Huhahahahahaa! *gaya nya kaya Superman*

Saya kembali dengan fic aneh dan abal ini! Huhahahaahahah *ketawa gila*

Ok, langsung saja review singkat.

HaruChan890 – Hahahaa. Terima kasih banyak! :D Jadi semangat nih buatnya! Saya akan berusaha membuat yang terbaik! Saya akan berjuang! Hehehe, terus tunggu dan baca kelanjutan ceritanya, ya! XD

Pemimpin Fujoshi – Hiatus Cuma sementara saja, kok *sementara gimana! Lama tau! Ckckck* Hahahaha, tenang saja, Saya pasti kembali *senyum-senyum sendiri*

Anon – Hehehehe *ketawa-ketawa*

Ikutan goyang! *Ngikutin gaya*

Hehehe, akan saya coba untuk buat Arthur lebih tersiksa lagi! Saya akan mencari ide! Saya akan mencari ide yang bisa menyiksanya! *didepak*

Hehehehe, Arigatooo! Pasti! *ikut lambai-lambai in lap putih*

Lummierra – Kurang kesiksa? Huwa, harus puter otak lagi, nih! Hhehe, Yah. Aku buatnya Ireland dan Wales itu jadi adik Arthur. Soalnya kalo Arthur nggak ada adiknya, nggak seru *Alfred : Aku dikemanain!*

Oh, Typo! Saya akan belajar lagi dan mengecek lagi! OK! Saya siap membuat Arthur tersiksa dan tersiksa! *HOME RUN!* *dilempar Arthur pake pemukul Baseball*

OK, jadi, kita mulai saja, ya. :D

Chapter 3

Sekitar seminggu setelah peristiwa mimpi buruk dan penembakan masal oleh Ivan. Pemuda beralis tebal, pemilik iris mata hijau rerumputan segar, detik ini, pemuda itu berada di ruang makan bersama dengan Yao, Ivan, Alfred, Francis, Kiku, Ludwig, dan Feliciano. Di situ juga ada Scott, Wales, dan Irland, dan Antonio.

Keadaan di situ benar-benar ramai dan berantakan. Ludwig dan Feliciano meributkan tentang pasta, Francis, Yao, dan Ivan berusaha untuk membakar Hamburger-makanan berlemak sehari-hari milik Alfred, yang tentu saja harus berhadapan dengan empunya. Kiku dan Antonio, nampak sedang saling memahami satu sama lain, karena baru saja berkenalan, dengan keadaan dan suasana yang canggung, Kiku yang agak pemalu tapi gila manga, dan Antonio yang meledak-ledak dan sangat suka tomat. Irland dan Wales hanya diam sambil geleng-geleng kepala melihat pertempuran 'mempertahankan hamburger' yang masih ramai dengan pengejaran ke seluruh ruangan yang cukup besar itu.

Arthur memandang langit di luar jendela, betapa indah awan itu, cahaya itu, langit yang biru itu, persis seperti milik Alfred, biru langit yang cerah dan indah.

"Gyaaa! Tidak! Hamburger-kuuuu!" Alfred terpaksa merelakan dan terus menghindar karena seperempat hamburger kesayangannya dilahap oleh api perapian. Francis yang berhasil mengambil sebungkus besar hamburger Alfred segera membakarnya di perapian. Di ruangan itu tercium bau gosong dan hangus.

"Hahahaha! Yao! Kita berhasil!" Francis dan Yao nampak puas, usahanya sedari tadi tak sia-sia.

"Yosh! Ayo kita bakar sisanya, kejar Alfred!" Yao dan Francis kembali mengejar Alfred yang mendekap kuat sisa hamburger yang masih bisa di selamatkan olehnya.

"Khukhukhu.." kekeh Ivan sadis, "Kita gunakan ini!" Ivan mengangkat basoka yang entah dari mana didapatnya. Basoka ditembakkan, namun betapa naasnya, Yao dan Francis yang jadi korbannya. Alfred yang lolos tertawa dengan senangnya, tapi Ivan tertawa dengan sadisnya sambil terus membidik dan menembakkan peluru basokanya menuju targetnya, Alfred.

Arthur masih asyik pada acara melamunkan sesuatu, Scott menepuk punggungnya. Arthur mengalihkan pandangannya kepada Scott.

"Aku ingin bicara padamu, Arthur." Arthur hanya tersenyum, lalu menggeleng dengan perlahan, membuat Kakaknya ini bingung.

"Jangan sekarang Scott. Aku mengerti maksudmu, tapi tidak sekarang." Arthur berpaling muka dari Scott, lalu berlari mengikuti Teman-temannya yang sedang perang hamburger. Scott mendengus kesal, membiarkan adiknya menikmati waktu bersama teman-temannya sejenak.

Scott benar-benar tahu, walau dia kakak yang keras dan masa bodoh dengan adiknya, tapi dia tahu. Air muka yang Arthur punya dan keadaan fisiknya yang dengan mudah bisa ditutupi agar orang lain tak tahu, tapi bagi Scott, butuh bertahun-tahun lamanya agar Arthur bisa mengelabuhi kakaknya sendiri.

...

..

.

Kegiatan kejar-mengejar dan berkumpul sudah selesai. Ivan berjalan ke kamarnya sambil menyeret 1 jaring besar berisi senjata-senjata mutahir yang ia gunakan untuk 'membasmi' hamburger milik Alfred tadi. Francis menenteng handuk dan hendak ke kamar mandi. Kiku dan Antonio yang mulai akrab berniat melanjutkan bincang-bincangnya di ruang makan. Ludwig dan Feliciano ingin beristirahat saja, mereka lalu berjalan berdua sambil sedikit bersenda gurau. Irland dan Wales duduk-duduk di taman sambil tertawa-tawa, menikmati pemandangan yang masih cukup enak untuk dilihat. Yao beralih ke dapur untuk memasak camilan dan makanan kecil untuk dimakan di siang hari. Alfred? Masih menangisi hamburger-hamburger kesayangannya yang habis terbakar di depan perapian.

Arthur dan Scott berjalan ke arah taman, mencari tempat yang cukup rindang dan tenang untuk ngobrol, dan tempatnya tak jauh dari Wales dan Irland, agar bisa menjaga dan memantau dari jauh agar mereka tak berbuat hal-hal yang aneh. Setelah Mendapat tempat yang cukup nyaman, Scott dan Arthur duduk di bawah pohon. Lalu Scott mengawali pembicaraan.

"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Angin berhembus pelan, membelai rambut merah darah milik Scott dan rambut Arthur yang cerah. Sungguh, angin itu rasanya menyejukkan. Masih terdiam, Arthur hanya tersenyum, menampilkan tarikan sudut bibirnya sedikit, sambil menikmati angin.

"Bagaimana yang bagaimana? Tentu saja aku baik-baik saja? Tentu saja aku baik-baik saja Scott!" Scott mulai geram karena Arthur terus mengelak, padahal di depan kakaknya sendiri.

"Sudah kubilang, beratus-ratus tahun pun PERCUMA untukmu yang berusaha menutupi nya dariku, Bloody git!" Ujar Scott sambil menekankan kata 'percuma' dan menggunakan kata-kata khas milik Arthur jika marah atau mengumpat.

"Ahahaha, Kau itu terlalu berlebihan, bodoh." Arthur berdiri, lalu meraba kulit kayu pada pohon belakangnya.

"Aku benar-benar baik baik sa—"

BRAK!

Scott mendorong keras tubuh Arthur hingga punggung pemuda alis tebal itu menabrak pohon dibelakangnya.

"Jangan bercanda. Aku benar-benar SE-RI-US." Ucapnya penuh penekanan.

"Sakitmu ini adalah sa—"

"Sudahlah, Scott! Cukup! Jangan pedulikan aku! Jangan ungkit-ungkit hal-hal yang tidak terjadi! Aku tak peduli, Aku baik-baik saja!" Arthur membentak kakaknya hingga Arthur akhirnya menyadari kesalahannya, "Go-gomen.. Scott... A-aku hanya.. Aku mohon.. Aku yang mengerti tubuhku..Aku merasa sehat, Scott... Aku mohon, jangan berpikiran yang tidak-tidak tentangku..." Arthur menunduk. Jujur dia merasa sangat bersalah pada kakaknya. Sudah membohongi, menyangkal, bahkan menentang dan membentak kakaknya. Yah, dia tahu sejak kecil Arthur selalu membentak dan menyangkal kakaknya. Tapi sekarang rasanya berbeda.

Scott terdiam sejenak. Setelah menutup matanya perlahan, Scott membuka mulutnya, mengucapkan satu kalimat satu kali tarikan napas yang membuat Arthur membelalakkan matanya, kaget.

"Aku tahu sakit yang kau derita, aku tahu apa obat yang kau konsumsi." Arthur masih terdiam di tempat. Scott lalu melanjutkan perkataanya.

"Lebih baik kau ikut denganku kembali ke Scotlandia bersama Irland dan Wales. Supaya aku bisa mengawasi pengobatanmu di sana." Arthur menggertakan giginya, Dia berpikir keras dalam keterdiamannya.

"Tidak." Scott menatap tajam Arthur, tidak setuju dengan jawaban yang adiknya berikan.

"Aku tidak mau pergi, aku mau di sini. Aku ingin bersama dengan teman-teman di sini. Aku merasa bahagia bersama dengan mereka."

"Apakah ini mengenai Alfred F. Jones? Alasan yang membuatmu tak mau bersamaku, Irland dan Wales? Alasan kau meninggalkan kami. Ataukah karena kau sudah tidak peduli pada kami? Saudaramu sendiri? Karena kau sudah dapat banyak teman di sini?" Arthur menggeleng cepat, namun Arthur menggigit bibir bawahnya, bingung bagaimana menjelaskan kondisi nya sekarang.

"Aku ingin kita kembali seperti dulu.. Tapi, masih ada yang ingin kulakukan di sini, Scott. Maafkan aku.. Maafkan aku.. Maafkan Aku.." Arthur kembali menunduk.

"Hoy! Arthur! Scott! Ayo kita makan makanan ringan buatan Yao!" Artthur menoleh ke arah sumber suara, Alfred berteriak sambil berlari.

"Hue? Dimana Irland dan Wales?" Scott menolehkan kepalanya dan menunjuk dengan dagunya, memberi kontak bahwa kedua adiknya berada di taman dekat air mancur. Alfred segera berlari menghampiri kedua adik pemilik iris mata tosca itu.

"Jadi tak ada yang tahu mengenai kondisi kesehatanmu, hmm?" Arthur menanggapi pertanyaan Scott dengan menggelengkan kepalanya. Scott tertawa mengejek.

"Bahkan orang yang kau harapkan ada untukmu itu? Hah, kasihan sekali nasibmu." Arthur merasa kakaknya ini mulai mengejeknya. Nada bicara kakaknya mulai meninggi.

"Siapa yang kau maksud?" Tatap nya dengan tajam.

"Siapa lagi kalau bukan Alfred, hmm? Dia kan orang yang menarik perhatianmu. Kau kira aku tak tahu itu? Memalukan sekali." Arthur memendam semua kata-kata kakaknya. Biar saja rasa sebal dan sakit hati dibawa dalam hatinya saja, tak perlu diumbar. Dia masih bisa menampungnya. Dia tak perlu memaki ataupun menyangkal dengan kasarnya.

"Tidak. Aku tidak tertarik pada siapapun." Tapi tetap saja. Arthur tak bisa tak menyangkal apa yang dikatakan oleh kakaknya. Karena, pada dasarnya, hal itu benar. Arthur tertarik pada Alfred.

"Uh-oh.. Baiklah-baiklah, Adikku yang masih payah dalam hal cinta ini.. Kuturuti keinginanmu kali ini.. Kuikuti alur permainan kehidupanmu ini. Tapi, jika sesuatu terjadi padamu dan itu buruk, tak segan-segan kuseret kau sampai ke Scotlandia. Tak peduli kau mau menangis ataupun merengek seperti wanita. Menangis-nangis, aku tak peduli." Scott lalu meninggalkan Arthur menuju ke dalam rumah. Irland dan Wales mengikuti kakaknya masuk ke dalam. Alfred menghampiri Arthur.

"Ayo kita ke dalam!" Arthur berjalan tanpa melihat iris mata biru langit itu.

Arthur menuju ruang makan. Semuanya sudah berada di situ, makan bersama sambil bercanda tawa.

Irland dan Wales menatap sedih Arthur. Scott bahkan tak peduli, dia tetap memakan makanannya tanpa bicara.

'Pasti Irland dan Wales sudah dibeberi oleh Scott.' Batin Arthur sedih. Tatapan Irland dan Wales menyakitkan perasaan Arthur, tatapan kecewa itu menjatuhkan perasaan yang sudah Arthur pupuk baik-baik saat akan memasuki ruangan ini.

"Aku—kekamarku saja." Arthur berjalan meninggalkan ruang makan.

"Kau kenapa?" tanya Francis sambil memegang tangan Arthur. Arthur menggeleng, lalu melepas genggaman Francis dengan lembut.

"A—aku tidak lapar.." lalu Arthur berjalan menjauh dari ruangan ramai itu.

Arthur sudah sampai di kamarnya. Dilepaskannya seragam hijau hingga menyisakan kemeja putih dengan celana hijau militernya.

Arthur berjalan dengan perlahan ke dekat jendela. Daun jendela dibukanya, angin menyeruak masuk memenuhi kamarnya yang cukup besar itu. Angin yang dia rasakan begitu sejuk, membelai helaian rambut blonde milik Arthur. Dipejamkannya kelopak mata itu sejenak, menikmati terpaan angin yang membuai nya. Setelah itu, dia membuka kelopak matanya, memancarkan warna hijau segar dari irisnya, lalu dia duduk di bingkai jendela. Dia melihat ke bawah, ketinggian 2 lantai yang cukup membuat bulu kuduk berdiri.

Matanya terpejam kembali, namun berusaha untuk tidak terbawa suasana. Jika itu terjadi, Arthur yang tertidur di bingkai jendela ketinggian lantai 2, jika dia jatuh, itu cukup untuk membuatnya mematahkan tulang kaki ataupun tubuh yang berbenturan dengan kerasnya tanah.

Mata yang terpejam, tubuh yang rileks, bersandar pada bingkai pintu, perasaannya yang tenang, jantungnya masih berdetak dengan teratur, angin yang serasa menepuk-nepuknya perlahan agar terlelap dalam dunia mimpi. Jika dilihat, maka Arthur sekarang sudah tertidur. Inilah keadaan yang tidak baik untuknya, keadaan yang benar-benar membahayakan dirinya. Jika dia beruntung, dia akan terhuyung ke kanan, dan dia akan terjatuh ke lantai kamarnya dan masih bisa mengerang kesakitan, sebaliknya, jika kesialan sedang berpihak padanya, maka yang terjadi padanya, dia akan terhuyung ke kiri, kehilangan keseimbangan, terjatuh di tanah pada ketinggian lantai 2 yang tingginya sekitar 8 meter. Dia tak akan mengerang sakit atau berteriak 'aduh', tapi dia akan mengecap apa itu 'nyawa diambang hidup dan mati'.

...

..

.

"Baiklah, kami pulang dulu. Terima kasih atas makanannya." Irland membungkukkan tubuhnya, dengan cepat-cepat Wales mengikutinya.

"Sudah mau pulang? Bagaimana kalau kupanggilkan Arthur dahulu?" Francis menepuk punggung Irland.

Francis, Yao, Ivan, Alfred, berjalan keluar rumah, mengantar Scott, Irland dan Wales sampai ke depan.

"Tidak perlu. Terima kasih." Scott menolak dengan tegas.

Alfred melihat ke arah jendela kamar Arthur, melihat Arthur yang terduduk di bingkai jendela.

"Arthur!" dan Arthur tersadar karena panggilan Alfred, namun, ini sangat buruk baginya.

Arthur kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya limbung ke kiri dan mengarah ke tanah dari ketinggian lantai 2.

Alfred yang melihatnya kaget, dan segera berlari.

BRAK!

Alfred menghentikan langkah kakinya. Betapa kaget dirinya, begitu pula yang lainnya.

"Scott! Arthur!" Wales dan Irland berlari ke arah jatuhnya Arthur.

"Kau—Ugh, baik-baik saja.. Baka-Arthur?" suara itu milik Scott. Arthur membelalakkan matanya begitu melihat apa yang terjadi padanya.

"SCOTT!" Scott yang tadi lebih cepat dan cekat menangkap tubuh Arthur. Dari ketinggian seperti itu, tak mungkin ada yang bisa mendarat dengan mulus.

Arthur mengangkat tubuhnya yang menimpa Scott kakaknya. Kaki Arthur terkilir.

"Scott, kau tak apa, kan?" Arthur membantu mendudukkan tubuh Scott perlahan.

"Ugh.. Kaki... dan tanganku..."

"Cepat bawa ke rumah sakit!" sentak Arthur.

...

.

"Scott dalam perawatan. Arthur hanya terkilir. Tulang tangan kanan Scott retak, kaki kanannya, tulangnya bergeser." Kata Yao setelah keluar dari ruang dokter. Semuanya mendesah.

Irland dan Wales serta Arthur menunggu di ruang tunggu di samping ruang tidur Scott. Yang lainnya di luar ruangan.

"Kenapa..." Arthur menoleh ke arah Irland.

"Kenapa... Kau tak mau bersama kami?" suara Irland terdengar kacau, parau. Arthur menundukkan kepalanya. Dia tahu maksud perkataan adiknya ini.

"Kenapa... Scott yang menerima semua ini..?" Irland mulai meneteskan air matanya.

"Kenapa? Padahal Scott peduli padamu! Tapi kenapa KAU selalu membantahnya?" tangisan Irland, kata-kata Irland, tatapan tajam penuh kekecewaan, Arthur tak bisa melihatnya, tak kuat mendengarnya, itu menyakitkan.

"Bu—bukan itu maksudku.. Irland... Ada yang harus kula—"

BRUK!

Punggung Arthur menabrak tembok. Kejadian yang benar-benar membuat Wales kaget.

Irland mencekik leher Arthur dengan kedua tangannya.

Irland mulai kehilangan akal sehatnya, tak berpikir itu akan membahayakan Arthur kakaknya. Wales yang gelagapan langsung bertindak, berusaha melepas cengkraman Irland. Tapi dengan cepat Irland langsung menepis tubuh Wales hingga terjatuh.

"Kau tak perlu ikut campur, Wales!"

"Kenapa kau terus merepotkan Scott! Kenapa kau tak bisa memahami perasaan Scott yang begitu mengkawatirkanmu? HAH?" cekikannya makin erat. Arthur merintih kesakitan, napasnya menjadi sangat sesak.

"Ugghh.. Ir—Ir..." Suara Arthur terbata-bata. Napasnya mulai putus-putus. Cekikannya makin kuat dan erat. Arthur tak bisa mengeluarkan suaranya. Tubuhnya serasa lemas seketika. Kelopak matanya mengerjap-kerjap lemah.

"Padahal kami khawatir padamu! Begitu pula Scott! Kenapa!" Tubuh Arthur semakin lemah. Arthur mulai tak berdaya. Napas Arthur tertahan, tak bisa bernapas lagi.

"IRLAND HENTIKAN!"

BRAK

"Hei, hei, apa yang—" Yao yang mendengar suara-suara tadi langsung membuka pintunya. Melihat kejadian di depannya membuatnya shock, Ivan langsung berlari dan menarik paksa Irland. Tentu saja Irland memberontak. Cengkramannya pada leher Arthur semakin kencang.

Ivan dengan terpaksa memukul perut Irland sehingga Irland kehilangan kesadaran. Ivan segera menarik Irland dan mendudukannya di kursi dekat situ.

Yao memegangi Arthur yang tak berdaya. Napasnya tersendat-sendat.

"Alfred! Panggilkan suster perawat!" Namun pemilik nama masih terdiam, tak bergerak.

"ALFRED!" Alfred tersadar dari lamunannya.

"Sudah, aku saja." Francis bergegas mencari perawat. Francis tahu, Alfred pasti merasa bersalah sejak kejadian Arthur jatuh dari lantai 2. Rasa bersalahnya karena tidak dengan segera menangkap Arthur, membuat Scott jadi terluka.

Sedari tadi, dari rumah sampai rumah sakit ini, Alfred tanpa bicara, diam. Alfred shock.

'Aku yang memanggil Arthur, sehingga Arthur terjatuh. Aku tak cekatan menangkap Arthur sehingga Scott yang kena imbas perbuatanku. Irland sampai mencekik Arthur, padahal Arthur tak bersalah sama sekali. Harusnya AKU! Harusnya AKU yang DISALAHKAN!' Alfred memukul tembok di sampingnya dengan keras setelah dia menumpahkan isi hatinya dalam batinnya.

...

..

"Aku tak apa.. terima kasih Yao.." Arthur berdiri perlahan-lahan. Menghampiri adiknya, Wales.

"Kau tak apa-apa kan, Wales?"Arthur mengelus-elus rambut Wales adiknya lembut. Wales segera memeluk kakak di depannya ini. Dengan erat dan sayang.

"Aku.. hiks.. hiks... baik-baik saja.." Wales terisak. Arthur hanya tersenyum sambil membalas pelukan adiknya lembut.

Lalu mereka melepas pelukan. Arthur berjalan menuju Irland yang pingsan akibat pukulan Ivan tadi.

"Arthur, maaf. Aku terpaksa memukulnya.." Arthur menggeleng.

"Tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya, Ivan." Ivan mengangguk.

"Irland, maafkan aku, ya.." Rambut Irland diacak-acak pelan oleh Arthur.

"Ok! Scott masih tidur! Aku akan membeli kopi untuk begadang menjaga Scott dan menunggu Irland sampai sadar!" Arthur berjalan keluar ruang. Arthur berpapasan dengan Alfred, iris hijau menatap iris biru langit, sejenak dan sekilas saja.

"Ano, Aku ikut!" Alfred mengikuti Arthur dari belakang.

...

...

.

Di sudut jalan itu terdapat mini market. Arthur memesan satu cup kopi, Air putih, sedangkan Alfred memesan coca-cola kaleng. Arthur meminum kopi itu sedikit demi sedikit. Alfred menatap Arthur, Arthur yang merasa dilihati seperti itu merasa risih.

"Ada apa, Alfred?" Alfred menggeleng pelan.

"Tidak." Jawab pemuda berkacamata itu singkat. Arthur hanya memalingkan mukanya.

'Arthur terlihat baik-baik saja, Syukurlah..' batin Alfred sambil menyunggingkan senyum.

"Maaf, Arthur." Arthur menoleh bingung.

"Untuk apa?" Arthur mengernyutkan alisnya sambil menatap pemuda di depannya.

"Aku mencelakaimu dan Scott. Harusnya aku bisa menolongmu, tapi malah Scott yang terluka, dan aku hanya diam saja.." Raut muka pemuda iris biru itu langsung murung.

"Sudahlah, ini bukan salahmu. Harusnya ini salahku, karena aku tidak menjaga diriku sendiri dengan baik." Arthur menatap kaleng minumannya.

"Ahahaha! Sudahlah! Ayo kita kembali." Arthur refleks menarik tangan Alfred. Menyadari ada yang salah, Arthur segera melepaskan genggamannya pada tangan Alfred. Tawa meliputi keterdiaman sejenak itu.

"Sudah, Ayo kembali." Alfred segera menggenggam tangan Arthur dan menariknya. Arthur ditarik keluar dari minimarket. Arthur hanya dapat tersipu malu.

Mereka sudah berjalan agak jauh namun tetap menggandeng tangan Arthur.

TIK TIK TIK

"Wah! Hujan! Alfred! Hujan!" Arthur berteriak keras.

"Ya! Ya! Aku tahu! Ayo berteduh dulu!" Alfred menarik Arthur di bawah pohon rindang dan sangat besar.

"Huh, bagaimana bisa malam-malam tadi masih cerah dan sejuk, tiba-tiba bisa hujan deras!" gerutu pemuda yang menggunakan jaket bomber itu. Arthur menggelengkan kepalanya sambil tertawa, melihat kelakuan pemuda di depannya yang marah-marah sambil memanyunkan bibirnya.

'Alfred, kau tak berubah.. Masih seperti dulu. Hanya saja, Kau sekarang sudah besar. Kau bukan adikku. Sudah bukan adikku.' Tak terasa air mata meluncur turun dari sudut matanya. Arthur memegangi perutnya yang terasa sakit tiap memikirkan hal ini.

Alfred yang melihatnya sekilas, langsung mendekati Arthur. Dari suara dan tampang Alfred, dia khawatir.

"Hei, ada apa? Kau menangis?"

"Ahahaha! Siapa yang menangis? Ini air hujan lho?" Arthur segera mengusap air matanya.

"Art—darah!" Arthur kaget dengan apa yang dikatakan Alfred.

"Kau itu mimisan, Bodoh!" Alfred segera mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengusap darah dari lubang hidung Arthur.

PLAK

"Tidak! Jangan sentuh aku!" Arthur menepis tangan Alfred. Tentu saja perbuatan yang baru saja Arthur lakukan membuat suasana menjadi buruk.

"Ano—bukan maksudku.."

"Kau kenapa, Arthur?" Arthur gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa. Arthur dengan cepat segera berlari menjauh dari Alfred, meninggalkan Alfred. Alfred yang kaget segera saja mengejar.

Menembus tirai hujan yang deras, menghujam tubuh. Arthur masih berlari di bawah hujan. Tangan kanannya masih memegangi hidung yang sedikit masih mengeluarkan darah. Dilepasnya tangan kanan yang sedari tadi menyentuh hidungnya sendiri.

Arthur melirik sejenak ke belakang, Alfred kehilangan jejak Arthur. Arthur melihat ke tangan kanannya.

"Da-rah? Hu-jan?"

Tiba-tiba memori, mimpi buruknya terulang lagi, mengalir secara cepat dan paksa.

"Ukh, kepalaku..." Arthur ambruk ke tanah, meringkuk sambil memegangi kepalanya yang serasa sakit luar biasa.

'Jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Aku bukan adikmu lagi, Arthur!'

"Aku mohon! Jangan lagi! Ja-jangan lagi!" Arthur berteriak histeris. Memori-memori pahit itu kembali lagi. Ingatan buruk, mimpi buruk itu kembali lagi. Mengembalikan semua rasa sakitnya pada Arthur.

'Aku menginginkan kebebasan, Arthur!'

"Wuaaaaa! Tidaaaakk! Ja-jangan lagi.." Arthur terus meremas kencang kepalanya sendiri, hingga segores luka karena kukunya yang menggores kulit kepalanya.

'Tembak saja, Arthur.'

"Aku mohon.. Kami-sama.. Aku sudah tidak kuat lagi... Aku—sudah.." ucap Arthur pelan.

Sejenak Arthur terlihat tenang. Tubuhnya yang diguyur derasnya hujan, terdapat entah 'penyakit' apa yang mendiami tubuhnya. Pemuda itu, sudah menyerah pada hidupnya.

'Hadiah perpisahan untukmu, Arthur.'

DUG DUG DUG

"Ugh.. Aku menyerah.. Aku.. tak kuat.. Aku mohon.. Cukup cabut nyawaku sekarang.. ARGGHH!" mimpi itu terus mengalir kembali, terus berputar. Rasa sakit itu rasanya kembali. Arthur mencengkram kepalanya. Berusaha untuk meredam sakit yang terus menyerang kepalanya.

"Arthur!"

'Suara itu... milik Alfred...'

"Al—" suara Arthur terhenti.

'Selamat tinggal, Arthur Kirkland.'

Kelopak mata itu terpejam secara perlahan. Air muka Arthur menjadi pucat pasi.

"Arthur! Astaga! Arthur!" Alfred mendekap tubuh yang tak lebih besar dari tubuhnya ke pelukannya.

"Arthur! Apa yang terjadi padamu?" pemuda dalam pelukannya ini napasnya sungguh lemah. Diusapnya darah di hidung Arthur dengan jaketnya yang sudah basah kuyub.

"Arthur, bertahanlah." Alfred segera membawa Arthur ke rumah sakit, mengangkat tubuhnya dan memeluknya dengan erat.

...

...

.

Dokter dan perawat bergerak cepat. Selang dan infus, tabung pernapasan, semuanya dengan cepat di lakukan. Napas Arthur lemah sekali.

Alfred semakin terpuruk, apa yang akan terjadi pada Arthur membuatnya semakin cemas. Alfred hanya berharap Arthur akan segera sadar.

1 jam berlalu...

"Anda teman dari pemuda di dalam itu?" tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari dari tempat Arthur dirawat. Alfred mengangguk lemas.

"Dokter memanggil anda. Kabar buruk untuk teman anda."

...

...

Alfred keluar dari ruangan. Alfred terduduk bersandar di dinding rumah sakit. Alfred masih shock. Apa yang baru saja didengarnya benar-benar tak baik. Alfred berusaha mengingat-ingat kembali kejadian yang terjadi, pembicaraannya dengan dokter itu.

Flashback on

GREK

"Permisi."

"Oh, silahkan masuk. Mari duduk." Alfred duduk di kursi, menghadap sang dokter muda di depannya.

"Kabar buruk apa?" tanya Alfred to de point. Dokter muda itu tersenyum pahit.

"Sebelumnya, namaku Roderich Edelstein, dan perawat yang duduk di sana, adalah Elizaveta Hedervary." Wanita cantik itu mendekat, mensejajari Dokter Roderich.

"Langsung saja. Pemuda yang kau kenal bernama Arthur Kirkland, menderita suatu penyakit..." Napas Alfred tertahan, "dan penyakit yang dideritanya adalah...

...

Kanker otak..."

Alfred menggigit bibir bawahnya, menahan segala amarah yang ingin dikeluarkannya.

"Arthur.. selama ini... kau menutupinya dariku?" Alfred mendesah berat. Diacaknya rambut dirty blonde miliknya sendiri.

"Arthur..." Alfred menangis tanpa suara di situ. Seakan keheningan berteman dengannya, memberi waktu padanya sejenak untuk menangisi orang yang dia kasihi ini.

...

..

Flashback off

Alfred dan Dokter muda Roderich serta Perawat Elizaveta sudah sepakat untuk tidak membocorkan penyakit yang di derita pemuda alis tebal itu pada orang lain. Dokter muda dan perawat cantik itu menjadi dokter dan perawat pribadi tanpa sepengetahuan Arthur.

...

..

Arthur sudah sadar. Iris hijaunya melukiskan dirinya yang memandang udara kosong. Pikirannya melayang jauh, Arthur takut jika penyakitnya akan diketahui oleh teman-temannya.

Dia berpikir, tak akan mampu dirinya untuk menjelaskan semuanya. Alfred sudah melihat hal buruk yang terjadi padanya, dan Arthur ada di rumah sakit ini, berarti saat ia kehilangan kesadaran, dia digotong kemari oleh.. Alfred.

'Gagal sudah!' Arthur menengok, memandangi hal-hal di luar jendela kamarnya.

TBC

Kiro-chan : Wau.. Akhirnya... Chapter 3.

Arthur : ...

Kiro-chan : Ada apa, Arthur-chan? *lirik-lirik*

Arthur : Lebih baik kau bunuh aku saja daripada aku jadi OOC begini, BLOODY GIT!

Kiro-chan : Ahahaha, kau bercanda! Alis tebal! *Kiro berlari dengan cepat, menghindari amukan alis tebal*

Arthur : Kono yaro! Kemari kau! Akan kubunuh kau author gila!

Ivan-chan : Aha! Lebih baik Minna-san sekalian meriview, da~

Karena mereka ini semua adalah karangan aneh karya author. Author masih banyak belajar. Dengan makan review (?) mungkin dia bisa belajar pelan-pelan, da~

Baiklah. Terima kasih, da~ Dan kami tunggu reviewnya. Flame harus ada alasannya ya, da~