FATE OF MY ADOLESCENCE

Rate: T

Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Fate Series [Type Moon]

Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun

Genre: School, Friendship, Family, Romance, Drama

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Pairing: ?

Summary: Naruto hidup dalam kesendirian sejak kecil karena perpisahan orang tuanya. Dia bukanlah seseorang yang mudah bergaul ataupun bersosialisasi. Dalam kehidupannya, hanya basket yang dapat membuatnya bertahan dari masa kecil dan masa muda nya yang kesepian. Namun suatu hari, dirinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera di kaki kirinya. Banyak hal yang telah dilaluinya hingga saat ia menginjakkan kaki di bangku tahun kedua SMA.. Sobu Gakuen. Kehidupan nya dimulai saat bergabung ke sebuah Klub…

Jangan lupa review, favorite follow!

.

.

.

.

.

Chapter 3: Me and My Sister Part 2

NARUTO POV

Aku sekarang berjalan menaiki tangga menuju lantai empat dimana apartemenku berada. Sambil berjalan menaiki tangga, pikiranku terbawa entah kemana…, hanya berusaha untuk melupakan apa yang kulihat tadi. Menurutku pemandangan yang kusaksikan tadi jelas bukanlah sesuatu yang wajar. Otou-san ku…, seorang pria berumur 38 tahun yang memiliki 3 orang anak berada dalam satu mobil dengan seorang senpai yang kukenal.

Bukan hanya sekedar mengenalnya kurasa…, gadis itu…, adalah senpai ku sejak dulu. Sejak aku masih berada di SMP hingga saat ini berada di Sobu Gakuen. Kebetulan? Tidak...

Aku berdiri tepat di hadapan pintu masuk apartemenku sendiri dan terdiam ketika pikiranku kembali dibawa ke suatu tempat di bagian terdalam ingatanku mengenai gadis yang notabene nya merupakan senpai ku… sekarang…

Hal itu bukanlah kebetulan karena memang bahwa salah satu alasanku untuk masuk ke Sobu Gakuen adalah karena Jeanne-senpai. Kurasa bukan salah satu alasan… tapi memang alasan terbesarku… Saat ia lulus dari SMP…, Konoha Junior High School lebih tepatnya dan saat itu aku baru saja naik ke tahun ketiga, aku langsung bertekad untuk masuk ke SMA yang sama dengannya. Karena sejak menginjak tahun pertama semester kedua di SMP…

Aku… jatuh hati kepada Jeanne-senpai.

END OF NARUTO POV

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Keesokan paginya

Matahari mulai menyapa Naruto yang tertidur di sofa. Tak seperti biasanya dia tidur di dalam kamarnya…, malam tadi dia terpaksa harus tidur di sofa karena Naruko sudah mengambil alih kamarnya. Naruto teringat bahwa hari ini adalah hari libur, lalu dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya…, dia berniat melanjutkan lagi tidurnya. Namun tiba tiba sebuah sentuhan halus ia rasakan di bagian pipi.

Dia menggelengkan kepala beberapa kali karena terganggu. Setelah ia rasa sentuhan itu sudah benar benar mengganggunya, Naruto membuka kedua matanya dan cukup terkejut begitu melihat bahwa sebuah jari telunjuk yang begitu mungil telah mengganggu niatnya untuk tidur.

Dia mengalihkan tatapannya ke pemilik jari telunjuk itu lalu menemukan Naruko yang sudah memasang sebuah senyum. Melihat senyum itu, Naruto ketakutan. Senyum yang terpancar dari adiknya itu bukanlah senyuman biasa melainkan sebuah senyuman jahat.

"Jadi begini keseharianmu saat sedang libur..!? Matahari bahkan sudah menggantikan bulan tapi kau masih berniat tidur ya?"

Dengan tergesa gesa, Naruto langsung memposisikan dirinya untuk duduk. Lalu dengan ekspresi yang ketakutan dia menjawab,

"J-Jangan ganggu aku! Lagipula ini hari libur…, tak ada yang harus kukerjakan hari ini,"

Dia mengucapkannya sambil memalingkan wajahnya dari tatapan menyeramkan Naruko. Sejujurnya dia tidak punya keberanian untuk mengatakan itu namun dengan sedikit tekad, dia berhasil.

"Lalu jika hari ini libur…, Apa itu bisa jadi alasan kenapa kau bisa tidur bersantai santai?"

"Menurutku bisa,"

"Tentu saja tidak!"

Dan dengan sebuah jawaban yang terdengar menggertak, nyali Naruto semakin jatuh.

"Ehem.. Naruko.. nampaknya aku harus memberimu pengertian bagaimana cara hidup dari orang orang sepertiku,"

Kata Naruto membalikkan tubuhnya ke arah Naruko dan memegang bahu kanan Naruko dengan tangannya sedangkan Naruko yang diperlakukan seperti itu langsung memasang ekspresi jijik.

"Dasar orang orang aneh, mesum, menjijikkan… Singkirkan tangan kotormu dari bahuku…"

Auranya benar benar membunuh mental Naruto sekarang. Perlahan Naruto melepas tangannya dari bahu Naruko dengan perasaan terancam.

"A-Aku mengerti…, j-jadi tolong kau lepaskan aura menyeramkanmu itu, Naruko-chan!"

Kata Naruto memaksa senyumnya sambil menunjukkan sebuah 'peace' dengan jari tangan kanannya.

"Naruko-chan kau bilang…?"

"Maaf, biar kuralat… Naruko-sama…"

"Begitu baru benar…"

"L-Lalu apa yang harus kulakukan, Naruko-sama?"

Pertanyaan itu langsung membuat Naruko terpikirkan. Hari ini sebenarnya Naruko sudah menyusun sebuah rencana agar dia bisa pergi berdua dengan kakaknya…, Naruto. Akan tetapi pertama tama mereka berdua harus membersihkan diri dan sarapan dulu. Apalagi melihat bentuk Naruto setelah dirinya bangun dari tidurnya…, sungguh benar benar tidak pantas untuk dikenalkan sebagai kakaknya.

Naruko menghela nafas pasrah sambil memegang kepalanya dengan tangan kanan. Tak lama kemudian, dia memberi Naruto sebuah tatapan datar.

"Cepat mandi…, aku akan segera menyiapkan sarapan untuk kita berdua!"

"Baik, Naruko-sama!"

Dengan segera, Naruto bangkit dari sofa dan berlari mengambil handuknya lalu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Naruko yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas kemudian berjalan menuju bagian dapur dimana dia sudah menemukan kulkas yang isinya cukup banyak dengan bahan bahan makanan.

Ya…, dia sendiri juga tidak menyangka kalau Naruto ternyata masih ingat untuk mengisi bahan bahan makanan di kulkas nya sendiri. Dia mengambil beberapa bahan makanan lalu segera membuat sarapan untuk dirinya dan Naruto.

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Setelah selesai membersihkan diri dan sarapan, Naruto terdiam berdiri di depan cermin melihat dirinya sendiri dari cermin sedangkan Naruko di sisi lain kamarnya sedang memilihkan pakaian yang cocok untuk dirinya. Dan pada akhirnya terpilihkan kaus hitam bertuliskan 'Three Second' dengan bawahan jeans hitam bersepatu. Sedangkan Naruko telah siap dengan dress hitam selutut nya dan sebuah sepatu high heels.

"Aku ingin bawa jaketku…,"

"Hmm… Terserah, tapi yang jelas kau harus temani aku jalan jalan hari ini."

Ya… Beginilah nasibnya harus terjebak dalam aturan yang dibuat seluruh wanita yang mengatakan bahwa 'wanita tidak pernah salah' sedangkan aturan 'laki laki hanya harus menurut' berlaku padanya sekarang. Mendengar kata kata Naruko, Naruto langsung terpikirkan satu hal yang menurutnya aneh.

"Aku heran kenapa kau malah memintaku dan bukan meminta Menma untuk menemanimu…, apakah ada alasan tertentu?"

Naruko langsung kelabakan mendengar pertanyaan Naruto.

"T-Tidak ada… A-Apa maksudnya itu?"

"Tidak…, aku hanya ingin tahu saja. Apa kau sedang ada masalah dengan Menma? Apa itukah yang membuatmu datang kemari mencariku?"

"Hentikan itu… Aku tidak sedang ada masalah dengan Menma.."

Lalu dengan wajah malu malu dan kepala yang tertunduk, Naruko menambahkan dengan suara lebih pelan…

"L-Lagipula aku kesini memang hanya ingin bertemu denganmu.."

Naruto mengernyitkan alisnya lalu menoleh ke arah Naruko.

"H-Hah? Apa? Aku tidak dengar, bicaralah lebih keras.."

"T-Tidak! A-Aku tidak mengatakan apa apa! Lebih baik kita segera berangkat!"

Naruko pergi keluar dari kamar Naruto sedangkan Naruto hanya mengamati gadis itu yang berjalan pergi meninggalkannya dengan ekspresi datar. "Hmm…, dia meninggalkanku,"

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Dengan menggunakan shinkansen, Naruto dan Naruko akhirnya berangkat menuju mall. Tentu saja mereka tidak berhenti tepat di depan mall namun di stasiun yang terdekat jaraknya dengan mall kemudian baru berjalan menuju kesana. Sepanjang perjalanan mereka…, sebenarnya Naruto tidak nyaman bukan dikarenakan dia tidak mau pergi ke mall tapi dia banyak sekali mendapatkan tatapan sinis dari orang orang di sekitarnya.

Dan itu mengganggu pikirannya apalagi untuk seorang penyendiri anti sosial seperti dirinya. Penyebab nya hanya satu kenapa Naruto bisa berada dalam posisi seperti itu yaitu posisi nya sekarang yang nampaknya mampu membuat iri seluruh pria yang mereka lewati ketika berjalan menuju mall. Naruko saat ini tengah menggandeng mesra tangan Naruto seperti layaknya sepasang kekasih meski mereka berdua ini adalah saudara.

Dengan senyum yang terukir jelas di wajahnya, Naruko bahkan tak mempedulikan sekitarnya. Sedangkan Naruto yang mulai terbiasa dengan pandangan pandangan orang orang terhadap mereka kini justru merasa aneh saat tangannya bersentuhan dengan tubuh adiknya… terutama tubuh bagian atas.

'Ughhh…, sejak kapan dia bertumbuh besar..?' batin Naruto memalingkan tatapannya dari Naruko.

Lalu dengan sedikit keberanian setelah menelan ludahnya sendiri, Naruto berkata,

"N-Naruko…, B-Bisakah kau lepaskan gandengan tanganmu ini? A-Aku sedikit tidak nyaman dengan tatapan orang di sekitar yang menatap kita dengan hmm.. katakanlah kesal?"

"Hmm..?" Naruko segera melihat ke sekitar mereka dan memang benar begitulah pandangan orang orang terhadap mereka. Namun seolah tidak mengabaikannya, Naruko menjawab lagi. "Biarkan saja! Untuk apa mempersalahkan hal itu?"

"K-Kau mungkin tidak masalah, t-tapi aku masalah…"

"Hah? Kau harusnya berterima kasih karena sudah bisa pergi jalan dengan adikmu yang manis ini tapi kau justru malah mempermasalahkan hal sepele. Sudah kau diam saja!"

"H-Hae…"

Pada akhirnya Naruto hanya bisa menuruti apa kata adiknya dan mengikuti segala kemauannya meskipun hal itu berlawanan dengan semua kehendak yang diinginkan Naruto. Seperti yang sudah tertera sebelumnya bahwa dalam dirinya kini berlaku sebuah aturan 'laki laki hanya harus menurut'.

Dirinya mulai dilanda kebosanan begitu mereka naik ke lantai dua mall menggunakan escalator, terbukti dengan sebuah helaan nafas malas yang ia tunjukkan sedangkan Naruko yang tidak mempedulikannya kini tengah antusias dengan berbagai barang yang ia temui disana. Sungguh ingin rasanya Naruto pulang meninggalkan Naruko namun dia juga tidak tega entah kenapa.

Selain itu dia juga masih berkeinginan untuk hidup tenang dan belum ingin mati dihabisi oleh adiknya yang satu ini. Oleh karena itu, sekarang dia hanya bisa menjadi kakak yang penurut.

Saat ini sudah lewat satu jam sejak mereka berkeliling di mall dan membeli cukup banyak barang terutama sepatu, pakaian, topi, jam tangan dll. Semua barang itu tentu saja milik Naruko seorang… lalu bagaimana dengan Naruto? Tugasnya sangat menyedihkan… laki laki itu sekarang tengah diperbudak adiknya sendiri untuk membawakan setiap barang barang yang baru saja dia beli.

"Sekarang kita akan kesana!"

"Hae!"

"Tidak.. tunggu, lebih baik kesana saja!"

"Hae!"

"Hmm, kurasa disana lebih baik.."

"Hae!"

"Ah tidak tidak.. Sudah kuduga kesana memang lebih baik!"

Mendengar ocehan ocehan itu, Naruto hanya memasang ekspresi kosong lalu menghela nafas pasrah.

"Naruko, sebenarnya mau sampai kapan kau berbelanja? Aku sudah lelah membawa semua barang barangmu!"

"Tunggu dulu, aku sedang mencarikan hadiah yang cocok untuk seseorang,"

Jawab Naruko tanpa melihat ke arah Naruto dan sibuk menelusuri bagian mana yang akan dia datangi. Naruto hanya mengangkat satu alisnya mendengarkan kata 'hadiah'. Lalu dengan sedikit rasa penasaran, Naruto bertanya.

"Hadiah untuk siapa? Pacarmu? Kalau kau punya pacar kenapa tidak kau ajak saja pacarmu dan kenapa malah aku yang harus menemanimu?"

"Aku tidak punya pacar…"

Dugaannya salah karena ternyata Naruko tidak memliki seorang pacar atau kekasih. Naruto kembali menatap Naruko yang sibuk melihat lihat lalu menambahkan lagi pertanyaan.

"Lalu siapa..?"

"Eh..? Kau tidak tahu?"

Tanya Naruko segera menatap Naruto saat tersadar akan sesuatu. Balasan Naruko bukanlah sebuah jawaban yang diinginkan Naruto melainkan sebuah pertanyaan balik yang membuatnya justru semakin bingung.

"Hmm… Tahu apa?"

"Apa Tou-san tidak memberitahumu…?"

"M-Memberitahu apa…?"

Naruko terkejut mendengar jawaban Naruto yang ternyata tidak mengetahui apapun. Dengan ekspresi sedikit panik, Naruko mengalihkan wajahnya dan berpikir untuk mengalihkan perhatian. Namun sayangnya Naruto yang menyadari itu langsung menatap tajam ke arah Naruko.

"A-Ah…, itu untuk Menma,"

"Tidak. Kau bohong… katakan padaku untuk siapa? Dan apa hubungannya dengan Tou-san memberitahukannya padaku atau tidak? Apa ada hubungan nya antara aku dengan orang yang akan kau hadiahi ini?"

"E-Eh… Kelihatannya kita harus kesana, oniichan!"

"Jangan mengalihkan perhatian dan jangan panggil aku dengan 'Oniichan'. Atau dengan kata lain…, tidak usah mengalihkan perhatianku dengan sikapmu yang kau rubah seketika itu!"

Dengan itu, Naruko kehabisan kata kata. Lalu sesaat ketika Naruko hampir mengatakan siapa orang yang akan dia hadiahi, seseorang memotong pembicaraan.

"Hmm, Bukankah itu Murakami?"

"Eh, benar… Dia bersama dengan seorang gadis cantik,"

Naruto yang mendengar suara itu langsung menoleh ke sampingnya menemukan ada lima orang yang tengah berdiri keheranan melihat dirinya bersama dengan Naruko dalam mall dengan banyaknya belanjaan.

"Siegfried…, Luvia…,"

Naruto memanggil nama mereka berdua sedangkan ketiga orang lainnya yang bersama Siegfried dan Luvia sama sekali tidak ia ketahui namanya.

"Wah, apa ini… kau ternyata sedang menjadi pesuruh dari gadis ini ya? Hahaha.. seperti yang diharapkan dari Murakami-kun," kata Luvia dengan nada yang terdengar sarkastik.

"Hah..?"

Naruko yang mendengar itu langsung menatap Luvia sambil mengerutkan keningnya. Lalu dia berpaling ke Naruto yang hanya tertunduk diam seolah tak peduli dengan kata kata yang barusan diucapkan Luvia. Naruko bingung dengan kondisi kakaknya yang terima saja saat dirinya dihina seperti itu. Kenapa bisa kakaknya menjadi laki laki seperti ini?

"H-Hah.. B-Begitulah, aku sedang membantunya membawakan barang barangnya," jawab Naruto gugup karena kemampuannya dalam sosialisasi dengan orang lain seperti Luvia yang nampaknya kurang baik.

"Tapi yang kulihat kau bukan membantu tapi lebih terkesan seperti pesuruh. Apa apaan itu? Aku benar benar kasihan padamu,"

Luvia kembali menambahkan perkataannya sedangkan disampingnya Siegfried hanya terdiam bingung bagaimana harus menghadapi Luvia. Dia juga merasa tidak enak dengan Naruto karena perkataan Luvia barusan.

"L-Luvia, sudahlah lebih baik kita pergi saja. Jangan ganggu mereka,"

"Hmm, ya sepertinya begitu. Ayo kita pergi teman teman!"

"Tunggu kau jalang menyedihkan!"

Naruko yang sudah terbakar api emosi segera memanggil Luvia dengan kata kata yang tidak sepantasnya diucapkan. Tentu saja, Luvia mendengar kata kata Naruko dan berbalik perlahan menatap Naruko. "Siapa yang kau panggil jalang menyedihkan?"

Tanya Luvia mengerutkan keningnya menatap tajam Naruko. Dan hebatnya Naruko sama sekali tidak terintimidasi oleh hawa seorang ratu yang dimiliki Luvia, dia justru mengeluarkan hawa dingin yang lebih mengerikan dari aura Luvia.

"L-Luvia!

"Berhenti menghina niichan, kau jalang berambut tornado.."

"B-Berambut tornado..? J-Jadi kau ini adik dari Murakami?"

Naruko barusan menyindir gaya rambut Luvia yang berbentuk seperti melingkar lingkar ke bawah. Tentu saja Luvia tidak dia tinggal diam ketika dirinya dihina oleh gadis lain yang bahkan tidak lebih tua darinya.

"Hentikan, Naruko… Lebih baik kita pergi dari sini segera,"

"Tidak, niichan… Si jalang itu dulu yang harus minta maaf kepadamu.."

"Kau gadis menyebalkan…!"

"L-Luvia!"

Luvia berjalan cepat ke arah Naruko. Nampaknya Luvia sendiri juga sudah terbakar api amarah dan bersiap memukul Naruko dengan menggunakan tas mahalnya namun dengan cepat Naruto bersiaga di depan Naruko dan menghalangi tubuh Naruko.

"Minggir kau, biar kuberi pelajaran adikmu itu!"

Meski menggunakan nada yang terdengar marah, perkataan serta ancaman Luvia nampaknya tidak berpengaruh pada Naruto saat ini karena bisa dilihat…, Naruto kini hanya menatap tajam kepada Luvia seolah olah dia tidak pernah takut dengan ancaman gadis itu.

"Kalau kau berani menyentuh adikku sedikit saja… Kupastikan kau akan menyesali perbuatanmu,"

Kata Naruto dengan nada yang dingin dan begitu tajam. Siegfried, Luvia dan ketiga teman mereka yang melihat itu langsung terkejut karenanya. Seolah mereka tak mengenal siapa orang yang berdiri di hadapan mereka sekarang. Karena Naruto yang mereka tahu adalah murid anti sosial yang tak dikenal di sekolah bahkan tak memiliki pergaulan dengan murid lain.

"S-Siapa kau berani lancang padaku?" tanya Luvia mengerutkan keningnya menatap kesal kepada Naruto yang berani menghentikan tangannya untuk memukul Naruko setelah dirinya gagal juga memukul Naruko dengan menggunakan tas.

"Aku bukan siapa siapa…, aku hanya tidak mau kalian menyakiti adikku. Kalau kau masih mau menyakitinya, kau akan berurusan denganku,"

Naruko yang melihat sang kakak berdiri membelanya dan bahkan keluar dari karakter aslinya demi melindungi dirinya langsung terdiam dengan wajah memerah. Matanya berkaca kaca melihat punggung lebar kakaknya yang melindungi dirinya. Lalu dia teringat akan masa kecil mereka yang tak jauh berbeda dengan saat ini. Di masa saat Naruto sering sekali melindungi Naruko dari teman temannya yang jahat kepada dirinya.

'Oniichan..'

Lalu tak lama kemudian, seorang yang tak diduga duga muncul ketika Naruto dan Luvia sedang terlibat dalam pertikaian…

"Ara… Apa yang kau lakukan disini, Murakami-kun?"

Naruto, Luvia, Naruko, Siegfried dan teman teman mereka lantas menoleh ke pemilik suara tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah… Tohsaka. Gadis itu mengenakan baju merah dengan rok hitam serta stocking hitam yang nampak sangat cocok dengannya. Rambutnya ia ikat twintail menambah kesan indah terhadap dirinya.

"Humm.. Sepertinya aku tahu apa yang terjadi.."

Kata Tohsaka setelah dirinya melihat sekitar dan menganalisa keadaannya.

.

.

.

.

.

xxx0xxx

NARUTO POV

Hai Namaku Namikaze Naruto atau murid murid di Sobu Gakuen lebih mengenalku dengan nama Murakami. Tak perlu dijelaskan kenapa alasannya karena sebelumnya aku sudah pernah menjelaskan hal itu. Saat ini diriku terjebak dengan Tohsaka dan Naruko setelah tadi aku terpaksa harus keluar dari karakter asliku menjadi karakter dengan sifat yang tak kuinginkan.

Dengan berani bahkan aku membuat seorang ratu di kelasku terdiam ketika dia hendak melukai adikku. Aku memang bukan seorang siscon akan tetapi siapa yang akan diam jika adik perempuannya akan disakiti oleh orang lain yang bahkan tak dekat denganmu? Beruntungnya Tohsaka muncul dan menyelesaikan masalah itu dengan baik.

Kali ini aku berterima kasih padanya…, jika bukan karenanya…, urusan tadi pasti akan semakin panjang. Aku sendiri heran bagaimana dia bisa muncul di mall tadi. Entah itu di minimarket atau di mall, kenapa aku selalu bertemu dengan gadis itu?

Dan sebelumnya maaf, sebenarnya setelah urusan tadi selesai kuharap Tohsaka juga akan pergi meninggalkan aku dan Naruko. Tapi…, ternyata dia malah turut memerintahku untuk membawakan barang barangnya hingga ia sampai di depan stasiun!

"Wah aku tidak menyangka kalau oniichan akan bergabung dengan Aktivitas Klub semacam itu…"

"Ya… Aku juga tidak menyangka laki laki menyedihkan, menjijikan, penyendiri sepertinya akan masuk ke klub ku,"

Hoi, itu namanya penghinaan. Hmm, Naruko pasti akan membelaku dan memarahinya kali ini.

"Ya, begitulah oniichan! Dia memang menyedihkan…"

Naruko! Kenapa kau malah menyetujui ketika Tohsaka menghinaku? Bagaimana dengan adegan saat kau membelaku di depan Luvia!? Kenapa sekarang kau malah bergabung dengan Tohsaka untuk menghinaku!? Apa ini? Apa Naruko sudah dihipnotis?

"Awalnya aku pesimis dengan Murakami-kun tapi kuharap dia akan bisa berubah menjadi lebih baik,"

Kata Tohsaka setelah dirinya menghela nafas pasrah.

Kau benar benar keterlaluan. Kau tak hanya menghinaku tapi juga mengambil adikku sendiri dariku, Tohsaka. Aku memasang ekspresi malas ketika mendengar pembicaraan mereka yang terus terusan membahas segala hal yang berbau penghinaan terhadapku. Terutama… Naruko, apakah tidak ada hal baik dariku yang bisa kau bahas disini..?

"Aku tahu kau pasti berjuang keras karena harus memiliki kakak seperti Murakami-kun kan?"

"Kau tau penderitaanku, Tohsaka-san.."

"Kau harus bersabar menghadapi ujian kehidupan ini,"

"Hmm.. aku tahu itu, Tohsaka-san.."

Kenapa kau mengkasihani adikku, Tohsaka? Dan kenapa kau malah terlihat tersiksa, Naruko? Oh andaikan aku bisa mengatakan segala hal secara bebas…, aku pasti sudah mengatakan segala hal yang kupikirkan ini. Apa daya…, mereka berdua bekerja sama mengancamku untuk tidak bicara selama mereka tengah mengobrol. Cih… wanita memang makhluk yang menakutkan!

"Bolehkan aku bicara sekarang?"

"Tidak!"

"Kau tidak dipersilahkan untuk bicara, niichan.."

"Hmm.. Baiklah.." jawabku dengan ekspresi datar.

Kuharap penderitaan yang kurasakan ini bisa secepatnya berakhir ketika kami sampai di stasiun terdekat. Setelah itu, tak banyak pembicaraan Tohsaka dan Naruko yang membahas seputar diriku. Mereka hanya membahas mengenai fashion, buku, hal hal tentang memasak dan sebagainya. Aku tak tahu apakah para gadis sering mengobrolkan hal itu atau tidak tapi setahuku bukankah para gadis sering membicarakan pria yang mereka sukai?

Hmm, apa mereka berdua ini bukanlah gadis normal? Mungkin juga mereka berdua sudah keluar dari batas normal..?

Lalu akhirnya kami sampai di stasiun dan aku memberikan barang barang Tohsaka yang sebenarnya tak begitu banyak untuk dibawa olehnya.

"Kalau begitu kita berpisah disini.."

"Hmm, hati hati.."

"Sampai jumpa, Tohsaka-san!"

"Kalian juga sampai jumpa, Murakami-kun…, Naruko-chan!"

Hmm? Naruko-chan? Setelah mengucapkan itu, Tohsaka segera berjalan masuk ke stasiun meninggalkan kami sedangkan kami berdiri disana hingga dirinya sudah tak terlihat lagi dari pandangan kami. Lalu saat kurasa waktu yang tepat bagiku untuk bicara telah tiba, aku bertanya…

"Sejak kapan Tohsaka memanggilmu Naruko-chan?"

"Hmm, sejak tadi!" jawabnya gembira.

"Hah~… Dengan ini Tohsaka sudah mengambil adikku ke pihaknya,"

"Hmm, Apa?"

"Tidak… Bukan apa apa.." jawabku malas.

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Semuanya berakhir dengan aku dan Naruko yang harus naik taksi ke rumah. Bukan apartemenku melainkan rumah yang kutinggali dulu…, aku terpaksa mengantarnya karena jaraknya tidak jauh dari sini. Rumah yang sudah kutinggalkan selama kurang lebih setahun. Hmm, aku tak pernah menyesal meninggalkan rumah itu lagipula. Aku juga tidak rindu dengan hawa yang kurasakan disana.

Ya kurasa tak butuh waktu lama untuk kami sampai disana jika menggunakan taksi. Aku dan Naruko turun sambil membawa barang barang belanja milik Naruko yang cukup banyak untuk kubawa sendiri. Kami sampai di depan gerbang besar itu dan nampaknya penjaga rumah yang bertugas membuka gerbang tak hanya menyadari kehadiran Naruko namun juga diriku.

"Oniichan bantu aku untuk membawakannya ke kamarku!"

"Hmm, aku mengerti…"

Entah kenapa, Naruko tidak menatapku saat berbicara denganku dan itu sedikit mencurigakan. Dan lagi sikapnya semakin aneh begitu melihat mobil milik Tou-san ada di rumah. Dia melirikku sekilas dengan panik lalu kembali melihat ke pintu masuk. Jujur saja aku juga terkejut pada awalnya saat melihat bahwa mobil milik Tou-san ada di rumah.

"Hmm, apa sebaiknya aku pulang saja ke apartemen?"

"Tidak! Jangan! T-Tolong antarkan barang barang ini sampai ke kamarku, Oniichan!"

Lalu hal itu mengingatkanku tentang malam itu…, disaat aku melihat Tou-san dan Jeanne-senpai yang berada dalam satu mobil.

"Kurasa aku akan mampir sebentar… Ada yang ingin kutanyakan kepada Otou-san.."

Naruko kemudian membuka pintu masuk yang besar itu. "T-Tadaima…"

Setelah itu aku mengikuti Naruko masuk ke dalam rumah yang sudah lama kutinggalkan itu. Namun anehnya Naruko berjalan ke arah ruang keluarga dan bukan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Apakah dia sudah pindah kamar sejak aku pergi dulu? Ataukah ada sesuatu?

"Oniichan kemarilah…"

Aku menuruti Naruko yang membawaku ke ruang keluarga dan begitu aku sampai disana, aku sedikit terkejut menemukan Menma yang sedang duduk dengan sikap dingin. Dia melirikku sekilas. Lirikkan itu nampak tak bersahabat jika kuperhatikan. Ya bisa kutebak dia masih membenciku hingga sekarang. Aku menelusuri ke bagian lain ruang keluarga dan betapa terkejutnya diriku…

"Halo, Naruto-kun.."

Kenapa dia bisa ada disini sekarang? Sejak kapan? Dan apa tujuannya kemari?

"J-Jeanne-senpai?"

"Jangan panggil dia senpai, Naruto… Karena mulai saat ini…"

Dan tiba tiba saja… Otou-san… muncul dari arah belakangku dan berjalan melewatiku lalu duduk di sofa tepat di sebelah Menma. Dia menatapku dengan tatapan yang terasa tenang dan santai… nampak begitu bersahabat dan terasa hangat.

"Kau bisa memanggilnya 'neechan' mulai sekarang…"

"H-Huh..?"

Aku terdiam membisu selama beberapa detik sebelum Jeanne-senpai melanjutkan…

"Namikaze Jeanne…, aku adalah kakakmu Naruto.."

TBC

.

.

.

Author Note:

Ehem… Shiba disini.. tes tes. Yak! Sesuai kesepakatan bahwa saya akan update sekarang. Harusnya sih kemarin tapi kemarin saya harus mengupdate fic saya yang satunya yaitu WFTH. Dan disini saya memperkenalkan Jeanne sebagai kakak dari Naruto, Naruko dan Menma… kakak apa? Kalau kalian penasaran apa sih hubungan mereka sebenernya.. ya silahkan diikuti untuk next chapter

Chapter ini belum ada unsur basketnya karena saya berniat memunculkannya di chapter depan. Dan sekarang kelihatannya gak ada yang mau saya umumkan. Sementara juga saya belum tau kapan bisa update Symbol of Revenge karena saya masih jenuh. Kelihatannya gak ada yang harus saya bahas lagi jadi sampai jumpa di chapter depan.