Yuuma dan Luka saling bergandengan.
Bibir mereka bertemu.
Lama dan tak ada yang mengetahuinya.
…
.
More than Friends, Less than Lovers
[Scolding]
.
…
Hari itu masih musim dingin. Yuuma berjalan kaki dari rumah ke sekolahnya yang baru sendirian. Tempat tinggalnya lebih dekat dibanding dulu dan ia harus bersyukur karena itu. Sebab, ia tidak harus lagi bangun terlalu pagi hanya untuk makan sereal dengan mata terpejam. Ia tidak suka ketika ia salah memasukkan sendok ke dalam hidungnya dan membuat kakak perempuannya yang sudah SMP mengejeknya idiot. Harus ada yang membelikan cermin untuk kakaknya itu.
Yuuma mengusap hidungnya yang merah. Sepertinya ia akan terkena flu tak lama lagi. Yuuma memaki dalam hati. Ia memang tak suka dingin karena ia mudah sekali sakit saat suhu menjadi sangat rendah. Hidungnya juga lebih sensitif, mudah sekali terkena flu.
"Hidungmu merah banget."
Yuuma menoleh. Anak perempuan yang duduk di sebelah kanannya, Hatsune Miku, tersenyum amat lebar, seperti menertawakan sesuatu yang lucu. Yuuma bertanya-tanya, sejak kapan Miku berjalan di sampingnya tanpa ia sadari. Mengerikan.
"Hei, Yuuma-kun! Kau seperti ayahku!"
Anak perempuan itu bersuara lagi. Sangat nyaring. Yuuma mengeluh. Miku tak perlu berteriak seperti itu sebenarnya. Jalanan begitu sepi, Yuuma bahkan bisa mendengar suara klakson mobil dari jalanan yang agak jauh dari sini.
"Hmm," Yuuma menggumam, malas meladeni kecerewetan Miku.
"Kalau musim dingin, hidung ayahku juga merah. Pipinya juga, seperti buah tomat!"
Ingin sekali rasanya Yuuma berteriak agar anak perempuan menutup mulutnya sekarang juga. Siapa peduli ayah Miku juga berhidung merah kala musim dingin? Itu sama sekali tidak penting. Dan kenapa anak ini begitu sok akrab? Cara bicaranya terlalu kasual untuk seseorang yang baru dikenal dua hari lalu.
Yuuma mempercepat jalannya. Miku terengah-engah mengikuti. Langkahnya tak selebar langkah anak laki-laki bermata kuning itu. Ia memang termasuk dalam kategori kecil di kelasnya, meskipun bukan yang terpendek. Susah payah, dia berlari mengejar dan tak sengaja tersandung kakinya sendiri. Miku jatuh. Wajahnya mencium jalanan dengan sukses.
"Yuuma-kun!" Miku terisak.
Yuuma menoleh dan melihat anak perempuan itu terduduk di jalan dengan air mata menggenang. Anak laki-laki itu tak peduli. Ia malah mempercepat langkahnya, meninggalkan Miku yang lututnya tergores. Yuuma tak mau repot-repot menolong Miku lalu dipaksa merasa bersalah dan minta maaf. Lagipula, bukan dia yang menyuruh Miku berlari mengejarnya. Jadi, itu sama sekali bukan salahnya anak perempuan itu terjerembab.
"Yuuma-kun!"
Jeritan Miku makin kencang. Yuuma menutup telinganya. Ia tak mau peduli, tapi ia tak tahan untuk tidak menoleh. Ia pun memutar kepalanya sedikit dan melihat Miku masih menangis. Hanya saja, ia tak sendiri. Ada seseorang di sampingnya berjongkok dan mengelus kepala Miku pelan. Yuuma mengenal orang itu. Dia anak perempuan yang duduk di samping kirinya, Luka Megurine.
Yah, Yuuma bakal kena damprat.
-tobecontinued-
