Crazy Room Mate
Chapter 3
Kaito POV
Kami selesai mencuci piring.. Dengan bantuan si amatiran ini. Atau bisa kita sebut, nona besar?
"Terima kasih banyak ya..", kata gadis berambut merah jambu.
"Sama-sama..", balasku santai.
Aku melihat kearah jam.
"Aku pergi dulu..", aku mengambil jaketku dan menuju pintu.
Gadis itu tidak bertanya padaku mau pergi kenana, padahal aku yakin dia pasti penasaran. Hahahhaa.
Dasar tsundere..
Tiba-tiba ponselku berdering. Dan seperti biasanya.. Kakakku yang cerewet.
"Hei Kaito! Kau dimana? Jangan coba-coba kabur lagi!"
"Hei kak.. Tenang saja.. Aku sedang menuju ke parkiran mobil di asrama, dan setelah itu ke rumah sakit hahaha..", jawabku santai.
"Tidak perlu dijemput supir?"
"Tidak usah. Aku bisa menyetir sampai sana sendiri", jawabku.
Kudengar kakakku bernafas lega.
"Baiklah. Aku tidak tau harus bagaimana lagi jika kau membolos check up. Okee, jaa!", dan dia mematikan teleponnya.
Kakakku yang satu ini memang telalu over protective. Memang ini sudah kewajibanku, untuk sering check up ke rumah sakit, walau aku malas melakukannya.
Aku.. Divonis terkena kanker otak. Karena itu, mau tidak mau aku pindah ke kota ini untuk menjalani terapi dan pengobatan.. Dan hal itu menyebabkan aku terpaksa tinggal di asrama. Dan tidak ada satupun di sekolah ini yang mengetahui tentang penyakitku. Kecuali jika mereka stalker tentunya..
Awalnya susah untukku hidup sendirian. Tetapi daripada harus merepotkan orang lain, lebih baik aku belajar untuk mengurus diriku sendiri. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, hal itu sedikit demi sedikit kupelajari. Memang sebelumnya aku terbiasa tinggal di rumah besar dan dilayani oleh para maid atau butler. Dan aku yakin, hal yang kurang lebih sama terjadi pada diri Luka. Terlihat sekali jika dia tidak terbiasa untuk melakukan semuanya sendirian..
Setelah mengendarai cukup lama, akhirnya aku sampai di rumah sakit. Aku berjalan kearah ruang kerja kakakku, dimana dia menjadi dokter yang selalu memeriksaku..
"Akhirnya kau datang juga.."
"Aku sudah terpaksa janji denganmu kan kalau aku tidak akan kabur~", jawabku dengan nada malas.
"Baiklah-baiklah.. Apakah kau rutin meminum obatnya?", tanya nya lagi sambil memeriksaku.
"Semuanya kuminum dengan teratur. Dasar cerewet~", jawabku.
"Hahaha.. Baiklah.. Baiklah... Hmm, bagaimana kehidupanmu di asrama?", tanya Akaito.
Aku tersenyum.
"Menyenangkan. Dan kau bisa iri padaku jika mengetahui teman sekamarku~ cantik sekali loh..", godaku.
Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Apakah dia orang yang baik?", tanya nya lagi.
Aku mengangguk.
"Baik.. Sangat-sangat baik~", jawabku mantap.
"Bisa jadi calon adik iparku tuh. Hahahahaa~"
"Entahlah. Tunggu saja kejutan dariku. Ya..", jawabku.
Setelah itu aku diperbolehkan untuk pulang. Dan aku langsung menuju asrama. Apa yang dilakukan oleh gadis bermerah jambu itu ya?
..
"Tadaima!", aku menutup pintu dan meletakkan sepatuku di rak sepatu.
Aku berjalan kearah lokasiku. Dan aku cukup terkejut, spidol yang membatasi kami dihapus olehnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Hanya menghapus batasan ini saja. Berbahagialah~", jawabnya.
Aku tersenyum. "Kau tidak takut akan aku apa-apakan?", tanyaku jahil.
Dia menggeleng. "Tenang saja. Aku yakin jika diriku lebih kuat darimu..", katanya mantap.
Aku tertawa keras. Dasar gadis aneh..
"Kuat ya? Maafkan aku, gadis merah jambu yang bisa mengangkat kasur beberapa derajat saja..", godaku.
Dan Luka langsung melemparkan sesuatu kearahku, entah apa itu..
"Baka.."..
Aku tersenyumm, sambil berbisik "tsundere..".
..
Aku menulis lagu dan tidak terasa kulakukan hal itu di depan keyboardku sampai malam.
"Aahh. Punggungku sakitt..", dan aku berencana untuk tidur.
Aku baru ingat jika hari ini tempat tidurku akan dipakai Luka. Berarti aku tetap merasakan sakit punggung ini diatas lantai. Baiklah, akan lebih sakit lagi jika aku membiarkan Luka yang tidur di lantai..
"Hmm..."
Aku mendengar suara berguman itu dari bawah. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat Luka yang tertidur di lantai ditutupi dengan selimut.
"Haha. Dasar keras kepala!"
Aku berjongkok. Dan mulai mengangkat badan Luka perlahan-lahan. Setelah terangkat, aku langsung menggendongnya dan meletakannya di atas ranjangku. Tidak lupa kupakaikan kembali selimutnya.
"Oyasumi, ojou sama!"
Kemudian aku meletakkan bantal dan selimutku di lantai, dan tidur..
- Morning Time -
Aku bangun pagi seperti biasanya. Dan juga, lebih pagi dari seseorang yang sedang meminjam ranjangku.
Aku berdiri, dan melihat keadaan tempat tidurnya.
"Sudah kering.."
Aku membenarkan posisi kasurnya. Memasangkan spreinya kembali dan merapikannya sedikit.
Aku melirik kearah meja belajarnya. Dan seperti biasa.. Terlihat seperti habis ada gempa bumi..
"Haahh. Dasar..", aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan merapikan buku-buku yang berserakan di mejanya. Sebenarnya yang perempuan siapa sih? Hahahaa.
Setelah merapikan meja Luka, aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Kulihat di cermin wajahku agak pucat. Apa aku harus beristirahat ya hari ini? Tetapi mengingat jika ada tes matematika, aku mengurungkan niatku.
Saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat si nona besar baru bangun. Dan dia terlihat belum sadar sepenuhnya.
"Ohayou...", kataku mencoba menyadarkannya. Dia menoleh kearahku. Dan dia juga melihat kearah tempat tidur.
"E-eeh? Kenapa aku bisa diatas sini?", tanya Luka heran.
Aku tersenyum.
"Mungkin saja ada malaikat yang menaikkan tubuhmu keatas tempat tidur~", kataku santai lalu menuju dapur.
Aku tertawa sendiri membayangkan reaksinya tadi yang heran kenapa tiba-tiba dia bisa diatas ranjangku. Sudah pasti aku yang mengangkatnya padahal. Hahaha..
Aku mengambil empat potong roti untuk membuat dua sandwich sayur. Kuharap si nona berambut merah jambu itu tidak menyia-nyiakan makanan buatanku lagi..
Saat sudah selesai, aku meletakkan sandwich itu di meja makan.
"Hei Luka.."
"Apa?"
"Makanlah sebelum pergi ke sekolah..", kataku sambil tersenyum.
Luka menuju meja makan dan melihat makanan buatanku.
"Ini murni buatanmu semua?", tanya nya seperti mencurigaiku.
"Hei kejam sekali. Bukankah sudah beberapa hari ini kau mengetahui jika aku memang pandai memasak? Hahaha~", jawabku santai.
"Baiklah baiklah.. Tidak menaruh racun didalamnya kan?", tanya Luka lagi.
Astaga..
"Aku memberikan racun agar kau tergila-gila padaku setelah memakannya..", jawabku menggodanya.
Luka memukul kepalaku seperti yang kemarin dilakukannya.
"Baka!", dan dia memakan sandwichnya itu. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.
"Kau pandai sekali memasak..", kata Luka.
"Hmmm.. Apa boleh buat? Tuntutan tinggal di asrama~ lagipula apakah kau yang akan memasakan makanan untukku sehari-hari?", jawabku dan sedikit menjahilinya.
Dari gerakannya sepertinya Luka sudah bersiap-siap untuk memukul kepalaku lagi, namun dengan cepat aku menghindar darinya.
"Baka.."
Aku tersenyum.
"Hahaha. Selalu saja kata-kata itu yang keluar dari mulutmu itu..".
Dan dia melanjutkan sarapannya sambil seolah-olah menganggapku tidak ada. Dasar tsundere..
"Ngomong-ngomong, kemarin kau pergi kemana?", tanya Luka tiba-tiba.
Ah sial.. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal seperti ini?
"Menuju ke tempat kakakku~", jawabku tidak berbohong walau tidak lengkap.
Dia hanya berkata oh saja dan melanjutkan sarapannya. Tumben sekali dia bertanya?
"Hei dua puluh menit lagi bel masuk berbunyi. Cepatlah ganti baju!", kata Luka dan setelah itu dia mengambil baju seragamnya dan menggantinya di kamar mandi.
Aku tersenyum. Tumben pagi ini dia yang mengingatkan sesuatu..
"Baikkk..", teriakku dari luar kamar mandi dan mengganti bajuku di luar, karena tidak mungkin kami berdua masuk ke kamar mandi.
"Cepatlah Luka.. Aku sudah siap..", teriakku lagi karena aku sudah merasa menunggunya selama lima menit.
"Tinggalkan aku saja! Aku bisa berangkat sendiri.", balasnya dari dalam kamar mandi.
Aku duduk lagi akhirnya. Menunggunya hingga selesai.
Setelah kurang lebih lima menit kemudian dia baru keluar.
"Lama sekali sih...", tanyaku.
"Aku kan sudah menyuruhmu untuk berangkat dulu?", balasnya heran.
"Aku tidak bisa meninggalkan wanita sendirian~", balasku sambil tertawa.
Luka pura-pura tidak menganggapku, padahal terlihat jelas wajahnya memerah.
"Baiklah. Ayo kita berangkat..", ajakku sambil menarik tangan Luka seperti menggandengnya hingga keluar kamar.
"Le-lepaskan aku bodoh!", katanya sambil menarik tangannya.
"Hahaha.. Memangnya tanganku kasar ya?"
"Kasar sekali seperti tangan gorila", jawabnya ketus.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Terasa seperti puhian saja untukku.
"Kaito-kunn~", panggil seseorang di belakangku yang terasa farmiliar sekali suaranya.
"Ah.. Ada apa Sakine-san?", tanyaku.
Melihat kami berdua Luka langsung berbisik padaku. "Aku tidak ingin mengganggu pasangan ini..", dan langsung meninggalkanku.
"Heii!", teriakku tetapi Luka tetap berjalan.
Arghhh Sakine ini.. Merusak kebersamaan saja.
"Nee.. Kaito-kun, aku ingin kau membantuku membuat lagu untuk acara sekolah berikutnya. Bisa kan?", tanya Sakine memohon padaku.
"Baiklah.. Beritau saja nanti lagu seperti apa yang kau inginkan.. Aku masuk kelas dulu, Sakine-san!", dan aku langsung meninggalkannya.
Dan terlihat di wajah Sakine-san, jika dia kecewa..
To be continued
Thx for reading and reviews before, still mind to review?:3
Veline Shee : okee makasih :D keep reading n review yeah :3
Reiyka : uhm, sebenarnya ini ide asli saya, jujur. Hanya saja mendapat tambahan sedikit inspirasi dari film yes or no (saya ga nonton filmnya secara keseluruhan sih :| hanya beberapa potongan di youtube karena diberitahu teman saya yang mengetahui saya mempunyai ide untuk membuat fanfiction seperti ini, katanya barangkali sedikit mendapat inspirasi) dan mengubah adegannya. Tetapi ini beda, beberapa adegannya juga beda. Dan jalan ceritanya jga sangat beda :D. Cerita ini berbeda dengan yes or no, jadi saya kira tidak perlu menambahkan jika terinspirasi dari film tersebut karena pada awalnya ini ide asli saya :) maaf ya atas ksalahannya x_x , disini saja sekalian saya tulis jika sedikit mendapat tambahan inspirasi, tetapi jalan ceritanya jelas berbeda. Mungkin saya akan nonton film itu nantinya, sekalian juga bisa menghindari kalau ada yang sama :3 terima kasih saran dan komennya! :D keep reading :)
