Love Experiment

EXO's Fanfiction

ANNOTATION

Ide cerita sepenuhnya milik ©Curloey Smurf.

Apabila tokoh, alur, tipe cerita, dll kurang berkenan. Cukup klik icon silang di halaman. Saya tidak menuntut review, tapi apabila berkenan untuk masukan yang membangun FF ini saya akan dengan senang hati menerimanya

Hanya sebatas manusia biasa, typos, sedih dapat bash, kemampuan berhayal terbatas, fiktif keterlaluan dll. Jadi mohon pengertiannya. Thank You~

Don't copas and be a plagiarist.

This is an EXO's fanfiction, Genderswitch, Byun Baekhyun, Park Chanyeol as main cast, other EXO member, guest star (?), etc as support cast. Pairing Chanbaek, Kaisoo, Hunhan. Genre Romance, Friendship. Length: ?. Rate: T.

I'm not a writer but I love to write.

e)(o

Sepertinya aku terkena karma karena terlalu sering bermain-main dengan perasaan seseorang. Tapi jika setelah itu aku dimaafkan maka tidak apa.

Aku akan bertahan pada pria tidak peka ini.

-Byun Baekhyun-

.

Kedua mata itu terpejam. Mendongakkan wajah ke atas menikmati hembusan angin sepoi yang menerpa wajah mulus bak porselain itu. Sesekali surai panjangnya yang tergerai akan berhamburan menutupi wajah itu.

"Ah, joha!"

"Hum, majja neomu joha."

Kedua mata itu terbuka lebar. Mata selebar pendulum itu mendelik ke arah pemilik suara yang kini tengah menatapnya dengan senyum lebar.

"Neo, chogiyo, apa yang anda lakukan di tempat ini?"

"Nan? Tentu saja duduk dan menikmati angin sore."

Kyungsoo menatap Jongin sengit. "Chogiyo, tapi aku sangat terganggu."

"Wae? Ini kan tempat umum?"

"Ha!" Kyungsoo meraih ranselnya lalu melangkah menjauh.

Jongin buru-buru menarik bagian atas ransel Kyungsoo. "Ya!" Pekik Kyungsoo terkejut.

"Ups, sepertinya tanganku tersangkut tadi."

"Apa masalahmu huh?"

"Eobseo!"

"Yaish!"

"Soo?"

"Oh oppa! Oppa sudah sampai?"

"Nugu?"

Kyungsoo melirik sebal ke arah Jongin. "Molla, aku tidak mengenalnya." Joonmyeon tertawa.

"Ah, bukankah kau Kim Jongin?"

"Kau mengenalku?" Joonmyeon tertawa kecil.

"Bukankah kau bergabung dengan tim basket Yonsei? Aku mantan manager klub itu sebelum lulus dari Yonsei dua tahun lalu. Dan kau adalah sepupu Zhang Yixing majja? Ia rekan kerjaku."

"Ah benarkah?"

"Oppa, kajja. Kita akan terlambat jika terus di sini."

"Arraseo Soo-ya. Kami pergi duluan Jongin-ssi." Kyungsoo memilih untuk langsung pergi dari pada harus memberi ucapan salam.

e)(o

Baekhyun memandangi dua buah gelas bening di hadapannya dengan seksama. Ia hampir memekik tatkala salah satu dari dua gelas itu tiba-tiba terisi cairan bening.

"Ya! Apa yang kau lakukan?" Pekik Baekhyun tidak terima. Si pelaku menggedikkan bahu tak peduli. "Uh, menyebalkan sekali." Cibir Baekhyun.

"Aku mendengarnya nona Byun."

"Apa? Aku tidak mengatakan apapun."

Chanyeol si pelaku memutar bola mata malas. "Ya, kau hanya duduk diam di sana sepanjang malam." Tiba-tiba saja Baekhyun menegakkan duduknya, mengulum sebuah senyum manis.

Itu hal yang sangat menggemaskan, tapi justru pertanda buruk bagi Chanyeol. Sudah seminggu ini gadis bermarga Byun itu datang saat shift kerja Chanyeol dan hanya duduk di kursinya –ia akan bertindak sebagai pemerhati setiap pergerakan Chanyeol-, sesekali ia akan merengek. Dan gerakan yang ia lakukan itu adalah kebiasaannya saat akan meminta suatu hal yang aneh –menurut Chanyeol-. Seperti misalnya lima hari lalu, gadis itu minta di ajari cara mencampur minuman –tepatnya memaksa- lalu berakhir dengan seorang pria memuntahkan seluruh isi perutnya setelah luluh dengan kedipan mata Baekhyun untuk mencoba minuman itu.

Lalu, tiga hari yang lalu. Gadis itu memaksa untuk membantunya memberikan minuman kepada pelanggan club yang duduk di mini bar, dan berakhir dengan aksi saling jambak karena pelanggan wanita itu tidak mau dilayani Baekhyun melainkan meminta Chanyeol sebagai gantinya. Dan yang terbaru, kemarin. Gadis itu hampir memecahkan sepuluh gelas sloki gara-gara melemparnya dengan gelas sloki lain –ia berkata ingin mencoba apa yang dilihatnya di televisi tentang orang yang mencampur beberapa bir di tumpukan gelas-, tentu saja dengan cara dan pemikirannya sendiri.

"Chanyeola."

"Tidak nona Byun." Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

"Aku belum mengatakannya."

"Tapi saya yakin akan menolaknya."

"Ah amteun. Aku ingin ikut pulang ke apartemenmu malam ini."

Sebelah alis Chanyeol tertarik ke atas. "Wae?"

"Hari ini teman-temanku tidak akan pulang. Jadi mari menonton film bersama!" Chanyeol menghela nafas.

"Arraseo. Tapi setelah itu pulanglah."

"Shireo, aku akan menginap dan pulang besok pagi."

"Aku ada pekerjaan di pagi hari. Kau susah dibangunkan."

Baekhyun menggeleng. "Aku janji akan bangun pagi-pagi sekali kali ini."

Sudahkah diceritakan bahwa belakangan mereka semakin dekat setiap harinya? Bahkan gadis mungil itu akan berakhir menginap di apartemen si jangkung setiap kali mabuk. Tentu saja karena keterpaksaan dan kebaikan hati yang lebih tinggi.

e)(o

"Chanyeola!" Chanyeol memutar bola mata malas.

"Berhenti memanggil namaku nona. Aku sedang bekerja dan kau mengganggu pengunjung lain."

"Shireo~"

"Hey tampan?" seorang wanita berpakaian minim duduk di salah satu kursi yang ada di bar. Wanita itu mengerlingkan matanya ke arah Chanyeol.

"Ada yang bisa saya siapkan untuk anda nona?" tanya Chanyeol.

"One room?" Ucap gadis itu dengan nada seduktif.

"Maaf?"

"Uh, satu margarita."

"Ye, akan saya sediakan." Tangan cekatannya segera bergerak menyiapkan pesanan itu. "Selamat menikmati minuman anda." Wanita itu sengaja menahan tangan Chanyeol yang mengulurkan minuman ke arahnya.

"Aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Jadi, bisa aku tahu siapa namamu? Aku Sunbin."

Plak

"Ups! Oh, maafkan aku nona. Tanganku sepertinya bergerak secara otomatis untuk mengusir lebah penyengat."

Si wanita menatap sengit ke arah Baekhyun. "Apa maksudmu?" Baekhyun menggedikkan bahu tak peduli.

"Siapkan black russian untukku." Ucap Baekhyun. Chanyeol menggeleng.

"Ah wae?" rengek Baekhyun.

"Kau bisa mabuk."

"Kalau begitu berikan aku jus jeruk!"

Si wanita bernama Sunbin tertawa mengejek. "Kenapa anak kecil diijinkan masuk ke tempat sekelas ini huh. Mengecewakan sekali."

"Ini jus jeruk untukmu."

"Well, kau bisa menghubungiku nanti. Ini kartu namaku." Wanita itu mengulurkan sebuah kartu nama kepada Chanyeol.

Belum sempat kartu nama itu diambil, Baekhyun sudah bergerak lebih dulu. Di ambilnya kartu nama itu. Ia meraih clutch bag nya lalu mengeluarkan kartu nama lain. Miliknya.

"Kau bisa menghubungi nomor ini jika ingin menghubunginya nona."

Sunbin menatap sengit Baekhyun. Baekhyun sepertinya tidak mau kalah.

"Siapa kau sebenarnya huh?"

"Aku? Apa kau bertanya padaku nona?"

"Ya, anak kecil sepertimu jangan bicara dengan menatapku. Beraninya kau! Dasar tidak sopan!"

"Ahjumma sepertimu tidak pantas menggoda pria tampan seperti Chanyeolku!"

Sunbin berdesis tajam. "Ahjumma katamu?" baru saja tangan wanita itu akan menarik surai bergelombang Baekhyun jika saja tidak ada tubuh lain yang menghalangi pandangannya.

"Ini sudah malam, ayo kita pulang. Shiftku sudah berakhir." Chanyeol yang sudah berganti pakaian segera menyeret Baekhyun keluar.

"Awas kau ahjumma!" Pekik Baekhyun sebelum benar-benar meninggalkan meja bar itu.

e)(o

"Kau masih mogok bicara padaku hum?"

"..."

"Arraseo, kau bisa kembali sekarang. Aku akan berjalan pulang."

Chanyeol menepikan mobil Baekhyun. Baekhyun segera meraih lengan Chanyeol sebelum pria itu sempat melepaskan seatbeltnya.

"Aku hanya sedang sebal pada ahjumma tadi." Keluh Baekhyun.

Chanyeol menghela nafas panjang. "Pelanggan biasa seperti itu Baek."

"Tapi ahjumma yang tadi sungguh menyebalkan!"

Chanyeol melepas seatbeltnya. Menepukkan telapak tangannya ke pucuk kepala Baekhyun. "Kau jauh lebih menyebalkan tadi." Baekhyun mendelik marah. "Gomawo, kau melakukannya dengan sangat baik." Ucapan itu membuat Baekhyun tidak bisa menahan senyum lebarnya.

e)(o

"Auh, mengerikan sekali."

Plak

"Ya!"

"Aku mendengarnya Lu."

"Hey ladies!"

"Sehun!"

"Apa yang kalian perdebatkan barusan huh?" Tanya Sehun begitu mendudukkan diri di samping kekasihnya, Luhan.

"Aku merasa begitu kesepian belakangan ini, teman seapartemenku seringkali menghilang di malam hari."

"Itu bukan aku." Baekhyun bersuara.

Luhan mendelik, "aku tidak bicara padamu."

"Apa aku bicara denganmu nona Lu?" Baekhyun tak mau kalah.

"Aku merasa ia sedang menyembunyikan sesuatu. Oh, bukankah kau mahasiswa KAIST Hun? Apa mungkin kau juga pernah melihat teman seapartemenku itu mengunjungi kampusmu. Seorang mahasiswa KAIST memberitahuku kalau nona diva itu sering berkunjung ke sana belakangan."

"Omong kosong!" Baekhyun menyela.

"Ya!" Pekik Luhan.

"KAIST? Benarkah? Aku tidak tahu. Kampusku kan luas, bisa saja temanmu itu mengunjungi fakultas lain."

"Ah benar juga. Tapi, apa menurutmu alasan seorang diva Yonsei mengunjungi Universitas lain?"

"Bisa saja ia memiliki seorang kekasih di sana." Jawab Sehun asal, pria itu kini sibuk dengan laptopnya. Ia sedang membuka sebuah aplikasi game online.

Luhan menepukkan tangannya. "Majja! Jadi, apa kau menyembunyikan sesuatu nona Byun?" Luhan memincingkan matanya.

"Musun! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."

Plak

"Ya! Kyungsoo noona!" Teriakan Sehun menghentikan perdebatan di antara Baekhyun dan Luhan. Sehun mengusap kepalanya yang terasa panas. Kyungsoo menepuknya begitu keras tadi.

"Apa gunanya mahluk albino sepertimu berada di sini jika mereka saling berteriak seperti itu huh?" Kyungsoo mencibir.

"Uh! Kenapa setiap kali kita bertemu kau memukul kepalaku? Itu salah mereka. Aku tidak mau terlibat dalam urusan wanita."

Luhan mendelik ke arah Sehun.

"Maksudku, aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi kekasih cantikku ini. Ya begitu, jangan salah paham Lu."

Luhan mengangguk puas.

"Jadi, apa yang sedang kalian perdebatkan huh?" Kyungsoo mengambil tempat di samping Baekhyun.

"Lebah ini menyembunyikan sesuatu dari kita. Apa kau tahu, belakangan ini ia sering diam-diam pergi ke KAIST."

"KAIST? Untuk apa?" Kyungsoo menatap Baekhyun.

"Jangan dengarkan Luhan. Ia mengada-ada!"

Kyungsoo menghela nafas. "Apa terjadi sesuatu Baek? Aku tidak tahu kenapa kau tidak menceritakan apapun pada kami. Tapi belakangan kau memang sering menghilang. Kau meninggalkan jadwal kuliahmu, ya aku tahu itu sering terjadi sejak semester awal, tapi kau biasanya masih berada di lingkungan kampus sedangkan sekarang kau tidak. Lalu di malam hari kau juga sering keluar malam. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Aku tidak menuntutmu untuk menjelaskan detailnya, hanya saja jangan mencoba untuk berbohong." Kyungsoo melirik Sehun usai bicara panjang lebar.

"Arraseo! Aku akan berpindah meja!" Sehun mencibir jengkel. Ia kan hanya duduk di sana bukan menguping pembicaraan gadis-gadis itu.

Baekhyun mencembikkan bibirnya. "Apa kalian sedang menginterogasiku?"

"Ya!"

"Lu, berhenti memekik atau aku juga akan menyuruhmu berpindah meja."

"Arraseo." Luhan menundukkan kepalanya.

"Aku pergi menemui seseorang." Ucap Baekhyun pada akhirnya. Luhan hampir saja memekik heboh karena tebakannya benar, tapi ia urungkan saat melirik ekspresi kejam Kyungsoo.

"Nugu?"

"Aku tidak bisa menjelaskan- sial! Ada Jongin di sini!" Pekik Baekhyun tiba-tiba. Baekhyun buru-buru menarik Luhan untuk berpindah ke meja lain. Menutupi wajah keduanya dengan majalah entah apa. Membiarkan Kyungsoo kebingungan karena gerakan itu terlampau cepat.

"Do Kyungsoo?"

Kyungsoo mendongak menatap seseorang yang menyebutkan namanya. Ia hampir saja mengumpat saat mendapati senyum lebar seorang Kim Jongin. "Apa kau memiliki urusan denganku? Kau bicara denganku?" Tanya Kyungsoo malas.

"Ya, namamu Do Kyungsoo kan?" Kyungsoo mengambil minuman di meja, itu milik Luhan, meminumnya dalam sekali teguk.

"Bukan, kau salah orang."

Jongin tertawa, ia mendudukkan dirinya tepat dihadapan Kyungsoo.

"Kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?"

Di meja tepat di samping mereka. Dua orang gadis kini sibuk berkasak-kusuk. Mereka merapatkan diri ke ujung meja untuk mendengar pembicaraan lebih jelas.

Kyungsoo mengernyit bingung. "Pesan?"

"Hum, pesan dariku. KJI. Kim Jongin."

"Ah! Jadi kau pengirim spam-spam itu!"

"Spam?"

"Ya, asal kau tahu. Itu sangat menggangguku. Bisakah kau menghentikannya?"

"Bagaimana jika aku menolak?"

Kyungsoo mendengus sebal. "Menyingkir dari meja ini. Aku sedang menunggu seseorang."

"Huh? Nugu? Kekasihmu?"

"Aku tidak sedang bermain tebak kata. Ku harap kau cukup cerdas untuk memahami kalimatku. Silakan menyingkir dari meja ini."

Jongin tertawa. "Astaga, kau manis sekali sih." Kyungsoo tertawa sarkastik.

"Sialan! Kau ini dungu sekali!" dengan begitu gadis bersurai hitam itu meninggalkan cafe.

"Kau dengar itu Lu? Kyungsoo menyeramkan sekali."

"Hum, tidak seharusnya ia mencari masalah dengan uri Soo-ie! Benar-benar pria yang dungu."

"Ya, sangat dungu."

"Kau lebih dungu mau menjadi kekasih si dungu itu."

"Sial! Aku akan memukulmu nanti!"

e)(o

"Ya!"

"Ups, maafkan aku Chanyeola."

"Baek, bisa kau menghentikan kebiasaanmu melempar tubuhmu seperti itu?" Bibir Baekhyun mengerucut.

"Apa maksudmu aku berat huh? Aku gemuk?"

"Bukan begitu Baek, maksudku melempar tubuhmu dengan tiba-tiba. Bagaimana kalau aku tidak sigap menangkapmu. Kau mungkin bisa saja terluka."

"Aku kan hanya ingin memelukmu!"

Chanyeol memutar bola mata malas. Semenjak diikuti oleh gadis berparas imut itu ia terbiasa dengan segala macam bentuk skinship, yang tadinya amat ia benci. Gadis itu seolah memiliki pesona khusus yang bisa membuat semua orang dekat dengannya dalam waktu singkat. Lagipula, siapa yang bisa mengabaikan seorang Byun Baekhyun?

"Arraseo, kemarilah." Chanyeol mengulurkan tangannya mengalah pada rengekkan Baekhyun, dan Baekhyun dengan senang hati mendekatkan dirinya kepada Chanyeol untuk dipeluk.

Krakk

Suara injakan dan teriakan membuayarkan kegiatan Baekhyun yang tadinya sedang mengusakkan wajahnya ke leher Chanyeol. Dia benar-benar akan berubah menjadi puppy yang manja pada majikannya jika sedang bersama Chanyeol.

"Mwoya igeo?" Pekik Baekhyun terkejut.

Chanyeol yang tadinya sibuk melihat ke arah ponselnya juga terkejut. Mereka berencana untuk pergi ke pantai. Tentu saja itu ide Baekhyun yang tidak terbantahkan. Beberapa jam yang lalu gadis mungil itu tiba-tiba saja muncul di kampus Chanyeol. Hari ini memang adalah day off Chanyeol dari semua pekerjaan paruh waktunya. Karena itulah Baekhyun mengusulkan –memaksa- untuk pergi ke pantai. Ia bersikeras bahwa Chanyeol butuh liburan.

Keduanya kini sedang berada di rest area. Menikmati secangkir cokelat panas dan beberapa tusuk odeng. Tadinya Baekhyun menolak memakannya karena menurutnya bentuk makanan itu terlihat aneh. Tapi kini justru yang menghabiskan makanan itu adalah Baekhyun.

Kembali ke asal suara. Baekhyun memincingkan matanya memindai dari mana asal suara itu. Saat lensanya menemukan sosok wanita tua tengah meratapi keranjang kayunya terkoyak bahkan kue-kue di atasnya sudah tak pantas lagi untuk dimakan karena diinjak oleh pemuda di hadapan nenek itu. Tanpa membuang banyak waktu, gadis itu sudah meringsek maju ke arah pemuda yang sibuk memaki wanita tua itu. Membanting tubuhnya secara tiba-tiba.

Chanyeol yang menyadari keadaan segera berlari menyusul Baekhyun sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Pria itu menarik Baekhyun menjauh dari seseorang yang dibantingnya tadi, Baekhyun dulunya sempat berlatih hapkido bahkan sampai mendapat sabuk hitam. Menyembunyikan tubuh Baekhyun di belakangnya.

"Sial! Ya! Siapa kau berani melukaiku!" Seru pemuda itu marah. Baekhyun melongokkan kepalanya dari balik tubuh Chanyeol.

"Kris!" Pekik Baekhyun.

"Kau mengenalnya?" Bisik Chanyeol.

"Ya, dia mantan kekasihku." Balas Baekhyun ikut berbisik.

"B-baekhyun?"

Baekhyun meringsek maju. "Ha! Jadi kau bukan pergi ke Kanada tapi memiliki teman kencan baru huh!" Seru Baekhyun. Pria blasteran itu menelan ludah gugup.

"Dan berani-beraninya kau menyakiti wanita tua ini!"

"Kita sudah putus Baek."

"Arra, urusanmu denganku sekarang adalah karena kau berani menyentuh wanita tak berdaya!"

"Ia hanya wanita miskin tak tahu diri. Bagaimana bisa ia menumpahkan kopi ke pakaianku!"

Baekhyun si egalitarian sejati, dibalik sifat kekanakannya itu ia percaya bahwa semua orang memiliki derajat yang sama. Ia tidak akan segan-segan menindak segala jenis kejahatan yang berhubungan dengan strata sosial.

"Kau!" Dengan satu gerakan cepat gadis itu kembali membuat Kris jatuh tersungkur. Kali ini dengan tendangannya.

"Honey!" Gadis yang sedari tadi menatap Baekhyun ketakutan berteriak panik mendapati Kris jatuh tak berdaya.

Sebelum Baekhyun bertindak lebih jauh Chanyeol segera menghadang gadis mungil itu. "Baek, sudah. Sebaiknya kita menolong nenek itu." Ucapnya perlahan mencoba meluluhkan emosi Baekhyun.

"Majja, tidak ada gunanya berurusan dengan sampah itu!"

"Astaga, jaga ucapanmu Baek."

Jemari Chanyeol bergera mencapit bibir Baekhyun, membuat si korban merengek manja.

"Halmeoni baik-baik saja?" Tanya Chanyeol.

"Ah, aku akan membeli semua kue ini." Ucap Baekhyun.

"Animnida, itu memang kesalahan saya kurang berhati-hati."

"Aniyo, aku akan mengambilnya." Baekhyun buru-buru merogoh sling bagnya. Tapi sejurus kemudian ia menatap Chanyeol lalu meringis.

"Aku tidak punya uang." Bisiknya. Chanyeol menghela nafas. Ia mencoba menemukan lembaran uang di kantong celananya. Ada beberapa lembar uang 5000 won disana.

"Berapa harga semua kue ini?" Tanya Chanyeol ragu.

Wanita tua itu menggeleng. Kemudian Baekhyun meraih semua lembaran yang dimiliki Chanyeol lalu meletakannya ke tangan si wanita tua.

"Kami pergi ya halmeoni!" Pekik Baekhyun, gadis itu segera berlari setelah menarik lengan Chanyeol.

Bukankah Baekhyun sangat menggemaskan sekaligus menyeramkan di saat yang sama?

e)(o

"Baek-"

"Huh?"

"Itu satu-satunya uang tunai yang kumiliki."

"Geurae?"

Wajahnya datar seolah apa yang diucapkan Chanyeol hanyalah pernyataan tak bermakna. Gadis itu masih sibuk mengamati kukunya. Ia menghela nafas lega karena tidak terdapat kerusakan sedikitpun dari kuku berlapis cat itu.

Chanyeol menggeram gemas. "Apa kau tahu berapa jumlah uang tadi?"

"Ani."

"45.000 won! Aku seharusnya menggunakannya untuk membayar sisa hutang flatku tinggal. Aku bisa di usir Baek." Chanyeol menghela nafas lelah. Sejak berurusan dengan gadis ini, hidupnya tidak pernah tenang.

"Ommo!"

Keduanya berada dalam keadaan hening setelahnya.

"Apa hanya itu yang bisa kau ucapkan?" Chanyeol frustasi.

Baekhyun mengangguk. "Memangnya aku harus berkata apa?"

"Geurae, lakukan sesukamu. Setelah kita pulang nanti semua tanggung jawabku selesai." Ucap Chanyeol kemudian.

"Mwo? Apa kau bermaksud mengatakan bahwa aku hanya seharga 45 ribu won!" Pekik Baekhyun marah. Chanyeol menghela nafas panjang.

Kalau bisa Chanyeol sejujurnya ingin mengumpati gadis yang duduk di sampingnya. Tapi melihat tampang bodoh nan polos itu membuat Chanyeol menggeram marah pada dirinya sendiri. Ia merasa begitu lemah jika dihadapkan dengan ekspresi semacam itu.

"Baek, ini sudah lebih dari satu minggu aku mengikuti kemauanmu dengan dalih bertanggungjawab. Apa itu masih kurang? Aku bahkan menghabiskan waktu day off ku untuk menjadi sopirmu. Apa itu juga tidak cukup?"

Baekhyun menghela nafas panjang, begitu dramatis seolah hari ini adalah hari yang begitu berat untuknya.

"Chanyeola, apa kau bahkan tahu bagaimana perasaanku ketika terbangun di kamarmu? Aku sangat ketakutan. Atau kau memang benar-benar berbuat sesuatu padaku malam itu, kau ingin kabur?"

"Kau mendapatkannya Baek."

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan senyum kemenangannya. Melupakan fakta bahwa belakangan gadis itu sering menginap di flat Chanyeol atas keinginannya sendiri.

e)(o

"Uwaaaaa badaaaaaga!"

Gadis berusia 21 tahun itu berlarian secara random. Tak lupa ponselnya ia arahkan ke wajahnya, kemudian ke arah ombak bahkan terkadang pasir pantai.

"Ya! Kau pergi sendiri?"

"Aniya."

"Lalu kau pergi bersama siapa huh?"

Gadis itu sedang melakukan Vcall saat ini.

"Dimana Kyungsoo?"

"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan Nona Byun!"

Baekhyun menggedikkan bahu tak peduli. Dimatikannya sambungan itu. lalu dengan langkah cepat, ia berlari menuju pemuda jangkung yang kini duduk beralaskan kain bermotif papan catur berwarna merah putih. Tentu saja itu atas ide Baekhyun, tak lupa keranjang piknik berisi beberapa makanan ringan.

"Whoa, whoa! Sebentar Baek!" Baekhyun mencembik sebal, ia hampir melemparkan tubuhnya ke arah Chanyeol.

"Kemarilah, duduklah dengan tenang. Apa yang ku katakan soal hal itu bisa melukaimu huh?"

"Arraseo." Gadis itu bergerak menuju lengan Chanyeol. Merebahkan tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya di atas dada bidang pria jangkung itu.

"Apa kau juga bermanja seperti ini pada teman-teman priamu huh?"

Baekhyun melarikan jemari lentiknya ke lengan Chanyeol yang bebas. "Aniya, semua temanku perempuan. Dan lagi, mereka tidak akan suka jika aku melakukan ini."

"Karena kau memang sudah dewasa Baek."

"Musun! Itu tidak ada hubungannya." Lalu gadis itu tiba-tiba meraih ponselnya. Mengambil angle yang tepat untuk menampilkan wajah cantiknya. Klik. Dan layar itu menampilkan wajah Baekhyun yang bersandar di dada seseorang. Ia menggerakkan jemarinya beberapa saat sebelum memekik senang.

[Foto]

Meet me where the sky touch the sea!

"Apa yang kau lakukan Baek?

"Kajja, kita harus berselca!" pekik Baekhyun antusias.

"Shireo."

"Aku tidak akan mempublikasikannya. Ayolah." Rengek Baekhyun.

Lalu dengan gerakan cepat Baekhyun mengambil beberapa foto dari berbagai angle. "Ah wae? Kenapa tidak ada posemu yang melihat ke arah kamera huh?" Baekhyun menepuk keras lengan Chanyeol membuat pemuda itu mengerang.

"Arraseo, kemarikan ponselmu."

Lalu pria itu mengambil sebuah foto sesuai permintaan yang lebih mungil. Baekhyun terbahak saat mendapati hasil foto itu adalah setengah wajahnya dan wajah Chanyeol. Dimana hanya hidung sampai dagu Chanyeol yang terlihat sedangkan yang terlihat dari wajah Baekhyun adalah mata sampai pucuk kepalanya.

"Uh, aku lelah sekali. Biarkan aku tidur sebentar Park." Chanyeol hanya bergumam.

e)(o

"Siapa pria itu Baek?" Luhan memincingkan matanya.

"Huh? Nugu?"

"Pria yang ada di akun instagrammu!"

"Ah, untuk apa kau menanyakannya."

"Apa pria itu yang membuatmu menghilang beberapa minggu ini?"

"Itu-"

Brak

"Soo?" Panggil Baekhyun ragu. Tidak biasanya gadis itu membanting pintu kamarnya. Baekhyun menatap Luhan, mencari petunjuk, gadis yang ditatap menggedikkan bahu.

"Kita harus mencari tahu." Dengan satu kalimat itu keduanya bergerak cepat melompati sova lalu berlari kecil menuju kamar Kyungsoo.

"Soo!" Pekik Luhan.

Gadis bersurai gelap itu tengah melempar beberapa pakaiannya secara asal ke dalam sebuah koper besar.

"Kau- apa yang kau lakukan?"

"Aku akan kabur Lu."

"Huh? Apa maksudmu?"

Kyungsoo menatap Baekhyun. "Appaku berniat menjodohkanku. Ini tidak benar! Aku akan kabur."

"Andwe! Apa maksudmu? Kau bisa tinggal di apartemen ini dengan aman Soo. Kenapa harus kabur?"

"Appa pasti akan menemukanku Baek."

"Andwe, kita bisa mencari solusi lain."

"Huh?"

"Bagaimana kalau kau bawa Jongin ke hadapan appamu?" Luhan tiba-tiba bersuara.

"Sialan! Jangan sebut pria dungu itu!" Pekik Kyungsoo tiba-tiba. Gadis itu bahkan mengalihkan baju yang seharusnya ia lempar ke ke koper justru berbalik ke arah Luhan.

"Ya!" Pekik Luhan lalu berlindung di balik tubuh Baekhyun.

e)(o

Secangkir cokelat panas dan beberapa potong eclair.

"Jadi, menurutmu itu ide yang bagus?"

Baekhyun menarik nafas dalam. "Ya. Kau harus membuat appamu terkesan."

"Tadi kau menolak ide itu bahkan hampir membunuhku." Cibir Luhan.

"Aku mendengarmu Lu."

Pada akhirnya ketiganya memutuskan untuk mendinginkan kepala guna mendapat solusi terbaik atas permasalahan Kyungsoo. Tentu saja ditemani secangkir cokelat panas untuk masing-masing dan beberapa potong eclair yang dipesan Luhan sebagai permintaan maaf, yang Luhan sendiri tidak tahu apa salahnya tapi ia bersedia melakukannya.

"Aku sebenarnya tidak mau mengatakannya tapi, kurasa Jongin pria yang tepat. Setidaknya untuk sementara waktu appamu akan berhenti menyinggung soal perjodohan. Kim Jongin adalah satu-satunya penerus Kim corp. Dia juga mapan dan mandiri walaupun kelakuannya luar biasa brengsek."

Kyungsoo mengangguk. "Jadi, aku harus memanfaatkan si Jongin ini."

"Hum semacam seperti itu."

"Tapi, apa itu tidak keterlaluan? Maksudku sepertinya ia benar-benar tertarik padamu Soo." Luhan bersuara. Baekhyun mendelik tak setuju.

"Kkaebul! Ia bahkan memutuskanku dengan alasan bosan lalu segera menggandeng wanita lain. Kurasa ia berhak diperlakukan seperti itu."

"Tapi dendammu tidak berhubungan dengan Kyungsoo Baek."

"Ani, Baekhyun benar. Dia selalu memandang rendah wanita. Itu tidak bisa dibiarkan. Aku akan memberinya pelajaran."

"Tapi Soo, kenapa kau marah sekali mendengar nama Jongin dari bibir Luhan?" Baekhyun dan Luhan segera mencondongkan tubuhnya mendekat.

"Pria sialan itu mempermalukanku di depan umum beberapa hari yang lalu."

"Huh?"

.

.

.

"Hey! Apa kau sendiri?"

Kyungsoo memutuskan fokusnya dari laptop yang ia letakkan di meja baca. Tidak, ia tidak sedang mengerjakan tugas. Ia sedang menonton sebuah film. Dan ruang baca yang tenang adalah tempat yang tepat.

"Kau buta?" Tanya Kyungsoo sarkastik. Ia benci diganggu.

Jongin, pria yang menyapanya tak mampu menyembunyikan tawanya. "Kau benar. Harusnya aku tidak bertanya. Hey, apa itu seru?" tanpa aba-aba pria itu menarik paksa sebelah earphone di telinga kanan Kyungsoo lalu memasangannya ke telinga kirinya.

"Kau menonton film action di tempat seperti ini?"

Kyungsoo menggertakkan giginya. "Apa yang kau butuhkan?"

"Narang naljja juleyo?"

"Mwo?"

"Wanna date with me?"

Beberapa mahasiswa yang tadinya sibuk dengan kegiatan masing-masing tiba-tiba memperhatikan keduanya. Terlebih Kyungsoo tidak sengaja menjatuhkan ponselnya karena gerakan tiba-tiba terlampau terkejut. Menimbulkan bunyi berisik yang cukup untuk membuat pengawas ruang baca menegur mereka.

"Yaish!" Gadis itu buru-buru menutup laptopnya, memasukkan benda yang dibawanya secara asal ke dalam tas lalu beranjak pergi dengan muka merah padam.

.

.

.

"Ommo! Jongin sungguh berkata seperti itu?"

Kyungsoo mendengus. "Ia bahkan terus menggangguku dengan pesan-pesannya."

"Majja, sepertinya dia bersungguh-sungguh. Jongin tidak akan mengirim pesan jika kau tidak mengirim pesan duluan. Daebak!"

"Geundae, aku jadi penasaran bagaimana pesan-pesannya. Mana ponselmu?"

Kyungsoo mengerjapkan matanya. "Yaish! Ponselku tertinggal di ruang baca!" Pekiknya.

Tanpa banyak bicara lagi gadis itu segera meraih mantel dan sling bagnya. Berlari menuju pintu apartemen, tentu saja dengan tujuan kampusnya. Sepertinya ia bahkan tidak sadar bahwa ini sudah hampir mendekati tengah malam.

"Apa Kyungsoo berniat mengambil ponselnya tengah malam begini?" tanya Luhan. Baekhyun mengerjapkan matanya.

"Ya! Kita harus mencegahnya!" Pekik Baekhyun.

Luhan membelalakkan matanya. "Ommo! Jadi itu benar?"

Lalu kedua gadis lain segera melakukan kegiatan yang sama.

To Be Continue.

e)(o

[Interaction Corner]

Sebelumnya, although i'm not a Shawol. I sincerely send my deep condolances to all of Shawol sunbaenim. Rest in peace Jonghyun-nim. Remember this all, depression should not be taken lightly, just trust our idol and give support as best as you can. Don't be a part of a fanwar and send hate message to other people's idol, don't make yourselves being a murder without realize it.

Terima kasih atas review, follow dan favouritenya. Dan kepada yang menantikan FF ini pesan saya jangan berkekspektasi banyak dengan FF saya. Baik ini maupun FF lain di masa depan. Saya hanya takut mengecewakan readers. Tapi saya seriusan bilang terima kasih atas kehadiran kalian di FF ini. Dear kalian neomuchanbaek1, babybaekchan, loeyaBee, parkobyunxo, friziblup, kepala jamur. Love ya all~

Enjoy!

Sincerely,

Curloey Smurf