Yo!

Yo readers! I'am back!

Seperti biasa, sebagai ciri khas saya, mari kita mulai cerita dengan sesi curhat.

Lets talk!

Setelah ditegur dua orang yang berbeda dan di fiksi yang berbeda pula, terkait pemakaian kata ganti tunggal pertama, saya tidak bermaksud merendahkan diri dihadapan sesama manusia dengan pemakaian kata hamba, tidak bermaksud seperti itu. Untuk menhindari kesalah-pahaman kita, saya menganti kata 'hamba' dengan 'saya.'

Ada dua hal yang ingin saya utarakan,

Satu, salah satu reader secara terbuka mengundurkan diri dari fiksi ini, karena beliau antipati terhadap karakter Sakura. Saya hanya bisa tersenyum dan bilang, "Terima kasih sudah memaknai kata Don't like don't read."

Semoga ini tidak memicu keregangan pertemanan kita yang sudah terjalin setahun belakangan ini. Saya tahu betul resiko dan konsekuensi memunculkan Sakura akan menimbulkan polemik, tapi saya adalah RAJA di fiksi ini.

Dua, Saya dinilai merusak citra Negara Jepang dengan sindiran berbalut deskiripsi apik yang menimbulkan kesan lemahnya keamanan Negara Jepang?

Tidak, tidak sama sekali. Saya memang menyindir, tapi bukan untuk Jepang, perhatikan setiap dialog yang saya tulis!

Saya selalu menggabungkan kata 'Kita' dan 'Ini' setelah kata 'Negara', tidak pernah saya menggabungkan kata 'Negara' dengan 'Jepang', kecuali dalam deskripsi demi tuntutan standar Subjek-Predikat dalam teks bahasa Indonesia dan demi kepentingan cerita.

Jadi, anda sudah pahamkan 'Negara' mana yang saya sindir?

Lalu, untuk sahabat saya yang juga merupakan author romance di fandom ini, (saya tidak bisa sebutkan namanya)

Saya menyampaikan belasungkawa dan duka cita teramat dalam atas pernikahanmu yang akan diselenggarakan esok, 12 Agustus.

Semoga kesedihan yang kau pikul demi kebahagiaan mereka diganjar pantas oleh Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Saya sadar, kamu tidak bisa surfing internet sebebas dulu pasca masa transisi, tapi mampirlah sesekali di Private message untuk membalas pesan-pesan saya, karena semua akses untuk menghubungimu sudah kamu blokir, yang tersisa adalah akun FFN-mu.

Saya akan sangat merindukanmu, juga karya-karyamu yang selalu bikin gigit jari. Kamu orang paling tabah yang pernah saya kenal. Sungguh! Saya kagum atas kesabaran dan lapangnya kamu dalam menerima belitan takdir!

Dunia nyata tidak seindah dan seromantis karya-karyamu, tapi seperti biasa, sahabatmu ini selalu siap membantu kapanpun kamu datang!

Selamat menikmati permainan takdir!

Jika tidak kuat JANGAN lambaikan tangan ke kamera, tapi menunduklah sesaat lalu tegakan lagi kepalamu!

Go Ahead My Sista!

God Love You!

(Author Note berisi curhat lagi? Don't like don't read!)

L samudra putra,

Mempersembahkan ;

The Negosiator

Chapter 3

Disclaimer : Naruto dan seluruh karakter didalamnya hak milik tunggal Masashi Kishimoto.

Seluruh nama Bandar Udara dan merupakan nama asli dan tempat real.

Seluruh nama maskapai penerbangan dan perusahaan serta nama departemen birokrasi pemerintahan merupakan rekayasa penulis.

Genre : Psychological Thriller - Action - Adventure.

Rate : T

Main Character : Naruto dan Sasuke

Peringatan keras! Dan ini Serius! Fiksi ini Alternatif Universe (AU) dan Out of Character (OOC), bagi anda yang tidak suka silahkan untuk tidak membaca.

Pahami makna

'Don't Like Don't read!'

Selamat membaca

.

.

.

Kamus Istilah :

Inflasi :Suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Toggle : Setir atau alat kemudi pesawat terbang.

Ojigi : Membungkuk memberi penghormatan.

...

Tampak dari luar, keadaan normal terlihat di bandara Haneda, salah satu bangunan tinggi, dan yang paling tinggi, kokoh menjadi sentral pengawasan ke berbagai arah, menara pengawas. Ruang kendali ATC terletak pada bagian paling atas, dengan dinding kaca tebal dari tiga sisi yang bisa secara langsung memantau seluruh aktifitas pesawat di bandara. Satu-satunya sisi yang tertutup beton adalah yang menghadap ke arah pintu masuk bandara.

Naruto baru saja sampai dilantai dasar. Sambil melangkahkan kaki, ia mengambil handphone dan menghubungi istrinya.

"Halo... Sakura-chan..."

"Naruto! Aku lihat di TV ada pesawat dibajak oleh teroris!" Sakura langsung menyambar Naruto dengan pertanyaan.

"Ya... tapi sekarang keadaan sudah baik-baik saja, Sakura-chan, pihak kepolisian sudah menangani hal ini." Kepala keluarga Namikaze keluar dari lantai dasar. Ia harus berjalan kaki untuk menuju luar bandara.

"Ohh... syukurlah, dimana kau sekarang? apa kau akan segera pulang?"

"Aku sudah diluar kantor, dan aku pasti segera pulang, Sakura-chan..."

"Baiklah, aku menunggumu. Jaa..."

"Tunggu!"

"Hm.. ada apa, Naruto?"

"Sakura-chan..." Naruto menghentikan langkahnya. Menunduk. "Aku mencintaimu, Sakura-chan. Sungguh. Aku takut kehilanganmu."

"Eh... kau baik-baik saja, Naruto? Kenapa kau berkata seperti itu?"

Naruto menggelengkan kepala, "Tidak, tidak ada apa-apa. Tunggu aku dirumah, Sakura-chan!"

"Baiklah, jika memang ada yang mau kau ceritakan, sebaiknya kita bicarakan dirumah, jaa..."

Naruto memutus sambungan telepon. Matanya nanar memandang lantai beton bandara, seakan mencari sesuatu disana. Sepasang bola biru itu makin sendu. Namun ketika Naruto hendak melangkahkan kaki, sesuatu melintas dipikirannya. "Eh! Apakah Sakura-chan bilang bahwa ia tadi tahu pesawat dibajak dari TV?"

"NARUTOOOOO!"

Naruto menoleh ke sumber suara, dengan membalikan badan sambil bergumam kecil, "Eh, bukankah itu pak polisi tadi?"

Terengah-engah sehabis memacu seluruh tenaga dalam larinya, Genma membungkuk memegang lutut. "Naruto, teroris itu tidak mau bernegosiasi, ia hanya ingin bicara denganmu! Ia menghitung sampai dua puluh, jika tidak-"

Genma belum selesai bicara saat Naruto dengan semua tenaga yang ia punya berlari menuju menara pengawas.

..

"Empat belas! MANA NARUTO!"

"Lima belas!"

"Enam belas!"

Semua petugas menara pengawas merasakan bahwa jantung mereka sekarang berdetak lebih kencang.

"TUJUH BELAS! MANA NARUTO?!"

"DELAPAN BELAS!"

Braak!

Pintu merana itu menjadi saksi betapa barbarnya kelakuan manusia tatkala panik. Naruto berlari dan menerjang Shikamaru yang sedang duduk dikursi kerja yang ia tempati tadi. Shikamaru gelagapan, tahu bahwa rem Naruto adalah dirinya. Belum sempat menghindar, Shikamaru terlempar, lalu tertindih kursi putar.

"SEMBILAN BEL-"

"AKU DISINI!" Naruto menekan tombol hijau dengan kasar. "Hosh... hosh... aku... hosh... disini, Sasuke..."

"KAU MENINGGALKANKU, KEPARAT! KAU MENINGGALKANKU!"

..

"Aku tidak meninggalkanmu, kukira semuanya berjalan lancar disini." Masih dengan nafas yang terengah, Naruto kembali bersiaga di meja kerjanya.

"Kau meninggalkanku, Naruto!" Urat syaraf pada pelipis Sasuke menonjol dan berkedut.

"Aku harus pulang, Sasuke, keluargaku menantiku."

"Jangan tinggalkan aku, Naruto!"

"Hah?"

"JANGAN TINGGALKAN AKU, NARUTO!" Mata Sasuke nyalang dalam amarah.

"Baik, baik, aku tidak akan meninggalkanmu, aku ada disini. Oke... tenanglah Sasuke, tenanglah..."

Sasuke menjambak rambut Sakami, dengan kasar menempelkan radio pada mulut pria malang tersebut, "Berterima kasihlah pada Naruto!"

"Te-te-terima ka-kasih, Naruto... ARRGGH!"

Sasuke dengan kuat makin menjambak rambut orang tersebut, "Ucapkan nama malaikat penyelamatmu dengan sopan, keparat!"

"Terima kasih, Naruto-sama, terima kasih... hiks.. terima kasih, Naruto-sama."

..

"Baiklah... You're welcome... lepaskanlah dia, Sasuke."

Terdengar suara pintu kokpit terbuka dari pengeras suara diruangan menara pengawas.

"Jangan tinggalkan aku lagi, kau mengerti, Naruto!"

"Aye, sir!" Naruto menggelengkan kepala hingga surai pirangnya makin berantakan.

"Apa maumu, Sasuke."

"Sepertinya, jika aku berhasil menggulingkan kekuasaan Tuhan, aku akan menjadikanmu malaikat yang menyebar kebaikan pada umat manusia."

"Itu tidak sama dengan hak prerogratif presiden menunjuk menteri, Sasuke. Tidak akan bisa satu manusia, bahkan jika ada makhluk hidup lain di planet lain, yang bisa melakukan tindakan kudeta pada Tuhan."

"Jika kau tertarik, kita bisa melakukannya bersama-sama." Sasuke menjawab tanpa ragu.

"Silahkan kau sendiri saja."

Dengan ogah-ogahan, Shikamaru menyodorkan kursi putar yang menimpanya tadi, pada Naruto yang masih berdiri. Shikamaru mendekatkan mulutnya pada telinga Naruto, dan berbicara sepelan mungkin.

"Naruto-san, ada salah satu penumpang yang berhasil merekam keadaan pesawat." Shikamaru berbisik pada Naruto yang baru mendaratkan pantatnya pada kursi.

"Eh?" Naruto menutup mic dengan telapak tangannya, "Benarkah?"

Shikamaru menegakan tulang punggungnya, mendongak pada layar utama pada dinding sebelah kiri ruangan menara pengawas. Mata Naruto mengikuti gerak Shikamaru, dan terperangah pada tampilan monitor lebar tersebut. Seorang teroris bersiaga di kelas ekonomi, dengan senjata laras panjang tipe kuno dalam dekapannya.

"Apa ini maksud Sakura-chan tadi?" Naruto tersentak, mengingat sesuatu. Ia memutar kursinya, berhenti tepat pada Kakashi yang ada dibelakangnya.

"Boss, bisakah aku minta tolong, katakan pada Sakura-chan aku akan pulang terlambat, dia sudah tahu ada kejadian pembajakan, namun ia mengira kalau aku sedang dalam perjalanan pulang." Naruto merogoh sakunya, lalu melemparkan telepon genggam pada atasannya.

"Yo! Tentu!" Pria bermasker itu menerima handphone dari Naruto.

Biip.

Tombol hijau pada standmic Naruto kembali berkedip tatkala Kakashi mencari nama kontak Sakura.

"Ya... Sasuke?"

"Kuharap kau tidak lupa pada tuntutanku." Sasuke menjawab, kini dengan suara yang memberi efek mencekam.

Naruto melirik arloji-nya dan jam digital pada monitornya secara bergantian. "Pukul 02:30, masih 48 menit sebelum tenggat waktumu."

Klik.

Naruto tahu Sasuke memutus kontak.

..

Kabuto membuka laptopnya, yang memang ia bawa dengan tas ketika ia masuk dalam kokpit sedari awal.

"Aku tidak tahu rupanya layanan Wi-Fi on Board sedang berfungsi. Kita harus mengecek keadaan pasar bursa saham, dan pasti-"

"Tunggu!" Sasuke memotong cepat perkataan Kabuto, "Coba kau cek di search engine siapa itu Naruto?"

"Kenapa kau begitu tertarik?" Jari Kabuto mengarahkan kursor pada bookmark search engine pada browser-nya.

"Lakukan saja."

"Kita tidak tahu marganya..."

"Hn. Hanya orang bodoh yang bernama seperti nama makanan atau salah satu prefektur di Jepang, kau tak perlu marga."

"Baiklah, aku ketik.. hm.. Naruto, ATC Bandara Haneda Tokyo."

Sasuke hendak memejamkan mata sebelum teriakan Kabuto memaksa ia menoleh pada layar laptop.

"BINGO! Lihat ini, Sasuke!"

Kabuto menunjuk layarnya, "Namikaze Naruto, terlibat skandal korupsi departemen perhubungan. Ini berita bulan lalu!"

Kabuto melanjutkan membaca, "Seorang anggota departemen perhubungan dilaporkan ke pengadilan oleh PT. Airbus Bigplane dan PT. Institut Penerbangan Jepang Mandiri karena diduga menerima suap dari PT. Boeing Stell Line, demi memuluskan kontrak kerja sama antara pemerintah jepang dengan PT. Boeing Steel Line, dalam tender proyek pembelian pesawat baru oleh pemerintah untuk maskapai Nippon SkyWay Airlines. Sidang pertama sudah dilakukan, sembari menunggu perkembangan barang bukti, Namikaze Naruto, nama anggota departemen perhubungan tersebut, di mutasi ke divisi dinas perhubungan udara, divisi dimana ia mulai merintis karir sebelum menjadi anggota divisi diplomasi dan negosiasi departemen perhubungan. Persidangan tertunda."

Sasuke bersedekap dan memejamkan mata. "Naruto... kutemukan cara membunuhmu!"

"Hah? Apa ini?" Kabuto heran ketika situs berita langgananya mengirim email. Ketika ia membuka pesan masuk, ia semakin heran, "Breaking News! Live streaming! NSA112 jatuh ditangan teroris! Kemana pihak keamanan? Klik tautan ini untuk segera melihat tayangannya." Kabuto segera masuk pada tautan yang dimaksud.

..

"Bos Kakashi!"

Kakashi menoleh pada pemilik suara, "Ada apa, Ino?"

"Pihak NSA sudah mengirim email daftar penumpang NSA112! Sedang saya print!"

"Kemana saja mereka!" Asuma dengan cepat mengambil kertas yang berisi nama-nama penumpang NSA112. Seraya mengibaskan kertas tersebut, takut tinta print-nya masih basah, Asuma melanjukan gerutunya "Lambat sekali! Kenapa pejabat pemerintah selalu lambat dalam memberikan pelayanan publik!"

"Ehm!" Perdana menteri berdehem, "Oi oi."

Asuma menegang. Seluruh mata menuju padanya dengan pandangan menusuk.

"Hm... apa aku salah bicara?" Asuma bertanya kikuk dengan mengaruk kepalanya.

Kakashi menghela nafas berat, "Tidak, Asuuma, Bapak perdana menteri hanya sedang sakit tenggorokan."

Dering Handphone Asuma menyelamatkan nyawanya dari tatapan membunuh semua orang di menara pengawas, termasuk tatapan mematikan dari ayahnya.

"Moshi moshi.. hah? Benarkah? Baiklah!" Asuma menutup panggilan teleponnya. "Ayah! Eh.. maksudku Bapak perdana menteri, anggotaku melaporkan bahwa mulai terjadi kericuhan di masyarakat, anda harus memberi keterangan langsung pada masyarakat!"

"Hubungi Menteri Hukum dan HAM, minta ia langsung melakukan teleconfrence!"

"Apa sebaiknya tayangan itu dihentikan saja?" Naruto menyela.

"Tidak bisa, Naruto-san! Ini adalah satu-satunya petunjuk kita!" Shikamaru yang berdiri disamping Naruto menyanggah.

Naruto masih menatap monitor lebar yang menampilkan live streaming keadaan dalam pesawat, "Tapi Shikamaru-san, tayangan seperti ini sudah pasti membuat masyarakat ketakutan. Terlebih anak-anak."

..

"Ini dilantai bawah, Sasuke. Aku akan menuntunmu mencari letak orangnya melalui pengeras suara."

"Hn."

Kabuto mengambil sesuatu dari tasnya, sebuah topeng.

Sasuke menerima dan memakai topeng porselen putih dengan corak elang tersebut, lalu menuju keluar kokpit.

"Ada apa, Sasuke-kun?"

Sasuke melewati Karin, "Tetap berjaga disini! Ada yang harus kuselesaikan dibawah!"

..

Tokyo berhenti beraktifitas. Aparat keamanan semakin meningkatkan barikade keamanan di beberapa titik vital, mencegah adanya tindakan anarkis dan kerusuhan dari masyarakat yang marah karena menganggap pemerintah belum tangan.

"Selamat siang, masyarakat Jepang yang kucintai. Aku Mitokada Homura, Menteri Hukum dan HAM."

Keheningan melanda seluruh masyarakat. Jalanan yang telah dipenuhi oleh kepadatan manusia menatap seksama layar lebar yang dipasang begitu banyak pada titik-titik keramaian. Menteri Hukum dan HAM mengambil setengah porsi layar dalam monitor.

"Kami, pemerintah bersama dengan pihak keamanan sudah melakukan yang terbaik demi menyelamatkan penumpang pada pesawat NSA112, sejauh ini, negosiasi terus dikakukan dengan pihak teroris demi menyelamatkan ratusan nyawa dalam pesawat tersebut."

..

Sasuke dengan tenang menuruni tangga putar, Suigetsu heran melihat ketua tim-nya datang kelantai bawah.

"Ada apa, Sasuke?"

"Apakah disini baik-baik saja?"

"Hm... sedikit membosankan. Tapi jika terjadi apa-apa, si kembar ini siap menenangkan mereka." Suigetsu menunjukan dengan dagu pada dua senjata laras panjang Steyr Aug pada masing-masing tanganya.

Sasuke menepuk pundak Suigetsu lalu berjalan tenang kedepan. Juugo dari kejauhan menaikan alis pada Suiegtsu dengan pandangan 'ada apa', namun si gigi hiu hanya mengendikan bahu.

Sasuke terus melangkah hingga berhadapan dengan Juugo lalu berbalik membelakangi si pecinta senjata kuno tersebut.

..

"Kami minta doa kalian semua, wargaku, dan jangan membuat kerusuhan, biarkan kami bekerja dengan tenang demi menyelamatkan keluarga kita, sahabat kita, yang sedang berada di pesawat tersebut."

Seluruh lapisan masyarakat merasakan ketegangan ketika mereka melihat seseorang menggunakan pistol berjalan mendekati kamera dalam pesawat tersebut.

..

"Terus berjalan pelan, Sasuke." Suara dari pengeras suara menuntun langkah Sasuke, "Majulah beberapa langkah lagi."

Sasuke dengan tenang mengikuti instruksi Kabuto.

"Stop! Sebelah kirimu, tepat di depanmu."

Sasuke mengarahkan pandangannya pada seorang pria jabrik berambut hitam, wajah pucat dengan keringat yang membanjir membuat Sasuke yakin bahwa orang tersebut yang merekam dan mengirim gambar pada stasiun TV.

..

"Apa yang akan dilakukannya?" Kakashi bertanya entah pada siapa. Seluruh petugas ATC dan polisi serta perdana menteri menatap tegang pada layar monitor.

"Ini harus dihentikan! Dia akan membunuh kameramen tersebut!" Naruto dengan sigap menekan tombol hijau pada standmic-nya. "Sasuke! Apa yang kau lakukan?!"

Tidak ada jawaban.

"Sasuke! Jawablah!"

"Sasu-"

"Maaf, Naruto, Sasuke sedang sibuk dibawah. Apa ada pesan?" Jawaban teramat santai terbungkus pada suara yang menjawab panggilan Naruto.

"Hey! Siapa ini? Katakan pada Sasuke untuk tidak menembak lagi! Bukankah dia sudah berjanji untuk tidak menembaki penumpang lagi!"

"Ah.. maaf Naruto, aku hanya pilot. Nanti jika Sasuke sudah kembali, akan kusampaikan pesanmu." Terdengar bunyi 'klik' tanda sambungan komunikasi diputus.

Naruto mencengkram kasar rambut pirangnya, "SIAPAPUN HENTIKAN INIII!"

..

Beberapa orang menjerit ketakutan saat dilayar, seorang berambut raven dengan topeng corak elang mengarahkan pistol tepat ke arah kamera.

Menteri Hukum Mitokada berhenti bicara, dari dalam studio ia juga ikutan tegang menyaksikan pembunuhan yang akan disaksikan seluruh lapisan masyarakat.

..

"Kau cukup berani, kuakui itu!" Sasuke berbicara tegas menantang pada Kiba.

Menarik nafas panjang, Kiba memantapkan keyakinan pada kematian, "Lalu, jika kau ingin menembakku, lakukan saja, setidaknya, ada secuil hal baik yang kukakukan untuk negara ini."

"Oh... nasionalis sekali!" Sasuke menyindir, dan menarik pelatuk.

DOR!

..

Bunyi letusan mengakhiri tayangan pada monitor, dan memicu kepanikan pada masyarakat yang tumpah dijalanan. Teriakan histeris serta cacian menguap menjadi satu bersama tangisan dan doa. Dalam seumur hidup mereka, bahkan dalam sejarah berdirinya pemerintah feodal Jepang, ini kali pertama pembunuhan ditayangkan live di televisi.

Sementara itu, belasan wartawan dari berbagai televisi nasional dan internasional memadati bandara, meski pihak keamanan sudah memblokade, para jurnalis haus berita tetap menerobos meski dengan kekerasan.

..

Suasana hening membalut ruang kendali Air Traffict Control Bandara Haneda. Naruto dalam keadaan tertunduk, menyembunyikan ekspresi yang terukir pada wajah. Asuma memandang monitor yang menampilkan kegelapan, lalu berubah menjadi lautan semut yang memenuhi layar.

"Shikamaru! Apa yang harus kita lakukan saat ini?!" Shikaku bertanya pada putra semata wayangnya.

"Kakashi-san, bisakah aku meminjam ruanganmu untuk rapat darurat?" Shikamaru menoleh pada orang yang paling bertanggung jawab di ruang kendali.

"Oh... silahkan, dengan senang hati.. aku adalah pejabat pemerintah yang baik."

"Sindiran yang bagus, Kakashi." Perdana menteri beserta semua petugas kepolisian berjalan melewati Kakashi, menuju ruangan berdinding kaca yang terletak paling kanan.

"Terima kasih atas pujiannya, Pak perdana menteri." Kakashi membungkukan badan.

Mereka semua memasuki ruang kerja Kakashi, Asuma diurutan belakang, melambaikan tangan yang mengenggam kertas berisi daftar nama penumpang pada rekan lamanya, "Hey temanku pejabat pemerintah yang baik dan tukang sindir, sebaiknya kau ikut masuk!"

..

Kabuto melirik sebentar pada Sasuke yang langsung memilih duduk di kursi co-pilot dan melemparkan topeng porselennya ke sembarang arah.

Sasuke meraih radio, dan kembali menghubungi menara pengawas. "Ah, maaf Naruto, aku ada keperluan sedikit tadi."

Noise menguar, tidak menunjukan tanda-tanda ada sahutan dari seberang.

"Naruto, kau masih disana?" Pemuda raven kembali memastikan.

"Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menembaki penumpang lagi?" Kini aura dingin membungkus setiap silabel Naruto.

"Kapan aku berjanji? Kalaupun iya, yang tadi itu termasuk pengecualian." Sasuke meletakan radio seukuran genggam itu terbalik di kedudukannya, lalu bersedekap.

"Kau menentangku, Naruto?"

..

"Seberapa beharganya satu nyawa manusia dihadapanmu? Tahukah kau Sasuke, bagaimana sakitnya kehilangan? Apa kau tidak memikirkan perasaan keluarga dari orang-orang kau bunuh?!"

"Lalu, kenapa kau yang marah? Santailah sedikit, dobe!"

"SANTAI? SANTAI KATAMU KEPARAT!" Tak terbendung lagi amarah yang membuncah, Naruto berdiri dan berteriak di depan mic-nya.

"SANTAI KATAMU? SETELAH KAU BEGITU MUDAHNYA MEMBUNUH ORANG! SETELAH KAU MEMBUAT ISTRI ORANG LAIN MENJADI JANDA! SETELAH KAU MEMBUAT SEORANG ANAK MENJADI YATIM! JIKA KAU INGIN MENGATAKAN SANTAI PADAKU, MAKA BICARALAH PADA PANTATKU!"

Suara yang tenang mencoba menahan laju amarah Naruto, "Naruto, aku hanya ingin merasakan kedigdayaan Tuhan."

"KAU BUKAN TUHAN! KAU PEMBUNUH! KAU PEMBUNUH KEPARAT!"

"Dan kau, Koruptor."

..

"Pihak Bank sedang menyelasaikan masalah uang ini, aku harap mereka cepat." Hiruzen membuka rapat darurat dengan melihat jam tangannya.

Mereka bertujuh duduk mengelilingi meja bundar yang biasa dijadikan Kakashi untuk rapat bersama anggotanya.

Asuma, Genma dan Anko meneliti satu persatu nama penumpang.

"Ini dia! Satu-satunya orang yang bernama Sasuke hanyalah..." Asuma menunjuk satu nama dalam daftar tersebut, "Uchiha... Sasuke!"

"Uchiha?" Kakashi menaikan alis. Bingung.

"Keluarga Uchiha adalah salah satu keluarga yang memegang peranan penting ekonomi di China sebagai salah satu perusahaan besar disana. Perusahaan tersebut baru-baru ini melakukan pemecatan atau PHK secara besar-besaran." Shikamaru mencubit dagu.

"Apa? China? Berarti mereka mengirim teroris kesini! Ini sama saja pernyataan perang!"

"Tenang Hiruzen-sama, dalam daftar ini disebutkan bahwa dalam paspor Uchiha Sasuke berkewarganegaraan Jepang." Anko bangkit dari kursi lalu memberikan daftar nama penumpang pada Hiruzen.

Kakashi kembali meneguk ludah melihat sesuatu yang bergoyang di dada Anko ketika ia berjalan.

"Kenapa mereka meminta tiga ratus juta dollar Amerika? Kurasa ini pasti ada kaitan dengan perusahaan tersebut." Asuma bertatapan langsung dengan Shikamaru.

"Karena itu penarikan maksimal uang asing dalam bentuk tunai dalam satu hari." Shikamaru menggosokan kedua telapak tangannya lalu menempelkan kehangatan disana pada wajahnya. Ruangan ber-AC membuat ia mengantuk, "Tuntutan mereka setara 10 milyar lebih dalam bentuk yen."

"Apa yang terjadi jika ada penarikan uang tunai besar-besaran seperti itu?" Genma makin tidak mengerti arah pembicaraan.

"Inflasi."

Enam pasang mata menatap Hiruzen, "Bursa saham di pasar saham akan anjlok. Nilai tukar yen terhadap dollar juga akan turun drastis, ditambah lagi kejadian teror seperti ini, para Investor saham akan membatalkan investasi saham mereka, bahkan mungkin membatalkan kontrak mereka yang sudah ada. Dengan kata lain, kondisi ekonomi negara kita adalah dampak pertama dari gangguan keamanan ini."

"Atau ini bukan impact, Hiruzen-sama, tapi memang sasaran mereka?! Bisa jadi tujuan awal mereka adalah merusak stabilitas ekonomi negara kita. Pasar saham kita jatuh, siapa yang akan di untungkan?"

Hiruzen menerawang, "Tak perlu jauh-jauh, tetangga kita, Korea dan China."

Shikamaru hendak kembali melanjutkan susunan kalimatnya sebelum Asuma menyela, "Bisakah kau tidak berbelit-belit? Aku yakin aku bukan satu-satunya yang tidak mengerti disini."

Genma menoleh sedikit pada rekan disampingnya, Anko, dan berbisik penuh kehati-hatian, "Kenapa orang macam dia bisa jadi pimpinan detasemen khusus anti teror?"

Wanita berambut sebahu itu tidak menoleh, hanya menjawab dengan suara yang sama pelan. "Diamlah. Dan dengarkan. Kau tidak ingin dipecat karena menghina anak perdana menteri kan?"

Genma mencibir, "Huh. Nepotisme."

"Asuma..." Shikaku menatap intens Asuma, "Karena penarikan uang sebesar itu, ditambah aksi teror, perekonomian negara kita akan lumpuh. Dan butuh waktu lama kita bangkit dari keterpurukan ekonomi, belum tentu besok ataupun lusa, efeknya akan terasa hingga beberapa minggu. Selain itu, dampak ini juga terasa pada semua kawasan ekonomi Asia timur."

"Sampai Badan Keuangan Perserikatan Bangsa-Bangsa turun tangan. IMF akan senang hati menghibahkan bantuan bersyarat pada kita. Lalu negara ini makin terlilit hutang." Shikamaru menambahkan.

"Inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di negara kita, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat."

"Jadi, kita tetap penuhi tuntutan mereka?" Kali ini Kakashi yang bertanya langsung pada Hiruzen.

"Kalau saja pesawat itu kosong tanpa penumpang, Angkatan Udara sudah menjadikan pesawat itu kembang api."

"Tapi tetap saja, Hiruzen-sama, apapun langkah yang akan anda tempuh, inflasi tetap saja akan terjadi sebagai impact gangguan keamanan nasional seperti ini." Kakashi beragurmen.

"Setidaknya kita bisa menyelamatkan ratusan penumpang dengan membayar tebusan, jika kita mengambil langkah tidak membayar tebusan mereka, nyawa penumpang akan terancam, kita semakin jatuh di mata dunia." Kini Asuma yang menjawab Kakashi.

"Tumben kau pintar, nak!" Hiruzen memberikan tatapan bangga pada Asuma.

Kakashi menyikut pelan rusuk sahabatnya, "Bukan aku yang bilang." Asuma meringis merasakan tajamnya siku Kakashi, "Selera humormu garing!"

"Kakashi-san..." Pria bermasker dengan rambut melawan gravitasi itu menoleh pada pemilik suara, Shikamaru.

"Entah kenapa, aku sedikit curiga pada Naruto."

"Hah? Apa maksudmu?"

"Antara Naruto dengan teroris itu, si Sasuke itu, entahlah... entah kenapa aku rasa ada sesuatu dibalik sikap mereka berdua, kenapa Sasuke hanya mau bicara dengan Naruto?"

"Kau menuduh Naruto ada kaitan dengan semua ini?" Kakashi berdiri, lalu berbalik dan melihat Naruto dari dinding bening ruangannya.

"Aku tidak bilang begitu," Shikamaru menyanggah, "Aku hanya heran, kenapa mereka bisa klop. Dan sepertinya Naruto mampu mengimbangi ketidakwarasan seorang jenius yang memimpin satu tim teroris."

"Itu adalah kelebihannya, Naruto mampu menarik perhatian orang lain bahkan dalam pertemuan pertama, tapi aku tidak menyangka dia mampu menarik perhatian Sasuke hanya melalui suaranya saja. Menarik bukan?" Kakashi menoleh ke arah Shikamaru, lalu kembali menghadap pada dinding kaca yang membatasi ruang kerjanya dengan ruang kendali kontrol, menatap anak buahnya yang kini terlihat kembali bersitegang dengan teroris pada pesawat milik pemerintah tersebut.

"Tenang saja, Shikamaru-san, aku pertaruhkan jabatanku bahwa Naruto tidak ada kaitan dengan semua ini, karena dia adalah-"

Kakashi menghentikan kalimat hingga tenggorokannya, Karena fokusnya kini pada Naruto yang berdiri dengan gelagat kasar hingga kursi putarnya terjatuh dan berteriak lantang dengan muka memerah. Tak perlu waktu lama merespon, ketujuh orang dalam ruangan tersebut berlari keluar menuju tempat Naruto.

..

"KAU BUKAN TUHAN! KAU PEMBUNUH! KAU PEMBUNUH KEPARAT!"

"Dan kau, Koruptor."

Naruto meneguk ludahnya dengan susah. "Apa maksudmu, teme?!"

"Kau pasti tahu maksudku, dobe!"

"Kau mencoba mengalihkan pembicaraan atas tindakan brutalmu yang baru saja kau lakukan!"

"Kau yang mengalihkan pembicaraan sekarang, Naruto! Namikaze Naruto! Itu namamu kan?! Tersangka penerima suap dari PT. Boeing Steel Line, sidangmu ditunda lalu kau di mutasi ke menara pengawas, bukankah begitu?"

"Aku tidak mengerti kemana arah pembicaraanmu!?"

Naruto duduk kembali pada kursi putar yang didirikan Shikamaru. Shikamaru berbisik tepat disamping Naruto, "Jangan terpancing permainannya."

"Bagaimana cara membungkam mulutnya?" Naruto mendongak pada Shikamaru yang berdiri disampingnya.

"Tanyakan padanya, bagaimana cara mengantar uang tebusan itu, dan dimana?!"

"Sasuke, bagaimana kami mengantarkan uang padamu?"

"Masukan ke dalam tiga tas, masing-masing tas berisi seratus juta dollar. Aku akan mendarat di Haneda dalam 25 menit lagi, pastikan uang siap!"

"Tiga tas dengan masing-masing tas berisi seratus juta dollar, Copy!"

"Naruto..." Sasuke memanggil Naruto dengan nada teramat rendah, "Aku kecewa padamu!"

"Hey, Shikamaru-san! Dia masih mengajakku berbicara, apa yang harus kulakukan?" Guratan panik jelas pada wajah Naruto.

"Ladeni saja, usahakan dia tetap dalam kondisi nyaman sampai mendarat disini." Shikamaru heran, untuk kali ini, ada kepanikan yang berbeda dalam siratan wajah Naruto.

Kakashi memasukan kedua tangannya pada celana, bergumam sepelan mungkin, "Pembicaraan berikutnya akan membunuh Naruto."

Sayangnya, Asuma yang berdiri disamping Kakashi mendengar jelas, "Hah? Apa maksudmu?"

Kakashi menatap Asuma, sebelum kembali menatap Naruto dari belakang, "Maaf, Naruto, aku tak bisa menyelamatkanmu."

"Aku tak mengerti kau bicara apa, Kakashi!" Asuma makin bingung, tapi mengikuti arah pandang Kakashi kepada Naruto.

"Apa maksud dari kau kecewa padaku, Sasuke?"

"Kukira, kau adalah orang baik yang kutemui, salah satu orang baik selain kakakku yang masih ada di bumi yang kotor ini?"

"Aku tidak mengerti, Sasuke."

"Katakan padaku, berapa kau dapat suap dari ? Dan kau apakan uang itu?"

"Sudah kukatakan aku tidak menerima suap dari pihak manapun!"

"Katakan padaku, Naruto!"

..

"Anggap saja ini semacam, hmm... pengakuan dosa, datanglah padaku dengan berserah diri lalu akui segala dosa-dosamu!"

"Apa untungnya bagiku?"

Sasuke kembali mengambil radio, "Jika kau tidak mengaku, akan kutabrakan pesawat ini ke menara pengawas, bangsat!"

"Ancaman macam apa itu?"

"Oh! Jadi kau kira sedari awal aku hanya mengancam?" Aku kira kau adalah orang yang baik, Naruto... tapi aku kecewa! Sungguh! Sekarang aku kecewa dan lebih memilih untuk membunuhmu!" Lanjut Sasuke, "Aku benar-benar akan menabrakan pesawat ini pada menara pengawas! Seluruh manusia yang ada dalam sangkar takdir ini akan menemani perjalanan kita ke alam baka, sesampainya di neraka, bergabunglah dengan timku!"

..

Belasan wartawan, bahkan mencapai dua puluh lebih, sudah berkumpul disalah satu sisi taxaway. Pihak keamanan bandara mengerahkan kemampuan ekstra untuk mengusir para jurnalis yang ngotot masuk area yang tidak diperbolehkan untuk umum.

"Lihat itu!" Salah seorang reporter menunjuk sesuatu pada horizon, titik itu makin jelas dalam perlahan, sebuah pesawat yang akan mendarat, "Itu NSA112!"

Seluruh kameramen segera membidik sasaran gambar, para juru warta bersiap memberi laporan terbaru secara langsung.

"Disini Terumi Mei, melaporkan bahwa sesaat lagi adalah menit-menit dimana pesawat NSA dengan kode penerbangan 112 yang dibajak oleh teroris akan mendarat. Anda juga bisa lihat disekeliling saya pasukan detasemen khusus anti teror sudah bersiaga dengan senjata lengkap dan mobil barakuda anti huru-hara. Kita masih menantikan saat-saat menegangkan datangnya pesawat yang dikuasai oleh teroris!"

Ao, kameramen tersebut, segera memindah bidikannya pada NSA112 yang semakin mendekat.

..

"NSA112, turunkan kecepatan hingga 300 knot dan turunkan ketinggian dari 2500 ke 1800 feet! Ikuti standar pendaratan yang benar!" Naruto melalui dinding kaca dihadapannya, bisa melihat NSA112 sudah memasuki lintas padat area bandara.

"Siapa bilang aku akan mendarat! Sudah kukatakan, aku akan menabrakan pesawat ini pada menara pengawas, untuk membunuh munafik sepertimu" Suara Sasuke benar-benar tenang, kontradiksi terjadi di menara pengawas.

Kakashi segera memberi instruksi pada seluruh anggotanya "Batalkan seluruh pesawat yang akan take off!"

"Jadi, Naruto, katakan padaku, apa kau benar-benar menerima suap?"

"Keparat! Aku tidak menerima suap!"

"Lalu berapa uang yang kau terima dan untuk apa?"

"AKU TIDAK MENERIMA SUAP!"

..

"Para pemirsa di seluruh tanah air! Dari layar kaca anda sekarang anda semua bisa menyaksikan NSA112 semakin mendekat, tapi belum ada tanda-tanda mereka akan mendarat, dan LIHAT! LIHAT! MEREKA TERBANG MENDATAR DI KETINGGIAN YANG SANGAT RENDAH! BAHKAN DARI SINI KAMI MULAI BISA MELIHAT JELAS BADAN PESAWAT!

Terumi Mei membelalakan mata. Sesaat setelah laporannya selesai, alarm nyaring berbunyi pada setiap titik bandara.

"Kepada seluruh penumpang, segera keluar dari bandara dengan tenang. Jauhi bandara sejauh mungkin. Ini bukan latihan, sekali lagi, ini bukan simulasi!"

Seperti kaset rusak, pengumuman itu berulang kali disampaikan, jeritan alarm menambah kepanikan pada setiap orang yang lebih memilih lari, daripada keluar dengan tenang sesuai instruksi. Kepanikan massal menjadikan bandara Haneda tenggelam dalam hiruk pikuk dan teriakan sakit dari orang-orang yang terinjak karena berdesakan menuju pintu keluar.

..

"Aku sudah memerintahkan evakuasi seluruh orang yang ada dibandara. Sekarang tinggal kita disini. Pak perdana menteri, anda juga harus segera meninggalkan tempat ini!" Asuma meminta dengan santun agar ayahnya meninggalkan ruangan menara pengawas.

"Apakah mereka benar-benar akan menabrakan pesawat ke sini?" Hiruzen memberika jawaban yang berbentuk pertanyaan ambigu.

"Naruto!" Sasuke mengiterupsi suasana mencekam di ruang kendali ATC, "10 menit lagi aku akan menjemputmu lalu dengan senang hati mengantarkanmu ke neraka!"

Naruto terdiam, menutup matanya. Shikamaru melihat gelagat aneh dari Naruto.

..

Lampu bertanda sabuk pengaman tiba hidup, seluruh penumpang terkejut karena sejak mereka disandera, mereka tak pernah melepaskan sabuk pengaman mereka.

Terdengar bunyi gemerisik dari pengeras suara sebelum suara seseorang memberi dominasi. "Juugo, Suigetsu, Karin, pakai semua sabuk pengaman kalian sekarang. Kita akan menabrak menara pengawas."

Dan suara Sasuke sukses memantik kepanikan dalam kabin pesawat. Karin dengan cepat menuruni tangga putar, hendak memasuki ruang khusus flight attendance sebelum Suigetsu menahannya.

"Hey! Apakah Sasuke bercanda?" Suigetsu mencengkram lengan wanita berambut merah itu dengan kuat.

Karin menendang perut Suigetsu hingga si gigi hiu jatuh terduduk. "DALAM HIDUPMU! KAPAN KAU LIHAT SASUKE BERCANDA, TOLOL!"

Karin segera duduk di kursi lipat khusus pramugari dalam ruang flight attendance, tatapan sinis dari rekan kerjanya menyambut bahkan sebelum Karin duduk.

"Sial! Apa yang dipikirkan Sasuke? Kenapa aku mati sebagai penjahat! Padahal cita-citaku mati sebagai pendekar pedang!" Suigetsu merutuk disamping Juugo yang terlebih dahulu duduk dibangku awal mereka.

..

"Naruto, apa kau menerima suap?"

Naruto makin gelisah atas intimidasi dari Sasuke, "Aku tidak menerima suap!"

"Naruto, apa kau menerima suap?" Pertanyaan yang sama dengan nada yang sama tenangnya.

"AKU TIDAK MENERIMA SUAP!" Mata naruto mulai memanas, ia merasakan bahwa pasokan oksigen makin berkurang di paru-parunya.

"Naruto, apa kau menerima suap?"

"AKU TIDAK MENERIMA SUAP, KEPARAT!" Naruto menggigil hebat. Air matanya mulai mengalir.

"Mereka tiga kilometer di depan kita, terbang secara vertikal, panjang pesawat Boeing adalah 76,25 meter, jika sudah dua kilometer didepan kita, maka berarti mereka memang ingin menabrakan pesawat pada menara pengawas. Dengan jarak sesempit itu, Pesawat komersil tidak akan bisa menghindar." Kakashi bermonolog, namun jelas didengar oleh semua yang hadir disana.

"Ayah, ayo kita tinggalkan tempat ini!"

"Jika kau ingin lari, maka larilah, Asuma!" Hiruzen menatap dinding kaca menara pengawas. "Siapapun yang ingin pergi, pergilah!"

Namun tak ada satupun yang beranjak.

"Naruto, apa kau menerima suap?" Sasuke menjelma menjadi malaikat maut dalam setiap silabel yang tenang dan dalam.

"Aku.. hiks.. tidak menerima suap!" Naruto menjambak kasar rambutnya. Ia menunduk, dengan sesegukan yang membuatnya sulit bernafas.

"Jangan menangis cengeng! Katakan padaku apa kau menerima suap?"

"AKU TIDAK MENERIMA SUAP!"

"Dua kilometer lagi." Kakashi kembali berbicara sendiri, namun sontak seluruh petugas ATC berdiri dari kursi mereka masing-masing. Saling bersalaman dan berpelukan satu sama lain. Ino menangis paling histeris, sedangkan Chouji semakin tertawa keras.

..

Pesawat NSA112 terbang rendah secara vertikal dan mengarah pada menara pengawas. Belasan kamera langsung mengirim gambar pada setiap televisi di rumah-rumah masyarakat Jepang. Jarak pesawat dengan menara makin dekat, gemuruh mesin menjadi geraman kematian yang siap menjemput.

"NARUTO! KATAKAN PADAKU BAHWA KAU MENERIMA SUAP!" Sasuke mencengkram erat radio dalam genggamnya.

"Aku tidak menerima suap! AKU TIDAK MENERIMA SUAP!"

..

Dihadapan mereka, dibatasi dinding kaca tebal, terlihat jelas burung besi yang sedang mengamuk, siap menerkam mereka sesaat lagi. Keheningan adalah mutlak dalam ruangan yang dipenuhi belasan petugas ATC, dan beberapa pejabat penting pemerintahan, serta seorang perdana menteri. Untuk pertama kalinya, Kakashi membuang wajah malasnya.

Mereka semua Ojigi, kecuali Naruto yang masih duduk dengan tangan terkepal dan menggigil.

Belasan kamera terus mengambil detik tiap detik momen-momen menegangkan dalam sejarah dirgantara Jepang. Para reporter sudah berhenti memberi narasi. Tiap orang dalam tiap rumahnya, tiap orang pada tiap keramaian, tiap orang pada tiap pelosok, diam, dan menanti sebuah kehancuran.

"Iya..IYA! AKU MENERIMA SUAP DARI BSL SEBESAR 120 JUTA YEN!"

..

"Iya..IYA! AKU MENERIMA SUAP DARI BSL SEBESAR 120 JUTA YEN!"

Kabuto dengan cepat merubah posisi salah satu joystick disisi kirinya lalu menginjak pedal sebelah kanan dan menarik toggle yang terasa memberat karena perpindahan mendadak akselerasi dan penetrasi pada mesin utama dan perubahan gaya aerodinamika pada kedua sayap serta ekor belakang.

"Aarggh..." Raut wajah Kabuto semakin mengeras tatkala sepenuh tenaga ia menarik toggle.

Dalam jarak kurang dari dua kilometer, burung besi dengan bobot 412,8 ton itu berusaha mengangkat hidungnya. Kecepatan makin bertambah dengan deru mesin menggebu karena empat mesin General Electric GE NX 2B76 pada pesawat itu di injeksi paksa.

Jarak moncong pesawat sudah dalam radius 500 meter ketika burung besi dengan gagahnya berhasil mengangkat hidung dan melaju ke atas. Menara pengawas bergetar hebat dan semua kaca pecah berhamburan.

Dalam Ojigi-nya, mereka semua menggigit bagian dalam bibir mereka, kecuali Naruto yang berdiri dengan kepala tegak dan tangan terkepal menahan adrenalin yang terpacu. Lambung pesawat terangkat dalam radius 300 meter, salah satu dari empat mesin tidak sanggup melakukan penetrasi mendadak dan memaksa Kabuto menginjeksi tenaga pada ketiga mesin yang tersisa.

Naruto berjalan tenang kedepan, dan berhenti tepat didepan dinding kaca yang sudah pecah berantakan. Gemuruh mesin menjadi terompet sangkakala malaikat pencabut nyawa ketika ekor pesawat kurang dari 20 meter terangkat dan berhasil menghindari menara pengawas. Pesawat melakukan manuver ke atas dengan kemiringan yang hampir mencapai tegak lurus.

Getaran kuat di menara pengawas berhenti setelah hembusan angin kuat dari pesawat menerbangkan semua kertas dan menggeser meja kerja di ruangan itu, tapi pesawat masih belum selesai bermanuver.

Karena matinya salah satu mesin, pasokan listrik di kabin lantai bawah terputus. Tekanan oksigen menurun drastis sehingga kantung oksigen keluar otomatis dari atas kepala masing-masing penumpang. Seluruh isi perut mereka terasa menendang keluar ke kerongkongan, terhambur tak tentu tatkala mereka merasakan pesawat makin miring.

"KYYAAAAAAA!"

Teriakan demi teriakan penyambut ajal terus berkumandang.

Burung besi melewati kemiringan dan tegak lurus dalam kecepatan penuh, lalu berputar 360 derajat berkali kali sebelum berbalik, dengan posisi moncong pesawat menghadap bumi, berusaha mendapatkan posisi mendatar diudara di ketinggian 1000 feet, Kabuto mematikan mesin utama, dengan kedua mesin sayap, pesawat menukik turun tertarik gravitasi lalu mengambil posisi vertikal, secepat mungkin Kabuto kembali menarik toggle dan menghidupkan mesin utama untuk menentang gravitasi sebelum lambung pesawat atau ekor menghantam bangunan tinggi dalam bandara.

Kini pesawat berakselarsi sepenuhnya dan mencapai ketinggian 2000 kaki sebelum kembali dalam posisi mendatar di udara.

..

Sorak sorai kegembiraan bergema dalam ruangan kendali ATC yang sudah morat marit seperti kapal pecah. Seluruh petugas kembali berpelukan dalam kelegaan tiada tara. Ino menghambur pada tubuh tambun Chouji dengan linangan air mata, "Kita selamat! Kita selamat, Chouji!"

Naruto berbalik, memandang suasana haru karena berhasil menghindar dari Shinigami yang menarik paksa jantung mereka. Tak ada raut bahagia atau lega pada Naruto, kontras dengan suasana haru-biru pada rekan-rekannya. Shikamaru menatap intens bola biru dalam kelopak mata Naruto.

Raut wajah Naruto masih mengeras dengan tangan terkepal pada kedua sisi tubuhnya, "HEY..!"

Keheningan kembali menyebar dengan semua mata tertuju pada Naruto.

Biip.

Standmic Naruto kembali berkedip. Kakashi yang paling dekat menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dari Sasuke.

"Apa yang kalian senangkan?" Naruto menatap tajam kepada belasan orang didepannya.

"INI BELUM SELESAI!/INI BELUM SELESAI!"

Dua suara berbeda dengan ketegasan yang sama menandakan mereka belum baik-baik saja.

Pertarungan Naruto dengan Sasuke belum usai!

To be Continue