Hermione tidak bisa mendeskripsikan perasaannya disaat-saat kembali ke Hogwarts seperti sekarang ini. Disatu sisi ia senang karena ia juga begitu merindukan Hogwarts dan segala yang ada didalamnya. Namun disisi lain ia merasa belum siap kembali ke dunia sihir. Ia masih merasa―takut akan dunia sihir karena semua mimpi buruknya berasal dari sini.

Draco meremas tangannya lembut saat Hermione hanya diam menatapi dinding pembatas peron 9 3/4 dan mencengkram trolinya dengan tangan yang lain. Remasan lembut ditangannya membuat Hermione tersadar dan menoleh menatap pemuda itu―dan menemukan tatapan khawatir Draco yang tertuju padanya.

"Kau baik-baik saja? Kita bisa kembali tahun depan kalau kau mau. McGonagall pasti mengerti." Hermione menggeleng pelan―lalu tersenyum paksa agar membuat pria dihadapannya tidak khawatir.

"Aku baik-baik saja, Malfoy. Dan―kau benar-benar berniat mengikutiku ya?" kata Hermione berusaha terdengar biasa. Ia memincingkan matanya diakhir kalimatnya dengan nada setengah bercanda, berusaha menutupi kebohongannya.

Draco berdecih mendengar balasan Hermione. Gadis itu benar-benar payah dalam berbohong. Apalagi dihadapan pembohong seperti dirinya yang sudah lebih sering berbohong.

"Berjanjilah kau akan mengatakan apapun yang membuatmu merasa tidak baik-baik saja disana nanti. Aku benar-benar akan menggeretmu pulang kalau kau tidak mau jujur." ancam Draco. Hermione memutar matanya malas mendengarnya.

"Baik, aku berjanji."

"Sebaiknya kita pergi sekarang sebelum terlambat." kata Draco setelah melihat arloji ditangannya. Ia berjalan terlebih dahulu setelah melepaskan tangan Hermione dan kemudian Hermione menyusulnya.

Stasiun King Cross cukup ramai pada saat itu walaupun tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang gugur dalam peperangan―dan juga memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts. Ditambah fakta jika tahun ini tidak ada penerimaan murid baru―karena ini merupakan tahun pengulangan―.

Draco langsung disambut dengan teman Slytherinnya yang kebetulan juga melanjutkan tahun ketujuh mereka di Hogwarts. Blaise Zabini, Theodore Nott, Pansy Parkinson dan Daphne Greengrass. Sementara Hermione hanya mendengus kasar mendapati tatapan merendahkan dari Pansy dan kerlingan aneh dari Theodore dan Blaise. Hanya Daphne yang terlihat cukup normal reaksinya bagi Hermione.

"Goyle tidak kembali?" tanya Draco. Pantas saja komplotan mereka kurang satu―berhubung Crabbe sudah tak ada.

"Tidak, dia masih trauma dengan Hogwarts." jawab Blaise. Hermione bisa melihat wajah Draco yang menjadi kaku mendengar jawaban Blaise.

"Wah, Draco. Sepertinya kau benar-benar tak bisa dipisahkan dari The Brightest Witch in our Age." kata Theodore Nott. Nadanya merendahkan walaupun kata-katanya memujinya. Hermione hanya diam tak ingin menanggapi ular dihadapannya itu.

"The Brightest Witch in our age? Cih, dia masih hanya seorang Mud―"

"Pans." tegur Draco dengan nada berbahaya―membuat Pansy tidak jadi menyelesaikan kalimatnya dan hanya menggerutu.

Hermione benar-benar tidak mempedulikan komentar teman-teman Draco tentang dirinya. Mereka Slytherin, apa yang bisa ia harapkan dari murid Slytherin yang pada dasarnya membenci muggleborn seperti dirinya?

Matanya melirik-lirik kearah kerumunan orang-orang di stasiun―dan akhirnya menemukan sahabat-sahabatnya yang berada tak jauh darinya. Hermione memekik senang karena akhirnya bisa melarikan diri dari tatapan dan komentar tidak mengenakan dari para Slytherin dihadapannya ini―kecuali Draco.

"Itu Harry, Ron, Ginny dan teman-temanku yang lain. Aku kesana dulu." Rahang Draco mengeras mendengarnya. Namun sebelum ia berhasil menahan Hermione―gadis itu sudah pergi duluan dari sisinya dan berjalan kearah teman-temannya sambil mendorong trolinya.

Mereka harusnya bersama saat ini. Bukannya malah berpisah seperti dulu.

"Aku bersumpah kalau kau berani mengatainya seperti itu lagi, aku benar-benar akan mengutukmu, Pans." Pansy membelalakan matanya mendengar ancaman dari Draco―yang merupakan temannya sejak kecil sekaligus pria yang begitu disukainya. Sekasar-kasarnya Draco, ia tak pernah sampai mengancam akan mengutuknya. Sementara Theodore Nott kini tertawa keras mendengar ancaman Draco dan ekspresi Pansy.

"Wah, sepertinya kau benar-benar jatuh cinta pada si Granger itu. Tapi sepertinya Granger lebih cinta pada sahabatnya dari pada kau sendiri, Draco." kata Theo, memprovokasi Draco. Well, pria itu memang jagonya dalam memprovokasi seseorang.

"Diam kau, Nott." desis Draco tajam. Lalu berjalan memasuki Hogwarts Express, diikuti teman-temannya yang lain.

Sama seperti Hermione―ada beberapa hal yang membuat Draco merasa senang kembali ke Hogwarts dan ada beberapa lainnya yang membuatnya tidak senang. Draco tidak akan mengatakan ini pada siapapun―jika diam-diam ia begitu merindukan Hogwarts. Suasananya, teman-temannya, Quidditchnya. Walaupun ia tahu semuanya tidak akan sama seperti sebelum perang besar namun ia merasa Hogwarts masih jauh lebih baik dari pada rumahnya. Entah sejak kapan ia merasa lebih nyaman di Hogwarts dari pada dirumahnya sendiri.

Hal yang membuatnya merasa tidak senang adalah―ketika melihat Hermione sibuk bersama teman-teman Gryffindornya. Terutama sibuk bersama dua laki-laki dari golden trio Gryffindor―ah, tidak. Kekesalan Draco lebih pada seorang Ron Weasley. Ya walaupun ia masih tidak begitu menyukai pahlawan perang mereka, Harry Potter―tapi setidaknya Draco berusaha menghormatinya atas jasa pria itu terhadap keluarganya.

Draco punya alasan kenapa ia tak begitu menyukai Ron Weasley. Tidak, ia bukan hanya tidak begitu menyukainya. Ia bahkan membencinya. Ia membenci Ron Weasley karena sudah berani menyukai gadisnya―Grangernya. Selain itu―ia membenci Ron Weasley karena pemuda itu mengatakan sesuatu yang buruk tentang Hermione diliburan mereka kemarin. Dan masih ada hal lain yang terlalu banyak untuk dipaparkan terkait alasan ia membenci Ron Weasley. Well, intinya pemuda itu menempati urutan pertama daftar hitam seorang Draco Malfoy.

Aula besar Hogwarts terasa masih seperti dulu bagi kebanyakan orang disana. Walaupun kepedihan dan kengerian masih terasa bagi beberapa orang lainnya―namun itu tidak membuat pembukaan tahun ajaran mereka berlangsung suram. Ada kelegaan yang tak bisa didefinisikan bagi orang-orang mengingat Voldemort kini benar-benar musnah untuk selamanya sehingga membuat mereka cukup gembira menyambut tahun ajaran ini.

"Selamat datang kembali di Hogwarts," buka Minerva McGonagall mengawali makan malam pertama mereka yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh penjuru ruangan.

"Aku punya beberapa pengumuman untuk kalian terkait tahun ajaran baru. Yang pertama, seperti tahun-tahun sebelumnya Hutan Terlarang masih terlarang untuk semua Murid tanpa terkecuali. Melanggarnya akan mendapat potongan poin asrama dan detensi." Murid-murid mulai mengeluh. Jelas saja mereka mengeluh, mereka sudah menghadapi perang besar yang jelas lebih mengerikan dari pada Hutan Terlarang. Jadi kenapa mereka masih dilarang ke sana?

"Yang kedua, pemilihan Ketua Murid Perempuan dan Laki-laki baru tahun ini akan diseleksi berdasarkan prestasi dan kemampuan yang akan dipilih melalui si penyeleksi yang tidak berpihak pada apapun, Piala Api." McGonagall kini mengeluarkan tongkat sihirnya―lalu mengetuk bagian atas sebuah peti kayu besar yang bertahtakan permata, yang sudah berada didepan podium sejak mereka datang. Ketika peti itu terbuka―McGonagall mengeluarkan sebuah piala dengan nyala api biru ditengah-tengahnya. Piala itu nampak sudah tak asing bagi sebagian besar murid disana. McGonagall menutup peti kayu hati-hati―lalu menaruh Piala Api diatasnya.

"Bagi murid tahun ketujuh yang berminat mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Murid harus menuliskan nama dan asramanya dengan jelas di atas secarik perkamen dan memasukannya dalam piala. Kalian punya waktu 24 jam penuh untuk memasukkan nama kalian. Dan besok malam, piala ini akan mengembalikan 2 nama Ketua Murid Perempuan dan Laki-laki yang dinilainya paling layak. Lalu, akan dipilih prefek dari masing-masing asrama yang akan membantu Ketua Murid. Dan untuk tahun ini Ketua Murid Perempuan dan Laki-laki diharuskan berasal dari asrama yang berbeda untuk menghindari adanya pilih kasih terhadap satu asrama."

Aula Besar kembali ribut mendengar pengumuman baru. Ada yang setuju, menggerutu, menolak dengan keras bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Hermione hanya diam sambil menunggu Profesor kesayangannya itu melanjutkan.

"Terima kasih untuk perhatiannya. Selamat malam."

McGonagall kembali ke belakang meja makan para guru. Sementara anak-anak hanya bertepuk tangan dan beberapa yang sudah kelaparan langsung menyantap makanan yang ada dimeja. Dan salah satu dari beberapa itu adalah Ron Weasley, yang kini tengah memakan dua paha ayam dengan rakusnya tanpa peduli dengan keadaan sekitar.

"Kau ingin mendaftarkan diri, Harry?" Ginny yang berada disebelahnya bertanya pada kekasihnya―sudah bukan rahasia khusus lagi Ginny Weasley dan Harry Potter menjalin sebuah hubungan.

Harry menggeleng, "Tidak, Gin. Aku tak ingin bersaing dengan sahabatku sendiri." kata Harry sambil nyengir.

"Apa maksudmu?" tanya Hermione. Ia benar-benar tak tahu sahabat yang dimaksud Harry adalah dirinya atau Ron.

"Aku tahu kau ingin jadi Ketua Murid, Mione." Harry mulai memasukkan beberapa makanan kemulutnya lalu mengunyahnya. Setelah makanan tersebut tertelan pria itu melanjutkan, "Dan kau dengan sendiri apa yang dikatakan Profesor McGonagall tentang Ketua Murid Laki-laki dan Perempuan tidak boleh berasal dari asrama yang sama."

Hermione tertawa kecil mendengarnya. Benar, ia dulu ingin sekali menjadi Ketua Murid. Dulu tapinya. Ia tak terlalu menginginkannya sekarang. Entah bagaimana, ketertarikannya pada dunia sihir mulai menurun akhir-akhir ini.

"Kalau kau ingin ikut saja, Harry. Kita kan bisa bersaing secara sehat."

Harry menggeleng, "Tidak, Mione. Aku ingin―"

"Tapi menurutku, kau memang kandidat terkuat untuk Ketua Murid Perempuan sekarang ini, Mione. Kau pasti langsung menang kalau kau memasukkan namamu ke Piala Api―karena aku tak melihat adanya murid perempuan tahun ketujuh yang lebih hebat atau sebanding denganmu." potong Ginny membuat Harry mendengus pelan. Namun pemuda itu diam-diam mengiyakan kata-kata kekasihnya itu.

"Kau berlebihan, Gin." tapi kata-kata Ginny memang benar. Mungkin Ginny satu-satunya yang layak menjadi tandingannya jika gadis itu juga berada ditahun ketujuh. "Tapi aku memang tak begitu berniat untuk mendaftarkan diri."

"Kenapa?" kata Harry, Ginny dan Ron berbarengan. Hermione mengernyit jijik pada Ron yang berbicara dengan mulut penuh makanan. Benar-benar kebiasaan buruk yang belum berubah.

"Nohing. Just err―kupikir aku harus memikirkan dan membicarakannya dengan Draco dulu."

Ron langsung tersedak. Membuat Harry langsung menyodorkan minuman pemuda itu sambil menepuk-nepuk punggungnya. Ginny hanya memutar bola matanya malas melihat respon kakaknya yang berlebihan mendengar nama Draco. Sementara Hermione terlihat acuh dengan respon Ron.

"Malfoy bukan orangtuamu. Kau tidak perlu meminta izin padanya, Mione." ujar Ron kesal. Hermione hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Aku tidak bilang akan meminta ijinnya. Aku hanya bilang aku ingin membicarakannya, Ron. Membicarakan dalam artian mendiskusikan."

Ron mendengus, "Biasanya juga kau cukup hanya mendiskusikannya dengan kami saja."

Hermione membuka mulutnya untuk membalas perkataan Ron namun kembali menutupnya lagi karena ragu dengan apa yang akan dikatakannya. Ia tak ingin bertengkar dengan Ron lagi karena masalah yang sama. Jadi Hermione hanya diam dan memilih memakan makanannya.

Hermione melangkahkan kakinya memasuki kelas Transfigurasi yang masih diajarkan oleh Minerva McGonagall meskipun wanita itu adalah kepala sekolah. Ia cukup antusias menyambut pelajaran kala itu mengingat itu adalah pelajaran favoritnya dan masih diajarkan oleh Profesor kesayangannya, Minerva McGonagall.

Mata hazelnya kini mengamati sekitarnya. Ia sudah duduk dibangkunya yang biasa dan menunggu murid-murid lainnya datang dan memenuhi bangku yang kosong. Dan ketika matanya menangkap kedatangan dua sahabatnya―Ron dan Harry―Hermione tersenyum. Ron berjalan mendekat kemejanya dan hendak mendudukan dirinya disamping Hermione―namun sebelum niatnya terlaksanakan, seseorang menorongnya menjauh dan mendudukan dirinya disamping Hermione.

Dan orang itu adalah Draco Malfoy.

Hermione menatap terkejut Draco yang duduk disampingnya dengan tenang, sementara Ron menatap marah pada pemuda itu.

"Minggir, Malfoy. Aku sudah ingin duduk dibangku itu duluan."

"Baru ingin kan? Aku sudah duduk disini terlebih dahulu, Weasel." Draco membalas dengan seringai menyebalkannya. Hermione hanya memutar bolanya malas melihat seringai itu.

"Kau menyelakku!"

"Kau saja yang lamban, Weasel."

Hermione menatap Harry―yang kini berada dibelakang Ron―meminta pertolongan. Ia tak tahu bagaimana melerai Draco dan Ron―dan terlebih lagi ia tak ingin bertengkar dengan keduanya lagi seperti kemarin.

Harry yang mengerti maksud tatapan Hermione buru-buru merangkul Ron dan berkata, "Kau duduk denganku saja kali ini, Ron."

Ron menoleh dengan wajahnya yang memerah karena kesal. Sementara Draco tersenyum penuh kemenangan.

"Kau harus mendengarkan Yang Mulia Potter, Weasel." Harry menatap datar Draco mendengar cara pemuda itu memanggilnya. Ia tak mengerti bagaimana Hermione tahan menghadapi pria se-menyebalkan Draco.

Ron tak berkata apa-apa lagi dan hanya mengikuti Harry yang beranjak ke bangku lain. Hermione hanya bisa menyampaikan permintaan maafnya lewat tatapan mengenai kelakuan Draco. Dan tanpa sadar kelas sudah dipenuhi oleh murid-murid yang sedari tadi menonton kegiatan rutin Slytherin dan Gryffindor ketika dipertemukan―bertengkar. Bukanlah hal yang tabu melihat Slytherin dan Gryffindor bertengkar.

Hermione menatap tajam Draco yang sudah duduk manis disampingnya, "Kau tidak perlu melakukan itu, Malfoy."

"Melakukan apa?" Draco membalas tatapannya dengan wajah polos tak berdosa miliknya membuat Hermione mendengus kasar. Draco langsung kembali menyeringai melihat Hermione yang mulai terpancing.

"Ada yang salah jika aku ingin duduk denganmu, Granger?"

"Caramu yang salah."

"Well, Slytherin diajarkan menggunakan segala cara untuk mendapatkan yang kami mau, dear." lalu, Malfoy muda itu melebarkan seringainya.

Hermione menghela napas. Percuma saja bicara dengan Draco. Pemuda itu pada akhirnya tetap merasa jika dirinya yang benar.

Salah satu yang membuat Hermione begitu merindukan Hogwarts adalah padang rumput ini. Padang rumput di Hutan Terlarang yang menjadi saksi bisu hubungannya dengan Draco Malfoy. Tak ada tempat lain yang sangat ingin dia kunjungi selain tempat ini. Tak peduli jika ia harus melanggar peraturan untuk bisa kesini―toh, sebelumnya ia juga sering melanggar peraturan itu untuk bisa ke tempat ini.

Tak jauh berbeda dengan Hermione―Draco juga merasakan hal yang sama. Ia bahkan lebih merindukkan tempat ini dari pada Quidditch―olahraga kegemarannya. Rasanya ia ingin menetap ditempat ini saja dari pada harus kembali ke kastil Hogwarts dan mengerjakan essai-essainya.

Kini keduanya sudah kembali berada ditempat itu. Merebahkan diri mereka berdampingan―dan menatap langit-langit sambil menikmati angin sejuk yang berhembus. Mereka bersyukur musim dingin belum datang sehingga mereka masih sempat menikmati cuaca cerah dengan angin sejuk disore hari seperti ini.

"Draco?" panggil Hermione sambil menatap pemuda itu. Draco hanya berdeham sebagai jawaban tanpa berniat menoleh. Hermione yang melihat respon pemuda itu memutar bola matanya malas. "Ada yang ingin kubicarakan."

Draco akhirnya menoleh dengan sebelah alisnya yang terangkat. Ekspresi wajahnya serius membuat Hermione memilih memalingkan wajahnya kearah lain karena tak terbiasa dengan ekspresi serius pemuda itu.

"Well, bukan hal yang begitu serius sebenarnya. Aku hanya ingin menanyakan pendapatmu tentang pemilihan Ketua Murid."

Draco mendengus lalu mengangkat bahunya acuh sambil kembali memandang langit-langit, "Kalau kau ingin ikut silahkan saja, Granger. Aku tak melarangmu."

"Aku tak meminta izinmu, Malfoy. Aku bertanya pendapatmu. Bukankah kau yang menyuruhku berjanji untuk mengatakan apapun yang membuatku merasa tidak baik-baik saja disini?"

"Dan kenapa itu bisa membuatmu merasa tidak baik-baik saja?" kata Draco seraya mengerutkan keningnya. Ia tak begitu paham dengan maksud gadisnya itu.

Hermione bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk. Setelah menghela napas, gadis itu menunduk dan menatap Draco yang masih berbaring. "Teman-temanku percaya aku satu-satunya yang cocok menjadi Ketua Murid Perempuan. Sebelum perang, mungkin aku juga berpikir begitu. Tapi aku tak merasa begitu yakin sekarang. Aku juga tak tahu kenapa aku bahkan tak bisa meyakini diriku sendiri lagi."

Draco bisa melihat kesedihan dimata dan nada bicara Hermione. Ia tahu dan paham sekali maksud perkataannya. Perang merubah banyak hal. Salah satunya adalah kepercayaan diri seseorang sekalipun itu adalah pahlawan perang yang berhasil.

Draco ikut bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk―lalu, membawa Hermione kedalam pelukannya. Ia bukan pria yang bisa menenangkan seseorang lewat kata-kata. Jadi Draco hanya bisa memeluk Hermione dan memberikan kenyamanan terbaik yang bisa Hermione dapatkan. Tangannya mengusap lembut rambut bergelombang Hermione.

"Jangan lakukan sesuatu yang kau sendiri bahkan tidak yakin, Hermione. Jadi, jangan coba-coba memasukkan namamu ke Piala Api."

Hermione langsung melepas pelukan mereka dan menggeleng, "Aku tidak memasukkan namaku. Tapi temanku yang melakukannya."

"Cih, temanmu benar-benar lancang. Harusnya kau mengatakan padaku dari awal sehingga aku bisa mengacam teman-temanmu untuk tidak memasukkan namamu seperti yang kulakukan pada teman-temanku."

"Apa? Kau mengancam teman-temanmu untuk tidak memasukkan namamu? Kenapa? Bukankah kau juga ingin menjadi Ketua Murid? Seingatku―"

"Tadinya iya." potong Draco saat Hermione memberinya pertanyaan beruntun. "Tapi setelah aku dipilih menjadi Kapten tim Quidditch Slytherin―"

"Apa? Kau terpilih menjadi Kapten?" Hermione memekik gembira. Walaupun ia tak begitu menyukai Quidditch tapi ia tahu menjadi Kapten tim Quidditch asramanya merupakan hal penting bagi Draco. Ia tak bisa tidak ikut gembira mendengar kabar itu.

"Tentu saja, Granger. Siapa lagi yang cocok menjadi kapten tim Quidditch Slytherin selain aku." kata Draco dengan gaya sombongnya seperti biasa.

Hermione mengubah ekspresinya menjadi datar melihat Draco kembali menyombong―lalu memutar bola matanya malas, lagi. "Jangan hanya bisa menyombong. Kau punya tanggung jawab yang besar terhadap asramamu, Kapten."

Giliran Draco yang memutar bola matanya dan mendengus, "Kau pikir aku tidak bisa bertanggung jawab, Granger? Lihat saja, aku akan membuat Gryffindor menerima kekalahan telak nanti."

"Itu tak akan terjadi selama tim Quidditch Gryffindor masih memiliki pahlawan perang yang sangat hebat dalam Quidditch―Harry dan Ron. Dan jangan lupakan Ginny." balas Hermione tak terima. Ia melipat tangannya didepan dada dan tersenyum puas begitu melihat ekspresi kesal Draco.

"Well, kalau begitu akan kubuat tim Quidditch Gryffindor kehilangan 'pahlawan perang' mereka." giliran Draco yang menyeringai puas melihat ekspresi Hermione yang berubah menjadi kesal.

"Itu namanya curang, kapten. Kau tidak boleh melakukannya. Bagaimana mungkin kau bisa merencanakan sebuah kecurangan bahkan ketika―" Draco tiba-tiba mengecup bibirnya sekilas membuatnya tak bisa melanjutkan kata-katanya. Pipinya merona dan ia bersyukur karena kini Draco menariknya kedalam pelukannya.

"Ocehanmu membuatku pusing, Granger."

Hermione hanya diam tak menanggapi. Ia selalu menikmati saat-saat berada dalam pelukan Draco. Pelukannya kelewat nyaman bagi Hermione. Hermione tak tahu dimana ia bisa menemukan pelukan yang lebih nyaman dari pada pelukan pemuda itu.

Dan tiba-tiba, Hermione menyadari sesuatu. Detik berikutnya ia tertawa sambil melepas pelukan Draco.

"Apa yang lucu?" tanya Draco dengan kening berkerut. Hanya beberapa detik setelah keheningan dan gadis itu langsung tertawa. Terasa begitu ganjil bagi Draco.

"Kita. Kita baru saja kembali meributkan asrama masing-masing. Sudah lama sekali kita tidak begitu." dan Draco ikut tertawa mendengarnya.

Benar. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka berdebat soal asrama. Rasanya Draco jadi merindukan saat-saat itu. Saat-saat mengejek Gryffindor dengan Blaise, Theo, Goyle dan―

―Crabbe.

Tawa dan senyum Draco lenyap begitu mengingat nama terakhir. Vincent Crabbe, temannya yang sudah tiada. Walaupun hubungan mereka lebih seperti majikan dan kacungnya―Draco tetap merasa kehilangan setelah kepergiannya. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Rasanya ia tak percaya pria sudah tak ada lagi sekarang ini.

Hermione yang melihat ekspresi Draco berubah langsung menghentikan tawanya. "Ada apa?" tanyanya hati-hati. Draco terkadang cukup sulit untuk ditebak.

Draco hanya menggeleng pelan. Tiba-tiba pemuda itu bangkit berdiri―membersihkan kotoran yang mungkin menempel dijubahnya lalu, mengulurkan tangannya untuk Hermione.

"Ayo kembali ke kastil."

Hermione menatap tangan pria itu untuk beberapa saat―lalu kembali menatap ekspresi pemuda itu. Setelah menghela napas pelan, Hermione memilih menerima uluran tangan pria itu lalu pergi dari sana.

Suasana Aula Besar benar-benar ramai malam itu. Semua orang di aula terlihat berlomba-lomba menghabiskan makanannya―hanya untuk mendengar nama Ketua Murid mereka yang baru. Ekspresi kegelisahan nampak diwajah beberapa murid tahun ketujuh―yang sepertinya memasukkan namanya kedalam Piala Api dan sangat berharap namanya keluar malam ini.

Akhirnya, sesi makan malam selesai. Piring-piring langsung menghilang dari hadapan para murid dan McGonagall bangkit hingga membuat Aula Besar yang awalnya ribut menjadi hening.

"Selamat malam, semuanya. Aku tahu kalian sudah tidak sabar ingin mendengar pengumuman ini―tapi sebelumnya aku ingin mengingatkan jika hasil seleksi Piala Api bersifat netral dan mutlak. Jadi dua nama yang nanti akan menjadi Ketua Murid Perempuan dan Laki-laki tak bisa diubah dengan cara apapun. Dan aku minta yang namanya kusebut nanti untuk maju dan mengucapkan janji sebagai Ketua Murid setelah menerima lencananya."

McGonagall memadamkan lilin-lilin yang ada di Aula Besar dengan tongkatnya. Ruangan menjadi cukup gelap dan hanya Piala Api sumber cahaya diruangan itu.

"Pertama, untuk Ketua Murid Perempuan,"

Nyala api didalam puala mendadak menjadi merah. Lidah api mulai menyembur. Detik berikutnya―lidah api meluncur ke atas, melontarkan sepotong perkamen gosong.

"Dan Ketua Murid Perempuan," McGonagall tersenyum penuh arti begitu membaca nama diperkamen ditangannya, "Hermione Granger dari Gryffindor."

Hampir semua orang bertepuk tangan dengan semangat untuk Hermione. Ya, hampir. Kebanyakan murid Slytherin dan beberapa murid tahun ketujuh yang juga memasukkan namanya kedalam perkamen hanya memandangnya tanpa minat.

Hermione bangkit lalu menarik napasnya pelan―dan berusaha mengatakan pada dirinya sendiri untuk rileks ketika ia berjalan mendekati McGonagall yang terus tersenyum padanya. Hermione tiba-tiba merasa seperti hari pertamanya di Hogwarts―ketika ia harus memakai topi seleksi untuk mengetahui asrama mana yang akan ia huni. Ketegangan kedua momen itu terasa seimbang untuk Hermione.

Tepuk tangan dan sorak sorai mereda. Sekarang perhatian semua orang tertuju kepada Piala Api lagi, yang sekali lagi kembali menjadi merah. Perkamen kedua dilontarkan oleh lidah apinya.

"Dan Ketua Murid Laki-laki," McGonagall memasang ekspresi terkejutnya melihat nama yang keluar―namun sedetik kemudian ia kembali memasang senyumnya yang terkesan dipaksakan, "Draco Malfoy dari Slytherin."

Hening. Tak ada tepuk tangan. Semua memasang wajah kagetnya termasuk Slytherin.

Ini sama mengejutkannya dengan terpilihnya Harry Potter menjadi juara Turnamen Triwizard. Karena tak ada satupun penghuni Slytherin yang berani dengan ancaman tentang 'tidak memasukkan nama Draco ke dalam Piala Api' dan tak mungkin Draco repot-repot mengancam seisi asramanya jika pada akhirnya ia memasukkan namanya sendiri. Dan yang lebih tidak mungkin adalah penghuni asrama lain memasukkan nama Draco kesana. Draco tahu dan sadar mereka tak akan percaya pada mantan Pelahap Maut seperti dirinya.

"Mr. Malfoy, silahkan maju kesini." McGonagall kembali berujar ketika Draco tak kunjung maju. Draco menghembuskan napasnya keras setelah tersadar dari keterkejutannya―lalu memasang ekspresi angkuh dan acuhnya sambil berjalan kedepan. Mengabaikan sebagian tatapan seluruh penghuni Aula Besar saat ini yang seakan menghakiminya.

Begitu ia sampai didepan dan berhadapan dengan Hermione―ia bisa melihat tatapan gadis itu yang seakan minta penjelasan. Draco menelan salivanya kasar. Ia berani bersumpah ia tak pernah memasukkan namanya ke dalam Piala Api. Ia hanya ingin fokus dengan tim Quidditchnya―dan sudah berambisi membawakan kemenangan berkali-kali untuk Slytherin ditahun terakhirnya ini. Namun kejutan saat ini pasti tak akan bisa membuatnya fokus sepenuhnya pada tim Quidditchnya.

Oh, Draco pasti akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini.

Draco melangkahkan kakinya meninggalkan Aula Besar dengan tergesa-gesa. Tangannya mencengkram erat lencana Ketua Murid-nya. Walaupun merupakan sebuah kehormatan menerima jabatan itu―tapi Draco tetap tidak suka namanya dimasukkan tanpa seizinnya.

Ia hendak kembali ke asrama Slytherin terlebih dahulu sebelum pergi ke ruang kepala sekolah karena McGonagall akana memberikan beberapa pemberitahuan. Ia harus dan akan menemukan pelaku yang memasukkan namanya tersebut. Dan Draco yakin sekali jika orang itu pasti dari asramanya sendiri.

"Malfoy!" panggil seseorang. Dan orang itu langsung menghadang jalannya begitu berhasil menyusulnya dengan berlari.

"Ada apa, Weasley?" itu Ginny bukan Ron. Selain untuk menghina Ron―Draco memanggil pemuda itu 'Weasel' juga untuk membedakan panggilan untuk Ron dengan adiknya. Draco tidak sudi memanggil nama depan mereka.

"Aku ingin bicara denganmu."

"Kalau begitu, cepat bicara. Waktuku tidak banyak." Ginny mendengus dan memutar bola matanya malas melihat sikap sok sibuk Draco. Menyebalkan sekali.

"Tapi aku tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan juga, Malfoy." kata Ginny lagi. Bermaksud mengajak Draco berbicara empat mata ditempat yang lebih privasi―bukannya ditengah lorong dimana semua orang bisa bebas menguping pembicaraan mereka.

"Mufliato." Draco tersenyum mengejek setelah memasang mantra agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Well, aku mulai meragukan jika kau itu penyihir, Weasley."

Lagi, Ginny kembali mendengus kasar dan memutar bola matanya. Kapan ada hari dimana Draco Malfoy tidak bersikap menyebalkan?

"Begini, Malfoy. Aku tak ingin kau salah paham tapi aku hanya ingin bilang jika aku lah yang memasukkan namamu kedalam Piala Api. Aku melakukan itu un―"

"Apa? Kau yang memasukkan namaku?" geram Draco. Matanya menatap gadis Weasley itu nyalang namun tak membuat Ginny merasa takut sedikitpun.

"Dengarkan aku sampai selesai dulu, Malfoy. Jangan memotong perkataanku." Ginny menatap pemuda itu tajam lalu kembali melanjutkan kata-katanya. "Aku melakukannya semata-mata untuk Hermione."

"Kau tidak tahu seberapa kacaunya Hermione saat tinggal di The Burrow setelah perang besar. Aku sekamar dengannya dan melihat dengan jelas berapa kacaunya Hermione saat itu. Lalu dia memilih tinggal denganmu dirumah orang tuanya―dan aku melihat ia jauh lebih baik saat berkunjung ke The Burrow. Aku tak tahu bagaimana kau melakukannya tapi aku sangat berterima kasih untuk itu."

Draco ingin menjawab tapi tatapan Ginny seakan menyuruhnya untuk tetap diam sehingga ia hanya bisa memutar bola matanya malas melihat tatapan gadis Weasley itu yang berani-beraninya memerintahkan seorang Draco Malfoy.

"Hermione sering menutupi lukanya seusai perang didepan Ron, Harry dan yang lainnya. Ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Ia selalu berusaha terlihat sebagai Hermione yang dulu tapi aku tahu dia tidak. Dia tidak baik-baik saja. Dan membiarkan teman-temanku yang lain memasukkan namanya kedalam Piala Api adalah salah satu caranya untuk menunjukkan jika ia baik-baik saja. Tapi aku tahu ia tak baik-baik saja dengan itu. Dan kupikir jika ia memiliki partner yang tepat ia akan baik-baik saja dengan itu. Dan aku percaya kau partner yang tepat untuk Hermione, Malfoy."

Draco terdiam. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

Gadis Weasley itu mempercayainya? Apa ia tak salah dengar?

"Hanya itu yang ingin kukatakan. Selamat malam, Malfoy." Ginny berjalan menjauh dan untuk beberapa detik Draco hanya diam memandangi punggung gadis itu.

"Hey, Weasley." panggil Draco dengan suara yang cukup kencang didengar Ginny yang belum terlalu jauh darinya.

Ginny menoleh dengan sebelah alisnya terangkat.

"Terima kasih." sudah mempercayaiku. Sambungnya dalam hati.

Draco melihat seringai kecil terpatri dibibir gadis Weasley itu. "Kau bilang apa tadi, Malfoy? Aku tidak dengar."

"Aku bilang jerawat diwajahmu sangat mengganggu, Weasley!" dan Draco dengan sengaja benar-benar mengeraskan suaranya.

TBC

Ada beberapa yang pengen saya bahas. Yang pertama, di chapter satu ada kesalahan. Yang meninggal Crabbe seperti dibuku tapi saya malah nulis Goyle karena masih kebayangan difilmnya. Itu murni kesalahan ya hehe. Tapi ya intinya keduanya gaakan ada lagi di ff ini. Paling hanya 'tersebutkan'.

Yang kedua, saya ingin sedikit membalas review yang 'sbnrny g msuk akal bgt klo ad draco hermione jd spsg kekasih,tdr bsma stiap hari tnpa melakukan hbgn seks. Kalo mmg hermione berkomitmen mnjga virginitas smpe mnikah,tdr bersama itu pasti tdk mgkin bs menulis sesuatu jgn setengah2 spy tdk ad yg ganjil.' Terima kasih atas masukkannya. Tapi saya agak sedikit ga setuju sama pendapat anda yang bilang 'gak masuk akal'. Diakal saya masuk-masuk aja/? Karena ya kita ambil contoh tokoh lain aja. Edward Cullen, dia punya berkomitmen gamau berhubungan seks sama Bella sebelum nikah tapi toh Edward ga nolak ciuman, pelukan dan tidur bareng Bella. Toh mereka tidur barengnya ga ngapa-ngapain. Walaupun Edward cowo tapi menurut saya kasusnya samalah kaya Hermione di FF ini.

Yang ketiga saya minta maaf kalo OOC karakter merekanya. Saya usahakan untuk tidak terlalu menyimpang. Dan juga ada sedikit bocoran kalau fanfict ini akan saya buat trilogi/? Book 1-nya kan tentang Dramione sebelum perang besar, Book 2 Dramione setelah perang besar. Dan Book 3 Dramione setelah menikah beserta anak-anaknya. Saya lebih exited sama book ketiganya wkwk.

Ngomong-ngomong diharapkan reviewnya lagi ya supaya saya semangat dalam melanjutkan fanfict ini.