda. Jadi, tidak mungkin dia akan menggunakan jurus-jurus menggodanya pada Itachi. 'Sial!' Kesalnya dalam hati.

Naruto menggeleng lemah, Sasuke menyeringai, Itachi dan Iruka mengangkat bahunya.

"Kalau begitu kau harus bicara dulu dengan otoutoku ini." ucap Itachi membuat Naruto serasa dirape Sasuke saat itu juga.

"Ta-tapi..."

"Kita sudah bicarakan itu. Dan aku hanya perlu menunggu jawabmu, Dobe." Sela Sasuke.

Naruto menatap tajam Sasuke. 'Sialan kau, Teme.' Maki Naruto dalam hati. Dan sepertinya Sasuke mengerti arti kata-kata mata itu, dan hanya menjawab dengan seringaian yang semakin terlihat di bibirnya.

Iruka hanya menghela nafas dengan permainan kekanak-kanakan aktornya. Hanya untuk mendapatkan pemuda di depannya saja Sasuke sampai repot-repot seperti ini. Padahal Sasuke hanya perlu menyewa seseorang yang pasti dengan 'sangat' senang hati mau melakukannya. Sasuke itu sangat merepotkan. Iruka tersentak, pikirannya tadi entah kenapa menjadi sama dengan salah satu artis yang selalu mengucapkan kata merepotakan itu.

"Jadi?" tanya Sasuke.

Naruto menghela nafas kencang, "Ok, aku terima."

.

"Apa-apaan ini!?" teriak Naruto saat dirinya di dandani dengan sangat sempurnya oleh salah banyak make-up artis.

"Kau terlihat cantik memakai itu, Dobe." Ucap Sasuke entah memuji atau meledek. Berbalik menuju Jiraya yang sedang ternganga sangat lebar. "Ayo kita mulai shootingnya." Ucap Sasuke sambil menepuk bahu Jiraya—menyadarkan Jiraya dari tatapan penuh nafsunya melihat Naruto.

Jiraya menggelengkan kepalanya dengan cepat, "O-ok." Jawabnya tergagap. "Ok, cepat lakukan persiapan. Shooting kita mulai sekarang!" Teriak Jiraya sambil mengarahkan orang-orang pekerjanya. Orang-orang itu langsung melakukan pekerjaan mereka dengan cepat dan gesit. Sasuke juga terlihat sedang memegang naskah.

Naruto memajukan bibirnya yang di poles dengan lip glos warna natural. Menghentakkan kakinya yang memakai high heels—ke arah Sasuke. "TEME!" Teriak Naruto saat berada di hadapan Sasuke. Matanya yang sudah di poles dengan eye shadow warna natural semakin menonjolkan kecantikan shappire matanya, apalagi dengan bulu mata yang semakin lentik dan tebal. Pipinya yang di poles dengan blush-on juga semakin merona—entah karena kesal atau malu karena penampilannya.

Sasuke melihat Naruto.

Pakaian lolita berwarna hitam dengan renda dan beberapa pernik berwarna merah dan kuning—kontras. High heels putih seperti sebuah sepatu kaca, memperindah kaki jenjang yang terlihat sangat mulus—seperti bukan kaki seorang pria. Rambut pirang panjang yang di ikat sebagian, dengan bagian bawah sedikit curly di ujung rambutnya, sedikit helaian pirangnya di sisihkan di samping telinganya yang memakai anting-anting berwarna emas kecil tapi manis. Wajahnya di rias sedemikian rupa dengan make-up natural, tidak menonjol tapi di buat manis.

Penampilan Naruto membuatnya semakin saru antara wanita dan laki-laki. Bahkan tadi Sasuke sempat merona melihat penampilan Naruto yang seperti bukan laki-laki.

"Teme!" Bentak Naruto saat Sasuke dari tadi memperhatikan kaki jenjangnya—yang menggiurkan. Sasuke memang mesum, sempat-sempatnya dia mencari kesempatan untuk berpikir bagaimana rasa kelembutan kaki itu.

"Apa, Dobe!?" tanya Sasuke ketus.

"Kau tidak bilang jika aku harus memakai pakaian ini saat shooting!" cercah Naruto. Siapa yang tidak suka jika dirinya yang seorang laki-laki tulen—mungkin hampir—di dadandani seperti wanita. Naruto merasa dirinya menjadi seorang waria saja.

Sasuke menghela nafas, "Itu karena film ini tidak bisa di ubah menjadi film yaoi, Dobe." Alasan Sasuke. Tapi sepertinya Naruto sama sekali tidak menerima alasannya.

"Kalau begitu kau cari saja wanita tulen yang mau bermain di film ini. Jangan aku!" sergah Naruto.

Sasuke meletakkan naskahnya yang sedari tadi di pegangnya di atas meja. Berjalan mendekati Naruto yang masih menatapnya tajam. "Tapi aku ingin kau, bukan yang lain." Bisik Sasuke tegas. Entah kenapa kata-kata itu terdengar sangat ambigu di telinga Naruto. Naruto yang selalu mendapatkan gombalan dari banyak pria mendengar bahwa itu seperti sebuah ungkapan perasaan Sasuke yang sesungguhnya padanya.

Naruto tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya bisa diam hingga akhirnya Jiraya memanggil mereka berdua untuk memulai aktingnya yang pertama di depan kamera. Naruto sudah cukup hebat dalam berakting. Buktinya dia bisa berakting dengan sangat bagus hingga tidak di ketahui jika dia mempunyai selingkuhan oleh kekasih-kekasihnya.

.

.

.

Tbc

.

A/N: Dikit? Sorry... tiba-tiba pikiran buntung di sini. jadi harus nuggu ide lain beberapa waktu buat lanjut chapter selanjutnya. Kalau ada yang bertanya fic ini bakalan sampai berapa chap, aku sendiri sih inginnya Cuma bakalan sampe chap 10. Jadi doain aja supaya dapet ide cepet jadi, updatenya juga cepet dan cepet selesai deh nih fic^^

Blum bisa balas review, gomen...

Jadi gimana? Ada kritik dan saran?

Review..