Disclaimer : Bleach selamanya punya Tite Kubo

Snow Memories

(Love, Blood, and Devil.)

Sudah 2 minggu lewat dan tak ada yang terjadi.

Tak ada yang mati.

Sepertinya gadis itu menepati janjinya.

Itu membuatku sedikit tenang.

Aku memandang bulan.

Bentuk bulatnya hampir sempurna.

Sebentar lagi purnama.

Aku jadi teringat akan perkataan gadis itu.

"Saat bulan purnama penuh. Disaat kemampuan zanpakutoumu mencapai batas maksimal, datanglah kehadapanku."

Apa maksudnya?

Aku rasa ia meremehkanku dengan berkata seperti itu.

Tapi, kenapa ia tampak begitu berharap?

Kenapa ia nampak begitu senang ketika aku mengatakan bahwa aku akan membunuhnya?

Seakan-akan ia adalah mahluk abadi yang mengharapkan kematian.

Heh, aku dewa kematian.

Itu sudah menjadi tugasku.

Aku kembali menekuni tumpukan dokumen dihadapanku.

Matsumoto, seperti biasa sedang bersantai sambil minum sake.

"Matsumoto!"


"Hah… hah…. Akh!" Gadis itu meronta.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.

Membutakan matanya.

Menulikan telinganya.

Ia jatuh ke atas tanah yang keras.

Merayap sambil mencengkram erat dadanya.

"Ohok! Uhuk… Ukh!" Ia mulai memuntahkan darah segar.

"Hah…hah.."

Untuk sejenak, terlihat pupil green turquoise itu berubah menjadi scarlet.

"Kenapa kau berhenti?"

"Aku… tidak akan… akh!" Ia terjatuh lagi.

"Kau tahu aku menginginkannya!"

"Berisik! Aku akan …. Menepati janjiku!"

"Kau tahu akibatnya kalau menentangku, , bukan?"

"Aku tak peduli! Akkkkhhhhh!"

Ia terjatuh. Benar- benar terjatuh. Ia mengerang dan merintih.

Perlahan ia berusaha untuk bangkit lagi.

Menahan setiap deraan rasa sakit yang dideritanya.

"Kau masih tetap keras kepala ya?"

Sebuah suara mengejutkannya.

"Ukh… Gre… ed…?"

Mahluk bersayap hitam itu mendekati gadis berambut seputih salju dihadapannya. Ia berjongkok tepat didepan gadis itu.

"Tebas aku."

"Jang…an… berlagak… bod..doh.. Greed…"

Gadis itu mengerang lagi.

"Aku tahu ini takkan banyak membantu. Tapi setidaknya ia akan senang kalau melihat darah bukan?"

"Aku… tak bisa… menebas..mu, Bodoh!"

Perlahan taring muncul dari sisi kanan dan kiri mulutnya. Ia mencengkram erat jubah si iblis.

"Akh…"

Iblis itu hanya menatap kasihan.

"Kalau begitu gigit aku. Itu takkan melukaiku terlalu fatal."

"Kau… AKHHHH!"

"Gigit aku bodoh!"

Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu meraih leher si iblis dan menenggelamkan taringnya disana.

"Ukh…"

Gadis itu tak menghisap darahnya.

Ia hanya menikmati sensasi pekatnya darah yang mengalir dan membasahi mulutnya.

Merasakan euforia yang hanya bisa ia rasakan sendiri.

Setetes demi setetes, cairan kental itu jatuh ke bagian depan kimono putih yang ia kenakan.

Perlahan ia melepas gigitannya dan tertawa lepas.

Bagaikan baru saja mendapatkan hadiah terindah dalam hidupnya.

Ia terhempas ke hadapan si iblis yang masih berusaha untuk menutup luka yang ia buat.

"Maaf aku jadi merepotkanmu, Greed."

Matanya telah kembali normal. Emerald yang berkilau.

"Kau memang bodoh. Sampai harus tersiksa begini demi bocah cebol itu."

"Dia tidak cebol. Dia masih kecil."

"Terserah. Kau memang selalu membelanya, kan?"

"Maafkan aku."

Perlahan ia bangkit. Dipegangnya tangan kiri si iblis yang menutup berusaha luka dilehernya.

"Mau apa kau?"

Gadis itu hanya terdiam. Ia memperhatikan bekas luka yang ia buat tadi.

"Lukanya dalam."

"Tidak penting. Mana mungkin aku tumbang hanya dengan gigitan kecil seperti ini."

Gadis itu menarik kembali tangannya. Tangan itu kemudian meraih zanpakutou di pinggangnya. Zanpakutou dengan ukuran normal dan bergagang putih. Dihiasi dengan ukiran kristal salju sebagai pembatasnya.

"Sreeett..." Zanpakutou itu terlihat berkilat tertimpa cahaya bulan. Ujungnya mengarah tepat pada leher si iblis.

"Hei apa yang akan kau lakukan!"

"Shisen ni Ochiru, Yukihime."

"Hei!"


"Akh!" Aku berteriak keras.

"Taichou!"

Dadaku sakit!

Rasanya seperti ada sesuatu yang mencakar- cakar rongga dadaku.

Nafasku mulai terengah-engah.

Seketika pandanganku menggelap.

Aku seakan-akan buta.

"Akhhhh...!" Aku hanya bisa berteriak.

Rasanya terlalu sakit!

Suara-suara menggema dikepalaku.

"Dasar anak sial, seharusnya kau tak pernah dilahirkan!"

"Tidak, dia tidak tahu apa-apa. Akulah yang bertanggung jawab atas segalanya!"

"Kau juga sama! Kau pikir kau bisa mengganti semuanya?"

Sekarang semua itu tak hanya lagi dalam bentuk suara. Namun namapak seperti gambar slide yang diputar di kepalaku.

Tolong, siapapun tolong aku!

Sakit, aku tak tahan lagi!

Hinamori…!

Matsumoto….!

Kurosaki…!

Akkhhhh!

Sakit! Sakit! Sakit!

Yu… Yuki-nee…!

Perlahan rasa sakit itu memudar.

Gambar – gambar itu menghilang.

Suara- suara itu lenyap.

Digantikan dengan hawa dingin yang menyejukkan.

Rasa sejuk yang terasa tak asing bagiku.

"Taichou!" Suara Matsumoto terdengar samar- samar.

"A… apa yang terjadi?"

"Taichou~" Kulihat Matsumoto menangis. Ia tidak sendirian.

Saat itu, dihadapanku, duduklah Hinamori dan Unohana taichou. Baru kemudian kusadari aku tergeletak di lantai. Nampaknya aku jatuh saat berteriak tadi. Kupegang kembali dada sebelah kiriku, tempat jantungku berada. Tak ada lagi rasa sakit yang tersisa.

"Anda baik-baik saja, Hitsugaya taichou?"

"Ya. Apa yang terjadi?"

"Menurut Matsumoto, tadi anda berteriak-teriak tanpa alasan yang jelas sambil memegang kepala anda. Karena itu Matsumoto memanggil saya dan Hinamori yang kebetulan lewat. Kata Matsumoto, anda sudah beberapa kali bertingkah aneh seperti tadi. Sebenarnya apa yang terjadi, Hitsugaya taichou?" Tanya Unohana taichou berantai padaku.

"Shiro-chan, apa kau tidak apa-apa?" Hinamori bertanya sambil menyodorkan segelas air putih padaku. Sekaliteguk aku menghabiskannya.

"Terimakasih. Aku tidak apa-apa."

"Hitsugaya taichou. Ada baiknya anda memeriksakan kesehatan anda. Anda Nampak sangat pucat."

"Ini… tidak ada hubungannya dengan kesehatanku. Aku rasa ini karena kemunculan gadis itu…"

"Yuki?" Tanya Matsumoto.

"Darimana kau tahu?" Aku terperanjak kaget. Jangan-jangan….

"Saya hanya menebak-nebak. Karena tadi taichou selalu meneriakkan nama itu berulang-ulang."

"Siapa Yuki itu, Hitsugaya taichou?"

"Dia…"

Deg!

Perasaan apa ini?

Tenggorokanku seperti tercekat sesuatu.

Dan aku tahu, aku tak boleh membocorkan siapa dia pada mereka.

Gadis itu,

Hitsugaya Yuki,

Kakakku…

"Dia… dia… aku juga tak tahu."

"Jangan berbohong, Taichou."

"Aku bersungguh-sungguh! Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?"

Aku menatap mereka bertiga.

Mereka saling bertatapan satu sama lain.

"Sudahlah, aku mau kembali kerja."

Tanganku ditarik seseorang.

Matsumoto.

"Tidak boleh. Taichou Nampak tidak sehat. Taichou belum boleh bekerja."

"Lepaskan aku Matsumoto. Kalau aku tidak menyelesaikan dokumen-dokumen itu memangnya kau mau menyelesaikannya?"

"Biarlah saya yang mengerjakannya. Taichou harus istirahat." Katanya tegas.

"Aku…"

"Shiro-chan… Kumohon…." Hinamori menatapku sendu.

Mata hazelnya bergerak- gerak, seakan ingin menangis.

Aku jadi tidak tega.

"Aku harus bagaimana?"

"Hitsugaya taichou harus beristirahat penuh satu minggu ini dibawah pengawasan saya. Anda tidak boleh bekerja sama sekali. Kalau anda masih memaksakan diri juga, saya terpaksa bertindak tegas." Ancam Unohana taichou padaku.

"Baiklah. Aku mengerti."


Aku benar- benar beristirahat.

Sesuatu yang tak pernah kulakukan seumur hidupku.

Atau seumur hidup yang kuingat.

Ternyata istirahat itu jauh lebih sulit daripada yang kuduga.

Tidak boleh bekerja,

Tidak boleh bertarung,

Selalu dilayani,

Menyebalkan!

Aku mengintip ruang kerjaku. Sekedar mengecek apakah Matsumoto bekerja dengan baik. Kukira aku akan melihat tumpukan dokumen setinggi gunung, ternyata tidak.

Yang kulihat adalah Matsumoto yang sedang sibuk mengerjakan dokumen- dokumen yang biasanya kukerjakan. Hebat bukan?

"Hei Toushiro! Kenapa kau mengintip ruang kerjamu sendiri?"

"Kurosaki! Apa yang kau lakukan disini?"

Dihadapanku, menjulang mahluk oranye setengah hollow. Siapa lagi menurutmu?

"Aku hanya sedang jalan-jalan. Sekalian menjengukmu. Rukia bilang kau sakit sampai harus ambil cuti 2 kali berturut-turut. Ternyata sehat begini kok."

Dia menepuk-nepuk kepalaku.

"Aku memang sehat. Mereka saja yang tak mengijinkanku bekerja."

"Kenapa?"

"Entahlah."

Aneh… Hei, kudengar kau berhasil mengalahkan monster itu ya? Siapa namanya? Snou… snow…"

"Snow White."

"Ah itu dia! Hebat kau, Toushiro."

"Dia bukan monster lagipula aku tidak mengalahkannya."

"Kalau begitu apa?"

"Aku juga tidak tahu. Hanya saja ia tak bisa mati."

"Tak bisa mati? Jangan-jangan dia Bounto?"

"Kurasa bukan. Tapi, mungkin ini ada hubungannya dengan iblis."

"Shiro-chan! Kenapa kau ada disini!"

"Suara seorang gadis mengagetkan kami berdua.

"Hi.. Hinamori."

"Sudah kubilang, kau harus istirahat kan. Eh Kurosaki-san apa kabar?"

"Baik."

"Shiro-chan, kau harus kembali ke kamarmu."

"Iya- iya aku tahu. Lagipula, panggil aku Hitsugaya-taichou!"


Bruk!

Aku kembali kekamarku.

Memandang langit-langit kamar yang berwarna mahoni.

Yuki.

Benarkah kau kakakku?

Kenapa kau membunuh banyak orang?

Kenapa kau meninggalkanku?

Apakah kau tak tahu betapa kesepiannya aku?

Kau itu jahat! Tapi kenapa aku tak bisa membencimu?

Kenapa aku malah merasa kasihan padamu?

Kenapa?

Jendela terkuak,

Angin sepoi berhembus.

Membawa harumnya wangi rumput yang baru dipotong.

Aku terbuai dan tertidur.


"Uhhh…" Aku terbangun ditengah malam.

Mataku terbuka perlahan.

Dingin sekali…

Kutatap jendela kamarku yang tadi nampaknya lupa kututup.

Eh, apakah mataku salah?

Sebuah siluet nampak duduk di sana.

Perlahan makin jelas.

Nampak seorang laki-laki berambut hitam tengah menatapku.

Walaupun masih samar, aku dapat melihatnya.

Mata merah dan sayap hitam.

Aku terlonjak dan sadar.

Iblis!

"Hei, sudah bangun rupanya."

"Siapa kau?"

"Aku? Siapa aku tidaklah penting. Yang penting adalah siapa kau."

Cepat kuraih Hyourinmaru yang tergeletak begitu saja disudut kamar.

"Mau apa kau kemari?"

"Hanya ingin melihatmu saja." Ia turun dan menatap seisi kamarku.

"Tak ada permen, tak ada mainan. Hmm… mungkin dia benar."

Kuacungkan Hyourinmaru padanya.

"Siapa kau?"

"Baiklah, namaku Greed. Aku ini iblis, kau puas?"

"Apakah gadis itu yang menyuruhmu kemari?"

"Gadis itu?"

"Yuki. Kakakku."

"Oh, benar. Kukira kau akan memanggilnya Onee-chan."

"Tidak mungkin."

Ia tersenyum licik. Memperlihatkan taringnya yang nampak tajam.

"Kasihan sekali dia. Mempertaruhkan nyawanya untukmu tapi kau sama sekali tak memperdulikannya."

"Apa maksudmu?"

"Laki-laki itu mendekatiku dan duduk dihadapanku. Mata rubynya menatap mataku.

"Kau itu sudah mati. Kakakmu menghidupkanmu kembali dengan ditukar dengan dirinya sendiri."

TBC~

Lala~

Turun peringkat jadi rated T!

Yah nanti kayanya bakal naek lagi ke rated M.

So review please?

Sebentar lagi Mii hiatus lho! :)