Merah.
.
Setiap melihat warna itu, yang pertama kali terlintas adalah dia. Nama yang tidak pernah luput dari pikiranku. Wajahnya yang rupawan namun dingin, menarik sekaligus terlihat rapuh. Cerdas dan tak bisa ditebak, misterius tapi membuatku ingin tahu. Semuanya begitu rumit tanpa ada kejelasan yang pasti.
-oOo-
.
LADY IN RED
CHAPTER 3 : FADE AWAY
.
.
Sekali lagi aku melihat kertas merah yang dititipkan pada Ashley, menatap lekat-lekat pada cap bibir di sebelah kanan. Ya, memang ini ciri khasnya… Kurasa itu memang dia. Dari kejauhan aku melihat Helena bersama kliennya, Nyonya Rosette. Aku cepat-cepat melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku kanan celanaku. Nyonya Rosette sepertinya berusia 60 tahun, posturnya kurus, tidak tinggi dan sedikit bungkuk. Aku yakin dia adalah salah satu tamu senior di pertemuan kali ini. Nampaknya ia bertanya sesuatu, Helena sedikit membungkuk agar perkataan wanita itu terdengar jelas. Ia hanya tersenyum simpul lalu menunjuk sesuatu ke arahku. Menunjukku, kurasa.
.
"Nyonya Rosette, ini orang yang tadi kubicarakan, dia Agen Kennedy," kata Helena.
Aku cepat-cepat mengulurkan tangan, "Selamat siang, Nyonya Rosette. Saya Leon Scott Kennedy. Senang berkenalan dengan Anda."
"Dia memang terlihat tampan, Helen…" godanya sambil menjabat tanganku, "Halo, aku Rosette."
"Nyonya, aku dengar dari Helena kalau pertemuan ini sedang membahas antivirus untuk menanggulangi bioterorisme, apakah diantara tamu ada yang membawa sample?" aku bertanya tanpa basa basi.
Nyonya Rosette tidak terlihat terkejut pada pertanyaanku, "Ya."
Aku dan Helena berpandangan satu sama lain.
"Orang itu yang membawanya, Dr. Anna dari Jepang, tapi aku sendiri belum melihat sample-nya. Kurasa masih dalam tahap percobaan dan sama sekali belum sempurna, tapi perilaku mereka seakan-akan sudah menemukan obat penawar untuk dunia. Sigh…" celoteh Nyonya Rosette.
Anna Nishizawa dari Jepang? Dia termasuk salah satu tamu dari Asia yang kucurigai!
"Terima kasih atas kerjasamanya, Nyonya. Rekan-rekan Anda sudah menunggu di dalam," aku tersenyum sambil berjalan di sebelahnya. Helena mengikuti dari belakang.
Nyonya Rosette menoleh, "Aku akan menghubungimu setelah acara selesai, Helen…"
Helena hanya mengangguk sambil tersenyum.
.
.
Dari ujung lorong aku mendengar seorang agen menghampiri tamu, suaranya kecil dan aku hanya melihat siluetnya. Dia diikuti salah satu rekanku, agen Ron. Dia berusaha membawa tamu yang nampaknya –salah arah- untuk kembali ke ruang pertemuan.
"Nona, sepertinya kau salah arah. Ruang pertemuan bukan disana…"
Mungkinkah itu Ada?
Tanpa pikir panjang aku berlari meninggalkan Helena.
"Ron! Perhatikan wanita itu!" kataku sedikit berteriak. Mungkin yang lain terkejut akan sikapku ini, tapi aku tak peduli.
Di ujung koridor aku hanya melihat Ron seorang diri.
"Ron.. Dimana dia?" nafasku sedikit tersengal.
Ron hanya menunjuk sebuah pintu bertuliskan TOILET WANITA. Dari belakang Helena berjalan dan menepuk punggungku, "Tenanglah, Leon…"
Helena masuk ke dalam, tidak beberapa lama kemudian dia keluar dengan seorang wanita. Berbaju kuning… Ah. Dia Bukan Ada.
.
"Ada apa ini? Apa seorang tamu tidak diperbolehkan ke toilet?" tanya wanita itu ketus.
"Maafkan aku, bukan begitu keadaannya... Ron, tolong kau antar Beliau kembali ke ruangan. Aku minta maaf sudah membuat keributan." kataku sambil menepuk Ron. Wanita itu tetap menatapku dengan sinis, seakan melihat orang gila yang melarang seorang tamu pergi ke toilet. Tapi akhirnya dia berhenti memandangiku, memilih pergi bersama Ron dan menghilang di tikungan koridor.
"Leon, sebaiknya kau lebih berhati-hati. Ini tidak seperti di Tall Oaks yang chaos. Disini semua keadaan harus terkendali, mereka tamu yang dilindungi Amerika," Helena mengingatkan, "Lagipula yang tahu masalah ini hanya aku, kau, juga Hunnigan."
Aku mengangguk setuju.
"Ya, kau benar Helena. Sorry…"
"Nah, setelah kau bisa mengendalikan emosimu, kurasa aku harus menunjukkan ini…"
Alisku terangkat, Helena menyodorkan sebuah name tag.
.
Aku mengamati name tag yang diberikan Helena, milik Mrs. Xiao Li, wanita ini juga seorang peneliti di salah satu laboratorium pusat yang berada di China. Wajahnya sangat oriental dan terlihat seperti berumur empat puluh tahunan. Dia juga salah satu tamu yang seharusnya hadir di pertemuan kali ini.
"Dimana kau temukan ini?"
"Di toilet tadi, sebelum wanita baju kuning itu keluar. Aku mengambilnya dari tempat sampah."
"Maksudmu… Red membuang benda ini dan memalsukannya?" tanyaku.
"Mungkin saja, Leon…" jawab Helena, "Aku tidak tahu pekerjaan Red. Biar kutebak, dia adalah mata-mata... dan bukan amatiran. Apa benar? Kau yang lebih kenal dia kan?"
Aku tersenyum sinis, "Kini kau paham kenapa kusebut hubungan yang merepotkan?"
"Sedikit memberi komentar tentang tipemu…" jawab Helena sambil mengedipkan satu mata, "Wanita yang rumit."
"Bingo!"
.
.
Kami berjalan menuju ruang pertemuan, dan tiba-tiba dicegat oleh dua orang agen, Ron juga Diana. Mereka bertanya kenapa aku berteriak seperti tadi kepada tamu padahal sejauh ini keadaan aman terkendali. Karena semua hal harus dilaporkan ke kantor pusat, mereka khawatir ada masalah yang terjadi tanpa sepengetahuan mereka. Semua harus bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu. Aku sendiri bingung menjelaskannya, jelas aku tidak boleh memberi tahu kalau aku kenal Ada Wong atau setidaknya kabar bahwa dia ada disini. Selain itu, tidak baik mengulur waktu sementara aku tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita itu.
Untunglah, Helena Harper… Dia membantuku. Dia memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa dia berada dalam tugas pribadi untuk mengawal kliennya, Nyonya Rosette. Helena meminta bantuanku untuk menemukan dari Jepang, yang membawa barang penting. Dia tidak menyebut tentang sample antivirus, hanya menyebut barang sifatnya sangat penting dan rahasia. Sebenarnya dia tidak diperbolehkan menyebarkan informasi ini, tapi dia terpaksa mengatakannya kepada Agen Ron dan Diana. Alasan seorang Secret Service Agent memang hebat, pikirku.
"Agen Kennedy dan Helena, kami mohon maaf atas pertanyaan tadi," kata Ron, "Kami akan membantu kalian semaksimal mungkin. Well, kurasa kalian bertemu orang yang tepat. Aku yang bertugas membantu para tamu. Tadi aku yang mengantarkan dr. Anna ke ruang makan. Aku juga lihat dia sudah masuk ke ruang pertemuan lagi. Perlukah kita panggil dia?"
"Tidak, tapi tunjukkan dimana dia, Ron. Aku juga perlu memastikan beberapa orang."
"Baik. Ikut aku ke dalam, Kennedy."
.
Ron membuka pintu ruangan dan kami masuk dengan hati-hati, takut mengganggu jalannya pembicaraan. Dari apa yang kudengar, program aliansi akan dijalankan sebulan lagi dan mereka sedang memilih dewan perwakilan tiap-tiap negara. Ron menepuk bahuku, lalu ia menunjuk seorang wanita berambut hitam dan berkacamata, menggunakan pakaian berwarna putih.
"Dia dr. Anna Nishizawa. Kau lihat koper putih di sebelahnya? Dia selalu membawa itu kemana-mana, bahkan menolak untuk kubawakan ketika mengantarnya ke ruang makan. Mungkin di sana terdapat barang penting yang kau cari." kata Ron, "Lihat yang disana. Itu Suzy Tse, wakil dari Singapura."
Sesaat aku menoleh pada Suzy Tse, tapi dia jelas bukan Ada. Dia duduk di barisan terdepan, rambutnya berwarna merah dan tergelung ke atas. Dia sibuk berbicara dengan seorang pria di sebelahnya. Penglihatanku kembali ke arah dr. Anna, dia duduk diapit oleh dua pria yang berpakaian senada dengannya, mereka terlihat seperti seorang profesor atau dokter.
"Dimana Kim Seo Yun?" tanyaku.
Ron mencarinya di deretan bangku tapi tidak menemukannya. Sambil ia mencari, aku melihat seisi ruangan, memastikan apa Ada Wong ada di dalam. Tapi, tentu saja dia tidak ada.
"Ah, itu dia! Kim Seo Yun… Lihat! Dia berdiri di panggung, di sebelah mimbar, wanita berambut hitam itu. Rupanya dia terpilih menjadi dewan perwakilan dari Korea," Ron menunjuk seorang wanita di panggung, dan dia juga bukan orang yang kucari. Tapi setidaknya, kecurigaanku terhadap empat orang tamu Asia semakin berkurang.
"Ron, dimana wanita yang bernama Xiao Li dari China?" akhirnya aku menyebutkan nama tamu yang nametag-nya tertinggal… maksudnya, dibuang di tempat sampah.
"Siapa dia?" tanya Ron keheranan.
"Salah satu tamu yang datang, kau lihat ini… Helena menemukan nametag-nya tertinggal di toilet," kataku sambil menunjukkan nametag tapi tidak memberikannya langsung pada Ron, "Oh ya, apa kau melihat seorang wanita berbaju merah?"
Ron mencoba mengingat-ingat, sambil melihat ke sekeliling ruangan, "Aku tidak memperhatikan satu per satu yang mengenakan baju merah, Kennedy… Tapi seingatku memang ada beberapa, terutama satu orang yang cantik."
"Nah. Dimana dia?"
"Ini menyangkut pekerjaan atau pribadi? Kau ingin berkenalan dengannya?" lirik Ron.
"Huh, kau tahu. Keduanya…" jawabku singkat.
"Yaa tentu saja, sebagai sesama pria, aku tahu maksudmu yang sebenarnya Kennedy," Ron tertawa, "Tapi aneh. Dia tidak ada disini, sepertinya dia tidak kembali setelah makan siang? Sayang aku juga tidak tahu namanya."
Kelihatannya itu memang dia.
Aku keluar ruangan meninggalkan Ron, dia harus mengawasi dr. Anna dan tas koper keramatnya. Di luar Helena sedang bersama Agen Diana, dia terlihat sedang membicarakan sesuatu. Dan nampaknya dia terkejut ketika aku membuka pintu.
.
"Leon! Kau mendapatkan sesuatu?" tanya Helena.
"Yeah. Penghuni nakal yang menghilang ketika pertemuan berlangsung."
Tiba-tiba Diana memberikan teleponnya padaku, "Sepertinya kau harus dengar ini."
"Kennedy, ini Hunnigan. Kau sudah menemukan titik terang? Aku baru mendapatkan kabar, entah buruk atau baik bagimu…" Hunnigan berbicara lagi, "Mrs. Xiao Li dari China dipastikan tidak menghadiri acara ini, Leon. Dia sedang sakit dan laporan mengenai pembatalan kedatangannya baru dikonfirmasi hari ini, tepatnya beberapa menit yang lalu."
"Kabar baik. Kau tahu? Sepertinya kita kedatangan tamu asing, mungkin saudara jauh Mrs. Xiao Li? Apa Amerika berniat memberikan penyambutan pada tamu yang satu ini?"
Hunnigan mengerti maksudku.
"Lakukan apa yang harus kau lakukan, Kennedy." jawabnya sebelum menutup pembicaraan.
.
Sepertinya aku akan segera bertemu denganmu, Ada…
.
.
ARA Executive Conference Center – Dua jam sebelum pertemuan usai
Setelah telepon itu, Hunnigan memberi perintah langsung kepada seluruh agen lapangan yang bertugas. Ada seorang tamu tak diundang yang datang, dia menggunakan nama Mrs. Xiao Li yang seharusnya sedang terbaring sakit di China. Lakukan segala upaya untuk menangkap wanita itu, penyisiran di setiap sudut gedung. Aku juga memerintahkan beberapa agen untuk menemani Ron, siapa tahu wanita itu datang untuk mengambil sample yang dibawa dr. Anna. Aku dan Helena, berinisiatif mengecek ruangan CCTV yang terletak satu lantai di bawah ruang pertemuan. Laporan dari transmisi mulai ramai, rupanya mereka sedang memulai penyisiran. Gedung ini memang cukup luas, tapi setidaknya jumlah agen lapangan kami cukup membantu.
Begitu sampai di ruang control CCTV, betapa kagetnya kami ketika pintunya tidak terkunci. Di dalam gelap. Sama sekali tidak ada penjaga, entah dimana. Saat itu kami menyiapkan senjata masing-masing.
"Aku akan masuk duluan, Helena." kataku.
Aku menendang pintunya dan membidik ke berbagai sudut… Sepertinya memang kosong. Helena yang masuk belakangan mencari saklar dan lampu pun menyala. Tidak ada siapa pun disini. Kami menemukan semua kamera CCTV dalam keadaan non aktif. Rekaman sebelumnya sudah dihapus bersih oleh seseorang. Dari layar aku bisa melihat tiap lokasi yang seharusnya direkam, banyak jumlahnya. Tapi anehnya, tidak ada satu pun yang menunjukkan lokasi wanita itu.
.
"Dia sudah sangat terlatih untuk ini…" Helena memecah keheningan.
Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya, terus memperhatikan layar. Berharap muncul satu petunjuk tentang keberadaannya, petunjuk sekecil apapun. Tapi hanya tampak para agen yang hilir mudik melakukan penyisiran. Tidak ada tanda keberadaan Ada Wong dimana pun. Nihil.
Sebenarnya dia ada dimana?
Ponselku lagi-lagi bergetar, kali ini muncul sebuah pesan singkat.
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kagetku, dan Helena melihatnya.
.
From : Ada
"Kau mengkhawatirkan aku, Leon? Kau terlalu khawatir…
Tak sabar bertemu denganmu, tampan."
.
Jantungku kini berdegup sangat kencang setelah membaca pesan singkat itu.
"Ada apa?" tanya Helena.
Aku tidak menjawab, hanya menatapnya. Bingung hingga tidak bisa berkata-kata.
Dia seperti mempermainkan aku…
"Kurasa itu dari Ada?" tebak Helena, "Dia punya nomormu, Leon?"
Aku masih terdiam, hanya mengangguk kecil.
.
.
Spanyol, 2004
Misi pertamaku setelah enam tahun karantina di pelatihan Amerika Serikat. Presiden saat itu, Mr. Graham, memerintahkan aku dan dua agen lainnya untuk menyelamatkan puterinya yang diculik, yang tak lain adalah Ashley. Aku bertemu lagi dengan Ada Wong di sebuah kastil, pertemuan yang cukup 'dramatis'. Artinya, yang membuatku yakin betapa bodohnya menyalahkan kematiannya pada diriku sendiri selama enam tahun, sedangkan dia masih hidup dan bekerja untuk Albert Wesker. Tapi, setelah itu dia datang dan bermaksud menolongku dengan memberiku tumpangan.
"Need a ride, handsome?" tanyanya saat itu, dengan suaranya yang khas.
Tawaran yang tidak bisa kutolak. Selanjutnya sepanjang perjalanan, dia hanya diam ketika aku bertanya. Sesekali aku meliriknya, tidak bisa dipungkiri aku selalu ingin melihat wajahnya. Dia tetap terlihat menawan seperti yang ada di pikiranku. Dan akhirnya, aku memberikan diri.
"Ada, ini nomorku. Kuharap aku bisa membantumu jika terjadi sesuatu," aku menyerahkan secarik kertas padanya yang sedang mengemudi.
"Oh. Tuan penolong yang baik hati. Kau tetap sama seperti dulu, Leon…" katanya sinis. Tapi dia menerimanya. Dari sanalah ia mendapatkan nomorku, dan ternyata usahaku saat itu tidak sia-sia.
.
"LEON, SADARLAH!"
Pikiranku kembali berada di ruang CCTV, sambil menatap Helena dengan kikuk.
"Ah?! Oh God. Y… Ya. Aku mendengarmu, Helena."
"Apa yang dia katakan? Dan ternyata kau juga punya nomornya, benar-benar membingungkan."
"Dia tahu kita sedang mencarinya, dan dia tidak sabar bertemu denganku. Ya aku punya nomornya, kronologisnya tidak begitu penting dan tidak perlu kujelaskan…"
Helena mengangkat bahu, "Aku pun tidak tertarik. Yang jelas kalian saling berhubungan."
"Sesekali," jawabku, "Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Menunggu dari ruang CCTV?"
Aku melempar pandanganku ke arah layar lagi, kehabisan ide bagaimana menemukan dia. Sekelebat siluet muncul dari layar C-17. Helena juga melihatnya, tampaknya lokasi target telah ditemukan. Dari layar terlihat C-17 dipasang di daerah taman yang mengarah ke lokasi parkir. Meskipun hanya siluet dan tidak terlihat lagi, kemungkinan itu memang dia.
.
"Perhatian untuk seluruh agen! Disini Kennedy, beri laporan siapa yang paling dekat dengan lokasi taman dekat tempat parkir?" aku segera memanggil lewat transmisi.
"Disini Brooke, Kennedy! Apa dia terlihat?"
"Ya sepertinya dia lewat sa…" omonganku diputus oleh teriakan.
"AKU MELIHATNYA! Perhatian, target terlihat di sektor C, dekat taman! BUTUH BANTUAN SEGERA!" Brooke berteriak sambil memberi komando. Dari suaranya yang bergetar, ia pasti sedang berlari.
"KEJAR DIAA!" Brooke memberi komando sekali lagi. Tampaknya ia sendirian.
"Berapa jauh kita dari lokasi, Helena?" aku bertanya.
"Hanya satu lantai, taman terletak di sebelah timur lobi. Kejar dia, Leon… Biar aku yang menjaga sample ilmuwan Jepang itu."
Tanpa pikir panjang aku segera berlari menuruni tangga darurat, Helena tidak ikut. Dia bergegas ke ruang pertemuan untuk mengamankan dr. Anna juga tasnya. Nafasku sudah memburu ketika sampai di lobi, tapi aku terus berlari menuju taman. Para operator berdiri kebingungan dan sedikit ketakutan ketika para agen berbondong-bondong berlari menuju taman.
.
"Brooke, kau dimana?!" aku bertanya lewat transmisi, "BROOKE!"
"Disini Steve, Agen Brooke terluka! Kirim bantuan medis segera! Sektor C, lapangan parkir seberang taman. Kulaporkan sekali lagi…" dari transmisi Steve mencoba menghubungi tim medis.
Brooke gagal mengejarnya.
Aku sampai di taman, melihatnya terkapar di tanah. Di sebelahnya Agen Steve sibuk memberi lokasi pada tim medis. Brooke terbatuk-batuk, Steve membantunya duduk tapi tidak bisa.
"BROOKE! Apa yang terjadi?!" aku bertanya dengan nafas yang belum teratur.
"Wanita itu…pro. Aku dikalahkan telak, sepertinya ada yang patah, uggh…maaf, Kennedy." ia meringis kesakitan memegangi tulang iga-nya.
Sial.
"Kemana ia kabur?"
Brooke menunjuk jalan raya, "Dia… sudah pergi. Leon… Kita… gagal. Kalian sedikit terlambat… Maafkan aku, dia… terlalu tangguh."
Bantuan medis datang dan Brooke segera dilarikan ke rumah sakit, aku menepuk pundaknya sebelum ia diangkat, "Sudahlah, Brooke. Keselamatanmu lebih penting."
Brooke diangkat ke Ambulance dan mereka kini meninggalkan gedung pertemuan. Ketika melirik jam, ternyata waktu sudah menunjukkan jam empat sore. Semuanya selesai, kini saatnya tamu-tamu itu pulang. Aku pun kembali ke gedung, menekan tombol elevator dan menuju ruang pertemuan. Aku harus menemui dr. Anna, ilmuwan dari Jepang itu. Meskipun kabur, kurasa Ada tidak berhasil mendapatkan sample-nya… Itu yang kupikirkan untuk menghibur diriku sendiri. Tapi aku sadar, itu hanya penghiburan untuk sementara.
.
Wanita itu sekali lagi berhasil lari dariku…
.
.
Author's Note :
END OF CHAPTER 3! Fyuuh ngga nyangka seharian ngetik ini… (mentang-mentang lagi libur).
Terima kasih sekali lagi untuk yang sudah menyempatkan waktu buat baca apalagi review. Maafkan segala kegalauan kata-kata atau penulisan yang salah. hehehe. Gimana pendapatnya dengan chapter ini? Semoga tidak membosankan yaa…
- Nama semua agen selain Helena dan Hunnigan, original hasil pemikiran saya. Pasti 'ngeh' deh tiba-tiba kesebut Ron dari novel apa :D
- Mencoba mengaitkan RE 4 untuk memberi gambaran kapan Leon dapet nomernya Ada (karena *spoiler* tiba-tiba di RE 6 mereka punya nomer masing-masing, dan sepertinya dari jaman Damnation mereka juga udah saling kontak).
Semoga kalian semua terus ikutin cerita ini… saya tunggu terus review, kritik, maupun idenya.. Terima kasih banyak !
Sampai jumpa di Chapter berikutnyaa…. :D
-jitan88-
