Dua
"DIA bilang kau gadis yang menarik?" Haruka menegaskan sekali lagi.
"Ya," jawab Baekhyun. Ia mengerutkan kening dan menggigit bibir sambil berpikir-pikir. "Oneesan, menurutmu apa maksudnya?"
"Mereka berdua sedang berada di salah satu kafe di jalan Omotesando, Harajuku. Kafe itu lumayan ramai karena hari itu hari Minggu dan banyak anak muda yang berkumpul. Pelanggan biasa ditambah lagi orang-orang yang istirahat setelah sibuk berbelanja untuk menyambut Hari Natal yang tinggal tiga minggu lagi. Sejak awal bulan Desember toko-toko di sepanjang jalan kota Tokyo dan semua pusat perbelanjaan sudah mulai memasang hiasan Natal. Lagu Natal pun terdengar di mana-mana.
"Menurutku dia tidak bermaksud apa-apa," sahut Haruka ringan sambil mengangkat bahu. "Hanya basa-basi."
"Begitukah?"
"Tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan," sahut Haruka. "Pelukis memang suka bertingkah aneh-aneh."
"Dia pelukis?" tanya Baekhyun heran. Kemarin ia lupa menanyakan apa pekerjaan laki-laki itu, tetapi Park Chanyeol tidak terlihat seperti pelukis. Yah, tentu saja, Baekhyun sendiri belum pernah bertemu dengan pelukis mana pun, jadi ia sendiri tidak yakin. Ia merasa laki-laki itu lebih cocok berprofesi sebagai... sebagai... entahlah. Yang penting bukan pelukis. Pelukis itu kan biasanya terlihat kacau, rambut berantakan, lusuh dan... Na, tunggu dulu. Bukankah itu penampilan Park Chanyeol ketika Baekhyun pertama kali bertemu dengannya? Baekhyun masih ingat dengan jelas sosok Chanyeol yang berdiri tegak di ambang pintu. Dengan rambutnya yang dicat kepirangan dan penampilannya yang berantakan, ia kelihatan seperti pelukis dalam bayangan Baekhyun. Ia juga...
"Siapa? Park Chanyeol?" Haruka menyela lamunannya, lalu mengibaskan tangan. "Bukan, bukan. Dia fotografer. Dia sendiri yang bilang begitu."
Baekhyun langsung menghentikan imajinasinya yang mulai melantur ke mana-mana. "Tapi tadi Oneesan bilang dia itu pelukis."
Haruka mengernyit dan menggeleng. "Tidak. Maksudku tadi seniman. Pelukis dan fotografer sama-sama disebut seniman, bukan?"
Baekhyun membuka mulut hendak membantah, tapi kemudian mengurungkan niat. Kadang-kadang ucapan Haruka memang sulit dipahami dan Baekhyun sudah terbiasa. Akhirnya ia hanya bergumam,
"Kurasa memang begitu."
"Aku heran kenapa dia tiba-tiba datang ke Jepang," kata Haruka.
"Dia sangat terkenal di Amerika, kau tahu? Bahkan di Tokyo ini dia sudah dibanjiri tawaran pekerjaan, tapi katanya dia tidak ingin bekerja dulu untuk sementara ini. Dia mau berlibur."
Baekhyun menatap Haruka dengan kagum. "Bagaimana Oneesan bisa tahu semua itu?"
Haruka hanya mengangkat bahu dan tersenyum. "Aku pintar menggabung-gabungkan informasi yang kuterima."
"Akira!"
Kepala Baekhyun berputar ke arah suara melengking itu dan matanya terpaku pada gadis remaja bertubuh ramping dengan rambut panjang dicat oranye yang sedang melambai kepada teman laki-lakinya yang duduk di meja tidak jauh dari meja Baekhyun. Anak laki-laki dengan rambut seperti landak yang dipanggil Akira itu balas melambai.
"Sudah menunggu lama?" Baekhyun mendengar gadis itu bertanya lagi dan temannya menggeleng.
Perhatian Baekhyun kembali ke Haruka ketika mendengar tetangganya itu mendecakkan lidah. "Dasar anak muda zaman sekarang," gerutu Haruka. "Apa maksudnya memakai rok mini pada musim dingin begini?"
Baekhyun tersenyum dan mengangkat bahu. Sebenarnya pemandangan seperti itu— para remaja dengan dandanan aneh, yang biasa disebut Cosplay-zoku—adalah pemandangan sehari-hari di -remaja itu suka berdandan habishabisan dan memamerkan diri di depan orang banyak. Mulai dari rambut yang dicat warna-warni, pakaian yang "kreatif" dan mencolok, sampai ke rias wajah yang bisa membuat orang-orang tua seperti Kakek Osawa mengelus dada. Mereka berdandan seolah-olah akan menghadiri pesta kostum, tapi pada kenyataannya mereka hanya sedang nongkrong santai di jalanan.
"Bisa kulihat kau masih mengingat anak laki-laki itu," celetuk Haruka tiba-tiba.
Baekhyun mengangkat alis. "Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan cinta pertamamu? Kitano Akira, bukan?"
Baekhyun menunduk dan menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya.
Haruka melipat kedua tangan di atas meja. "Menurutmu si Landak itu Akira yang kaucari-cari?"
Baekhyun mendengus dan tertawa. "Astaga, Oneesan! Tentu saja tidak. Anak itu masih kecil. Umurnya paling-paling baru tujuh belas tahun."
Haruka mendesah. "Kau hebat sekali. Masih tetap menunggu cinta pertamamu walaupun sudah belasan tahun."
"Aku tidak menunggunya," bantah Baekhyun.
Haruka mencibir. "Kepalamu berputar begitu cepat sampai nyaris putus hanya karena mendengar seseorang menyebut nama Akira."
Baekhyun kembali menunduk dan mengaduk-aduk tehnya dengan pelan.
Haruka memiringkan kepala. "Aku jadi berpikir-pikir. Memangnya kau masih bisa mengenalinya? Bagaimanapun juga sudah tiga belas tahun. Wajah orang bisa berubah, kau tahu? Bagaimana kalau kalian berpapasan di jalan dan kau tidak mengenalinya?"
Baekhyun hanya mengangkat bahu, lalu menoleh memandang ke luar jendela kafe, memandangi deretan pohon gundul di tepi jalan. Ia masih ingat peristiwa tiga belas tahun lalu itu dengan sangat jelas. Saat itulah ia pertama kali bertemu dengan anak laki-laki bertopi wol biru dengan senyum ramah yang membuat hatinya berdebar-debar. Kitano Akira. Cinta pertamanya.
Musim dingin tiga belas tahun yang lalu... Saat itu jam pulang sekolah. Baekhyun berjongkok menunggu Luhan di samping gedung sekolah sambil mengorek-ngorek salju di tanah dengan sebatang ranting kurus. Luhan harus menyelesaikan hukuman yang diberikan guru karena ia baru saja ribut dengan salah seorang anak di kelas tadi pagi. Baekhyun sudah lupa siapa nama anak perempuan menjengkelkan itu, tapi yang jelas anak itulah yang memulai kekacauan tersebut.
Ah, kalau tidak salah nama anak jahat itu Sugiyama. Ia merampas kalung Baekhyun hadiah dari Nenek dan melemparkannya ke luar jendela.
Baekhyun tahu Sugiyama sudah iri padanya sejak ia memperlihatkan kalung emas putih dengan liontin berbentuk tulisan "Baekhyun". Luhan juga punya satu, tentunya dengan liontin yang berbentuk tulisan "Luhan". Sugiyama ingin meminjam kalung itu, tapi Baekhyun tidak mengizinkan. Bagaimana mungkin ia mengizinkan anak manja itu memakai kalungnya yang berharga? Tapi Sugiyama nekat merampas kalung itu dan "menjatuhkannya" ke luar jendela. Katanya ia tidak sengaja, tapi tentu saja hanya orang buta dan tuli yang percaya padanya. Luhan yang pada dasarnya lebih galak langsung mengamuk dan menyerang Sugiyama. Saat itulah guru datang dan melihat Luhan melancarkan jurus menjambak-kucir-rambut yang ganas.
Dengan wajah cemberut menahan tangis kesal sambil sesekali meniup tangannya yang tidak bersarung tangan, Baekhyun menunduk dan mencari-cari di antara tumpukan salju di tanah. Nenek pasti marah kalau Baekhyun sampai menghilangkan kalung itu.
"Sedang apa?"
Kepala Baekhyun berputar ke arah suara. Matanya menyipit sedikit karena silau. Ia mengangkat sebelah tangan untuk menaungi mata dan barulah ia bisa melihat dengan jelas siapa yang berbicara. Ternyata seorang anak laki-laki bertopi wol biru. Usia anak itu pasti lebih tua daripada Baekhyun. Kelihatannya seperti anak SMP. Kakak kelasnya? Entahlah, Baekhyun belum pernah melihatnya sebelum ini.
"Sedang apa?" tanya anak laki-laki itu lagi. Baekhyun ragu sejenak, lalu bergumam pelan, "Mencari sesuatu." Anak laki-laki itu berjalan mendekat. "Mencari apa?" "Kalung," jawab Baekhyun singkat, lalu kembali menunduk mencari-cari di tanah.
Karena tidak mendengar sahutan, Baekhyun menoleh dan melihat anak itu sudah ikut mencari-cari.
Baru saja Baekhyun kembali memusatkan perhatian pada tanah di sekeliling kakinya, ia mendengar anak laki-laki itu berseru, "Namamu Baekhyun?"
Baekhyun menatapnya dengan heran dan mengangguk. "Ya."
Anak laki-laki itu tersenyum lebar dan mengacungkan sesuatu yang berkilau di tangan kanannya. "Ketemu!"
"Benar?" Baekhyun melompat berdiri dan berlari menghampiri anak itu.
Anak laki-laki itu menyerahkan kalung dengan liontin berbentuk nama "Baekhyun" kepada Baekhyun. "Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang lagi ya?" katanya dengan nada ramah.
Baekhyun mendongak menatap wajah yang berseri-seri itu. Ia baru akan membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih, tapi anak laki-laki itu menoleh ke arah lapangan dan melambai. Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dan melihat sekumpulan remaja berdiri di sana, dua anak perempuan dan dua anak lakilaki. Semuanya terlihat seperti anak SMP.
"Aku pergi dulu," kata si anak laki-laki bertopi biru. "Kau juga lebih baik cepat pulang."
Begitu anak laki-laki itu pergi. Luhan berlari-lari ke arah Baekhyun sambil menggerutu panjang-pendek. Baekhyun cepat-cepat menariknya mendekat. Ia tahu Luhan mengenal banyak orang. Mungkin ia tahu siapa anak laki-laki itu. Dan Luhan memang tahu. Kata Luhan nama anak itu Kitano Akira, siswa SMP. Dulu dia dan keempat temannya juga bersekolah di SD yang sama dengan Baekhyun , lalu setelah lulus mereka pindah ke SMP lain. Hari itu Kitano Akira dan teman-temannya datang ke SD lama mereka untuk bertemu dengan salah satu mantan guru mereka. Sejak hari itu Baekhyun tidak pernah bertemu dengan Kitano Akira lagi.
"Kau sudah menelepon ibumu?"
Chanyeol mengalihkan perhatian dari kameranya lalu memandang pria berusia empat puluhan dan berpenampilan rapi yang berdiri di sampingnya. Ia tersenyum samar dan menggeleng.
Takemiya Shinzo mendesah memandang keponakannya yang kelihatan tidak peduli sudah tinggal di New York lebih dari sepuluh tahun dan selama itu ia tidak pernah kembali ke Jepang. Sepanjang pengetahuan sang Paman, kehidupan Chanyeol di New York sangat baik. Anak itu sudah menjadi salah satu fotografer profesional yang cukup terkenal. Karena itu ia agak heran ketika Chanyeol meneleponnya seminggu yang lalu dan berkata ia akan kembali tinggal di Tokyo.
Tetapi keponakannya itu tidak mau tingagl di apartemen pribadi yang disediakan untuknya di Roppongi yang trendi. Ia malah menyewa apartemen kecil di pinggiran kota. Takemiya Shinzo sudah bertanya pada kakak perempuannya—ibu Chanyeol— tentang apa yang sebenarnya diinginkan Chanyeol karena anak itu sendiri tidak mau menjelaskan, tetapi ibu Chanyeol juga tidak bisa membantu banyak. Apalagi setelah tiba di Tokyo, Chanyeol sama sekali belum menelepon keluarganya di New York.
"Bagaimana kalau nanti ibumu khawatir?" Takemiya Shinzo berusaha membujuk keponakannya. "Kau tidak memberitahunya di mana kau tinggal, apa yang kaulakukan, bagaimana keadaanmu..."
"Ibu tidak punya alasan untuk khawatir. Sudah kubilang padanya aku datang ke sini untuk berlibur. Bukankah Paman juga sudah memberitahunya bahwa Paman melihatku tiba di Tokyo dengan selamat," gumam Chanyeol ringan. "Kita tidak perlu memberitahu Ibu tentang hal selebihnya." Ia mengangkat kameranya dan memandang sekelilingnya dari balik lensa, berusaha mencari objek yang cukup menarik untuk dipotret. Harajuku benar-benar mengesankan, penuh warna dan inovatif. Sumber inspirasi.
Sebaliknya, Takemiya Shinzo tidak terlalu suka Harajuku. Tentu saja karena kawasan itu adalah kawasan yang dikuasai para remaja. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah para remaja yang berdandan seronok. Takemiya Shinzo termasuk aliran konservatif. Ia lebih suka penampilan yang bersih dan rapi. Sambil melihat ke sekelilingnya, ia bersyukur dalam hati karena ia belum menikah dan belum punya anak. Seandainya saja anak laki-laki yang berdiri di bawah tiang lampu itu adalah anaknya, ia akan menderita tekanan darah tinggi. Bagaimana tidak? Lihat saja anak itu. Usianya pasti tidak lebih dari tujuh belas tahun, rambutnya dicukur habis dan hanya menyisakan tiga garis tipis di tengah-tengah kepalanya, pakaiannya sobek di sana-sini yang katanya adalah gaya masa kini, dan bukan hanya telinganya yang ditindik, tapi alis dan hidungnya juga.
Melihat kening pamannya yang berkerut, Chanyeol tertawa kecil dan berkata, "Paman jangan mengkhianatiku ya? Ibu hanya perlu tahu aku sudah tiba di Tokyo dengan selamat. Hanya itu. Paman juga tidak boleh melapor tentang apa pun kepadanya. Aku bisa menjaga diriku sendiri.
Dan kalau Paman mau tahu, keadaanku sangat baik sekarang ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Takemiya Shinzo kembali menatap keponakannya dan menyadari tinggi badan Chanyeol sudah menyamai tingginya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jas dan mengulurkannya kepada Chanyeol. "Pakai ini," katanya. "Ini ponsel baru."
Chanyeol menerimanya dengan alis terangkat. "Untukku? Supaya Paman bisa merecokiku setiap hari dan melapor pada Ibu?"
Takemiya Shinzo mendesah dengan berlebihan, lalu tersenyum dan berkata, "Aku tidak akan mengatakan apa pun pada ibumu dan aku tidak akan merecokimu. Kau tidak akan sering menerima teleponku. Mungkin hanya sesekali, saat aku merasa perlu mengecek apakah kau masih hidup atau tidak."
Chanyeol memasukkan ponsel itu ke saku mantel dan tersenyum. "Terima kasih, Paman."
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
Ketika pamannya berbalik dan mulai berjalan, Chanyeol berseru,
"Paman mau ke mana?"
Pamannya menoleh. "Pergi main bulu tangkis dengan teman. Aku tahu kau tidak suka bulu tangkis, jadi aku tidak mengajakmu."
Chanyeol mengamati kepergian pamannya sejenak, lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Ia menyusuri Omotesando sambil mencari inspirasi, sesekali membicik dan memotret objek-objek yang dianggapnya menarik. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Lensa kameranya menangkap sosok seorang mengangkat kepala dari kamera untuk melihat dengan mata kepala sendiri, seakan tidak memercayai lensa kameranya.
Wanita itu duduk di salah satu kafe yang berderet di sepanjang jalan. Ia menempati meja untuk berdua tepat di sudut dan di samping jendela kaca besar. Wanita itu menunduk ke arah buku yang terbuka di meja sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan. Kelihatannya ia sedang membaca, tapi Chanyeol memerhatikan mata wanita itu tidak bergerak. Pandangan wanita itu memang terarah ke buku, tapi perhatiannya tidak tercurah ke sana. Sepertinya ia sedang melamun. Rambut panjangnya dijepit ke atas dengan asal-asalan dan Chanyeol bisa melihat dengan jelas telinga kanan gadis itu yang ditindik. Bukan hanya satu, tapi tiga tindikan.
Tanpa sadar seulas senyum tersungging di wajah Chanyeol. Tidak salah lagi, gadis itu Byun Baekhyun, tetangga sebelah apartemennya. Dan tidak salah lagi, Baekhyun sedang melamun. Ia pasti sedang melamun karena sama sekali tidak menyadari Chanyeol yang berdiri tidak jauh di sampingnya, hanya dipisahkan oleh jendela kaca memandangi wajah yang sedang melamun itu dan tiba-tiba merasa ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
Ia mengangkat kameranya dan membidik. Baekhyun masih bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari dunia sekelilingnya, dan tidak menyadari bahwa Chanyeol sedang memotretnya. Ia juga tidak menyadari setelah itu Chanyeol tetap memandanginya.
Chanyeol tidak tahu berapa lama ia memandangi Baekhyun, tapi ia yakin tidak lama walaupun rasanya cukup lama. Ia baru tersadar ketika Baekhyun bergerak, seakan juga baru tersadar dari lamunannya. Gadis itu mengerjapkan mata dan menutup bukunya. Ia meraih jaketnya dan berdiri. Saat itu Chanyeol maju selangkah dan mengetuk kaca jendela. Baekhyun mendengar ketukan itu dan memerhatikan mata gadis itu melebar dan alisnya terangkat ketika bertemu pandang dengan tersenyum dan mengangkat sebelah tangan. Kemudian raut wajah Baekhyun berubah begitu mengenali siapa yang menyapanya dari balik jendela kaca dan ia balas tersenyum.
"Park-san, sedang apa di sini?" tanya Baekhyun ketika ia sudah keluar dari kafe dan menghampiri Chanyeol. Tadi ia terkejut melihat Chanyeol yang mengetuk kaca jendela. Ia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu secara kebetulan dengan tetangga barunya itu, tapi ini kejutan yang menyenangkan.
Chanyeol mengangkat kameranya. "Mencari inspirasi," sahutnya ringan.
Baekhyun mengangguk-angguk kecil. "Haruka Oneesan bilang kau fotografer. Fotografer apa? Fashion?"
Chanyeol menggeleng cepat. "Bukan," katanya. "Kurasa aku kurang berbakat dalam bidang itu. Pernah mendengar istilah street photography? Itu bidangku. Aku memotret apa pun yang kuanggap menarik di sekitarku. Kadang-kadang aku juga suka melakukan sedikit fine art dan landscape photography, walaupun kurasa aku masih punya banyakkekurangan dalam kedua bidang itu."
Baekhyun tidak paham dengan istilah-istilah yang dikatakan Chanyeol, tetapi mungkin ia bisa mencari beberapa buku petunjuk tentang fotografi di perpustakaan.
Chanyeol menggerakkan kepalanya ke arah kafe di samping mereka dan bertanya, "Kenapa kau duduk sendirian di dalam?"
"Tadi aku bersama Haruka Oneesan. Dia memintaku menemaninya berbelanja untuk keperluan Natal. Lalu dia harus kembali ke salon untuk bekerja," jelas Baekhyun. "Kau mau ke mana?"
Chanyeol mengangkat bahu, lalu balas bertanya, "Kau sendiri mau ke mana?"
"Aku? Sekarang aku mau membeli bahan makanan," jawab Baekhyun. "Persediaan di rumah sudah habis."
"Kalau begitu, aku ikut denganmu," cetus Chanyeol.
"Untuk apa?" tanya Baekhyun langsung.
"Karena aku sedang tidak punya kesibukan. Kenapa? Kau ada janji dengan orang lain?"
"Tidak," sahut Baekhyun. Lalu karena melihat Chanyeol masih menunggu jawabannya, akhirnya ia berkata, "Baiklah, kau boleh ikut."
Chanyeol tersenyum senang. "Bagaimana kalau kita ke persimpangan Shibuya yang terkenal itu?"
"Kenapa?"
"Aku ingin ke sana dan melihat-lihat. Pasti sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali aku melihatnya."
"Tapi kau kan bisa pergi ke sana sendiri," gumam Baekhyun. "Kenapa harus ditemani?"
Chanyeol tersenyum lebar. "Aku takut tersesat." "Apa?" Baekhyun yakin ia salah dengar.
"Sudah lama aku tidak pulang ke Jepang. Aku nyaris tidak mengenali jalan-jalan yang ada sekarang," lanjut Chanyeol.
Baekhyun tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya melongo menatap Chanyeol, berusaha melihat apakah laki-laki itu sedang bercanda atau serius. Akhirnya ia menyerah dan mendesah. "Ayo, kita pergi."
"Makan apa ya malam ini?" gumam Baekhyun pada diri sendiri. Ia berdiri menghadap rak bahan makanan sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. "Spageti? Atau kari? Mmm..."
Chanyeol yang bertugas mendorong troli menghampirinya dan berhenti di belakangnya. "Kari saja," celetuknya dan menjulurkan tangan melewati kepala Baekhyun untuk meraih sekotak bumbu kari. "Aku sudah bosan dengan makanan Barat. Kita makan makanan Jepang saja malam ini."
Alis Baekhyun terangkat dan ia berputar menghadap Chanyeol. "Kita?" ulangnya sambil menggerakkan tangannya menunjuk dirinya dan Chanyeol.
"Memangnya aku pernah mengajakmu makan bersama?"
Chanyeol menyunggingkan seulas senyum manis. "Kau akan mengajakku makan malam di tempatmu, bukan? Kau tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak bisa memasak dan sejak kemarin aku sama sekali belum menikmati makanan yang sesungguhnya," bujuknya. Ketika ia melihat Baekhyun masih menatapnya dengan sebelah alis terangkat, ia cepat-cepat menambahkan, "Begini saja, bagaimana kalau sebagai gantinya siang ini kutraktir makan? Oke?"
Baekhyun mengangkat bahu. "Kurasa cukup adil."
Baekhyun tahu benar dirinya orang yang mudah bergaul, tapi jarang sekali ia bisa langsung merasa akrab dengan seseorang. Park Chanyeolkelihatannya sangat percaya diri dan pandai berbicara. Selama makan siang mereka mengobrol banyak. Bersama laki-laki itu membuat Baekhyun menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak terpikir untuk diceritakan. Ia bercerita tentang tetangga-tetangga mereka juga tentang dirinya sendiri, seperti tentang ibunya yang saat ini sedang berada di Jakarta karena kakeknya sedang tidak sepertinya tertarik pada semua yang diceritakan Baekhyun.
"Giliranmu," kata Baekhyun.
Chanyeol sendiri mengaku tidak banyak yang bisa diceritakan kepada Baekhyun. Katanya ia anak bungsu dalam keluarganya dan kakak laki-lakinya sudah berkeluarga. Semua keluarganya tinggal di Amerika Serikat, kecuali seorang paman yang menetap di Tokyo. Keluarganya sama sekali tidak istimewa. Ayahnya pekerja kantoran dan ibunya ibu rumah tangga biasa.
"Kenapa kau kembali ke Jepang?" tanya Baekhyun ketika mereka berdiri dalam kerumunan pejalan kaki di pinggir persimpangan Shibuya yang terkenal ramai, menunggu lampu lalu lintas berubah warna.
Chanyeol sedang sibuk membidikkan kameranya ke arah iklan-iklan neon dan layar video raksasa yang bertaburan di persimpangan itu. Wajahnya berseri-seri penuh semangat. "Hm? Maaf, kau bilang apa tadi?" tanyanya sambil berpaling ke arah Baekhyun.
"Kenapa kau kembali ke Jepang?" Baekhyun mengulangi pertanyaannya. "Mencari suasana baru," jawab Chanyeol singkat, tanpa berusaha menjelaskan.
Tepat pada saat itu lampu tanda menyeberang menyala dan kerumunan besar orang mulai menyeberang jalan. Baekhyun tahu mereka harus berjalan dengan cepat namun hati-hati dalam lautan manusia yang berjalan hilir-mudik ini. Ia ingin memperingatkan Chanyeol. Ia menoleh, tapi Chanyeol tidak ada di sampingnya. Ia menoleh ke kanan-kiri. Tidak ada. Hanya ada kerumunan orang yang berlalu-lalang. Ke mana laki-laki itu? Begitu menyadari Chanyeol tidak ada di dekatnya, langkah Baekhyun otomatis terhenti. Dengan segera ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Sebelum Baekhyun sempat menggumamkan permintaan maaf, seseorang yang berjalan dari arah berlawan menyenggol bahunya. Baekhyun terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris terjatuh kalau punggungnya tidak tertahan sesuatu.
"Sebenarnya kau orang Tokyo atau bukan? Menyeberang jalan saja tidak bisa."
Mendengar suara itu Baekhyun mendongak dan melihat wajah Chanyeol. Ternyata Chanyeol yang menahannya supaya tidak memegang sikunya dan membimbingnya menyeberang jalan.
"Tadi aku sedang mencarimu," kata Baekhyun berusaha menjelaskan begitu mereka menyeberang dengan selamat dan berhenti sejenak di dekat patung Hachiko yang terkenal sebagai tempat pertemuan penduduk Tokyo. Setiap hari banyak sekali orang yang berkumpul di sana, terlebih lagi hari Minggu.
"Dari tadi aku ada di belakangmu," kata Chanyeol ringan.
"Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu," gerutu Baekhyun. "Membuat orang lain bingung. Apalagi di tengah jalan."
"Baiklah, maafkan aku," kata Chanyeol dengan nada bergurau. "Lain kali aku akan menempel terus padamu."
Baekhyun membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. "Akira!"
Kepala Baekhyun langsung berputar ke arah suara wanita juga ikut berpaling. Mereka melihat seorang wanita menghampiri anak laki-laki yang sedang mengulum lolipop. Usia anak itu pasti tidak lebih dari tiga tahun.
"Akira, sudah Ibu bilang jangan berkeliaran sembarangan," si Ibu mengomel. Ia menggandeng tangan si anak yang hanya mendongak memandang wajah kesal ibunya.
"Kalau tidak, lain kali Ibu tidak akan belikan permen lagi. Mengerti?"
Baekhyun memerhatikan kejadian singkat itu sambil memikirkan hal lain. Hari ini ia bertemu dua orang yang bernama Akira, tapi dua-duanya bukan Akira yang dicarinya.
"Ada apa?" tanya Chanyeol ketika melihat Baekhyun yang merenung.
Baekhyun menggeleng pelan. Matanya masih tertuju pada anak laki-laki dan ibunya itu. "Nama anak itu Akira," gumamnya pelan.
Chanyeol mengangguk, tapi tidak mengerti. "Lalu?"
"Nama yang bagus," gumam Baekhyun lagi setengah melamun.
"Bagus bagaimana?"
Baekhyun mengangguk. "Nama itu mengingatkanku pada seseorang."
"Siapa?"
Baekhyun mendesah. "Anak laki-laki pertama yang kusukai." "Oh, ya?"
"Chanyeol-san, siapa nama cinta pertamamu?" Alis Chanyeol terangkat. "Cinta pertamaku?"
Baekhyun menoleh ke arahnya dan bertanya sekali lagi, "Kau masih ingat nama cinta pertamamu?"
"Namanya? Mmm..." Chanyeol memasang tampang seakan sedang berpikir keras, lalu ia tersenyum lebar dan mengangguk. "Bacon," jawabnya, lalu memiringkan kepala. "Atau Baekhyun?"
Mata Baekhyun menyipit. Laki-laki itu mulai bercanda lagi. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan dramatis. "Lupakan saja," gumamnya dengan nada pasrah. "Serius," tegas Chanyeol, namun senyumnya semakin lebar. "Memangnya kaupikir hanya kau sendiri yang bernama Baekhyun di dunia ini? Dan ngomong-ngomong soal nama..."
"Baiklah, terserah," Baekhyun memotong ucapan Chanyeol sambil mengangkat sebelah tangannya yang tidak menjinjing kantong belanjaan dengan gerakan mengalah. "Aku percaya padamu. Ayo, jalan. Bukankah kau bilang ingin melihat-lihat Shibuya?" Ia melihat kantong belanjaannya, lalu pandangannya beralih ke Chanyeol yang juga menjinjing kantong belanjaan. "Seharusnya kita tidak belanja dulu. Sekarang kita terpaksa harus membawa barang-barang ini ke mana-mana."
Mereka kembali melanjutkan langkah. Tadi Chanyeol ingin berkata bahwa ia mengenal seseorang bernama Akira. Salah satu teman sekelas dan teman dekatnya juga bernama Akira. Gara-gara Baekhyun bertanya tentang cinta pertamanya, Chanyeol jadi teringat pada masa kecilnya ketika ia masih tinggal di Tokyo. Ia juga teringat pada teman-teman sepermainannya dan bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka sekarang. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan mereka. Sudah lama sekali. Apakah mereka sudah berubah? Chanyeol masih ingat nama-nama mereka yang sering bermain dengannya. Taguchi Emi, Yamada Makoto, Kawakubo Eiji, dan Kitano Akira. Apakah mereka semua masih tinggal di Tokyo?
Winter in Tokyo
"ONEESAN, Tomoyuki sudah pulang?" tanya Baekhyun sambil melangkah masuk ke apartemen 102.
Haruka menutup pintu dan menyusul Baekhyun ke ruang tamu. "Belum. Sepertinya hari ini dia akan pulang malam." Alisnya berkerut sedikit ketika mengamati Baekhyun. "Kau sedang flu, ya? Suaramu sengau."
"Ya," gumam Baekhyun lesu. Ia sudah merasakan gejala flu sejak pagi dan sudah minum obat, tetapi ternyata tidak berpengaruh karena keadaannya tidak membaik. Ia mengembuskan napas keras dan duduk di salah satu bantal yang ada di lantai ruang tamu. Ia menopangkan siku di atas kotatsu dan mengeluh, "Bagaimana ini?" Ia menoleh ke arah Haruka dan baru menyadari tetangganya itu berpakaian rapi. "Oneesan mau pergi?"
Haruka menatap bayangannya di cermin bulat yang tergantung di dinding. "Ya. Pergi makan malam dengan teman." Setelah bentuk rambutnya dianggap sempurna, Haruka menoleh menatap Baekhyun. "Ngomong-ngomong, kenapa kau mencari Tomoyuki?"
Baekhyun berdiri dan menghampiri Haruka dengan ekspresi merajuk. "Aku mau memintanya mengganti bola lampu di apartemenku."
"Oh," gumam Haruka sambil mengangguk. "Bola lampu sebelah mana?"
"Ruang duduk." Baekhyun belum pernah mengganti bola lampu dan Haruka sama saja. Selama ini mereka selalu meminta bantuan Tomoyuki untuk melakukan pekerjaan semacam itu. Itulah keuntungan punya saudara laki-laki. Bisa dimintai tolong.
"Tomoyuki belum pulang," ulang Haruka. "Bagaimana dengan Chanyeol-san?"
Baekhyun menggeleng. "Belum pulang juga."
Haruka mendecakkan lidah. "Ke mana semua pria itu saat dibutuhkan?" gerutunya.
"Ada Kakek," kata Baekhyun sambil tersenyum geli begitu teringat Kakek Osawa. "Tapi aku tidak tega memintanya memanjat-manjat tangga demi mengganti bola lampu."
Haruka tertawa kecil. "Berarti kau harus menunggu salah satu dari kedua pria muda dan kuat itu pulang. Tidak ada pilihan lain."
"Tapi, Oneesan, apartemenku gelap gulita," Baekhyun mengerang. Ia tidak suka gelap. Ia takut gelap. Memang usianya sudah 25 tahun, tapi apa boleh buat? Sampai sekarang ia masih harus menyalakan lampu kecil kalau tidur.
"Jangan berlebihan," kata Haruka sambil mengenakan jaketnya. "Hanya ruang dudukmu yang gelap. Kamar tidurmu tidak."
"Oneesan mau pergi sekarang?" tanya Baekhyun dengan nada cemas. "Teman-temanku sudah menunggu," kata Haruka. Ia berjalan ke jendela dan menyibakkan tirai.
"Di luar masih hujan deras," kata Baekhyun, berharap Haruka akan menunggu hujan reda sehingga ada yang menemaninya di sini.
"Aku bisa bawa payung," kata Haruka sambil mengangkat bahu. "Tidak enak kalau aku sampai datang terlambat." Ia berjalan ke pintu dan mengenakan sepatunya. Kemudian ia menoleh dan menambahkan,
"Tentu saja kau boleh menunggu di sini kalau kau mau." "Oneesan, tunggu dulu!"
Tepat pada saat itu lagu Fly High-nya Hamasaki Ayumi terdengar nyaring. Nada dering ponsel Baekhyun. Ia cepat-cepat menjawab. "Moshimoshi?"
"Baekhyun-chan!" Terdengar suara riang di seberang sana dengan latar belakang suara hujan.
Alis Baekhyun terangkat. " Chanyeol-san?" "Baekhyun-chan," panggil Chanyeol sekali lagi. "Sedang apa?" "Tidak sedang apa-apa."
"Apa yang terjadi dengan suaramu?"
"Hanya sedikit flu. Ada apa menelepon?" Sebelum Chanyeol sempat menjawab, Baekhyun melanjutkan lagi, "Ah, aku tahu. Setiap kali mau meminta bantuan kau selalu memanggilku Baekhyun-chan."
"Bingo!" seru Chanyeol gembira. "Walaupun baru bertetangga dua minggu, ternyata kita sudah bisa saling memahami. Aku senang sekali." Baekhyun tertawa hambar. "Baiklah, ada apa?"
"Baekhyun-chan, kau tahu sekarang sedang hujan?" "Ya."
"Aku baru turun dari bus dan sekarang sedang duduk menunggu di halte bus."
"Lalu?"
"Hujannya deras sekali."
"Lalu?"
"Bukankah sudah jelas? Aku tidak membawa payung dan aku sudah kedinginan. Aku bosan menunggu hujan berhenti. Ditambah lagi hujannya tidak mau berhentiberhenti." Chanyeol berhenti sejenak dan berdeham. "Jadi, kau bisa menjemputku?"
"Menjemputmu?"
Chanyeol buru-buru meralat, "Mengantarkan payung untukku. Bisa? Tolong? Aku bersedia menemanimu sepanjang Hari Natal... oh, kau akan pulang ke Kyoto pada Hari Natal, ya? Kalau begitu aku akan menemanimu sepanjang malam Natal minggu depan kalau kau mau mengantarkan payung untukku."
Baekhyun tidak butuh waktu lama untuk berpikir. "Tunggu di sana. Aku akan datang."
"Ada apa dengan Chanyeol-san?" tanya Haruka yang ternyata belum pergi. Ia heran menatap Baekhyun yang buru-buru mengenakan sepatunya kembali.
"Dia lupa membawa payung dan tidak bisa berjalan pulang dalam hujan sederas ini," jelas Baekhyun cepat.
"Jadi kau mau menjemputnya?"
Baekhyun mengangguk. "Lebih cepat dia pulang, lebih cepat dia bisa membantuku memasang bola lampu baru." Lalu seakan baru terpikir akan sesuatu, ia menambahkan sambil menggerutu, "Dan bukan karena aku berharap dia menemaniku pada malam Natal."
Chanyeol duduk di bangku panjang yang tersedia di halte bus sambil memandangi hujan yang turun dengan lebat. Tidak mungkin ia bisa berjalan pulang tanpa membuat dirinya basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tentu saja kalau ia menerima tawaran Paman Shinzo yang ingin meminjamkan mobil untuknya, ia tidak perlu berdesak-desakan di kereta atau bus dan tidak perlu berbasah-basah ria. Tetapi tidak apa-apa. Memang ini yang diinginkannya. Ia mengembuskan napas dan memerhatikan uap putih yang keluar dari mulutnya seperti asap rokok. Ia menggigil kedinginan. Tadi ia sudah menelepon Baekhyun dan gadis itu bilang sendiri kalau ia bersedia datang menjemputnya. Jadi Chanyeol hanya perlu menunggu dengan sabar.
Sebuah bus berhenti di halte dan beberapa penumpang turun sambil memegang payung meringis. Sepertinya hanya ia sendiri yang tidak mempersiapkan payung. Dulu ia memang tidak pernah membutuhkan payung. Ia selalu mengendarai mobil sendiri ke mana pun ia pergi. Ia memerhatikan orang-orang yang baru turun dari bus itu membuka payung dan langsung berjalan menembus hujan. Pulang ke rumah masing-masing.
Tinggal seorang laki-laki bermantel cokelat panjang yang sedang membuka payung hitam sekilas memerhatikan laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Masih muda, mungkin sebaya Chanyeol, dengan rambut hitam yang dipotong pendek dan rapi, wajah kurus, dan tubuh tidak terlalu tinggi. Wajahnya memang tidak setampak aktor terkenal, tapi orang-orang yang melihatnya pasti akan berpikir laki-laki itu orang yang ramah dan suka tertawa. Merasa tidak sopan karena memelototi orang lain, Chanyeol memalingkan wajah kembali memandang hujan di luar sana. Ia melirik jam tangannya dan mendesah sekali lagi. Kenapa Baekhyun lama sekali?
"Maaf."
Chanyeol menoleh. Laki-laki yang tadi dipelototinya sedang menatapnya dengan ragu.
"Park Chanyeol?" tanya laki-laki itu masih dengan sikap ragu-ragu.
"Ya," gumam Chanyeol kaget. Bagaimana orang itu bisa tahu namanya?
Kerutan ragu di wajah laki-laki bermantel cokelat itu menghilang. Wajahnya berubah cerah dan ia menghampiri Chanyeol. " Chanyeol! Ternyata benar kau. Awalnya aku tidak yakin. Wah, kau sudah berubah." Melihat Chanyeol yang masih sibuk mengingatingat, ia menambahkan, "Sudah lupa padaku? Ini aku. Akira."
"Akira?" gumam Chanyeol dengan kening berkerut. Lalu perlahan-lahan dalam benaknya terbayang seorang anak laki-laki kurus kecil berambut cepak yang sangat tertarik dengan pelajaran biologi. Mata Chanyeol terbelalak senang. "Kitano Akira! Astaga! Lama tidak bertemu. Senang sekali melihatmu lagi, Teman. Apa kabar?"
Baekhyun berjalan cepat sambil mencoba bersiul untuk menghibur diri, tetapi tidak berhasil. Cuaca yang dingin dan flu membuat siulannya seperti bunyi balon kempes. Ia sudah hampir sampai di halte bus yang dimaksud Chanyeol. Tepat di belokan jalan itu.
"Nah, itu Chanyeol-san," gumam Baekhyun pada diri sendiri ketika membelok dan melihat sosok Chanyeol yang berdiri di halte bus. Oh, ternyata Chanyeol tidak sendirian. Ia asyik mengobrol dengan seorang laki-laki bermantel cokelat panjang sambil tertawatawa akrab. Namun sebelum Baekhyun sempat menghampiri mereka untuk melihat dan mendengar lebih jelas, laki-laki bermantel cokelat itu menjabat tangan Chanyeol, membuka payungnya dan berjalan menembus hujan, meninggalkan Chanyeol sendirian di halte bus. Baekhyun melihat Chanyeol mendongak memandangi hujan yang terus turun. Laki-laki itu bahkan tidak sadar ketika Baekhyun menghampirinya.
"Aku sudah datang."
Chanyeol menoleh dengan cepat. Alisnya terangkat begitu menyadari Baekhyun sudah berdiri di dekatnya. Senyumnya mengembang. "Kau benar-benar datang! Kau baik sekali. Sungguh!"
Baekhyun mengulurkan payung lipat yang dibawanya untuk Chanyeol. "Memangnya kaupikir aku tidak akan datang?"
"Aku tidak tahu kalau kau benar-benar ingin menghabiskan malam Natal bersamaku," gurau Chanyeol riang.
"Terserah apa yang kaupikirkan," sela Baekhyun ringan, sudah terbiasa dengan Chanyeol yang suka bercanda dan berbicara menerima payung lipat yang disodorkan dan mengerutkan kening.
"Sepertinya flumu lebih parah daripada yang kukira."
"Aku sudah minum obat. Besok juga sembuh," Baekhyun membantah sambil mengamati Chanyeol yang membuka lipatan payungnya.
"Ngomong-nomong, tadi aku melihatmu berbicara dengan seseorang. Temanmu?"
Chanyeol mengangguk. "Teman sekolahku dulu. Kami kebetulan bertemu di sini. Hebat sekali, bukan?" katanya gembira. "Kami tidak sempat berbicara banyak karena dia harus mengunjungi pasiennya yang tinggal di sekitar sini. Oh ya, sekarang dia sudah menjadi dokter. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengannya setelah sekian lama. Dan dia yang mengenaliku lebih dulu."
Baekhyun menarik lengan Chanyeol. "Ayo, kita mengobrol sambil jalan saja. Dingin sekali," katanya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah supaya Chanyeol bisa memasang bola lampu untuknya. "Lalu kau sudah menanyakan nomor teleponnya?"
"Ya. Kami juga sudah berencana bertemu besok," sahut Chanyeol puas.
Ia menoleh menatap Baekhyun yang berjalan di sampingnya. "Ngomong-ngomong soal dokter, kalau besok flumu belum sembuh, sebaiknya kau ke dokter."
Baekhyun mendesah. "Sudah kubilang, aku punya obat dan sudah kuminum. Besok juga sembuh."
"Kau mau kukenalkan kepada temanku yang tadi itu? Dia kan dokter."
"Tidak perlu. Aku sudah punya dokter langganan."
Tiba-tiba Chanyeol memegang siku Baekhyun dan menariknya menepi tepat ketika sebuah mobil melewati mereka. Baekhyun agak heran mendapat perlakuan seperti itu dari Chanyeol. Lebih heran lagi ketika ia menyadari laki-laki itu secara tidak mencolok telah bertukar posisi dengannya, sehingga kini Baekhyun berjalan di bagian dalam jalan dan Chanyeol berjalan di sebelah luar. Menurut Baekhyun sikap seperti itu sangat sopan dan penuh perhatian.
Sejak Chanyeol pindah ke apartemen 201 dua minggu yang lalu, Baekhyun sudah memerhatikan bahwa Chanyeol selalu bersikap sopan walaupun gaya bicaranya asal-asalan. Ia juga tetangga dan teman yang baik. Di samping itu, mereka sering menghabiskan waktu sering mampir ke perpustakaan tempat Baekhyun bekerja dan mengajaknya makan bersama.
Karena sering menghabiskan waktu bersama, Baekhyun yakin sikap Chanyeol yang sopan itu bukan karena laki-laki itu ingin memamerkan diri, tapi karena memang sudah terbiasa melakukannya sehingga ia sendiri pun tidak selalu membuka dan menahan pintu untuk Baekhyun setiap kali mereka masuk dan keluar dari ruangan. Kalau mereka berjalan bersama seperti sekarang ini, Chanyeol selalu berjalan tepat di sampingnya, tidak pernah di depan atau di belakangnya. Tindakan kecil itu membuat Baekhyun sangat terkesan. Zaman sekarang jarang sekali ada pria yang bersikap seperti itu. Mungkinkah sikap seperti itu didapat Chanyeol dari Amerika?
Tetapi semua sopan santun itu tidak terlalu berarti kalau seorang laki-laki tidak bisa melakukan satu hal yang paling penting.
Baekhyun mendongak menatap Chanyeol sambil tersenyum manis. "Ngomong-ngomong, Chanyeol-san, kau bisa memasang bola lampu?"
"Lihat? Tinggal diputar begini saja," kata Chanyeol sambil menunjukkan cara memasang bola lampu di ruang duduk apartemen Baekhyun. "Kau benar-benar harus belajar. Masa pekerjaan segampang ini tidak bisa dilakukan? Harus menunggu orang lain melakukannya untukmu?"
Baekhyun yang memegangi senter cemberut saja. "Aku takut kesetrum," gerutunya pelan.
"Tidak akan kesetrum kalau kau hati-hati." Baekhyun mencibir.
"Nah, selesai," kata Chanyeol sambil turun dari tangga. "Coba nyalakan."
Baekhyun menjentikkan sakelar lampu. Tidak ada yang terjadi. Ruangan tetap gelap.
"Chanyeol-san, sebenarnya kau bisa memasang bola lampu atau tidak?" tanya Baekhyun curiga.
Chanyeol mendongak menatap bola lampu yang baru dipasangnya dengan kening berkerut. "Sepertinya ini bukan masalah bola lampu yang rusak," katanya. "Ada masalah dengan kabel listrikmu."
"Lalu?"
"Kalau memang itu masalahnya, aku tidak bisa membantu."
"Ha?" Chanyeol mengangkat bahu. "Aku bukan tukang listrik.
Sebaiknya kau memberitahu Kakek Osawa dan menelepon tukang listrik besok. Biar mereka yang memeriksa kerusakannya."
"Tapi... Tapi..."
"Kenapa?" Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun.
"Bagaimana denganku?"
"Bagaimana denganmu?"
"Itu..." Baekhyun menautkan jari-jarinya di depan dada dan tersenyum salah tingkah. "Aku tidak suka gelap."
Walaupun ruangan itu hanya disinari lampu senter yang remang-remang, Baekhyun bisa melihat senyum yang tersungging di bibir Chanyeol. Sudah pasti laki-laki itu menertawakannya.
"Kalau kau takut gelap, diam di kamar tidur saja. Di sana kan lampunya masih bisa menyala," kata Chanyeol sambil menahan tawa.
"Tapi aku kan sering mondar-mandir di sini," Baekhyun membela diri sambil menggerakkan tangannya ke sekeliling ruang tamu. "Perasaanku tetap tidak enak kalau gelap gulita."
"Nyalakan lilin."
"Sama saja."
"Jadi kau mau bagaimana?"
Baekhyun memiringkan kepala. "Aku bisa menumpang di tempat Haruka Oneesan, tapi kebetulan dia sedang tidak ada di rumah. Dan aku tidak mau merepotkan Kakek dan Nenek."
"Kau mau aku menemanimu di sini?" tanya Chanyeol setelah memikirkan arah pembicaraan Baekhyun.
Baekhyun menggeleng. "Sudah kubilang aku tidak suka gelap. Tidak peduli ada yang menemani atau tidak, pokoknya aku tidak suka gelap."
Chanyeol mendesah. "Jadi aku tidak bisa mengajakmu nonton film di bioskop ya?"
"Apa?" tanya Baekhyun sambil mengerjapkan mata. Apa hubungan film bioskop dengan pembicaraan mereka?
"Di bioskop, kan gelap."
"Aah, itu." Baekhyun paham. "Tapi itu berbeda." "Berbeda bagaimana? Sama-sama gelap."
"Kalau di bioskop perhatianku sepenuhnya tertuju ke film yang diputar dan aku tidak merasa gelap."
"Berarti kau mau kalau kuajak nonton?"
Bagaimana pembicaraan mereka bisa sampai ke masalah nonton?
"Tentu saja," sahut Baekhyun, lalu menambahkan, "Kalau kau yang bayar."
Chanyeol tersenyum. "Baiklah, jadi bagaimana sekarang? Kau tidak mau tetap di sini. Mau menunggu di tempatku?"
Wajah Baekhyun berseri-seri. "Ya!"
"Tunggu dulu." Chanyeol mengangkat sebelah tangan dan mengerutkan kening. "Kau selalu seperti ini? Begitu bersemangat karena akan masuk ke apartemen laki-laki?"
"Tidak!" Baekhyun mendorong bahu Chanyeol sambil tertawa.
"Kalau begitu kau sedang berusaha merayuku?" gurau Chanyeol sementara dirinya didorong ke pintu. "Kau harus tahu bahwa aku bukan laki-laki yang mudah dirayu."
"Aku bahkan tidak akan bermimpi merayumu," bantah Baekhyun di sela-sela tawanya. "Bagiku kau hanya tetanggaku yang usil dan banyak omong."
"Jadi kau tidak menganggapku laki-laki? Ah, aku tersinggung," kata Chanyeol sambil memegangi dada dengan ekspresi terluka.
Ini bukan pertama kalinya Baekhyun masuk ke apartemen 201 setelah ditempati Chanyeol. Seperti biasanya, apartemen itu tidak berantakan, malah terkesan kosong.
"Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu," kata Baekhyun sambil duduk di sofa empuk di ruang tamu sementara Chanyeol menyalakan pemanas. Hujan di luar masih belum berhenti.
"Apartemenmu terlihat kosong, kau tahu?"
"Memang," sahut Chanyeol. "Aku jarang di rumah, jadi untuk apa membeli barang-barang yang tidak berguna? Kau mau minum?"
Baekhyun mengangguk. "Teh juga boleh," katanya. "Ngomong-ngomong, Chanyeol-san, kau fotografer, bukan?"
"Ya. Kenapa?"
"Kenapa aku tidak melihat satu lembar foto pun di sini?" tanya Baekhyun sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Maksudku, foto hasil jepretanmu."
"Biasanya aku menyimpan foto-fotoku di komputer. Aku jarang mencetaknya, apalagi memajangnya," terdengar suara Chanyeol dari dapur.
"Padahal aku ingin melihat foto-foto yang kauambil," gumam Baekhyun dengan nada menyesal.
Chanyeol muncul sambil membawa dua cangkir teh. "Lain kali akan kutunjukkan padamu."
Baekhyun mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila di sofa. Ia menyesap tehnya dan berkata, "Kau juga bekerja sebagai fotografer sewaktu tinggal di Amerika?"
Chanyeol mengembuskan napas pelan, meletakkan cangkir tehnya di meja, dan menyandarkan punggung ke sandaran sofa. "Ya," sahutnya pelan.
"Kau senang di sana?"
"Tentu."
Baekhyun mengangkat alis, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan menguap kecil. "Lalu sekarang kau ingin bekerja di Tokyo?"
"Ya," sahut Chanyeol, mengingat kalau ia memang pernah menyebut-nyebut tentang keinginannya untuk menetap di Tokyo.
"Kenapa?"
Chanyeol mengangkat bahu acuh tak acuh. "Menjadi fotografer itu bisa di mana saja. Tidak harus terikat di satu tempat, bukan? Aku ingin mencari suasana baru dan menurutku Tokyo kota yang sangat menarik."
"Suasana baru?" Kepala Baekhyun berpindah ke lengan sofa. Ia tersenyum kecil. "Orang yang membutuhkan perubahan suasana biasanya ingin melupakan sesuatu. Bukankah begitu?"
Chanyeol tidak menjawab. Hanya mengangkat alis dan tersenyum samar.
"Aku jadi ingin tahu apa yang ingin kaulupakan. Atau siapa."
Chanyeol tidak langsung menjawab pertanyaan Baekhyun karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Beberapa saat kemudian ia menoleh dan mendapati gadis itu tengah berbaring di sofa dengan mata terpejam. Tidur? Ia bangkit dan menghampiri Baekhyun untuk memastikan. Benar, gadis itu sudah pulas. Flu membuat orang gampang mengantuk. Tanpa suara Chanyeol pergi ke kamar tidur dan keluar dengan membawa selimut tebal. Ia menyelimuti Baekhyun dengan hati-hati, lalu berdiri di sana dan merenung. Setelah beberapa saat ia mengeluarkan ponsel dan berjalan kembali ke kamar tidur. Ia menutup pintu kamar dan menempelkan ponsel ke telinga. Menunggu hubungan tersambung.
"Halo, Ibu? ... Ini aku." Chanyeol tersenyum mendengar rentetan omelan ibunya di ujung sana. "Baiklah, aku minta maaf karena baru menelepon Ibu sekarang, tapi aku yakin Ibu bisa mengerti." Kali ini suara ibunya terdengar lebih melanjutkan, "Apa kabar Ayah?... Baguslah... Aku baik-baik saja. Ibu tidak usah khawatir... Aku tahu, Bu. Aku mengerti." Ibunya menanyakan sesuatu di ujung sana.
Nada suaranya mengerutkan kening, tersenyum tipis, lalu bergumam pelan, "Wanita itu?... Aneh sekali. Aku baru sadar aku jarang sekali memikirkannya sejak aku tiba di Jepang." Chanyeol mendengar kata-kata ibunya di ujung sana, lalu berkata lagi, "Ya, itu bagus, bukan?"
TBC
hayo wanita itu siapa? tunggu di chapter depan
FreezingUnicorn180 : wah makasih udah nunggu aku bakalan cepet up deh
bee payol 61 : udah di up yaa
