Baekhyun mendekat ke arah Kyungsoo, berbisik di telinganya dengan nada prihatin. "Jujur aja, gue kasihan sama Sehun–karena harus memiliki fans fanatik seperti Luhan."

"Right. Bahkan, Luhan memanggilnya 'oppa', demi Tuhan..."

"Habis ini, gue mau upload foto di Instagram. Dan lo tau apa hastag yang udah gue siapin buat ditaruh di bawah caption?" Kini, ekspresi prihatin milik Baekhyun semakin menjadi-jadi.

"... A–apa?"

Lelaki ber-eyeliner itu tersenyum miring, um sadis. "Turut berduka cita untuk Sehun."

.

.

A very absurd fanfic from Raisa YeolBaekry

Pairing : ChanBaek, KaiSoo, HunHan, TaoRis, SuLay, ChenMin.

Rate : M (For bad language, cursing a lot, dirty talks or dirty jokes, etc).

Genre : Comedy gagal, Romance gaje.

Length : Chaptered.

.

EXO and Their Love Story

Chapter 2 : Charming?!

.

.

Kyungsoo tertawa. "Itu agak jleb, ya."

Baekhyun nyengir. "Nggak apa-apa."

Luhan sedikit memajukan kepalanya menghadap Baekhyun dan Kyungsoo. "Lagi ngomongin apa, sih?" tanyanya dengan wajah kelewat innocent.

"Fans fanatik." Balas Kyungsoo.

"Oh, siapa?"

"Lo. Xi Luhan." Baekhyun berkata dengan raut wajah tak peduli. Luhan mengerutkan dahinya, bingung.

"Gue nggak fanatik. Sorry." Ucap lelaki berambut ungu muda itu dengan kesal.

"Ya, ya. Terserah." Baekhyun kembali menyahut dengan acuh tak acuh.

"Ssstt! Diem. Gue mau liat Jongin gue dengan fokus." Kyungso berkata dengan agak keras sambil mengeluarkan teropong dari–wait, wait. Teropong?!

"ANJ–lo bawa teropong, Kyung?!" pekik Baekhyun dengan mata membelalak.

Kyungsoo nyengir. "Yap. Biar gue bisa liat Jongin dengan jelas. Gyahahaha!" Dan lelaki berambut cokelat itu tertawa nista, dengan wajah yang mirip dengan pedofil. Baekhyun bergidik ngeri.

"Poor Jongin." Komentar Baekhyun prihatin.

"Lihat, siapa yang fanatik." Luhan bersedekap sambil menatap Kyungsoo tajam. Yang ditatap hanya menoleh sekilas dengan terkesan tidak peduli dan kembali menempelkan teropong ke sepasang mata bulatnya.

"Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak menciptakanku seperti dua makhluk nista yang mengapitku ini." Ucap Baekhyun perlahan.

"Diem lo, Bebek! Udah mau mulai ini!" bisik Luhan sambil mengeluarkan teropong yang serupa dengan milik Kyungsoo dari–fix, Baekhyun menetapkan Luhan dan Kyungsoo sebagai sahabat paling nista, fanatik, dan gila yang pernah ia miliki.

"What the hell is that teropong, Lu! Lo juga fanatik kali! Nyeremin, ah. Poor Jongin and Sehun." Baekhyun menunjuk teropong di tangan Luhan .

"Benerin bahasa Inggris lo dulu deh, baru nyindir gue." Jawab Luhan cuek.

"Sialan." Umpat Baekhyun pelan. Kini, ia hanya bisa menikmati konser dengan setengah hati sambil berusaha mengabaikan dua sahabat gilanya itu.

Kini, EXO tengah menampilkan lagu andalan mereka, Lotto–atau Louder, well keduanya sama saja sebenarnya. Baekhyun menoleh ke samping kiri dan kanan, dimana Kyungsoo sedang mengelu-elukan nama Kim Jongin dengan suaranya yang keras serta Luhan yang asyik meneropong Sehun dengan mulut terbuka–dan jangan lupakan salivanya yang hampir menetes karena keseksian seorang Oh Sehun. Ewh.

"Kalau dibilang seksi ya, emang seksi sih. Tapi nggak sampai ngeces gitu juga kali." Gumam Baekhyun jijik. Ini kedua kalinya ia memandang jijik ke arah Luhan pada hari ini.

"Gue denger omongan lo, betewe." Ucap Luhan sambil menepuk bahu Baekhyun tanpa mengalihkan pandangan dari teropong. "Yeah. Whatever. Yang penting gue bahagia."

"Bahagia ndasmu -_- Gue kasihan sama Sehun, sumpah. Kalo Sehun liat lo kaya gini Lu, lo pasti turun pamor di matanya! Dijamin deh." Balas Baekhyun.

"Yaelah, biasa aja lagi. Nggak usah pedes-pedes amat kalau ngomen." Ucap Luhan acuh.

"Ya, namanya aja biji cabe, Lu. Gimana nggak pedes coba?" Suara Kyungsoo yang sedari tadi teredam oleh teriakan EXO-L lainnya kini terdengar dengan jelas di telinga Baekhyun.

"Anjay. Cabe dari mana, Kyung? Hongkong?" protes Baekhyun.

"Cielah, yang pikirannya Hongkong melulu." Balas Luhan.

PLETAK!

"BEBEK DODOL! SAKIT INI, OGEB! TANGGUNG JAWAB LO!" pekik Luhan begitu lightstick milik Kyungsoo yang digenggam Baekhyun mengenai pucuk kepalanya secara dramatis.

"Sorry deh, Lu. Ku sengaja."

"Kampret." Luhan mengumpat kesal.

Namun, umpatan kasar Luhan tiba-tiba saja tidak terdengar oleh Baekhyun karena sebuah suara baritone yang berat dan keras mengalun nyaring, menyanyikan bagian rapp dan membuat telinga Baekhyun tuli seketika dari suara selain suara baritone tersebut. Ia secara refleks menoleh ke arah sumber suara, Park Chanyeol.

Baekhyun melongo lama sekali, terpesona. Lelaki berwajah manis itu sama sekali tidak tahu siapa namanya, atau apapun tentangnya. Ia hanya tau satu hal, bahwa wajah tampan dan suara baritone itu sanggup mengalihkan dunianya hanya dalam sekejap. Oke, Baekhyun mulai mengakui bahwa bahasanya sangatlah hiperbolis sekarang.

Apalagi, si Park sialan itu kini mengerlingkan matanya pada Baekhyun, membuat ia menundukkan kepala dengan wajah yang teramat sangat merah seperti strawberry busuk dan nyaris pingsan kegirangan karenanya–begitupula perasaan fangirl lain di dekat Baekhyun yang menjerit-jerit histeris karena terlalu percaya diri dengan merasa bahwa kedipan mata Chanyeol ditujukan pada mereka, padahal tidak. Oh, siapapun tolong bunuh Baekhyun sekarang di tempatnya kini, karena Park-Sialan-Chanyeol sungguh meruntuhkan ketidaksukaannya pada EXO.

"Baek? Baek? Woy, dengerin gue!"

"Hah?" Tepat setelah suara berat Chanyeol berakhir dan digantikan oleh Chen, itulah saat dimana telinga Baekhyun berfungsi kembali dengan normal dan mulai patuh mendengarkan ribuan suara lain yang saling bertumpukan, membuat telinganya terancam. Ia menoleh ke arah Luhan yang sedang melipat tangan di depan dada sambil terus mengoceh dengan rentetan kalimat yang seolah tak ada ujungnya.

"Hapus jejak air liurmu yang menetes itu, Byun Baekhyun! Dan, demi Tuhan! Kenapa wajahmu sangat merah? Apa kau terkena demam?!" celoteh Luhan tanpa henti.

Baekhyun dengan serta merta menghapus apapun yang membuat wajahnya terlihat tak menarik dengan usapan tangan. Pasti Chanyeol melihatnya dan itu akan sangat memalukan, pikirnya–walaupun sebenarnya keadaan Baekhyun saat itu teramat sangat jauh dari kata tak menarik. "Wajahku tidak memerah!" elak lelaki manis itu sambil membuang muka, yang malah membuat wajahnya menjadi jauh lebih merah daripada sebelumnya.

Luhan mengikuti arah pandang Baekhyun, lalu menyeringai menggoda. "Terpesona oleh Park Chanyeol, eh? Bukankah kau itu Toxic?"

Baekhyun memandang sahabatnya dengan pandangan berbinar-binar. "Jadi namanya Park Chanyeol?" Nama yang indah, sambungnya dalam hati.

"Kurasa aku benar. Kau menyukai Chanyeol." Luhan tertawa puas.

"Eh? Ti–tidak! Buat apa menyukai yoda bodoh bertelinga lebar itu?!" Baekhyun kembali mengelak dengan wajah yang lagi-lagi semakin memerah.

"Eyy~ Bahkan kau sudah menyiapkan nama kesayangan untuknya." Luhan tertawa.

"Aku sama sekali tidak suka pada jerapah Afrika itu! Lihatlah saja senyumannya! Senyuman bodoh yang persis monyet itu sangat mengerikan! Aku sama sekali tidak jatuh cinta pada dobi idiot bertelinga caplang itu, Lu!" Lagi dan lagi, Baekhyun terus mengelak.

"Ahaha! Kurasa kalimatmu adalah sebuah pernyataan cinta. Mari kita balik ucapanmu menjadi, 'Aku suka sekali pada jerapah Afrika itu! Lihatlah saja senyumannya! Bahkan, senyuman bodoh yang persis monyet itu sangat mempesona! Aku jatuh cinta pada dobi idiot bertelinga caplang itu, Lu!'. Am I right?" Luhan memasang sebuah seringaian keji.

Baekhyun kehabisan kata-kata. Lelaki bertubuh pendek itu sepertinya tidak bisa mengelak lagi. "Baiklah, Lu. Baik. Aku kalah." Ia menghela napas. "Aku memang terpesona padanya–tapi!" Baekhyun memutus perkataannya sejenak. "Tapi aku tidak jatuh cinta padanya. Kita lihat saja nanti!"

"Baiklah, mau taruhan?"

"Oke."

"Taruhan sepuluh ribu won, kau akan jatuh cinta padanya, Chanyeol akan jatuh cinta padamu, dan Sehun akan jatuh cinta padaku. Deal?" Luhan mengulurkan sebelah tangannya penuh kemenangan.

"Deal!" Baekhyun segera menyambut tangan Luhan, namun– "Apa-apaan taruhan yang terakhir itu?! Aku berani bertaruh itu tidak akan terjadi!"

"Oke, kita lihat saja nanti." Luhan menyunggingkan sebuah senyum.

Yeah, you're right Luhan. Little did he know.


Hari ini adalah hari kedua dari konser EXO'rDIUM dan pagi ini Baekhyun tengah sibuk memilah pakaian yang akan dikenakannya untuk pergi ke konser. Berulang kali ia melempar pakaian dari lemarinya yang dirasa tidak menarik, sehingga kamarnya terlihat seperti kapal pecah sekarang. Baekhyun mendesah putus asa, kenapa baju-baju yang biasa dipakainya kini tiba-tiba saja terlihat tak menarik? Kapan sih, terakhir kali ia berbelanja pakaian?!

Setelah hampir setengah jam berkutat dengan lemari dan isinya yang sudah terlempar entah kemana, akhirnya Baekhyun memutuskan pakaian yang akan dikenakannya. Pilihannya jatuh pada kaus putih dengan tulisan 'I am the Lucky One' bewarna hitam, celana jeans hitam, serta jaket baseball merah. Lelaki manis itu menyelipkan sunglasses di kerah kausnya yang terlihat karena jaket yang tidak dikancingkan. Ia juga mengenakan sebuah snapback terbalik di kepalanya. Oh Byun Baekhyun, seandainya kau tahu bahwa penampilanmu kini terlihat seperti artis sungguhan, kau pasti sudah kegirangan setengah mati.

"Gue ngehabisin setengah jam cuma buat milih baju?! Demi senyum Luhan yang mengerikan–gue bukan cewek yang lagi jatuh cinta!"

Baekhyun mengumpat keras. Dan umpatannya ditujukan pada dirinya sendiri. Allright. What the hell are you doing Byun?

"BAEKHYUUUUNN...!"

Oh tidak. Lelaki yang masih menatap kesal baju-bajunya yang berserakan itu segera menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Siapapun tolong ingatkan Baekhyun untuk selalu menyiapkan penutup telinga setiap kali Luhan datang ke rumahnya untuk menjemputnya–karena teriakan 7 oktaf Luhan mempunyai bahaya tersendiri bagi telinga Baekhyun. Lelaki manis itu berdecak kesal, menyambar sepasang sepatu Converse merah dari kotak, dan segera menuruni tangga untuk balik meneriaki sahabatnya itu.

"GUE NGGAK TIDAK TULI, XI LUHAN!"

Dan, well, teriakan itu sangat efektif untuk membuat Luhan mundur tiga langkah dari tempatnya berdiri dengan kedua tangan yang melindungi telinganya. Lelaki berdarah China itu memasang ekspresi membunuh sebelum melangkah maju sejauh empat langkah, nyaris membuat Baekhyun mundur karena jarak mereka yang terlalu dekat.

"Tau nggak? Lo itu sahabat paling sialan di muka bumi, Byun." Umpat Luhan tepat di depan Baekhyun.

Perempatan pun muncul di dahi lelaki yang masih menggantungkan sepatu di kedua tangannya. "Dan lo tau? Lo lebih sialan." –dan ia dengan senang hati membalas umpatan itu.

"Debatnya udah selesai?" Sebuah suara yang terdengar penuh penekanan muncul dari belakang Luhan. Kyungsoo. Baekhyun sempat terlonjak kaget karena ia sama sekali tidak melihat Kyungsoo sebelumnya–atau itu hanya perasaannya saja?

"Sejak kapan lo ada disini?!" pekik Baekhyun.

"Sejak lo misuh-misuh disini." Balas Kyungsoo tajam. Baekhyun tersedak.

"And, the conclusion is? Jadi ke EXO'rDium nggak?" ucapan Luhan membuyarkan pertengkaran antara Baekhyun dan Kyungsoo.

"Harus jadi. Kalau nggak, gue bakalan ngebunuh Baekhyun." Balas Kyungsoo disertai sebuah senyuman yang terlihat creepy di mata Baekhyun. Ya Tuhan, apa salah Baekhyun sehingga ia dikelilingi orang-orang yang mempunyai senyum mengerikan?

Bibir Baekhyun mengerucut kesal. "Kalau lo ngebunuh gue, gue bakalan gentayangin lo seumur hidup, Soo–dan ini harus jadi. Gue nggak mau ngelewatin suara Chen." Ucap Baekhyun sarkastik, melotot ke arah Kyungsoo sambil mengenakan sepatunya. Luhan menyeringai.

"Oh, kayanya gue salah sangka. Lo nggak suka sama Park Chanyeol, tapi suka sama Kim Jongdae, kan?" Luhan menaik turunkan alisnya.

Baekhyun bergidik. "Nggak lah! Gue terpesonanya sama Ch–"

Lelaki manis tersebut segera menutup mulutnya yang seperti ember bocor itu dengan punggung tangan. Hampir saja ia mengakui bahwa Park Chanyeol memang berhasil membuatnya terpe–ehm, itu tidak benar, oke?

"... Chanyeol?" terka Kyungsoo tepat sasaran.

"Iy–nggak! Bukan Chanyeol! Mana mungkin gue naksir cowok ogeb kaya dia?!"

"Oh, tau dari mana kalau dia bego? Lo stalkernya?"

"Y–ya bukan, lah! Dari mukanya aja gue udah tau kalau dia itu bego!"

"Jadi lo terus-terusan ngelihatin mukanya?"

"Nggak lah! Demi Tuhan, Kyungsoo!"

Kyungsoo mendengus. Ia bertepuk tangan keras–sebagai apresiasi untuk Baekhyun karena ia sangat jago dalam urusan mengelak–sambil melirik lelaki ber-eyeliner itu.

"Udah selesai pakai sepatunya? Kalau udah, ayo berangkat." Ucap Luhan menginterupsi.

Baekhyun segera berdiri begitu selesai mengikat sepatunya dengan simpul yang rapi. "Ayo! Kyungsoo ditinggal aja, boleh kan? Gue nggak mau dia jadi GloomySoo yang selalu melototin gue sepanjang jalan."

"Fix, Byun. Fix. Gue nggak bakal melototin elo. Tapi gue bakal nusuk lo dari belakang pakai garpu, gimana?" Kyungsoo bertanya dengan nada yang dimanis-maniskan, membuat bulu kuduk Baekhyun meremang seketika.

"Anjay, Kyungsoo sadis." Luhan ikut bergidik ngeri.

"Gue takut sama Kyungsoo."

"Gue juga, Bebek."

"Gimana kalau kita kabur aja?"

"Ide bagus. Tumben otak lo encer."

"Otak gue selalu encer, Han."

"Jadi istilahnya otak lo wujudnya cair, gitu? Kaya darah dong?"

"Iya, otak gue ca–LAH ANJIR, NGGAK GITU JUGA MAKSUD GUE, LU!"

"Lah terus?"

"Ya pin–"

"AYO KE EXO'RDIUM SEKARANG ATAU GUE BUNUH LO BERDUA! GUE BAKAL MUTILASI LO SEMUA DAN POTONGAN TUBUHNYA GUE KASIH KE MONGGU SAMA VIVI KALAU NGGAK BERANGKAT SEKARANG!"

Dan teriakan anarkis Kyungsoo pun menyudahi bisik-bisik tetangga yang dilakukan oleh Baekhyun dan Luhan.

.

.

.

To Be Continued

Tolong RCL oke? ^^


Ng, sebelumnya aku mau minta maaf. Ff tidak mengandung EYD, mohon dimaklumi ya ^^ Untuk update selanjutnya, kuusahakan secepat mungkin. Jadi, tolong ditunggu Terima kasih untuk readers yang mau meluangkan waktunya untuk membaca dan me-review ff ini :") Makasih banget buat dukungannya, aku terhura :'v Dan maaf banget kalau chapternya kurang panjang, aku bakalan berusaha biar satu chapter lebih dari 3000 words untuk kedepannya Terima kasih sekali lagi, dan see you again! ^^/