SLAVERY CONTRACT
YUNHO HARUS SELALU MEMATUHI APA YANG DIKATAKAN OLEH JAEJOONG, KALAU JAEJOONG BILANG MENGGONGGONG, YAA, MENGGONGGONG!
YUNHO TIDAK BOLEH BERLAKU SEENAKNYA, TIDAK ADA SKINSHIP SELAGI BUKAN JAEJOONG YANG MEMULAI!
KALAU YUNHO TIDAK MENGANGKAT TELEPON JAEJOONG SELAMA 5 MENIT, LIHAT SAJA!
KALAU YUNHO JUGA GAGAL MERAJUK JAEJOONG YANG SEDANG NGAMBEK, LIHAT JUGA NANTI!
YUNHO HARUS PULANG SAMPAI RUMAH PALING TELAT JAM 6 SORE.
KALAU JAEJOONG PULANG TIDAK ADA MAKANAN, LIHAT SAJA!
KALAU JAEJOONG PULANG DAN RUMAH BERANTAKAN, LIHAT JUGA NANTI!
KALAU JAEJOONG KELELAHAN, YUNHO HARUS MELAKUKAN APA SAJA AGAR MEMBUAT JAEJOONG KEMBALI FRESH, ENTAH ITU STRIPTEASE ATAU NGULET DI LANTAI.
SEMUA PERJANJIAN DI KONTRAK INI TIDAK BOLEH DILANGGAR, KALAU YUNHO MELANGGAR, MAKA JAEJOONG TIDAK AKAN SEGAN UNTUK MENGHUKUM YUNHO.
TAPI MESKIPUN BEGITU, YUNHO TETAP HARUS MENCINTAI JAEJOONG! –DAN MENJADI BUDAK. HAHAHAHAHAHAHA.
KJJ.
Yunho baru saja selesai membaca selembar kertas—yang Jaejoong bilang kontrak seumur hidup—berisikan serentetan kalimat nista dengan huruf kapital yang menyalahi aturan EYD tersebut, dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan lagi.
Ia menghela nafas panjang.
Menghantamkan kepalanya ke meja keras-keras.
"APA SALAHKU YA, TUHAN! KENAPA BEBAN HIDUPKU SEMAKIN BERAT SAJA ENGKAU BERIKAN?! KENAPA ENGKAU MENGIZINKANKU UNTUK BERTEMU DENGAN LELAKI CANTIK YANG NISTA TETAPI AKU CINTAI DENGAN SEPENUH HATI, JIWA DAN RAGA ITU?!" teriaknya frustasi, ia menendang-nendang lantai dan menggeletakkan dirinya di lantai tak berdaya.
"KENAPA YA TUHAN... KENAPAAAAAAAAAAAAAAAA?!"
.
.
Because of Yunho's Revenge
Dong Bang Shin Ki / YunJae / Humor / Crack Fanfiction
I dont own the character(s)
Summary : Yunho yang menyadari betapa dalamnya cinta miliknya untuk Jaejoong. Sementara Jaejoong yang masih tidak bisa ditebak. Bisakah mereka bersatu? #EYAK #TAMATNIH
Don't blame me because I post weird thingy like this~
.
.
Yoochun menggigit bibir bawahnya pelan ketika menyaksikan keadaan sahabatnya yang tercinta tersebut. Yunho, playboy gadungan yang urakan tapi untungnya kaya raya dan berwajah tampan tersebut, kini mengalami apa yang mereka bilang 'jungkir-balik' di dalam sebuah kehidupan.
Ia tidak tega, sungguh tidak tega.
Yunho yang biasa hidup dikelilingi perempuan-perempuan cantik—yang bodoh—dan merupakan pribadi yang akrab dengan pesta pora, kini harus mengalami fase yang dialami oleh lelaki pada umumnya, yaitu; suami-suami takut istri a.k.a SSTI.
"Aku hanya bisa mengucapkan," Yoochun menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya, "selamat menempuh hidup baru dengan orang yang kau cintai."
Yunho—yang sedari tadi tergeletak di lantai kamarnya dan terisak meratapi nasibnya yang malang—dan sempat menghentikan ratapannya untuk menunggu perkataan apa yang akan dilontarkan oleh sahabatnya—kini menangis makin menjadi-jadi. "Sialan, ada apa dengan kata orang yang kau cintai itu, jidat!?"
Yoochun hanya meringis ketika melihat Yunho sekarang ini tengah menjambak rambutnya kuat-kuat dan berguling kesana kemari sambil berteriak histeris.
"Yunho.."
"APA?!" sentak Yunho sambil menatap Yoochun tajam.
"K-kenapa kau jadi marah.." Yoochun mengerjap-kerjapkan matanya kebingungan.
Yunho tertawa sinis, ia bangkit berdiri dan mendekati Yoochun, "kau bertanya kenapa aku marah? KAU BERTANYA KENAPA AKU MARAH?!"
Yoochun mengangguk pelan sambil menelan ludahnya.
"APA PERLU AKU MEMBUKA PAKSA DAHIMU YANG LEBAR INI DAN KU KELUARKAN SEGALA ISI MEMORI PERKATAAN YANG SEMPAT KAU LONTARKAN PADAKU, HAH?! PERLUKAH?!" teriak Yunho tepat depan wajah Yoochun. Yoochun yang masih tidak mengerti ada apa dengan Yunho ini hanya bisa membulatkan matanya dan mengusap wajahnya yang banjir akan saliva Yunho. Yeaks.
Yunho menghela nafas panjang, baru kemudian melanjutkan kata-katanya. "Jadi, gue marah karena..."
Flashback
"Sialan, sigigantismeitu bawa semua cemilan kita!" gerutu Yoochun sambil membuang sampah bekas plastik roti Changmin.
"Lagipula untuk apa juga mereka datang memberitahukan keadaan si Jaejoong itu, memangnya aku akan peduli dan menangisinya apa.No way!" Yunho menguap malas.
"Eh, tadi kata si bohay itu apa? Jaejoong amnesia?" ujar Yoochun tiba-tiba.
"Ho'oh."
"Kau bisa melancarkan ajang balas dendammu, Yun! Manfaatkan dia selagi ia masih amnesia! Buat dia merasakan sakit yang kau rasakan!" ujar Yoochun berapi-api. Yunho ngeri. Muka Yoochun serem banget.
Yunho menaikkan sebelah alisnya, merasa tertarik ia duduk tegak. "Tapi bagaimana?"
"Sini!Psst psst psst!"
Flashback end
"Jadi gitu, Chun.." ujar Yunho merangkum tuntas perkataannya barusan, sementara Yoochun hanya ber-ooh-ria.
"Tapi kau marah karena apa, Yun?" tanya Yoochun polos—atau lebih tepatnya bodoh.
Yunho menarik nafas dalam-dalam, "YA KALAU SAJA WAKTU ITU KAU TIDAK MENYURUHKU UNTUK BALAS DENDAM PADA SI KIM JAEJOONG YANG CANTIK ITU, AKU TIDAK AKAN SEPERTI INI SEKARANG, PARK YOOCHUN! KALAU SAJA KAU TIDAK ASAL BICARA PADAKU SAAT ITU MUNGKIN AKU TIDAK AKAN MENDERITA SEPERTI INI!" semprot Yunho dengan sekali nafas—dan lagi-lagi menimbulkan hujan lokal tepat di wajah Park Yoochun.
"Ooh, jadi semua ini salahku kenapa kau menderita seperti ini sekarang?" tanya Yoochun enteng.
"Iya, ini semua karena kau!" jawab Yunho langsung.
"Ya nggak bisa gitu, dong!" balas Yoochun tiba-tiba berang—sepertinya dia baru mengerti maksud dari perkataan Yunho sejak tadi. "Kau tidak bisa melimpahkan semua kesalahan padaku!"
"Ya kenapa nggak bisa?!"
"Ya gak bisa lah!"
"Memangnya kenapa nggak bisa?! Kenapa gak dibisa-bisain aja?!"
"Ya gak bisa gitu dong!"
"Ya kalo gitu ya masa gini!"
"Ya nggak gitu juga dong!"
"Gini aja lah!"
"Gitu aja!"
"Gini!"
"Gitu!"
"Gini!"
"Gituu!"
"AAAAAAAAAAAAAAAA!"
Kemudian merekapun berakhir dengan saling menjambak unyu dan berguling-guling di atas lantai dengan damai.
.
.
Jadi, hari ini adalah hari ke-10 dimana Yunho telah resmi menjadi kekasih—atau budak—Kim Jaejoong-nya yang tercinta itu. Lalu, pada saat ini, kita dapat menemukan keadaan dimana Jaejoong tengah bermalas-malasan di sofa empuk di apartemennya, sementara Yunho keliling kesana-kemari dengan ikat kepala, dan sebuah vacuum cleaner di tangannya.
"Disana, Yun, lukisan di dinding sebelah sana masih ada debunya, coba kau bersihkan." Perintah Jaejoong sambil mengangkat kakinya ke lengan sofa dan asyik membaca majalah.
Yunho menghela nafas panjang, bukannya ia suka diperlakukan seperti ini, tetapi untuk mempertahankan harga diripun ia tidak mampu—karena harga dirinya sudah hancur tepat ketika Jaejoong pulih dari amnesianya. "Iya, boo."
"Oh, Yun!" panggil Yunho, Yunho tidak menjawab tetapi menghentikan aktifitasnya, menanti perkataan Jaejoong yang berikutnya. "Jangan panggil aku dengan sebutan boo ketika kau sedang membersihkan rumah, rasanya menggelikan."
PRANG
Yunho sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada di dekatnya hingga hancur berkeping-keping setelah menghantam lantai.
Ingin rasanya Yunho menyedot Kim Jaejoong yang cantik itu masuk ke dalam vacuum cleaner agar ia dan rasa cintanya yang memperbudakinya ini menjadi butiran debu.
.
.
365 hari ditambah lagi dengan 365 hari berikutnya
"Yunnie~"
"Erhm.."
"Sarapan sudah siap, ayo bangun, cepat makan dan bergegaslah ke kantor~ jangan sampai terlambat hari ini," bisik Jaejoong manis tepat di telinga Yunho yang kini masih bergelung di dalam selimut. "Yunnie-bear~ bangunlah~"
"..." Yunho langsung terkesiap, ia langsung mendudukkan dirinya dari tidurnya dan memandang takjub pada sosok yang kini tepat berada di hadapannya, yang beringsut naik dan duduk di atas pahanya, sosok yang kini memandangi Yunho intens dengan kedua mata bulatnya yang lucu.
"Joongie.. ada apa?" tanya Yunho kebingungan.
Selama dua tahun lamanya Yunho dan Jaejoong tinggal bersama—setelah kontrak sialan itu—dan selama dua tahun itu juga Yunho tidak pernah melihat aegyo milik Jaejoong—yang hanya bisa ia lihat ketika Jaejoong amnesia.
"Kok ada apa," Jaejoong menggembungkan kedua pipinya, "Joongie membuatkan sarapan untuk Yunnie!"
Yunho menyandarkan dirinya di sandaran tempat tidur, masih memandangi Jaejoong yang kini mengerucutkan bibirnya lucu—dan itu aneh—Jaejoong tidak pernah seperti itu—Jaejoong si ibu tiri—atau istri bengis—yang jahat itu tidak pernah seperti itu.
"Sa..sarapan?" ulang Yunho, memastikan bahwa telinganya berfungsi dengan baik.
Jaejoong mengangguk imut. "Akhir-akhir ini Yoochun bilang bahwa kau sering melakukan kesalahan dalam pekerjaan, dan kulihat akhir-akhir ini Yunnie lesu dan pucat, maafkan Joongie karena tidak pernah memperhatikan Yunnie-bear selama ini, mulai sekarang, Joongie akan rajin memperhatikan Yunnie, dan memasak agar Yunnie makan dengan sehat, bukan junk food~!" ujar Jaejoong panjang lebar, masih dengan wajah imutnya.
Yunho membulatkan matanya—takjub.
Bahagia—ya.
Kaget—ya.
Horor—ya.
"Yunnie ayo makan~" Jaejoong merengek dan menarik Yunho yang masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
"Jadi begitu, teman-temanku sekalian.."
Yoochun dan Changmin seketika memandangi Yunho dengan tatapan tidak mengerti, "bisa kau jelaskan apa yang terjadi padanya pada malam sebelum kejadian?"
Yoochun, Changmin dan Yunho kini tengah berada di sebuah restoran milik Changmin yang berlokasi tidak jauh dari perusahaan dimana Yoochun dan Yunho bekerja. Seperti rapat dewan perwakilan rakyat, mereka benar-benar fokus dan serius pada topik bahasan mereka pada hari ini.
"Aku tidak tahu pasti, karena semalam aku lembur dan pulang cukup larut malam dan sesampainya di rumah, Jaejoong sudah tertidur pulas, jadi setelah mandi dan menonton TV sebentar, aku langsung tidur." Jawab Yunho selengkap mungkin.
"Apa kau tahu apa saja yang ia lakukan ketika kau bekerja?" tanya Yoochun seraya menyesap cappuccino-nya.
"Pagi itu, dia bilang kalau ia hanya akan berada di rumah, dan—itu aneh. Biasanya ia tidak pernah mengatakan akan berencana mau melakukan apa, tapi dua hari belakangan ini aku merasa aneh, tidak biasanya ia berlaku seperti itu." Ujar Yunho.
"Dua hari belakangan?" tanya Changmin dan Yoochun bersamaan.
"Iya," Yunho menyesap hot coffee-nya yang mulai mendingin, "hari pertama dia memanggilku, aku menunggunya bicara cukup lama, tapi ia hanya terdiam dan aku tinggal saja ke kantor."
"Terus terus?"
"Kemarin, dia bilang kalau ia ingin jalan-jalan berdua saja denganku.. Kau tahu sendiri kan bagaimana watak saudaramu itu, Min? Dia bukan seseorang yang bisa merengek untuk liburan dengan manja seperti itu, apalagi untuk seseorang yang sudah mempeerbudaki pria tampan sepertiku ini selama dua tahun lamanya." Balas Yunho.
"Lalu hari ini ia membangunkanmu dengan mesra bahkan menyiapkan sarapan untukmu? Kemudian berjanji untuk terus membuatkanmu sarapan demi kesehatanmu?" lanjut Yoochun.
"Luar biasa.." gumam Changmin.
"Baru saja minggu kemarin aku jatuh dari tangga karena ia suruh untuk membersihkan debu di langit-langit rumah..." gumam Yunho. "Sebenarnya dia salah makan apa?"
.
.
"Joongie, aku pulang." Panggil Yunho sambil melepaskan mantelnya dan menggunakan sendal rumahnya.
Yunho mengernyitkan dahi ketika tidak ada respon dari yang dipanggil. "Jaejoong?" Yunho mulai mencari ke seluruh ruangan di apartemen mereka, dan ia tidak juga menemukan Jaejoong, dihubungi juga nomor teleponnya tidak aktif.
"Aish, apa dia pergi dengan teman-temannya?" gumam Yunho pada dirinya sendiri dan menghela nafas panjang, ia merebahkan dirinya di ranjang dan tanpa sadar mulai memejamkan mata.
.
.
"Errhh.."
Yunho bergerak tak leluasa, ia ingin memiringkan badannya namun terasa berat sekali, susah payah ia membuka matanya dan menemukan Jaejoong kini tepat berada di atas tubuhnya, dan memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
"Y-Yunnie.." isak Jaejoong sambil memeluk Yunho.
Yunho yang baru saja bangun dari tidurnya hanya bisa terdiam—dalam mengekspresikan keterkejutannya—dan membalas pelukan Jaejoong. "Hmm, Jaejoongie.. waeyo?"
"Yunnie.. Yunnie" Jaejoong menyentuh kedua pipi Yunho sementara Yunho hanya membulatkan matanya memandangi Jaejoong, "aku kira Yunnie akan meninggalkanku... maafkan aku, Yun.. maafkan Joongie.."
Sekarang wajah Yunho basah oleh air mata Jaejoong—yang entah menangis karena apa. "Sssh, uljima.. sekarang tidurlah, masih pukul tiga pagi, Joongie.."
"Yunnie.. Yunnie marah pada Joongie?"
Hah... apa lagi sih...
"A-aniyo, Joongie.." Yunho duduk dan menidurkan Jaejoong di sebelahnya kemudian merebahkan diri. Yunho mengelus pipi Jaejoong, "Jaejoongie sebenarnya akhir-akhir ini kenapa, hm?"
"A-aku..." Jaejoong meraih ponselnya dan menyerahkannya kepada Yunho, sementara di layar ponsel Jaejoong tertera sebuah judul, seperti judul fiksi, pikir Yunho.
"Aku membaca cerita ini di internet dan aku menyukainya, ceritanya tentang seorang lelaki yang jatuh cinta dengan lelaki cantik, namun karena lelaki cantik itu terlalu keterlaluan padanya, jadi lelaki itu meninggalkan lelaki cantik tersebut, nama kedua lelaki itu mirip seperti nama kita, Jaejoon dan Yuno." Jelas Jaejoong masih sambil terisak.
Yunho hanya diam sambil memandangi ponsel Jaejoong dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
"Pada akhirnya, lelaki cantik itu merengek mati-matian untuk mendapatkan lelaki itu kembali, tetapi lelaki itu memberi syarat agar ia kembali.. dan itu adalah bagian kesukaanku, yang ini.." ujar Jaejoong sambil menunjukkan sebuah chapter—yang dengan sangat jelas terpampang peringatannya.
"NC-21..." gumam Yunho dengan pandangan horor.
"Umm.. dan.. Joongie ingin mencobanya... dengan Yunnie.." gumam Jaejoong sambil menundukkan kepalanya.
Yunho terdiam.
"Yun.."
Yunho sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia tidak bisa menolak atau apapun itu, karena Jaejoong sudah memonopoli tubuhnya—diatas—dan bermain dengan bibirnya.
Awalnya sih Yunho masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi..
...tapi semua berubah ketika senyum iblis itu terpeta jelas di bibir hatinya.
Anggap saja ini adalah balasan yang harus diterima Jaejoong setelah membuatnya tergila-gila dan memperbudaknya selama dua tahun ini. Meskipun Yunho sekalipun tidak terlalu mengerti bagaimana bisa sebuah fanfic bisa merubah kelakar seorang Jaejoong.
Tidak ada yang tahu, dan jangan ada yang mencari tahu.
Yang penting Yunho tidak hidup menderita seperti apa yang selalu author kehendaki kepadanya di fanfic ini.
.
.
END.
Terima kasih untuk kalian yang membaca fanfic ini, maaf sekali kalau update nya harus baru sekarang, ngetik chapter ini juga mempertaruhkan hidup dan mati sebenarnya.. ahaha. Terima kasih untuk semuanya, maaf juga kalau fanficnya makin kacau makin kesini. Terima kasih sekali lagi
