Halo semuanya!

makasih lagi buat semua yang udah review and fave story ini!

Arigatou!

Sori ya... update-nya lama... lagi banyak tes sih...

Btw...

Mungkin ada beberapa dari para pembaca yang bingung kenapa Sasuke OOC...

nah, di chapter ini semuanya akan terungkap!

Slamat membaca! :D


CHAPTER 3

"Keluarlah dari Konoha, Sakura. Menikah denganku untuk membangun kembali klan Uchiha. Jika kau menolak, aku akan menghancurkan Konoha sekarang."

Kata-kata Sasuke membuat jantungku berhenti berdetak. Aku berusaha memalingkan mataku dari matanya, namun semakin keras usahaku untuk mengalihkan tatapanku, semakin dekat jarak wajah Sasuke dengan wajahku. "K-kenapa harus aku yang menikah denganmu?" tanyaku dengan suara yang bergetar. Apa yang harus kulakukan? Mengapa Sasuke tiba-tiba mau menikah denganku?

"Sudah kubilang, aku ingin seorang penerus yang cemerlang dan sempurna. Karena itu aku membutuhkanmu," Sasuke tiba-tiba meraih tanganku. "Sebenarnya, aku juga bisa memilih wanita cerdas yang lain seperti Ino. Dia tidak kalah cerdas dan sebenarnya lebih cerdas darimu."

Aku mengerutkan kening mendengar Sasuke yang memuji Ino. Sasuke tidak pernah membicarakan Ino dan kenapa sekarang dia tiba-tiba memuji dia? Sasuke bahkan tidak pernah memperhatikan Ino. Darimana dia tahu bahwa Ino lebih pintar dariku? Namun, semua kecurigaanku lenyap akan debaran jantung ketika Sasuke mulai menautkan jari-jarinya di antara jari-jariku.

Sasuke mengeluarkan senyum dingin-nya ketika dia melihat wajahku yang sudah merah terbakar. Dia mulai membuka mulutnya lagi. "Aku akan memberimu waktu sampai tengah malam. Tinggalkan Konoha dan menikah denganku."

"B-bagaimana kalau aku menolak?" tanyaku dengan suara bergetar.

"Kau tidak bisa menolak." Sasuke tersenyum sinis. "Kau mencintaiku. Dan kau tahu itu."

Jantungku kembali berhenti berdetak. Aku sama sekali tidak bisa membantah ucapannya. Memang, aku mencintai Sasuke. Sangat mencintainya. Wajah Sasuke kembali muncul di kepalaku. Senyum miring-nya. Matanya yang tajam. Raut wajah yang serius... Tak pernah sekali pun aku tidak tergila-gila dengannya.

"Kau mencintaiku, Sakura. Akuilah," Sasuke tersenyum dan meletakkan tangannya di wajahku.

Aku menatapnya dalam-dalam dan hanyut akan senyuman miringnya itu. Tanpa kusadari, tanganku sudah berada di atas tangan Sasuke. Sejak dulu, aku ingin sekali berdekatan seperti ini dengannya. Aku ingin sekali mendampinginya seumur hidupku, membuatnya menjadi milikku. Sekarang, kesempatan itu sudah ada di depan mataku. Aku... bisa bersama Sasuke selamanya.

Sasuke menurunkan tangannya dari wajahku dan mengulurkan tangannya itu ke arahku. Aku menatap tangan yang terulur itu. Jika aku meraih tangan itu, aku akan bersama Sasuke. Menikah dengannya. Sasuke... memilihku untuk mendampinginya.

Jika aku meraih tangan itu, dia akan menjadi milikku.

Ketika aku hendak menyambut uluran tangan Sasuke, wajah Naruto tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku tersentak dan memegang kepalaku. Kenapa? Kenapa di saat-saat seperti ini Naruto harus muncul di benakku? Aku memejamkan mataku erat-erat, berusaha untuk melenyapkan bayangannya. Namun, semakin aku berusaha untuk melenyapkan wajah Naruto dari pikiranku, semakin jelas bayangannya muncul di kepalaku. Sosok Naruto yang sedang mengulurkan tangannya ke arahku. Cowok itu tersenyum ramah dan menatapku dengan matanya yang hangat.

Tidak.

Tidak.

Naruto sudah punya Hinata. Dia tidak mungkin memilihku seperti itu.

Sakura-chan, aku akan terus melindungimu.

Aku tersentak ketika aku teringat akan ucapan Naruto di dalam gua rahasia itu.

Aku tidak akan meninggalkanmu.

Teringat akan suara Naruto yang lembut dan hangat, air mataku kembali meleleh. "A-aku tidak bisa..." gumamku lirih. Aku menengadahkan kepalaku dan menatap Sasuke lekat-lekat. "Aku tidak bisa bersamamu. A-aku..." suaraku tercekat dan dengan tangan yang bergetar, kuusap air mataku. Setelah menghapus semua air mata keraguan dari wajahku, aku menatap Sasuke dengan tajam. "Aku mencintai Naruto." Ujarku dengan nada mantap. Keraguan yang sejak tadi bersarang di dalam dadaku telah lenyap seketika. Aku tahu bahwa aku sangat bodoh karena memilih Naruto yang sudah menjadi milik gadis lain, namun, aku tidak bisa meninggalkannya. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya.

"K-kau mencintai Naruto?" suara Sasuke bergetar dan dia membekap mulutnya.

"Ya." Aku menjawab dengan tegas. "Silahkan saja kalau kau mau menghancurkan Konoha. Yang pasti, aku akan menghentikanmu dengan segenap kekuatanku!"

"Hei, hei! Sakura! Kau aneh sekali!" Sasuke tertawa kaku. "Kenapa kau masih memilihnya? Kau mencintaiku, kan? Kau suka dengan cowok tampan sepertiku!"

Pertanyaan Sasuke bergema di kepalaku. Kenapa aku memilih Naruto? Kenapa aku mencintainya? Pertanyaan itu sama sekali tidak bisa kujawab. "Aku tidak tahu," gumamku sambil mengingat wajah cowok tolol yang merebut hatiku itu. "Hanya saja... dia selalu melindungiku dan berada di sisiku... Lalu..." aku memejamkan mata dan teringat akan senyuman-nya yang ramah dan sorot matanya yang penuh akan kehangatan. Jika bersama Naruto, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa merasa nyaman. Sedangkan di depan Sasuke, aku harus berpura-pura menjadi cewek manis dan sopan. "Memang, kau cowok tertampan yang pernah kukenal, namun aku tidak pernah merasa nyaman jika aku berada di dekatmu. Kau..." ucapanku terhenti ketika aku menatap mata Sasuke.

Aneh. Ada yang aneh.

Sejak dulu tatapan mata Sasuke selalu dingin. Ketika terakhir kali aku bertemu dengannya, aku tidak bisa menemukan belas kasihan sedikit pun di sorot matanya. Namun sekarang...

"Sakura! Aku masih tidak bisa percaya kau menolakku begitu saja! Kau memilih Naruto yang sudah punya pacar daripada Sasuke Uchiha ini?" Sasuke menjerit frustrasi.

Dadaku berdetak kencang ketika aku mendengar ucapan Sasuke. "Pacar?" gumamku sambil meraih kunai perlahan-lahan. "Kau tahu dari mana kalau Naruto punya pacar?" aku mendesis sambil menyodorkan kunaiku. "Siapa kau? Kau bukan Sasuke!"

Cowok yang berada di depanku ini langsung panik seketika. Dia mundur perlahan-lahan sambil meringis. "Hei, hei! Jangan begitu, dong! Ini aku, Sasuke!"

"Huh! Sasuke tidak pernah terlihat panik seperti itu! Kau pasti orang Konoha!" Tidak mungkin ada orang luar yang tahu bahwa Naruto sudah pacaran. Hanya orang Konoha yang tahu. "Tunjukkan wajah aslimu atau aku tidak akan segan-segan melempar kunai ini," aku mengancam sambil memasang aba-aba untuk melempar.

"Oke, oke! Jangan marah dulu!" Orang yang menyamar menjadi Sasuke itu menghela napas. Di detik kemudian, terdengar bunyi 'pooff' dan seluruh ruangan dipenuhi akan asap. "Dasar! Hebat juga kau! Kau memang jenius!"

Keningku berkerut ketika aku mendengar suara sopran yang centil. Asap itu perlahan-lahan memudar dan aku mengertakkan gigi ketika aku menatap sosok gadis dengan rambut pirang panjang dan mata biru kehijau-hijauan. "Kau mau kubunuh, ya?" aku menggeram dari sela-sela gigiku. "INO?"

"Hei, hei! Sabar, dong!" Ino Yamanaka langsung panik ketika melihatku mengepalkan tangan dan mulai siap untuk melepaskan tinju mautku. "Aku hanya ingin mengetesmu!"

"Tes? Dengan cara menyamar menjadi Sasuke dan mengajakku menikah?" aku maju selangkah dan dengan spontan, Ino melangkah mundur.

"H-habisnya aku penasaran kenapa kau menjadi aneh begitu! Aku pikir pasti ada hubungannya dengan Naruto, jadi aku berubah jadi Sasuke untuk mengetes perasaanmu! Aku ingin tahu apakah kau akan memilih Sasuke atau Naruto. Dan ternyata kau memilih Naruto," senyum centil Ino mulai menghiasi wajahnya. Namun, kemarahanku tidak memudar melihat senyumannya. Sebaliknya, aku semakin ingin membunuhnya.

"Dasar Ino BABI!" aku menyumpah. "Kalau begitu untuk apa kau membuat ibuku pingsan? Kau tahu betapa paniknya aku ketika melihatnya tergeletak di lantai? Kau tahu kalau jantungku nyaris meledak ketika melihat Sasuke yang mengajakku menikah?" jeritanku menggelegar di seisi rumah dan aku tidak peduli. Saat ini, aku ingin sekali menerkam cewek gendut ini. "Kau tahu betapa kacaunya pikiranku ketika aku harus memilih antara mengikuti Sasuke dan meninggalkan Naruto?"

"T-tenang, Sakura! Tenang!" Ino berseru ketakutan. "Ibumu tidak apa-apa! Aku hanya memberinya sedikit gas tidur! Aku tidak mau kalau dia melihat wajah Sasuke yang buronan ini! Bisa-bisa seluruh desa jadi kacau! Aku hanya ingin menguji perasaanmu! Itu saja, kok! Maaf deh kalau aku keterlaluan..." dia bergumam lemah.

"Kalau hanya ingin menguji perasaan, kau bisa tanyakan langsung padaku, kan?"

"Kau pikir hari dimana kau mengatakan 'aku mencintai Naruto' akan tiba jika aku tidak melakukan hal ini?"

Aku langsung tersentak mendengar ucapan Ino. Meski pun masih marah, di dalam lubuk hatiku mau tidak mau aku mengakui ucapannya.

"Haahh... tapi aku sama sekali tidak percaya kalau kau akan menolak Sasuke yang sudah kau sukai sejak dulu... Kalau aku pasti sudah kuterima! Menikah, loh! Menikah!"

Aku hanya mendengus mendengar ucapannya. Sekarang, amarahku perlahan-lahan menghilang. "Pantas saja Sasuke memuji dirimu. Aku sudah bingung ketika mendengar Sasuke memuji Ino. Eh, ternyata kau sendiri Sasuke itu! Sekarang semuanya jadi jelas!" aku mendengus lagi. "Tapi kenapa kau bisa menyamar jadi Sasuke? Bukankah kau belum pernah melihat Sasuke dengan sosok dewasa? Kenapa kau bisa berubah menjadi wajahnya semirip itu?" tanyaku, bingung.

"Ah, itu sih gampang!" Ino meringis. "Sai kan sudah pernah bertemu dengan Sasuke yang sekarang. Aku tinggal minta dia berubah menjadi Sasuke dan setelah itu aku tahu deh bagaimana sosoknya yang sekarang! Sasuke yang sekarang tampan sekali, ya! Aku tak menyangka kau benar-benar menolaknya..."

"Sosoknya, sih, memang menawan..." gumamku. "Tapi tatapannya semakin lama semakin dingin dan penuh akan nafsu membunuh..."

Ino terdiam mendengar ucapanku. Dia sadar apa yang ingin kuucapkan. Sasuke sudah bukan lagi Sasuke yang dulu kami sukai. Sasuke sudah berubah.

"Lalu, kau mau apa setelah kau tahu kenyataannya?" tanyaku, memecahkan kesunyian. "Kau mau menyebarkan hal ini ke seluruh desa?"

"Hei! Jangan sinis begitu, dong! Aku tidak sejahat itu, tahu!" cewek itu mengerucutkan bibirnya, tersinggung. "Tentu saja aku akan membantumu mendapatkannya!"

Aku terdiam ketika mendengar ucapan Ino. Mendapatkan Naruto? Bayangan Naruto kembali muncul di kepalaku dan kali ini, aku membayangkan kami berdua bergandengan tangan. "D-dia sudah punya Hinata..." aku bergumam lirih, cepat-cepat melenyapkan semua bayangan itu.

Ino mengerutkan kening mendengar jawabanku. "Hei! Sejak kapan kau menjadi lemah seperti itu?" dia berkacak pinggang. "Naruto tidak mungkin bisa suka Hinata tiba-tiba! Dia pasti masih punya perasaan padamu! Nah, sekarang, ijinkan aku menebus kesalahanku ini dengan cara menyatukan kalian berdua, oke?" ujarnya sambil mengedipkan mata.

"Sudahlah. Aku sudah memutuskan untuk membiarkan mereka berdua bahagia," jawabku dengan tegas. "Lagipula kalau kau yang mengatur hal ini, pasti semuanya akan menjadi berantakan!"

Ino hanya berdecak mendengar ejekanku. "Ternyata kau ini belum mengetahui kehebatan Ino-sama, ini! Tenang saja! Serahkan saja padaku! Aku ini selalu dikenal dengan julukan 'Ratu Cupid Ino-sama', loh! Oho ho ho ho!"

Aku menaikkan sebelah alisku. Sejak kapan dia dipanggil dengan nama panggilan itu?

.

.

.

.

.

"Yoshaaaa! Baiklah! Ayo kita mulai latihan!" Naruto berseru dengan semangat sambil menyentakkan tangannya ke angkasa. Hinata tersenyum lebar sambil mengangguk dengan wajah bersemu merah.

"A-aku akan berusaha..." dia bergumam lirih sambil tersenyum malu.

"Ah, Hinata! Jangan lesu begitu dong! Ayo semangat!" Naruto menyoraki Hinata sambil tersenyum lebar, membuat wajah Hinata semakin merah terbakar.

"Betul kata Naruto! Kita harus semangat!" Ino ikut-ikutan berseru.

Aku hanya terpaku menatap mereka bertiga. Sambil menyipitkan mataku ke arah Ino, aku mulai berbisik diam-diam ke arahnya.

"Ini rencana hebatmu? Berlatih berempat dengan Naruto dan Hinata?" desisku di telinganya. "Rencana hebat, Ino! Aku kagum sekali denganmu!" aku mencibir, kesal.

"Kau tenang saja! Bagian serunya belum dimulai," dia balas berbisik. "Ingat! Kau harus melaksanakan apa yang kusuruh kemarin!" Ino menyeringai ketika melihatku mengangguk. "Oke, kita laksanakan rencananya!"

Aku menghela napas dan mulai berjalan mendekati Hinata dan Naruto. "Ayo! Kita mulai latihan!" ujarku sambil tersenyum lebar. Ketika kami bertiga mulai berjalan menuju kedalaman hutan, Ino tiba-tiba menjerit nyaring.

"AAAHHHHH! Kalungku tidak ada!" jeritnya sambil meraba-raba leher.

"Kalung apa?" tanya Naruto, bingung.

"Itu kalung yang sudah diwariskan turun menurun dari nenek moyangku selama seratus tahun!" Ino menjerit dengan suara bergetar. "Bagaimana ini? Kalung itu melambangkan kehebatan klan Yamanaka! Selama seratus tahun ini kalung itu dijaga baik-baik dan sekarang aku menghilangkannya!" cewek itu mulai bersuara dengan tersedat-sedat. "Hinata, bisa bantu aku mencarinya dengan byakugan milikmu?" Ino memohon sambil menarik Hinata. Tentu saja gadis itu langsung mengangguk ketika menatap wajah memelas Ino. "Makasih, Hinata! Naruto, Sakura, maaf ya, tidak bisa ikut latihan..."

"Tidak apa-apa. Jangan khawatir! Kalung itu pasti ketemu, dattebayo!" Naruto meringis. "Bagaimana kalau aku bantu cari?"

"Tidak usah. Hinata bisa membantuku," Ino memasang tampang lemas. "Maaf, ya, Naruto, Sakura..." cewek itu diam-diam mengedipkan matanya ke arahku. Aku menghela napas ketika menatapnya pergi bersama Hinata. Diam-diam aku merasa bersalah dengan Naruto dan Hinata. Ino hanya berbohong tentang kalung itu. Lagipula, seratus tahun yang lalu klan Yamanaka belum lahir sama sekali. Ino itu sebenarnya tidak cocok dengan panggilan 'Ratu Cupid Ino-sama'. Dia cocok dengan panggilan 'Ratu Licik Ino-sama'.

"Jadi, kita berlatih berdua saja?" suara Naruto membuatku tersentak kaget.

"Oh, a-ayo!" ujarku, tergagap. Entah mengapa aku tiba-tiba merasa tegang. Naruto sama sekali tidak bergerak ketika mendengar jawabanku. Dia hanya menatapku dengan tajam. Tanpa kusadari, tatapannya membuat jantungku mulai berpacu dengan kencang. "A-ada apa?" tanyaku sambil memalingkan mata dari tatapannya.

"Kau aneh, Sakura-chan!" Naruto mengerutkan kening. "Aku tahu kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku. Kau tidak pernah bersikap seperti ini padaku sebelumnya. Sebanarnya, ada apa?" tanya Naruto sambil mengerutkan kening. Namun, aku tidak bisa menjawab pertanyaannya karena terlalu terkejut. Aku tidak menyangka kalau Naruto akan sadar bahwa sikapku menjadi aneh. "Apakah kau menjadi begini karena aku berpacaran dengan Hinata?"

Pertanyaannya langsung menancap ke tengah-tengah jantungku, membuatnya berhenti berdetak. Dari mana dia tahu akan hal itu? Aku menjerit di dalam hati.

"Kau menjadi aneh sejak aku bilang padamu kalau aku pacaran dengannya..." gumam Naruto. "Kau sembunyi di dalam kamar selama lima hari dan tidak menemuiku. Kau juga kabur begitu saja ketika aku ingin bicara denganmu. Kau... selalu mengalihkan matamu dari wajahku..." Naruto menggigit bibirnya. "Itu... Aku tidak suka akan hal itu..."

Aku hanya terdiam ketika mendengar pernyataannya. Ternyata, bukan hanya aku yang merasa gusar. Naruto juga merasakan hal yang sama karena aku menjauhinya. "U-untuk apa kau memikirkan hal itu? Kau sudah punya Hinata," ujarku tanpa menatap ke arah matanya.

"Tidak ada hubungannya dengan Hinata!" dia berseru kesal. "Aku... hanya ingin bersama denganmu... apakah itu salah?" gumamnya dengan wajah merah padam. Aku tersentak ketika mendengar ucapannya. Tidak mempercayai pendengaranku, aku menatapnya dengan mulut yang terbuka lebar. "A-aku serius, dattebayo!" cowok yang tersipu malu itu mengusap kepalanya sambil mengalihkan tatapannya dari mataku. "Entah kenapa... aku ingin sekali bertemu denganmu... makanya aku senang sekali ketika Ino mengajak untuk berlatih bersamamu...dattebayo..."

"Be-benarkah?" gumamku, lirih. Aku kembali teringat oleh ucapan Ino ketika melihat Naruto yang mengangguk dengan malu-malu.

Naruto tidak mungkin bisa suka Hinata tiba-tiba. Dia pasti masih punya perasaan padamu.

Tiba-tiba, aku merasa bahwa aku masih punya kesempatan terhadap Naruto.

Aku bisa mendapatkannya lagi.

"Sebenarnya..." aku mulai membuka mulut. "Aku merasa aneh ketika kau pacaran dengan Hinata. Apalagi ketika aku mendengar dari Ino bahwa Hinata tidur di pangkuanmu..."

"Eh, tunggu!" Naruto menghentikan ucapanku. "Hal itu tidak pernah terjadi! Sejak kapan Hinata tidur di pangkuanku?" tanya Naruto, bingung. Mendengar ucapannya, aku ikut bingung.

"Ino bilang kalau dia melihat kalian piknik bersama di taman Konoha. Lalu Hinata tidur di pangkuanmu dan kau mengipasinya..."

Naruto hanya mengerutkan kening mendengar ucapanku. Setelah berpikir sejenak, dia menepuk kepalan tangannya.

"Oh! Jangan-jangan yang waktu itu, ya?"

"Waktu itu?"

Naruto meringis. "Aku memang piknik bersamanya di taman Konoha. Hanya makan siang! Lalu, ketika sedang makan bersama entah mengapa Hinata bersikap aneh. Wajahnya merah sekali! Lalu, aku memuji masakannya seperti biasa. Setelah aku memujinya tiba-tiba dia langsung pingsan dan kepalanya jatuh di pahaku. Aku tidak tega untuk menyingkirkan kepalanya, jadi aku hanya mengipasinya supaya dia cepat sadar." Naruto meringis melihatku yang melongo. "Ino salah paham!"

Perasaan lega yang menyeruak di dalam dadaku sama sekali tak bisa kugambarkan. Semua perasaan cemburu dan sedih yang bersarang di dalam dadaku entah hilang kemana. Senyum Naruto melebar ketika dia melihatku menghela napas lega. "Aku dan Hinata memang pacaran, tapi kami sama sekali belum melakukan sesuatu yang mesra-mesra, kok! Aku tidak tahu mengapa, tapi aku tidak berniat melakukannya... Seperti gandengan tangan?" Naruto menatap tangannya. "Menurut buku Sai, jika kita menyukai seseorang, kita pasti akan merasa ingin menyentuh orang itu... namun entah mengapa aku sama sekali tidak terpikir untuk menyentuh Hinata..." cowok itu menurunkan tangannya dan mulai menatapku dalam-dalam. "Aku... menyukai Hinata... Dia cewek baik, manis, perhatian... Aku tahu kalau aku menyukainya... tapi aku tidak pernah berdebar sekali pun ketika berada di dekatnya..."

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, apalagi ketika menatap mata Naruto yang tajam. Perlahan-lahan, aku mulai membuka mulutku. "Mmm... mungkin kau masih belum merasakan perasaan berdebar itu. Kau kan masih polos!" aku menyeringai. "Sudahlah, kita latihan saja, yuk!" ajakku sambil menyeringai.

Aaaahhhh! Bodoh! Padahal tadi itu suasananya bagus sekali! Kenapa kau malah mengalihkan pembicaraan? Hati nuraniku mulai berteriak protes.

Berisik! Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, bodoh! Aku tegang! Aku berteriak, memadamkan suara hati nurani itu.

Naruto menyeringai. "Ayo! Aku tidak akan kalah! Kita mau latihan dimana?"

"Di atas danau." Aku menunjuk ke arah genangan air biru jernih yang berada di dekat kami. Aku sendiri tidak mau berlatih di atas danau, tapi entah mengapa Ino ngotot menyuruhku melakukan itu. Naruto meringis dan tanpa membuang waktu, dia melepaskan jaket orange dan celana panjangnya. Mau tak mau wajahku tersipu juga menatapnya yang bertelanjang dada dan bercelana pendek. Setelah melepas sepatunya, Naruto melompat tinggi dan mendarat di atas danau. Aku menarik napas dalam-dalam. Ini hanya latihan. Latihan. Aku terus mengingatkan diriku. Setelah melepaskan sepatu, aku ikut melompat ke arah danau. Kakiku yang sudah dipenuhi cakra berpijak di atas air.

"Ayo, Naruto! Kita mulai!" aku berseru kencang. "Aku akan melayangkan serangan pertama!"

"Yoshaaa!" Naruto balas berseru dan di detik kemudian, aku berlari ke arahnya sambil mengumpulkan cakra di telapak tanganku.

"Syanarooo!" aku menjerit kencang dan melontarkan tinjuan andalanku ke arahnya. Naruto meringis dan dia sama sekali tidak mengelak. Tinjuanku mendarat dengan tepat di wajahnya, membuat cowok itu terlempar jauh sekali dari danau. Tiba-tiba, Naruto yang terlempar itu mengeluarkan bunyi 'poof' dan menghilang.

Kage bushin?

"Tak secepat itu, Sa-ku-ra-chan!"

Aku tersentak ketika merasakan desahan napas panas yang menggelitik telinga itu. Aku langsung menyentakkan kepalaku ke belakang, namun, aku tidak bisa menemukan cowok berambut pirang itu. Tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram kakiku dan menarikku ke dasar danau. Karena rasa terkejut, cakra di kakiku melenyap dan tubuhku langsung terperosok ke dalam danau bersama dengan orang yang menarikku ini. Aku berusaha berenang dan kembali ke atas danau, namun kedua tanganku terkekang oleh sepasang lengan yang kuat dan kekar sehingga aku sama sekali tidak dapat bergerak. Naruto yang berhasil mengekangku ini meringis penuh akan kemenangan. Dia dengan segera melepaskan cengkeramannya sehingga aku bisa kembali ke atas danau dan menghirup oksigen.

"Bagaimana dengan kecepatanku? Sakura-chan?" tanyanya dengan bangga. Aku menghirup napas dengan terengah-engah, sama sekali tidak percaya bahwa Naruto bisa bergerak secepat itu. "Ini berkat latihan keras di air terjun itu, loh!" dia meringis lagi, namun seringainya itu tiba-tiba lenyap ketika dia menatapku. Wajahnya entah kenapa langsung bersemu merah dan dia mengalihkan matanya dariku. Aku hanya mengerutkan kening menatap tingkahnya yang aneh itu. Namun, tidak lama bagiku untuk menyadari mengapa wajahnya merona merah. Karena terendam di air, pakaianku menjadi basah dan tercetak di kulitku, menampakkan lekuk-lekuk tubuhku yang menonjol.

Wajahku juga langsung memerah. Dengan panik, aku berusaha menutupi pakaian dalamku yang tercetak jelas di balik pakaian yang basah. "C-cabul! Jangan lihat!" aku membentak Naruto. Cowok itu tersentak panik.

"S-siapa yang cabul? Tunggu disini, ya, Sakura-chan! Jangan kemana-mana! Aku akan segera kembali!"

Mataku terbelalak ketika di detik berikutnya Naruto tiba-tiba lenyap dari hadapanku.

"Naruto?" gumamku, lirih.

"Aku kembali." Tiba-tiba Naruto sudah berada di depanku, membuatku kaget.

"Hei! Jangan muncul dan lenyap secara tiba-tiba, dong! Kaget nih!" gerutuku, kesal. Naruto meringis sambil melingkarkan jaket orange-nya di sekeliling tubuhku. Aku terkejut dan menatap cowok itu. Dia hanya tersenyum lembut ke arahku.

Ah...

Senyuman itu. Entah sudah berapa lama aku merindukan senyuman dan tatapan mata yang hangat itu. Tanpa kusadari, aku sudah terhanyut di dalam mata biru Naruto yang hangat. Aku mengulurkan tanganku dan pelan-pelan, kuletakkan tanganku di pipinya.

"Makasih," gumamku sambil tersenyum lembut. Naruto tidak berkata apa-apa. Dia hanya meletakkan tangannya di atas tanganku dan mengusapnya, merasakan kehangatan tanganku.

"Sakura..." dia mendesah pelan. Napasnya yang panas dan bergelora menerpa wajahku, membuatku bergidik. Kami berdua bertatapan dalam-dalam dan perlahan-lahan, Naruto mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Dadaku berdetak kencang.

Ini salah.

Wajah kami berdua hanya berjarak beberapa senti saja.

Ini tidak benar. Naruto masih pacaran dengan Hinata.

Suara-suara itu terus muncul di kepalaku, namun aku sama sekali tidak menghiraukan suara-suara itu. Kupejamkan mataku erat-erat dan semua suara itu menghilang. Naruto mempererat genggaman tangannya di tanganku dan pada detik berikutnya, bibir kami berdua bertemu.


TBC

Bagaimana kesan para pembaca?

Sori kalau kurang memuaskan.

Habisnya aku agak rush waktu nulis chap ini...

Mohon maaf sebesar-besarnya ya...

Please R&R :)

Arigatou!

PS: kasih tahu bagian mana yang kalian suka ya :)