Kim Beaudine Family Secret
.
.
.
Title : Kim Beaudine Family
Main Cast : Do Kyungsoo, Oh Sehun, EXO Member
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T
Leght : Chaptered/sequel
Note : This Is HunSoo, disini aku menggunakan character di novel Susan Elizabeth Phillips – Call Me Irresistible, dan novel Lorraine Heath – A Duke Of Her Own.
.
.
.
= Happy Reading =
.
.
.
...
...
...
Previous chapters
"tutup mulut sialanmu itu, aku bosan mendengar erbagai alasan membosankanmu"
Mereka diam, pria paruh baya itu memikirkan segala hal, memikirkan bagaimana rencananya kedepan, bagaimana agar bisa mendapatkan gadis kecil itu dan membunuhnya.
Dering ponsel yang ada didalam kantong jas mahalnya mengalihkan pikirannya, tanpa melihat siapa yang menelepon, pria itu segera menggeser tombol hijau. Terdengar suara anak buahnya yang lain. Pria paruh baya itu kembali menatap ponselnya, mengecek siapa yang meneleponnya.
"tuan, sepertinya kita mendapat kabar baik"
"cepat katakan dan jangan berbasa-basi"
"gadis yang anda cari berada di Korea, tuan"
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Pembalap dengan nama lengkap Wu Jasper Skipjack, sangat terkenal di wilayah Lexington, siapa yang tak mengenalnya? Bahkan mungkin seluruh kota mengenalnya. Pembalap dengan wajah tampan dan kekuasaan yang tak ada batasnya, dengan segala prestasi yang pernah ia capai dan dengan banyaknya fans yang selalu mendukungnya.
Pembalap liar yang sangat cepat, hingga mencapai 210 km/jam. Mungkin jika kita mencoba menaiki motor balap dengan kecepatan sekian kita akan merasa seperti terbang, namun tidak dengan Wu Jasper Skipjack, arena balap adalah dunianya, motor adalah kesukaannya, dan Kim Kyungsoo Beaudine adalah cintanya.
"jangan khawatir, aku tak apa. berdoalah agar aku memenangkan kompetisi ini" Kyungsoo megangguk.
"katakan jika kau kesusuahan mendahului lawanmu, aku akan memarahinya" ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"akan ku ingat, jangan menangis, aku janji akan kembali dengan selamat" ujarnya menenangkan gadis manisnya.
"aku akan menunggumu"
"tentu"
...oOo...
Kenangan itu kembali teringat saat Kyungsoo melihat dengan jelas sebuah motor sport yang ada didepannya, sebuah motor yang membuat seseorang yang dicintainya meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Hatinya merigis sakit saat beberapa kenangan kembali teringat, dan hari dimana ia kehilangan seseorang yang ia cintai, itu tak mudah bagi Kyungsoo. sangat sulit saat kau mengetahui fakta bahwa seseorang yang kau sukai sudah meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Kyungsoo ingin berteriak saat ia kehilangan Jasper, namun ia tau, menangis tak akan mengembalikan segalanya yang sudah tak ada di dunia, bahkan jika kau mengelaurkan semua air matamu, ia tak akan kembali. Maka Kim Kyungsoo Beaudine memilih menyimpan air matanya.
"Soo, kau kenapa?"
Kyungsoo tertegun saat mendengar ucapan kakaknya, ia berbalik menghadap kakaknya dan tersenyum, menandakan ia baik-baik saja.
"masuklah, kau aka terlambat"
Kyungsoo mengangguk, ia sekarang sudah berada di depan sekolah barunya, sekolah yang sebentar lagi akan memberikan banyak ilmu padanya.
"oppa pergi sekarang, masuklah"
"hmm, hati-hati di jalan Jongin oppa"
...oOo...
Kebahagiaan untuk siswa-siswi SMA itu sederhana, jika guru mata pelajaran matematika tidak hadir maka seluruh murid yang ada dikelas 2-1 sangat bersukur karena tak memikirkan mata pelajaran yang paling sulit dipahami juga sangat sulit di masukkan kedalam otak.
Namun kebahagiaan itu sirna saat mengetahui jika guru mata pelajaran matematika, pak Choi. Tidak jadi masuk ke kelas, well. Tadi itu hanya untuk membuat anak-anak senang, ketua kelas sedikit berbohong rupanya.
Pak Choi masuk kedalam kelas diikuti siswa perempuan dibelakangnya, siapa lagi jika bukan Soo Beaudine. Taun putri dari Wynette, Texas.
Kelas riuh dengan sorakan anak-anak saat Kyungsoo masuk kedalam kelas. Para siswa yang tadinya meletakkan kepalanya dan memejamkan matanya kini terjaga dan seakan mendapatkan kekuatan agar tidak tidur hanya karena Soo Beaudine memasuki kelasnya.
"baiklah, Soo perkenalkan dirimu"
"Halo semuanya, aku Kim Kyungsoo Beaudine. Senang bertemu dengan kalian semua, semoga kalian memperlakukanku dengan baik" ujar Kyungsoo dengan logat inggrisnya.
"wow! Bahkan bahasa inggrisnya sangat lancar, dan caranya berbicara sangat sexy" ujar salah satu siswa yang duduk didepan.
"di cantik bukan?" dan celotehan lainnya lagi yang membuat otak Kyungsoo bingung seribu keliling.
Well, Kyungsoo belum terlalu pintar bahasa Korea, jadi ia agak kurang mengerti dengan ucapan beberapa siswa lainnya.
"maaf, aku belum lancar bahasa Korea, dan aku tak tau apa yang kalian bicarakan"
Mereka mulai diam, benar juga. Bagaimanapun Soo beaudine itu masih dalam tahap belajar bahasa Korea. Sama seperti murid lain yang berasal dari negara lain.
"aku akan mengajarimu" ujar ketua kelas.
"Thank you"
"baiklah, sekarang, Soo kau duduklah dibelakang Baekhyun" Kyungsoo mengangguk. "Baekhyun angkat tanganmu"
Setelah melihat siswi bernama Baekhyun mengangkat tangannya, Kyungsoo segera menghampirinya dan duduk dibelakangnya. "senang bertemu dengan mu Soo"
"aku juga" Kyungsoo duduk di kursinya dengan tenang, namun setelah melihat tempat duduk semua siswa di kelas ini Kyungsoo mulai mengerti, setiap satu bangku diduduki siswa laki-laki dan perempuan.
"hai Kyung, kau semakin cantik" itu suara Chanyeol, teman kecil Kyungsoo.
Baekhyun memberikan pukulan kecil pada bahu Chanyeol, bisa-bisanya dia memuji wanita lain saat kekasihnya ada disebelahnya. Gomong-ngomong tentang Chanyeol, Kyungsoo baru menyadari keberadaannya disini.
"kau benar, aku semakin cantik" ujar Kyungsoo di akhiri dengan tawanya.
"saem, apa aku duduk sendiri?" tanya Kyungsoo mengalihkan fokus pak Choi saat akan memulai pelajaran.
"ahh tidak, teman sebangkumu sedang ada urusan" Kyungsoo menurunkan tangannya, dan kembali konsentrasi denga pelajaran pak Choi yang sejujurnya membosankan.
15 menit terlewati dengan bosan, Kyungsoo mulai malas mendengarkan penjelasan pak Choi dan memilih meletakkan kepalanya di meja. Namun Kyungsoo kembali mengangkat kepalanya saat menyadari seseorang duduk disebelahnya.
Kyungsoo kesebelahnya, lalu seolah bumi berhenti berputar, seseorang yang sangat familiar duduk disebelahnya, keringat membasahi dahinya, nafasnya terengah-engah –mungkin habis berlari- dan rambutnya terlihat acak-acakan, seperti. Wu Jasper Skipjack.
Tapi itu tidak mungkin, Jasper sudah meninggal, Kyungsoo mencoba menghilangkan pikiran tentang Jasper, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sehun, kau sudah disini?" suara pak Choi mengalihkan perhatian Kyungsoo.
Benar, ini Sehun bukan Jasper, Sehun dan Jasper berbeda. Mereka sangat berbeda. Well, bukankah kemarin mereka sudah bertemu saat Kyungsoo ingin melihat seisi sekolah? Lalu kenapa sekarang keadaan menjadi canggung.
Sehun tak menjawab pertanyaan pak Choi hanya menjawabnya dengan senyuman manis.
"Sehun, teman baru sebangkumu, Kim Kyungsoo Beaudine"
Mereka saling pandang satu sama lain, Kyungsoo memutuskan pandangannya terlebih dahulu, dan pura-pura mencatat dibukunya.
"senang bertemu denganmu lagi Soo"
"lagi!?" suara serempak murid di kelas mengagedkan Sehun dan Kyungsoo, bahkan pak Choi yang tadinya mengantuk kini sadar total saat mendengar kata 'lagi' terucap dari bibir Sehun.
"ada apa dengan kalian?"
"kau pernah bertemu dengan Kyungsoo?" ujar salah satu siswa yang duduk dengan Baekhyun, Chanyeol.
"tentu saja, kemarin saat—"
"jangan banyak bertanya," ujar Kyungsoo datar, nyali Chanyeol untuk bertanya lebih lanjut menciut, ia memutuskan kembali fokus pada pelajaran.
"kalian sesuatu" ujar Baekhyun dengan ceria. "semoga couple kedua di kelas ini adalah Sehun dan kau Soo"
"semuanya kerjakan dibuku tugas kalian, buka buku kalian halaman 56, ketua kelas. Jangan lupa dikumpulkan"
...oOo...
"Tuan, sekertaris baru anda. Oh luhan Romanov, putri tuan Dexter."
Kai tersenyum ramah dan menjaat tangan Luhan, tangannya begitu kecil dan nyaman saat digenggam. "Kai Beaudine. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik nona Lu"
"aku juga, Mr Beaudine."
"panggil saja Mr Kim."
"tentu, Mr Kim."
"sejujurnya aku ingin menemanimu berkeliling perusahaan, namun pagi ini ada metting mendadak"
"tak apa, aku sudah melihatnya." Kai tertawa canggung. Well, ternyata luhan cantik dan juga sedikit menggemaskan.
Sementara Kai masuk kedalam ruang metting Luhan tidak berkeliling perusahaan, hanya duduk-duduk saja, dan terkadang membungkuk saat ada tamu yang akan mengunjungi Mr Kim, setelah menyempaikan jika Mr Kim sedang ada rapat barulah tamu itu pergi dari hadapan Luhan.
Jujur saja pekerjaan ini sangat membosankan bagi Luhan, sangat membosankan. Seperti seorang resepsionis saja. Luhan memutuskan turun ke kebawah, mencari cafe terdekat dan memesan satu kopi tanpa gula.
Kopi tanpa gula selalu membuat Luhan bahagia, berbeda dengan pekerjaan yang hanya membuat kepalanya sakit. Menjadi sekertaris itu tidak mudah, harus mengatur jadwal apa saja yang akan di lakukan Mr Kim.
Walau tak di pungkiri jika Mr Kim memanglah bos yang menyenangkan dan tampan, tetap saja membosankan bagi Luhan. Luhan hanya ingin bersenang-senang, bukan bekerja. Dan bekerja adalah hal sangat tidak ia minati.
"seharusnya aku menolak tawaran ayah tentang pekerjaan ini." Celutuknya pada diri sendiri.
"aigoo...bahkan belum apa-apa aku sudah sangat lelah."
"well. Apa yang membuatmu lelah?"
Luhan berjengit kaget mendengar suara yang tiba-tiba saja memenuhi gendang teliganya, sejak kapan Mr Kim sudah berada di sebelahnya? Bukannya tadi beliau sedang ada metting dengan klien?
"metting dibatalkan." Ujar Kai saat mengetahui kebingungan Luhan. "kau seharusnya bekerja, bukannya bersenang-senang dengan secangkir americano disini."
"ahh...ini, tadi aku-"
"aku memaafkannya untuk sekarang namun tidak jika kau terus menerus mengulanginya."
Luhan mengerti, bagaimanapun ia digaji saat bekerja disini, dan sudah seharusnya ia mengikuti peraturan main di perusahaan ini, dan tak boleh melakukannya dengan semena-mena.
"kau menarik juga."
...oOo...
Jam istirahat adalah masa paling menyenangkan bagi anak sekolah. Well, jam istirahat bukannya menjadikan Kyungsoo senang tapi malah menjadikan Kyungsoo bingung. Siapa yang akan makan dengannya, duduk dengannya? Inilah resiko menjadi murid baru yang belum mempunyai teman.
Lalu kebingungan Kyungsoo buyar saat Baekhyun melamaikan tangannya pada Kyungsoo, menyuruh Kyungsoo bergabung bersama mereka bertiga, jika di lihat-lihat hanya ada, Sehun, Baekhyun, dan Chanyeol.
Tentang Chanyeol, manusia bertelinga lebar itu seolah-olah sudah melupakan Kyungsoo. dulu saat mereka kecil Chanyeol tak akan bisa diam jika belum berbicara dengan Kyungsoo, lantas sekarang Chanyeol berubah drastis menjadi pendiam. Hanya menyapa dan berkata seadanya dengan Kyungsoo. dasar Park Fucking Chanyeol.
"hai Kyungsoo. kau tak keberatan bukan duduk dengan kita bertiga?" tanya Baekhyun seolah bisa membaca isi pikiran Kyungsoo.
"seharusnya aku yang bertannya demikian."
"kita tidak keberatan, benar begitu bukan Chanyeol, Sehun." Mereka hanya mengiyakan lantas kembali pada makanannya.
"apa kalian selalu makan bertiga?"
Baekhyun terlihat berpikir. "tidak juga, terkadang Sehun makan dengan para gadis yang menyukainya, sedangkan aku makan bersama Chanyeol." Jelas Baekhyun sambil menyuapkan lauk kedalam mulutnya.
"YAK! Apa yang kau katakan?" Sehun bersungut-sungut marah. "aku tak pernah makan dengan gadis yang kau katakan itu, aku hanya—"
"hanya? Hanya apa? dasar albino sialan! Kau baru saja membentak ku? Awas kau nanti." Baekhyun yang tak terima mulai marah.
Kyungsoo dan Chanyeol menonton aksi bertengkar mulut Baekhyun dan Sehun dengan khidmat. Seakan pertengkara mereka sama dengan acara pertunjukan sulap anak-anak TK.
"kau itu playboy sekolah yang menyamar sebagai ketua OSIS, mengaku saja jika kau itu suka mempermainkan perasaan perempuan."
"tutup mulut mu Baekhyun, aku menjadi tak selera makan."
"bagus jika kau menjadi tak selera makan, dasar playboy. Aku akan mengadukanmu pada Dexter ahjussi."
"ya! Kenapa kau jadi membawa-bawa ayahku dalam urusan kita?"
"karena kau selalu membuat ku marah."
"bukankah kau yang membuatku marah? Aku akan mengadukanmu pada Mom."
"dasar anak Mommy." Kesabaran Baekhyun hilang sudah saat mendengar uacapan terakhir Sehun.
"apa kau juga bukan anak Mommy? Apa kau anak Daddy? Memangnya Daddy mu bisa hamil Baek?" kali ini Baekhyun menahan amarahnya dengan sekuat tenanga.
"saat makan malam nanti, akan kupastikan Dexter ahjussi mengetahui kelakuanmu disekolah yang suka mempermainkan perasaan perempuan." Baekhyun benar-benar marah.
Chanyeol menjelaskan pada Kyungsoo jika Baekhyun dan Sehun itu sudah terbiasa bertengkar seperti ini, jadi tidak usah di pikirkan. Mereka akan membaik dalam beberapa saat.
Mereka berempat diam, tak ada yang berbicara. Sibuk dengan nampan makanan mereka masing-masing. Sibuk menghabiskan makanan masing-masing.
"Chan, Suho oppa memintamu datang ke rumah nanti malam, dia merindukanmu." Ujar Kyungsoo memecah keheningan di antara mereka berempat.
Sehun dan Baekhyun cengo mendengar perkataan Kyungsoo. Datang? Kerumah? Rumah siapa? Rumah Kyungsoo? ada apa dengan Chanyeol?.
Pikiran Baekhyun melayang kemana-mana. Well, setahu Baekhyun Chanyeol belum mengenal Kyungsoo. bukankah hari ini pertemuan pertama mereka? Dan, ohh...nanti malam? Nanti malam Chanyeol ada jadwal kencan dengan Baekhyun.
"apa yang kau katakan Soo?" Baekhyu bertannya mantap ke arah Kyungsoo. bahkan matanya menatap mata Kyungsoo.
"ahh...apa kalian belum tau? Chanyeol sahabat kecilku saat di Wynette, lalu Chanyeol dan ibunya pindah ke Korea karena ayah Chanyeol sakit, kukira Chanyeol akan kembali lagi ternyata tidak. Dan saat aku pindah ke Korea aku tak menyangka jika aku dan Chanyeol bisa satu sekolah lagi. Kebetulan yang menyenangkan." Baekhyun mendengarkan dengan seksama.
"Chanyeol tak pernah bilang padaku."
"benarkah?"
Chanyeol diam seribu bahasa, Sehun hanya menjadi penonton bayaran ala makcomblang.
Ruang kantin lenggang, menyisakan mereka berempat dan bunyi jam dinding yang berbunyi pelan. Jam istirahat selesai.
"kau harus menjelaskannya padaku Mr Park." Baekhyun berkata semanis mungkin.
Namun sayangnya Chanyeol tau, itu bukanlah ucapan manis tetapi ancaman.
...oOo...
Menjadi seorang jaksa memang tidak mudah, tapi akan sangat mudah jika kau mengerjakannya dengan hati yang lapang dan ikhlas.
Suho tanpa lelah memeriksa dokumen kasus pembunuhan berantai yang ia tangani, dengan wajah lelah dan kusut di periksanya lagi dokumen-dokumen itu sehati-hati mungkin dan seteliti mungkin.
"ahh...kupikir kasus ini akan sangat lama."
"yah, kupikir juga begitu." Kristal rekan kerja Suho ikut menimpali. "bagaimana dengan kencan Sunbae dengan pengacara cantik itu?" tanya Kristal mengalihkan pembicaraan agar Suho tak terlalu pusing memikirkan kasus-kasusnya.
"sangat berat,"
"kupikir berjalan mulus."
"akan berjalan mulus dan tanpa hambatan jika aku berkencan dengan seseorang yang berprofesi sama denganku." Jelas Suho dengan wajah lelahnya.
Ini sebenarnya masih terlalu siang untuk mengeluh karena lelah dan mengeluh karena kekasih, namun jika berbicara dengan Kristal, Suho rasa tak ada masalah. Lagi pula Kristal itu kan tidak pintar jaga rahasia. Selama rahasianya aman –mempunyai kekasih seorang pengacara- Suho rasa juga tak apa.
"kau ingin pergi ke TKP bersamaku setelah makan siang?" ajak Suho sambil memakai jasnya. Bersiap-siap makan siang.
"Sunbae tak memintanya pun aku akan tetap ikut terseret." Suho terkekeh kecil, Kristal sangat benci dengan TKP. Lantas kenapa ia menjadi seorang Jaksa? Ada ada saja.
Kristal mengikuti apa yang Suho lakukan, memakai jasnya dan lekas keluar ruangan. Mereka harus segera makan siang dan pergi ke TKP agar pimpinan divisinya tidak marah.
"Sunbae bagaimana dengan Kai? Sunbae sudah menyampaikan pesanku?"
Mau tidak mau Suho menepuk jidatnya keras-keras. "yatuhan...aku benar-benar lupa tentang itu, lagi pula kelihatannya Kai sudah mempunyai kekasih." Dusta Suho agar Kristal berhenti menitipkan pesan padanya untuk Kai.
"yatuhan...kalau begitu aku tidak jadi ikut dengan Sunbae ke TKP."
...oOo...
Lexington, Virginia.
Seseorang dengan balutan jas putih, tubuh jangkung dengan sneakers putih yang membalut kakinya dengan indah. Matanya menyapu setiap pejalan kaki yang berjalan didepannya. Saat matanya melihat penampakan seorang anak kecil yang menangis karena balon yang dipegangnya terbang. Laki-laki jangkung itu mendekat mensejajarkan tingginya dengan tinggi anak kecil itu.
"ada apa? apa balon mu tersangkut di pohon?" anak kecil itu mengangguk.
"Dr Kris please get me my ballon."
"with pleasure David." Pria yag ternyata bernama Kris itu mengambilkan balon yang tersangkut di pohon tersebut. Mengambilnya dengan hati-hati agar balon tersebut tidak meletus dan memberikannya kepada David.
"Thank you Dr Kris."
"You are welcome baby."
Kris mengusap rambut anak kecil yang tadi kehilangan balonnya dan terenyum manis. Anak-anak selalu membuatnya senang dan membuat hatinya nyaman. Ya Kris menyukai anak-anak.
Senyuman manis itu hilang bersamaan dengan suara ponselnya yang meraung-raung meminta pemiliknya mengangkat panggilan dari seseorang. "Halo."
"Ohh Kris, kukira kau sedang sibuk,"
"tidak, aku tidak sibuk. Ada apa ayah menelfon? Apa ada sesuatu?"
"ya, banyak."
"lansung saja pada intinya."
"kembalilah ke Korea dan temui adikmu."
Kris terkekeh, adik apanya? Jasper sudah meninggal, dan siapa yang perlu ia temui di Korea jika bukan ayah dan ibunya. Dan Korea itu menurut Kris sangat membosankan. Berbeda dengan Lexington, disini semua orang mengetahui jika Kris putra dari Wu Spence Skipjack, namun di Korea tidak.
"adik? Apa ayah bercanda?"
"kembalilah, ayah akan menjawab kebingunganmu."
"akan ku pertimbangkan."
"kau hanya punya dua pilihan. Kembali ke Korea atau berhenti menjadi seorang Dokter."
"baiklah aku menyerah."
Kris memasukkan benda persegi panjang itu kedalam sakunya. Tidak memperdulikan perkataan ayahnya. Apapun itu Kris tidak peduli.
...oOo...
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Kyungsoo tak lansung pulang ke rumah karena baik Jongin maupun Suho tak bisa menjemputnya. Jadi ia terpaksa tinggal lebih lama di sekolah.
Kyungsoo duduk meletakkan kepalanya di meja kelas. Semua murid sudah keluar dari kelas kecuali ketua kelas dan Kyungsoo. hari ini anak-anak yang terjadwal melakukan piket pulang terlebih dahulu, masa bodo dengan tugas piket.
"Kyungsoo, kau tak pulang?"
Kyungsoo mendongak, matanya menatap mata hitam Jungkook, "nanti saja, aku masih ingin disini."
"kau yakin?" Kyungsoo mengangguk mantap, "kudengar saat sore hari banyak hantu berkeliaran disini, kau tak takut?" Kyungsoo bangkit dari duduknya dan membawa tasnya keluar dari kelas.
Ucapan Jungkook membuat Kyungsoo bergidik ngeri, jika benar-benar ada hantu Kyungsoo harus bagaimana?
"aku baru mengucapkannya saja kau sudah takut."
"aku bukannya takut, hanya saja kupikir Jongin oppa sudah datang menjemputku."
"alasan klasik."
"apa kau bilang?"
"tidak ada, lupakan saja."
Mereka bersama-sama keluar dari kelas, Kyungsoo sangat mudah bergaul dengan teman baru, bahkan dengan satu lirik mata saja ketua kelas dengan sendirinya mendekati Kyungsoo tanpa Kyungsoo suruh.
Rumah Jungkook dan sekolah ini sedikit dekat, hanya berjalan bebera meter saja. Berbeda dengan rumah Kyungsoo yang harus berangkat dan pulang sekolah menggunakan mobil agar cepat sampai.
Kyungsoo duduk sambil menunggu seseorang menjemputnya, ia duduk di halte dekat sekolah, jika tak ada yang menjemputnya sampai sorea maka Kyungsoo memutuskan akan pergi ke rumah Jungkook saja dari pada duduk sendirian di halte bis seperti gadis hilang saja.
15 menit Kyungsoo menunggu kakaknya datang menjemputnya, namun yang datang hanya angin lalu. Dan saat Kyungsoo benar-benar merasa bosan seseorang duduk disebelahnya.
"kau belum pulang Soo?" suara Chanyeol memenuhi gendang telinga Kyungsoo.
Seseorang yang terlihat menghindarinya sekarang justru duduk disebelahnya. Kyungsoo hendak protes namun mulutnya tertutup rapat saat menyadari Chanyeol menatapnya tajam.
"kau membuatku takut." Ujar Kyungsoo memecah keheningan.
"kenapa kau belum pulang? Dimana Jongin hyung?"
"belum datang. Kau sendiri kenapa belum pulang?"
"aku sedang membujuk Baekhyun agar berhenti marah padaku. Gara-gara kau Baekhyun marah padaku dan berpikir macam-macam tentang kita."
"kenapa aku?" Kyungsoo tak terima. Kenapa Chanyeol menyalahkannya? Bukankah Kyungsoo tak pernah mengatakan hal-hal yang aneh? Kenapa pula Baekhyun marah.
"tadi saat jam istirahat kau bilang kita teman kecil bukan? Karena itu Baekhyun marah." Jelas Chanyeol.
"memang benar bukan, kau teman kecilku. Dan apa ada yang salah dengan 'teman kecil'?"
"bukan itu masalahnya baby, Baekhyun marah karena aku tak memberitau padanya jika kau teman kecilku." Ujar Chanyeol sambil melipat kakinya.
"katakan pada Jongin hyung, aku tak bisa datang karena Baekhyun marah."
"baiklah. Ngomong-ngomong, antarkan aku pulang Chan." Kyungsoo memohon dalam hati semoga Chanyeol meu mengantarnya pulang.
"aku tak membawa motor..."
"bilang saja kalau kau tak mau." Ketus Kyungsoo.
"kau mau pulang bersama Sehun? Sepertinya dia belum pulang." Usul Chanyeol ada baiknya, dari pada Kyungsoo menunggu yang tidak pasti lebih baik pulang bersama Sehun.
"sebentar lagi mungkin dia lewat, arah rumahnya sama dengan arah rumahmu."
Ucapan Chanyeol benar, motor sport putih mengkilat yang dikendarai Sehun lewat, Sehun berhenti saat melihat Chanyeol melambaikan tangannya. Melepas helm merk terbatasnya dan menghampiri Chanyeol dan Kyungsoo.
"bisa kau mengantar Kyungsoo pulang Sehun-ah?" dan tanpa menunggu persetujuan Sehun. "baiklah Sehu setuju mengantarmu pulang."
Sehun memasang tampang tidak bersahabatnya. Chanyeol selalu seenak jidatnya memperlakukan orang. "aku menitipkan gadis cantik ini bersamamu Sehun-ah, jaga dia dengan baik."
"apa apaan kau ini." Ujar Sehun.
Sebelum Kyungsoo sempat berkata ;agi Chanyeol sudah melesat pergi, menghilang dari pandangannya dan pandangan Sehun.
"tolong maafkan tingkah Chanyeol, jika kau tak bisa mengantarku juga tak apa, lagi pula sebentar lagi mungkin Jongin oppa datang menjemputku."
"tidak, aku akan mengantarmu pulang. Tapi aku harus membeli buku terlebih dahulu."
"kau ingin membelu buku seperti apa? sepertinya sangat penting."
"sebenarnya tidak juga. Jika bukan Lu Nuna yang menyuruhku aku tak akan mau membeli ukunya."
Sehun kembali memakai helmnya dan menyalakan motor besarnya. Kyungsoo memberanikan diri menaiki motor besar Sehun.
Dalam hidupnya Kyungsoo tak pernah lagi menaiki motor setelah Jasper tiada. Dan juga sebenarnya Kyungsoo sangat takut jika harus naik motor lagi, tapi mau bagaimana lagi sekarang sangat mendesak.
"kenapa kau tidak naik Soo?"
Pertanyaan Sehun mengalihkan lamunan Kyungsoo. Kyungsoo kembali menatap Sehun. "oh...i...itu, aku akan naik." Ucap Kyungsoo terbata.
Jika boleh, dalam keadaan mendesak sekalipun Kyungsoo bersumpah tak akan pernah menaiki motor yang paling mahal sekalipun. Motor adalah traumanya, dan motor adalah sumber masalahnya.
Setelah memastikan Kyungsoo menempatkan dirinya dengan aman Sehun menjalankan motor sport besar dan mengkilatnya. Jalanan terlihat sepi dan Sehun dengan berani menaikkan kecepatannya. Tanpa di sadari Sehun jalanan yang ia lewati terdapat satu polisi tidur. Saat itu juga Sehun panik dan menekan rem mendadak.
Tubuh mungil Kyungsoo tersentak kedepan dan refleks memeluk Sehun. Kejadian itu hanya sebentar. Setelah sadar apa yang ia lakukan Kyungsoo segera menarik kembali tangannya. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
...oOo...
Suho menghela nafas beberapa kali, setelah kunjungannya ke TKP bersama Kristal hasilnya tetap sama, hanya ini dan itu. Well, menjadi jaksa memang harus bersabar jika tak menemukan bukti baru.
"kau sangat lelah bukan?" pertanyaan Yixing membuat Suho mengangguk dan merebahkan tubuh lelahnya ke kasurnya yang empuk. Malam ini Suho kembali menginap di apartemennya untuk menemani Yixing yang sedang dalam dilema besar.
"seharusnya tadi kau tidak usah datang ke TKP jika hasilnya tetap sama."
"siapa yang tau jika hasilnya akan tetap sama baby? Lagi pula aku hampir menyerah dengan kasus ini jika saja posisiku bukan anak didik kesayangan Mr Park." Suho berujar panjang lebar.
Suasana kembali hening, Suho menarik Yixing untuk duduk di pinggiran ranjang dan menidurkan kepalanya yang pusing di paha Yixing. semua kasus-kasus bodoh itu membuat Suho merasa ingin menyerah saja jika mengingat buktinya yang sangat kurang. Penjahat memang selalu menang di awal tapi lihat saja jika Jaksa penuntut Korsel sudah bertindak.
"bagaimana denganmu baby?" Suho bertanya memecah keheningan.
"apanya yang bagaimana?"
"mengenai surat pengunduran diri itu. Apa kau benar-benar ingin mengundurkan diri menjadi pengacara?"
Yixing terlihat menghela nafas. Rasa-rasanya seperti sangat berat sekali jika ia meninggalkan profesi pengacaranya.
"entahlah,"
Suho bangkit dari tidurnya dan menatap wajah cantik wanita didepannya, Yixing yang selalu tersenyum lembut kini sedang dalam masalah, dan satu-satunya yang bisa Suho lakukan hanyalah mendukung yang terbaik untuk kekasihnya.
"apa kau senang menjadi pengacara?"
"tentu saja." Jelas Yixing. pikirannya melayang kemana-mana, kenapa Suho bertanya seperti itu? Jawabannya sudah jelas bukan.
"apa hatimu berdebar saat sedang membela klien mu?"
Yixing melipat dahi dan menggeleng, "untuk apa hatiku berdebar?"
"lakukan sesuatu yang membuat hatimu berdebar, sama seperti saat kau melihatku."
Yixing diam mencoba mencerna perkataan kekasihnya. Memang benar jika melakukan sesuatu yang membuat hatimu berdebar akan terasa berbeda dan menyenangkan, bahkan lebih menyenangkan dari biasanya. Yixing akan mencobanya. Pengacara bukanlah sesuatu yang membuatnya berdebar.
...oOo...
Setelah kejadian diatas motor bersama Sehun. Kini pikiran Kyungsoo terus menerus berpikir jika dirinya sangat bodoh. Bagaimana bisa dia dengan begitu mudahnya mengatakan hal yang tak ingin ia dengar lagi. Yatuhan, apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Kyungsoo.
Saat memasuki rumah. Emosi Kyungsoo benar-benar naik sekarang. Ini sudah pukul 20:00 dan Jongin maupun Suho masih belum menampakkan batang hidungnya. Dasar dua laki-laki mesum itu pasti sekarang sibuk dengan kekasihnya sendiri-sendiri.
Jika Jongin terkenal dengan sifatnya yang suka meniduri sembarang wanita, maka Suho terkenal dengan segala ketidak peduliannya. Wow. Bukankah Suho lebih hebat dari Jongin. Jika Suho memang tidak peduli maka jika ia dipecat dari pekerjaannya oleh Mr Park apa ia akan tetap tidak peduli? Ehey...maksudnya Suho bukannya tidak peduli, hanya saja Suho hanya peduli dengan dirinya sendiri dan orang-orang yang ia sayangi, terutama Yixing.
"nuna sudah pulang."
"yatuhan, apa yang kau lakukan disini Jisung-ah. Pergi sebelum aku murka."
"aku jauh-jauh dari Wynette menuju Korea hanya karena merinduka nuna, dan seperti ini sambutan nuna untukku?"
Ohh...yeah sebelumnya. Jisung itu sepupu Kyungsoo. lebih tepatnya ayah Jisung adalah adik dari ayah Kyungsoo, jadi begitulah mereka berhubungan, Jisung itu sangat menjengkelkan dan perusak suasana.
"apa aku menyuruhmu datang kemari?"
"tidak."
"pergila, atau kau akan semakin menghancurkan susana."
"nuna sangat jahat." Begitulah Kyungsoo jika dalam situasi seperti ini. Lagi pula apa-apaan. Kenapa Jisung disini dan bukannya di Wynette saja. Apa ayahnya sudah gila mengirim Jisung ke Korea. "Nuna, aku tak akan kembali ke Wynette karena ayah memintaku menetap disini, tinggal disini. Ohh yatuhan aku sangat senang akhirnya bisa melihat wajah cantik nuna setiap hari."
"kau sangat cerewet."
"aku memang seperti ini jika didepan nuna."
Kyungsoo ingin melangkahkan kakinya menuju kamarnya, namun lagi-lagi ia bingung dengan pernyataan Jisung tadi? Apa katanya tadi? Menetap? Dirumah ini? Siapa yang menyuruhnya? "Hei. Apa ayahmu yang menyuruhmu menetap disini?"
"hmm...ayah bilang pendidikan di Korea lebih mudah untukku."
"kau sampai di Korea jam berapa?"
"emmm...mungkin sekitar jam 15:30 kalau aku tidak salah."
"kau kemari sendiri atau bersama seseorang?"
"nuna terlalu banyak bertanya. Tadi Jongin hyung menjemputku di bandara."
"ohh...pantas saja manusia jahanam itu tidak menjemputku. Rupanya menjemputmu. Jika saja kau bukan sepupuku mungkin sudah ku usir keluar dari sini."
"terserah nuna saja. Pergilah aku sibuk, dan nuna sangat bau."
"dasar anak kecil kurang ajar."
"nuna. Mungkin besok pagi saat nuna bangun aku sudah tidak dirumah. Jadi jangan merindukanku."
"memangnya kau akan kemana?"
"ayah dan ibu akan menjemputku besok, pagi-pagi sekali."
"itu lebih baik." Cibir Kyungsoo dengan mimik muka masa bodo.
Beginilah jika Jisung dan kyungsoo bertemu. Mereka akan saling mendebatkan hal kecil apapun itu. "ngomong-ngomong nuna, tadi aku melihatmu pulang diantarkan seorang laki-laki. Jika aku tidak salah lihat nuna berpelukan dengannya, dan tadi aku melihat bagian pentingnya. Nuna habis berciuman bukan? Dasar munafik. Nuna bilang nuna tak akan menyukai pria lagi setelah Jasper hyung meninggal. Ahh...yatuhan hatiku terluka."
"ahh...jika tidak salah laki-laki yang tadi aku lihat kenapa wajahnya mirip dengan Jasper hyung? Nuna siapa dia?"
.
.
.
.
.
TBC
Thanks buat yang udah review, tetep di tunggu reviewnya.
Thanks juga yang udah nyempetin baca ff aku.
Kalo review banyak insyaallah tgl 14 januari 2018 aku post ch selanjutnya.
Selamat Ulang tahun untuk Kyungsoo, yatuhan sekarang abang udah 25 tahun. Semoga panjang umur uri Kyungsooie. Makin ganteng, rejekinya dilancarkan. semoga yang disemogakan tersemogakan oppa.
Uri Kyungsooie, semoga makin ganteng, makin imut, makin ++++++ buat Kyungsoo-ku sayang.
Amin.
Happy Birthday For You Do Kyungsoo.
