"Storia d'amore"

Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Story by : Alice Klein and Suki Pie

.

.

Bevanda 3 : Vanilla Pettiagalla

Akashi Seijuuro x Kuroko Tetsuya

.

.

Request by : Sei-zen Seijuuro, Kitami Misaki, Yuna Seijuuro.

.

.

.


.

"Mereka sama dalam perbedaan, dengan vanilla pettiagalla menjadi penghubung di antara hati keduanya."

.

Kuroko menekan tombol shutter kameranya.

Satu bidikan ia dapatkan.

Garis tipis di wajahnya menekuk ke atas begitu sepasang biru langitnya menatap layar kecil di belakang lensa kamera. Bagus, pikirnya. Memuji hasil karya jepretan refleksi pemandangan di depannya. Ia akui, panorama menara Eiffel tidak pernah membuatnya kecewa.

Elegan.

Dengan tinggi menara 1.063 kaki menjulang ke atas. Seperti pencakar langit yang melawan arus gravitasi.

Kuroko kembali menunduk, menyamakan tingginya dengan layar kamera. Jari telunjuknya tersimpan di atas tombol bidikan, hendak menekan kembali. Namun kali ini, ia mengubah posisi lensa kameranya. Tidak hanya tertuju pada menara Eiffel, namun juga café dengan parasol-parasol warna krem pastelnya yang menghiasi meja dan dua kursi di bawahnya. Café itu terletak di luar, sebagai pemanis tidak jauh dari menara Eiffel berada.

Fokus di matanya mulai menajam, tentu saja, fotografer mana yang tidak ingin karya bidikannya terlihat tidak sempurna? Sekecil apapun keindahan yang tertangkap tajam lensanya.

Satu …

Iris biru itu memicing.

Dua …

Ia mempertajam fokus lensa kamera.

Tiga …

Jari telunjuk—tunggu!

Kuroko menegakan tubuh, alisnya berkerut samar. Namun begitu pandangannya tepat mengarah pada salah satu kursi dengan parasolnya, ia tersenyum. Niat memotretnya menguap seketika. Dengan cepat ia membereskan peralatan kameranya, menekuk kembali tripod dan menyimpan dalam tempatnya. Kamera analog tersimpan dalam tas, dan lensa terselip disimpan terpisah. Setelah itu, Kuroko mengangkat peralatannya, agak ribet juga. Mengingat bawaannya sebagai fotografer tidak pernah tanggung-tanggung.

Ia memperhatikan sekitar, yakin tidak ada kendaraan di kanan kirinya, kedua kakinya mulai melangkah. Menyebrang jalan dari tempatnya berada dan mendekati café tidak jauh dari menara Eiffel. Bermaksud mendekati salah satu parasol dengan satu kursi kosong yang ada. Dan juga, tentu saja, orang yang dikenalnya.

"Bonjour, Mounsieur Akashi."

Sang subjek yang dipanggil mendongak, menampakan iris heterokromatik-nya yang berkilat tajam. Namun begitu yang dipanggil tadi sadar siapa yang memanggilnya, kilat tajam itu menghilang. Berubah menjadi kesal, juga geli yang tak kentara.

"Tak perlu memanggilku seperti itu, Tetsuya," balasnya singkat. Tidak mengacuhkan ketika pemuda bersurai biru yang menyapa tadi sudah menarik kursi kosong di depannya, setelah itu mendudukinya.

"Lalu selamat paginya?" tanya Kuroko datar, dengan satu alis terangkat.

Akashi mendengus, "Bonjour."

Kuroko menganggukan kepala sambil menyampirkan tripod di samping meja. Tas yang berisi kamera dan lensanya ia simpan di atas. Tidak terlalu menghalangi dirinya dan Akashi juga.

"Memotret lagi?" pertanyaan retoris, sebenarnya. Namun Kuroko menangkap makna lebih dalam nada suara Akashi. Seperti kalimat, 'apa yang kau potret?' atau 'seindah apa hasil fotonya?'dan seperti 'mengapa harus fotografi?' Dan pertanyaan terakhir yang terkadang Akashi lontarkan itu membuat Kuroko bingung untuk menjawabnya.

"Seperti itulah," kedua bahu Kuroko mengedik, "Panorama Paris di pagi hari selalu memiliki keunikan tersendiri."

"Unik," Akashi mengulang, dengan tawa meremehkan mengikuti setelahnya. "Definisi kata unik yang kau pahami dan aku pahami berbeda jauh, Tetsuya."

"Benarkah?"

"Jangan buat aku mengulangnya,"

Sepasang bola mata Kuroko membola sesaat, setelah itu kembali datar. "Akashi-kun belum memesan apapun?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Membuat sang surai merah yang ditanya terkekeh geli karena tingkah konyolnya.

"Kau tidak lihat ada minuman atau makanan di sini, bukan?" tak ada jawaban di dalamnya, kembali pada pertanyaan. "Dan pesanlah sesuatu jika kau ingin,"

Detik berikutnya, seorang pramusaji wanita datang menghampiri meja mereka. Dengan buku kecil di tangan kiri pulpen bulu di tangan kanan. Mata genitnya mengerling pada Kuroko, membuat Akashi muak ketika melihatnya. Gadis aneh, batinnya sebal.

"Pettiagalla dengan ekstrak vanilla," sahut Kuroko, mengucap pesanan ketika sang pramusaji bertanya. Dan ketika pramusaji itu menanyakan pesanan lain, Kuroko menggeleng setelah itu kata terima kasih terlontar dari bibirnya.

"Dan, oh!" si pramusaji berhenti, menoleh ke arah Kuroko ketika kembali memanggilnya. "Aku pesan dua."

Satu alis Akashi terangkat, pesan dua? Sejak kapan pemuda bersurai biru muda itu maniak rasa manis? Akashi tahu, hal yang disukai Kuroko selain kamera dan lensanya adalah vanilla. Entah itu sepotong cake, sepiring dessert, bahkan secangkir teh seperti pettiagalla.

"Untuk Akashi-kun, tentu saja." Jawab si fotografer lugas. Mengabaikan tatapan tajam Akashi di depannya. Well, ia tahu Akashi tidak suka ketika Kuroko melakukan hal tanpa meminta izinnya. Ya, seperti pemesanan teh yang satu ini.

"Kebiasaan,"

Kuroko meringis kecil. Astaga, terkadang sikap sinis pria pelukis itu bisa membuatnya lelah.

Beberapa menit kemudian sang pramusaji kembali datang. Membawa nampan dengan dua cangkir ukiran manis di sekelilingnya, tersimpan dengan bersisian. Meletakannya di depan mereka berdua, setelah itu berlalu pergi.

"Lalu, kenapa Akashi-kun bisa berada di sini?" Kuroko mengambil satu cangkir dengan hati-hati, takut mengenai tas kameranya. Sedangkan satunya lagi ia geser hingga jangkauan Akashi. "Tidak mengunjungi galeri? Atau mungkin membuat lukisan baru?"

Akashi mendecakan lidah, rasa kesal begitu mendengar pertanyaan tadi terlontar untuknya tidak bisa disembunyikan. Oh, sungguh, hal yang paling membuatnya bad mood adalah mengenai hasil lukisannya. Bukan ketika ia menyelesaikannya, bukan juga karena galeri lukisannya yang terkadang membuatnya penat, dan bukan karena pemuda di depannya saat ini mengungkit mengenai lukisannya.

"Tak ada alasan khusus," Akashi ikut menyesap teh di depannya. Meski ia tidak terlalu suka dengan teh dan lebih memilih kopi, tapi tak bisa dipungkiri bahwa pettiagalla ekstrak vanilla yang dipesankan Kuroko memang terasa enak. Akashi mengakuinya. Terlebih lagi rasa pahitnya teh dan vanilla bercampur menjadi satu yang membuat lidahnya candu.

Kuroko diam, mendengarkan. Diam-diam dalam hati mencatat, jelas ia tahu apa yang tengah terjadi. Katakanlah Akashi Seijuuro, pelukis terkenal di Paris berdarah Jepang itu sulit untuk ditebak. Bahkan dalam setiap makna lukisan beraliran ekspresionisme di setiap karya kanvasnya tak pernah tertebak. Berbagai macam emosi terlukis di dalamnya.

Orang Paris—bagi yang menyukai sebuah karya seni murni lukisan—selalu beranggapan bahwa kedua tangan yang diberikan Tuhan kepada seorang Akashi Seijuuro memiliki kemampuan seperti Vincent Van Gough. Bahkan sesama pelukis pun berpikir seperti itu.

Bagaimana tangan itu bergerak seiring halusnya kuas menyapu kasarnya permukaan polosnya kanvas. Bagaimana warna berbeda menjadi satu kesatuan dalam bentuk sebuah objek. Entah itu objek benda mati, bahkan hidup sekalipun. Dan bagaimana Akashi memberikan perasaan penuh pada setiap lukisan yang dibuatnya.

Akashi Seijuuro, memang menganggumkan. Tapi juga mengerikan. Di sisi lain karena lukisan ekspresionisme-nya, juga karena kegilaannya pada seni murni. Karena setiap orang yang melihat bagaimana lukisannya, ia akan merasakan bagaimana rasanya.

"Well, tak ada alasan khusus," surai biru itu mengangguk paham. Meletakan cangkirnya pelan, "tapi aku harap Akashi-kun bisa menemukan inspirasinya kembali dengan cepat."

Akashi mendelik. Perkataan Kuroko tadi telak mengenai jantungnya.

Pelukis mana yang tidak mendapat keadaan dimana inspirasi warna dan objek tidak mengalir lancar dalam benaknya lalu sulit untuk dipoles di atas kanvas?

Semua pelukis pernah merasakannya. Bahkan untuk Vincent Van Gough, Picasso, termasuk Leonardo Da Vinci sekalipun. Begitu pula bagi Akashi Seijuuro, inspirasi terkadang tidak bisa datang menemui imajinasinya begitu saja.

"Inspirasi hanyalah mitos belaka, Tetsuya," Akashi menyahut sinis. Baginya, semua lukisan yang selama dibuatnya adalah murni karena kemampuan seninya yang tinggi. "Aku membuat semua lukisan itu, karena aku menyukainya. Karena aku hidup untuk melukis. Dan inspirasi, adalah bentuk dari imajinasiku."

Ya, baiklah, terserah Akashi-kun saja, Kuroko membatin sebal. Menghadapi salah satu pelukis di depannya ini terkadang menyulitkan. Juga keras kepala.

"Lalu kau, Tetsuya, apa inspirasi dalam setiap objek yang kau foto?" seulas seringai tersungging di wajahnya. Seolah-olah mengatakan bahwa seni lukis dan fotografi adalah dua hal yang berbeda jauh.

"Kehidupan, tentu saja." Kuroko tersenyum, simpul. Memperjelas posisinya saat ini.

Berbeda dengan Akashi, cara pengambilan seni yang dilakukan Kuroko menggunakan sebuah alat optik. Bukan dengan sebatang kuas, tapi dengan satu tombol shutter. Bukan kanvas yang menjadi dasarnya, tapi lensa yang menjadi otak dari semuanya. Bukan imajinasi yang menjadi awal, tapi fokus yang bekerja. Entah itu fokus matanya, fokus akan pikirannya, dan fokus mengenai lensanya.

Jika Akashi Seijuuro melukis untuk mengekspresikan emosinya, maka Kuroko memotret untuk memperlihatkan kehidupan lain dibalik lensa kameranya. Akashi menggores di atas kanvas, dan Kuroko membidik suatu objek.

Menjadi fotografer freelance sepertinya memang tidak bisa dibandingkan dengan seorang Akashi Seijuuro, namun Kuroko menyukainya. Dan ia melakukannya tanpa beban sedikit pun.

"Gaya Tetsuya sekali," dengusan angkuh terdengar, "Seni yang benar-benar berbeda, huh?"

"Tidak juga,"

Akashi mengangkat alisnya, setelah itu kembali mendengus. "Ah, ya, kau benar. Kita sama-sama membuat keindahan di sini. Membuat perbedaan."

Kuroko tertawa, geli. "Dan tentu saja, membuat orang tersenyum."

Tak ada balasan yang terucap. Akashi lebih memilih mengangkat satu tangannya, menjulurkannya di hadapan wajah sang surai biru muda, hingga sentilan pelan mengenai kening Kuroko. Membuat si pelaku terkekeh pelan begitu ringisan kecil terdengar setelahnya.

"Klise." Jeda sejenak, setelah itu Akashi melanjutkan, "setelah ini, kau sibuk?"

"Hah?" kening Kuroko mengkerut, "Kenapa jika aku tidak sibuk?"

Senyum menghiasi wajah sang pelukis. "Pergi mengunjungi galeriku?"

.

.


.

.

Letak gedung galeri milik Akashi cukup strategis. Berada dekat dengan menara Eiffel sehingga Kuroko serta Akashi dapat pergi ke galeri dengan berjalan kaki dari café tempat mereka tadi, tanpa harus menaiki kendaraan umum. Sejujurnya Kuroko sendiri lebih senang berjalan kaki.

Alasannya? Well, sederhana saja. Karena di saat seperti itu, iris biru langit tersebut dapat memperhatikan dunia yang kadang luput dari bidikan lensa kameranya. Mencari momentum sepersekian detik agar momen-momen berharga tersebut dapat ia kenang memang menjadi keahlian—atau bisa disebut insting—sang fotografer berwajah datar ini.

Setelah sampai, Akashi dan Kuroko menaiki anak tangga satu per satu. Kuroko menatap takjub pada setiap senti keindahan yang ditawarkan gedung megah tersebut. Walaupun sebenarnya ini bukan kali pertama Kuroko mengunjungi galeri milik Akashi tapi tetap saja galeri ini selalu berhasil membuatnya kagum dari sudut arsitekturnya.

Galeri itu tidak besar namun tidak kecil juga. Berwarna putih tanpa ada noda. Dari luar terlihat beberapa pilar putih yang menjulang seolah menjaga gedung galeri itu agar tetap kokoh dalam kondisi apapun. Pilar putih itu pun tidak sembarang pilar, ada ukiran-ukiran serta detail yang terpoles di sana, seolah mempertegas bahwa tempat ini memang jalan masuk menuju dunia yang tertuang ke dalam kanvas serta menjadi mahakarya hasil goresan tangan sang maestro muda.

Mereka berdua pun memasuki galeri tersebut dan indera pengelihatan Kuroko mulai disuguhkan dengan tata ruang bergaya minimalis dan ada sedikit sentuhan vintage disana-sini. Rapi dan teratur adalah kesan yang terlintas di pikiran si surai biru langit ketika mengunjungi galeri ini untuk pertama kalinya. Dan sepertinya si pemilik galeri itu tetap mempertahankan kesan tersebut hingga kini.

"Tidak banyak berubah," ucap Kuroko tiba-tiba.

Akashi mendengus saat mendengar perkataan Kuroko. "Aku anggap itu sebagai pujian darimu, Tetsuya,"

Akashi memimpin jalan di depan dan Kuroko mengekor di belakangnya. Mereka terus berjalan menyusuri lorong-lorong galeri dan hanya melihat beberapa lukisan sekilas. Bukannya apa-apa, tapi Kuroko sudah melihat lukisan-lukisan itu berkali-kali dan sepertinya si surai scarlet ingin menunjukan lukisan lain yang belum pernah dilihat si surai bluenette sebelumnya.

Langkah kaki mereka terhenti di sebuah lukisan dengan kanvas besar. Lukisan dengan aliran ekspresionisme khas milik Akashi. Di lukisan itu tergambar seorang gadis muda dengan rambut cokelat panjang tertiup angin dan kedua tangannya tengah menggenggam payung merah untuk melindungi dirinya dari tetesan air hujan yang jatuh. Raut wajah sang gadis juga tampak menahan kesedihan yang mendalam.

Kuroko menatap takjub. Detail pada helaian rambut dan rintikan air hujan yang tampak nyata membuat lukisan ini menjadi sangat mengagumkan. Juga payung merah itu, lihatlah warna merahnya yang sangat mencolok dan kontras dengan nuansa kelabu sekitarnya.

"Lukisan ini baru aku selesaikan tiga bulan yang lalu. Bagaimana menurutmu, Tetsuya?" tanya Akashi membuka pembicaraan.

"Akashi-kun ... ini indah," terdiam sebentar karena Kuroko masih ingin mengagumi karya seorang Akashi Seijuuro, "Kalau boleh tahu, apa maksud dari lukisan ini, Akashi-kun?" Tanya Kuroko penasaran.

Akashi melipat kedua tangannya di depan dada, "Menunggu,"

"Eh, menunggu?" tanya Kuroko makin bingung.

"Ya, menunggu. Gadis itu menunggu ajalnya tiba," Jawab Akashi dengan santainya.

Mengerikan. Kenapa dia bisa menjawab hal seperti itu dengan wajah tanpa dosa, batin Kuroko. Kalau ia bisa menarik kata-katanya lagi soal keindahan lukisan tersebut, pasti sudah ia lakukan dan mengatakan kalau lukisan ini menyeramkan. Sebenarnya apa yang dipikirkan pelukis muda itu saat melukis lukisan ini?

"Payung berwarna merah itu tentu saja, menggambarkan maut yang selalu membayangi kehidupan sang gadis," Akashi kembali melanjutkan. "Sang gadis menunggu maut datang padahal maut sangat dekat dengannya. Ironis bukan, Tetsuya?"

Kuroko hanya mengangguk karena bingung harus menanggapi apa dan Akashi hanya terkekeh geli saat melihat wajah Kuroko yang tampak polos tidak mengerti.

"Tapi aku tidak hanya melukis ini. Ikutlah denganku, akan aku tunjukan lukisanku yang lain." Perintah Akashi sambil melanjutkan berjalan dan Kuroko kembali mengikutinya.

Setelah berjalan, mereka kembali berhenti di depan sebuah kanvas besar. Kali ini lukisan yang tergambar adalah pemandangan sungai Seine di malam hari. Berbeda dengan lukisan sebelumnya yang terkesan mengerikan, lukisan yang satu ini benar-benar menunjukkan keindahan sungai Seine dengan lampion-lampion kecil yang terbang dan memenuhi angkasa. Cahaya-cahaya lampion itu terpantul sempurna di permukaan air. Entah kenapa, Kuroko menganggap lampion tersebut seperti kunang-kunang.

"Cantik," Satu kata yang Kuroko keluarkan sesaat setelah melihat lukisan Akashi.

Akashi tersenyum, "Terima kasih, Tetsuya," jawab Akashi. Sang pelukis muda ini sebenarnya jarang mengucapkan terima kasih apabila karyanya dipuji orang-orang. Sudah biasa baginya mendengar hal seperti itu. Sebab ia tahu bakatnya itu mutlak dan absolut, jadi wajar saja kalau orang-orang memujinya. Terdengar angkuh, eh?

Namun hal tadi tidak berlaku pada Kuroko Tetsuya. Akashi Seijuuro akan membalas pujian sang fotografer dengan kalimat singkat seperti terima kasih.

Mereka terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Kuroko masih belum mau melepaskan pandangannya dari lukisan Akashi. Harus ia akui, ini sangat indah.

"Aku rasa, lukisan ini akan menjadi salah satu karya masterpiece-mu, Akashi-kun,"

"Sejujurnya, aku tidak bisa mengatakan kalau ini menjadi karya masterpiece-ku, Tetsuya," jawab Akashi datar. "Aku masih harus mencari inspirasi lain," Lanjutnya sambil menoleh ke arah Kuroko yang tampaknya sudah puas mengagumi lukisan tersebut.

"Masih belum mendapatkan inspirasi, Akashi-kun?"

Inspirasi, ya? Sudah lama Akashi mencari dan tidak kunjung mendapatkannya. Sulit untuk mendapatkan gambaran yang sempurna. Ayolah, apakah ia perlu bertapa untuk mendapatkan ilham untuk melukis?

"Akashi-kun tidak perlu mencarinya. Karena dengan sendirinya, inspirasi akan datang menghampiri Akashi-kun," lanjut Kuroko dengan seulas senyum tipis terukir di wajahnya.

Si surai merah menghembuskan napas berat, "Kau benar, Tetsuya. Mungkin aku hanya butuh waktu," Jawab Akashi. "Sudah jam makan siang, bagaimana kalau kita akhiri dulu tur kita untuk hari ini?"

Sadar akan waktu, Kuroko melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ah, mendekati jam makan siang. Itu berarti ia harus kembali ke tempat kerjanya, dan menyerahkan hasil fotografinya. Ia seorang fotografer freelance, ingat?

Akashi mengantarnya sampai pintu utama. Sesekali pria bersurai merah itu mengangguk ketika beberapa karyawan dan bawahannya menyapa sopan.

"Well, musim gugur tahun ini ternyata lebih dingin dari biasanya," Kuroko berujar tiba-tiba. Memeluk tubuhnya sendiri begitu kakinya menapaki jalanan. Hembusan angin menerpa seluruh permukaan tubuhnya. Seperti jarum-jarum yang tak terlihat. Padahal ia sudah mengenakan mantel, tapi mengapa dinginnya masih terasa?

"Attendre, Tetsuya,"

Kuroko menoleh, sedikit terkejut ketika Akashi memintanya berhenti dalam bahasa Perancis.

Namun kata tanya yang sebelumnya nyaris terlontar terpaksa berhenti di ujung mulutnya begitu Akashi mendekat cepat, dan dengan gesit melingkarkan syal yang sedari tadi dipakainya (Kuroko bahkan tidak menyadari kapan Akashi melepas syal-nya) di sekeliling leher Kuroko. Melilitkannya dengan perlahan, lalu membenahinya dan nyaris menutupi sebagian wajah Kuroko.

"Kebiasaan," Akashi tertawa renyah, mengabaikan tatapan bingung Kuroko yang diarahkan untuknya. Kedua tangannya masih sibuk membetulkan syal, sampai benar-benar tak ada lagi dingin yang dirasakan oleh sang surai biru muda. "Meski siang, suhu di Paris saat musim gugur tidak main-main, Tetsuya."

"Oui," Kuroko mengangguk pelan. Membenamkan wajahnya pada lipatan syal Akashi di lehernya. Entahlah, kedua mata dan pipinya terasa panas.

"Oh, ya, Tetsuya,"

Kuroko mendongak. Menatap heran si pelukis dengan alis terangkat.

Akashi tak langsung menjawab. Kesepuluh jemari yang membenarkan syal-nya tadi mulai merayap, lebih ke atas, hingga berhenti tepat di kedua pipi Kuroko. Menangkup wajah di depannya lembut. Dingin. Rasanya pipi pucat sang fotografer itu seperti beku. Menjalar di setiap sel jemarinya.

"Akashi-kun?"

"Besok, jam sepuluh pagi, di sungai Seine," sepasang dwi warna itu terpejam. Mencoba mengalirkan kehangatannya untuk sang surai biru. "Sepertinya aku baru saja mendapatkan inspirasi untuk lukisan selanjutnya,"

Iris biru Kuroko membelalak sesaaat, namun detik berikutnya kembali datar. "Benarkah? Lalu … apa tema untuk lukisannya, Akashi-kun?"

Akashi Seijuuro tersenyum. Walau tidak lebar, tapi juga tidak tipis.

"Je me souviens,"

—aku mengenangmu.

.

.


.

.

"Jadi, ini yang kau sebut dengan 'aku mengenangmu' Akashi-kun?"

Akashi mendongak, menatap Kuroko dengan jarak beberapa meter jauhnya dari tempatnya saat ini. Tidak terlalu jauh juga. Posisi Akashi saat ini berada di sisi sungai Seine, sedangkan Kuroko menjauh dari tempatnya. Sang fotografer berdiri di sana, siap dengan kamera dengan tripod sebagai penyangganya. Sedangkan Akashi sendiri, ia lebih memilih duduk membelakangi sungai, dengan kanvas polos di hadapannya dan beberapa kuas juga cat minyak berada di sampingnya. Terlihat aneh, memang. Mengingat posisi saat ini justru membelakangi pemandangan sungai, bukan menghadapinya.

"Tentu saja, Tetsuya. Memangnya apa lagi?" jawabnya nyaris berteriak. Membalas seruan Kuroko. "Aku hanya perlu melihatnya, setelah itu mengingat bagaimana pemandangannya. Setelah itu, aku mulai melukisnya tanpa melihatnya kembali."

Tidak nyambung, pikir Kuroko keki. Apa maksudnya dengan tema aku mengenangmu? Keadaan seperti ini lebih cocok disebut dengan aku mengingatmu. Ya, terserah, terkadang jalan pikiran para pelukis bisa dibilang aneh.

Untuk itu, Kuroko memilih kembali pada kameranya. Mengatur sejenak fokus dalam lensa aperture-nya agar menjadi lebih besar. Fokus harus tertuju pada satu pohon yang tak jauh dari sungai Seine, Kuroko membatin.

Lebarkan pada bagian pohon, berikan efek sharpness pada daun-daunnya, sorot sedikit sungai Seine, dan berikan efek blur di sekitarnya. Dan yang pasti, berikan juga efek bokeh, membiarkan titik-titik cahaya yang akan membentuk lingkaran lembut mengelilingi sekitar sungainya.

Sempurna, Kuroko tersenyum. Mengintip panorama dari balik lensa yang akan dibidiknya. Satu matanya memicing, diikuti oleh satu jarinya sudah tersimpan pada tombol shutter. Hingga tunggu beberapa detik, dan—

Click!

Hanya terjadi seperkian detik, kecuali jika ia menggunakan mode pengulangan dalam kameranya. Ditatapnya dalam antusias hasil bidikannya kali ini, berharap fokus yang digunakannya terlihat semakin bagus. Semakin bersih. Cerah. Dan tentu saja, artistik.

Beberapa detik ia mengamati hasilnya, lalu pada detik kesekian dahinya mengeryit samar. Kuroko mengangkat kepala, mengarah tepat pada sang pelukis yang terlihat sibuk di ujung sana. Kuroko bisa melihat beberapa kerutan tercetak di kening Akashi, menandakan otaknya sedang bekerja secara imajinatif.

Sadar sepertinya diperhatikan, pria bersurai merah itu berhenti sejenak. Mengerling ke arah Kuroko, setelah itu tersenyum. Dan tanpa memberikan Kuroko waktu untuk terkejut, Akashi kembali konsentrasi pada lukisannya.

Oke—ini aneh.

Kuroko kembali menatap layar kecil kameranya.

"Kenapa Akashi-kun jadi ikut terfoto juga?"

Ia harus menghapus fotonya. Lalu setelah ini, sepertinya Kuroko membutuhkan secangkir pettiagalla ekstrak vanilla lagi.

.

.


.

.

Menara Eiffel selalu memiliki nilai tersendiri di malam hari. Dengan lampu yang berpijar membungkus setiap sudut menaranya, pantulan cahaya dan bintang yang terefleksi jelas di sungai Seine, air mancur yang lebih berkilat, dan tentu saja, musik yang dimainkan di setiap café yang mengelilinginya sering kali memutar lagu La Vie En Rose.

Romantis. Seperti itulah yang orang bilang.

Paris adalah kota dengan penuh cinta.

"Bonsoir, Tetsuya,"

Kuroko menarik kursi di depan Akashi, mendudukinya, setelah itu balas menyahut. "Bonsoir, Akashi-kun." Kelima jemarinya menyisir rambut birunya secara asal. Akibat berlari-lari di sepanjang jalan gara-gara ponselnya berdering dan Akashi memintanya kemari.

Ralat, memerintahnya untuk datang ke café dengan parasol-parasolnya.

"Lelah?" seringai terpoles pada paras sang pelukis, tampak senang. Terlebih melihat seorang Kuroko Tetsuya terengah-engah seperti itu. "Seperti biasa, kau selalu siap dengan kameramu, Tetsuya."

Kuroko mendengus, matanya mengikuti arah pandangan Akashi. Ya, tas berisi kamera juga tripod dalam tempatnya.

"Jadi, bisa jelaskan alasanmu kenapa memanggilku kemari, Akashi-kun?" napasnya mulai teratur. Kesepuluh jarinya saling bertautan di atas meja. Akibat berlari tadi, rasanya menjadi mati rasa. Beku. Dan satu pergerakan kecil itu tidak luput dari mata Akashi.

"Lukisanku sudah selesai," sahut Akashi, telak. Tanpa basa-basi. Melihat Kuroko menatap dirinya dengan pandangan tidak percaya, ia melanjutkan. "Iya, aku menyelesaikannya dalam tiga hari ini, Tetsuya."

"Ah," Kuroko mengangguk, agak bingung. Oke, Akashi sudah menyelesaikannya, lalu?

"Untuk itu …" diambilnya kanvas yang sedari tadi tersampir di dekat meja. Kanvas itu terbungkus rapi dari tempatnya, tentunya. Mana mau seorang pelukis prefeksionis seperti Akashi mengambil risiko sampai lukisannya cacat? Sedikit apapun cacat yang terlihat. "Aku ingin kau menjadi orang pertama untuk melihatnya, Tetsuya."

Mengabaikan tatapan tanya Kuroko, Akashi mulai membuka kotak kayu yang berukuran lebih besar dari kanvasnya. Lukisan yang dibawa Akashi malam ini tidak besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Entah bagaimana Akashi membawanya kemari, Kuroko tidak tahu.

Klek!

"Akashi-kun—"

Kuroko mematung.

Terlebih ketika tutupnya terbuka dengan lebar, iris biru langitnya tertuju langung pada setiap polesan cat minyak dan warna unik yang tergambar dengan detail di atas kanvas. Bukan, Kuroko terkejut bukan karena warnanya, bukan karena keunikannya, bukan juga karena hasil karya dari seorang Akashi Seijuuro.

"Ini yang menjadi inspirasiku, Tetsuya."

—tapi karena potret dirinya yang terlukis jelas di atas kanvas.

Seorang Kuroko Tetsuya, yang tengah berdiri di belakang kamera, dan wajahnya terhalang oleh lensa. Yang terlihat hanyalah surai biru mudanya yang mencuat di antara kamera, badan yang terhalang tripod, juga satu tangannya berada pada tombol shutter. Memberikan kesan misterius ketika Akashi melukisnya. Terlebih karena latarnya dibuat dengan efek monokrom; hitam dan putih.

"Désolé," entah apa yang merasukinya, kata maaf itu terucap begitu saja dari bibir Kuroko. "Kenapa aku bisa menjadi—" Inspirasimu, Akashi-kun? Seharusnya kalimat itu yang terucap, lantas mengapa tidak sampai tuntas?

Namun sepertinya Akashi mengerti.

"Tak perlu ada alasan, Tetsuya. Aku hanya mengikuti temanya, je me souviens."

Mengabaikan jawaban Akashi yang membuatnya tidak puas, Kuroko membuka tas kameranya. Mengambil amplop yang terselip di dalam sana, terjepit di antara badan kamera. Dibukanya perekat amplop dengan sedikit terburu-buru, setelah itu mengeluarkan tumpukan di dalamnya. Yang berisi foto-foto hasil bidikan Kuroko, tentu saja dalam bentuk cetakannya.

"Awalnya aku ingin manghapusnya," ada kejujuran di sana, jelas. Sama sekali bukan manipulasi. "Tapi begitu aku melihatnya kembali, kuputuskan untuk mencetaknya."

Akashi memandang satu foto yang diberikan Kuroko untuknya. Reaksi yang diberikannya sama, terkejut, namun terlihat lebih tenang.

Bahkan dalam keadaan melukis pun, Akashi Seijuuro masih terlihat elegan.

"Foto yang bagus," senyum mengikuti ucapannya. "Ternyata hasil foto seorang fotografer memang tidak main-main. Kau memotretku secara diam-diam?"

"Tidak," sela Kuroko cepat. Panik, "hanya kebetulan, ya … seperti itulah," setelah itu mengangkat bahu tak acuh.

Akashi terkekeh geli. "Boleh aku menyimpannya?"

"Tentu saja."

Biru bertemu heterokrom. Datar bertemu tajam. Dan pelukis bertemu fotografer.

"Merci," mereka berujar serentak, setelah itu tertawa bersama. Hingga beberapa detik kemudian yang dihabiskan oleh saling tatap, Akashi kembali menyahut. Tapi kali ini bukan kepada Kuroko.

"Mademoiselle,"

Merasa terpanggil, sang prumasaji yang tak jauh dari mereka menoleh. Begitu melihat tangan Akashi memanggilnya, wanita itu berjalan mendekat. Seperti biasa, membawa buku catatan kecil dan pulpen bulunya. Wanita itu bertanya apa pesanan mereka, lalu ketika mulut Kuroko terbuka, Akashi menyelanya tanpa celah.

"Dua teh pettiagalla," jeda sejenak, melirik Kuroko sesaat, setelah itu melanjutkan. "Dengan ekstrak vanilla di dalamnya."

.

.

.

"Karena sesungguhnya mereka sama. Mengabadikan serpihan kenangan di dunia dalam cara yang berbeda."

.

.

.

Bevanda 3 : Completato


Mounsieur : Tuan

Mademoiselle : Nona

Bonjour : Selamat pagi

Bonsoir : Selamat malam

Merci : Terima kasih

Attandre : Tunggu

Oui : Ya


A/N :

Alice & Suki : Halooo~~ Kembali lagi dengan kami XD

Well, entah kesambet apa, kayaknya Suki sama Alice update cepat /mungkin/ gara-gara ukk udah selesaiii! Huahahahaha! /nak/ Oh ya, buat yang kemarin request AoKise lupa dicantumin, gomen Misaki-san QvQ *bow* tapi sekarang udah kok /plak/

Dan terima kasih buat yang sudah membaca chapter kemarin juga untuk Kitami Misaki, ShizukiArista, dan nyan. Juga terima kasih yang sudah request, pair lain menyusul yaa~~

Seperti biasa,

Alice & Suki : Review please? X3