Saranghae
Byun Baekhyun – Park Chanyeol
Do Kyungsoo – Kim Jongin
And other cast yang bakal nongol di dalam sebagai cameo.
Warning : Typo everywhere, Indonesian Sinetron Style.
vvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
CHAPTER 3 : DEVIL AND ANGEL
"Annyeonghaseyo, aku boleh bergabung, kan?" sapa Baekhyun."Kebetulan aku sedang berkeliling mencari pekerjaan disekitar sini, aku bertemu Jongin. Kenalkan, aku Byun Baekhyun. Saudara sepupu Kim Jongin," ujarnya ketika dia sudah berdiri didepan meja lelaki tersebut.
Lalu sebelum dipersilahkan, Baekhyun menarik sebuah kursi didepan lelaki itu dan langsung duduk. Lelaki bermata bulat nan tajam itu tampak sedikit terkejut, namun sejurus kemudian dia tersenyum.
"Annyeonghaseyo, senang bertemu denganmu, Byun Baekhyun. Aku Do Kyungsoo. Ahh, benarkah kalian saudara sepupu? Tapi nama keluarga kalian berbeda ya?" sahut lelaki yang mengaku bernama Do Kyungsoo itu dengan suara halus dan sopan.
"Ahh, itu karena kami saudara dari pihak ibu," ucap Baekhyun, otaknya langsung saja menemukan cara untuk melanjutkan kebohongannya.
Jongin hanya diam. Ia tersenyum pada Kyungsoo, tetapi sesekali melirik cemas kearah Baekhyun.
"Pekerjaan apa yang kau cari, Byun Baekhyun-ssi?" tanya Kyungsoo lagi.
"Ah, jangan menyebutku formal begitu. Panggil saja aku Baekhyun. Entahlah pekerjaan apa yang cocok buatku. Aku tak menyelesaikan kuliahku di jurusan akuntansi. Hanya sempat kuliah sampai semester dua, sehingga agak sulit bagiku untuk mencari pekerjaan." Jawab Baekhyun masih melanjutkan kebohongannya yang tak sepenuhnya bohong juga. Memang benar ia tak menyelesaikan kuliahnya di jurusan akuntansi karena ia tiba tiba pindah haluan menuju jurusan fashion design yang diidam-idamkannya sejak SMA, dan kebetulan kala itu salah satu universitas memberikan beasiswa penuh bagi mahasiswa jurusan fashion design.
Jongin sedikit berdehem mendengar ucapan Baekhyun itu.
"Maafkan sepupuku ini, Kyungsoo. Ia memang sering kali sedikit lancang. Aku juga kaget bertemu dengannya disini. Lalu ia memaksa untuk ikut. Maaf jika kau merasa terganggu, Soo," kata Jongin mencoba menyelamatkan dirinya. Ia sungguh khawatir Baekhyun akan bertindak lebih jauh.
Kyungsoo tersenyum.
"Ah, gwenchana. Aku senang bisa bertemu dengan sepupumu, Kai. Jika kita bertemu lagi, aku sudah mengenal Baekhyun," sahut Kyungsoo, masih saja bersikap sopan.
"Kai? Itu pasti nama Inggris Jongin. Ciih, baru dua bulan saja dia di London sudah memakai nama yang tidak tidak" pikir Baekhyun. Dalam hati Baekhyun tak tahan melihat sikap Kyungsoo yang sok sopan, ramah dan baik hati itu. Semakin mengaduk-aduk perasaanya. Apakah benar lelaki itu sempurna seperti yang diperlihatkannya? Pasti dia punya kelemahan.
"Jongin memang orang yang terlalu serius, tak bisa diajak bercanda sedikit. Maaf jika saya keterlaluan, Kyungsoo-ssi," kata Baekhyun meniru sikap santun Kyungsoo.
"Kalau boleh tahu, apakah kamu berpacaran dengan Jongin? Ah, Jongin belum pernah cerita kalau punya pacar baru," tanya Baekhyun masih dengan senyum.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya kearah Jongin, lalu tersenyum dan kembali menatap Baekhyun.
"Aku dan Kai masih dalam masa PDKT. Tapi memang tak menutup kemungkinan hubungan kami akan lebih dari ini. semakin lama kami merasa cocok satu sama lain. Kami bertemu dalam perjalan bisnis ke London. Pertemuan yang sangat kebetulan. Padahal kami tidak berada pada perusahaan yang sama. Mungkin memang kami sudah ditakdirkan untuk bertemu. Bahkan dipesawat kami mendapat kursi yang berdampingan." Jawab Kyungsoo panjang lebar.
Jongin hanya berdehem dan melirik sekilas kearah Baekhyun.
Baekhyun menelan ludah. Hatinya panas bukan main. Tapi ia tutupi perasaannya yang sesungguhnya dengan tersenyum lebar dan pura pura tampak gembira.
"Wah, kebetulan sekali. Benar benar sudah seperti ditakdirkan bertemu. Sungguh sangat romantis," komentar Baekhyun , lalu tertawa tipis.
Kyungsoo kembali tersenyum, ia tampak sungguh senang.
"Oya, mengenai pekerjaan, jika kau mau, kau bisa melamar kerja dibutik kami, Baekhyun. Kebetulan bulan ini butik kami sedang mencari pegawai baru sebagai pelayan toko. Walaupun butik kami ini adalah cabang, ini adalah butik SM Collection yang terbesar di Seoul. Sehingga diperlukan tambahan pegawai. Memang bukan jabatan hebat, tapi pelayan toko adalah salah satu jabatan penting yang menjadi ujung tombak imej pelayanan butik kami kepada pelanggan," kata Kyungsoo.
Baekhyun sedikit membelalak saking terkejutnya, ia tak menduga akan mendapatkan tawaran seperti itu. Jongin juga sangat terkejut kemudian tampak cemas.
"Sebaiknya tidak," sergah Jongin cepat.
"Wah, sungguh kebetulan sekali. Tentu saja aku mau, jadi pelayan toko juga bagus. Yang penting pekerjaan halal," ucap Baekhyun berbarengan dengan ucapan Jongin tadi.
Baekhyun menoleh cepat kearah Jongin.
"Apa maksudmu sebaiknya tidak, Mr. Kim? Tidak apa! Bukankah ini tawaran yang bagus sekali buatku? Siapa tau kita nanti bisa sering bertemu," kata Baekhyun, lalu kembali tersenyum puas.
Jongin tak langsung menjawab, ia menatap Baekhyun, tampak jelas menahan geram.
"Maksudku, rumahmu terlalu jauh dari sini, kan?" ujar Jongin memberi alasan.
"Ah, tidak juga. Aku kan tinggal di Seoul juga. Selama masih di Seoul, tak ada jarak yang terlalu jauh. Toh, Seoul hanya kota kecil bagiku. Aku bisa naik kereta Subway atau bis. Lagipula aku senang nanti bisa bertemu Kyungsoo," jawab Baekhyun, ia tersenyum senang, menyiratkan kemenangan satu poin dari Jongin.
Kyungsoo tersenyum. Jongin hanya membuang pandang dari Baekhyun menahan kesal yang amat sangat.
"Kalau begitu, besok hari senin pukul 9 pagi datanglah ke kantor pusat SM Collection di distrik Gangnam. Ini alamatnya," kata Kyungsoo sambil menyerahkan selembar kartu namanya pada Baekhyun.
Baekhyun membaca tulisan yang tertera di kartu nama itu. Do Kyungsoo, Fashion Designer, SM Collection Boutiqe. Huh, keren sekali. Membuat Baekhyun semakin kesal. Tapi saat ini ia sedang berakting menjadi penjilat. Ia ingin menyimpan kartunya dulu sebagai Fashion Designer juga. Baekhyun bertekad ingin menjadi musuh dalam selimut bagi Kyungsoo.
"Wah, Fashion Designer. Keren sekali." Ucap Baekhyun sambil tersenyum. Sekilas ia melihat senyum sinis Jongin. Tapi Baekhyun justru semakin memperlebar senyumnya.
Tak lama, ponsel Kyungsoo berbunyi. Ia segera menerimanya.
"Oh, Mianhaeyo, Baekhyun. Sudah hampir pukul 1. Aku harus kembali kebutik. Senang sekali sudah bertemu denganmu. Kutunggu hari senin ya," kata Kyungsoo sambil bangkit berdiri.
Baekhyun dan Jongin ikut bangkit berdiri.
"Kuantar kau sampai butik, Kyungsoo-ya." Ajak Jongin. "Kau bisa pulang sendiri kan, Baekhyun." Katanya sambil melirik sekilas kearah Baekhyun.
"Oh, tentu saja. Aku memang bermaksud bertemu seseorang didekat sini. Sudah janjian jam dua nanti. Terima kasih Kyungsoo. Aku pasti akan datang hari senin,"
Baekhyun membiarkan Kyungsoo dan Jongin mendahuluinya berjalan keluar kafe. Ia sendiri tidak benar benar pergi dari sekitar kafe. Ia masih mengawasi butik SM Collection dari kejauhan. Sudah pukul satu lewat lima belas menit. Jongin masih belum keluar dari SM Collection.
"Aih, Kkamjong berengsek itu benar benar kepincut dengan lelaki sok sopan itu, hingga rela masih dibutik itu setelah lewat jam istirahat? Memangnya ia tak takut ditegur bosnya?" batin Baekhyun, masih saja ia kesal jika ingat sosok dan perilaku Kyungsoo yang jelas sok jaga imej itu.
Tiba tiba saja ponselnya berdering, dan ternyata Jongin yang meneleponnya
"Yeobseyo, ada apa lagi?" sapa Baekhyun sedikit tak peduli.
"Aku ingin bicara denganmu. Aku tahu kau masih menunggu disekitar butik SM, kan? Sahut Jongin.
"Baik, siapa takut..." jawab Baekhyun menahan kesal.
Tak lama Jongin muncul, lalu mengajak Baekhyun berjalan ke salah satu cafe sekitar butik SM.
"Baek, aku tahu rencanamu. Aku minta tidak kau lanjutkan. Jika ku masih marah,marah saja padaku, tak perlu kau lampiaskan juga pada Kyungsoo. Dia tidak salah." kata Jongin.
Baekhyun menatap Jongin tajam. Ia marah sekali. Tapi ia masih berusaha menahan emosinya. Baekhyun benci melihat Jongin begitu menjaga dan melindungi kyungsoo. Membuatnya sungguh sakit hati. Jongin sangat peduli pada Kyungsoo, tapi sama sekali tak peduli padanya.
"Apa maksudmu? Memangnya aku punya rencana apa?" tanya Baekhyun, suaranya terdengar setengah emosi.
"Untuk apa kau mengambil pekerjaan di butik SM? Sebagai pelayan toko pula? Kau kan sudah punya pekerjaan sebagai Fashion Designer juga. Kau pasti punya maksud tertentu hingga sengaja mengambil pekerjaan itu."
"Kau... Jongin, jangan sok tahu! Karena kau tak tahu apa apa dan tak berniat tahu. Aku memang sungguh sungguh sedang mencari pekerjaan. Kau tidak tahukan, kalau 2 minggu lalu aku dipecat dari pekerjaanku? Ya, silahkan mentertawaiku, Jongin. Nasibku memang malang, dicampakkan oleh tempat kerjaku, sekaligus dicampakkan juga oleh kekasihku! Apa kau puas sekarang?"
Jongin tampak terkejut. Dia baru tahu Baekhyun sudah tidak bekerja lagi. Tapi ia tak tahu harus berkomentar apa.
"Kalau aku menerima pekerjaan itu salah satunya karena aku memang butuh uang. Alasan lainnya adalah karena aku ingin membalasmu, Jongin. Aku tak akan membiarkan hidupmu tenang setelah kau mencampakkan aku begitu saja. Aku akan membuatmu selalu cemas. Cemas dengan apa yang akan aku lakukan pada Kyungsoo," lanjut Baekhyun sambil menatap tajam mata Jongin.
"Baek, kenapa kau jadi seperti ini? Dulu kau tidak begini..." sahut Jongin.
"Kau yang membuatku seperti ini, Jongin. Apa kau tak sadar juga? Aku akan pergi sekarang. Tak ada lagi yang perlu dibahas denganmu," ucap Baekhyun, wajahnya tampak jelas menahan emosi. Baekhyun berbalik, lalu berjalan tergesa menjauhi Jongin yang masih terpaku. Saat Jongin tak melihat itulah, airmata Baekhyun mengalir cepat, membasahi pipinya.
...
Hari menjelang sore. Baekhyun menuju taman kota. Setelah dia ingat ingat lagi, ia merasa pernah melihat lelaki yang semalam mengantarnya pulang disalah satu sudut lapangan ini. Matahari menjingga. Langit kota Seoul terlihat indah sekali. Memandangi keindahan alam ini, sedikit membantu Baekhyun melupakan segala permasalahannya. Beberapa saat kemudian lampu lampu taman mulai dinyalakan. Tak lama berdatangan beberapa orang anak. Baekhyun tak ingat apakah anak anak itu sama dengan yang kemarin malam ia lihat. Tapi saat muncul sosok lelaki bertubuh jangkung berwajah tampan, Baekhyun segera dapat mengenalinya.
Lelaki itu memberikan aba-aba pada sekumpulan anak-anak itu untuk berkumpul didepannya. Baekhyun melangkah mendekati mereka.
Chanyeol mengamati anak anak didiknya tersebut. Ia melihat salah satu anak yang kemaren sempat tak hadir karena sakit.
"Ahh, Yoora, kudengar kemarin kau sakit? Apakah sekarang kau sudah sembuih?" tanya Chanyeol.
Yoora mengangguk. "Kau yakin?" tanya Chanyeol lagi memandang Yoora cemas.
"Yakin, Saem." Jawab Yoora. Chanyeol tersenyum.
Chanyeol menjelaskan tentang drama yang akan mereka mainkan nanti. Sayup sayup suara berat Chanyeol tertangkap ditelinga Baekhyun. Baekhyun semakin tertarik dengan kumpulan anak anak itu. Ia melangkah lagi semakin mendekati mereka. Baekhyun mengambil posisi yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dari mereka. Dari sana ia bisa melihat jelas apa yang lelaki itu lakukan. Terkadang ia memainkan sedikit lelucon yang menurut Baekhyun tidak terlalu lucu, namun anehnya anak anak itu tertawa dengan keras. Baekhyun berdecih dan tertawa kecut. Tapi telinga lebar Chanyeol menangkap "sinyal" aneh disekitarnya.
Chanyeol memicingkan matanya. Di keremangan sore, ia berusaha mengenali Baekhyun yang sedang duduk tak jauh didepannya.
"Hei, kau...sepertinya aku pernah melihatmu," ujar Chanyeol.
Baekhyun tersenyum sinis mengetahui keberadaannya telah disadari oleh Chanyeol. Ia bangkit berjalan menuju kearah Chanyeol yang matanya semakin membesar mencari fokus pada wajah Baekhyun.
"Tentu saja kau pernah melihatku, kau kan yang mengambil kartu ID-ku?" sahut Baekhyun sembari setengah melotot.
"Kau tahu kartu itu adalah benda terpenting zaman ini. bagaimana nanti aku mau mencari kerja dan sebagainya yang memerlukan kartu ID-ku?" lanjut Baekhyun.
Chanyeol tertegun. Mencoba mengingat kejadian semalam. Ya, ia ingat mengambil kartu ID lelaki itu, tetapi dia tak ingat dimana ia meletakkannya setelah melihat alamat yang tertera disana.
"Ah, kau ini! datang kesini tanpa permisi. Lalu kau menuduhku seenaknya. Untuk apa aku mengambil kartu ID-mu? Apa gunanya buatku?"
"Kau harus bertanggung jawab karena kau yang mengambilnya," sahut Baekhyun.
"Baiklah! Kita bicarakan nanti. Setelah aku selesai melatih anak anak ini," kata Chanyeol, sebelum Baekhyun mulai berceloteh lebih banyak lagi.
Tapi Baekhyun tak mau menyerah begitu saja. Ia segera mendekati Chanyeol.
"HAH, kau begitu ingin tahu tentang aku ya? Sampai kau juga mengambil kartu ID-ku? Oh, jangan bilang kau naksir denganku," ucap Baekhyun sambil menatap Chanyeol tajam.
Chanyeol tertawa keras mendengar ucapan Baekhyun itu. "Aku? Naksir denganmu? Apa tidak salah? Kau.." Chanyeol tak melanjutkan kalimatnya.
Ia ingat saat ini sedang berada didepan sekumpulan anak anak dibawah umur. Ia meraih lengan Baekhyun dan menariknya sedikit menjauh dari anak anak itu.
"Sebaiknya kau tak usah segeer itu. Mana mungkin aku naksir dengan lelaki sepertimu. Kau ingat kau mabuk semalam dan muntah dijaketku? Bagian mana dari dirimu yang bisa membuat aku naksir? Hey ayolah walaupun aku kelihatan berantakan begini aku juga punya standar bagi pasanganku" bisik Chanyeol.
Baekhyun melotot mendengar kesombongan Chanyeol. "KAU INI.." seru Baekhyun geram.
"Okay, bisakah kita tunda dulu pembicaraan kita? Aku masih ada urusan penting dengan anak anak itu," potong Chanyeol.
"Aku hanya ingin kau mengembalikan kartu ID-ku. Setelah kau mengembalikannya aku akan pergi. Siapa yang mau berurusan dengan lelaki sombong sepertimu?" ujar Baekhyun sambil menarik lengan Chanyeol.
"Jujur saja aku lupa dimana menaruh kartu ID-mu. Seingatku sudah kukembalikan kedalam dompetmu. Tapi jika kau mau menunggu hingga urusanku selesai dengan anak anak ini, aku akan membantumu mencarinya." Sahut Chanyeol, sambil melepaskan lengannya dari pegangan Baekhyun.
Baekhyun masih saja menatap tajam Chanyeol. "Baiklah aku tunggu," katanya. Lalu dibiarkannya Chanyeol kembali berkumpul dengan anak anak didiknya. Baekhyun menunggu Chanyeol sambil terus memperhatikan cara lelaki itu mengajari anak anak itu berlatih drama. Tanpa sadar ia tersenyum melihat kesabaran Chanyeol. Tampak sekali Chanyeol sangat peduli pada anak anak didiknya itu.
Latihan drama itu akhirnya dimulai juga. Anak anak itu terlihat serius menghapal dialog dialog mereka. Ditengah tengah latihan, mendadak Yoora terjatuh. Ia mengaduh sambil memegang perutnya. Chanyeol segera mengangkat tubuh Yoora.
"Yoora! Kau sakit lagi?" tanya Chanyeol panik.
Baekhyun yang melihat kejadian itu segera berdiri menghampiri Yoora yang sudah dikerumuni anak anak dan Chanyeol tengah memangkunya.
"Baekhyun, bisakah kau telepon ambulans kemari?" tanya Chanyeol, ia masih memangku Yoora yang meringkuk kesakitan. Baekhyun segera menuruti Chanyeol. Tak lama sebuah mobil ambulans datang. Yoora segera dimasukkan kedalam ambulans . Chanyeol ikut masuk untuk menemani. Ambulans itu bergerak cepat menjauhi taman kota. Baekhyun lega sekaligus bangga pada Chanyeol. Walau ia tampak sombong namun ia cukup bertanggung jawab. Baekhyun menuruti perintah Chanyeol untuk membubarkan anak anak yang sedang latihan itu. Baekhyun mengawasi anak anak itu pulang. Entah apa yang ada didalam pikirannya sehingga ia terus menuruti Chanyeol. Tiba tiba ia teringat pada kartu ID-nya yang masih ada pada Chanyeol. Segera ia menyusul kerumah sakit menggunakan taksi.
Sesampai dirumah sakit. Baekhyun melihat Chanyeol tampak kebingungan didepan administrasi rumah sakit.
"Bagaimana keadaan anak itu?" tegur Baekhyun.
Chanyeol menoleh dan tampak terkejut melihat Baekhyun.
"Yoora menderita usus buntu, ia harus segera dioperasi. Tapi...aku tak punya banyak uang dan tak punya asuransi kesehatan," jawab Chanyeol, raut wajahnya terlihat cemas.
Baekhyun mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu jaminan kesehatan. Walau sudah 2 minggu dipecat dari pekerjaannya, kartu jaminan kesehatan dari kantornya itu masih berlaku hingga akhir bulan ini.
"Pakai saja punyaku dulu,"kata Baekhyun sambil menyerahkan kartu jaminan kesehatanya pada Chanyeol.
Chanyeol tampak tercengang. Lalu ia tersenyum senang.
"Wuuahh,! Kau benar benar luar biasa, Baekhyun. Kau adalah malaikat!" ujar Chanyeol sambil menerima kartu yang disodorkan Baekhyun. Lalu tanpa sadar ia meraih tubuh Baekhyun ke pelukannya dan mencium keningnya.
"Terima kasih sekali! Aku tak akan melupakan jasamu!" kata Chanyeol lagi.
Ia masih saja tersenyum senang. Ia serahkan kartu jaminan kesehatan itu pada pihak administrasi rumah sakit. Baekhyun tertegun. Ia mengusap keningnya yang tadi dikecup oleh Chanyeol. Tanpa sadar ia tersenyum tipis.
Yoora langsung dibawa keruang operasi. Chanyeol dan Baekhyun menunggu.
"Sekali lagi terima kasih, aku akan membayar hutangku segera," ucap Chanyeol pada Baekhyun diruang tunggu. Baekhyun hanya tersenyum.
"Kau memang beruntung bertemu aku. Apa jadinya jika aku tak ada," sahut Baekhyun setengah meledek. Chanyeol berdecak.
"Aigoo, sekarang kau mulai sombong," kata Chanyeol.
"Memangnya hanya kau yang bisa sombong? Jangan lupa, kau masih harus mengembalikan kartu ID-ku!" sahut Baekhyun.
Chanyeol tersentak. Ia kembali teringat tujuan Baekhyun menemuinya. Tapi ia masih saja tak ingat dimana kartu ID Baekhyun.
"Aku sudah bilang, aku tidak membawa kartu ID-mu. Coba kau cari lagi di dompetmu atau di baju yang kau pakai kemarin,"
"Sudah kucari dan tak ada! Pasti kau yang mengambilnya."
"Atau jangan jangan jatuh ditaksi?"
"APA? Kau jatuhkan di taksi? Taksi yang mana?" lanjut Baekhyun dengan suara meninggi.
"Itu baruperkiraanku saja, saat itu aku sibuk mengurusmu yang pingsan. Setelah melihat alamatmu, aku tak ingat lagi dengan kartu ID-mu."
"Kau benar benar keterlaluan.!"
Chanyeol hanya mengangkat bahu. Lalu ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia pejamkan matanya mencoba beristirahat sejenak. Baekhyun memandanginya geram. Tiba tiba saja terpikir dibenak Baekhyun ingin merogoh paksa saku celana Chanyeol dan mengambil dompetnya. Siapa tahu kartu ID-nya ada disitu. Dengan gerakan cepat Baekhyun merogoh saku celana Chanyeol. Chanyeol kaget dan tersentak bangun. Tapi ia terlambat. Dompetnya sudah berada ditangan Baekhyun.
"Aku sita dompetmu! Kau boleh mengambilnya jika kau sudah menemukan kartu ID-ku!" ujar Baekhyun lalu berlari pergi meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol terdiam kikuk, ia tak menyangka Baekhyun akan berbuat seperti itu.
"YAA! TUNGGU!" teriaknya sambil mengejar Baekhyun.
Tapi Baekhyun yang bertubuh kecil itu lebih gesit. Begitu Chanyeol sampai didepan rumah sakit, Baekhyun sudah berada didalam taksi dan berlalu pergi.
"Ahh, keterlaluan sekali dia! Senang sekali membuatku repot. Aku pikir dia malaikat. Ternyata dia bisa berbuat setega ini," gumam Chanyeol.
Ia merogoh seluruh saku celana jeans nya dan tak menemukan uang sepersen pun.
"Sial! Bagaimana aku bisa pulang? Awas, jika aku bertemu kamu lagi, Byun Baekhyun!" gumam Chanyeol lagi dengan nada geram.
Tapi kemudian ia tersenyum. Walau bagaimana pun ia merasa berhutang budi pada Baekhyun. Karena lelaki bersurai pirang dan bertubuh kecil itulah Yoora bisa dioperasi sekarang juga padahal ia tak punya banyak uang. Chanyeol segera menekan variasi nomor diponselnya. Sepertinya sudah saatnya ia menemui seseorang untuk sekali lagi memohon bantuannya.
TO BE CONTINUED.
vvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvv
