Hai, Readers! Apa kalian menunggu chapter ini? Menunggukah? So, aku membawa the last chapter of this Fanfiction, Readers! Jeongmal gomawo buat review(s)-nya ne... *bow*. Sangat bermanfaat bagi aku, heheh...^^
Note: Untuk FF Xiuhan yang aku janjikan sebelumnya, yang Luhan jadi seme'a, akan dipost setelah FF berchapter lain selesai atau deket2 mau selesai, ya... Bakal dipost barengan sama FF berchapter 'Mimi' & 'Trapped in Overdose'. Thank u, Readers...^^
Gak pake banyak basa basi, LETS CEK THIS OUT, GUYS!
.
.
.
Review to last chapter...
Xiumin perlahan menatap cincin yang berisi ukiran namanya tersebut. Kenyataan ini sulit dipercaya. Luhan mengembalikan cincin ini? Berarti dia menyudahi hubungan pertunangannya dengan Xiumin, bukan? Tapi entah mengapa, rasanya air mata Xiumin siap untuk menetes.
"Apa mungkin aku jatuh cinta pada namja itu?", gumam Xiumin seraya tersenyum mengejek pada dirinya sendiri.
Chapter 3...
Namja itu masih melamun ditemani kepulan asap secangkir cappuchino favoritnya. Tak peduli betapa ributnya teman-teman di hadapannya namun tetap saja tertuju pada cafe yang ada di seberang cafe tempatnya sekarang.
"Ya! Xiumin hyung!", ujar Tao dan membuat lamunan Xiumin terhenti.
"Apa?", tanya Xiumin dengan nada lemas setelah meneguk cappuchino favoritnya itu.
"Kau melamun? Memikirkan Luhan hyung, ya?", tebak Tao sembarangan dengan senyuman jahilnya.
"Bukankah semestinya kau senang karena akhirnya namja itu pergi dari hidupmu?", tanya Kris seraya bersandar atau tepatnya mencari posisi nyaman di sofa cafe tersebut.
"Apa kau mulai jatuh cinta pada namja itu, ya?", celetuk Kai seraya tersenyum jahil, sama seperti Tao.
"Aku tidak memikirkan tentang namja itu, kok! Buang-buang waktu saja...", ujar Xiumin yang mulai gusar dengan celetukan temannya itu.
"Oh, sepertinya sejak tadi kau tak hanya memikirkannya tapi kau memperhatikannya, ya?", celetuk Kris yang menyadari Luhan berada di cafe seberang.
"Hyung cemburu karena Luhan hyung dekat dengan namja itu?", tanya Kai seraya ikut menatap ke arah cafe seberang.
"Memangnya namja itu siapa? Kenapa aku harus cemburu? Itu kan sudah jadi haknya.", jawab Xiumin yang semakin gusar.
"Dia hoobae kita. Kalau tak salah namanya Oh Sehun.", ujar Tao.
"Kalau aku tak salah dengar, dia itu ketua gangster berandal di sini.", ucap Kai membuat Xiumin kaget bahkan tersedak cappuchino-nya.
"Apa? Oh Sehun? Ketua gangster?", tanya Xiumin tak percaya.
"Ok, kali ini aku harus jalan kaki lagi...", gumam Xiumin seraya berjalan menyusuri jalanan kota Seoul. Kali ini, mobilnya bukan diambil alih oleh sang ibu namun, ia memarkir mobilnya terlalu jauh dari cafe tadi.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah box telepon kosong. Ingatannya tertuju saat ia masih bersama namja itu, namja yang mungkin sangat ia rindukan sekarang. Ia sangat ingat bagaimana dengan bodohnya ia hampir saja mencuri sebuah ciuman dari mantan tunangannya tersebut. Tanpa sadar, ia malah tersenyum kecil saat mengingat insiden tersebut.
"Lepaskan aku!", suara teriakan itu membuat lamunan Xiumin memudar seketika.
"Suara itu?", gumam Xiumin tak jelas. Ia yakin pernah mendengar suara seperti itu. Langkahnya menuju ke arah asal suara itu, sebuah gang pertokoan yang sudah sepi.
"Bukankah itu Luhan dan hoobae bernama Sehun itu?", gumamnya tak percaya ketika melihat pemandangan di depannya.
Sehun, hoobae dengan wajah polos yang ternyata adalah ketua gangster dengan liarnya menjamah bibir Luhan sementara Luhan terus memukuli dada hoobaenya itu dalam kata lain, ia berusaha memberontak dari namja bernama Sehun itu. Tangan Sehun secara liar mulai membuka kancing kemeja Luhan satu persatu. Xiumin yang tak terima melihat keadaan itu, tak bisa tinggal diam begitu saja.
"YA! OH SEHUN!", Teriaknya membuat Sehun menghentikan aksinya tersebut.
BUAGHH!
Sebuah kepalan tangan kanan Xiumin menghantam tepat di bagian wajah Sehun hingga membuat sudut bibir dan hidung hoobaenya itu berdarah seketika. Sebuah tendangan kembali menghujam perut Sehun hingga membuat namja itu tersungkur.
"Kau siapa, huh?", tanya Sehun dengan kesal.
"Aku Kim Min Seok!"
"Oh, Min Seok hyung... Bukankah kau mantan tunangan Luhan hyung? Bukankah kau namja brengsek yang memanfaatkan Luhan hyung hanya untuk jabatan, kan? Kau tahu, kau sebenarnya rugi besar menyia-nyiakan namja manis sepertinya!", tanya Sehun seraya menyeringai.
"Ya, aku memang bodoh sudah menyia-nyiakannya tapi aku tak bodoh karena aku tidak mengotorinya sepertimu, Brengsek!", sebuah pukulan kembali mendarat tepat di pipi Sehun.
"Ikut aku sekarang!", ucap Xiumin dingin seraya menarik Luhan menuju mobilnya.
Sampai di mobil, Luhan masih terisak. Tubuhnya bergetar hebat. Jujur, Xiumin sangat tak tega melihat keadaan mantan tunangannya itu sekarang. Wajar kalau namja itu menangis karena dia hampir saja menjadi korban Oh Sehun.
"Kenapa kau menyelamatkanku? Aku bukan tunanganmu, Xiumin ssi...", tanya Luhan di antara isakannya.
"Karena kau berperan besar dalam kehidupanku bahkan keluargaku. Wajar kalau aku menyelamatkanmu, Xi Luhan...", ucap Xiumin dengan dinginnya.
"Kau tak sepantasnya ada bersamaku, Xiumin ssi.. Aku bukan siapa-siapa lagi di kehidupanmu.", lirih Luhan.
"Lihat aku, Luhan! Jika kau melihatku adalah manusia, biarkan aku menyelamatkanmu.", suruh Xiumin.
Luhan perlahan menatap Xiumin dengan matanya yang sembab dan mulai memerah. Xiumin tak pernah berpikir jika Luhan akan serapuh ini. Tidak... bahkan sedikitpun tidak.
"Maafkan aku membuatmu terluka, Luhan.", sesalnya.
Kembali, perlahan Xiumin mendekatkan wajahnya pada namja di hadapannya ini, berusaha mengeliminasi jarak di antara mereka. Deru nafas Luhan yang agak cepat mulai terasa menyapu wajah Xiumin. Xiumin menutup matanya ketika bibirnya sedikit lagi menyentuh bibir Luhan.
Cup...
Kini, Xiumin berhasil mencium bibir namja di hadapannya itu. Namja manis yang membuat hidupnya berubah 180 derajat. Di sisi lain, Luhan sangat kaget ketika mantan tunangannya menciumnya. Mimpikah dia? Tapi nyatanya ia tidak mimpi, semuanya adalah kenyataan. Perlahan, ia menutup matanya. Baginya, ciuman ini berbeda saat tadi Sehun menciumnya. Ciuman ini entah mengapa sangat manis untuknya.
Xiumin sedikit memiringkan kepalanya untuk memudahkannya melumat kecil bibir yang berhasil membuatnya kecanduan itu. Sementara Luhan hanya bisa menerima perlakuan mantan tunangannya itu tanpa penolakan sedikitpun.
Lima menit berlalu, Xiumin melepaskan tautan mereka. Jujur, Xiumin sedikit kecewa ketika melepaskan tautannya dengan Luhan tapi apa boleh buat? Dia harus pulang sekarang.
Xiumin perlahan terbangun dari tidurnya. Sinar mentari yang menembus jendela kamarnya, membuat Xiumin sedikit silau hingga ia harus mengerjapkan matanya. Kepalanya sangat pusing mungkin karena efek cappuchinonya kemarin malam.
Tak lama, sekelebat ingatannya tentang ehm... ciumannya tadi malam bersama Luhan kembali terlintas di benaknya. Ternyata namja itu manis juga, pikir Xiumin. Tak sadar, ia memegangi bibirnya dan tersenyum kecil dan tak percaya dengan hal gila yang kemarin ia lakukan dengan mantan tunangannya, Luhan.
"Min Seok...", suara itu membuat Xiumin terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah ibunya yang ada di ambang pintu kamarnya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, eoh? Teringat kejadian tadi malam bersama Luhan, ya?", tanya Nyonya Kim seraya tersenyum dan duduk di samping Xiumin.
"Kejadian apa?", tanya Xiumin pura-pura tak ingin mengaku.
"Kau itu sudah besar, Min Seok! Ibu tahu kau berciuman dengannya kemarin malam di mobil, kan? Ibu melintas bahkan hampir parkir di depan mobilmu hanya untuk melihat moment langka itu, Xiumin!", ucap Nyonya Kim dengan gemas dan mencubit pipi Xiumin yang sudah merona malu.
"Ibu!", kesal Xiumin walau pipinya tetap memerah.
"Kau menyukainya, ya?", tanya Nyonya Kim.
"Sepertinya er... lebih dari itu, Bu. Sejak dia mengembalikan cincin pertunangan ini padaku, rasanya seperti aku bukanlah aku lagi. Seperti, aku sangat memerlukan dia ada di sisiku.", ungkap Xiumin seraya menggenggam cincin pertunangan yang berisi ukiran namanya.
"Kenapa kau tak kejar dia?"
"Kejar?"
"Dia baru saja pergi. Dia bilang akan kembali ke Beijing untuk memulai bekerja lagi di sana.", jelas Nyonya Kim dan membuat Xiumin shock.
Tanpa pikir panjang, Xiumin langsung berlari mengambil jaket dan kunci sepeda motornya. Sementara Nyonya Kim hanya bisa tersenyum dengan hati lega ketika tahu jika sang putra akhirnya menyadari perasaannya sebelum terlambat.
Satu jam berlalu tapi Xiumin belum juga menemukan keberadaan Luhan di seputaran kota Seoul. Apa mungkin dia sudah ada di Incheon atau bahkan dia sudah berangkat menuju China? Xiumin kembali memacu motornya di jalanan aspal menuju ke Incheon.
Matanya masih menyusuri jalanan kota Incheon, berusaha mencari sosok namja rusa yang berhasil membuatnya mengerti tentang someting called L.O.V.E. Akhirnya, pencariannya membuahkan hasil ketika ia melihat sesosok namja tengah berbelanja di toko bubble tea yang ada di sana.
"Luhan ah!", seru Xiumin seraya memarkirkan sepeda motornya.
Luhan menoleh ke arah sumber suara. "Untuk apa kau ada di sini?", tanya Luhan bingung.
"Aku perlu waktu untuk bicara dengan empat mata sekarang, Luhan! Bisakah?", jelas Xiumin dengan tatapan memohon.
"Tapi pesawatku akan berangkat 2 jam lagi. Aku belum mengurus administrasi keberangkatannya.", ujar Luhan.
"Sebentar saja, bisa kau luangkan waktumu hanya 30 menit untukku?", tawar Xiumin.
"Er... baiklah, Xiumin ssi...", ucap Luhan dengan nada ragu-ragu.
"Wah! Indah sekali!", ucap Luhan seraya turun dari sepeda motor sport milik Xiumin. Sementara Xiumin hanya tersenyum kecil ketika melihat betapa polosnya seorang Luhan.
"Kau suka?", tanya Xiumin seraya tersenyum kecil dan Luhan mengangguk dengan senyuman manis di bibirnya, membuat Xiumin langsung luluh dibuatnya.
"Ikut aku...", suruh Xiumin seraya menarik Luhan dengan halus menuju ke pinggir Sungai Han.
"Ada apa, Xiumin ssi?", tanya Luhan bingung walau tak bisa dipungkiri jika ia sangat terkesan dengan pemandangan di sini.
"Er.. aku tahu ini konyol tapi... aku ingin memulai semuanya dari awal.", jelas Xiumin seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.
"Maksudmu?"
"Sejak pertama kali aku tahu jika kau dijodohkan denganku, aku selalu bersikap dingin padamu padahal kau selalu berusaha lebih bersahabat denganku.", ucapnya semakin membuat Luhan tak mengerti.
"Lalu?"
"Aku ingin bisa menebus kesalahanku itu bersamamu. Tapi sebelumnya...", ucapannya terputus ketika tangan kanannya merogoh saku celananya dan ia mengeluarkan sebuah cincin yang tak asing bagi Luhan. Ya... itu adalah cincin pertunangan mereka dulu.
Perlahan Xiumin bersimpuh seperti orang yang akan melamar kekasihnya di depan Luhan, membuat Luhan sedikit canggung.
"Apa kau mau kembali padaku lagi? Kalau ya, kau pakai cincin bertuliskan namaku ini tapi jika tidak, kau lempar cincin ini ke Sungai Han.", ucap Xiumin membuat Luhan sangat shock pada tingkah mantan tunangannya itu.
Perlahan namun ragu-ragu, Luhan mengambil cincin itu dari tangan Xiumin. Xiumin yang melihatnya mulai khawatir. Mungkinkah Luhan mau memaafkannya dan menjadi pasangan hidupnya? Xiumin melihat jelas namja itu menggenggam erat cincin itu dan... tak terduga, Luhan melempar cincin itu ke Sungai Han. Ok, Xiumin, dia menolakmu sekarang dan berakhir sudah semuanya.
"Sudah kuduga, Luhan ah... Aku akan mengantarkanmu ke bandara.", ucap Xiumin seraya berdiri dan tersenyum masam.
"Kenapa kau tersenyum masam seperti itu?", tanya Luhan seraya tersenyum manis seakan tak terjadi apapun.
"Hem? Tidak. Aku pantas mendapatkan itu, Luhan. Ayo...", ucap Xiumin dan berjalan mendahului Luhan.
"Tapi kau belum melihat ini, Xiumin ssi!", teriak Luhan membuat Xiumin menoleh.
Betapa terkejutnya ia ketika cincin yang berisi ukiran namanya itu melingkar di jari manis Luhan. Luhan hanya tersenyum geli melihat betapa tololnya Xiumin sekarang.
"Kenapa kau sedih?", tanya Luhan.
"Kau! Aku akan membalasmu, Luhan!", teriak Xiumin kesal seraya mengejar Luhan yang berlarian di taman itu.
"Aku menangkapmu, Rusa kecil.", bisik Xiumin ketika dia mendapatkan Luhan dan memeluk Luhan dari belakang.
"Kau mendapatkanku, Pemburu bodoh!", balas Luhan membuat Xiumin semakin gemas dengan tingkah tunangannya ini.
Perlahan, Luhan berbalik menatap dan Xiumin dengan senyumnya.
"Aku mendapatkanmu, Kim Luhan...", ucap Xiumin membuat Luhan merona.
Perlahan, Xiumin kembali mendekatkan wajahnya pada Luhan. Luhan yang mengerti apa yang akan dilakukan Xiumin hanya tersenyum lalu menutup matanya. Xiumin menutup matanya dan... ciuman itu dan lagi bisa terhindarkan. Ciuman yang menandakan rasa cinta mereka, lumatan-lumatan kecil tanpa nafsu dan tak menuntut yang menandakan betapa mereka saling merindukan satu sama lain.
"Ehem...", suara dehaman namja tinggi itu, langsung membuat Luhan dan Xiumin menoleh.
"Wah... ada pasangan baru nih...", ujar Tao.
"Harus dirayakan kalau seperti ini akhirnya...", ujar Kai seraya tersenyum jahil.
"Lanjutkan saja...", ucap Nyonya Kim yang tersenyum jahil lalu pergi dari taman itu bersama teman-teman Xiumin.
Luhan dan Xiumin saling melempar pandang. Semua terasa begitu cepat. Tak lama, mereka pun tertawa karena kebingungan mereka sendiri dan Xiumin pun menarik Luhan ke dalam pelukannya.
"Jeongmal saranghaeyo...", bisik Xiumin.
"Nado, Xiumin ah...", balas Luhan seraya tersenyum di dalam pelukan Xiumin.
THE END
.
.
.
Akhirnya FF ini selesai juga, Readers! Bagaimana keseluruhan ceritanya? Apa ngena feel-nya? Mianhae karena ide FF ini pasaran banget, ne... *bow*. Last, I need your review(s), Readers... Jeongmal Gomawo! *peluk readers semuanya*
