Arakafsya Uchiha Mempersembahkan:

'Pernikahan Dini'

Characters: Sasuke U. & Sakura H.

Genre: Romance/Family

Rate: M

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

.

Summary:

Demi menyelamatkan nama baik keluarganya, Sakura rela menikah dengan pria yang sama sekali tak ia kenal. Namun, siapa sangka kalau gadis cantik itu memiliki kelainan yang membuat suaminya tertarik untuk mengenal lebih jauh dan juga merebut hatinya. Mampu 'kah Sasuke merebut hati dari seorang gadis yuri?.

.

.

.

Chapter III: Kasus.

Tidak bisa menunggu dalam waktu lama adalah tipikal Uchiha Sasuke. Setelah semalaman suntuk mendengarkan voice record—yang ia ambil secara diam-diam—dari gadget isterinya dengan harapan dapat mengingat suara anak perempuan yang ia dengar itu. Namun, sekeras apa pun ia mencoba mengingat, hasilnya selalu nol. Dengan mata yang memerah menahan kantuk, ia sengaja menghubungi teman-temannya untuk datang menemuinya di restaurant cepat saji, Ichiraku.

"Tch, brengsek." Dia bergumam kasar saat melihat handphonenya kembali bergetar, menandakan Sakura terus menghubunginya.

"Sasuke, menunggu lama?" pemuda berambut raven itu mendongak dan mendapati sahabatnya—Uzumaki Naruto yang baru datang dengan santainya, "Yang lain belum datang?"

"Belum." Jawab Sasuke cepat dan mematikan smartphonenya. Diliriknya Naruto yang langsung memesan segelas Latte, pemuda spike itu bahkan masih memakai tuxedo hitamnya.

"Sasuke, ada apa kau menyuruh kami kemari? Apa kau tidak—hoaam—tahu ini jam kerja?" Sasuke menolehkan pandangannya pada Shikamaru dan Gaara yang baru saja tiba.

Pemuda berambut merah darah itu membekap mulut Shikamaru, "Bicara yang sopan, bodoh." Lalu duduk tepat di hadapan Sasuke.

Ke-empat pemuda tampan nan sukses itu sudah berkumpul, cangkir-cangkir kopi sudah berdatangan ke mejanya. Kadang beberapa pelayan tampak tersipu memperhatikan mereka, atau kadang pengunjung wanita muda yang melewati meja mereka akan berjalan seanggun mungkin untuk menarik perhatian salah seorang dari mereka.

"Ada apa, Sasuke? Ini masih terlalu pagi, waktuku tidak banyak." Ucap Gaara sambil sesekali melirik rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Kau bilang Sakura tidak pernah berpacaran lagi sejak putus dengan Gaara. Naruto, bisa kau jelaskan?" Ucap pemuda Uchiha itu sambil menatap sahabat pirangnya.

"Ya memang, lalu?"

"Jika hanya itu yang ingin kau tanyakan, itu akan menjadi hal yang tidak penting." Sela Gaara lagi setelah Sasuke akan membuka mulutnya.

Sasuke menatapnya menusuk, "Diam."

"Oke, aku akan diam." Jawab Gaara lagi.

"Apa dia pernah dekat dengan seseorang? Meski pun itu seorang wanita?" tanya Sasuke lagi.

"Sasuke, ku rasa membicarakan masa lalu Sakura bukanlah hal yang penting. Kalian sudah menikah, dan menurutku kau bisa mempertanyakannya pada Sakura secara langsung." Jawab Naruto yang disusul anggukan Gaara.

"Tidak untuk yang ini." Ia menyalakan kembali handphonenya dan membuka file manager tempat penyimpanan rekaman suara yang akan ia tunjukan. Ia memutarkan rekaman tersebut di depan ketiga temannya yang mendengarkan dengan antusias, dan saat gadis kecil yang ada di rekaman itu berkata, "Aku mencintaimu, Sakura. Sungguh…" mereka semua diam.

"Ini gila…" Gaara memberi komentar duluan, kepalanya menggeleng.

Shikamaru menyeruput kopinya santai, "Suara itu sangat familiar."

Sedangkan Uzumaki Naruto, dia hanya menggeleng tidak percaya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ketakutan, emosi, bingung, semua melanda dirinya secara bersamaan. Diletakkannya smartphone Sasuke di atas meja, kepalanya menggeleng tidak percaya.

"Ada apa, Naruto?" tanya Sasuke yang baru saja menyeruput Lattenya.

==oOo==

Uchiha Sakura menghela napas pasrah saat nomor sang suami tidak bisa dihubungi. Bukan, dia tidak khawatir atau merindukan pria itu. Masalahnya, baru saja sang ibu mertua menghubunginya—menyuruhnya untuk ke tempat beliau, entah untuk apa. Dirinya melempar asal smartphone yang tak bersalah itu ke atas kasur, tangannya terlipat di depan dada sambil sesekali bibirnya mendecak kesal. Baru saja ia berniat memaki si Uchiha itu, kalau saja tak ada deringan di smartphone yang baru dibantingnya tadi. Dengan kasar dia menggeser screen demi menjawab panggilan dari suaminya.

"Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke dengan nada datar.

"Cepatlah pulang karena—"

"Kau merindukanku?" Sela Sasuke dengan nada menggodanya. Pria tertawa kecil mendengar dengusan isterinya.

"Che, jangan harap. Kaa-san menyuruh kita ke rumahnya, cepatlah karena aku tidak punya banyak waktu." Jawabnya dengan nada kesal.

"Hn, baiklah…aku akan pulang sebentar lagi." Jawab pria itu dan langsung memutuskan sambungan.

"Kau merindukanku?"—adalah kalimat yang tak pernah lagi ia dengar. Dulu, akan ada seorang gadis yang menghubunginya dan mengatakan hal demikian dengan nada seceria mungkin. Gadis itu akan terus menghubunginya sampai Sakura merasa bahwa gadis itulah yang merindukannya, lalu dengan senang hati ia akan menjawab, "Aku merindukanmu."

Tubuh Sakura beringsut di depan kasur, sungguh ia merindukan segala sesuatu tentang gadis itu, Uzumaki Naruko. Dia tidak akan pernah bosan dengan gadis itu, dia merasa dihargai, dia merasa dimiliki, merasa disayangi, dan hanya gadis itu yang akan mengatakan, "Whoa! Selamat Sakura, nilaimu sungguh memuaskan. Tidak seperti raportku." Sungguh, dia merasa dihargai. Tapi, untuk menjaga perasaan ukenya itu, Sakura akan berkata, "Nilaimu juga bagus, hanya saja perlu ditingkatkan lagi. Ayo belajar bersamaku!".

"Hiks…"

Tubuh rapuh itu semakin beringsut, kakinya menekuk dan direngkuh dalam satu pelukan tangannya. Ia benar-benar kehilangan separuh hidupnya. Di depan semua orang mungkin ia gadis yang pendiam, tapi tidak untuk kali ini…biarkan ia menangis.

.

.

.

.

.

.

"Naruto, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu begitu?" Shikamaru kembali menanyakan hal yang sama seperti Sasuke.

"Tidak…tidak mungkin…" gumamam pemuda pirang itu semakin menjadi pertanyaan besar bagi ketiga temannya.

Gaara menyeruput habis kopinya, "Kau seperti mengetahui suara gadis itu saja."

"Aku memang mengenalnya!" ucap Naruto secara tiba-tiba, membuat Sasuke mendelik dan Gaara menyemburkan kopinya ke lantai.

"A-aku mengenalnya, Teme…" ia mencengkram kepalanya yang tiba-tiba merasa sedikit pusing. Yang lain masih diam, menunggunya melanjutkan berbicara.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin kalau itu…suara adikku…"

Sasuke membelalakkan matanya mendengar pengakuan Naruto. Dia ingat, pantas saja Sakura banyak menyimpan foto-foto mereka di iPadnya. Tapi jika yang Naruto katakan adalah benar, hubungan apa yang dimiliki oleh keduanya? Kenapa Naruto sebagai kakaknya juga tidak mengetahui hubungan terlarang ini? Rahasia ini begitu tersimpan dengan rapih. Ia juga ingat kalau Sakura memang tidak pernah berhubungan lagi dengan siapa pun setelah putus dengan Gaara, jadi ini alasannya?

"Tapi kenapa bisa?" Naruto kembali bersuara, dirinya terlalu shock untuk menerima kenyataan secepat ini.

"Gaara," kali ini Shikamaru angkat bicara.

Pemuda yang dipanggil Gaara itu menoleh sembari mengelap mulutnya dengan sapu tangan, "Hn?"

"Apa yang menyebabkan kau dan Sakura putus?"

"Kenapa kau bertanya demikian?" Sergah pemuda Sabaku itu cepat.

"Merepotkan, tinggal jawab saja." Jawab pemuda Naara itu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Hm…" dia Nampak berpikir, "Aku sempat beberapa kali selingkuh dengan Matsuri, sampai akhirnya Sakura memergoki kami."

Sasuke menatap keduanya, "Apa yang kau katakan pada Sakura saat itu?"

Gaara merasa dirinya diintrogasi, "Dia hanya bertanya, 'siapa yang kau pilih?' dan aku memilih Matsuri. Karena aku tidak mau ambil pusing, ku katakan saja padanya kalau aku sudah bosan."

BRAK!

Hampir semua pengunjung menatap ke arah kumpulan pemuda tampan itu. Naruto menggebrak meja dengan cukup keras sehingga gelas-gelas kopi mereka sedikit bergoyang. Tatapannya berkilat marah mengarah pada Gaara,"KAU TAHU KALAU UCAPAN TANPA PIKIR PANJANGMU ITU BISA MEMBUAT SESEORANG MENGALAMI TRAUMA?!"

Dia berteriak dengan marah, Sasuke mencoba menarik tubuh sahabatnya untuk kembali walau hasilnya gagal. Pemuda spike itu marah, pasalnya ia jadi terbayang akan suatu hal. Hal yang tidak akan pernah ia lupakan, karena ia pernah mendengar kata-kata itu dari mulut seorang gadis—hanya saja gadis itu mengatakannya sambil menangis.

"Apa pedulimu? Memang siapa Sakura untukmu?" tanya Gaara dengan nada mencemooh. Shikamaru mengusap wajahnya frustasi.

"DIA SAHABATKU! Kau pecundang, kau pembual, PENIPU! Kau tidak lebih dari—"

"Hentikan, Dobe!" Suara Sasuke meninggi. Ia menatap sekitar, memberikan isyarat agar orang-orang tidak menatap ke arahnya.

"Kau tidak pernah peduli pada perasaan seorang perempuan! Bagaimana kalau Temari mendapat perlakuan demikian dari kekasihnya hah?!" Suara Naruto menurun, tapi tetap marah.

Gaara mendecih, "Shikamaru tidak mungkin menyakitinya. Lagi pula itu urusannya, bukan—"

"Kau memang tidak pernah peduli dengan keluargamu, maka itu kau—"

"JANGAN BAWA KELUARGAKU! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG MEREKA!"

"HENTIKAN, TEMAN-TEMAN!" Kali ini Sasuke yang bersuara, mereka diam. Diliriknya lagi Naruto yang akhirnya lebih memilih pergi dari tempat itu. Shikamaru mengusap wajahnya frustasi, sedangkan Gaara mendecak kesal.

.

.

.

Naruto membanting kasar pintu mobilnya, tidak peduli pada tatapan kaget orang-orang yang berada disana. Ia tidak habis pikir kalau akhirnya ia akan membenci Gaara. Dia menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, matanya terpejam—membawanya pada arus masa lalu.

Flashback

"Hiks…hiks…"

Uzumaki Naruto baru saja akan melangkah ke kamarnya, tapi niat itu terhalang saat ia mendengar suara isak tangis dari kamar adik perempuannya. Dengan rasa khawatir, ia mengetuk pintu yang tertutup itu.

"Naruko, kau di dalam?" dirinya sedikit berteriak sambil terus mengetuk pintu kamar kuning tersebut.

"Ma-masuk, Nii-chan…tidak dikunci…" mendengar itu, Naruto membuka pintu dengan hati-hati.

Alangkah terkejut dirinya menemukan sang adik meringkuk di sudut kamar, kamarnya pun tak lagi rapih. Bonekanya sudah terhempas kemana-mana, foto-foto dirinya dengan seorang pemuda berambut hitam sudah berserakan. Bahkan pecahan kaca turut menghiasi lantai kayu kamar tersebut.

"Ada apa ini?!" tanya Naruto dengan nada terkejut, "Apa yang terjadi pada kamarmu?"

"N-Nii-chan…" Adiknya sesenggukan, "Tolong…tolong aku…hiks…"

Naruto berjongkok di depan tubuh adiknya, tangannya terangkat untuk mengusap helaian pirang panjang adik perempuannya. Sampai tangan sang adik terulur dan menarik pemuda itu ke dalam pelukannya. Naruto mengusap punggung adiknya dengan lembut, membiarkan gadis kecil itu menangis.

"Ada apa, Naruko?"

"Dia meninggalkanku…hiks…dia meninggalkanku karena wanita lain, Nii-chan…hiks…" ia mengeratkan pelukannya pada sang kakak, "Dia bilang aku sudah tidak berguna, dia bilang aku tidak cantik, dia bilang bahwa dia bosan padaku…hiks…sakit…hiks…"

Naruto menunduk dalam, membenamkan kepala adiknya pada dada bidang miliknya. Geram, marah, benci. Ia bersumpah akan mencari pemuda itu dan memberikannya sebuah pelajaran. Siapa pemuda itu? Dia bilang apa huh? Tidak berguna, tidak cantik, bosan? Persetan.

"Aku akan memberikannya pelajaran." Ucap sang kakak protective, melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi gembung adiknya.

"Hanya laki-laki bodoh yang meninggalkan wanitanya dengan alasan bosan." Ucap Naruto lagi sambil tersenyum menatap adiknya.

"Dia bodoh, dia memang bodoh. Lebih bodoh aku yang terperangkap karenanya…hiks…" jawab Naruko sembari menghapus air matanya.

"Kau tidak bodoh…"

Flashback Ends

Tiga tahun setelah kematian sang adik yang masih menimbulkan duka baginya itu, tidak ada yang berubah. Tidak, ada yang berubah—hanya saja ia tidak tahu perubahan apa yang terjadi. Setahu dirinya adiknya memang dekat—sangat dekat dengan Sakura. Mereka sering bercanda, belajar bersama, pergi bersama, dan Naruto hanya menganggap itu sebagai persahabatan sejati. Mereka tidak pernah bertengkar, bahkan saat Naruko sakit juga Sakura rela menginap untuk menemani adiknya.

Tangisan duka Sakura saat Naruko meninggal pun dianggap wajar olehnya, mereka dekat—dan Sakura merasa kehilangan. Itu saja. Tidak ada yang salah 'kan?

TOK TOK!

Naruto membuka matanya dan mendapati Sasuke di luar mobilnya. Dengan malas, ia membuka kaca jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya.

"Jangan seperti anak kecil, kita sudah bersahabat cukup lama. Berdamailah dengan—"

"Kalau kau menyuruhku bersahabat dengan setan merah itu, lupakan saja." Dia kembali menutup kaca jendelanya, lalu menghidupkan mesin dan pergi begitu saja meninggalkan Sasuke yang masih menatapnya.

==oOo==

Sasuke memasuki rumahnya dengan muka masam. Belum kelar kasus Naruko dengan Sakura, kedua sahabatnya malah bertengkar hebat. Tapi Sasuke tahu, Naruto tidak mungkin marah tanpa sebab. Dia melangkah lebih cepat mengingat Sakura menyuruhnya untuk ke rumah sang ibu. Ia membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa, dan terkejut dengan keadaan kamarnya.

"SAKURA!" diteriakinya nama sang isteri yang sudah meringkuk di atas karpet bulu kamar mereka. Kaca rias pecah, smartphone yang tergeletak sembarangan, isak tangis Sakura—Hey, ada apa ini?!

"Sakura, ada apa ini? Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Sasuke secara beruntun, nadanya mungkin terdengar datar—tapi percayalah, ia juga khawatir melihat keadaan Sakura.

"Sak—"

PLAK!

Sasuke terkejut saat tangan Sakura menepisnya dengan kasar—menolak untuk disentuh. Isterinya menangis, matanya merah dan bengkak, napasnya bergemuruh karena marah. Sasuke memasang wajah datarnya kembali, ia hanya bisa menatap sang isteri tanpa berkomentar.

"Jangan sentuh aku! Kalian semua para laki-laki sama saja! Kalian—"

"Jika itu adalah kata-kata yang kau pendam selama ini, keluarkanlah. Anggaplah aku Gaara, kau bebas memperlakukanku seperti apa." Sela Sasuke sembari menatap Sakura prihatin.

Mendengar itu, Sakura lantas memukul Sasuke. Ia menampar Sasuke, memukul punggung dan bahu pemuda yang sedari tadi diam menahan sakit pada tamparan isterinya. Makian, kata-kata kasar keluar begitu saja dari bibir mungil yang jarang bicara itu. Sasuke diam.

"Brengsek! Sudah cukup kau merusak semuanya! AKU MEMBENCIMU! BENCI SEGALA YANG KAU LAKUKAN! KAU TAHU AKU INGIN SEKALI MEMBUNUHMU, GAARA!" dia berteriak di hadapan Sasuke, membuat sang suami mendengarkannya secara seksama.

"PERGI DENGAN KEKASIHMU SANA! JANGAN MENATAPKU LAGI! PEMBOHONG, PENIPU, KAU JAHANAM!"

Bruk!

Sasuke menangkap tubuh yang sudah lemas itu, ia merengkuhnya dan Sakura sendiri tak punya tenaga lagi untuk menghindar. Ia pasrah pada perlakuan Sasuke selanjutnya, dan membiarkan pemuda itu memeluknya sembari mengusap rambutnya yang sudah panjang. Ia menangis dalam pelukan suaminya.

"Jika memang kau tidak bisa menganggapku sebagai suamimu, anggaplah aku sebagai sahabatmu."

Dirinya rela merendah di hadapan Sakura, setelah ia tahu semuanya—ia bertekad untuk menuntaskan semua masalah ini. Tidak peduli Sakura mencintainya atau tidak, tapi ia adalah seorang suami. Untuk itu ia ada disini, ia akan menjadi suami yang sesungguhnya untuk Sakura.

Grep!

Terkejut. Sasuke terkejut saat mendapati kedua tangan Sakura memeluknya. Sakura sendiri tidak tahu kenapa merasa nyaman dipeluk oleh suaminya, ia hanya butuh sebuah pelukan—pelukan dari seorang sahabat. Karena Uchiha Sasuke, adalah sahabat seatapnya. Everything has changed, Sakura. Gadis itu membiarkan Sasuke mengecup dahinya, mengusap rambutnya untuk memberi ketenangan—dan Sakura mendapatkannya.

"Terima kasih, Sasuke…" ucapnya sesenggukan sembari menenggelamkan kepalanya di bahu pemuda itu.

.

.

.

.

.

Sabaku Gaara mendecak kesal dan membanting kertas-kertas laporannya ke lantai. Pertengkaran dengan Naruto benar-benar membuat emosinya mendidih. Sakura memang gadis yang baik, dan ia mengakui kalau dirinya salah memperlakukan gadis itu. Penyesalan memang selalu ada di belakang, dan dia tahu itu. Ia meraba saku celananya dan meraih ponselnya untuk menghubungi Sakura, entah bicara apa saja. Setelah nada panggilan tersambung, pemuda itu merasa cemas sesaat.

"Jangan ganggu Sakura dulu, dia baru saja tenang." Gaara cukup terkejut saat mendengar suara Sasuke disana, terdengar berbisik dan serius.

"Apa katanya tadi? Tenang?" Gaara memandangi hand phonenya dengan bingung. Sasuke langsung memutuskan sambungannya begitu saja, berarti terjadi sesuatu pada Sakura.

"Damn! Kenapa semuanya jadi serumit ini hah?!" ia berteriak—entah pada siapa.

.

.

.

.

.

Sasuke memandang isterinya dengan senyum tipis, Sakura baru saja selesai meminum teh hangat yang ia buatkan untuknya. Gadis itu begitu rapuh, dan Sasuke bersyukur karena gadis itu mau mempercayai dirinya sebagai seorang sahabat.

"Terima kasih, Sasuke." Katanya pelan, suaranya terdengar serak dan berat.

"Sakura," pemuda itu menggenggam kedua tangan isterinya, "Boleh aku bertanya sedikit tentangmu?"

Gadis itu menunduk dalam, "Apa…yang ingin kau tanyakan?"

Sasuke menghela napas, "Aku ingin kau menjawab dengan jujur…" pemuda itu memberi jeda untuk mengeratkan genggamannya—mencegah Sakura pergi darinya.

"Ada apa?" Tanya gadis itu lagi.

Sasuke menatap dalam emerald itu, "Apa hubunganmu dengan Uzumaki Naruko?"

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu, yang ada hanya tatapan menyelidik…juga amarah.

-Tbc-

Author Note:

Hai! Ini bikinnya waktu lagi UTS loh ._. *dia gak belajar* Disini ada yang RL-nya anak Arsitek gak sih? T^T aku mau kenalan dooong, kl bisa yang udah senior~ tolong ajarkan aku kakak~ *curhat*

Oke, karena banyak yang nungguin (?) kelanjutan ini, jadi daripada pusing mikirin pelajaran yang gak jelas apa itu *loh lebih baik bikin fict aja! #digampar

Oke deh, jadi gimana sama kelanjutannya? Berniat kasih review lagi gak? ._.

Give thanks to;

Merrya Narcissa Bellatrix, kHaLerie Hikari, Yukina Itou Sephiienna Kitami, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, uchiharuno susi, Rhikame, Autumn Winter Blossom, Nuria Agazta, Mireren, Akiko Rin, hanazono yuri, Uchiha Shesura-chan, mamamiaoZumi, Tsurugi De Lelouch, Kiki RyuEunTeuk, meritanursyela, Hatake Rifda kun, shawol21bangs, pinky Blossom, , Guest, pinky kyukyu, Kumada Chiyu, uchihyuna, Guest, Lhylia Kiryu, milkyways99, kimchan, PinkBlueUchiHaruno, Guest, sachi, Love Foam, Andrea brittania Fleischer, Nona Anna, Merah muda, kazuran, Deshe Lusi.

Answer Questions;

Gaara mungkin gak ada perasaan ke Sakura? Bisa jadi, tapi hanya perasaan bersalah ;)-

Kok harus pake nama Karin sih nikahnya? Namanya aja nikahnya mendadak, gak mungkin langsung ganti nama 'kan?

Perasaan Sasuke waktu tau Sakura yuri? Setelah baca chap 3, menurut kalian reaksinya apa? #digaplok

Apa Sasuke akan jatuh cinta pada Sakura? Dia sudah terbukti jatuh cinta belum sih? ._.

Nanti Sakura hamil gak? Bikin aja belom *nahloh

Kalo nikahnya pake nama Karin, berarti gak sah dong? Kita lihat nanti ya :3

Nanti ada lemonnya gak? HARUS ADA!

Akhir kata, terima kasih yang udah susah payah mau review :* Ara bener-bener berterima kasih, karena review kalian memberikan semangat dan inspirasi!

Buat yang request fict ini, semoga puas dengan chap 3 ini ya ._.v

Sangkyu~