"Dengarkan aku cucuku."
"hn."
"Cucuku ... kakek sedih melihatmu hidup tanpa didampingi ayah dan ibu membuatmu sedikit berantakan... Kakek takut kau belok, menyukai sesama jenis, mabuk mabukan, tawuran dan Hobby balap liar mu. itu mengerikan. sekarang saja, saat aku masih ada kau sudah terlihat seperti laki-laki, urakan dan terkesan berantakan,"
"hn."
"Maka dari itukakek akan menikahkanmu."
"hn."
.
.
.
"Ayah dan ibu begitu hawatir padamu , nak. Kami akan meninggalkanmu yang pemalas ini pergi bertahun tahun. Siapa yang akan mengurusimu?"
"hn?"
"maka dari itu, kami akan menikahkanmu."
"hmm , ZzZZZZZzzzZZzZZZ..."
.
TITTLE: MENDOKUSAI NO AI
GENRE: ROMANCE , FRIENDSHIP , HUMOR(?) DLL
RATE: T
PAIR: SHIKAKURO
SLIGHT: SHIKATEMA , DEIKURO, SHIKAINO, GAAKURO, GAASAKU dll
DISCLAIMER: NERUTO BY M.K
M.N.A BY UKERU V. YOMIGAERU
-CHAPTER 3–
Warning: semua kekurangan pasti ada di epep ini, mengingat ini epep pertama saya di epepen. Mohon dimaklum, kripik dan koran akan saya terima dgn senang hati, kalau bisa kripiknya jangan pedes-pedes takut sakit perut.
Pagi ini cukup cerah, matahari selaku penerang alam tak segan menyumbangkan energinya, masih setia dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Y.M.E, burung-burung belum kehabisan suara untuk berkicau memberi melody yang harmony menyatu dengan angin yang masih saja belum mendapatkan tujuannya.
"GYAAAA APA-APAAN INI?!" sebuah teriakan seorang gadis memecahkan kedamaian yang tercipta, ia menggosok-gosok pipinya kuat, berharap bedak yang cukup mengganggu kulit wajahnya itu hilang.
"Hohoho... itu bedak terbaik kami, tak akan luntur selama 10 jam." Ucap seorang entah pria atau wanita yang tengah membereskan kotak kosmetiknya dengan puas setelah menyulap gadis tomboy yang ada dihadapannya itu menjadi gadis cantik yang berlapis make-up agak tebal untuk menutupi luka lecet yang menemplok manis dipipi kanannya, dikedua matanya terpasang bulu mata palsu yang lentik, cukup membuatnya sulit untuk membuka mata, tak lupa eye shedow dan blush-on dipadu dengan lipgloss pink cherry yang tertata rapi dengan kontras yang pas diwajahnya yang memang manis.
"APA?!" Kurotsuchi-gadis itu- menatap horror pada orang dihadapannya, orang yang tak ia kenal dan memang tak ingin ia kenal. Sebenarnya aku mau diapakan? Batinnya merinding.
"Ayoo sayang ganti baju..." seorang lain menyembul dari balik pintu dengan menenteng gaun putih panjang tanpa lengan dan juga sarung tangan panjang dengan warna senada. Gadis itu menggeleng, kedua onyx nya menatap horror jenis pakaian yang belum pernah ia kenakan selama ini.
***###***
"TARA! Lihat dirimu, cantik bukan?" ucap si melambai yang sedari tadi merubah penampilan Kurotsuchi, ia menghadapkan gadis itu didepan cermin besar. Entah bagaimana caranya ia membujuk gadis itu untuk mau mengenakan pakaian yang ia berikan, tak lupa rambut hitam pendeknya digelung keatas tak menyisakan poni, lalu menjepitkan sebuah jepit bunga putih besar dengan kain putih transparan yang melambai jatuh hingga pinggul. Gadis itu menganga.
"Siapa itu?" gumamnya pelan, "Itu bukan aku." Lanjutnya.
"Sudah kubilang kau sangat cantik," ucap orang tadi "Dan jangan lupa pakai ini." Lanjutnya menyodorkan sepasang Highheels(?) 12 cm berwarna putih dengan motif bunga yang terlihat anggun, gadis itu melotot. "Aku tidak bisa memakai egrang(?)" ucap gadis itu tiba-tiba teringat permainan tredisional dari indonesia yang merupakan alat bermain yang tinggi untuk berjalan dibuat dari mambu. Namun orang itu tak perduli, sebisanya ia memaksa gadis itu memakai sepatu yang telah disiapkan, lalu membawanya kembali pergi dengan mobil yang telah disiapkan.
"Ne... kenapa ke sini?" Kurotsuchi melongo mobil itu diparkirkan disamping sebuah gereja tua di daerah Iwa. Gadis itu mulai menerawang, sebenarnya apa yang akan mereka lakukan kepadanya? Prediksi-prediksi mulai bermunculan diotaknya, ia menggeleng pelan lalu memandang orang yang membawanya.
"Ayo masuk." Ucap orang itu, Kurotsuchi hanya menurut otaknya masih bekerja keras memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya, ia tak tahu. Kedua matanya bergulir menatap sekeliling gereja, lama sekali ia tak mengunjungi tempat semacam ini. Ia sejenak merenung sebelum kornea matanya menangkap orang yang dikenalnya, kakek Oonoki, dibelakangnya ada Akatsuchi, lalu seorang yang ia yakini adalah pendeta dan ada dua orang lain yang ia tidak kenal.
"Sebenarnya aku mau diapakan?" Tanya gadis itu menatap tajam orang yang membawanya tadi.
"Kau akan tahu nanti, percayalah... rilex saja, dan tetaplah tersenyum agar terlihat anggun." Ucap orang itu seenaknya saja mengatur. Gadis itu memutara bola matanya bosan sambil mendengus.
"Ayo jalan kesana," ucap orang itu lagi, kurotsuchi menatapnya sekilas, orang itu malah tersenyum sok imut sambil mengangguk, gadis itu bersusah payah berjalan dengan alas kaki yang sangat berpotensi untuk jatuh. Ia mendekat kepada sang kakek tanpa bicara, masih sibuk dengan pikiranya.
"Nee... kenapa aku dibawa kemari? Mendokusai.." ucap seorang pria ber-kemeja putih dan ber-jas hitam rapi dengan rambutnya yang tetap Pinnaple style, Kurotsuchi sukses menoleh, "Shikamaru? Ya aku ingat dia shikamaru," batinya baru ingat, "Lalu ada apa dia kesini?" otak kurotsuchi masih sulit mencerna apa yang akan terjadi, loading lalu error, loading lalu error dst...
Shikamaru menatap sekeliling, "Ayah, ibu..." gumamnya heran, kedua orang merepotkan yang sukses menculiknya saat akan menuju sekolah, tak lupa memaksanya menjadi tampan lalu menyeretnya ke tempat ini menuntun Shikamaru menuju orang tuanya. Shikamaru menatap ayahnya meminta penjelasan, namun yang ditatap hanya diam.
Pendeta itu menuju kedepan mimbar(?) diikuti Ayah Shikamaru yang menyeret Shikamaru kesana, pendeta itu merbicara panjang lebar. Pendeta lalu berkata, "Keluarga dan sahabat terkasih, yang telah berkumpul dalam tempat yang indah ini untuk tujuan dari sebuah upacara yang suci dari ikatan pernikahan, apakah anda dengan tulus bersedia memberikan wanita ini kepada pria ini dalam kunci pernikahan?"
Kakek oonoki menyeret Cucunya yang masih bengong kedepan altar, gadis itu baru menyadari ini adalah upacara pernikahan.
"Ya, saya bersedia menyerahkan cucu saya," Ucap kakek Oonoki menyerahkan tangan kanan cucunya yang ia gandeng pada genggaman tangan Shikamaru. Kedua insan itu masih mencoba bangun dari moment yang ia kira mimpi. Kakek oonoki kembali ketempat dengan terbatuk.
"Na-naniiii? Menikah?!" Batin mereka kompak.
"Saudara Nara Shikamaru, bersediakah anda, dihadapan Allah dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, wanita di sebelah kanan anda yang sekarang sedang anda pegang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?" Ucap dan tanya Pendeta itu menatap Shikamaru yang masih linglung. "Saya... ber-bersedia," Shikamaru masih terlihat ragu, agak nya ia ingin berteriak APA-APAAN INI?! Tapi itu sangat memalukan dan sangat sulit ia lakukan.
"Apakah anda bersedia untuk mengambil dia sebagai istri yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?" tanya Pendeta lagi, Pemuda nanas itu melirik Kurotsuchi yang terlihat gelisah dan tak mengerti, lalu ia menatap Ayah dan Ibunya, mereka hanya mengangguk. Beberapa menit hening, pendeta terlihat kesal menunggunya. Otaknya yang ber IQ tinggi terasa sangat rudet saat ini, "Saya bersedia" ucap Shikamaru Kemudian, ia terlihat masih ingin berteriak protes akan acara ini.
Kurotsuchi tidak mengerti jalan pikiran si Nanas yang begitu saja menyetujui hal yang bahkan tak pernah diketahuinya, bahkan mereka baru sebatas tahu nama.
"Saudari Kurotsuchi, bersediakah anda, dihadapan Allah dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah dan senang, pria di sebelah kanan anda yang sedang anda pegang sekarang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama, menjadi istri yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?" Kini Pendeta menatap Kurotsuchi, gadis itu bingung, ia menatap sang kakek, ia ingin berkata TIDAK, namun sang kakek menatapnya mengerikan sekaligus memohon. "sa...saya," Gadis itu benar-benar ragu, gadis tu menatap Shikamaru sejenak, seperti meminta persetujua. Hening... membuat orang yang ada disitu gereget. Ia menggigit bibir, air matanya nyaris meluncur "Saya bersedia."
"Apakah anda bersedia untuk menerima dia sebagai suami yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?" Kurotsuchi diam sejenak, mengenang masa-masa yang ia lalui, "Saya bersedia." Ia memejamkan mata masih menahan airmata yang ingin cepat lepas. Ia berjanji akan memprotes kakeknya setelah ini.
"Shikamaru, apakah anda memiliki sesuatu yang anda bawa sebagai bukti kasih dan sayang anda untuk diberikan kepada pasangan anda, sebuah tanda bagi perjanjian yang kudus ini?" tanya pendeta lagi, Shikamaru celingukan, ayahnya memberikan sebuah cincin kepada anak tunggalnya itu. Shikamaru menjawab, "Ya, saya membawanya."
"Apakah itu?"
Shikamaru menjawab, "Sebuah cincin."
"Di segala zaman dan diantara semua manusia, cincin telah menjadi sebuah symbol yang sangat berarti, lalu, pada waktu yang suci ini, sebuah symbol dari tindakan anda, kesetiaan yang tiada batas. Cincin ini berbentuk lingkaran, tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir; sehingga sampai masa tua anda, hingga kematian dan sampai selamanya anda harus mempertahankan janji yang tidak dapat digugat ini yang telah ditandai dan dimateraikan oleh sebuah cincin. Sebagai sebuah ingatan yang terus-menerus dari makna yang dalam ini, maka tempatkanlah cincin ini pada jari pasangan anda dan ulangilah apa yang akan saya ucapkan."
"Saya, Shikamaru Nara mengambil engkau, Kurotsuchi, sebagai istriku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seteruusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama kita masih hidup. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia saya memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baik saya akan saya bagi bersama denganmu, di dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, memberkati sampai selama-lamanya. Amin." Shikamaru mencoba menuruti apa yang dikatakan pendeta dan memasangkan cincin itu di jari manis Kurotsuchi dan berharap semua ini cepat berlalu dan terbangun?
"Kurotsuchi apakah anda memiliki sesuatu yang anda bawa sebagai bukti kasih dan sayang anda untuk diberikan kepada pasangan anda, sebuah tanda bagi perjanjian yang kudus ini?"
Kakek Oonoki sempat menyelipkan cincin pada genggaman cucunya tadi, "Y...ya, "saya membawanya."
"Apakah itu?"
"Sebuah cincin."
"Mensahkan dengan signifikasi yang sama sebagaimana dengan cincin yang telah anda terima, sebuah lingkaran emas yang berharga yang mengindikasikan dari kedalaman kasih anda dan kesetiaan yang sungguh-sungguh, tempatkanlah cincin ini pada jari pasangan anda dan ulangilah apa yang akan saya ucapkan."
"Saya, Kurotsuchi menerima engkau Shikamaru Nara, sebagai suamiku yang sah, untuk memiliki dan menjaga dari hari ini hingga seteruusnya, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, dalam kondisi susah maupun senang, untuk bergantung kepada engkau dan hanya engkau, selama masa kita hidup berdua. Dengan cincin ini aku menikahi engkau, dengan kasih yang setia saya memberkahi engkau, semua ucapan-ucapan baik saya akan saya bagi bersama denganmu, di dalam nama Allah Tritunggal berkat dari Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, Amin." Sama hal nya Kurotsuchi menuruti apa yang dikatakan Pendeta itu dan menyematkan cincin di jari manis Shikamaru.
"Dan sekarang, melalui kebajikan yang dikuasakan kepada saya sebagai seorang pelayan dari bla bla bla..."
"Dan atas anda Shikamaru Nara serta anda Kurotsuchi yang akan membantu dia dalam segala pekerjaannya, semoga berkat dari surga berdiam selamanya, yang membuat anda berdua menjadi sebuah berkat bagi setiap orang yang mengenal anda dan mengasihi anda. Untuk tujuan itu mari kita berdoa" pendeta berdoa
"Silahkan Saudara Shikamaru mencium Saudari Kurotsuchi yang telah menjadi Istri anda," Ucap pendeta menyeringai mesum*plak*
Dua insan itu saling pandang dengan tatapan tidak mengerti, pipi sang gadis bertambah merah lebih dari blush-on yang mewarnai pipinya. Shikamaru menggaruk tengkuknya tidak gatal. Err-
"Silahkan." Kata pendeta itu lagi,
"Eng- boleh?" tanya Shikamaru pelan berbisik ditelinga gadis itu, "e-ehh... ta-tapi," Gadis itu menjadi gugup, kakeknya mengangguk-angguk, sedangkan Shikaku dan Yoshino sedikit terkikik.
"Hanya simbol," Shikamaru berbisik lagi, "Ba-iklah." Kurotsuchi mengangguk pelan ia mencoba memejamkan matanya.
CUP, kedua bibir itu hanya sebatas menempel beberapa detik, dan disambut tapuk tangan aneh.
.
.
.
Kini mereka duduk di ruang keluarga Kurotsuchi, lengkap dengan kakek Kurotsuchi dan ayah-ibu shikamaru. Kini Kurotsuchi telah kembali mengenakan kaos dan calana jeans selutut, wajahnyapun sudah tidak ber make-up setelah dikompres air hangat, sedangkan Shikamaru masih mengenakan kemeja putih yang tidak rapi lagi. Suasana Memang agak canggung dan Hening karena dua orang yang baru saja menjadi Suami-istri muda itu sibuk dengan pikiran masing-masing, kacuali ayah-ibu Shikamaru dan Kakek Oonoki yang mengobrol ala orang tua yang sangat membosankan.
"kakek, a-aku mau bicara." Kurotsuchi membungkuk mencoba sopan pada mertuanya, dan melenggang menuju kamar, sang kakek berjalan mengikuti sang cucu.
"Kek, apa maksud semua ini?" Gadis itu telah mencurahkan air matanya, ia hampir melepas cincin yang ia pakai, namun dicegah sang kakek.
"Demi kebaikanmu..." Ucap kakek serius.
"Tidak! Kebaikan macam apa ini kek?" Ucap Kurotsuchi diantara isakkannya.
"Kau tidak bisa menolak,"
"Tapi kek, aku-"
"Ughh.."
"Kakek, kau baik baik saja?" seketika gadis itu panik, kakek tiba-tiba mengerang, tangannya memegang kepalanya seperti menahan sakit.
"Tolong... Sh-Shika, tolong!"
"Ayah, ibu... ini," Shikamaru menatap kedua orang tuanya,
"Kau punya asuhan baru," ucap Shikaku. Yoshino hanya tersenyum simpul.
"Mendokusai," shikamaru menguap.
"Tolong... Sh-Shika, tolong!"
Reflek mereka saling berpandangan, "Apa yang terjadi?" Yoshino angkat bicara. Tanpa diperintah, Shikamaru segera menuju asal suara. Aepertinya keadaan kakek kembali Drop, mereka segera membawa kakek ke RS. Terdekat.
"Nara, Jaga Cucuku baik-baik." Ucap Kakek pada Shika saat keadaannya mulai membaik di RS, tinggal ada Shikamaru dan Kurotsuchi disitu.
"Hn, baiklah mendokusai..." Ucap Shikamaru mati-matian menahan menguap.
"Dan kau Cucuku, jadilah Istri yang baik. Hilangkan semua kebiasaan lamamu,"
"Mana bisa?!" gadis itu mendengus.
"Dengarkan dulu!" Geram kakek, "Aku sudah menyuruh seseorang mengurus surat pindah sekolahmu, satu sekolahan dangan suamimu. Sekarang kau boleh pulang ke Konoha, dan besok boleh mulai bersekolah di Konoha High school."
"NANI?!"
"Pstt kau tak ingin memperpayah keadaan kakekmu kan?" Shikamaru berbisik selagi membekap mulut gadis itu dengan tangan kanannya, Kurotsuchi mengangguk matanya mendelik pada sang pembekap. "Hn bagus, ayo pulang kerumahmu mengambil bajumu secukupnya..." lanjutnya.
.
.
.
Kurotsuchi masih bergelut dengan pikirannya, Shikamaru masih berkonsentrasi dengan menyetir mobil, waktu sudah tidak menunjukan siang. Hening... kurotsuchi tak suka hening sebenarnya, tapi dalam keadaan seperti ini ia tak mungkin bernyanyi-nyanyi gila kan? Setelah mengambil beberapa pakaian di Rumah, kurotsuchi terpaksa ikut dengan orang yang kini berstatus suami untuknya.
"Shika- namamu Shikamaru Nara, benar?" Tanya kurotsuchi kemudian tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus menatap depan.
Orang yang dipanggi hanya menoleh sebentar, lalu kembali berkonsentrasi dengan menyetir. "Hm, ya... Hoamm." Jawabnya. "Dan kau Kurotsuchi, benar? Kurotsuchi Nara." Ucap pria nanas itu tak lupa menguap.
"Heii jangan merubah Marga orang seenaknya!" Kurotsuchi mendadak ngotot mengerikan, membuat yang diajak bicara menggumam mendokusai berulang kali dihatinya.
"Tapi kenyataannya Marga mu sudah menjadi Nara," Ucap Shikamaru enteng, gadis itu menerawang, iya juga.
"Aku tidak menyangka harus menjadi istri secepat ini dengan orang yang bahkan hanya kutahu namanya..."
"..."
"Apa kau tidak menyesal dengan pernikahan ini?" Tanya Gadis itu tiba-tiba,
"Hn, mungkin tidak... kita jalani saja, sepertinya ini kerjaan ayah-ibuku dan kakekmu yang menghawatirkan kita, kudengar orangtuaku akan meninggalkanku bertahun-tahun ke luar negri, dan kakekmu sakit..." gadis itu hanya mendengarkan apa yang dikatakan Shikamaru, memang otak cerdas Laki-laki itu dengan mudah menebak apa yang terjadi. "Lalu?"
"Ya mudah saja, kita bisa bercerai setelah lulus SMA, saat itu mereka sudah tidak akan mengkhawatirkan kita."
"Semudah itu?" Gadis itu menatap tajam pria yang masih saja terlihat tenang dihadapannya, tapi terlihat dari matanya Shikamaru terlihat tertekan, sekeliling matanya terlihat menghitam, seperti menahan perasaan kecewa atau kesal atau apalah itu. Tapi sepertinya gadis itu tak mengerti tentang Psikis seseorang, ia hanya mengira pria itu memang selalu tenang dan meneria apapun itu, "Yang benar saja, pernikahan bukan mainan-" gadis itu diam sejenak, "Tapi... kau benar juga,"
TBC
Anno, gomen kalau acara pernikahannya tidak sesuai, soalnya aku kan non-Kristen jadi ini juga Copas di Google, gomen-gomen ... ceritanya juga jadi rada aneh... xD
._.v
Oya, aku sudah Publish FF Oneshoot "First Love," itu penggalan dari Masalalu Kurotsuchi. xD
Arisaaoi 39, aku senang kau suka. Tapi kalau Pair Shika-Tema kan sudah banyak dan sangat sering... aku Suka Pair Unik, dan menurutku, Pair Shika-Kuro itu Unik hanya ada di Zokai.. :3
Oke, error nya sudah kubenarkan, sekarang Tiap chapternya sudah berurutan.. 39 ...
Dikdik717 Umhh iya un, error akunya belum biasa di FFN xD
Tapi sekarang sudah kuperbaiki kok, Ini kelanjutannya.. semoga kau suka ... 39 ... :3
Ri Hoho bunyi bell yg lucu xD
Occe 39.. :3
Ochi Nata_chan Occe occe, palingan anak-anak Konoha muncul di Chapt depan xD
39...
Ruki Scarffy err- kayaknya gak akan naikin Rating dahh, aku bemum luas untuk membuat yg begituan .. xD
Occe. 39...
