CHAPTER 3
Yaaay, akhirnya update juga =w= maaf lama sekali. Soalnya sedang banyak kegiatan dan tugas sekolah, jadi nggak sempet update lagi! Ini chapter ke-3, lanjutan Kaito dan Luka kencan :3 maaf untuk bahasa yang berantakan, karena ini di upload langsung tanpa editan dari editor yayang chika tersayang
-ChikaftNeiyha-
Luka yang sudah berganti baju kemudian turun dari kamarnya. Hari ini dia memakai baju terusan berwarna putih dengan cardingan hitam diatasnya sebagai penutup. Wajah Luka yang cantik dibiarkan tanpa polesan sedikitpun ( karena sebenarnya Luka juga malas sekali untuk "KENCAN" bareng om-om seperti Kaito ). Dengan langkah yang agak malas, Luka berjalan keluar dari rumahnya. Di halamannya sudah menunggu Kaito dengan mobil BMW hitamnya yang membuatnya makin terlihat elegan dan berkelas.
" Silahkan masuk " , tawar Kaito sambil membukakan pintu mobilnya.
" Terima kasih ", jawab Luka singkat sambil masuk ke dalam mobil sampai akhirnya Kaito menutup pintunya.
Kaito masuk dan menjalankan mesin mobilnya. Akhirnya mobil pun mulai berjalan. Tetapi sesaat setelah itu, tidak ada suara sedikit pun dari sang pengemudi ataupun penumpang, Kaito terlalu sibuk menyetir sembari menjawab telepon bisnis melalui earphone yang selalu terpasang ditelinganya. Sedangkan, Luka sendiri sudah tidak peduli lagi dengan seseorang disampingnya. Yang dilakukannya hanya bertopang dagu dan memandang keluar jendela mobil.
" Maaf ya, padahal aku sedang mengajakmu kencan. Tapi sepertinya banyak gangguan ", akhirnya Kaito memecah keheningan setelah melepas salah satu earphone dari telinganya.
" Tidak, silahkan saja. Toh, aku sudah tidak peduli ", jawab Luka sambil menghela nafasnya tanpa menengokan kepala kepada orang yang mengajaknya bicara.
" Oh, begitu ya ", balasnya sambil tersenyum kecut, " Kalau begitu, hari ini ada tempat yang ingin kau kunjungi ? ", tanya Kaito.
" Nggak ada! Bukan akukan yang tiba-tiba ngajak kencan. Jujur aja, kenapa kencan pertamaku harus sama om-om sih? ", jawab Luka kesal.
" Tunggu dulu! Kau bilang apa? Om-om? Hei non, umurku masih kepala 2 ya, darimananya yang om-om ", balas Kaito tak kalah kesal karena perlakuan gadis disampingnya.
" 20-an akhirkan? Sama saja! ", bentak Luka yang akhirnya menengokkan kepalanya untuk melihat Kaito, " Jujur saja, aku heran sama kamu! Di umurmu yang sudah hampir kepala 3 itu kenapa nggak punya istri sih ? Dengan tampang dan harta seperti itu mustahil ada orang yang menolakmu "
" Mustahil ? Bukankah kemarin kau menolakku? ", balas Kaito dingin
" Bu... Bukan begitu maksudku! ", jawab Luka terbata-bata karena Kaito sukses membalikkan kata-katanya, " A... aku sih nggak tertarik dengan yang namanya cinta atau apapunlah, yang penting sekarang itu... keluargaku ", jawab Luka pelan sambil menundukkan kepalanya menatap jauh ke kakinya.
Sesaat keadaan menjadi hening, keadaan yang seperti itu pun bertahan sepanjang perjalanan berlangsung. Keduanya sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tentu saja hal tersebut membuat atmosfir negatif semakin memenuhi mobil yang sedang melaju tersebut.
-ChikaftNeiyha-
Mobil BMW Hitam tersebut berhenti disebuah pintu depan hotel mewah berbintang lima. Sang pengemudi dengan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang disebelahnya, dan setelah si penumpang keluar dia langsung melemparkan kuncinya kepada Bellboy di dekatnya. Kemudian membimbing sang gadis memasuki pintu depan hotel tersebut.
" Ho... Hotel ? ", tanya Luka masih tidak percaya akan tempat yang sedang dikunjunginya ini.
" Iya, Ada masalah ? ", tanya Kaito balik kepada Luka menyadari ekspresi kaku pada raut muka sang gadis.
" Maksudmu apa membawa seorang gadis ke hotel sendirian seperti ini! ", bentak Luka dengan mata melotot.
" Hah? Kamu... ", sebelum selesai bicara tiba-tiba Kaito berhenti " Oh! Hahahahaha, kamu mikir apaan sih! Kamu kira aku ajak kamu ke sini untuk apa ? ", tanya Kaito disela-sela tawanya yang terbahak-bahak.
" Loh? Bukan ya? ", tanya Luka dengan raut muka yang polos.
" Kau kira disini cuma hotel? Disinikan juga ada restoran dan mall, jangan mikir yang aneh-aneh dong. Lagian ini masih pagi! Dasar anak kecil ", kata Kaito sambil mengusap-usap kepala Luka.
" Ah! Berisik! Nggak usah sok akrab deh! Cepat selesaikan "KENCAN"mu itu dan segera pergi dari sini ", sahut Luka menekankan kata "KENCAN" sambil menepis tangan Kaito dari kepalanya.
Kaito hanya menanggapinya dengan senyuman yang menyiratkan kekecewaan seperti yang tadi Kaito lakukan saat Luka bilang tidak peduli dengannya. Kemuadia kedua orang tersebut kemudian memasuki restoran yang berada didalam hotel tersebut. Setelah bercakap-cakap sejenak dan menyatap hidangan sarapan mereka. Luka yang memang dari awal nggak tertarik untuk kencan dengan seseorang yang dia anggap "OM-OM", langsung menyambar tasnya keluar dari restoran itu. Kaito yang terkejut dengan sikap Luka pun langsung mengejarnya.
" Hei! Kau kenapa sih ? Jangan tiba-tiba pergi secepat itu dong! ", panggil Kaito sambil mengejar Luka.
" Kau bilangkan hanya kencan, dan buatku kencan ini berakhir sampai disini! ", jawab Luka singkat sambil terus mempercepat langkahnya.
" Sudah selesai atau belum itu aku yang memutuskan! ", bentak Kaito yang akhirnya bisa menangkap tangan Luka, " Jangan pergi sampai aku bilang sudah selesai! " lanjutnya.
" Ta... "
" Kyaaa, Mr. SHION! "
Belum sempat Luka berbicara, tiba-tiba segerombolan wanita berteriak memanggil nama Kaito dan langsung berlari mengerumuninya. Kaito yang tidak siap dengan serbuan para wanita tersebut refleks melepaskan tangan Luka yang sudah berada digenggamannya. Luka yang menganggap hal tersebut sebagai kesempatan untuk kabur langsung berlari menuju pintu lift terdekat. Ditekannya tombol turun berkali-kali untuk memastikan bahwa lift yang dia tunggu cepat sampai ke lantai tempatnya berada. Setelah pintu terbuka Luka cepat-cepat masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk menutup pintunya. Tetapi terlambat, karena sebelum pintu menutup Kaito datang dan menahan pintunya kemudian menarik Luka keluar. Dan dengan erat mengenggam pergelangan tangan Luka dan menyeretnya menjauh dari pintu lift ( biar nggak kabur ke sana lagi ).
" Apa-apaan sih? Lepas! Sakit tahu!", protes Luka karena Kaito mengagalkan aksi kabur-kaburannya ( disangka maling kali ya! )
" Kalau aku lepas apa nanti kamu akan kabur lagi ?", tanya Kaito datar.
" Tentu saja! Mana sudi aku lama-lama berdua sama kamu! ", jawab Luka spontan.
Kaito berhenti sejenak kemudian memutarkan badannya menghadap Luka. Ditatapnya mata Luka tajam dengan mata biru saphirenya.
" Begitu ya ",ucap Kaito dengan senyum kesakitan menghiasi wajahnya, " Apapun yang aku lakukan kamu tetap membenciku ya? ", lanjutnya.
Untuk beberapa saat Luka terpaku melihat sosok menyedihkan di hadapnya. Lawan bicara didepannya sepertinya sedang menanggung sakit yang dengan jelas tergambarkan di wajahnya.
" Ma... maaf ", tiba-tiba perasaan bersalah menjalar pada hati Luka, dirinya tidak menyadari bahwa ucapan spontannya dapat melukai orang dihadapannya sampai seperti itu.
Kaito pun masih diam saja, kemudian tanpa berkata apa-apa, dia mengandeng tangan Luka dan menariknya untuk pergi bersamanya. Luka yang masih dipenuhi oleh rasa bersalah hanya bisa pasrah mengikuti langkah sang Pria yang sedang menuntunnya.
-ChikaftNeiyha-
" Pilihlah yang mana saja yang kau suka! ", perintah Kaito.
WHAT? Kata-kata itulah yang pertama kali terpikir dalam otak Luka melihat perlakuan Kaito. Untuk lebih jelasnya, sekarang mereka berdua sedang berada di toko perhiasan yang terletak di dalam mall hotel tersebut. Jujur saja, Luka masih nggak ngerti kemauan si orang yang punya mulut sampai ngomong seperti itu. Orang itu maunya apa? Bukannya masih belum 15menit yang lalu dia marah ( mungkin? ) akibat perkataan Luka? Harusnya Luka yang minta maaf dengan menemaninya sampai dia berkata cukup hari ini. Tapi ini? Kenapa malah dia yang "NAWARIN" Luka barang semewah ini? Luka nggak butuh!
" Tidak usah, aku nggak butuh ", tolak Luka sambil membalikkan badannya dan keluar dari toko tersebut.
" Tunggu dulu! ", cegah Kaito sambil memegang bahunya kemudian membalikkan lagi badan Luka ke arah dalam toko, " Aku bilang pilih semaumu! Yang mana saja! Biar aku yang bayar! ", paksa Kaito.
" Kau keras kepala ya! Aku nggak butuh perhiasan seperti itu! Kau kira dengan memberiku perhiasan seperti itu aku akan tertarik padamu? Maaf saja "OM", AKU NGGAK MINAT ", jawab Luka dengan bagian penekanan di akhir kalimatnya.
" Baiklah, kalau begitu maumu biar aku yang pilihkan ", balas Kaito cepat " Tolong keluarkan kalung dengan harga yang paling mahal disini ! ", pinta Kaito pada pramuniaga toko perhiasan tersebut.
Dengan cepat pramuniaga tersebut kembali dengan membawa sebuah kotak besar berwarna hitam. Begitu kotak dibuka, terlihatnya sebuah kalung mutiara hitam yang sangat indah dengan ornamen berwarna emas disetiap mutiaranya. Dengan cepeat Kaito mengambil kalung tersebut dan memasangkannya di leher Luka.
" Nah, kalung itu cocok untukmu ", puji Kaito begitu melihat Luka memakai kalungnya " Tunggu sebentar, aku akan membayar... "
" Tidak terima kasih ! ", potong Luka sambil melepas kalungnya dan memberikannya kepada Kaito, " Aku hargai pemberianmu, tapi aku tidak butuh! ", tegasnya.
" Kenapa ? Ambil saja! Kau tidak perlu malu-malu seperti itu! Semua biaya aku yang tanggung ", balas Kaito.
" Aku tidak menjual diriku dengan uang seperti itu! ", jawab Luka, " Dengan kelakuanmu yang seperti ini, sama saja kau berusaha membeli tubuhku! Rugi tadi aku merasa bersalah padamu! Mungkin sebaiknya aku pergi saja! ", bentak Luka sambil melemparkan kalung tersebut hingga hancur berceceran dilantai dan dengan cepat melangkahkan kakinya keluar toko tersebut.
Kaito hanya diam terpaku didalam toko sampai sedetik kemudian tangannya meraih badan Luka dan memeluk Luka dari belakang.
" Kamu! Ap... "
" Cepat katakan padaku! Harus bagaimana aku agar kamu tidak menolakku ? ", tanya Kaito dengan nada bergetar sambil terus mempererat pelukannya.
-ChikaftNeiyha-
Akhirnya selesai juga chap 3 :3 at least i need min 3reviews for update to chap 4, dan ditunggu juga ide-ide menariknya untuk kelanjutan hubungan OM Kaito n Neng Luka, mata ashita!
