BoBoiBoy © Monsta
I'm a Boy 3 © Vinie-chan
Warning : This story contains a bit shounen-ai. Don't like, don't read!
-Chapter 2-
"Lho? Pang?" Terdengar suara seorang laki-laki yang kini tengah duduk di sebuah rumah yang terlihat angker. Kalian pasti hafal dengan rambut bebeknya yang mencuat di atas kepalanya itu. Tangannya menggenggam sebuah handphone bermerk termahal sambil melontarkan suara beratnya. "Kenapa meneleponku? Bukankah seharusnya kamu tidur? Besok kamu berangkat ke Malaysia."
"Tidak, Bang. Aku hanya ingin satu permintaan saja, Bang, sebelum aku ke sana," kata sebuah suara yang tak lain adalah milik dari adik sang mantan ketua militer.
Kaizo mendesah pelan sebelum dia mengeluarkan suaranya kembali, "Mau minta apa?"
Selang beberapa detik, tidak ada suara dari Fang sampai dia mendengar kata-kata dari sang adik. Wajahnya memucat mendengar segalanya yang diucapkan oleh Fang seorang, tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang adik. Tapi mengingat sang adik memiliki tujuannya tersendiri, akhirnya dia mengangguk pelan.
"Baik. Akan Abang lakukan, walaupun caramu itu memang benar-benar di luar dugaan. Tapi, Pang ... Kau serius? Maksudku ... apakah dia tidak akan shock melihatmu seperti itu?" tanyanya bertubi-tubi. "Hmm ... Okay, but you have to take the risk. You know that 'he' is here, right?"
Suara telepon pun terputus. Kaizo menghela nafas panjang menyadari realitanya akan menjadi lebih pahit dan lebih rumit dari biasanya. Jantungnya berdegup kencang sambil sesekali iris merahnya melirik ke segala arah. "Haah ... Aku harus bagaimana?"
-Ochobot's POV-
Malam hari adalah waktu di mana aku masih harus menghubungi Papa dari Fang dan Kaizo, karena waktu negara kami berbeda. Aku benar-benar tidak suka karena sudah cukup beradaptasi di sini. Seharusnya aku tidur pada malam hari di Pulau Rintis ini. Huft ... Kerjaan, kerjaan, kerjaan. Menjadi agen militer yang bertugas menjaga sahabatnya itu cukup merepotkan, bukan? Mana kasus-kasus di Amerika sana masih harus ku selidiki tanpa sepengetahuan BoBoiBoy. Jika dia tahu, tugas ini tidak akan kelar secepatnya.
Dalam waktu beberapa menit, aku berhasil menemukan data-data tersembunyi di tabletku. Segera ku hapus keseluruhannya dan ku ketik pesan untuk Pak Tua (aku menyebutnya begitu karena beliau sudah cukup tua untuk dipanggil paman). Saat itu juga, pintu kamar terbuka dan muncullah Atok yang memakai kaos oblong putih dan sarung.
"Ochobot? Kamu belum tidur?" tanya Atok sambil mengucek-ucek mata beliau.
"Belum, Tok. Masih banyak kerjaan," jawabku enteng. Tenang saja, di sini yang mengetahui pekerjaanku hanya Atok.
"Ooo ... Haish ... Kasusmu banyak sekali, Ochobot. Papa Fang masih beri kamu tugas meskipun kamu masih harus sekolah?"
Aku mengangguk. "Setidaknya bisa selesai malam ini kalau aku bisa konsentrasi."
"Hmm ... Ya sudahlah. Cepatlah tidur. Sudah malam, nih."
"Iya, iya, Tok ..." Seketika aku teringat dengan seseorang. "Oh, ya! BoBoiBoy mana, Tok?" tanyaku kemudian.
"Eh? BoBoiBoy? Dia ada di ruang tengah. Kalau kau mau, susul saja dia, temani. Atok mau tidur. Hoaaammmm ..." Ups, sepertinya mulut Atok hampir melahap udara di sekitar.
Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Tanpa banyak basa-basi lagi, Atok meninggalkan kamarku dan kini aku bisa bekerja dengan tenang. Jika kalian belum tahu, akhirnya sejak aku dan BoBoiBoy menginjak usia 13 tahun, kamar kami dipisahkan. Atok merelakan sebuah kamar kosong di lantai bawah untuk ku tempati. Sebenarnya kamar tersebut adalah kamar Abahnya BoBoiBoy yang digantikan menjadi kamar tamu dan kini telah menjadi kamar pribadiku.
Ketikan demi ketikan keyboard tablet terdengar. Aku geli sendiri ketika mendengarnya, sama halnya dengan perasaan geliku ketika menyadari rasa sukaku pada Bo–
WAIT! WAIT! I DIDN'T MEAN TO TAKE BOBOIBOY FROM FANG! DON'T MISUNDERSTANDING ME! PLEASE!
Tapi aneh juga. Seharusnya aku tidak memiliki rasa suka pada BoBoiBoy. Mungkin semua berawal sejak ...
"Terima kasih, Ochobot! Kau memang TERBAIK!"
BRRRR ...! Berhenti berpikiran aneh, Ochobot! Dia milik Fang dan kau hanyalah perantara mereka! Seandainya kau memang menyukai BoBoiBoy, Fang akan membunuhmu!
Aku tak mengerti kenapa batinku selalu berperang setiap melihat BoBoiBoy dengan Fang. Cemburu? Pfft ... Tak mungkin ... Kau normal, kok. Tidak seperti mereka yang homo tak ketulungan. Kau sudah berjuang memisahkan BoBoiBoy dengan Fang, namun sekarang kau malah membiarkan mereka berdua kembali. Bukankah tugasmu adalah melindungi BoBoiBoy dari si manusia mesum itu? Ha! Sekarang lihatlah siapa yang bodoh. Aku. Ya, aku bodoh sekali berjuang mati-matian memisahkan mereka dan berakhir membuat mereka bersatu kembali. Sangat bodoh!
Berhenti bicara dengan batinmu, Ochobot.
Ah, bosannya tidak ada yang bisa ku jadikan bahan percobaan untuk kejahilanku (yup, aku mengaku aku benar-benar jahil). Ku letakkan tabletku ke tempat tidur, berjalan keluar kamar demi dapat menemukan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosanku. Sesaat aku teringat akan BoBoiBoy.
Hmm ... BoBoiBoy tidak bersuara sama sekali di ruang tengah, berarti dia sedang berada di kamar, batinku.
Ya, memang benar dengan apa yang kalian baca barusan. Aku selalu mendapati BoBoiBoy berteriak kencang setiap melihat film action atau tiba-tiba mewek setiap melihat film angst or romance, tapi mala mini tumben-tumbennya dia tidak bersuara, dan dugaanku memang benar. Kini di ruang tengah, tidak ada siapa-siapa selain jajanan ringan yang bertebaran di sekeliling sofa.
Seharusnya aku mengajarkan BoBoiBoy cara membersihkan rumah yang baik sebelum tidur.
Kakiku kembali melangkah menuju kamar BoBoiBoy di lantai atas. Masih tidak ada suara dari kamar. Segera ku buka pintu kamar yang tak terkunci, lalu mendapati BoBoiBoy tertidur di sana dengan senyuman mengembang. Aku tak mengerti kenapa dia tersenyum di tidurnya. Mataku menangkap sesuatu di tangan BoBoiBoy. Sesuatu berwarna putih dengan tulisan-tulisan yang samar-samar. Sebuah surat!
"Kenapa dia membawa surat? Dari siapa coba?" gumamku sambil mengambil surat tersebut secara perlahan.
Begitu tanganku menyentuh surat tersebut, kini ku baca dari baris perbaris. Mataku terbelalak dan keringat dingin bercucuran. Ini ... Ini benar-benar tidak dapat ku percaya. Fang akan datang besok. Itu terlalu mendadak! Aku memang tidak satu rumah dengan Fang, tapi mengingat dia akan kembali menyakiti BoBoiBoy membuatku harus mengurusi BoBoiBoy yang akan bersifat seperti bayi. Dia merepotkan di saat menangis.
Saat ini yang ada di pikiranku adalah kenapa Fang menulis surat–kata demi kata–dengan ucapan yang cukup dingin dan tidak berapi-api seperti ketika dia mengirimi SMS atau email? Apakah dia sudah banyak berubah?
Aku harap BoBoiBoy tak mengetahui kenyataan yang ada ...
Pagi menjelang datang. Seperti yang ku duga-duga, pasti Fang akan datang dan BoBoiBoy akan dengan leluasa berkhayal banyak tentangnya–atau mungkin sakit hati lebih dari beberapa tahu yang lalu. Kelas 5 SD dia sudah banyak menangis sampai kupingku sakit mendengar tangisannya. Apa yang akan dia rasakan kembali untuk kelas 10 ini?
BoBoiBoy duduk di kursi kedai sambil menyeruput hot chocolate dengan wajah yang bisa dibilang ... sangat bahagia. Sebahagia itukah dia ketika mengetahui sang kekasih akan datang? Aku mengerucutkan bibirku menyadari dia balik menatapku dengan tatapan innocent. Dia mendekatkan tubuhnya padaku sambil tersenyum.
"Kau tahu, Ocho?" Aku hanya nyengir.
"Pacarmu akan datang, bukan?" BoBoiBoy kelihatan terkejut.
"Kok tahu?" Aku tersenyum menatap BoBoiBoy yang kini melongo. Cukup menyenangkan membuatnya terkejut setengah mati.
"Tahu aja," kataku akhirnya, diikuti pukulan pelan dari BoBoiBoy yang mulai bertingkah seperti perempuan. "Tidak susah mengetahuinya. Cukup dengan melihat wajahmu yang tidak biasa. Aku hebat, bukan?"
BoBoiBoy memanyunkan bibirnya. "Like hell I care. Sok tahu kamu," ketusnya dingin.
Aku tertawa mendengar kata-kata pedasnya. "Sudahlah. Cepat minum, lalu kita berangkat. Kau tidak mau terlambat di hari kedua kita masuk sekolah, bukan?" BoBoiBoy menatapku, namun tangannya tetap mendekatkan cangkir berisi hot chocolate ke mulutnya, membuatku terkekeh geli melihatnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi. Atok kini tengah menyiapkan bahan-bahan untuk nanti, sedangkan aku dan BoBoiBoy yang selesai membantu membersihkan kedai kini beristiharat sambil meminum hot chocolate. Udara Pulau Rintis lumayan dingin di pagi hari ini. Biasa ... pasti karena musim yang tak menentu melanda Pulau Rintis. Berkali-kali aku terbatuk-batuk setiap tidak sengaja menghirup udara dinginnya.
Jantungku terus berdegup kencang setiap melihat BoBoiBoy meminum hot chocolate. Aku memang sering seperti ini, tapi bukan berarti aku menyukainya. Aku sadar kalau hari ini kekasihnya akan datang, dan tentu saja semua ini membuatku semakin tak siap. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa pasti BoBoiBoy akan menangis. Cepat atau lambat, aku yakin itu.
"Ochobot?" Suara cempreng BoBoiBoy mengagetkanku. Rupanya aku melamun sedari tadi. "Kenapa melamun? Ayo berangkat."
Aku terkekeh pelan melihatnya mengerutkan alis. "Hehehe ... Maaf. Ayo." Ku gandeng tangannya seperti biasa ku lakukan, lalu menoleh ke belakang hendak berpamitan. "Atok, kami berangkat dulu, ya!"
Atok memunculkan kepala beliau dari dalam kedai. "Oh, iya! Hati-hati di jalan!" Kepala beliau kembali dimasukkan ke dalam dapur, entah apa yang akan dilakukan.
Dengan hati gembira (ya iyalah, hari kedua sekolah), aku melangkah menuju sekolah bersama BoBoiBoy yang ... kini meremas surat yang semalam aku baca. Seketika aku ilfeel tanpa alasan. Mungkin karena isi dari surat tersebut.
"Kau mendapatkannya dari Atok, ya?" tanyaku tanpa ku sadari. Ups, sepertinya kata-kataku tadi membuat BoBoiBoy memerah.
"K-k-kok tahu?" Untuk kedua kalinya dia menatapku sebal.
"Heh. Mana mungkin Kaizo akan memberikan amplop dengan lambang milik Fang padamu? Lagipula kita baru bertemu dengannya kemarin, bukan? Jelas-jelas pasti Atok yang memberikannya, mengingat Kaizo sepertinya memang tahu rumahmu," jelasku.
"Tapi aku tidak mengerti, kenapa dia bisa tahu? Padahal kami tidak bagi-bagi alamat dan setahuku selama dia di sini, dia tidak pernah ke rumahku, deh," simpul BoBoiBoy begitu dia mengingat-ingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Kalau itu tanyakan saja pada calon suamimu. Kalian sudah setahun lebih tidak berbicara."
Wajah BoBoiBoy berubah sedih dan murung. Aku tahu apa yang kini dia pikirkan. Fang tidak pernah tidak mengiriminya SMS atau meneleponnya. Perubah terjadi ketika kami menginjak usia 14 tahun, di mana Fang susah untuk dihubungi dan Kaizo mulai menutupi status sang adik yang mulai berubah. Brengsek. Aku sudah melihat BoBoiBoy mengurung diri di kamar sambil menunggu panggilan dari Fang, namun apa yang dia tunggu tidak segera datang.
Aku lebih menyimpulkan Fang akan berubah 360° dari ketika kami terakhir kali berhubungan. Sifat ceria dan mesumnya pasti berubah, karena aku memang menyadari bahasa dan sifat yang dikeluarkan Fang sehari-hari tidak tertuang pada suratnya. Lebih baik aku diam saja daripada membuat BoBoiBoy tahu.
Sepertinya hari ini aku akan lebih banyak berpikir. Otakku terus mencerna isi surat dari Fang sekaligus membuat rencana jika nanti BoBoiBoy disakiti lagi oleh kekasihnya. Waspada saja, siapa tahu berguna di kemudian hari.
Langkahku berhenti ketika mataku melihat bangunan yang tinggi menjulang di depan kami berdua. Aku memiringkan kepalaku dan menyipitkan mataku, melihat anak demi anak yang masuk ke dalam sekolah tanpa beban. Seperti biasa, anak baru akan lebih menghabiskan waktu sendiri sebelum berlanjut ke kelas 11. Wajah-wajah tak bersalah yang polos nan datar memenuhi kepalaku setiap aku melihat mereka.
BoBoiBoy menarik tanganku untuk masuk ke dalam sekolah. Aku hanya mengikutinya tanpa berkata-kata, karena ku tak tahu harus mengatakan apa di depan BoBoiBoy yang kini terlihat kasmaran.
-BoBoiBoy's POV-
Bahagianya aku akan bertemu dengan Fang! Sudah lama dia tidak memberi kabar, aku jadi semakin rindu padanya. Momen bahagia ini tentunya berawal dari kemarin ketika pulang sekolah, aku tidak henti-hentinya kegirangan dan menjerit senang. Siapa yang tidak bahagia ketika orang yang ditunggu-tunggu akan datang? Suratnya aku cium berkali-kali, tanpa memedulikan pandangan Ochobot yang sedikit ... jijik. Aku balas menatapnya sambil tersenyum.
"Cemburu, ya~?" godaku sampai wajah Ochobot memerah dan dia mengeluarkan wajah geramnya.
"Dasar. Jangan menciumnya di depanku. Sana, masuk ke kelasmu!" Ochobot mendorongku dan segera melesat masuk ke kelasnya.
"Yah ... Cuma bercanda doang, kok marah? Ya sudahlah."
Langkahku semakin cepat mengikuti lorong demi lorong, melewati beberapa anak tangga, dan memasuki gedung kelas bahasa. Bau bolpoin dan suara kertas memenuhi telingaku, semakin membuatku lega karena indraku terhadap sastra cukup tajam. Entah sejak kapan aku mulai menyukai bahasa ketimbang olahraga. Seiring tubuhku ini tumbuh, aku heran dengan kelakuanku sendiri yang selalu mengesampingkan olahraga, seakan-akan aku hanya akan bersedia menulis, menulis, dan menulis. Mungkin sejak ada Fang, Ochobot, dan Kaizo, aku berubah total. Dulu sejak aku masih di Kuala Lumpur, aku senang berolahraga semisal bermain sepak bola sendirian–tanpa teman bermain tentunya.
Seiring suara bolpoin bertemu dengan kertas terdengar, aku semakin mempercepat langkahku dan–
BUAK!
Lagi-lagi untuk kedua kalinya setelah kemarin, aku menabrak seseorang. Aku mengaduh kesakitan sambil mengelus leherku yang sakit. "Aduh ... Siapa, sih?" Mataku terbuka dan menelusuri sebuah tubuh jangkung ... pakaian rapi ... dan kesekian kalinya ... wajah jutek yang bersurai ekor bebek ungu.
"Kau lagi ..." Kaizo menggerutu kesal. "Lain kali lihat pakai mata, bego."
Aku nyengir asal-asalan. "Sori. Tadi terlalu semangat untuk segera masuk ke kelas," kataku meminta maaf. Jujur, berkata seperti ini untuk kedua kalinya cukup membuatku muak.
Kaizo terlihat tidak begitu menanggapinya. Dia berdiri dan membersihkan sebagian pakaiannya yang terkena debu. Aku ikut berdiri dan melakukan hal sama. Melihatnya yang kini masih memiliki tinggi yang melebihiku membuatku harus mengangkat kepalaku demi melihat wajahnya. Seperti biasa ... jutek amat tuh wajah. Aku mulai tidak tahan dan memalingkan wajahku.
"Ochobot mana?" tanya Kaizo sambil membetulkan dasinya.
Dengan ekspresi jutek pula, aku melirik Kaizo dalam diam sebelum senyumanku mengembang. "Abang ini naksir Ochobot atau gimana, sih?" Tepat sasaran, wajahnya memerah seperti Ochobot tadi.
"Ehm ... Dibilang naksir sih enggak. Tugasku mengawasinya, kok," jawabnya sambil menggaruk-garuk leher. Ha! Pasti dia tidak sekadar mengawasinya saja.
"Hehehe, siapa tahu Abang naksir beneran, nanti aku kasih tahu Ochobot."
Wajah Kaizo malah membiru, "Ogah, ah! Kau tidak tahu seberapa sakitnya dia ketika menonjok wajahmu dengan kecepatan luar biasa. Aku mengakuinya, dia hebat. Tapi jangan pernah pasang-pasangkan aku dengannya atau kau akan remuk juga olehnya! Fang bisa saja membunuhku jika kau diamuk oleh si pirang itu!"
"Membunuh Abang? Bukannya Fang yang takut pada Abang, ya? Terakhir kali dia bicara padaku, dia memang sedang sangat ketakutan pada Abang karena Abang menyuruhnya mengerjakan PR yang menggunung sambil marah-marah."
"Haish!" Kaizo menepuk dahinya yang mulai berkeringat. "Aku lupa memberitahumu sesuatu. Ah, atau lebih tepatnya aku tidak boleh mengatakannya padamu. Biarlah kau tahu sendiri Fang yang sekarang dan alasan mengapa dia tidak menghubungimu lagi. Ku tegaskan sekali lagi, ini bukan salahku."
Oke, aku semakin bingung. "Ma-maksud Abang?"
"Nanti kau akan tahu. Sekarang masuklah ke kelas. Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi." Tanpa basa-basi lebih lanjut, Kaizo menepuk pundakku dan berjalan menjauhiku.
Ku sentuh pundak yang sedikit hangat karena tangan Kaizo tadi. Cukup aneh pula dengan apa yang dia katakan. Maksudnya Fang punya alas an tersendiri? Aku mengangkat bahuku dan masuk ke dalam kelas. Sepertinya Kaizo mempermainkanku.
Waktu terasa sangat cepat. Aku bahkan tidak dapat merasakan tanganku kembali karena terlalu banyak menulis rangkuman untuk hari pertama pelajaran berlangsung. Besok adalah waktu olahraga. Jangan heran, karena setiap kelas pasti memiliki jam olahraga. Ya, pasti. Berarti besok Ochobot harus memijat tubuhku karena aku mulai sering lelah sejak menginjak usia 15 tahun ini.
Ku bereskan beberapa alat tulisku dan buku-buku pelajaranku, lalu melangkah keluar setelah berpamitan pada teman-temanku. Ochobot langsung menyapaku begitu aku keluar dari kelas. Beberapa siswi meliriknya dan sesekali terlihat memujinya. Ah, wajar ... Anak bule ...
"Ayo pulang. Atok pasti menunggu kita," ajaknya sembari merangkul pundakku.
Aku tersenyum. Beberapa helai rambutku tertiup oleh angin. Kami berjalan bersama menuju gerbang sekolah dan tak sengaja mendapati Kaizo berdiri di sana, seperti tengah menunggu seseorang.
"Bang Kaizo? Tumben Abang nunggu di sini," kataku.
"Ah! Aku menunggu Ochobot. Heh, Pirang!" Ochobot menoleh padanya. "I just want to say if Papa asked you to take care of the files he has sent to you. Check it in email."
Ochobot meludah dan menatap Kaizo tajam. "Sial amat, sih. Sudah tahu orang lagi sekolah, masih saja disuruh ini itu," cecarnya.
"Kalau kamu tidak mau, jabatanmu akan di–"
"Alright! Alright! I memorized those words every day!"
Kaizo tersenyum. "Anak pintar." Tangannya mengacak-acak rambut pirang Ochobot dengan gemas.
Aku hanya melongo melihat kedua sejoli itu berbicara dengan dua bahasa yang berbeda. Hubungan mereka berdua bagiku sangat susah ditebak. Kaizo kenal Ochobot, Ochobot kenal Kaizo. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku tahu kalau Kaizo kenal Ochobot ... Uhm ... Mungkin sejak kejadian di bandara? Maklum, aku sering lupa.
Suara basa-basi mereka diakhiri dengan jeweran telinga Ochobot kepada Kaizo. Pria berambut seperti ekor bebek loncat itu mengaduh-aduh kesakitan sambil menarik jaketku. Tentu saja aku menepis tangannya dan Kaizo kini berdiri dengan posisi yang cukup lucu dipandang. Aku tersadar kalau beberapa siswa menertawakan Kaizo dan Ochobot. Beberapa dari mereka melihat sang guru baru dengan tatapan yang entah itu jijik atau kasihan atau tiba-tiba ikut kesal seperti Ochobot.
Ku tarik sweater vest milik Ochobot dan memiringkan kepala sebagai tanda sudah waktunya pulang. Dia menatapku dan Kaizo bergantian. Tangannya yang menjewer telinga Kaizo pun terlepas.
"Just tell this to your Papa, I need a LOOSE TIME. Is he as stubborn as his own son?"
"Sudah, sudah, Ochobot. Banyak yang lihat ..." Ku tarik lengan Ochobot menjauh dari sini. Tangannya masih menunjuk-nunjuk Kaizo dan memberi tanda pengawasan pada pria tersebut.
"Huh ... Whatever you said, bitch," ledek Kaizo sambil tersenyum.
"I'll catch an eye on you! I SWEAR!"
"Stop it already! I'm tired! Come on!" Akhirnya ku keluarkan jurus andalanku untuk menghentikan ocehan Ochobot, yaitu mengikuti gaya berbahasa Inggrisnya.
Aku dan Ochobot berhasil menjauh dari Kaizo. Butuh waktu beberapa menit sampai Ochobot mulai tenang kembali. Susah betul mengurusi anak sepertinya bila dia sedang marah. Tidak seperti dulu. Tidak mungkin dia PMS, lalu marah-marah seperti urusan tadi memang cukup mengesalkan.
Ochobot memang tergolong anak yang sabar, tapi hanya di depan Fang dan Kaizo saja dia akan marah-marah dengan kekuatan emak-emaknya. Dia jarang marah di depanku atau yang lainnya. Mungkin hubungan orang tuanya dengan orang tua Fang yang menjadi pemicu dia sering memarahi Fang dan Kaizo. Kebetulan Abahku juga bersahabat dengan Papa Ochobot. Aku tidak perlu jauh-jauh menghubungi Ochobot hanya untuk mengetahui kelakuannya.
Ah, sepertinya hari ini jalan sedikit sepi. Aku masih menggandeng tangan Ochobot demi membuat amarahnya menghilang sedikit demi sedikit. Oke, sepertinya cara ini cukup efektif. Kami terus berjalan, dengan jantungku berdegup kencang mengingat hari ini Fang akan datang.
Padahal hari sudah sore. Atok sudah menghitung jam kapan beliau akan menutup kedai. Ochobot telah berhasil membuat sipping chocolate sesuai resep yang dia cari untuk menu baru. Aku capek mengurusi kedai bersama Atok dan Ochobot sebagai pelayan sekaligus kasir. Bergerak ke sana ke mari justru malah membuat tulangku semakin kaku.
Tanganku membolak-balikkan surat dari Fang yang sedikit terlipat. Sepertinya Fang belum datang hari ini. Iya, sih ... Jarak dari Amerika ke Malaysia itu cukup jauh, dan lagi Papa Fang memang orang yang cukup tegas. Coba saja kalian ingat ketika Fang dipaksa pulang oleh Papanya dengan membawa Kaizo ke sini. Bukankah Fang akan tidak merasa bahagia di sana?
Jenuhnya pikiran ini membuatku berpikir kalau aku harus berjalan-jalan untuk sementara. Sepertinya aku akan berjalan-jalan sekitar rumah lama Fang untuk sementara. Atok memandangku dan bertanya, "Mau ke mana?" Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Atok.
"Jalan-jalan sebentar. Cari udara," jawabku.
"Ooo ... Jangan lama-lama. Sebentar lagi maghrib."
"Hehehe ... Tidaklah, Tok ... Aku hanya berjalan sampai gang sana saja, tidak jauh, kok."
Atok mengangguk pelan. "Nanti kalau pulang, jangan lupa bantu Atok dan Ochobot. Karyawan lain sudah pada pulang."
Aku tersenyum. Ku langkahkan kakiku keluar dari area kedai yang mulai sepi termakan waktu senja. Tujuanku sudah pasti ke rumah Fang. Siapa tahu nanti bertemu Kaizo yang sedang malas-malasan di sana atau baru pulang karena tugas tambahan. Pikiranku bisa fresh kalau begini.
Aku terus berjalan sampai aku masuk ke dalam gang. Suasana terlihat sepi, sesepi ketika aku pertama kali masuk ke sini dengan Fang. Aku sedikit merinding, tapi apa daya karena setiap hari sudah pasti aku akan melewati gang ini untuk pergi ke sekolah. Hanya ini jalan alternatif yang ada.
Namun sepertinya hari ini berbeda. Aku melihat sosok remaja–berambut spike dan berkacamata dengan kaos tanpa lengan hitam dan celana jeans serta sneaker ungu–berdiri tanpa menatapku sama sekali. Aku terkejut–bukan, lebih tepatnya terpekik–mendapati bahwa itu Fang! Ya! Itu Fang! Rasanya aku tidak melihat ada taksi yang melewati kedai Atok tadi siang. Bagaimana dia bisa ada di sini?
Ku dekati Fang yang kini membelakangiku. Ku peluk erat tubuhnya dan memanggil namanya dengan semangat. "Fang! Ini aku! BoBoiBoy! Kau ingat aku, bukan? Kenapa tidak menghubungiku selama setahun?"
Tanganku yang tertutupi sarung tangan fingerless pemberian Fang terasa sangat hangat. Pipiku memerah menyadari tangan Fang memegang erat tanganku. Ku kira dia akan memelukku balik, tapi tangannya justru melepaskan tanganku agar aku tak memeluknya. Aku memandangnya tidak percaya karena apa yang telah dia lakukan tadi di luar dugaanku.
"Kenapa ... kau ... melepaskannya?"
Fang berbalik. Wajahnya ... sangat dingin. Lebih dingin dari ketika dia marah padaku. Bulu kudukku berdiri melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur berada di depannya. Mau kabur pun tidak mungkin karena aku telah memeluknya erat tadi.
"Fang ...? Kamu ... kenapa? Tidak senang? Padahal aku sudah menunggu kedatanganmu dari tadi," tanyaku dengan nada waspada.
Mulut Fang tidak terbuka sama sekali. Ada apa dengannya? Ini bukan Fang yang dulu. Jelas bukan Fang yang dulu. Aku berusaha menyentuh pipinya, namun–
Tak!
–tangan Fang menepis tanganku dengan keras. Dia menggeram. Aku bahkan tak tahu apa salahku.
"Jangan berlagak berlebihan. Sifatmu menyambutku sudah keterlaluan. Lagipula, kamu ini laki-laki. Tidak pantas memelukku seperti kamu adalah perempuan tulen."
Mataku terbelalak mendengar kata-katanya. "F-Fang ...? Kenapa?"
"Kau mau tahu kenapa?" Fang mengeluarkan seringaiannya dan wajahnya kembali lagi menjadi dingin. "Jangan dekati aku. Aku tidak ingin orang lain melihat hubungan kita, status kita, dan jaga sikapmu itu. Kau masih beruntung karena aku tidak meminta putus denganmu."
"Ha? Kau pikir aku ini siapa? Mentang-mentang kita sudah hampir 4,5 tahun tidak bertemu, kau justru malah bersifat seakan-akan kau adalah bossku! Sadar, Fang! Ini aku, kekasihmu! Ini aku yang selalu menjawab sapaanmu di video call kita! Kamu lupa?!"
Hening ...
Tidak ada suara yang memenuhi kepala kami kembali. Fang berdecak dan berbalik, hendak masuk ke dalam rumah. "Tunggu!" Ku tarik ujung pakaiannya sampai dia berhenti. Bisa ku lihat ekspresi dinginnya yang mulai muncul sedikit demi sedikit.
"Aku hanya ingin bertanya, apa salahku sampai kau seperti ini?" tanyaku.
Fang menatapku tajam, "Bukan salahmu, BoBoiBoy."
"Lalu kenapa kau–?!"
"Aku tak bisa menjelaskannya. Sekarang lepaskan."
Kini aku tak dapat berkata-kata lagi. Dengan berat hati, ku lepaskan tanganku dan membiarkan Fang masuk ke dalam rumahnya. Kesekian kalinya Fang memarahiku ... Sudah lama dia tidak pernah begini. Air mataku mengalir seiring mataku lengket pada siluet Fang yang perlahan menghilang ditelan pintu rumah.
"Fang ... Kenapa kamu berubah?"
JAWABAN REVIEW CHAPTER 1
Febiola558 - "WHAE WHAT, FEB ...? :')))"
onchan00 - "WAKAKAKAK ...! RUSUH, MBAK ... RUSUH ... xDDD *plak* (Fang : "Mentang-mentang gue dibilang Bang Toyib ...!") Lumayan buat ngabuburit? Siap-siap baper, lho ... Wakakakak ... (author dah gila -_-) Belum tahu juga si Kaizo bakal jadi guru apa. Biarkan author bersemedi dahulu di tanah rawa Planet Dargha'ya. *bersemedi*"
Casstella Millatea - "SAYA SUDAH SIAP! *baca review* (BANG KAIZO JADI GURU! BANG KAIZO JADI GURU! BANG KAIZO JADI GURU! BANG KAIZO JADI GU-) *tutup telinga* Iya, iya, dia ganteng ... *sweatdrop, terkekeh* Oh, Fang mah bukan belajar di hutan. Dia kembali ke masa munculnya dinosaurus. (Vin ...) BoBoiBoy merindukan sang kekasih, sayang sekali dimarahin habis-habisan, dan ... kalau masalah nikung kayaknya jangan, deh. Kasihan Fang ... Kaizo juga nanti gak dapet gebetannya- (Ocho : "Gue bacok lu nanti.") Ochobot dan Kaizo sama-sama gantengnya (dan aku sependapat denganmu, nak #plakk). :'))) KAGET, YA? GOPAL KAYAKNYA NYOGOK, NIH! *ditendang* HAHAHA ...! YHA, JANJIMU ... MEMBUATKU KEWALAHAN MENJAWABNYA ... GOOD JOB! xDDD CIAO!"
Frost the Mischief- "Oh, ya? Memang sekolah mereka itu sekolah ternama, jadi bawaannya pasti segala-galanya mahal. Maklum, author juga gak ngerti sekolah di sana. BHAHAK ... :'D (author-nya kumat lagi) Akhir Juli author mau overseas ke Malaysia dan Singapura selama 5 hari. Doain agar lancar, yaaaa~! (AMIIINNN~)"
Hai! *sepi*
HAI HAI HAI~!
*masih sepi*
Yah ... Kenapa sepi, sih?
Hmm, nevermind. Hari ini author seperti biasa mau ngomongin soal chapter yang satu ini. Pertama, maaf kalo kepanjangan, yah ... Justru lebih panjang lebih baik ... #Eeaaa
Ini karena dari hari Jum'at sampai Sabtu author ngebut habis-habisan dan tiba-tiba ide mengalir begitu saja sampai jadilah chapter 2 penuh dengan kegalauan di bagian akhir. Sudah pasti kalian berawal sangat senang karena Fang sudah bukan Bang Toyib lagi, tapi lihatlah ketika dia sudah kembali, dia berubah. Alolo ... kasihan BoBoiBoy ... *peluk BBB*
Kedua, author masih belum paham sekolah di Malaysia, dan sepertinya agak amburadul di chapter sebelumnya. Tapi karena akhir Juli author mau overseas ke Malaysia dan Singapura selama 5 hari, semoga saja bisa menjadi referensi fic ini menjadi lebih baik. Doakan semoga author bisa pergi ke sana dan pulang dengan selamat sentosa agar fic ini tidak terbengkalai ... (Amiiin ...)
Hmm ... Hari ini author ingin bicara banyak mengenai masalah fic, tapi karena sepertinya sudah cukup (dan author sedang ngebut karena mau keluar kota), jadi author hanya akan memberikan satu kuis :
"Kenapa Fang bersikap dingin?"
Itu saja, terima kasih ... *bungkuk badan**pundung tiba-tiba*
Oh, pembahasan chapter ini dilanjut saja di chapter depan. Semoga author bisa banyak cerita ke kalian secara langsung mengenai fic ini~
Oke! Jangan lupa review, fav, dan follow! Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Ciao!
