Renjun membuka mata dan menemukan dirinya kembali tanpa pakaian, ia benar-benar shock. Kejadian ini terulang lagi padahal semalam dirinya tidak melakukan apa-apa. Seingatnya, Jeno tidur lebih dulu dan Renjun benar-benar menghabiskan malam dengan membaca buku. Lalu apa kali ini Jeno kembali memindahkannya ke tempat tidur dan membuka pakaiannya? Renjun menghela nafas pelan dan berusaha membuka matanya lebih lebar. Tapi… Astaga apa yang kulihat? Renjun segera memejamkan matanya. Ia berbalik menuju sisi sebaliknya dari tempat semula dirinya menghadap. Ia melihat Jeno sedang mengenakan pakaiannya, jantung Renjun tiba-tiba berdetak kencang lagi. Sebaiknya ia pura-pura tidur, itu lebih baik.
Cukup dengan bekal mengantuk semalam untuk Renjun kembali tidur, tapi rencananya untuk pura-pura tidur ternyata membuatnya benar-benar terlelap. Ia kembali terbangun saat merasakan sesuatu yang hangat membelai pipinya diiringi suara Jeno yang memanggil-manggilnya dengan sebutan sayang. Renjun berusaha membuka mata dengan susah payah. Jeno sudah rapi.
"Kau tidur telat semalam. Hari ini tidak usah ke kantor saja!" Bisiknya. Bulu kuduk Renjun meremang. Ada sesuatu yang aneh pada perasaannya saat mendengar bisikan Jeno yang sangat dekat dengannya. Renjun berusaha mengangguk, Jeno memberikan senyum terbaiknya.
"Kau yang memindahkanku ke tempat tidur?"
"Ya. Sepertinya kita harus mengembalikan AC ke kamar ini. Kau kepanasan semalam jadi aku membuka pakaianmu." Wajah Renjun memerah, terlebih saat Jeno menyelimuti tubuhnya, ia tidur dalam keadaan seperti ini semalaman di sebelah Jeno? Jeno sudah puas memandangi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun dan Renjun bersyukur Jeno tidak melakukan apa-apa terhadapnya.
"Kau tidak perlu melakukan itu!"
"Maksudmu membuka pakaianmu?" Tanya Jeno. Renjun menarik selimutnya sehingga setengah wajahnya tertutupi.
"Maksudku memasang pendingin, kau tidak bisa tidur dalam ruangan ber-AC, aku masih bisa tidur tanpa itu meskipun harus tanpa pakaian seperti ini." Senyuman Jeno mengiringi tatapannya pada Renjun yang sibuk menutupi wajahnya. Astaga Renjun, mengapa kau bersikap semanis ini? Jeno berujar di dalam hati.
"Apa ini? Kau sedang malu-malu? Kalau begitu, nanti belilah piyama tidur yang nyaman untuk tidak membuatmu kepanasan."
Jeno tertawa renyah membuat Renjun merasa semakin malu. Renjun menarik selimutnya lebih dalam hingga Jeno hanya bisa melihat matanya saja. Walau bagaimanapun, bagi Renjun, Jeno tetaplah orang asing yang mendadak saja bisa menelanjanginya sesuka hati karena status pernikahan. Meskipun Jeno selalu berusaha untuk menghilangkan batas di antara mereka dan selalu berusaha menunjukkan perhatiannya, Renjun tetap belum bisa memungkiri kenyataan bahwa baginya, saat ini Jeno adalah orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya.
"Kau boleh menertawakanku. Kadang-kadang aku memakai gaun tidur ketika aku ingin memakainya, yaa...walaupun itu terdengar aneh untuk..."
"Benarkah?" Jeno memotong dan bertanya heran. Namun tidak sedikitpun tampak raut geli di wajahnya.
"Ya. Awalnya Halmeoni yang memberikan itu, ketika Halmeoni berbelanja di pasar dia melihat sebuah gaun tidur berwarna biru dengan motif moomin di depannya. Dia bilang itu lucu dan mengingatkannya tentang diriku. Jadi dia membelikannya untukku."
"Lalu kau memakainya?"
"Ketika aku mencobanya itu terasa nyaman jadi aku memakainya terus."
"Menurutku itu bagus"
"Benarkah?"
"Walaupun aku belum pernah melihatnya secara langsung, kurasa jika kau yang memakainya itu akan tampak manis."
Entah mengapa Renjun merasa pipinya memanas mendengar pujian Jeno. Ia merasa malu. Kemudian Renjun mengambil dompetnya dan memberikan salah satu dari koleksi kartu kreditnya kepada Renjun, Jeno benar-benar mengantarkan benda itu di atas telapak tangan Renjun dan baru yakin untuk melepas benda itu setelah ia yakin Renjun menggenggamnya dengan erat.
"Kalau begitu belilah sesukamu. Aku tidak bercanda tentang kau tampak manis memakai gaun tidur. Belilah beberapa kalau kau masih belum merasa nyaman karena aku selalu membuka pakaianmu. Aku bisa batal berangkat ke kantor bila setiap pagi melihatmu malu-malu seperti ini. Aku tidak akan bisa menahan hasratku lagi!" Jeno mengedipkan matanya dan bangkit. Ia sudah berdiri dan mengambil jasnya yang masih rapi di atas sofa.
"Aku mungkin akan pulang malam. Tidur duluan saja. Ingat, yakinkan pakaianmu cukup nyaman sehingga kau tidak perlu mengigau memintaku membantumu melepas semua pakaianmu. Sampai jumpa besok pagi!"
Renjun menelan ludahnya setelah Jeno menghilang. Jadi dia yang mengigau meminta Jeno membantunya membuka pakaian? Apakah ia sedang bermimpi? Mengapa harus Jeno? Mengapa bukan Yukhei? Renjun memukul kening. Berhentilah memikirkan Yukhei, Renjun. Kau sudah bersuami. Batinnya. Lalu apa yang akan dilakukannya sekarang? Renjun sepertinya harus mencari tahu bagaimana ia harus menyikapi semua ini.
.
.
"Tuan Lee adalah anugerah untuk kantor ini, Setidaknya semenjak dia menggantikan Tuan Jung, Paradise Group jadi tidak membosankan."
"Yep, Aku jadi semangat setiap kali mau berangkat ke kantor. Tidak sia-sia punya Bos setampan dia! Ngomong-ngomong dia masih lajang atau sudah beristri?"
"Kurasa masih lajang, dia tidak pernah menyinggung soal keluarga, Tuan Lee juga tidak pernah mengatakannya sebelumnya. Dia masih muda dan tampan, menikah di saat sekarang adalah pilihan bodoh untuknya."
"Ku rasa begitu. Kalau begitu dengan senang hati aku akan menggodanya, seandainya aku yang di angkat menjadi sekretarisnya."
"Benar. Tapi Tuan Lee lebih memilih Haechan."
"Terserah kalau Tuan Lee memilih Haechan, toh mereka tidak di ruangan yang sama. Haechan tetap bersama pria berwajah cantik itu di ruangan Administrasi. Singkatnya, ada atau tidak ada sekretaris tidak membawa pengaruh besar bagi Tuan Lee."
Renjun mendengus mendengar percakapan tentang Jeno di kantin kantor. Tadinya Renjun merasa kesal karena Haechan memasukkan banyak saus dalam mie ramen pesanannya, karena itu sekarang ia merasa kehausan. Tapi ia bersyukur karena Haechan melakukan itu. Ramen pedas itu membuatnya punya alasan untuk pergi ke kantin dan mendengarkan gosip bodoh tentang Lee Jeno. Ternyata sangat banyak orang yang menggemarinya, dan nyatanya Renjun adalah orang beruntung yang terpilih menjadi istri Lee Jeno dan mengalahkan semua perempuan di kantor yang tidak begitu menanggapi keberadaannya selama ini dan hanya mengenalnya dengan panggilan 'pria berwajah cantik itu'.
Sekurang-kurangnya ada tiga atau empat orang gadis yang berbicara dengan antusias tanpa menyadari kalau Renjun berada dalam satu antrian disalah satu counter yang menjual berbagai macam minuman di belakang mereka. Mereka terus memuji Jeno yang sepertinya menjadi topik pembicaraan yang hangat dan baru pergi setelah jam makan siang hampir berakhir.
Renjun mulai beranjak setelah ia mendapat minuman yang diinginkannya lalu kembali ke ruangan kerjanya. Lagi-lagi yang di lihatnya adalah pria manis yang bernama Lee Haechan tengah memperhatikan katalog-katalognya sambil memakan ramen pedas yang tadinya mereka makan bersama. Renjun mengelus perutnya sambil duduk di bangku kerjanya, masih terasa panas.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Haechan, matanya masih tidak berpaling dari katalog-nya.
"Aku terjebak para penggosip di kantin. Mereka membicarakan suamiku dengan santainya, mengatakan akan menggodanya tanpa rasa bersalah…"
"Kau kesal? Cemburu?" Haechan memotong. "Ini bukan pertama kalinya. Mereka selalu melakukan itu semenjak Tuan Lee memimpin Paradise Group menggantikan Tuan Jung. Suamimu sangat di gemari para wanita lajang di kantor ini. Jadi kau harusnya merasa beruntung. Dan berhentilah merahasiakan pernikahan kalian."
"Ya, harusnya begitu. Aku yang terpilih."
"Benar. Seperti film laga yang sering ku tonton, kau lah yang terpilih untuk memelihara mutiara kehidupan yang akan membantu nyawa banyak orang!" Renjun tertawa mendengar kata-kata Haechan tentang film laga.
Sejenak Renjun teringat keberadaan Jeno, dia belum kembali ke kantor juga. Padahal Haechan ada disini. Haechan sekretarisnya, kan? Renjun bahkan tidak bisa mengingat tentang Haechan yang ternyata adalah sekretaris suaminya. Jika tidak berada di kantin Renjun tidak akan mengetahuinya, ini juga berkat ramen pedas itu. Tanpa sang ramen, Renjun tidak akan menginjak kantin hari ini. Renjun menarik piring ramen dan merampas garpunya dari Haechan kemudian memakan semuanya dengan lahap. Renjun sukses membuat Haechan terperangah.
"Renjun, bukankah kau sedang diet sehat? Kau ingin segera punya anak kan? Kenapa terlalu banyak makan makanan berbahaya seperti ini?" Haechan kembali merampas garpunya. Renjun mengusap bibirnya yang berminyak dan termenung sekali lagi.
Dia sedang diet sehat? Dia memang sedang Diet untuk pernikahannya, tapi apakah masih perlu? Bukankah dia sudah menikah? Dia sudah menjadi istri seorang laki-laki bernama Lee Jeno, laki-laki itu bahkan memerintahkannya untuk membeli piyama dan gaun tidur. Renjun mendesah, ia akan bolos kerja hari ini untuk membelinya. .
.
Kali ini Renjun bangun lebih dulu dibandingkan dengan Jeno dan masih mengenakan piyama baru yang dibelinya dengan kartu kredit suaminya. Ia tidak bangun dalam keadaan tanpa busana seperti biasa. Mulai sekarang, Renjun harus belajar untuk menghabiskan uang suaminya dan itu berhasil membuatnya tersenyum geli. Renjun sudah memulainya dengan membeli banyak piyama dan gaun tidur.
Semalam sebenarnya Renjun sudah menunggu Jeno pulang. Ingin memulai kehidupan barunya dengan memperlihatkan beberapa piyama dan gaun tidur yang di belinya di depan Jeno. Sayangnya ucapan Jeno tentang 'sampai jumpa besok pagi' itu benar-benar terjadi.
Jeno bahkan tidak pulang sampai tengah malam hingga akhirnya Renjun lelah menunggu dan tidur lebih dulu. Entah jam berapa Jeno pulang semalam, yang jelas hari ini dia tidak akan kesiangan ke kantor karena ini adalah hari sabtu. Paradise Group tidak dibuka saat Weekend kecuali percetakannya. Renjun memandangi Jeno yang menggeliat, ia sudah antusias bila Jeno segera terbangun, tapi nyatanya tidak. Jeno hanya berpindah posisi dan kembali terlelap dengan tenang. Sepertinya harus dibangunkan, Renjun mencari ide bagaimana ia bisa membangunkan Jeno dengan cara yang sopan.
Bagaimana bila menciumnya dan mengatakan 'Selamat pagi sayang?' Tidak! Renjun tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tapi mengguncang tubuh Jeno dan memintanya bangun juga bukan hal yang berani dilakukannya. Pada akhirnya Renjun hanya memilih untuk mengamati Jeno dengan seksama sambil menunggunya terbangun. Lee Jeno adalah seorang pria berkulit putih dan halus. Renjun menemukan beberapa noda seperti bekas jerawat di wajahnya, mungkin karena kebiasaannya tidak suka mengkonsumsi sayuran? Entahlah, Renjun tidak tahu.
Laki-laki itu memiliki alis yang berwarna lebih gelap di bandingkan dengan rambutnya. Bibirnya merah kissable dan hidungnya mancung. Pipinya juga kemerahan. Lehernya jenjang, bahu lebar dan dada bidang, lalu perutnya datar, Renjun bisa melihat itu karena Jeno tidur dengan bertelanjang dada, sebagian tubuhnya ada di balik selimut. Apa yang ada di dalam sana?
Renjun menggelengkan kepalanya. Apa yang sedang di fikirkannya? Mengapa ia memikirkan hal itu? Renjun sedang berfikir apakah Jeno tidur tanpa pakaian sama sekali seperti sebelum-sebelumnya? Perlahan ia mengangkat selimut dan mengintip ke dalam. Jeno mengenakan sebuah celana pendek dari Nylon Spandex yang fit di tubuhnya. Dia tidak telanjang, tidak seperti yang Renjun fikirkan.
"Apa yang sedang kau fikirkan?"
Renjun mengerjap. Ia segera menoleh kesumber suara dan melihat Jeno yang sedang memandangnya. Dengan cepat Renjun menarik selimut yang diangkatnya dan berkamuflase seolah-olah ingin menyelimuti Jeno dengan benda itu.
"Kufikir kau kedinginan. Makanya aku ingin menyelimutimu. Kau sudah bangun?"
Jeno bangkit dan duduk dan meminta Renjun untuk bersandar di sebelahnya. Renjun melakukan apa yang diinginkannya, membuat Jeno merasa mendapatkan kebahagiaan pernikahan seperti yang diimpikannya. Sebelah tangannya mendekap bahu Renjun dengan santai.
"Aku lembur semalam, menyiapkan bahan untuk dicetak minggu ini. Apakah kau menungguku semalam?"
Renjun mengangguk. Ia sedang mencari perhatian, ingin menunjukkan betapa dirinya adalah seorang istri yang baik meskipun tidak mencintai suaminya.
"Aku ingin memperlihatkan piyama dan gaun tidur yang ku beli kemarin."
"Aku sudah melihatnya satu."
Jeno lalu memandangi pakaian Renjun dengan senyum. Renjun sedang menggunakan piyama yang terbuat dari sutra dan berwarna biru dengan bintik-bintik putih. Motif tutul yang lembut dari perpaduan warna yang juga lembut, baby blue dan putih membuatnya tampak manis.
"Kau membeli gaun tidurnya?"
Renjun mengangguk. "Ya. Meskipun bagiku celana lebih baik. Tapi kau bilang aku harus membeli gaun tidur, jadi aku membelinya"
"Semuanya seperti ini?"
"Sedikit banyak ya…, Aku memilih warna yang berbeda-beda dan…"
"Tidak usah diceritakan." Potong Jeno. "Biar jadi kejutan saja nanti."
"Kau ingin melihatnya?"
"Aku akan melihatnya setiap kali kita akan tidur, dan ku harap setiap malam aku dapat suasana yang berbeda karena itu. Kau beli berapa banyak?"
"Tujuh, aku akan menggantinya setiap malam dan akan meminta uang kepadamu untuk beli yang baru setiap tiga atau empat bulan sekali agar dirimu tidak bosan. Aku juga mau mengganti pakaian dalam dengan yang lebih seksi untuk ku pakai saat tidur!"
Jeno tertawa. "Baju tidur sangat mempengaruhi gairahmu rupanya. Kau tahu? Seharusnya kau tidak memakai apa-apa jika sudah mengenakan gaun tidur. Kalau ingin menggunakan pakaian dalam yang seksi juga percuma. Tanpa itu istriku juga sudah cukup menggoda."
"Begitu ya? Aku tidak tahu yang satu itu. Selama ini aku mengenakan pakaian dalam saat tidur." Renjun melirik ke dalam piyamanya.
Sukses hal itu membuat Jeno tertawa lagi, Renjun sedang menggodanya dengan cara yang sangat manis. Dia tidak tahu bagaimana cara menggoda laki-laki sesungguhnya. Tapi seperti yang Jeno bilang, Renjun sudah cukup menggoda tanpa harus melakukan apa-apa. Tentu saja begitu, karena selama ini Jeno hanya bisa memandangi tubuhnya, menyentuh dan membelai tanpa melakukan hal yang lebih. Jeno hampir gila karena tidak bisa melakukan apa-apa kepada Renjun.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Jeno sambil menyenggol bahu Renjun dengan lengannya.
"Aku hanya mencoba untuk menjadi istri yang baik."
"Benarkah, bagaimana caranya? Dengan menggodaku? Membicarakan tentang pakaian dalam yang seksi?"
"Katakan padaku, Apa yang kau inginkan untuk aku lakukan hari ini? apapun itu aku akan melakukannya." Jeno menaikkan sebelah alisnya.
"Benarkah? Termasuk seks?"
Renjun menatap Jeno dalam-dalam. Ia tahu Jeno akan mengatakan hal itu, dan ia sudah menyiapkan kata 'tentu saja' sebagai jawaban. Tapi semangatnya kendor lagi, Renjun tidak yakin dia sanggup melakukan itu sekarang.
"Termasuk seks?" Jeno mengulangi pertanyaannya. Tidak ada salahnya mencoba. Renjun membatin. Ia mengangguk dan berusaha tersenyum penuh semangat.
"Tentu saja. Kalau kau menginginkan itu sekarang…"
Renjun berusaha membuka piyama tidurnya dan setelah benda itu terlepas, Renjun segera melemparnya jauh-jauh. Kemudian mulai menurunkan underwearnya. Dengan susah payah ia berusaha menurunkannya. Entah benda itu tersangkut atau memang Renjun yang melakukannya setengah hati. Gerakan Renjun terhenti saat Jeno menggenggam tangannya dan mencium pipinya mesra.
"Hentikan. Kau terlihat sangat gugup" Desis Jeno. "Aku tidak suka melakukan hal seperti itu pagi-pagi dan kalaupun itu terjadi, aku tidak akan membiarkanmu membuka pakaian sendiri."
Renjun mengangguk mengerti. "Baiklah. Lalu apa yang kau inginkan hari ini?"
"Besok waktunya Halmeoni belanja bulanan, kan? Kita saja yang pergi belanja dan biarkan Halmeoni beristirahat dirumah."
"Belanja bulanan?" Renjun sejenak memperlihatkan wajah heran, tapi lagi-lagi ia mengangguk. Sebenarnya Renjun masih malu karena merasa ditolak. Jeno sudah menolaknya meskipun dengan cara yang sangat halus.
"Baiklah, Aku juga mau belanja beberapa barang lagi."
.
.
Tidak seperti dugaan Renjun, ternyata di Lottemart mereka tidak berjalan bersama. Renjun benar-benar hanya berbelanja sendiri karena Jeno menemui kliennya di salah satu restoran yang tidak begitu jauh. Laki-laki itu tidak mengatakannya sejak awal dan itu membuat Renjun kesal. Seharusnya ia bisa bersantai di rumah hari ini, tapi sekarang yang dilakukannya adalah mengambil satu persatu barang yang sudah ditentukan oleh daftar belanjaan dengan kesal. Sesekali Renjun mengamati jam tangannya dan ia benar-benar sudah menghabiskan banyak waktu.
Dua tahun di Seoul dan tidak pernah pergi belanja sudah cukup menjadi alasan mengapa Renjun menghabiskan banyak waktu berputar-putar ditempat yang sama demi mencari satu barang. Untungnya dirinya hanya tinggal mencari satu barang; Kornet. Setelah semuanya terkumpul, dengan putus asa Renjun berjalan ke kasir sambil mendorong troli yang sudah sangat maksimal.
Hari ini Renjun banyak berkeringat karena mendorong troli yang penuh dan berat yang membutuhkan banyak tenaga. Jeno sudah menunggunya di kasir, tentu saja harus begitu karena Renjun tidak membawa uang sepeserpun. Jadi Jeno yang harus membayar semuanya.
"Kau sudah selesai?"
Renjun mencoba basa-basi meskipun hatinya sangat kesal. Sesekali ia memandangi Jeno yang membantunya mengeluarkan barang-barang belanjaan dari troli.
"Kau marah? Terlalu lama menunggu ya?"
"Tidak!"
Jeno tersenyum kecut. Renjun kecewa padanya dan itu kelihatan sekali.
Tapi jika Renjun mengatakan tidak, Jeno sama sekali tidak ingin bergumam apa-apa lagi. Ia hanya mencoba memperhatikan Renjun yang berusaha untuk tidak peduli kepadanya dan terus memandangi kegiatan kasir yang ada di hadapannya. Barang-barang belanjaan sangat banyak dan semuanya harus diangkat kembali ke dalam troli agar lebih mudah dibawa ke dalam mobil.
Setelah membayar semuanya, Jeno dan Renjun kembali ke rumah. Renjun benar-benar tidak berbicara dan hanya mengatakan dirinya sangat lelah. Begitu sampai di rumah, Renjun bahkan langsung masuk ke kamar tanpa membantu Jeno mengangkat barang-barang yang sangat banyak itu ke dapur. Renjun sudah berkeliling mencari barang-barangnya dan sekarang giliran Jeno yang mengangkutnya ke dalam rumah.
Sebuah buku menjadi incaran Renjun dan dikeluarkan dari rak bukunya dengan hati-hati. Sebelum naik ke atas tempat tidur dan bersandar, Renjun menghela nafas lagi. Sekarang apa yang sedang Jeno lakukan? Mengapa belum masuk ke kamar juga setelah mengantarkan semua belanjaan ke dapur? Padahal Renjun sudah banyak menghabiskan waktu untuk memilih buku yang akan dibaca ulang.
Akhirnya Renjun mengembalikan bukunya ke rak, ia tidak jadi membaca dan memilih untuk duduk di atas sofa sambil memainkan games di ponselnya. Selang dua jam kemudian Renjun sudah mulai bosan. Jeno belum masuk juga hingga sekarang. Apa yang dilakukannya? Renjun menyesal mengatakan tidak saat Jeno bertanya apakah Renjun marah padanya. Jika Renjun tidak mengatakan 'apa-apa' Jeno pasti segera menyusulnya ke kamar dan membujuknya.
Langit di luar jendela mulai mendung, sepertinya hari ini akan turun hujan yang lebat karena langit begitu gelap. Renjun menghela nafas lagi, ia sudah bosan menunggu. Mengapa seharian ini ia hanya akan menunggu Jeno? Ia harus menelponnya, Renjun harus menelpon Jeno. Tapi apa nama Jeno di ponselnya? Renjun memulai dengan kata Honey dan tidak ada, lalu My Husband dan Renjun tidak menemukannya juga.
Renjun hampir putus asa lalu mencoba mencari satu persatu dengan lemah. Renjun menemukan namanya, Bos? Renjun menyimpan nama Jeno dengan nama Bos? Seharusnya ia bisa menduganya, bukankah pernikahan mereka dirahasiakan dari kantor? Jadi seharusnya dia tidak usah marah karena Jeno meninggalkannya untuk urusan kantor. Dirinya bukan sekretaris Jeno sehingga tidak bisa terus terlihat bersama, bahkan Jeno juga gemar meninggalkan sekretarisnya di kantor.
Renjun mendekatkan ponselnya ke telinga dan menunggu Jeno mengangkat telponnya.
"Kau sudah tidak marah lagi?" Kata-kata pertama yang diucapkan Jeno saat mengangkat telpon ternyata bukan 'Hallo'. Laki-laki itu menduga kalau Renjun marah kepadanya dan itu memang benar-benar terjadi.
"Kalau kau tahu aku marah kenapa tidak membujukku? Kau tidak mengerti perasaanku?"
"Dulu aku selalu melakukannya dan pada akhirnya kau melemparkan semua barang kepadaku. Aku tidak mau hal seperti itu terjadi lagi!"
"Sekarang kau dimana?"
"Aku di halaman belakang, di ayunan"
Renjun mendekat ke jendela dan melihat Jeno yang berada di atas ayunan di bawah pohon yang sangat besar. Itu pohon Elder yang sengaja dipelihara Halmeoni untuk membuat halaman belakang lebih sejuk. Pohon yang sudah sangat tua. Tiba-tiba hujan deras turun dan Jeno tampak berlarian masuk kembali kerumah, tapi ia belum menutup ponselnya.
"Kau basah?" Tanya Renjun lagi.
"Ya, hujannya turun tiba-tiba dan aku sudah basah. Apa aku sudah boleh masuk?"
"Kenapa masih bertanya? Bukannya kamar ini juga milikmu. Masuklah!"
"Kau sudah tidak marah lagi?".
"Masuklah dulu baru kita bicara!"
Entah mengapa Renjun menanti dengan senang hati. Ia kembali meletakkan ponselnya di atas sofa menanti Jeno datang sambil menyiapkan pakaian kering dan handuk. Setelah semuanya siap, Renjun duduk di atas tempat tidur dan memandangi pintu.
Jeno datang, ia mengetuk pintu dan baru masuk setelah Renjun mengizinkannya. Benar sekali kalau Jeno basah, ia masuk ke kamar dengan air yang menyertai jejaknya. Renjun mendekat begitu Jeno hendak berjalan ke kamar mandi. Ia menghentikannya dan Renjun tidak mengerti ada apa dengan dirinya.
"Kenapa?" Tanya Jeno dengan suara parau yang tiba-tiba. Jeno segera berdeham untuk memulihkan suaranya.
"Aku sudah menyiapkan pakaian dan handuk untukmu disini, lalu untuk apa lagi masuk ke kamar mandi?"
Renjun membuka kancing kemeja Jeno satu persatu dan membuang kegugupannya jauh-jauh. Ia memilih menikah dengan Jeno pasti karena ada alasan yang kuat mendasarinya. Jadi walau bagaimanapun Renjun harus menjaganya dengan baik. Jeno hanya tertegun tidak menyangka dengan perbuatan Renjun kali ini. Renjun membantunya membuka pakaiannya yang basah lalu mengusap tubuhnya dengan handuk sehingga tubuhnya kering. Jeno bisa melihat kalau wajah Renjun memerah dan pria itu masih berusaha menahannya.
"Kau baik-baik saja? Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tidak apa-apa. Biarkan aku melakukannya karena aku istrimu."
"Kau tidak takut membuka pakaianku? Bagaimana jika aku menyerangmu tiba-tiba karena aku hampir kehabisan kesabaran dengan yang ini. Aku tahu kau tidak siap Renjun, jadi berhentilah memaksakan diri seperti ini. Aku tidak ingin menyakitimu."
Renjun berhenti bergerak lalu menengadah memandang wajah Jeno. "Ya. Aku memang belum siap. Aku hanya tidak mau membiarkanmu kecewa terus menerus karena pernikahan ini harus dipertahankan. Begitu kan? Mengapa kita bisa bersama-sama seperti sekarang ini aku sama sekali tidak mengetahui alasannya. Yang pasti jika sampai ada pernikahan berarti aku bermaksud untuk hidup selamanya bersamamu."
"Pernikahan ini ada karena dirimu, dan karena ku fikir hanya seorang Huang Renjun yang bisa melakukan dua hal kepadaku, membunuhku secara perlahan-lahan karena aku tidak bisa memilikimu atau kau hidup bersamaku dan mengembalikan seluruh kebahagiaanku. Tapi aku tidak akan menyiksamu dengan paksaan jika…"
"Lalu apa kau akan menahan hasrat yang selalu kau ucapkan itu seumur hidup?"
"Aku bisa mencari seorang wanita untuk yang satu itu. Bagimu seks adalah perasaan, Kan? Perasaanmu tidak bisa dipaksakan karena aku tahu kau masih berharap pada Yukhei."
"Soal Yukhei aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi soal seks, kau boleh melakukannya kapanpun kau mau…" Kata-kata Renjun tidak keluar lagi karena semuanya sudah ditelan oleh cumbuan Jeno.
Renjun yang semula kebingungan berusaha menikmatinya meskipun sulit. Dia dan Jeno akan melakukannya sekarang juga dan kali ini Renjun harus menahan diri untuk tidak menolak. Jeno benar-benar meraba seluruh tubuhnya, perlahan dan pasti membuka seluruh pakaiannya dan membuat Renjun meleleh sehingga ia benar-benar berakhir dalam kepasrahan di atas tempat tidur.
Renjun menunggu Jeno melakukan sesuatu yang lebih, ia merasakan saat Jeno menghujani tubuhnya dengan ciuman. Dimulai dari bibir, dagu, leher, bahu, dada, perut dan… Akhirnya Renjun mengerang, seluruh otot tubuhnya mulai mengejang untuk beberapa waktu hingga semuanya berulang dari awal lagi. Jeno masih belum menyatukan dirinya dan Renjun. Jeno hanya ingin bermain-main dengan tubuhnya, kembali merangkak ke atas tubuhnya dan kembali memberi Renjun ciuman erotis. Renjun menolak, ia memalingkan wajahnya.
"Kau hanya ingin seperti ini? Ini yang kau sebut seks?" Desis Renjun pelan.
Renjun berusaha untuk menolehkan wajahnya dan kembali menatap Jeno yang terus memandanginya. Untuk beberapa lama Jeno mematung lalu menjauh dari tubuh istrinya saat ia tersadar. Jeno berbaring di sebelah Renjun dan menyimak helaan nafas Renjun yang terburu-buru. Renjun sudah klimaks hanya dengan permainan seperti ini.
"Aku hanya ingin bermesraan saja."
"Kau membuatku bingung. Jadi selama ini kau hanya ingin bermain-main seperti ini denganku? Ini seks yang kau bilang?"
"Ini bukan seks! Aku sudah bilang, Kan? Aku hanya ingin bermesraan saja."
"Apa ada pria atau wanita lain?"
Jeno tersentak. Renjun bertanya apa? Pria lain? Wanita lain? Dia sedang cemburu? Jeno menoleh kepada Renjun yang sedang memandangi langit-langit kamar.
"Aku selalu memiliki hasrat kepadamu, tapi tidak cukup untuk yang satu itu. Kalau kau mau marah silahkan saja, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya dengan pria yang masih memikirkan orang lain. Maaf tentang kejujuranku yang satu itu." Renjun menggigit bibirnya.
Jeno secara tidak langsung mengatakan kalau ia sedang menunggu Renjun menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya. Bukan hanya tubuh, tapi juga hati.
"Seharusnya aku yang meminta maaf tentang itu. Tapi percayalah kalau aku sedang mengusahakan yang terbaik."
"Lalu?" Jeno ingin mendengarkan penjelasan Renjun lebih lanjut.
"Lalu apa? Aku tidak akan menyudahi semuanya sampai disini saja. Kalau memang hasratmu sebatas bermain-main seperti ini, kau boleh melakukannya setiap kali gairahmu hadir. Meskipun kau sendiri tahu kalau satu-satunya orang yang mendapat kepuasan maksimal dalam permainanmu ini hanya aku. Kita lihat siapa yang menyerah lebih dulu!"
Renjun mendengus, ia menarik selimut dan membungkus tubuhnya lalu berbalik membelakangi Jeno. Jeno menyunggingkan sebuah senyuman. Ya, kita lihat apakah aku akan tahan dengan ini, atau aku akan menyerangmu di saat-saat kau tidak menginginkannya. Bisik Jeno dalam hati.
.
.
.
TBC
.
.
A/N :
Maaf jika ini berantakan, aku lagi males ngedit. Dan ini udah selesai sejak beberapa hari lalu. Oh iya, aku mau minta bantuan sama kalian, mungkin di antara kalian ada yang mau jadi partner aku? Aku senang nulis tapi malas publish atau update. Jadi, mungkin salah satu di antara kalian mau jadi publisher buat ff-ff ku? Jika ada yang mau bisa PM aku ya!
Balasan Review
ariarap : Cerita aslinya itu Linea dan Abiel Marloy. Dan ini Yaoi, bukan GS.
nrlyukkeuri96 : Emang iya, dulu juga sempet geretan sama cerita ini. Ok, ini dilanjut!
krystalizedjung : Aku juga mau sifatnya kaya gitu, bukan cuma kamu. Ok, kalo gitu sabar ya. Aku tergantung mood soalnya kalau update ff. Ini dilanjut ya!
Min Milly : Kan masih baru, jadi wajar deh kayanya kalau masih inget. Kalau ngebahas mereka aku juga jadi baper!
BinnieHwan : Aku juga nggak tau dia kenapa '-' Ok, ini dilanjut!
Hara22 : Mungkin kali ya. Soalnya aku juga nggak pernah baca ff chanbaek ._. Itu bahasanya, nyoba cuy? Biar aja, namanya juga kan baru. Ini dilanjut ya!
Lita UchiHaruno : Pasangan asli Linea dan Abiel Marloy. Cuma ini referensi dari KyuMin dan 2Min karena author mereka yang setahu aku bikin cerita husband ini versi yaoi, bisa dilihat di chap 1 siapa aja authornya. Mungkin juga, karena aku nggak pernah baca ff bts jadi nggak tau juga. Sebenernya pengen banget dipanggil oppa atau hyung, tapi sayang ku cewek :') Aku 97L, terserah mau manggil apa juga. Ini dilanjut ya!
.
.
P.s : Seharusnya aku update ff sebelah, tapi lupa nyimpennya di mana.
P.s.s : Jangan abaikan noteku di atas!
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
