Sebuah fiksi untuk meramaikan #NijiAkaWeek2K16
Day 3 – Instinct/Seduction.
Note: untuk yang ini, saya tidak menggunakan fem!Akashi seperti dua prompt yang sebelumnya, wkwk. Menggunakan dunia malam sebagai latar cerita. Warning, khusus untuk Day 3 rated M.
Sumber ide cerita: plotideas twitter.
Enjoy the story!
—
Menipu seseorang bukanlah hal yang sulit bagi Akashi Seijuurou. Apalagi tikus-tikus buncit dan tante-tante kesepian yang haus belaian. Ia belum pernah gagal barang satu kalipun menipu dan mengeruk habis barang bawaan mereka yang berharga.
Masih di bar yang sama, ia duduk di sebuah bangku tinggi di depan meja bartender. Menghisap rokoknya sembari mengedarkan pandang ke sekeliling, mencari mangsa. Bartender berambut perak di hadapannya menuangkan wine pada sebuah gelas, lalu meletakkannya di depan pemuda itu.
"Tumben kau masih disini, Akashi."
Atensi Seijuurou kini beralih pada Mayuzumi Chihiro, sang bartender, lalu meletakkan rokoknya pada tepian asbak sebelum merespon kalimat itu. "Belum ada yang menarik perhatianku."
"Heh." Sudut bibir Chihiro terangkat, membentuk sebuah seringai mengejek di bibir. "Tidak biasanya kau pilih-pilih. Yang penting banyak uangnya, bukan?"
Seijuurou hanya mengangkat bahunya cuek, lalu meraih gelas di depannya dan meminum habis isinya dalam sekali teguk.
Atensinya kembali tertuju pada si bartender saat bartender itu menyikutnya dan mengedikkan dagunya ke arah pintu masuk bar saat perhatian Seijuurou sudah terarah padanya. Seijuurou lalu mengikuti arah pandang Chihiro, menemukan seorang lelaki jangkung dengan rambut hitam legam tengah memasuki bar dan berjalan menembus kerumunan di lantai dansa.
"Namanya Nijimura Shuuzo, teman kampus. Pewaris tunggal perusahaan multinasional, alias konglomerat kelas atas. Masih single, tak tertarik pada perempuan." Chihiro tahu-tahu menjelaskan tanpa diminta, membuat kening Seijuurou berkerut heran. "Kau sedang mengumpankan temanmu padaku, begitu?"
"Tidak juga." Chihiro mengangkat bahunya cuek. "Hanya menyarankan, siapa tahu sesuai dengan seleramu."
"Heh." Seijuurou mendengus pelan, sebelum melompat turun dari bangkunya. "Akan kubagi setengah hasilnya padamu kalau memang aku dapat banyak dari temanmu itu, Chihiro."
"Oke. Semoga berhasil, kalau begitu." Chihiro menjawab setengah berteriak, memperhatikan punggung Seijuurou yang bergerak menjauh. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mengirim sebuah pesan singkat pada kontak bernama Shuu.
To: Shuu.
Messages: Target sedang menuju ke arahmu.
Tak sampai semenit kemudian, ponselnya bergetar—pesan yang baru saja dikirimnya tadi mendapatkan balasan.
From: Shuu.
Messages: Siapkan minuman dan obatnya. Dosis tinggi, jangan lupa.
—
"Ow—sorry."
Seijuurou mengulas sebuah senyum tipis saat Nijimura Shuuzo, calon mangsanya, tak sengaja menabraknya. Keduanya kini berdiri berhadapan, menggerakkan tubuh secara random mengikuti musik diskotik di tengah-tengah lautan manusia. Seijuurou mengamati lelaki tersebut—dan menyadari bahwa Nijimura Shuuzo punya senyum yang menawan.
"Terpesona padaku, huh?"
Seijuurou mendengus pelan, diikuti dengan sebuah kekehan kecil. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat tertangkap basah mengamati Shuuzo diam-diam oleh yang bersangkutan. "Anda percaya diri sekali, Sir."
"Mengaku saja." Shuuzo mengulas sebuah senyum remeh—yang sialnya, sangat menggoda di mata Seijuurou. Lelaki itu bahkan sudah merapatkan tubuhnya pada Seijuurou, dan melingkarkan sebelah tangan pada pinggang Seijuurou untuk menahannya agar tidak menjauh. "Aku juga tertarik padamu, kalau boleh jujur."
Seijuurou menahan senyumnya, selagi tangannya mengelus kerah jas Shuuzo. Diluar senyumnya yang menawan, lelaki ini tak ada bedanya dengan yang lain. Seijuurou bahkan tak perlu repot-repot menggodanya lebih jauh, lelaki itu sudah jatuh dalam perangkapnya. Kalau begitu, buat apa berlama-lama? Langsung saja bawa ke kamar.
Seijuurou mendongakkan kepalanya, melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh Shuuzo. Sedikit berjinjit sebelum membisikkan sesuatu di telinga Shuuzo. "Anda tidak keberatan kutemani, Sir?"
"Tentu."
Semuanya terjadi begitu cepat. Seijuurou dapat merasakan bibir Shuuzo bergerak liar di bibirnya, melumatnya dengan tergesa. Seijuurou tersenyum tipis, balas melumat bibir Shuuzo sama liarnya, dengan sebelah tangan meremat rambut hitam lelaki itu. Melenguh pelan saat merasakan tangan Shuuzo meremas pinggangnya, disusul dengan lidah yang menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Ciuman itu terlepas beberapa saat kemudian, digantikan dengan kecupan-kecupan ringan di bibir Seijuurou, sementara yang bersangkutan mengatur nafas. Manik heterokrom Seijuurou bertemu dengan manik abu-abu gelap milik Shuuzo.
"Aku Nijimura Shuuzo, omong-omong."
"Seijuurou." Seijuurou balas menggumam singkat. Tangannya bergerak turun, melepaskan pelukannya pada leher Shuuzo. "Disini terlalu ramai, Sir. Bisakah kita pindah ke tempat yang lebih privasi?"
"Tentu."Shuuzo tampak menyeringai senang. "Panggil Shuuzo saja, aku belum setua itu, Seijuurou."
—
Diantarkan oleh seorang bartender bernametag Mayuzumi Chihiro, Seijuurou dan Shuuzo kini duduk berhadapan di sebuah ruangan, ditemani sebotol wine di atas meja. Seijuurou menawarkan diri untuk menuangkan minuman, dan mencuri kesempatan untuk memasukkan obat tidur dosis tinggi pada gelas Shuuzo. Ia hampir tak bisa menahan senyumnya saat Shuuzo mengambil gelasnya. Ia lalu mengambil gelasnya sendiri dan meneguknya untuk menyamarkan seringainya, agar Shuuzo tak curiga.
Inilah yang biasa dilakukannya. Menipu tikus-tikus kaya yang kesepian macam Shuuzo, menjebaknya dengan obat tidur dosis tinggi, lalu merampas semua uang yang dibawa mangsanya dan pergi setelahnya. Obat tidur dosis tinggi membuat mangsanya terlelap bahkan sebelum mereka sempat menyentuh Seijuurou. Cukup menyenangkan, bukan?
Atensi Seijuurou terfokus pada Shuuzo saat merasakan genggaman erat di pergelangan tangan kirinya. Gelasnya terlepas dari tangannya—Shuuzo yang merebutnya lalu meletakkannya di atas meja. Tangannya ditarik paksa, dan tubuhnya dihempas begitu saja di atas ranjang. Membuat senyum Seijuurou mengambang. "Kemarilah, Shuuzo-san. Ranjang ini rasanya dingin sekali kalau kutempati sendiri."
"Oh ya?" Shuuzo melangkah mendekat, menahan kedua tangan Seijuurou di sisi kepala dan menindihnya. "Aku merasa sangat panas, kalau kau mau tahu."
Lagi, keduanya terlibat dalam sebuah ciuman liar yang menuntut. Seijuurou memejamkan mata—sedikit heran mengapa ciuman Shuuzo terasa sebegini memabukkannya. Shuuzo menggigit bibir Seijuurou, menghisapnya kuat hingga terdengar bunyi decak basah yang membangkitkan gairah.
Ciuman liar itu melambat beberapa saat kemudian. Pegangan di kedua pergelangan tangannya juga mengendur, diikuti dengan ambruknya tubuh Shuuzo di atas tubuhnya. Obat tidurnya sudah bekerja. Setelah menunggu beberapa saat, Seijuurou menyingkirkan tubuh Shuuzo dari atas tubuhnya dengan hati-hati, sebelum mulai memeriksa isi kantong dan melucuti barang-barang berharga milik Shuuzo.
Keningnya berkerut heran saat menemukan uang dalam jumlah besar di dompet Shuuzo. Nominalnya terlalu banyak. Normalnya, ia hanya akan menemukan uang tunai sekian ratus ribu yen di dompet—sementara sisanya, beberapa kartu kredit yang disusun rapi bersama kartu penduduk dan kartu nama.
Masa bodoh, lah.
Seijuurou mengeluarkan semua uang tunai yang ditemukannya. Ia juga melepas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri Shuuzo—ia yakin harganya bisa sampai puluhan juta—lalu memasukkannya ke dalam kantung plastik yang sudah di siapkannya. Menyimpannya di dalam saku jaket, ia lalu beranjak menuju pintu sebelum Shuuzo bangun.
Eh?
Seijuurou mengerjap bingung—kenapa pintunya tak bisa dibuka? Seingatnya, ia dan Shuuzo sama sekali tak menguncinya tadi. Dicobanya memutar kenop pintu sekali lagi. Pintu itu masih tak bisa dibuka.
"Mau pergi begitu saja setelah merampokku, begitu? Tidak sopan sekali."
Seijuurou berjengit saat mendengar suara itu. Kepalanya menoleh, mendapati Shuuzo kini duduk di tepian ranjang dengan seulas senyum remeh di bibir. Sialan, bagaimana mungkin lelaki itu sudah bangun? Seharusnya, obat tidur itu bisa membuatnya tidur sampai lima jam kedepan.
Secara otomatis, kepalanya menoleh ke arah meja, dimana Shuuzo meletakkan gelasnya. Seijuurou membelalak terkejut saat menyadari bahwa gelas Shuuzo masih penuh. Isinya sama sekali tidak berkurang meski hanya setetes. Oh sialan—jadi Shuuzo hanya berpura-pura tidur?
"Aku sama sekali tak keberatan kau mengambil uang itu, Seijuurou." Shuuzo beranjak dari tempat tidur, melangkah lambat ke arahnya. "Tapi aku keberatan kalau waktu bermainku diganggu."
Shuuzo tiba-tiba merangsek maju dan mendorong Seijuurou hingga menabrak pintu. Seijuurou meringis menahan sakit, namun tia-tiba melenguh saat lutut Shuuzo menyentuh selangkangannya.
"Obat perangsangnya sudah bereaksi?" Shuuzo berbisik di telinga Seijuurou, sesekali menjilat dan menggigit daun telinganya. Seijuurou hanya bisa melenguh pasrah saat lutut Shuuzo kini semakin menekan wilayah pribadinya, seiring dengan munculnya denyar-denyar aneh yang semakin menjadi saat Shuuzo bersentuhan dengannya.
"Akh—sialan-"
"Nah—ayo bermain denganku sampai pagi, Seijuurou."
"Hentikan- AKH—S-Shuuzo—!"
—
"Oi, bangun, Akashi."
Seijuurou mengernyit sebelum membuka matanya. Dan kembali mengernyit saat merasakan pening di kepalanya, berikut dengan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Perlahan, kilas balik tentang kegiatannya semalam bersama lelaki berengsek bernama Shuuzo menyeruak memenuhi ingatannya. Membuatnya mengumpat kesal.
"Oi, Akashi. Kau baik?"
Seijuurou melirik ke arah seseorng yang ngotot membangunkannya. Mayuzumi Chihiro. Sekali lagi, ia mengumpat.
"Temanmu itu sialan sekali, Chihiro."
"Oh ya?" Chihiro membantu Akashi berdiri, lalu melepas sprei ranjang yang—tolong jangan bertanya bagaimana rupanya dan seberapa banyak bekas-bekas bercinta yang tertinggal disana. "Tapi dari teriakanmu semalam, sepertinya kau sangat menikmatinya." Ujarnya cuek, sambil memasukkan sprei yang baru saja dilepasnya ke dalam keranjang.
"Shut up—oh sial, dimana pakaianku?"
"Nih." Chihiro menyerahkan kantung plastik berisi pakaian kepada Seijuurou, buru-buru menambahkan sebelum Seijuurou bertanya. "Dari Shuu. Pakaianmu sudah robek tak berbentuk. Jadi pakai saja."
Sekali lagi, Seijuurou mengumpat.
"Dan ini—" Shihiro mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah surat. "Dari Shuuzo juga, tentu saja."
"Buang saja—"
"Tidak, dia memintaku menyerahkannya padamu dan memastikan agar kau membacanya."
Seijuurou meraih surat itu asal, lalu membukanya dan mulai membacanya. Keningnya berkerut dalam, dan matanya memancarkan ekspresi jijik yang sangat kentara, sebelum kembali mengumpat dengan suara keras.
"BRENGSEK!"
Lain kali, aku akan sangat senang jika kau memanggilku daddy, Seijuurou. Sampai ketemu di ranjang lagi.
Shuuzo.
[END]
