CHAIN
Chapter 2
Moon's laughing
Warning: see the chapter 1
Yuuki termangu di kelas dengan menopang sebelah tangan yang tertumpu pada meja. Mengacuhkan sapaan dari beberapa teman sekelasnya. Pikirannya sedang tidak pada tempatnya saat ini.
Semalam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara Ayah asuhnya, Kaien Cross dengan salah satu guru Night class yang tak lain adalah Yagari sensei. Pembicaraan yang tak sengaja ia curi dengar tatkala dirinya melintasi ruang pribadi Kaien saat tengah menuju dapur untuk minum.
Awalnya, Yuuki tidak memperdulikan kedua pria dewasa yang tampak berbicara serius semalam karena tidak sopan jika ia sengaja menguping. Namun langkahnya terhenti ketika nama saudara angkatnya disebut-sebut dalam pembicaraan mereka. Hanya samar terdengar, dan Yuuki tidak begitu mengerti apa permasalahan yang dibahas oleh kedua pria dewasa itu. Pasti sangat serius bila melihat raut wajah keduanya. Yang bisa ia tangkap sekilas hanyalah nama Zero yang disebut dan nama seseorang lain yang tak bisa ia dengar secara jelas.
Yuuki mendesah. Menatap langit melalui kaca jendela kelasnya dimana langit tampak mendung. Tapi tidak juga mengindikasikan akan datangnya hujan. Perasaan khawatir melandanya sedari dari membuat gadis manis ini hanya bisa termangu dan menunggu.
Tapi mengkhawatirkan apa?
Digelengkan kepalanya, hingga anak-anak rambut kecoklatannya melayang.
Kekhawatiran Yuuki sepertinya lebih ditujukan pada saudara angkatnya, Zero Kiryuu. Dan kekhawatiran itu semakin diperkuat karena pemuda berhelai perak terang itu tidak jua kembali ke kelas semenjak ia membolos dijam pelajaran kedua.
'Zero...kemana kau?' batinnya mendesah.
Yuuki beranjak dari kursi. lalu keluar menemui siapa saja yang sekiranya berjumpa dengan Zero hari ini. Berharap bertemu pemuda itu dalam keadaan baik-baik saja.
.
.
.
Ruangan itu diterangi hanya dengan lilin-lilin putih disekelilingnya. Membuat ruangan temaram dalam jarak pandang kurang dari satu meter.
Disana, tepat ditengah. Seorang pemuda tengah terbaring. Wajahnya pucat serta peluh membasahi sekitar dahi . Membuat ia terlihat bak putri tidur yang menanti pangeran untuk membangunkannya.
Suara langkah berat terdengar mendekat. Menghampiri sosok bersurai perak terang itu yang tengah terbaring.
Senyumnya mengembang begitu melihat sosok tak berdaya itu. Tangan kirinya terlihat membawa sebuah gelas sloki berisi cairan berwarna merah pekat.
"Ck..ck...kau terlihat seperti putri tidur Zero-kun. Sangat cantik." Desahnya membungkuk mendekatan bibirnya ke telinga Zero. Sapuan nafas hangatnya berhembus disekitar telinga pemuda itu. Sementara tangan lain yang terbebas mengelus sisi wajah putih porselen itu.
Si pemuda menggeliat dibawah sadarnya. Nafas yang tadinya tenang kini kembali memburu. Dia bernafas seolah tengah dicekik hingga sulit menghirup oksigen lepas di udara. Nafasnya tercekat dan putus-putus. Sayang, matanya setia tertutup menyembunyikan iris seindah Amethyst didalamnya. Ternyata naluri buas vampire sedang bertarung menguasai kesadaran pemuda itu. Membuatnya merintih melawan nafsu yang menginginkan cairan merah pekat didalam gelas sloki tersebut. Demi menuntaskan sebagian rasa 'lapar' nya sebagai calon vampire, yang sayangnya berlevel paling rendah dalam strata kaum para Vampire.
Vampire level E.
Vampire terkutuk yang tidak bisa menguasai rasa lapar mereka dan menancapkan taring mereka dengan brutal terhadap kaum manusia. Vampire yang harus dimusnahkan bahkan dengan sesama kaumnya. Tapi tidak bisa disalahkan juga, mengingat Level E sendiri adalah mantan manusia yang tergigit oleh kaum Pureblood, seperti Zero yang sengaja digigit oleh Shizuka Hiou. Untuk membuat pemuda itu menderita selama hidupnya dan lebih baik memilih kematian sebagai solusi akhir terbaik.
Para calon Level E harus mempertahankan eksistensi manusia mereka serta rasionalnya dengan meneguk cairan darah dari kaum Pureblood itu sendiri. Setidaknya, memperlambat proses tranformasi dari manusia ke Level E selama mungkin. Bila tidak mendapat asupan darah dari para pureblood, maka habislah mereka jatuh pada naluri alami para Vampire.
"Tolong Anda tidak mempermainkan saudaraku, Rido-sama. Anda lihat? Bisa-bisa Aniki ku segera berubah ke Level E bila Anda lama meminumkan darah dalam gelas itu." Sela Ichiru yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari kedua orang tersebut. Kesal kakaknya dipermainkan oleh pria bertampang licik itu.
Sosok pria yang di panggil Rido hanya tersenyum. Orbs onixnya menatap meremehkan terhadap pemuda dengan wajah yang serupa dengan pemuda yang berbaring dihadapannya ini. Tidak menggubris perkataan Ichiru.
Tak gentar, Ichiru menatap tajam Rido.
Dilain pihak, Zero berjuang mempertahankan kesadarannya. Ia sangat ingin darah saat ini. Apalagi aroma manis dalam gelas yang dipegang Rido semakin membangkitkan nafsu laparnya akan cairan pekat berbau besi itu.
Rido mengerling terhadap Zero yang menggeliat dalam kegelisahan.
"Tidak sabaran heh? Saudaramu ini ternyata begitu menyukai apa yang ada didalam gelas ini," Desis Rido mendekatkan gelas sloki itu tepat didepan hidung Zero yang semakin gelisah.
"Bersabarlah sayang, kau akan mendapatkannya setelah ini." Kekeh Rido.
Ia menikmatinya. Menikamati kegelisahan Zero.
Dia menggoyangkan gelas tersebut sambil bermain-main dengan kesadaran pemuda itu sebagai manusia. Yang hampir habis rasionalnya bila cairan kental darah itu tidak segera ditrasfusikan ke tubuhnya.
Perlahan, Pria manipulatif yang akan selalu terlihat muda abadi itu menuangkan isi dari gelas tersebut kedalam rongga mulut Zero. Sedikit demi sedikit.
Zero bak bayi yang meminum susu dengan rakusnya tanpa ia sendiri sadari begitu darah melewati kerongkongannya. Meneguk hingga habis isi gelas itu, membuat senyum licik Rido terkembang puas. Diusapnya sudut bibir Zero yang ternoda oleh cairan darah, memasukkan beberapa jemari yang terkena cairan tersebut kedalam mulut pemuda berhelai perak itu. Otomatis Zero menghisap jemari Rido seperti menghisap lolipop. Baginya, jari-jari tersebut jauh lebih manis dari permen apapun didunia.
Ichiru mendecih ditempatnya. Sebuah perasaan tidak nyaman menyerang. Melihat kakak yang tidak berdaya hanya karena segelas berisi cairan darah. Bahkan menghisap dan menjilati –walau tanpa Zero sendiri sadari, dengan gerakan lidahnya yang terkesan sensual. Membangkitkan gairah dewasanya secara manusiawi.
Berangsur-asur Zero kembali tenang setelah puas mengecap sisa-sisa darah yang ada di jari-jari tangan Rido. Nafasnya tidak lagi memburu seperti beberapa waktu lalu. Ia kembali terlelap setelah lelah berjuang menahan hawa nafsunya sendiri. Tidak menyadari akibat dari setelah ia meminum darah tersebut. Pikiran kelabu nya tadi menutup kenyataan akan darah siapa yang ia minum. Nalurinya hanya mengatakan bahwa ia hanya membutuhkan darah, tidak perduli darah siapa saja yang harus ia hisap demi nafsu laparnya.
Rido memandang puas akan apa yang ia lakukan barusan.
"Kau bisa membawa kakakmu kembali, karena apa yang kuinginkan sudah kudapatkan." Desisnya membelai pipi-pipi pucat milik Zero.
"...Zero Kiryuu sudah mejadi milikku." Lanjutnya diiringi kekehan pelan.
Rido melangkah menjauhi tubuh Zero, berjalan melewati kembar Kiryuu lainnya.
"Terima kasih dan senang bekerja sama denganmu, Ichiru-kun." Bisiknya tepat ditelinga. Ichiru membatu ditempatnya. Tidak membalas sepatah katapun ucapan dari Pureblood licik tersebut.
Kesunyian meruang begitu Rido menghilang dari ruangan rahasia itu.
Bau tanah serta lumut-lumut yang menjalari dinding bata ruangan tersebut menguar begitu udara masuk dari sela-sela ventilasi satu-satunya yang ada disitu.
Kini hanya tinggal mereka berdua. Ichiru mendekati tubuh tak berdaya kakaknya. Mengamati wajah identik yang mereka miliki. Wajah yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya, dibelainya, ataupun mengusap dengan saling menempelkan pipi mereka seperti saat mereka kecil dulu. Dia rindu kenangan yang dulu. Keadaan sekarang tidak memungkinkan untuk mereka lakukan kembali. Waktu sepuluh tahun sungguh terbuang sia-sia tanpa mereka lewati bersama-sama.
Helai perak gelap Ichiru menutupi sebagian wajahnya kala ia tertunduk. Tangannya bergetar, membuatnya terpaksa merapatkan kepalan tangan demi meminimalisirkan getaran yang sedari tadi ia sembunyikan.
" ...Maaf Aniki." sesalnya.
Entahlah. Ichiru merasa sudah membuat kesalahan besar. Dari awal ia sadar, ia telah bersekutu dengan seorang iblis. Dan akan menerima dosa yang tidak bisa ia hapus meski dengan kematiannya nanti.
Ini mungkin adalah awal tragedi yang tidak terduga.
Sepasang Amethyst mengerjap menyesuaikan dengan cahaya remang-remang dari lampu meja. Hal pertama yang tertangkap oleh retina matanya adalah wajah khawatir dari saudara perempuan angkatnya. Yuuki Kurosu.
"..Yuuki.." desahnya berusaha membangunkan tubuhnya yang masih lemah.
Dengan dibantu oleh Yuuki, ia menyandarkan tubuhnya pada Headboard tempat tidur. Baju seragamnya telah berganti dengan pakaian biasa.
"Mana Ichiru?" tanyanya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar tidurnya. Ia ingat siapa yang terakhir ia jumpai sebelum akhirnya kesadarannya hilang.
"Dia sudah kembali kekamarnya setelah menggantikanmu pakaian." Jawab Yuuki memberikan segelas air putih pada Zero.
Zero mengernyit ketika air putih itu diteguknya. Tenggorokannya tampaknya sudah terlalu lama tidak dialiri air murni mengingat begitu sakit ia untuk meneguk air putih walau hanya segelas.
Yuuki duduk disampingnya, tersenyum.
"Apa yang terjadi Zero?"
Zero mengusap wajahnya sejenak. "Entahlah, aku tidak mengingat apapun selain rasa panas ditenggorokanku saat ini."
Yuuki menggenggam tangan saudara angkatnya tersebut. Mengusap-usapkan telapak tangan Zero yang terasa lebih sejuk dari biasanya. Rasa khawatir yang mendera sedari tadi terjawab sudah ketika mendapati pemuda berhelai perak ini digendong dalam keadaan tidak berdaya oleh kembarannya sendiri. Ichiru tidak mengatakan apa-apa ketika ia melontarkan beberapa pertanyaan pada pemuda itu. Hanya diam sembari meletakkan saudaranya ke tempat tidur dan menggantikan pakaian Zero yang tidak terusik sedikitpun terhadap gerakan-gerakan kecil pada tubuhnya.
"Rasa lapar menyerangmu lagi? Kau bahkan tidak mencoba 'meminta' darahku akhir-akhir ini." Tanyanya cemas. Zero mengeraskan ekspresi mukanya mendengar pertanyaan Yuuki. "Aku mencemaskanmu Zero." tandasnya lagi.
Ketakutan Yuuki tentu beralasan mengingat Zero tidak mendapatkan asupan darahnya beberapa minggu terakhir ini. Apa Zero berusaha menekan rasa laparnya? Pikir Yuuki.
"Kau tidak usah berlebihan mengkhawatirkanku Yuuki. Aku tidak mau menyakitimu bahkan sekedar untuk menghisap darahmu. Saat ini aku masih seratus persen manusia." Ujarnya. Nada ragu sedikit terdengar dari ucapannya.
Matanya memandang teduh pada Yuuki. Ia sangat menyayangi Yuuki. Bahkan gadis tersebut begitu berharga hingga ia dan Kaname harus melindungi gadis manis ini dari bahaya apapun yang nanti akan menimpa Yuuki.
Bloody rose tergeletak manis diatas lemari pakaiannya. Senjatanya itu adalah pertahanan terakhirnya sebagai manusia. Mungkin ia pun akan diakhiri oleh senjatannya sendiri.
"Kau ingat janjimu,Yuuki?"
Yuuki mendongak, wajahnya mengeras. "Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak Zero Kiryuu." Ucapnya tegas. Zero tersenyum menanggapi. Diletakkan telapak tangannya diatas kepala dengan helai coklat gelap itu. Menghembuskan sejenak nafasnya.
"Berarti kau mengingatnya dengan sangat baik." Tegas Zero. sebuah permintaan yang memaksa. Bahkan tanpa izin dari yang dimintai janji olehnya. Yuuki hanya mendenguskan hidungnya. Ia cukup lelah oleh permintaan tidak masuk akal dari saudara angkatnya ini. Baik dirinya atau Zero sadar betul bahwa ia tidak akan mengabulkan permintaan konyol tersebut. Permintaan untuk menghilangkan nyawa saudaranya sendiri adalah permintaan paling gila yang pernah Yuuki dengar.
"Sudah malam sebaiknya kau kembali kekamarmu." Ujar Zero mengalihkan pembicaraan antara mereka.
Sebuah ekspresi keberatan tercetak diwajah manis gadis itu. Ia masih khawatir pada pemuda perak ini yang tampak tidak berdaya. Bukankah kondisi Zero dalam keadaan yang tidak stabil. Bisa saja naluri Vampirenya menyerang kembali disaat dirinya tidak bersama pemuda Silverette dihadapannya ini.
Zero menangkap raut kekhawatiran itu.
"Bisakah kau mempercayaiku saat ini? Aku tidak akan apa-apa. Jadi tidurlah Yuuki, kau tampak lelah."
"Kau yakin?" tanya Yuuki balik.
Zero mendesah berat. Dibalik sikapnya yang manis, ternyata Yuuki adalah gadis keras kepala yang akan ngotot pada keyakinannya.
"Percayalah pada insting manusiaku saat ini." Jawabnya.
Yuuki mendesah,"Baiklah. Tapi kalau terjadi apa-apa berjanjilah untuk menghubungiku secepatnya." Tegas Yuuki. Matanya melotot meyakinkan, membuat Zero tersenyum kecil dan mengiyakan kata-kata gadis itu. Setelah merasa yakin, Yuuki beranjak dari tempat tidur.
"Tidurlah Zero-chan. Besok jangan membolos, absensimu sungguh buruk akhir-akhir ini." Ucapnya diambang daun pintu. "Oyasuminasai..." lanjutnya. Meninggalkan suara bedebam pintu kamar yang tertutup.
Tinggallah Zero sendiri dikamar. Pikirannya mencoba mengingat kejadian ketika ia pingsan. Tiba-tiba suara seseorang menggema diotaknya. Suara berat dan penuh intimidasi dari kata-kata yang diucapkan.
'Zero...'
Tapi siapa?
'...Zero...'
'Siapa?!'
'Zero...milikku.'
"U –ukhhh..! henti...kan!" Zero menutup daun telinganya mencoba menngindahkan panggilan tidak berwujud itu.
'Saatnya akan segera tiba, Zero-kun...'
Suara panggilan itu menggema lagi. Suara yang terus memanggil namanya.
Nafasnya memburu. Rasa panas merayapi sekujur tubuhnya, membuat ia berpeluh seketika. Rasa mual pun menyerangnya tapi apa yang ia ingin muntahkan seolah tertahan di tenggorokan. Membuatnya merintih, mencengkeram erat bagian depan kaos yang dikenakannya.
'...kau milikku...'
"urgh! Brengsek!Ha–hhah...hah..!" makinya kesal. Tubuhnya semakin panas bagaikan api yang menyala didalamnya. Samar-samar, kelebatan seseorang mampir diingatannya. Wajahnya tidak jelas tertutup oleh poni depan yang menutupi sebagian matanya. Rambut hitam mengkilat serta senyum licik yang terpasang diwajah pria tersebut. Rasanya, pria dalam bayangannya mirip seseorang yang dikenalnya.
'Kana...me...' desisnya pelan. Nafasnya semakin tercekat. Dan pikirannya hanya mampu mengingat nama Pureblood barusan.
Zero merasakan tepukan hangat dibahu yang mengagetkannya. Sontak ia menarik pemilik tangan tersebut, dan merasakan dinginnya tangan itu yang tidak memiliki suhu hangat seorang manusia."Ka..name..ukkhh!" sentaknya.
Kaname, sosok yang menepuk bahu pemuda beriris violet dihadapannya itu balik terkejut. Mendapati pemuda yang dikasihinya dalam keadaan sekarat. Pemuda dihadapannya itu terlihat menutup mulutnya, mencoba menahan apa yang hendak keluar hingga air liur menetes dari sela jemari ramping miliknya. Dengan satu gerakan cepat Kaname menarik diri pemuda itu dalam pelukan.
"Panas..." satu kata yang tertangkap oleh indera pendengar Kaname, yang kini memeluk tubuh bergetar Zero.
Zero mengeratkan cengkeraman tangannya pada kaos bagian depan menghalangi pelukan yang terjadi, membuat pemuda berdarah murni ini sedikti risih. Ditariknya lagi tangan pemuda itu dari kerah baju dan mengalungkan pada lehernya. Wajah putih Zero tampak memerah. Pandangannya tidak fokus dengan menatap liar objek yang tertangkap diretina mata. Kaname tidak punya ide apapun untuk menghentikan Zero, ia merapatkan tubuh mereka. Menarik pipi Zero mendekatinya tidak perduli jika sewaktu-waktu Yuuki mendobrak paksa pintu kamar dan memergoki keduanya dalam keadaan intim. Ia hanya perduli, bahwa kekasihnya butuh pertolongan untuk kembali ke keadaan normal. Dan pertolongan yang bisa ia berikan saat ini adalah sebuah sapuan hangat diantara bibir mereka. Melumat rakus dan menyusupkan lidahnya di rongga hangat milik Zero Kiryuu yang hanya bisa mendesis dan mengerang. Sepasang Amethyst-nya setengah terbuka.
Setidaknya Zero merespon ciumannya.
Deru nafas yang terdengar tidak teratur.
Bibir keduanya sempat terpisah beberapa detik walau kembali bersatu lagi. Ritual melumat secara sepihak masih Kaname lakukan pada Zero hingga deru nafas pemuda itu mulai kembali teratur, tubuhnya pun tidak lagi bergetar dan menegang seperti tadi. Pemuda itu berangsur-angsur normal terlepas dari kondisi awal.
Kaname membelai sisi wajah Zero mencoba menyalurkan kehangatan dari jemari dinginnya. Bahu Zero merosot, dan kepalanya terkulai pada sisi bahu lain Kaname. Ini adalah kali pertamanya ia mendapatkan serangan rasa mual serta panas seperti sekarang ini. Tepat setelah mendengar suara-suara yang berdengung di gendang telinganya terus memanggil namanya.
Ekspresi bingung bercampur cemas terlukis jelas di wajah Kaname. Tapi diurungkan pertanyaan-pertanyaan yang memberatkan otak pemuda perak ini, biarlah ia tenang untuk saat ini. Diusapnya punggung Zero pelan-pelan. "Tidurlah," rapalnya bagai mantra.
"Aku ada disini." gumam Kaname berbisik seraya membaringkan tubuh Zero masih tidak melepas pelukan mereka. Kelopak mata beriris violet yang terbuka setengah kini perlahan menutup. Pemuda itu terlihat sedikit tenang walau cengkraman pada baju kemeja Kaname masih tidak dilepaskannya.
Keheningan melanda sekitar kamar. Menyisakan Kaname yang masih diliputi banyak pertanyaan. Diamatinya wajah pucat Zero sembari menyusuri wajah tak bernoda yang mengernyit tatkala hawa dingin menyapu kulitnya.
"Aku akan melakukan apapun...untuk melindungimu dengan mempertaruhkan nama Kuran." Gumamnya .
Ini adalah awal dari tragedi yang tidak terduga.
Aku akan tetap pergi meskipun dengan membakar diriku sendiri.
Seperti kumbang yang terbang dari api neraka, harus kuberikan nama apa atas perasaan ini.
Ini adalah hukum alam dimana hal ini harus terjadi dan aku tidak bisa lari dari ikatan ini.
Malam itu hanya salah satu dari malam cerah yang disinari cahaya bulan penuh. Banyak orang menyebutnya sebagai bulan purnama.
Malam yang tenang dan indah. Hingga mampu menyedot perhatian seorang anak lelaki berambut perak yang terus menatap langit dari balik jendela kamarnya. Saudara lelaki lainnya sudah lelap tertidur diranjang milik mereka. Anak kecil itu suka malam hari yang cerah ini.
Dibukanya pintu yang memisahkan kamar dengan teras luar kamarnya demi untuk lebih leluasa menikmati indahnya langit malam hari ini. Senyumnya terkembang, saat dirasanya angin malam menerpa wajah putih susu miliknya.
Malam yang tenang dengan semilir angin berganti dengan angin yang berhembus kencang sampai rambut peraknya berantakan. Membuat mata beriris Amethyst miliknya tertutup untuk menghindari kelilipan. Saat matanya membuka penuh, ia melihat seorang pria tengah berdiri dibawah pohon yang mengering. Tanpa daun sehelai pun terdapat dibatang pohon itu.
Mata keduanya saling menatap. Dan pemuda cilik itu memberikan senyum ramah pada pria tersebut. Mengikuti rasa penasarannya, anak kecil itu melompati pagar teras kamarnya dilantai dua. Tidak menjadi masalah baginya kalau hanya melompati pagar yang tingginya tidak lebih dari lima meter itu.
Kakinya menapaki tanah diluar rumahnya, berlari mendekati pria yang belum jelas wajahnya saat ia berada atas teras kamar. Nafasnya ngos-ngosan kekurangan oksigen karena lari marathon yang dilakukannya barusan. Dihampirinya pria yang mengenakan jubah hitam panjang dengan langkah yang tidak ragu sedikit pun.
Anak kecil itu terdiam menatap pria yang juga balik menatapnya. Kini ia bisa melihat dengan jelas wajah pria tinggi dihadapannya sekarang. Pria itu wajahnya sangat rupawan, sangat tampan. Dengan iris mata sekelam langit malam hari kala bulan tidak ada untuk menyinarinya. Hanya saja, wajah pria itu begitu pucat. Jangan-jangan paman ini Vampire, pikirnya waspada.
"Um..kau manusia?" tanyanya ragu memulai percakapan. Kata-kata anak kecil itu memantik tawa yang terdengar renyah digendang telinga anak kecil tersebut.
Langkah pria itu maju mendekat. Menyurutkan langkah kecil sang bocah berhelai perak terang itu.
Jari-jari pria itu menyentuh puncak kepala sang bocah yang kini memejamkan matanya,pasrah. Jari-jari dingin membelai lagi helai peraknya. Jari pria itu begitu dingin menembus kulit kepala anak lelaki tersebut. Untuk beberapa waktu, tidak satupun dari kedua orang yang berbeda umur dan tinggi badan itu untuk memecah keheningan singkat itu.
"Sampai saatnya nanti, teruslah bertahan hidup...senjataku." ujarnya berbisik tersamarkan oleh angin yang tiba-tiba berhembus kencang. Dan bocah itu terpaksa menutup lagi matanya.
"Eh?"
Sayang pria itu lenyap bersamaan dengan angin tepat disaat bocah lelaki itu membuka matanya.
Apa yang dikatakannya barusan?
–senjata katanya?
Itu adalah pertama kalinya dan juga yang terakhir bagi bocah berhelai perak itu bertemu dengan pria misterius itu. Saat itu ia berumur tujuh tahun. Pertemuan mereka tepat sehari sebelum pembantaian kedua orang tuanya yang dilakukan oleh seorang vampire wanita. Sehari sebelum takdirnya sebagai manusia berubah. Sehari sebelum saudara kembarnya menghilang. Malam dimana purnama yang indah sebelum berganti menjadi mimpi buruk bagi bocah bernama Zero Kiryuu.
Kenapa bisa ia lupa?
Ada yang bilang, berhati-hatilah terhadap bulan yang terlihat indah. Dimana langit cerah tanpa awan sedikitpun menghalangi keindahan itu. Hanya ada bulan penuh. Karena keindahan bulan saat itu adalah menipu.
It's continued
bie's Note:: aq mau mengucapkan terima kasih atas koreksi yang diberikan oleh Kazugami Saichi Hakuraichi a.k.a KaSaHa*bungkuk 90 derajat* atas kesalahan nama diakhir chapter lalu. Yah, memang maksud hati mau ngetik Kain kepleset malah jadi Kaien ==. Dan itu aq sadari pas baca ulang ff q beberapa hari setelah publish. Dodol banget yah aq nya.#nepok jidat
tapi yah...karena males edit dan keterbatasan waktu buat surfing dunia maya dan sebel ama modem yang kelewat lelet jadi terpaksa pake wifi dikantor jadi ya gitu, buru-buru dengan no edit#dihajar banyak alesan.
Ah iya, Happy Fujoshi Independence Day#4, semoga fanfic bergenre Shonen-ai makin jaya ditiap tahunnya. Termasuk juga fandom Vampire Knight dengan pairing yang makin bervariasi.
Special thanks::::
DeevilFujoshi
Kazugami Saichi Hakuraichi
Evanthe Beelzenef
Kaze to Ryu
AntChae6855
Vrea
Irmina-san
Kitsune Syhufellrs
Dan semua yang mereview, memfave ataupun follow. Atau hanya mampir buat baca aq ucapkan banyak terima kasih.
See the next chapter^^
